[Trivia] #5 Doom At Your Service : How’s Life?

 


Sebelum memasuki ending Doom at Your Service, di kepala saya sudah banyak hal yang ingin saya tulis tentang DAYS. Banyak. Yang banyak itu buyar setelah saya menyelesaikan episode 16. Dasar.

 

Di Jam-jam menuju perilisan DAYS episode 16 di VIU, saya sengaja tidak men-scroll timeline Twitter dan Instagram. Yang saya lakukan selagi menunggu adalah menonton Taxi Driver di VIU. Mendistraksi diri supaya tidak tergoda ngintip spoiler. Penayangan DAYS episode 15 dan 16 di Korea dan di VIU beda sejam-an. Saya niat banget ga mau tersentuh spoiler.

 

Perasaan saya campur aduk. Saya yang biasanya berisik seusai menonton spoiler di Twitter lewat hestek #DoomatYourService, kali ini tidak punya mood untuk itu. Abis nonton episode 16  tuh saya bisanya bengong beberapa saat lamanya. Rasanya DAYS belum kelar, perasaan yang ditinggalkan sesuai menonton episode 16 seperti saya dan seorang teman berpisah dengan janji temu pekan berikutnya. Gimana ya bilangnya… semacam ada perasaan antusias menunggu kisah selanjutnya. Episode 16 DAYS tidak memberikan kesan bahwa dramanya sudah berakhir. Senang tapi di saat yang sama saya ngerasain sedih juga, bayangin deh gimana rasanya. Senang tapi sedih.

 

Pasca episode 14 pekan lalu, saya tidak menuntut banyak dari episode 15 dan 16. Happy ending untuk Myul-mang dan Dong-kyung. Itu sudah cukup bagi saya. Happy ending di kepala saya nggak muluk-muluk; Myul-mang kembali; Dong-kyung sehat walafiat.


Saya akui ketakutan terbesar saya selama mengikuti DAYS adalah sad ending untuk mereka. Potensi patah hatinya besar sekali, mengingat premis dramanya yang menyiratkan itu, dan lagi ini adalah drama fantasi, ending drama-nya bisa banget ngikutin genre yang bersangkutan. Sad ending atau open ending. Makanya, saya, meskipun ngarep happy ending, tetap nyiapin ruang kemungkinan untuk ending yang tidak saya harapkan. Ceritanya sedia payung sebelum hujan nih wkwk.

 


Saya pernah nulis di postingan Trivia #4 DAYS, bahwa puncak konflik DAYS ada di episode 14. Lalu sisa dua episode berikutnya akan melengkapi. Puzzle-nya. Apa pun ekspektasi di kepala saya, DAYS sudah memilih jalan ceritanya sendiri sejak awal. Maka satu-satunya ekspektasi yang saya biarkan tetap ada setelah episode 14 adalah Myul-mang kembali. Selebihnya, terserah penulisnya mau gimana. 14 episode sudah bisa jadi jaminan bagi saya untuk percaya ke Im Mea-ri jakkanim. Hehe.

 

Episode 15.

Longing.



 

“Hey.

Are you doing well?

I’m doing okay. It’s the same every day. The flower you gave me have wilted. And looking at them made me feel sad.

So, I got myself  a new one pretending like I got if from you. Its pretty isn’t it?

Once this one wilts, I’ll buy a new one and pretend like you got it for me again.

I’ll do that again and again.That’s how I’ll continue live.”

 

Abis dibikin nangis-nangis parah di episode 14, saya blank jika disuruh membayangkan akan seperti apa episode 15. Bener-bener nge-blank. Saya nih sepertinya memang tipikal penonton yang nggak pinter memikirkan atau menebak kemungkinan skenario berikutnya. Satu-satunya pertanyaan yang muncul begitu saja adalah ini; bagaimanakah cara Im Mea-ri memberikan closure pada Dong-kyung dan viewers setelah kehilangan Myul-mang? Episode 15 nih krusial banget, tensi cerita DAYS jelas akan menurun di sini. Nah, bagaimana mempertahankan antusias penonton dengan suasana seperti ini?

 

Saya pernah menulis, DAYS adalah drama ber-genre fantasi yang isi ceritanya bisa disetarakan dengan drama ber-genre slice of life. Dan sekali lagi, episode 15 membuktikan itu.

 

Menyoal kehilangan, saya tidak tahu formula apa yang mesti dipakai untuk mengakalinya agar kita bisa selekasnya pulih dari rasa sakit, juga kesedihan yang dalam. Kehilangan, kerapkali mengantarkan kita pada waktu-waktu yang terasa sangat jauh, yang kepadanya kita masih saja setia memulangkan rindu. Waktu-waktu yang disebut kenangan.

 

Tampaknya inilah yang dijalani Dong-kyung di episode 15.

Dong-kyung menerima fakta bahwa ia telah kehilangan Myul-mang. Tetapi ini tidak lantas membuatnya bersikap keras pada dirinya menghadapi jenis kehilangan seperti ini. Ia bersedih, tentu saja. Namun di sisi lain, ia tetap berusaha menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Narasi-narasi Dong-kyung yang ditujukan kepada Myul-mang menunjukkan ini.

 


“Hi. How are you? Everything’s good with me as usual. I smile at times. I get angry at times. I get bored at times. Then at times, there are moments that feel like gifts. There are also moments that are excruciating.

But I still alive.

 Because you gave me this life.

But I still walk because that’s life.”

 

Yang bikin saya pengen meluk Dong-kyung adalah bagaimana ia bereaksi terhadap kehilangannya atas Myul-mang. Saya teringat narasi Dong-kyung di awal episode DAYS. Kehilangan kedua orang tuanya di usia yang masih sangat belia pernah membuatnya lupa caranya menangis. Inget banget gimana wajah Dong-kyung sebelum hatinya terlibat dengan Myul-mang. Dong-kyung hidup, tapi nggak sebenar-benarnya hidup. Yang ia jalani adalah hidup seperti ‘oh oke’ ‘yasudahlah’ ‘mau digimanain lagi’. Pasrah dengan apa saja yang datang kepadanya. Dong-kyung menjalani hidupnya karena ya… dia hidup.

 

Saya membandingkan Dong-kyung di awal episode dan Dong-kyung setelah kehilangan Myul-mang. Sekilas saja sudah kebaca perbedaannya. Dong-kyung di episode 15 ini vibes-nya sangat positif. Memang, ketika sendirian, kesedihan jelas sekali tergambar di matanya. Cara Dong-kyung mengenang dan mengingat Myul-mang bukanlah jenis yang bikin frustasi atau stres, meski (tetep) bikin saya pengen nangis liatnya. Sorot kerinduan di matanya…

Pendeknya, Dong-kyung berterima kasih pada Myul-mang dengan cara menghidupi hidupnya dengan hal-hal baik.

 

Ia mulai bekerja kembali. Sesekali berkumpul bersama Imo, Sun-kyung, dan Na Ji-na. Ia juga masih menjalin hubungan baik dengan teman-teman di perusahaan sebelumnya. Kali ini Dong-kyung tidak lagi berusaha tampil baik-baik saja di depan orang-orang yang mengenalnya. Inilah yang saya bilang, Dong-kyung akhirnya berhenti bersikap keras pada dirinya sendiri.

 

Episode 15 menggambarkan dengan sangat realistis bagaimana seseorang menyikapi kehilangan yang datang kepadanya. Rindunya  Dong-kyung pada Myul-mang nggak digambarin dengan tone depresi. Optimis, itu sih yang saya rasakan.

Saya lega, Dong-kyung dikelilingi orang-orang baik yang peduli padanya. Mereka selalu mempertimbangkan perasaan Dong-kyung.

 

“... celebrating spending a day that was full and healthy. Celebrating how sunny it was today.”

 

Saya suka sekali scene yang saya kutip quote-nya di atas. Dong-kyung mengajak Imo, Sun-kyung, dan Ji-na makan bareng. Ketika ditanya dalam rangka merayakan apa kah ajakan makan itu, alih-alih menjawab karena mendapatkan pekerjaan, Dong-kyung menjawab Imo seperti itu. Maka beruntunlah Sun-kyung, Ji-na dan Imo mengungkapkan kebahagiaan mereka pada hari itu. Dan apa yang mereka katakan bukan sesuatu yang luar biasa, hanya hal-hal kecil semacam ‘cucian yang cepat kering, ‘kerja keras’ ‘bahagia bisa keluar di hari itu’, namun justru hal-hal kecil seperti inilah yang sering banget kita sepelekan. Mensyukuri hal-hal kecil yang kita alami sepanjang hari. Banyak sekali. Tidak apa-apa merasa sedang tidak baik-baik saja, tapi menganggap sepanjang hari adalah waktu buruk… justru akan semakin menjerumuskan mood kita menjadi semakin buruk. Obrolan di acara makan bareng ini keliatan sederhana tapi nampar telak.

 


Sejak setahun lalu, kondisi hidup kita sedang tidak baik-baik saja. Kita masih terus berjibaku menghadapi pandemi tanpa tahu kapan akan berakhir. Kehilangan seperti menjadi menu utama yang tidak bisa dihindari. Tetap bisa merasakan nikmat sehat hingga hari berikutnya saja sudah menjadi kesyukuran luar biasa.

 

“I still have no idea what kind of ending I’m going to have. I just standing here imagining myself holding hands with you, and having my body wrapped around your arms. Because this world is still filled with things that disappear. It’s filled with you.

 

Dong-kyung seolah-olah ingin bilang, kerinduannya pada Myung-mang lah yang menjadi booster hidupnya. Saya sendiri masih takjub dengan penggambaran karakter Dong-kyung di episode 15. Detail sekali rasa-nya. Feeling yang saya rasakan ketika melihat Dong-kyung merindukan Myul-mang semacam punya dua warna; sedih dan lega yang datang bersamaan.

 

Cha Joo-ik : But, don’t some feeling get clearer as time goes by?

Tak Dong-kyung :Like what?

Cha Joo-ik : Longing.

 

Kehilangan punya banyak wajah. Kita nggak pernah tahu ia, kehilangan ini akan datang kepada kita dalam bentuk apa. Apakah kita siap atau tidak, ia tidak peduli.

Saya membayangkan, pada kehilangan-kehilangan yang kita rasakan, mempercepat hati untuk segera recovery adalah sesuatu yang mustahil. Hati tidak punya tombol fast forward. Maka yang bisa kita lakukan ya… menjalaninya. Dan ini berat sekali.

 

Dong-kyung sudah melakukannya. Nggak akan ada yang membantah betapa dahsyat patah hatinya Dong-kyung melihat Myul-mang menghilang di depan matanya, aftermath-nya menunjukkan sebesar rasa kehilangannya sebesar itu pula upaya Dong-kyung berusaha menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya.

 

Saya tidak bisa membayangkan eksekusi episode 15 yang lebih baik selain yang sudah saya tonton. Tidak dramastis. Saya bahkan tidak komplain kemunculan Myul-mang hanya seuprit saja. Episode 15 adalah episode-nya Dong-kyung menangani kehilangan dan kerinduannya pada Myul-mang. Di episode ini takaran longing, dan live life to the fullest-nya pas. Relate sekali. Pesan episode ini nyampe dengan sempurna ke hati saya.

 

 Some stories just don’t have a clear ending…”

 

Ucapan Dong-kyung yang ini bikin resah penonton. Seperti yang saya bilang sebelumnya, dialog-dialog-nya DAYS bisa ngasih perasaan yakin dan tidak yakin di saat bersamaan yang suskes menerbitkan insecure terhadap arah akhir dramanya.

Karena setiap dialog DAYS selalu punya makna terselubung, maka inilah saya yang mencoba membaca apa yang ingin disampaikan scene kepada saya sebagai penonton.

 


Tidak semua cerita punya akhir yang jelas, kata Dong-kyung begitu. Sebagai penulis, gagal menyelesaikan satu cerita, kita masih bisa menulis cerita baru. Semudah itu. Sedihnya dalam hidup, menulis cerita baru di atas cerita yang belum selesai atau tidak jelas akhirnya merupakan pilihan yang sulit dijalani. Karena kita masih menyimpan harapan pada ending yang belum jelas itu. Seperti Dong-kyung kepada Myul-mang.

 

 

“If its going to be a sad story, I shouldn’t even start reading it.”

 

Pernah nggak sih menggumam kayak gini? Ke buku yang kita baca, ke film/drama yang kita nonton? Saya pernah. Lebih ke endingnya yang ngecewain sih. Saya bisa terima apa yang saya tonton berakhir sad ending atau open ending asalkan jelas dan masuk akal eksekusinya. Kalo terkesan maksa, saya biasanya kesel wkwk. Nah persis sama yang dibilang Young Prince, andai udah tau endingnya bakal gaje nggak bakal dinonton.

 

Relate ke hidup nggak sih? Andai kita udah tau apa yang menunggu kita di depan, misalnya itu buruk atau bikin sedih kita pasti akan memilih jalan lain, sebisanya menghindari itu. Jika seperti itu, tidakkah hidup akan terasa membosankan? Jika sudah tau ending-nya bakal seperti apa, kita hanya akan bereksperimen dengan hal-hal yang bisa diprediksi.

 

Faktanya, life is fragile and very unpredictable. Dan sebab inilah kita mengenal apa itu excited, hope dan wish, kecewa, rindu, kehilangan, effort…Jatuh bangun yang bikin babak belur. Karena kita nggak tahu apa yang menunggu di depan sana, yang semampunya kita usahakan adalah segalanya. Seluruhnya.

 

Seharusnya begitu. Tapi sekali lagi, hidup ga ketebak alurnya, demikian pula pada cara kita menghadapi dan menerima apa yang diberikan hidup.

 

Ucapan Young Prince mengingatkan saya pada Myul-mang. Myul-mang meski takdir mereka sudah ketahuan, mau digimanain juga, tapi Myul-mang akan tetap memilih terlahir kembali, bertemu Dong-kyung dan jatuh cinta lagi dan lagi.

 

 

“If I walk pass you, will you take my hand as you always  did? Even if it’s only briefly. It’s okay if it’s only for a brief moment. Please hold my hand. Please hold me.  

 

 

Dong-kyung tahu betul, baginya mustahil Myul-mang kembali, tapi lihatlah apa yang dilakukannya… Menaruh doa dalam harapannya. Saya ngebayangin, selama tiga bulan setelah kepergian Myul-mang, berapa kali harapan semacam ini muncul di benaknya? Pasti tidak terhitung lagi. Heartbreaking. Menurut Elisabeth Kubler-Ross ada lima fase yang dilewati setelah kita kehilangan orang yang disayangi. Penolakan, amarah, penawaran, depresi, dan penerimaan. Tampaknya Dong-kyung sudah mengalami sebagian fase tersebut saat masih bersama Myul-mang yaitu saat-saat jelang Myul-mang menghilang. Hingga tiga bulan setelahnya Dong-kyung telah berada di fase terakhir, penerimaan.

 

Dia yang sedang atau pernah menghadapi kehilangan orang-orang terkasihnya paham betul apa yang dirasakan Dong-kyung.

 

Kelanjutan Cinta Segitiga Hyun-kyu,  Ji-na, Joo-ik

 

Saya membaca beberapa twit yang menyuarakan ketidakpahaman mereka tentang kisah cinta segitiga ini, kok nggak ada hubungannya dengan cerita utama?

 

Saya garuk-garuk kepala. Saya tidak paham hubungan seperti apa yang diinginkan. Jangan-jangan referensinya itu seperti Goblin? Ingin side story dan main story terlibat hubungan rumit dan dramatis. Yaaa sulit, premisnya kan enggak gitu. Mau dibilang nggak ada hubungan juga lebih nggak masuk akal lagi. Joo-ik merupakan atasan Dong-kyung, Dong-kyung dan Ji-na bersahabat, Sun-kyung bekerja di kafe Hyun-kyu. Kan lucu kalo dibilang nggak ada hubungannya. Saya lebih prefer seperti ini ketimbang libatan cinta segi-banyak yang bikin lelah.

 

Saya cukup senang dengan perkembangan kisah cinta segitiga ini. Tidak diburu-buru, alurnya masuk akal. Logis. Mau dibilang lambat juga nggak masalah. Cara eksekusinya mature. Ga ada toxic-nya sama sekali. Yang paling penting, Ji-na nya strong, independen dengan perasaannya. Cuman agak ga sreg dengan bucin-nya Joo-ik (godaannya ke Ji-na). Anggap saja cara ngomongnya Joo-ik ke Ji-na bukan favorit saya HAHAHAHA. Selebihnya, I love Cha Joo-ik!

 

Hujan dan Payung

 

Sekali lagi DAYS berhasil mengejutkan saya dengan scene pararel-nya.

Dong-kyung naik bus, lalu hujan turun dengan derasnya. Dong-kyung merasa tenang karena ia membawa payung. Ketika turun di halte tujuannya, Sonyeoshin sudah menunggunya. Saling tanya kabar bla bla bla... Part menariknya adalah sewaktu Dong-kyung memberikan payungnya kepada Sonyeoshin. Senyumnya Dong-kyung terlihat cerah dan bahagia sekali. Sudah dekat, katanya. Ia bisa berlari.

 

Saya inget pesan Myul-mang sebelum menghilang.

 

Dong-kyung punya payung, akhirnya. Tapi ia berikan itu pada Sonyeoshin. Dan ia berlari pulang dengan enerjik. Dong-kyung nih bener-bener memenuhi permintaan Myul-mang. Siapa yang tidak sayang Dong-kyung kalau sudah begini? Sayang banget banget.

 

Trus payungnya, oleh Sonyeoshin diberikan kepada Myul-mang. Unexpected. Filosofis kan? Dua orang yang sangat berarti bagi Myul-mang; Sonyeoshin dan Dong-kyung. Dua-duanya menyayangi Myul-mang dengan sama besarnya. Dong-kyung yang membantu Myul-mang menumbuhkan sisi manusianya, dan Sonyeoshin lah yang merawat mereka berdua di kebun-nya.

 

“I don’t resent you. I’m simply  happy. Because… I can see her again.”

 

Pas scene ini, saya speechless liat matanya Myul-mang berkaca-kaca. Se-bahagia itu dia bisa kembali ke Dong-kyung.

Trus ngeliat tatapannya Sonyeoshin ke Myul-mang, kata-katanya…. Sedih.

 

Jalga, saram-ah…

 

Yang udah suujon dan membuli Sonyeoshin gih sungkeman. Sejak awal dialah yang selalu mendukung dan percaya Myul-mang dan Dong-kyung. Emang beberapa kali Sonyeoshin seperti berusaha menjatuhkan Myul-mang, padahal nggak. Itu adalah cara Sonyeoshin mengarahkan Myul-mang. Myul-mang kan keras kepala ya, kudu ditantang dulu biar panas HAHAHAHA.

 

Ada sesuatu yang terasa spesial dari proses perjalanan Myul-mang menjadi Kim Saram. Sesuatu yang indah dan berkesan. Menyentuh. Simply beautiful. I’m in awe.  

 

Episode 16.

 


“I’m back.” -Kim Saram

 

Siapa yang tidak terharu mendengar Myul-mang mengucapkan itu di halaman rumah Imo? Di hadapannya Imo, Kevin, dan Sun-kyung tersenyum hangat menyambutnya. Best.

 

Jika episode 15 adalah tentang Dong-kyung yang menangani kesedihan atas kehilangan dan kerinduannya kepada Myul-mang, maka episode 16 lebih banyak menampilkan POV Myul-mang sebagai Kim Saram. Ia bukan lagi Myul-mang (Doomi) tapi manusia. Sa-ram

 

I have so much to tell about this episode but I don’t know where to start it.

 


Episode 16 penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Pure happiness. Setiap orang mendapatkan happy end-nya. Nggak cuma tokoh utama, supporting character-nya juga. Tidak ada yang ditinggalkan sendirian. Dugaan saya terbukti bahwa di episode 16 semua karakter akan terkoneksi. Ini membuktikan Im Mea-ri tidak menghadirkan mereka sebagai pelengkap doang. Saya bisa menuliskan dengan percaya diri setiap karakter membawa pesan-nya. Setiap karakter di drama ini. Mungkin di postingan berikutnya.

 

Ini bukan open ending. Hanya karena kita tidak diperlihatkan Sa-ram dan Dong-kyung menikah bukan berarti itu ketidakjelasan pada hubungan mereka. Jujur, saya suka banget Doom at Your Service diakhiri seperti ini. Saya tahu banyak yang menginginkan hubungannya Sa-ram dan Dong-kyung membara mengingat perpisahan mereka yang dramatis dan menyakitkan di episode 14. Perbedaan nuansa di episode 1-14, lalu 15-16 jelas berbeda. Episode 15-16, Sa-ram dan Dong-kyung tidak lagi diikat kontrak 100 hari, tidak ada tenggat waktu bagi kebersamaan mereka. Kali ini mereka punya waktu. Saya pikir itulah sebabnya Dong-kyung terlihat sangat menikmati kebersamaannya dengan Sa-ram. Tidak ada yang mengejar mereka.

 


Akhir DAYS jelas sekali adalah happy ending yang diharapkan penonton. Myul-mang reborn sebagai Kim Sa-ram, Dong-kyung pulih dari sakitnya, dan perjanjian 100 hari yang semula disangka membawa kesedihan mendalam nyatanya adalah harga yang harus ditebus untuk mendapatkan kebahagiaan oleh Dong-kyung dan Kim Sa-ram. Kebahagiaan dan kesedihan terkadang bisa datang dengan wajah yang sama. Sebagai bucin Myul-mang dan Dong-kyung saya puas dengan ending seperti ini. I couldn’t ask more than this.

 

Transisi Myul-mang sebagai Kim Sa-ram adalah salah satu part terbaik di episode 16. Kim Sa-ram merasakan langsung pengalaman pertamanya sebagai manusia. Ia makan dan minum, bekerja, making friends, ketiduran wkwk.

 

Ngakak dong liat makanan pertama Myul-mang sebagai Kim Sa-ram. Sereal HAHAHAHA. Ga tau kenapa yang saya ingat malah behind the scene-nya Seo In-guk yang dilarang makan sama  PD-nim. Nah ini kan udah jadi Sa-ram, pasti dihabisin itu sereal sama In-guk HAHAHAHA.

 



“Because I’m ensure, I find  myself making an effort.”

 

Tentang pekerjaan Sa-ram sebagai dokter ER, saya  terharu. Dari Myul-mang, yang kehadirannya berarti kehancuran, dia yang selalu melihat hal-hal menghilang di depan matanya, kini bereksperimen dengan penyelamatan. Cocok sekali dengan Sa-ram. Manusia pertama yang ia selamatkan adalah Dong-kyung.

 

“Fate doesn’t change. When I knew things where were going to end, I never reached out to them. But now I can’t see that, I end up trying my best. Sometimes I feel like it’s going to end. But that becomes a new begining.”

 

Ini adalah POV Myul-mang setelah reborn menjadi Kim Sa-ram. Sudut pandangnya berubah total. Tidak mengetahui apa yang menunggu kita di depan sana membuat kita (rasa-rasanya) tidak punya pilihan selain mengusahakan sebaik-baiknya usaha menuju ke apa yang di depan itu; sebut saja itu masa depan. Karena kita tidak yakin, maka lahirlah usaha dan percaya. Yang kita sangka telah berakhir, nyatanya justru menjadi awal mula yang baru. Life is unpredictable. Untuk kita.

 

“When you know how would it end, why do you let us go through it?”

 

Pertanyaan Dong-kyung ke Sonyeoshin memiliki vibes yang sama dengan ucapan Young Prince kepada Dong-kyung di episode 15, jika sudah tau akan berakhir sedih, Young Prince tidak akan memulai membaca cerita yang ditulis Dong-kyung.

 

Tidakkah pertanyaan-pertanyaan semacam ini hanya mengantarkan kita pada satu kesimpulan dasar? Menyoal takdir yang tidak dan bisa diubah, sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, making an effort untuk menjani lalu menerimanya pada akhirnya? Karena kita tidak tahu akan seperti apa hasilnya, seperti apa akhirnya, seperti kata Sa-ram, we end up trying our best. Manusiawi sekali. Kalau diomongin lebih jauh lagi, saya takut ini akan menjurus ke bahasan religius wkwk.

 

Saya sedang berpikir, quote-quote di DAYS ini sesungguhnya adalah satu pesan panjang yang diurai satu-satu, dilekatkan pada karakter-karakter dramanya, saling menjawab satu sama lain.

 

Saya ingin menangis. Drama ini bagus sekali. Sungguh. Saya tidak ragu kembali ke episode 1 untuk menontonnya ulang.

 


 Sebelum menutup postingan ini, saya ingin menegaskan kembali soal ending Doom at Your Service. Ini bukan open atau sad ending. Menurut saya open ending memberikan kesempatan kepada viewers untuk menebak-nebak apakah tokoh utamanya bahagia atau tidak, mati atau hidup. Open ending memicu viewers masing-masing membuat alternatif ending. Sedangkan DAYS tidak seperti itu. Semuanya jelas. Tidak ada yang digantungin nasibnya. Sebagai orang yang hobi menggantungkan nasib tokohnya di ending, saya menolak jika ada yang bilang ending days itu open ending.

 

Yang menarik dari akhir DAYS adalah nuansa yang dihadirkan. Ada antisipasi yang datang, yang disangka akhir justru menjadi permulaan.

 

Myul-mang sebagai Kim Sa-ram. Si manusia.

 

How’s life?

 


Tabik,

Azz. 💚💚💚

 

P.s : saya masih ingin menulis tentang DAYS.

.

.

.

4 comments:

  1. I'm crying. Again.

    Pas nonton episode terakhir DAYS kau langsung merasa hampa. "Habis gini ngapain?"

    Aku senang. Aku lega. Tapi juga sedih.

    Episode 15 dan 16 drama ini benar-benar bikin aku mikir, "Wah. Ternyata episode-episode akhir drakor nggak harus selalu masih tersisa konflik. Nggak harus selalu masih menyisakan rasa penasaran."

    Episode 15-16 DAYS berisi hal-hal sederhana yang bikin penonton merasa nyaman dan aman. Juga tenteram. Apa cuma aku yang mikir gini? Rasanya comforting sekali sampe aku nangis haru di banyak adegan.

    Suka banget adegan Dongkyung sama Saram ke rumah baru Imo, terus Dong-kyung bilang, "인사 해야지."

    Kupikir Saram bakal bilang, "안녕하세요."

    Dan ternyata aku salah. Aku menganga kagum dan langsung nangis terharu sambil merinding pas Saran bilang, "다녀왔습니다."

    Nangisssssss. Merinding parah. Aku kayak diselimuti rasa hangat yang super nyaman dan candu. 😭😭

    Nggak tau mau bilang apa. Sayang banget sama Im Meari jakkanim. 😭😭 Tiap dialog di DAYS tuh nggak terduga. Bikin yang nonton speechless tiap dengerin dialog para tokoh yang punya makna tersirat.

    Kayak di adegan yang kubilang di atas. Rasanya kayak Saram punya tempat pulang. Rasanya... hangat. 😭😭

    Ya ampun. Ini gimana aku melanjutkan hidup setelah DAYS tamat. 😭😭😭 Masih sedih. Tiap mau tidur dan bangun tidur masih kepikiran Myulmang, Saram dan Dong-Kyung. 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagus itu DAYS. Ga bakal abis diomongin. Detailnya bagus banget 😭😭😭

      Aku abis ngelarin nonton ngerasa kosong, ya ampun udah abis. Ga mauuuuu 😭

      Delete
  2. As expected from your review, it triggers me to ponder. "Karena tidak yakin, maka lahirlah usaha dan percaya". Statement makjleb sekali sis hahahahahaha (matiin lampu kamar langsung nanges) kadang kita lelah ya harus sampai kapan kita berharap, harus sampai kapan kita berusaha keras, bahkan kita juga ga tau rewardnya apa. Kabur. Ini relate sama apa yang dibilang Dewi Dora "you have to stay alive to see the happy ending". Dah lah DAYS ini ga mau dobuat versi Poem Book nya apa yak wkwkekekwk biar masuk ke section Inspirational kalo di gram*d.

    Bessssst bgt review kamu sis. Laffff lahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amazing-nya DAYS adalah dramanya ga ngasih satu perspektif aja ke kita, tapi bercabang. Life is hard, sometimes. But we should never give up. Semacam ini. Pengen nangis kalo ingat life quotes-nya tentang hidup yang ngena banget ke aku. Healing banget. Yang pernah atau sedang ngerasain struggle dengan hidupnya pasti banyak yang ngerasa relate dengan DAYS.

      Ide bagus nih Poem Book-nya. Aku pasti beli kalo ada huhuhu coba yaaaa

      We have to stay alive to see the happy ending! Semoga kita selalu sehat ya, Mbak ^^

      Gomawooo, udah mampir ^^

      Delete

Haiii, salam kenal ya. 😊