[Review] My Unfamiliar Family

 ; untuk Nad

My Unfamiliar Family tayang perdana 1 Juni 2020. Iya, ini drama tahun lalu. Kok saya baru nulis POV-nya sekarang? Saya ingat betul, sehabis menonton episode 16 tahun lalu, masih dengan perasaan terharu, saya menulis di IG story bahwa saya akan membuat POV My Unfamiliar Family. Waktu itu saya berpikir drama bagus ini harus ada jejaknya di blog Majimak Sarang. Sayang, banyak hal-hal terjadi di real life yang turut memengaruhi mood menulis saya. Waktu berlalu. Niat pun tinggal niat saja. My Unfamiliar Family hidup di kepala sebatas rencana.

Hingga beberapa bulan kemarin, sehabis DAYS, saya bertanya kepada Nad apakah ia punya rikues drama yang ingin dibuatkan POV di MS? Saya kepengin ngucapin terima kasih ke Nad karena sudah aktif berinteraksi dengan saya di MS sejak perkenalan pertama kami gara-gara DAYS. Ada dua yang disebutkan Nad, Just Between Lovers dan My unfamiliar Family. Tapi hanya boleh memilih satu drama saja. Dan dipilihlah My Unfamiliar Family.

Lagi-lagi, saya terdistraksi oleh banyak hal. Saya belum juga menulis satu pun huruf untuk membuka POV drama yang masuk nominasi Baeksang Award 2020. Dasar ya... Tapi kali ini saya sudah bertekad bulat, postingan My Unfamiliar Family harus tayang di MS. Janji adalah janji, saya sudah menyanggupi.

Bukan hal mudah mengumpulkan mood menulis POV. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menulis POV drama Korea. Rasa-rasanya seperti memulai dari nol. Kaku. 

Saya suka sekali My Unfamiliar Family. Drama ini membantu saya menyuarakan bunyi yang tidak bisa leluasa saya bagi kepada orang lain, bunyi yang lebih sering memaksa saya meneriakannya pada sunyi di dalam kepala saya. Meski tidak sama persis dengan situasi yang saya alami, tetapi makna yang ingin disampaikan drama ini terasa sangat dekat dan lekat dengan saya. Gambar utuh ceritanya, ruh-nya tidak terasa asing. Main problem yang dihadapi tokoh-tokohnya memiliki nada yang serupa dengan milik saya. 

What is family?

Bagi sebagian orang, menjawab pertanyaan ini tidak pernah terasa mudah. Ia seperti benang kusut yang sulit diurai. 

 

Family. Keluarga. Orang yang paling dekat dengan kita, dengan hubungan pertalian darah yang katanya lebih kental dari air. Keluarga kerap diidentikan orang dengan rumah. Namun, pada satu waktu, seringkali rumah yang diharapkan bisa menjadi tempat pulang yang hangat ini, menyaru tak ubahnya seperti belantara yang setiap bagiannya memberikan kita rupa-rupa rasa sakit yang dalam dan menimbulkan trauma berkepanjangan. Bagi sebagian orang rumah adalah mimpi buruk yang terus menerus meneror ketenangan.

What is family? 

Saya meyakini, bahwa masing-masing kita telah memiliki definisi di kepala tentang apa itu keluarga, dan pengalaman-pengalaman hidup kita sebagai bagian dari keluarga memegang porsi yang sangat besar dalam upaya kita mencerna makna keluarga. 

"I learned something from you. That even if you see your family all the time and you know them well, you still have to put in the effort." -Park Chan Hyuk   

Ya, bagi saya My Unfamiliar Family adalah definisi lain tentang keluarga yang tidak terasa asing pemaknaannya. Drama bertema keluarga ini menuturkan dirinya dengan cara yang tidak biasa, seperti ingin menelanjangi dengan telak konsep keluarga hangat yang sudah sering diceritakan di drama-drama Korea sebelumnya.

Sudut pandang yang dipilih My Unfamiliar Family terlalu blak-blakkan. Tapi tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai wake up call.

Jika di Reply 1988 kita menemukan keharuan dan kehangatan yang dekat dengan konsep 'keluarga adalah rumah yang hangat tempat kita kembali', maka di My Unfamiliar Family kita dibuat babak belur dengan realita yang khas yang entah sadar atau tidak telah tumbuh dan mengakar pada kebanyakan keluarga. Sangat dekat hingga membuat kita larut terbawa emosi para tokoh di drama ini. Setidaknya itulah yang saya rasakan. 

SINOPSIS
 

Semakin bertambah usia seseorang, semakin berkurang waktu yang dihabiskan bersama kelurga. Tersita kesibukan atau hal lain. Ada juga yang memilih hidup terpisah dari keluarganya. Membentuk hubungan-hubungan baru dengan orang-orang di lingkarannya. Dan entah bagaimana, keluarga akhirnya mewujud sosok yang asing dan berjarak. Terlalu banyak cerita yang tersesat, tak terucapkan, lalu mengendap menjadi kemarahan dan kesedihan.

My Unfamiliar Family mengisahkan tentang kehidupan keluarga Kim Sang-sik. Ia memiliki tiga anak. Dua orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Kim Eun-joo, si anak pertama. Kim Eun-hee, anak tengah alias anak kedua. Dan Kim Ji-woo, si anak bontot. 

Keluarga Kim sedang tidak baik-baik saja. Itulah yang coba disampaikan pada pembukaan episode pilot drama ini. Hubungan Kim Sang-sik dan Lee Jin-sook, istrinya sedang bermasalah. Pertengkaran yang disebabkan hal-hal kecil kerap terjadi. Jin-sook mulai muak. Lelah. Selama puluhan tahun ia telah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Namun yang dirasakannya, Sang-sik tidak menghargai itu. 

Di saat Jin-sook sudah menguatkan niat untuk berpisah, Sang-sik dilaporkan hilang saat melakukan pendakian. Jin-sook dan anak-anaknya diliputi kepanikan. 

Ketika Sang-sik ditemukan, laki-laki itu tidak bisa mengenali keluarganya. Kecelakaan yang dialaminya saat melakukan pendakian membuatnya kehilangan ingatan. Yang tersisa di ingatan Sang-sik adalah kehidupannya di awal usia duapuluhan, saat-saat ia bertemu Jin-sook pertama kali, menikah, lalu dikaruniai anak perempuan pertama mereka, Kim Eun-joo. 

Hilangnya ingatan Sang-sik justru membuka kotak pandora keluarga itu, yang berisi rahasia-rahasia, kekecewaan, kesedihan, kemarahan yang telah terkubur bertahun-tahun. Guncangan demi guncangan menghantam pondasi keluarga Kim Sang-sik yang rapuh. 

Mampukah Kim Sang-sik mempertahankan keutuhan keluarganya?


Menonton My Unfamiliar Family, kita seperti sedang mengupas bawang selapis demi selapis. Sulit sekali menghindari air mata. Mengapa? Karena drama ini menyuguhkan cerita yang nyata, bukan fiksi, tentang kehidupan keluarga dan pusaran konfliknya yang sekali lagi, terasa tidak asing. Tokoh-tokoh yang terlibat di dalam drama ini begitu pas mewakili imej yang hidup dalam potret sebuah keluarga; ayah, ibu, kakak, adik. Pada setiap episodenya kita tak sadar menarik napas panjang, teringat sesuatu. Rasa-rasanya kita akrab dengan emosi-emosi yang dirasakan para tokohnya. Kita mengenalinya.

My Unfamiliar Family membantu kita menyusuri jalan pulang ke rumah yang semakin jauh dan hampir terlupakan. Keluarga. 

CAST & CHARACTER
 

Seingat saya, waktu saya mutusin nonton My Unfamiliar Family, saya enggak baca-baca lebih jauh siapa pemerannya, nggak baca sinopsisnya juga. Saya nonton karena tertarik judul dramanya. Drama besutan sutradara Kwon Young-Il ini memasang nama-nama populer di jejeran cast-nya.

Jung Jin-young sebagai Kim Sang-sik


Sang-sik adalah tipikal family man. Ia bersedia melakukan apa saja demi keluarganya. Namun tindakan dan sikapnya ditanggapi dengan reaksi berbeda oleh istri dan anak-anaknya. Dari sudut pandang saya sebagai penonton, kesan pertama saya terhadap karakter ini tidak terlalu bagus. Sensian, sukanya marah-marah ke istri. Karakter yang terasa familiar dan dekat. Saya sempat merasa tidak nyaman.

Seiring berjalannya episode, saya mendapatkan banyak informasi tentang Sang-sik. Sudut pandangnya sebagai bapak dan suami sedikit banyaknya memengaruhi perubahan penilaian saya terhadap Sang-sik. Tidak terbantahkan lagi betapa ia sangat mencintai keluarganya, dengan segenap hati mengusahakan agar anak-anak dan istrinya mendapatkan kehidupan yang layak. Karena besar cintanya itu, ia keliru mengambil keputusan di masa lalu yang berakibat timbulnya kecurigaan berkepanjangan di hati Jin-sook. Luka dan kesedihan yang semestinya bisa dihindari itu... 

Kehadiran sosok Sang-sik seperti hendak mengamini karakter ayah yang banyak ditemukan di luaran sana. Tidak perlu lagi ditanyain seberapa besar cinta dan kasih sayangnya kepada anak-anak dan istrinya, ia memiliki cinta luar biasa namun gagal menunjukkan itu semua kepada mereka. Ia keliru memilih bahasa cinta. 

Banyak sekali tipe ayah di dunia ini. Tipe ayah saya mirip dengan Sang-sik. Butuh waktu yang lama untuk saya menyadari dan memahami 'bahasa cinta' ayah saya kepada istri dan anak-anaknya. 

Won Mi-kyung sebagai Lee Jin-sook


Salah satu karakter yang paling kuat guncangan emosionalnya. Jin-sook lelah fisik dan mentalnya. Saya berkali-kali ingin berlari ke arah Jin-sook eomma dan memeluknya sekuat yang saya bisa. Demi apapun, sedih sekali.... 

Jin-sook kehilangan 'kehidupannya' di usia muda. Sepanjang hidupnya, ia membaktikan waktunya untuk anak-anak dan suaminya. Hingga di suatu jeda yang menyakitkan, Jin-sook ingin melepaskan diri dari apa-apa yang telah membersamainya berpuluh tahun. Ia ingin berpisah dari Sang-sik. Ia telah tiba di titik paling melelahkan hidupnya; suami yang pemarah dan berjarak serta anak-anak yang semakin jauh. Saya merasa Jin-sook menemukan dirinya tidak lagi dihargai. Ia yang telah menghabiskan hari-harinya demi memastikan suami dan anak-anaknya menjalani hidup dengan baik dan teratur. 

Karena ia 'terbiasa' menjadi dan sebagai ibu, orang-orang lupa bahwa ia juga memiliki hidupnya sendiri bukan sebagai ibu tetapi sebagai seorang perempuan bernama Lee Jin-sook. Orang-orang itu adalah keluarganya sendiri, orang-orang paling dekat dengannya. Suami dan anak-anaknya. 

Saya memahami kemarahan dan kekecewaan Jin-sook.

Saya refleks teringat ibu saya. Ibu saya adalah perempuan terkuat yang pernah saya kenal. Demi anak-anaknya, ibu saya sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Banyak sekali. Kisah Lee Jin-sook membuat saya bertanya-tanya kapan terakhir kali ibu saya merasakan kebahagiaan yang sebenar-benarnya bahagia? Apakah ibu saya pernah benar-benar menikmati bahagia untuk dirinya sendiri? Seberapa dalamkah kesedihan-kesedihan yang ia simpan dalam sendirinya? Ibu yang selalu mendahulukan anak-anaknya sebelum dirinya. Yang memilih meneruskan ikatan keluarga meski berkali-kali dibuat babak belur oleh orang yang seharusnya bisa memberinya rasa aman dan nyaman.  

Mustahil bagi saya tidak menangis melihat Jin-sook.

Pada tatanan keluarga penganut paham patriarki garis keras kelompok ibu-lah yang paling sering menjadi menjadi 'korban'. Ia yang tercerabut dari kehidupannya. Ia dituntut agar mampu 'menghidupi' dan 'dihidupi' oleh apa yang disebut keluarga. Dalam perjalanannya, ia dibuat lupa bahwa sebelum menjadi ibu, ia adalah seorang perempuan yang punya suara. Dan ia berhak didengarkan.

Saya membayangkan berapa banyak sosok Jin-sook di sekitar kita, yang menghabiskan waktunya sepanjang hari di rumah. Memastikan rumah selalu siap sedia menjadi tempat pulang yang nyaman bagi suami dan anak-anaknya setelah seharian berada di luaran sana. Lalu ketika suami dan anak-anaknya membuka pintu, tak ada senyum, tak ada pelukan hangat, hampa. Ada yang membawa pulang amarah, wajah bisu, juga ketidaknyamanan. Tetapi meski demikian, esok dan esoknya lagi ia tetap setia mengusahakan agar rumah selalu menjadi tempat pulang yang aman. 

Lantas siapakah yang akan menyediakan tempat pulang yang nyaman untuk ibu? Pada siapakah ibu bisa membagi ceritanya? Ibu bisa sedih, bisa menangis juga. Sekuat-kuatnya seorang ibu, hatinya yang menampung banyak suka duka itu bisa jebol juga. Siapakah yang akan memberinya pelukan hangat? 

Banyak sekali momen yang menunjukkan betapa lelahnya Lee Jin-sook menjalani kehidupannya sebagai ibu. Ia bukan menyesali statusnya. Yang membuatnya terluka adalah perasaan terabaikan. Itu. Jin-sook telah tiba pada titik kulminasi kesedihannya. 

Sebelum menjadi ibu ia adalah seorang perempuan, seorang manusia.

Choo Ja-hyun sebagai Kim Eun-joo


Dingin, jutek, realistis, blak-blakkan. Omongannya suka nyakitin walaupun sesuai kenyataan.

Sebagai sulung, Eun-joo tumbuh menjadi sosok yang keras dan tegas. Ia adalah perempuan mandiri. Pembawaannya yang dingin membuat orang tua dan adik-adiknya selalu berhati-hati bila berinteraksi dengannya. Alih-alih takut salah omong, saya pikir kehati-hatian itu semata dilatarbelakangi rasa penghargaan yang luar biasa terhadap Eun-joo. Eun-joo sudah berjuang membantu orang tua dan adik-adiknya sejak muda. Sayang sekali di saat yang sama Eun-joo menganggap keluarga ada beban yang membuatnya muak. Penuh kepura-puraan. Itu sudut pandang Eun-joo.

Dunia Eun-joo jungkir balik tatkala rahasia kehidupan suaminya terkuak. Belum lagi masalah-masalah yang susul-menyusul kemudian. Tentang ayahnya, tentang identitas masa lalunya. Eun-joo kesulitan menemukan jeda untuk sekadar menghela napas.

Tetapi ia adalah si sulung yang selalu dituntut agar kuat.

Yang sehari-hari menjalani kehidupannya sebagai sulung rasa-rasanya sedikit banyaknya merasa 'terhubung' dengan karakter Eun-joo. Kalo ada apa-apa, si sulung lah yang pertama kali dicari adek-adeknya. Si sulung yang menjadi penghubung antara adek-adek dan orang tuanya. Si sulung yang kesulitan membuka hubungan yang dekat orang tua dan adik-adiknya.

Eun-joo mengenali seperti apa sifat-sifat orang tua dan adik-adiknya. Ia pintar membaca situasi dan wajah orang-orang karena Eun-joo dalam diamnya telah terlatih menjadi si pengamat yang baik. Eun-joo tahu bagaimana melindungi hatinya. Sayangnya, jatah patah hatinya datang saat ia sedang tidak siap. 

Memangnya siapa sih yang siap menerima patah hati?

Eun-joo orangnya memang blak-blakkan kalo ngomong, kadang saking transparannya omongannya bisa nyakitin hati orang yang dikritiknya. Namun tetap saja ada beberapa hal yang tidak ia suarakan, disimpannya rapat-rapat pertanyaan demi pertanyaan itu untuk dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadarinya telah menumbuhkan prasangka terhadap orang tuanya.

Memosisikan diri sebagai observer memang tidak selamanya menyenangkan.

Han Ye-ri sebagai Kim Eun-hee


Eun-hee yang dekat ayahnya, dekat dengan ibunya, selalu menempeli kakaknya meski si kakak memberinya sikap tak acuh, juga dengan adiknya, Eun-hee akrab. Kim Eun-hee adalah si anak tengah yang kerap berada di tengah dalam setiap situasi. Ia yang berusaha dua kali lebih keras untuk memastikan semua baik-baik saja. Eun-hee berusaha tidak memihak siapa pun di keluarganya. Si mood maker-nya keluarga.

Meski periang, enerjik dan heboh, Eun-hee memiliki kesedihan dan traumanya sendiri.

Saya nangis mengetahui latar belakang bagaimana Kim Eun-hee yang selalu tampak ceria dan dekat dengan semua anggota keluarganya. Ia takut ditinggalkan sendirian, sebab itulah ia membawa dirinya tumbuh menjadi anak yang baik, tidak menyusahkan orang tuanya. Eun-hee takut dengan perasaan tidak diingatkan. 

Yang tumbuh menjadi anak tengah banyak yang ngerasa relate dengan kisah Eun-joo nih. Jadi keinget Deok-sun juga. Ia dan Eun-joo berbagi kisah yang mirip. Mereka kerap dilupakan secara tidak sengaja semata-mata karena mereka anak tengah. 

Keliatan sekali jiwa insekyur-nya Eun-joo dari gerak-geriknya, dari gestur dan ekspresi wajahnya. Eun-joo selalu ada untuk ayah dan ibunya, untuk kakak dan adiknya. Beruntung Eun-joo memiliki Park Chan-hyeok, sahabat seumur hidupnya.

Konflik asmara Eun-hee lumayan heboh juga.

Shin Jae-ha sebagai Kim Ji-woo


Maknae. Si bungsu. Anak cowok satu-satunya. 

Di mata kakak-kakaknya, si bungsu akan selamanya diperlakukan sebagai si 'anak kecil'. Jelas sekali Ji-woo adalah anak bungsu. Tetapi saya suka bagaimana Eun-joo dan Eun-hee memperlakukan Ji-woo. Saya melihat usaha mereka menyediakan ruang bagi Ji-woo untuk menyampaikan pendapatnya setiap kali ada urusan yang perlu dirundingkan. 

Dengan 'pemikirannya' juga Ji-woo melakukan sesuatu yang menurut kamusnya ia melakukan itu demi meringankan beban orang tuanya. Dinilainya itu sebagai upaya menjadi dewasa yang sesungguhnya. 

Lewat kesalahannya Ji-woo belajar menjadi dewasa. 

Kim Ji-suk sebagai Park Chan-hyeok


Chan-hyeok sudah mengenal dan akrab dengan keluarga Eun-hee. Ia dan Eun-hee bersahabat sejak lama. Chan-hyeok memang orang luar, tetapi ia mampu melihat detail-detail penting dalam keluarga Eun-hee yang luput dikenali gadis itu. Melalui sudut pandang Chan-hyeok-lah, Eun-hee belajar mengenal lebih dekat ayah, ibu, kakak, serta adiknya. 

Chan-hyeok adalah salah satu lead male terbaik yang pernah saya lihat di drama Korea. Karakter cowok yang realiable, caring, and mature. Wise banget deh orangnya. 

Di kepala saya, Kim Ji-suk identik dengan karakter sekenlit yang ngenes, beberapa karakternya annoying. Syukurlah di My Unfamiliar Family saya dibikin jatuh suka sama Park Chan-hyeok. Chan-hyeok best boiiiiii. Bahagianya Eun-hee bertemu orang sebaik Chan-hyeok. 

***
Supporting character lainnya ada Hye-jeong AOA, Shin Dong-wook, Kwon Yool. Sedangkan versi muda Kim Sang-sik dan Lee Jin-sook diperankan oleh Han Joon-woo (Be Melo), dan Jo A-young. Saya suka dengan aktingnya Jo A-young, bagus.

KONFLIK 


The first cut is the deepest.

Pada sebagian orang, mereka mendapatkan luka pertamanya justru dari lingkaran yang paling dekat dengannya: keluarga. Ini kemudian mempengaruhi proses tumbuh kembangnya, khususnya di sisi perkembangan mental. Untuk kasus lebih berat, trauma yang dibentuk dari lingkungan keluraga terkadang malah bisa berimbas pada caranya memandang dunia dan orang-orang di dalamnya. 

Konflik yang diangkat My Unfamiliar Family kurang lebih ingin menunjukkan bahwa dalam kamusnya sendiri, keluarga adalah pihak yang paling besar mengambil porsi pembentukan karakter seseorang. Eun-joo tumbuh dengan perasaan tidak nyaman di tengah-tengah keluarganya. Ia pernah sangat membenci keluarganya sendiri. Sikap sinisnya terhadap keluarganya sangat terasa. Perasaan semacam itu tidak muncul begitu saja, pemicunya berasal dari keluarga itu sendiri. Ini adalah sudut pandang Eun-joo, si sulung yang merasa terasing di keluarganya sendiri. Kehangatan keluarga tidak tiba dengan baik di hati Eun-joo. Berbeda dengan Eun-hee, anak tengah ini leluasa menunjukkan kasih sayangnya kepada orang tua, kakak dan adiknya. Ada sebuah adegan ketika Sang-sik tidak membawa bekal makanan yang sudah disiapkan Jin-sook, Eun-hee membaca gurat kekecewaan di wajah ibunya. Agar ibunya tak bersedih, sebagai gantinya Eun-hee lah yang membawa bekal tersebut. Eun-joo dan Eun-hee adalah tipe observer yang membaca situasi dengan sudut pandang berbeda. Satu kejadian di masa lalu rupanya telah menciptakan dua sisi traumatik yang berbeda bagi Eun-joo dan Eun-hee.

Keluarga inti adalah payung besar yang telah membersamai kita sejak kita lahir. Sedekat apa pun kata ini dengan kehidupan kita, untuk bisa memaknainya dengan benar dan tepat dibutuhkan usaha yang tidak boleh ala kadarnya saja. Kita sering lupa, semakin dekat sebuah hubungan, pola komunikasinya juga harus jelas jika tidak ingin berakhir menjadi orang asing satu sama lain. Dekat di mata jauh di hati. Dekat tapi terasa jauh. 

Di dalam keluarga, prasangka bisa tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Karena kita keliru menganggap kedekatan adalah jaminan bahwa ayah, ibu, kakak atau adik kita adalah yang paling mengenal kita. Perasaan asing terhadap satu sama lain dalam keluarga inti justru muncul akibat kita yang terlalu percaya diri bahasa tubuh kita berhasil dibaca dengan baik. Yang perlu dikatakan harus dikatakan. 

Konflik batin yang akhirnya merambat ke mana-mana di My Unfamiliar Family mulanya berasal dari sikap tidak terbuka para tokohnya. Mengira-ngira, meraba-raba, menebak-nebak. Meyimpulkan berdasarkan apa yang dilihat saja. Begitulah prasangka dilahirkan. Hal-hal yang perlu dibicarakan atau dirundingkan bersama tidak dilakukan karena para tokohnya berpikir menyembunyikannya adalah pilihan tepat untuk menjaga keutuhan keluarga. Fatal, tentu saja. 

Sang-sik, Jin-Sook, dan anak-anaknya bersikap seolah semuanya baik-baik saja, padahal kenyataannya masing-masing menyimpan magma berjalan di dalam hati dan kepala yang siap meledak kapan saja. Tidak sadar mereka sedang mempertahankan kebahagiaan semu. Toxic. Ya. Konflik utama My Unfamiliar Family adalah soal komunikasi yang macet berpuluh tahun lamanya hingga melahirkan prasangka dan kemarahan yang bersifat korosif. Memakan dari dalam. Saya yakin sekali banyak penonton yang merasa dekat dengan konflik di drama ini. Saya termasuk di penonton itu. 

Menurut pengalaman saya, membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga adalah salah satu yang tersulit. Tekanan yang dirasakan besar sekali. Terlebih jika sedari awal orang tua sudah keliru memilih pondasi. Butuh kerja keras dari seluruh 'peserta' di keluarga yang bersangkutan. 

Selain konflik utama, konflik lain yang cukup menguras emosi adalah masalah yang terjadi dalam rumah tangga Kim Eun-joo dan suaminya, Yoon Tae-hyeong (Kim Tae-hoon). Saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang ini karena menyangkut isu sensitif yang kuatirnya jika saya nekat menguliknya, saya akan di-cap diskriminatif hehe. Yang saya tangkap, maksud penulisnya memasukan sub-konflik ini tidak sepenuhnya keluar dari tema utama tentang keluarga. Yoon Tae-hyeong dan keluarganya adalah bentuk cerita lain mengenai keluarga. Apa yang terjadi pada Yoon Tae-hyeong dan upaya ibunya yang mati-matian menolak fakta tentang keadaan anaknya bukanlah hal baru. Yoon Tae-hyeong ditolak ibunya sendiri karena perbedaan yang ada pada dirinya. Oke. Cukup sampai di sini. Hehe. 

Saya ikut bersedih untuk Kim Eun-joo. Ia yang semula menikahi Tae-hyeong bukan atas dasar cinta, ternyata berakhir mencintai suaminya itu. Yeah, that was one of the most heartbreaking moment in this drama. 

ACTING & CHEMISTRY


Saya pikir perasaan familiar yang dirasakan penonton saat menonton setiap scene di drama ini tidak hanya karena didukung materi cerita kuat tetapi juga kekuatan akting para pemerannya yang mampu menghadirkan nuansa tersebut pada setiap karakter yang dimainkan. 

Dua karakter yang paling menyihir saya adalah Lee Jin-sook dan Kim Eun-joo. Tone suara, penekanan kata demi kata, dan ekspresi yang mendetail dari Won Mi-kyung dan Choo Ja-hyun selalu berhasil membuat saya bersimpati pada mereka. Saya dibikin paham benar apa yang mereka rasakan. Emosi karakternya nyampe ke saya. Saya nggak bilang yang lain gagal ya, tapi emang dua karakter inilah yang paling kuat pengaruhnya ke saya. 

Secara keseluruhan, akting dan kemistri di My Unfamiliar Family bagus dan dapet banget. Semua elemen berpadu sempurna. Awkward-nya anak pertama dan bapaknya, si anak kedua yang supel dan ribut, ibu yang dalam diamnya tertekan dan terluka, juga kisah sabahat jadi cinta antara Eun-hee dan Chan-hyeok yang eksekusinya tidak mengecewakan. Proses peralihan hubungan Eun-hee dan Chan-hyeok realistis sekali. Nggak menye-menye, nggak lebai. Manis.... 

E N D I N G


Drama ini ditutup dengan catatan manis. Setiap karakter mendapatkan closure-nya masing-masing. Orang-orang belajar dari kesalahannya. Perasaan asing di dalam keluarga Kim Sang-sik terurai dengan baik.

Eun-joo sudah mulai membuka diri lagi. pengen liat lebih banyak interaksinya Eun-joo dan Yoo Min-woo (Kwon Yool). Saya senyum-senyum sendiri liat Eun-joo di ep 6, dia dan Min-woo lagi duduk bareng kan, trus Min-woo nya nyerocos curhat. Eun-joo beberapa kali mau pamitan tapi ketahan mulu sama ceritanya Min-woo. Gemessss. Dari situ, saya yakin banget Eun-joo udah mulai membuka diri. Eun-joo dan mantan suaminya juga masih berhubungan baik.

Eun-hee dan Chan-hyeok semakin awet. Eun-hee udah nggak insekyur lagi. Dia membuka usaha penerbitan mandiri.

Sedangkan si bungsu, sedikit demi sedikit sudah menunjukkan kedewasaannya.

Saya suka sekali dengan akhir My Unfamiliar Family. Bukan karena drama ini berakhir bahagia. Tapi eksekusi endingnya yang tidak terkesan buru-buru. Sang-sik dan anak-anaknya akhirnya menyadari sudah sejauh apa mereka 'menyakiti' Jin-sook. Mereka menerima keputusan Jin-sook yang ingin bepergian. Narasi Eun-hee di ep 16 membuat saya terharu, "back then Mom wasn't a mom. She was the 60-year-old Lee Jin-sook who chose her own life just like when she was 22." 

Jin-sook tidak pernah menyesali keputusannya meninggalkan keluarganya saat ia mengandung Eun-joo. 

Selama Jin-sook bepergian, suami dan anak-anaknya tidak lantas mengabaikan rumah. Eun-joo dan adik-adiknya datang bergantian membersihkan rumah, menemani ayah mereka, makan bersama dan lain-lain. Kehangatan kembali mengisi rumah itu, bedanya, kehangatan yang menjalari setiap inci rumah itu datang dari hatihati yang saling memahami bahasa cinta masing-masing. 

Yang membuat mereka bertahan setelah masalah demi masalah yang datang silih berganti bukanlah kewajiban untuk mempertahankan keutuhan keluarga mereka, tetapi cinta. Sebab di penghujung hari yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka menyadari apa yang membuat mereka bertahan selama puluhan tahun meski kerap muncul perasaan asing terhadap satu sama lain adalah kuatnya cinta yang mereka miliki. 

Ini kisah keluarga Kim Sang-sik.

Family is a long journey.  

SCENE FAVORIT


Saya jarang memasukkan ini di POV karena seringnya saya kesulitan memilih di antara banyaknya adegan-adegan di drama yang bersangkutan, yang memberikan kesan mendalam kepada saya.

Hal ini juga terjadi di My Unfamiliar Family. Banyak adegan-adegan yang membuat saya emosional di drama ini. Tetapi jika boleh memilih tiga yang terbaik maka itu adalah, 

- Ketika Eun-joo mengonfrontasi suaminya di sofa. Saya menahan napas saat menonton adegan itu. Luar biasa kerennya akting Choo Ja-hyun dan Kim Tae-hoon. 

- Setelah Eun-joo mengetahui fakta kelahirannya, ia dan Eun-hee terlibat pertengkaran. Momen saat Eun-joo tak kuasa menahan gempuran emosi hingga ia jatuh terduduk, lemas, sesak napas. Nangis parah saya liatnya. Saya tuh paling kasian sama Eun-joo di drama ini. 

- Di episode 1, ketika Eun-hee terpaksa mengikuti meditasi. Ia terbawa ke masa lalu, menemui ibunya dan hal-hal yang semestinya Eun-hee lakukan tapi tidak dilakukannya. Menemui penyesalan-penyesalan. Saya juga punya banyak sekali penyesalan di masa lalu. Hal-hal yang perlu atau tidak semestinya saya lakukan. Adegan ini meninggalkan kesan yang kuat sekali. Lewat adegan ini, saya mendapatkan firasat kalo drama ini bakal menjungkirbalikkan hati saya karena tema yang dibawanya. Keluarga. 

***


My Unfamiliar Family memiliki plot dan konflik yang konsisten dan solid. Perkembangan karakternya juga kuat. Kepadatan emosi yang diurai sedikit demi sedikit dengan detail emosi mencengkeram di My Unfamiliar Family memungkinkan orang-orang yang terbiasa menonton drama dengan pace cepat gagal menikmati drama tvN ini. Terlebih bila kita sebagai penonton sedikitpun tidak memiliki benang merah dengan cerita My Unfamiliar Family, nonton akan berasa membosankan.

Dimulai dari episode perdana hingga episode terakhir, tidak ada satu pun scene yang bisa dianggap tidak penting. Drama ini dibuka dengan atmosfer tidak menyenangkan yang melekat pada karater dan konfliknya, yang membuat kita bertanya-tanya apakah yang sebenarnya sedang terjadi? Di mana letak kesalahan atau siapa yang menyumbang andil paling besar atas kerumitan emosi dalam hubungan di keluarga Kim Sang-sik? 

Sebagai penonton, kita diberi kesempatan mengenali setiap karakter, mencari tahu motif atau maksud dari tindakan yang mereka ambil. Tidak ada karakter sempurna di drama ini. Setiap karakter memiliki kekurangan, dan itulah yang membuat mereka berkembang. Setiap dari mereka memiliki backstory yang melatarbelakangi keputusan-keputusan hidup yang sudah mereka tentukan sendiri. Karakter-karakter yang realistis. Relatable. 

Drama ini mengajarkan saya dua hal penting tentang keluarga. Pertama, adalah kekeliruan besar bila saya berpikir atau menarik kesimpulan sepihak mengenai apa-apa saja yang terjadi di dalam keluarga saya. Saya boleh-boleh saja melakukan itu, saya sangat boleh egois. Tetapi untuk tujuan apa? Untuk membalas kesakitan dan kekecewaan yang saya dapatkan dari keluarga? Apakah cara seperti itu bisa membantu saya melunasi apa yang seharusnya menjadi hak saya sebagai anak? 

Saya pernah berada di posisi Kim Eun-joo. Situasinya bahkan jauh lebih parah. Saya pernah terbiasa membenci kedua orang tua saya, khususnya bapak saya. Kebencian itu sampai di ubun-ubun, jika sedang merasakan tekanan emosi yang luar biasa menyakitkan, saya memilih menulis cerita di mana saya bebas membunuh bapak saya berkali-kali di situ. It was one of the hardest time i've ever felt. Sudut pandang yang saya gunakan saat itu dipengaruhi tabungan emosi yang padat dimulai saat saya masih anak-anak. Ketika usia saya sudah semakin matang, sudut pandang saya terhadap semua hal juga turut meluas. Orang tua saya mungkin gagal masuk kategori yang terbaik, secara tidak langsung konflik di antara mereka-lah yang telah menumbuhkan trauma berkepanjangan yang masih sulit saya tangani hingga detik ini, tetapi bagaimana pun juga toh mereka tetap orang tua saya, kebencian saya tidak akan mengubah apa-apa. 

Setelah saya sudah sedikit lebih dewasa, saya menyadari betapa bapak saya menyayangi anak-anaknya. Ada satu kejadian yang akan terus saya ingat sampai kapan pun. Saat itu saya sedang sakit. Saya nyeletuk ingin makan jeruk yang diambil di hutan. Sore harinya, jeruk-jeruk itu sudah ada di dapur. Dibawa bapak dari hutan. Ya, itulah bapak saya. Ia yang tidak pandai membahasakan kasih sayang nyatanya memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan cintanya pada anak-anaknya. 

Setelah saya sedikit lebih dewasa, saya menyadari kedua orang tua saya tidak serta merta menjadi orang tua yang baik setelah memiliki anak. Mereka bukan berasal dari kemapanan emosi mumpuni. Sebab itulah mereka belajar dan belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik itu. Pun sebagai anak, kita belajar. Menjadi bagian dari keluarga adalah serupa perjalanan panjang yang melelahkan. Sangat melelahkan. Fisik dan mental. Terlalu banyak yang dikorbankan. Memilih menyerah atau tetap meneruskan perjalanan sepenuhnya berada di tangan kita. Sebagai anak, saya pernah babak beluk dihantam pukulan emosi selama bertahun-tahun, meski demikian saya memilih bertahan, belajar sedikit demi sedikit melepaskan kemarahan dan kebencian di dalam hati. Karena akhirnya saya tahu betapa besar kasih sayang orang tua saya kepada anak-anaknya. 

Hal kedua, My Unfamiliar Family mengajarkan kepada saya betapa penting membangun komunikasi dua arah antara anggota keluarga satu dan lainnya. Hidup bersama dalam satu atap tidak menjamin kita bisa saling mengetahui. Yang sering terjadi, semakin dewasa seseorang, semakin jauh jarak yang ia ciptakan dari orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Seolah-olah pertambahan usia memberikan kewenangan penuh kepada kita untuk membangun dinding kokoh yang memisahkan kita dengan mereka. Semakin dewasa semakin besar ego, berpikir kita bisa menangani segalanya sendirian. Mampukah kita?

Banyak tipe keluarga di dunia ini, dan setiap orang memiliki situasinya sendiri terhadap keluarganya. I think family is one of the most complicated relationship in this world. Apa pun yang sedang terjadi saat ini, saya mendoakan semoga kita tidak keliru memilih bahasa cinta terhadap orang tua dan kakak-adik kita. 

Seusai menonton My Unfamiliar Family, keinginan memeluk erat ibu saya menguat. Jika bukan karena pengorbanan luar biasa ibu saya, saya tidak yakin apakah saat ini saya masih memiliki potret utuh keluarga di kepala saya.

"Mom and we, spent time by ourselves individually outside of the familiy and searched for ourselves individually outside of the family." -Kim Eun-hee 


Seperti apa efek yang ditimbulkan seusai menamatkan My Unfamiliar Family, saya cukup yakin itu dipengaruhi oleh cerita kehidupan nyata kita tentang keluarga kita masing-masing.

Oya, pemilihan tone warna gambarnya bikin cerah dan adem, sinematografinya juga baguuusss. Style-nya Kwon PD banget ini. Setiap sudut pengambilan scene-nya seperti ikut bercerita. 😘

Pertanyaan terakhir, seberapa dalam kah kita mengenal keluarga kita sendiri? Ibu, bapak, kakak, adik....

Tabik,
Azz 
💚💚💚
.
.
.
.
.
 

2 comments:

  1. KAAAAKKKK. Aku nggak tau gimana caranya berterima kasih ke kakak karena udah nulis iniiiii. 😭 Bikin kangen My Unfamiliar Family banget. 😭😭😭



    Aku pun sama kayak kakak. Awal tertarik nonton tuh karena liat judulnya, terus berlanjut liat teaser-nya di YouTube tvN. Pas liat kok kayaknya bakal masuk cup of my tea aja gitu. Pas episode 1 aku masih biasa aja, bagus, tapi masih biasa aja. Di episode dua, bam! Aku dibikin makin penasaran, makin terbawa konflik drama ini yg terasa dekat banget sama aku.


    Aku setuju sama kakak bahwa orang-orang yang menikmati drama ini pasti paham betul bagaimana konflik drama ini terasa begitu realistis. Orang-orang yang tumbuh dalam keluarga yang salah dalam memilih bahasa cinta, seperti yang kakak bilang, akan merasa My Unfamiliar Family menelanjangi diri mereka. Aku pun kayak gitu.


    Di drama ini, aku paling kasian sama Eun-Joo. Pas adegan pantai yg dia ngobrol sama suaminya, aku nangis sejadi-jadinya. Membayangkan beban-beban yg ada di pundak Eun-joo aja udah berat, ditambah fakta bahwa cintanya sama sang suami ternyata bertepuk sebelah tangan bikin aku nggak kuat untuk nggak nangis kenceng-kenceng. Sedih banget, ditambah Sondia nyanyi lagu Love Message di latar belakang. Astagaaa.


    Terus juga aku sangat menikmati sekali plot pasangan ibu bapak di drama ini. Meskipun kadang melelahkan melihatnya, dan berat sekali membayangkan luka Jin-sook, tapi entah kenapa hubungan dua orang ini terasa manis sekali. :"")


    Alasan lain aku bucin banget drama ini waktu ongoing adalah hubungan friend to lover-nya Chan-HyukXEun-Hee. Astaga. Slowburn relationship mereka tuh real banget sampe aku nggak nyangka mereka bakal ada romantic relationship di awal-awal episode. Sepelan itu, semendayu itu, sebikin greget itu. Kim Ji-suk di sini auranya gila banget. Udah style-nya boyfriend material banget, ditambah sikapnya yg kayak gitu ke Eun-hee. Ya Allah, mau satu yang kayak Chan-Hyuk. 😭 Pas mereka genggaman tangan untuk pertama kalinya aja aku sampe nangis nangis terharu. Aneh BANGETTTTTT. 😭



    Terus ya, Kak. Character development di drama ini luar biasa banget nggak sih? Kayak pola pikir kita berasa ikut tumbuh bersama mereka. :"") Itu yang bikin aku salut dan cinta banget sama My Unfamiliar Family. Setiap tindak tanduk para tokoh akan memengaruhi jalan cerita, dan itu adalah salah satu ciri drama yg bagus banget menurutku. :")



    Tulisan kakak selalu mewakili apapun yg nggak bisa kuungkapin tentang sebuah drama. Dan kali ini pun begitu. Konflik kelurga di drama ini berhasil kakak jabarkan dengan baik, dan berhasil kakak kaitkan dengan baik dengan konflik yg memang sering terjadi di dalam keluarga terdekat kita. Aku suka banget bacanyaaaaa. 😭😭😭😭 Sekali lagi makasih banyak, Kak Azz. 😭😭💙💙💙💙💙💙💙

    ReplyDelete
    Replies
    1. SETUJU BANGET, character development drama ini bener-bener jalan. Ini yang bikin emosi kita naik-turun, dari yang merasa asing, kebawa emosi sama karakternya di awal, lalu seiring berjalannya episode kita dibikin paham kenapa mereka kayak gitu.

      Aku setiap kali Eun-joo muncul, denger dia ngomong, pengen kupeluk. Bebannya luar biasa berat... Tapi syukur di ep 16 kita liat dia udah mulai membuka diri. Terharu liat dia udah bisa senyum bareng ayah-ibu dan adik-adiknya.

      Chan-hyuk Eun-hee!!! Salah satu kapel sahabat jadi pacar terbaik yang pernah ada di drama, realistis banget perkembangan kisah mereka. Aku juga sukakkk Porsi romance nya pas.

      Um, tau nggak, setiap kali Nad komen di bawah postingan di blog ini, aku selalu merasa kalo tulisan Nad selalu bisa melengkapi tulisan yang aku buat. Makasih banyak ya, Nad :')

      Delete

Haiii, salam kenal ya. 😊