bgm : MBLAQ-Celebrate
Setelah melalui sebuah perjalanan panjang yang sangat sangat sangat melelahkan akhirnya Gumri Shipper menemukan ujung jalannya. Sayang sekali, bukan sesuatu yang membahagiakan.
Saya termasuk orang yang terlambat mengetahui kabar pacarannya Lee Hyeri dan Ryu Jun Yeol yang dirilis media online. Belakangan ini saya sibuk banget di real life, gak bisa sesering dulu buka twitter. Nah, pas kemarin menjelang Magrib, saya log in ke akun twitter dan—BAMM! Ada dua pesan di DM saya. Dari Ade dan Abby. Saya nggak bohong, reaksi saya ketika membaca pesan tersebut—isinya mengabarkan kalau Hyeri-Jun Yeol konfirmasi pacaran—saya tertawa lepas. Gak ada rasa sakit hati, kecewa, dan sejenisnya. Baper? No way. I’m truly fine. Saya malah segera berteriak (masih dengan tertawa) ke adik cewek saya yang kamarnya tepat di sebelah kamar saya.
“Deeeeng, Hyeri pacaran sama si itu loooooh!” teriak saya.
Adik saya kaget sih tapi nggak sampe yang lebay. Abis itu, udah. Saya dan Deng lanjut nge-baperin Hyun Tae Woon HAHAHAHA.
Satu-satunya yang paling saya syukuri atas breaking news perihal Hyeri-Jun Yeol adalah karena saya udah dalam masa tenang soal shipper ini. Semacam jadi, oke. Nggak jadi, I’m ok. Coba aja news-nya keluar waktu saya lagi semangat-semangatnya ngebaperin Suntaek—WAAAHH, saya gak bisa ngebayangin bakal sekacau apa hati saya HAHAHA.
So, congratulation Hyeri-Jun Yeol. Wish you two have a long relationship!
Saya senyum-senyum gaje mengingat shipper war dengan fans shipper ini. Luar biasa melelahkan ya? Meski demikian, saya nggak pernah menyesal kok pernah menjadi orang yang mendukung Hyeri-Bogum. Karena mereka berdua saya bisa ketemu teman-teman baru, menjadi shipper mereka juga (secara tidak langsung) telah mengajarkan saya supaya lebih mahir mengeja emosi.
Oya, melalui tulisan singkat ini saya ingin nulis sesuatu untuk Gumri dan Yeolri Shipper.
Untuk Gumri Shipper,
It’s really hard for some of you, I know. Saya memang nggak bisa merasakan seperti apa nyeseknya beberapa dari kalian tapi seperti yang sudah kita amini bersama—jalan yang dilalui seorang shipper tidak mudah. Kalau kapel yang kita sukai pada akhirnya jadian di dunia nyata, senangnya bukan buatan. Tapi kalau kejadian yang terjadi sebaliknya—nggak jadian malah jadiannya sama orang lain, nggak ada yang bisa dilakukan kecuali menerimanya. Iya kan? Marah, kecewa, sedih, itu manusiawi. Yang jeleknya adalah kalau kita balik menyerang salah satu oknum dari kapel yang kita sukai itu. Sangat kekanak-kanakan sekali.
Saya sempat membaca twit yang di retweet akun yang saya follow, beberapa diantaranya berisi cuitan yang memposisikan seolah Bogum itu korban, kasihanlah sama Bogum-nya, beginilah begitulah sampai-sampai ada yang membully Hyeri—tau apa sih kita soal hatinya Bogum? Kita nggak tahu apa-apa. Selama ini, kita sendirilah yang semangat berspekulasi ada sesuatu antara Bogum dan Hyeri. Delulu itu seperti pisau bermata dua. Tidak ada yang tahu kapan pisau itu mengarah kepada kita. Kita tidak akan pernah tahu kapan salah satu mata pisau itu menusuk hati kita dengan tiba-tiba. Setelah ketusuk baru deh nyadar, sakit banget. Tapi nggak berdarah.
Seperti yang pernah saya ungkapkan, misalnya Bogum atau Hyeri pada akhirnya pacaran dengan orang lain—saya tetap akan mendukung karir mereka secara terpisah. Tidak akan ada yang berubah. Dan saya tetaplah fans Reply 1988 dan fans Suntaek nomor satu. Karena fiksi dan real life berbeda.
Dunia tidak serta merta berakhir hanya karena Bogum nggak jadi sama Hyeri.
Saya pikir kesedihan pun semestinya harus dirayakan dengan hati yang lapang. Tak baik meratapinya.
Untuk Yeolri Shipper,
Selamat yooo, kapelnya beneran kejadian ehm. CIEEEEE. Sebagai orang sudah khatam soal shipper war EonamTaek vs EonamRyu, Yeolri vs Gumri—saya benar-benar berharap kalian bisa menunjukkan kelas sebagai pihak yang menang. Saya tahu ini bukan pertandingan, tidak tepat menggunakan kata menang atau kalah, namun entah kenapa saya yakin banyak sekali fans Yeolri yang langsung mocking/membully Gumri seraya bilang—see guys, we are the winner, kalianlah yang delulu selama ini. Karena bagi sebagian lainnya, shipper war ini seperti battlefield.
Dan inilah yang ingin saya hindari—saling menjatuhkan—walaupun saya tahu sangat sulit mengingat apa yang sudah terjadi dan masih terjadi antara dua kubu ini. Ryu Jun Yeol akhirnya jadian sama Hyeri, chukkae. Semoga langgeng sampe ke altar pernikahan.
Friendly reminder, Hyeri bukan piala. Ia bukan simbol kemenangan. Tolong catat ini.
Time is the best healer. You will be fine eventually, trust me.
em, both Yeolri and Gumri, no more drama, please....
Tabik,
Azz

yang hatinya sedang dugeun-dugeun gara-gara Hyun Tae Woon-

[Trivia] Bogum ♥ Hyeri ; Closure

by on 8/18/2017 02:16:00 AM
ㅡ bgm : MBLAQ-Celebrate ㅡ Setelah melalui sebuah perjalanan panjang yang sangat sangat sangat melelahkan akhirnya Gumri Shipper menemuka...
Starring : Jo Seung Woo, Bae Doo Na, Yoo Jae Myung, Lee Joon Hyuk, Shin Hae Sung
Warning! Konten di bawah ini mengandung spoiler
Secret Forest merupakan drama tvN yang ditulis oleh Screen Writer Lee Soo Yeon dan disutradarai PD Ahn Gil Ho. Drama ini mengisahkan tentang korupsi yang terjadi di lingkaran kejaksaan dan kepolisian. Sebuah pembunuhan yang menimpa Park Moo Sung (Uhm Hyo Sub)broker—mengantarkan Hwang Shi Mok (Jo Seung Woo) pada perjalanan panjang menguak labirin gelap korupsi yang melibatkan orang-orang atas Kejaksaan dan Kepolisian Seoul Barat. Ia kemudian—secara natural—bekerja sama dengan Letnan Han Yeo Jin (Bae Do Na). Yang menarik dari Secret Forest terletak pada karakter Hwang Shi Mok. Hwang Shi Mok menjalani operasi otak yang disengaja, sehingga mengakibatkan ia kehilangan empati, ketakmampuan berinteraksi sosial atau menjalani hubungan yang dalam dengan manusia lain, dan ia juga sensitif terhadap suara-suara pada level tertentu. Pada situasi lain, misalnya ia mengalami tekanan yang hebat, Hwang Shi Mok bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Inilah pertanyaan utama yang muncul di benak saya ketika saya selesai menonton dua episode pertama Secret Forest; dengan kemampuan yang tak biasa itu, mampukah Hwang Shi Mok mengusut tuntas kematian Park Moo Sung? Ada sejumput kekhawatiran yang melanda saya, bahwa di episode mendatang, orang-orang yang berseberangan dengan Hwang Shi Mok akan menggunakan operasinya di masa lalu sebagai senjata untuk menjebak dan menjatuhkan dirinya.
Well, setidaknya dua episode perdana sudah berhasil mencuri perhatian. Saya tidak punya alasan untuk tidak melanjutkan Secret Forest.
Strotyline & Plot-line
Sambil menulis draft ini, saya mengingat-ingat kembali apakah gerangan yang membuat Secret Forest disukai viewers? Apa yang membuat saya rela meluangkan waktu menonton drama ini? Dari segi cerita, korupsi dan konspirasi di kalangan jaksa dan polisi bukan lagi hal baru yang diangkat menjadi sebuah drama—ingat Punch?
Lalu apa?
Seperti halnya kisah cinta yang tetap bisa dinikmati meski sudah melalui perulangan dari satu penulis ke penulis lainnya. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana cerita tersebut diramu, dan ditulis. Formula yang berbeda akan selalu membuat orang-orang tertarik untuk meluangkan waktu membaca, menonton, dan membicarakannya. Itulah yang terjadi pada Secret Forest. Kekuatan drama ini salah satunya yakni cara penyajian-nya. Mengusung genre crime, drama, dan thriller, Secret Forest berhasil membuktikan kualitasnya dengan memberikan suguhan yang luar biasa. Sisi misterius yang dimiliki Secret Forest menantang minat penonton agar tidak lengah. Well written. Jikapun ada plot-hole atau kekurangan lain, saya yakin itu tidak akan mengurangi kecintaan viewers pada drama ini.
Sepaket dengan judulnya; Secret Forest. Bayangkan di hadapanmu saat ini terbentang sebuah hutan rimbun dan gelap; penuh rahasia. Mengisyaratkan bahaya yang tajam dan intimidatif. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang menunggumu di dalam sana hingga kamu menetapkan langkah pertamamu, masuk ke hutan itu dengan keberanian yang dipenuh-penuhkan.
Siapa yang pernah menonton Maze Runner pasti paham dengan analogi saya ini dan setidaknya bisa memahami perasaannya sendiri saat menonton Secret Forest. Ini bukan drama horor, tapi teror yang melingkupi per episodenya membuatmu berhati-hati, sesekali menahan napas, cemas sambil menerka apakah yang akan terjadi berikutnya? Oya, saya sendiri pernah menaruh curiga pada Hwang Shi Mok di beberapa episode berikutnya. Bagaimana dengan kamu? ㅋㅋㅋ
Drama ini realistis. Konfliknya terbangun dengan baik dari awal hingga akhir. Plot-line yang solid. Kerja sama yang apik antara Storyline dan karakter-karakter di drama ini menghasilkan chemistry meski muaranya tidak mengarah pada romantisme berwarna pink. Apa adanya, menyentuh kesadaran tanpa harus dibumbui dramatisasi berlebihan. Secret Forest berhasil mempertahankan pace sejak episode perdana hingga episode terakhirnya. Konsisten. Ini bisa dilihat dari benang merah yang saling berhubungan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Hubungan sebab akibat yang erat, yang juntrungannya menuju di satu titik temu. Mengharukan, juga menyesakkan.
Saya tidak tahu bagaimana reaksi penonton lain. Sekilas saya merasa Secret Forest cenderung dingin terhadap penonton. Drama ini tidak memberimu kesempatan yang sedikit lebih lama untuk ber-huhuhu ria (baca; menaruh simpati berlama-lama) karena ia tak butuh waktu lama untuk mengajakmu menajamkan kembali kecurigaanmu pada apa yang bisa dan akan terjadi berikutnya. Pun demikian, tidak bisa dimungkiri ada poin-poin tertentu yang menjadikan Secret Forest setelahnya bisa diingat sebagai drama manusiawi yang mengotak-atik satu ruang di otakmu; empatikah? Simpatikah? Amarahkah? Sebut saja apa yang kamu rasakan ketika menonton Secret Forest.
Cast & Character
Karakter-karakter yang mengisi drama ini sangat kuat dan memiliki warna masing-masing. Mereka tidaklah muncul begitu saja. Saya yakin Lee Soo Yeon telah melakukan survei sebelum menghadirkan mereka ke dalam drama. Mereka adalah simbol yang mungkin ada di sekitar kita dan kita luput mengidentifikasi atau bahkan sengaja menutup mata atas eksistensi mereka. Kita bisa dengan mudah menemukan karakter-karakter ini di kehidupan kita. Percayalah.
Jo Seung Woo as Hwang Shi Mok
Dan dari sekian karakter yang muncul di Secret Forest, saya belum pernah bertemu sosok seperti Hwang Shi Mok. Hwang Shi Mok tidak bisa merasakan emosi jenis apapun itu. Ekspresi wajahnya ketika marah, sedih, kecewa, tegang—semuanya sama. Datar kayak papan kubur. Saya berani bertaruh, dunia di dalam diri pria ini pasti sangat sunyi. Orang-orang yang baru pertama mengenal dan tidak tahu menahu kondisi khusus yang dimilikinya segera akan menuduhnya tak berhati. Berita kematiankah atau kebahagiaan yang datang padanya, ia selalu hanya akan punya satu ekspresi wajah. Pernah dengar lontaran ucapan semacam ini: dasar gak punya hati! Biasanya ucapan ini ditujukan kepada dia yang punya kadar simpati dan empati di bawah angka nol, tega-an, kejam bla bla bla... Lantas, apakah Hwang Shi Mok termasuk jenis ini? Setelah menonton 16 episode, kita akhirnya mengerti, kita seringkali salah kaprah menilai seseorang. Sebelum beranjak lebih jauh—mengenai pengaturan emosi, sebenarnya letaknya bukan di hati tapi di bagian otak yakni diensefalon (Hipotalamus) yang terletak di antara serebrum dan otak tengah, dan sistem limbik (rinensefalon). Karena sudah menjadi kebiasaan di kalangan kita, mereka yang nggak punya simpati dan empati dibilangnya nggak punya hati (otomatis kejam), yang kelakuannya agak-agak disebutnya nggak punya otak.
Hwang Shi Mok bukan orang kebanyakan. Ia memang kehilangan sesuatu pada sistem limbik dan hipotalamus-nya, tapi unik-nya ia tak serta merta menjadi sosok heartless (dalam arti yang negatif). Iya sih, saya beberapa kali bergidik ngeri, meringis sedih, menelan ludah pahit melihat Hwang Shi Mok tidak memberikan sedikit saja simpatinya—bukannya tidak mau, tapi ia tidak memiliki itu. Misalnya saja pada istri mendiang Kang Jin Sub, tersangka yang memilih bunuh diri usai divonis bersalah melakukan pembunuhan yang tidak pernah dia lakukan. Saya sebagai penonton ingin sekali meninju muka Hwang Shi Mok saat ia dengan dinginnya meninggalkan istri Kang Jin Sub dan anaknya yang menangis histeris di malam kematian suaminya. Saya menangis untuk pertama kalinya gara-gara Secret Forest. Pengalaman perdana saya terhadap Hwang Shi Mok itulah yang selanjutnya menjadi pegangan saya sehingga saya—meskipun sulit—harus selalu bisa tabah dan sabar menghadapi minimnya ekspresi jaksa tersebut. *tarik napas panjang*
Pada beberapa kejadian Hwang Shi Mok tampak tidak punya hati, tapi setidaknya ia tampil sangat rasional, logis, efisien, dan tanpa basa-basi. Ia adalah potret yang jelas tentang bagaimana semestinya kita memberikan sikap pada para koruptor dan penjaja keadilan. Buang jauh simpati dan empati. Karena mengambil hak orang lain yang bukan milik kita adalah tindakan yang biasanya dilakukan hewan. Kepada hewan kita bisa memberikan pemakluman—mereka punya otak tapi tidak memiliki akal. Tapi manusia?
Dan keadilan—ia bisa menjadi boomerang ketika tak lagi memenuhi kualifikasi semestinya. Secret Forest lahir tak lain akibat keadilan di mata hukum telah jatuh pada titik yang mengerikan. Kritis. Persoalan utama yang mengakar yakni bila kamu memiliki koneksi dan uang, maka kamu bisa menikmati keadilan yang kamu inginkan; meskipun kamu nyata-nyata melakukan tindakan yang patut dijatuhi hukuman. Bagi dia yang tidak memiliki keduanya, bisa dipastikan ia akan kehilangan hidupnya, seluruhnya; dengan klasula ia tidak melakukan kesalahan.
Lee Seo Yoon menghadirkan Hwang Shi Mok bukan tanpa alasan.
Di Love Phobia (2006) saya pertama kali menonton dan jatuh hati pada akting Jo Seung Woo. Kira-kira itu terjadi di tahun kedua saya sebagai mahasiswa, lalu disusul Classic (2003). Saya jatuh cinta sebenar-benarnya ㅋㅋㅋ, waktu itu belum punya blog jadi nggak bisa tjurhat panjang kali lebar. Saya tidak bisa menelusuri ingatan apakah setelahnya saya menonton drama atau film Jo Seung Woo lainnya. Barulah di tahun 2014, saya kembali menikmati akting ajeossi bersuara merdu ini melalui drama God’s Gift bersama Lee Bo Young (Ost. Yang dinyanyikan Sandeul nancep banget di hati). God’s Gift satu dari sekian drama yang saya ingat sebagai drama keren. Nontonnya ngalahin reaksi saya pas nonton film horor HAHAHA. Emang sih, ending-nya bikin saya pengen ngacak-ngacak bulu Maong—kucing kesayangan saya—tapi gregetnya itu loh nggak biasa, antusiasnya saya saat menonton God’s Gift meninggalkan kesan yang susah dihapus dari ingatan. Ceileeeh. ㅋㅋㅋ
Saya pernah bilang kan, aktor yang bisa memainkan ekspresi melalui sorot mata sudah pasti aktingnya bagus dan menang banyak. Gak ngomong aja, kita bisa terpengaruh walau hanya menatap matanya.
Dari 16 episode, susaaaaah banget bisa dapet senyumnya Hwang Shi Mok. Senyumnya Jo Seung Woo tuh ajegile manisnya. Suer, gak boong saya. Matanya.... my hearteu my simjang . Giliran die senyum aja, saya yang pengen lompat-lompat sambil meluk layar laptop ㅋㅋㅋ. Kita tidak perlu membahas panjang-panjang topik menyangkut akting Jo Seung Woo, itu sudah khatam sejak lama itu. Sepakat ya? Oke. Lebih menarik ngebahas esensi kehadiran Hwang Shi Mok di Secret Forest. Di mata saya, ia adalah simbol harapan. Keteguhannya tanpa tebang pilih memecahkan rahasia berbalut konspirasi dan korupsi dalam Secret Forest sangat kita rindukan kehadirannya di dunia nyata. Hwang Shi Mok tidak perfect. Bukan pula hero berkostum. Dia punya kekurangan yang fatal; nggak punya perasaan. Sedihnya, meski emotionless, pada akhirnya ia membuktikan bahwa ia bisa dipercaya, bisa diandalkan dibandingkan siapapun yang katanya punya otak; punya hati.
Di Indonesia, kalau ada yang kayak Hwang Shi Mok tampil membela keadilan dan kebenaran tanpa niat menjadi hero, yakin deh udah lama dibungkam oleh orang-orang berkepentingan pake air keras dan percobaan pembunuhan yang brutal dengan dibumbui drama-drama nggak berkelas lainnya. Keadilan yang sebenar-benarnya semakin mahal saja rasanya. .
“... I personally have never thought that certain people’s lives could be consicered less valuable than others.” –Hwang Shi Mok
Bae Doo Na as Han Yeo Jin
Kalau kita memakai perasaan sebagai standar, Letnan Han Yeo Jin adalah kebalikan dari Hwang Shi Mok. Hwang Shi Mok diciptakan sebagai seseorang yang emotionless, tidak demikian dengan Han Yeo Jin. Ia sangat perasa. Kepada karakter inilah Lee Soo Yeon menyerahkan tugas menghidupkan simpati dan empati yang dimiliki Secret Forest. Coba ingat, ada berapa kali Han Yeo Jin berhasil membuatmu, setidaknya berkaca-kaca karena ucapan dan tindakannya? Tapi tunggu dulu—Han Yeo Jin bukan tipikal lead female yang diposisikan sekadar pemanis. Sungguh, dia lebih tangguh dari siapapun di Secret Forest, melampaui Hwang Shi Mok malah HAHAHAHA. Hwang Shi Mok akan susah bergerak andai tidak disokong Bu Letnan yang hatinya lurus ini. Yang saya suka dari Han Yeo Jin, dia berani mengambil langkah yang bertolak belakang dari rekan-rekannya di kepolisian. Meski konsekuensinya nggak ngenakin, ia dikucilkan. Unexpected character. Ga suka nge-judge sembarangan. Punya cara yang sopan bagaimana menghibur orang lain tanpa membuat orang tersebut merasa dikasihani. Menyenangkan. Mandiri. Dan yang paling utama, Han Yeo Jin cerdas! Cadas.
Apa cuma saya yang merasa kalau gambarnya Han Yeo Jin gak jelek-jelek amat. Seenggaknya lebih bagus dari gambar bikinan sayaㅋㅋㅋ 
Umm, kita tidak perlu membahas aktingnya Bae Doo Na di sini. Kelasnya udah beda, setali tiga uang dengan Jo Seung Woo. Akting mereka di atas rata-rata. Saya pertama kali bertemu Bae Doo Na di God of Study (KBS, 2010). Secret Forest merupakan drama kedua yang saya nonton dari aktris yang sudah go international ini.
Yoo Jae Myung as Lee Chang Joon
Masih lekat di ingatan sosok lucu appa-nya Dong Ryong di Reply 1988. Saya KAGET bukan main setelah menonton karakter Lee Chang Joon di Secret Forest! Sangat bertolak belakang dengan Yoo appa. He is a great actor!
Karir Lee Chang Joon melesat cepat dari jaksa biasa. Di puncak karirnya, pria ini berhasil menduduki kursi sebagai Sekretaris Presiden. Ia tidak melakukannya sendiri, berkat bantuan Lee Yoon Beom, bapak mertuanya-lah semua tangga karir itu bisa ia dapatkan. Sebagai bayarannya, Lee Chang Joon dijadikan Lee Yeon Beom sebagai alat untuk memuluskan permainan politiknya yang tentunya menguntungkan posisinya sebagai pengusaha. Semacam Simbiosis Mutualisme.
Kalau boleh saya ingin mengatakan bahwasanya Lee Chang Joon adalah secret forest itu sendiri. Ia pusat seluruh rahasia. Karakter ini menempati posisi paling abu-abu, begitu sulit dibaca, seperti ada motif dibalik motif yang membuat saya berkali-kali meragukan analisa saya sendiri. Kayak bawang, dikupas tapi ga habis-habis lapisannya. Saya menyadari, sedari awal, Hwang Shi Mok sudah mengunci perhatiannya lurus-lurus pada sunbae-nya itu. Sedangkan saya sendiri, mulai meragukan Lee Chang Joon sebagai orang yang semata jahat atau sebaliknya, setelah menonton scene di mana dia sedang berada di dalam mobil. Saat itu lampu merah, seorang tua melintas di zona penyeberangan pejalan kaki sambil susah payah menarik gerobaknya berisi kardus dan lain-lain. Lee Chang Joon bertanya kepada sopirnya, berapa pendapatan si tua tersebut. Ini bukan scene biasa. Perhatikan riak bernada ironi di wajah Lee Chang Joon. Mulai dari sini saya memutuskan berhat-hati sekali menilai karakter satu ini. Ia bukan karakter yang mudah.
Lee Chang Joon sengaja menjadikan Hwang Shi Mok sebagai alat untuk melancarkan rencananya. Ketika Hwang Shi Mok bertindak di luar rencana, ia tegas berusaha membenarkan jalur Shi Mok—yang di mata penonton makin menguatkan posisi Lee Chang Joon sebagai antagonis. Benarkah dia se-antagonis seperti yang kita pikirkan?
I must be remembered as corporate riches spy who was loyal to them until the end...”  -Lee Chang Joon
Saya mau ngasih jempol sebanyak-banyaknya untuk Yoo Appa atas aktingnya yang ciamik! Emejinggg! Tebakan saya benar soal siapa tokoh utama dalam kasus yang ditangani Shi Mok, juga soal siapa sasaran utama yang ingin dituju.
Lee Joon Hyuk as Seo Dong Jae
Annoying character. ㅋㅋㅋ
Oportunis, di mana angin menguntungkan ke sanalah ia menuju. Susah memercayai tipikal orang seperti ini. Kamu tidak akan pernah tahu, suatu saat ia bisa menusukmu (bukan arti sebenarnya) sambil tetap memasang senyum merekahnya.
Bisa saja saya yang keliru menyimpulkan. Pertama, Seo Dong Jae menghormati Lee Chang Joon sampai akhir. Kedua, Seo Dong Jae sepertinya menyukai Young Eun Soo. Entah benar atau tidak. Tapi satu yang pasti, tidak peduli berapa kali diberi kesempatan kedua, ketiga, keempat... Seo Dong Jae tetaplah si oportunis. Ada orang-orang yang tidak bisa menghargai apa arti sebuah kesempatan. Banyak Seo Dong Jae lain di sekitar kita. Atau bisa jadi, kita menyimpan Seo Dong Jae di salah satu sisi diri kita. Who knows....
Saya beberapa kali narik napas prihatin melihat kelakuan Seo Dong Jae, apalagi kalau sedang terdesak. Ampun deh. Belum lagi ditambah gesturnya yang... kepedean banget itu. Fiuh. Um, kadang lucu juga sih. KADANG YA. Saya ulang, KADANG. Lebih banyak nyebelin dan ngeselinnya.
Shin Hae Sung as Young Eun Soo
Annoying? Yes. Pitiful? Yes. From the start, this character has given me a strong impact. Not the good one. It’s opposite. Young Eun Soo makes me uncomfortable. Tapi di episode 15, Young Eun Soo bikin saya nangis. I didn’t see it coming .
Bisa dimengerti kenapa Young Eun Soo kayak gitu, dia pengen membersihkan nama baik bapaknya yang sudah dituduh menerima suap dan terpaksa diturunkan dari jabatan menteri yang dipegangnya. Kasus tangkap tangan yang dialami Young Il Jae (Lee Ho Jae) sedikit banyaknya memengaruhi saya. Saya mengingat kembali beberapa kejadian tangkap tangan yang dipertontonkan sebuah instansi di negeri kita yang semakin hari semakin ramai saja dengan drama memuakkan. Sebagai orang luar yang hanya bisa menilai berdasarkan apa yang tampak di media, saya ingin melemparkan tanya; apa yang membuat kita begitu yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebenaran mutlak? Hanya karena mereka ditunjuk sebagai pemberantas korupsi, lantas segala yang mereka lakukan kudu musti wajib dipercaya, sedang sebagian orang yang ingin mencoba membenahi kembali instansi tersebut dinilai dan diposisikan sebagai orang-orang kalah yang ingin menggusur instansi pemberantas korupsi. Siapakah yang bisa menjamin bahwa tidak ada orang-orang seperti Young Il Jae di antara objek tangkap tangan tersebut? Semoga kita tidak sepenuhnya lupa, bahwa kebenaran versi manusia bukanlah sesuatu yang mutlak. Dan dunia politik adalah wilayah paling abu-abu yang penuh dengan jebakan joker.
Penilaian saya pada karakter Young Eun Soo jungkir balik seketika usai menonton ending episode 14. Bagi kita, dia sedikit menyebalkan—saya yakin banyak penonton yang gak suka dengan dia—tapi, Young Eung Soo tetaplah puteri kebanggaan dan kesayangan kedua orangtuanya. Hati saya mencelos, dada saya nyeri, dan mata saya memanas lalu basah ketika di hari kematiannya, ayah-ibunya yang belum mendapatkan kabar kematian puteri mereka sedang menceritakan Eun Soo dengan wajah berbinar. Simbolik sekali. Saya refleks membayangkan bagaimana selama ini Eun Soo menjalani hidupnya di bawah tudingan sebagai puteri koruptor. Label itu mengikuti keluarganya selama bertahun-tahun. Mungkin akan berbeda rasanya andai Young Il Jae benar-benar menerima suap, saya tidak akan bersimpati sedalam ini. Sayangnya, Lee Soo Yeon memilih menggunakan Eun Soo sebagai kunci terakhir yang membuka Secret Forest. Sedih sekali. Di saat ia berhasil membersihkan nama baik ayahnya... Sungguh, kematian Young Eun Soo adalah sebuah kehilangan yang saya sesali kemudian. .
Saya berdoa, semoga tidak ada Young Il Jae dan Young Eun Soo lain di sekitar kita. Saya tidak berani membayangkan. Semoga mereka yang memangku kuasa sebagai penegak hukum selalu melakoni tugas tanpa tebang pilih. Semoga. Aamiin.
Ending
Orang pertama yang saya curigai sebagai pembunuh Park Moo Sung adalah Park Kyung Wan (Jang Sung Bum) yang tak lain merupakan anak Park Moo Sung. Setelah kecurigaan saya terpatahkan, saya kemudian mengarahkannya kepada Lee Chang Joon. Dan ketika latar belakang kehidupan penyidik Yoon Sewon (Lee Kyu Hyung) terekspos melalui dialog sambil lalu member tim investigasi khusus, saya pun memusatkan kecurigaan pada Penyidik Yoon. Trus makin ke sini kok saya makin gak rela Penyidik Yoon jadi antagonis, gak mau terima kenyataan orang sebaik Yoon ternyata membunuh orang... .
Ending Secret Forest tidak masuk kategori open ending, atau sebaliknya. Kasus pembunuhan Park Moo Sung yang berujung pada labirin korupsi di tubuh kejaksaan dan kepolisian memang sudah tuntas. Namun seperti halnya hidup, tidak ada yang akan pernah benar-benar usai kecuali bila sudah tiba saatnya kita berhenti bernapas. Hidup  Hwang Shi Mok terus berjalan. Juga orang-orang di Secret Forest. Masih banyak Lee Yoon Beom lain yang perlu ditangani secepatnya sebelum mengakarkan penyimpangan-penyimpangan yang lebih fatal lagi.
Meminjam ucapan Han Yeo Jin yang dikutip dan dikembangkan kembali melalui Hwang Shi Mok,

“People do corrupt things because they can get away with them and people will turn a blind eye. We can change it if just one person keeps his or her eyes open. And barks at them.
Extra
Apabila hukum sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka terbitlah chaos. Orang main hakim sendiri, orang-orang yang kadung kehilangan kepercayaan pada hukum akan menciptakan hukum versi masing-masing yang dirasa lebih atau paling adil. Lee Chang Joon dan Yoon Sewon adalah contoh konkrit sebuah akibat manakala hukum dijadikan mainan oleh para petugas. Saya khawatir, tumpulnya hukum ke atas dan semakin tajamnya ke bawah pada klimaksnya kelak akan menerbitkan letusan dahsyat. Saya lupa ini masuk kajian teori mana, bahwa kemarahan orang-orang kecil dan tertindas adalah petaka paling mengerikan yang sulit dibendung. Coba bayangkan bila amarah tersebut dijadikan alat oleh pihak tertentu... HAA, kenapa jadi serius begindang yak? Staph it, Azz ㅋㅋㅋㅋ
Seringkali, kita mengotak-kotakkan orang dengan label hitam, putih, abu-abu atau jahat vs jahat. Di Secret Forest, pada tingkat mayor characters, tidak ada karakter yang sepenuhnya jahat atau sepenuhnya baik. Tidak ada malaikat atau iblis. Mereka punya flaw-nya masing-masing. Manusia bertindak karena adanya motif. Apakah motif itu baik atau buruk, kembali lagi ke standar penilaian kita pribadi. Lee Yoon Beom, Lee Chang Joon, dan Yoon Sewon; ketiga karakter ini menarik perhatian saya. Di postingan lain Majimak Sarang saya pernah menulis kurang lebih seperti ini, meskipun niatnya baik tapi bila ditindaklanjuti dengan cara yang salah maka hasilnya tetap salah. Bukan soal hasil tapi proseslah yang dilihat. 
Selama hidupnya, Lee Yoon Beom memelihara delusi dan ilusi sekiranya ia memegang peranan penting pada pertumbuhan ekonomi Korea, ia telah memberikan sumbangsih yang tidak sedikit pada negaranya kendati pada kenyataannya tidaklah demikian. Kesalahan fatal Lee Yoon Beom adalah ia gagal mengidentifikasi kesalahannya sendiri. Kamu berbuat salah, tapi kamu tidak sudi menyadari bahwa kamu melakukan kesalahan; selangkah lagi kamu menjadi psikopat. Hati-hati. Besok-besok saat kamu mencelakai orang lain, kamu akan memaklumi dirimu sendiri. Kalau yang kamu lakukan adalah demi kebaikan.
Di lain sisi, Yoon Sewon adalah bentuk cerita yang seratus kali berbeda dari Lee Yoon Beom. Berangkat dari kesedihan mendalamnya setelah kehilangan anak lelakinya, Penyidik Yoon mengambil tindakan sepihak yang pada akhirnya justru melukai banyak orang. Alih-alih menegakkan keadilan, ia berpotensi menciptakan rantai panjang dendam kesumat yang tidak ada habisnya. Bagi saya Yoon belum sempurna menjadi monster. Berkat anggota tim investigasi, Yoon merasakan leganya bernapas setelah sekian tahun berlalu. Ah, andai saja di saat tergelap hidupnya Yoon bertemu Han Yeo Jin atau Hwang Shi Mok, mungkin hidupnya akan ditulis dengan kisah berbeda. Syukurlah Yoon menyadari kesalahannya... Ini yang paling penting.
Lalu ada Lee Chang Joon. Sunbae yang baik, suami yang mencintai istrinya... satu kesalahan kecil mengantarkannya pada pilihan dan keputusan-keputusan sulit di masa depan. Hati saya terbelah apakah saya menyukai Lee Chang Joon atau membencinya?
Lee Chang Joon mengorbankan dirinya demi menjatuhkan ayah mertuanya. Benarkah? Sayangnya kita nggak sempat nanya ke Lee Chang Joon. Tapi jika menilik lebih jauh, saya menilai Lee Chang Joon itu pengecut—maaf. Maksud saya, kenapa harus mengakhirinya dengan cara sepicik itu? Apakah ia sudah menyerah untuk berjuang demi hidup yang jauh lebih baik? Ataukah ia tak sanggup lagi menjalani hidup usai mengkhianati istri dan ayah mertuanya? Sebagai penegak hukum, semestinya Lee Chang Joon paham, tak ada nyawa manusia yang nilainya lebih tinggi dari manusia lain. Menghilangkan nyawa orang dengan alasan ia pantas mati karena melakukan segunung kesalahan, atau mengorbankan satu-dua nyawa manusia sebagai harga yang patut demi sebuah pencapaian besar adalah tindakan paling tak bermoral. Kita bukan hewan.
Lee Soo Yeon sudah melemparkan clue sedini mungkin mengenai siapa tokoh utama kasus di Secret Forest, yakni saat Penyidik Yoon tidak melaporkan hasil investigasinya mengenai latar kehidupan Hwang Shi Mok kepada atasannya, melainkan malah melaporkannya kepada Lee Chang Joon.
My Best Team!
Ada penyidik Kim Ho Seob yang ceria dan setia. Asisten Choi Young yang selalu bisa diandalkan. Kepala Bidang Manajemen Penanganan Perkara Yoon Sewon yang misterius tapi bertanggung jawab saat melakukan satu pekerjaan, total. Lalu Kim Jung Bon—yang ini ngomongnya suka ceplas-ceplos tapi bener sih HAHAHA, jubirnya tim investigasi khusus. Trus ada Detektif Geon Jang, rekannya Letnan Yeo Jin—yang juga doyan ngomel.  DAAAAN tentunya tidak boleh ketinggalan, dua sayap utama kita; Han Yeo Jin, Hwang Shi Mok.
Chemistry tim ini bagus walau awalnya pada awkward sih ㅋㅋㅋㅋ
Kenapa Hwang Shi Mok emoh ngajak Young Eun Soo gabung di tim ini? Saya rasa alasannya karena ia tidak ingin melibatkan Eun Soo, atau lebih jelasnya lagi, ia mengabulkan permintaan Young Il Jae. Shi Mok tidak membenci Eun Soo. Lihat saja bagaimana reaksinya ketika Eun Soo meninggal. Dia tidak akan sekacau itu bila memang benar ia membenci Eun Soo, bukankah begitu?
Scene Stealer
Saya memilih Yoon Sewon! Akting Lee Kyu Hyung super duper kerennnn! Best scene-nya bareng Shi Mok di di ruang interogasi. Padahal kebanyakan cuma saling pandang loh, tapi intensitas yang terjalin pada dua karakter ini sangat tajam dan mencekam. Saya nahan napas HAHAHA. Best scene lainnya, yakni bareng Han Yeo Jin dan Park Kyung Wan di dua scene terpisah di penjara. WAAAAHHH, pas Penyidik Yoon nangis saya juga ikutan nangisssss . sedih pisaaaaan. Kutak sanggup...
He is promising actor.
Secret Forest, highly recomended drama!
Drama ini berusaha mengirimkan kritik, pesan dan harapan kepada citizens dan para penegak hukum. Kepada citizens, kritislah! Buka matamu lebar-lebar. Ketidakpedulianmu terhadap penyimpangan yang terjadi di depan mata suatu saat nanti mungkin saja akan berubah menjadi pedang yang menebas habis hidupmu. Dan kepada para penegak hukum, katakanlah salah bila memang salah, katakanlah benar bila memang benar. Hukumlah dengan hukuman yang setimpal!
Haruskah kita hidup tanpa emosi seperti Hwang Shi Mok agar bisa menegakkan hukum dengan seadil-adilnya?
Jika drama ini tak cukup mampu menggelitik saraf kritis di pikiranmu, saya tidak tahu untuk apa kamu tetap menonton drama serupa di masa depan. Sekadar suka karena kamu punya hobi nonton kah?
9,9/10.
Ada beberapa catatan dari saya. Saya ingin sekali karakter Han Yeo Jin dikembangkan. Lee Soo Yeon tidak mengekspos Han Yeo Jin. Tak banyak yang bisa kita ketahui dari sosok satu ini. Bagaimana latar belakang kehidupannya? Kenapa ia tinggal sendiri? Dan masih banyak lainnya... saya tidak tahu apakah karakter Han Yeo Jin memang sengaja dibiarkan begitu saja. Ada satu adegan di mana Yeo Jin didatangi anak perempuan—ya kita tahu itu mimpi, tapi saya merasa itu agak random. Saya sempat berpikir itu ada kaitannya dengan masa lalu Yeo Jin. HAHA.
Masa lalu Hwang Shi Mok—masih samar-samar. Potongan-potongan scene Shi Mok kecil yang tertawa bahagia, berontak, teriak... saya sangat ingin mengetahui kronologis hingga Shi Mok menjadi Shi Mok yang sekarang. Mungkin bagi kebanyakan viewers, dua hal ini bukan sesuatu yang penting.
Oh—entah kenapa saya bersyukur tidak ada romance antara Hwang Shi Mok dan Han Yeo Jin. Saya sudah cukup berbahagia dengan hubungan mereka yang seperti itu ㅋㅋㅋ
Satu pertanyaan terakhir yang ingin saya ajukan kepada siapa saja yang membaca tulisan saya ini; bila para petugas hukum sudah tak bisa lagi dipercaya dan diandalkan, ke manakah kita meminta keadilan? Jangan bilang kepada Tuhan—
“As an organization whose duty is to correct injustice, the prosecution has failed. We at the presumption of innocence in a way that was catered to those with wealth and power. Moreover, we protected a criminal instead of our citizens. We failed in carrying out our most essential duty. The late Mr. Lee was the outcome of accumulation of such failure, and everyone in the prosecution was his accomplice.”
-     Hwang Shi Mok.

Tabik,

Azz