D.P : Brutally Honest


Sinopsis

Waktunya telah tiba, An Jun-ho (Jung Hae-in) segera memenuhi panggilan wajib militernya seperti halnya seluruh pria di Korea Selatan. Tak ada perayaan apa-apa di hari ia melepaskan statusnya sebagai warga sipil, ia juga tak diantar satu pun keluarganya.


Tidak perlu menunggu waktu lama bagi An Jun-ho untuk merasakan kerasnya kehidupan di barak militer. Tak hanya tempaan latihan militer, namun ada hal lain yang menimpa para tamtama muda di barak militer, sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari latihan militer yang berat.


Pembulian dari senior. 


Kekerasan fisik dan verbal. 


An Jun-ho sedikit lebih beruntung dari rekannya yang lain, tak berapa lama ia direkrut Sersan Park Beom-gu (Kim Sung-kyun) untuk bergabung dengan D.P Team. Deserter Pursuit Team. Misi tim ini adalah menangkap dan membawa pulang para tentara yang melarikan diri dari barak militer. Di bawah pengawasan dan bimbingan Sersan Park, An Jun-ho bekerja bersama-sama dengan Han Ho-yeol, (Koo Gyo-hwan).


An Jun-ho yang pendiam ketemu Han Ho-yeol yang nggak bisa diem, mampukah mereka melaksanakan tugas dengan baik? Membawa pulang kembali dengan selamat tentara-tentara itu ke barak?

Dalam proses melaksanakan misi, An Jun-ho menyadari momok menakutkan di barak militer yang berlangsung dari waktu ke waktu, yang menjadi semacam mimpi buruk bagi para tentara muda itu faktanya jauh lebih mengerikan dan telah menimbulkan efek yang fatal untuk jangka waktu yang sangat panjang. 


Setahun silam, ketika tim produksi D.P mengumumkan nama Jung Hae-in sebagai salah satu pemeran utamanya, saya senang sekali. Kelar A Piece of Your Mind, si Mamas udah dapet tawaran baru dong. Saya pikir nggak bakal lama jedanya bisa liat akting doi lagi. Begitu tau D.P ini termasuk serial original Netflix, saya langsung nyerah. Nggak usah nunggu. Tayangnya belum jelas kapan wkwk.


Saya emang nggak nungguin. Tapi tiap ada kesempatan saya dan Anggy gibahin Hae-in, ujung-ujungnya ya nanya juga kapan ya D.P tayang. Hingga datanglah kepastian itu, D.P akan dirilis 27 Agustus. Yes dong. Kangen liat aktingnya Hae-in.


Sebelum nonton saya sudah membaca reaksi orang-orang yang sudah menonton duluan D.P. Seragam. Bagus. Bagus. Bagus. Akting dan ceritanya. Adegan kekerasan di drama ini juga cukup 'terang' dan 'kuat' visualisasinya.  


Begitulah. Berbekal review singkat dari penonton, saya pun menonton D.P.

Sakit hati, emosional, kecewa, sedih, marah, menangis. Perasan-perasaan inilah yang saya rasakan ketika akhirnya menonton satu demi satu episode D.P. Saya tak henti-hentinya menarik napas panjang. Padahal udah dapet bocoran sana-sini, tetap saja nggak bisa lolos dari gempuran emosi.


Ada apa dengan orang-orang? 

Saya butuh waktu untuk menenangkan diri setelah menyelesaikan 6 episode D.P.

Intens!

Drama ini dengan lugas, tegas, dan jujur memberitahu kepada penontonnya fakta-fakta yang sebenarnya tidak lagi menjadi hal baru terkait pembulian verbal dan non verbal. Dan kita semestinya tidak akan terkejut lagi mendapati D.P yang terang-terangan menelanjangi sistem busuk yang berkelindan di tubuh 'badan' senioritas pada institusi yang dijadikan 'tokoh' utama dalam drama ini. 


Senioritas dan pembulian hidup dan bernapas di mana-mana. Pada jiwa-jiwa yang menggangap dirinya lebih besar lebih kuat lebih berkuasa dari orang lain, yang memercayai menindas orang lain adalah salah satu cara bersenang-senang. Apa yang terjadi di D.P sudah bukan hal baru, kita sudah sering membaca, menonton, dan mendengar kasus-kasus pembulian. Buli-membuli bisa terjadi pada siapa saja. 


Penonton setia drama Korea pasti sudah khatam mengenai hal ini. Banyak sekali drama-drama yang memuat konten semacam ini, yang dari sanalah kita, setidaknya sudah bisa 'membaca' betapa kuat dan mengakarnya 'budaya' ini mencengkeram pergaulan sosial masyarakat di negeri ginseng tersebut. 

D.P berhasil menguatkan pemikiran kita ini.


Saya sebagai penonton D.P beberapa kali menemukan diri saya berseru kecil 'ah ini!' pada potongan dialog antarkarakter D.P, dialog yang kuat, yang mampu menembak dengan tepat situasi-situasi nyata yang kerap terjadi dalam kasus pembulian. Saya akan coba menulis satu-satu. 


"Banyak sekali orang yang lebih parah daripada aku." 

Lingkaran setan kekerasan verbal dan non verbal itu semakin sulit diputuskan ketika orang yang melakukannya berpikir apa yang ia lakukan itu tidak lebih buruk dari yang dilakukan oleh orang lain. Masih ada yang lebih buruk, lebih tinggi tingkat kezalimannya. Dengan kata lain, ia berpikir tidak masalah melakukan tindakan buruk yang menginjak nilai moralnya sebagai manusia, toh masih banyak yang jauh lebih parah dari dirinya.

Sakit nih orang yang punya jalan berpikir seperti ini. Perihal menyakiti pihak lain, level rendah atau tinggi, verbal dan non verbal, tidak seorang pun manusia (beradab) diberikan hak bebas untuk melakukannya. Demi alasan apa pun itu. Hanya saja, memang, ada model manusia-manusia yang memilih melupakan jati dirinya sebagai makhluk berakal yang memiliki hati nurani, lalu dengan tanpa malu menyaru menjadi bintang. Meniru kelakuan makhluk yang tidak diberkahi akal pikiran oleh Tuhan itu.



"Mari kita lupakan semua kenangan baik dan buruk di sini." 


Enak banget ngomongnya. Sambil senyum pulak ngomongnya.

Hal terburuk yang dihadapi korban kekerasan verbal dan non verbal/pembulian selain efek traumatis jangka panjang adalah ketika melihat orang yang memberinya mimpi buruk dan kesakitan itu tampak baik-baik saja dan menikmati kehidupannya. Orang-orang ini, para pelaku buli bersikap seolah apa yang terjadi di masa lalu tidak perlu diingat lagi. Anggap saja sebagai salah satu bagian dari proses menjadi dewasa, tidak usah dibesar-besarkan. 

Sikap yang kontras dan tanpa hati ini justru semakin membesarkan lubang hitam di hati korban-korban pembulian. Lubang hitam yang dari waktu ke waktu selalu berhasil menelan tanpa sisa kebahagiaan yang coba diusahakan sekuat hati hadirnya. 

Saya sedang membayangkan bagaimana perasaan para korban pembulian yang dilakukan public figure, melihat mereka wara-wiri di mana-mana, tertawa, menceritakan betapa bahagianya hidup mereka.... Feels like hell.


Ucapan Cho Suk-bong (Cho Hyun-chul) di episode 6 sungguh menyakitkan. Pada kenyataannya, seringkali sebagai pihak yang melihat proses pembulian, orang-orang memilih diam saja, entah disebabkan ketidakberdayaan atau ketakutan, atau semata tidak ingin terlibat, atau entah untuk alasan apa itu.


"Jika dia sangat baik dan rajin, mengapa kamu diam saja saat dia dianiaya?"


Mungkin, mungkin saja ceritanya akan berbeda, jika orang-orang memilih tidak diam, jika saja orang-orang mau terlibat dengan menjadi pihak yang setidaknya memberi pertolongan kepada pihak yang dibuli. Namun sekali lagi, tidak semua waktu, kondisi, dan situasi memberikan kesempatan bagus kepada kita untuk menyelamatkan orang lain. Lihatlah, betapa kita bisa sangat rapuh dan kerdil saat berhadapan dengan situasi sulit terlebih dengan pilihan menyelamatkan diri atau orang lain. 


Kita hanya bisa berharap semoga masih banyak orang-orang baik yang berjiwa besar di dunia ini.


Saya membaca di Twitter, Kim Botong selaku penulis D.P pernah bertugas sebagai anggota D.P semasa masih di militer. Melihat kepopuleran D.P di kampung halamannya serta latar belakang Kim Botong, saya kok ya merasa apa yang diceritakan di drama ini memang pernah benar-benar terjadi. Tidak ada yang berusaha ditutup-tutupi Hemat saya, semakin populer artinya banyak pihak-pihak yang merasa diwakili dengan kehadiran D.P. Tidak hanya para tamtama yang pernah berada pada situasi yang sama dengan deserters, tetapi juga keluarga-keluarga mereka.


Ada satu ucapan Cho Suk-bong di episode 6 yang membuat saya speechless.


1953. Botol minuman yang tidak pernah diganti. 


Lontaran kalimat bernada sinis, frustasi, dan menyiratkan kesakitan luar biasa atas harapan yang hilang ini seperti ingin memberitahu kita tentang fakta mengejutkan yang dimiliki tubuh angkatan militer di sana. Saya menganggap ucapan Cho Suk-bong memiliki makna terselubung. Tidak pernah ada perubahan berarti pada sistem di militer. Senioritas masih eksis. Proses penyelesaian masalah pun tetap sama. Demi menjaga nama baik institusi, orang-orang atas mengorbankan orang-orang di bawah yang memiliki pangkat militer rendah. Keberadaan hirearki karir masih tetap dianggap aturan yang harus dijaga dan dilestarikan. 


Masih perlukah orang-orang menumbuhkan harapan? 


Patah hati sesungguhnya sebagai warga negara adalah ketika kita mengerahkan jiwa raga untuk memberikan sebanyak-banyaknya pengorbanan untuk negara, namun di saat kita butuh perlindungan, negara gagal menghadirkan itu. 


Anak-anak muda ini menyerahkan dirinya, memenuhi kewajiban membela dan melindungi negara, tetapi yang mereka bela justru menutup mata dari ketidakadilan yang mereka terima. Udahlah dibuli senior, eh negara juga 'ikut-ikutan ngebuli'. 


D.P juga turut memberikan gambaran yang utuh mengenai efek samping yang bisa menimpa seorang korban buli. Suatu saat, akibat tekanan dan rasa amarah yang besar terhadap ketidakadilan yang dialaminya, ia bisa berubah menjadi pelaku buli. Dan lingkaran setan pembulian ini pun tak kunjung menemukan titik pemutusnya. Monster melahirkan monster baru. Orang-orang atau pihak yang diharapkan mampu menghentikan kegilaan ini justru dengan sengaja mematikan momentumnya sendiri dengan alasan menjaga nama baik lebih penting di atas nyawa manusia. Saya sedih sekali melihat proses perubahan Cho Suk-bong dari seorang pria baik dan ramah yang senang menulis komik, berganti Cho Suk-bong yang kejam, dan abuser. Tatapan matanya penuh amarah dan dendam..... 


Tokoh-tokoh di D.P datang dengan dengan membawa misinya masing-masing. Abu-abu. Yang dengan mereka kita tidak bisa serta merta dengan mudah menjustifikasi setiap perbuatan yang mereka lakukan.


Menarik melihat latar belakang para tokoh-tokohnya yang berasal dari berbagai kalangan, kaya dan miskin, keluarga berpengaruh dan tidak, yang mengantarkan kita pada kesimpulan; tidak peduli betapa sulit atau enaknya hidup kita, kita tidak boleh menggunakan itu untuk menyulitkan hidup orang lain, tidak boleh membuat kita merasa berhak dan layak merusak kehidupan orang lain. Dan pada kenyataan yang banyak terjadi di sekitar kita adalah potret semacam ini; yang lemah dan tidak berpengaruh bisa menjadi sasaran empuk ketidakadilan. 


An Jun-ho dan Hwang Jang-soo (Shin Seung-ho) sama-sama punya latar belakang hidup yang sulit, tetapi keduanya terlihat begitu berbeda dalam menjalani hari-hari dan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain. Tibalah saya pada satu kesadaran penuh bahwa menjadi brengsek adalah pilihan. Dan bila ada yang memilih menjadi brengsek dengan alasan 'hidup saya sulit, saya butuh tertawa' lalu merisak orang lain, maka dia sangat patut dimasukkan ke tong sampah, atau dilarung saja sekalian di selokan paling kotor dan busuk. 


Aktingnya Shin Seung-ho sebagai si pecundang tukang buli sangat sempurna, saking bagusnya aktingnya, saya pengen nyumpah-nyumpahin karakternya. Udah salah nggak mau minta maaf! Byengcek ya. Karakternya ya, bukan Shin Seung-ho nya. 


Akting, directing, dan penempatan BGM + OST di D.P sukses besar membangun mood nonton saya. Teror, kesedihan, dan ketakutan berkali-kali menjungkirbalikan emosi saya. Thrilling.


Banyak momen-momen yang bikin saya merinding, dan salah satunya ada di episode 04, ketika Sersan Satu Lim Ji-seop menjelaskan kepada ibu Choi Jun-mook tentang pengadilan militer. Lebih jelasnya di sekitar menit ke 12.20. Usai mendengar penuturan Lim Ji-seop Ibu Choi Jun-mook menenangkan anaknya. "Dunia sudah berubah menjadi lebih baik," katanya. Dan kita segera tahu kebenarannya dari ekspresi wajah Lim Ji-seop, apa yang diucapkannya kepada Choi Jun-mook dan ibunya adalah kebohongan. Di detik itu Lim Ji-seop sadar tidak pernah ada yang benar-benar berubah. Saya pikir sosok Lim Ji-seop yang menyebalkan dan selalu berupaya menyenangkan atasan ini menemukan titik baliknya di sini. Keren banget detailnya. Akting Son-Suk-ku mah nggak usah dibahas ya. Top. 



Duet-nya An Jun-ho dan Ha Ho-yeol adalah paket lengkap. Han Ho-yeol nya lucu banget, cocoklah temenan sama Jun-ho yang kikuk dan rada kaku itu. Jun-ho dan Ho-yeol sama-sama punya hati yang hangat, sebenarnya. Cuman cara nunjukinnya yang berbeda. Mereka nih ya, dari yang awalnya awkward, si Ho-yeolnya yang nyerocos mulu sampe jadi ikrib banget. Chemistry-nya oke banget. Untungnya Jun-ho ketemu atasan seperti Sersan Park dan Han Ho-yeol. Nggak kebayanglah bakal kayak gimana hidupnya Jun-ho di barak, dengan latar belakang trauma yang dibawanya dari rumah, ditambah tekanan kekerasan di barak, rasa-rasanya besar kemungkinan Jun-ho berakhir seperti Cho Suk-bong. Siapa yang tahu.... Saya hanya bisa berharap suatu saat An Jun-ho bisa sepenuhnya melewati proses healing-nya. 


Momen tertawa saya saat nonton D.P sebagian besar disponsori oleh Han Ho-yeol. 


Di akhir episode 6, An Jun-ho memilih arah yang berbeda dari arahan atasannya. Saya membaca ini sebagai simbol muaknya An Jun-ho terhadap sistem yang berjalan di tubuh institusi militer itu. Nggak yakin An Jun-ho melarikan diri. Atasannya kan ada ngomong gitu kalo udah banyak perubahan di divisi mereka. Apanya yang berubah! 


Epilognya bikin merinding. Asli. Lingkaran setan itu terus saja menelan korban. Dan pihak militer terus memutar otak untuk menghadirkan skenario-skenario usang demi menutupi kerusakan dan kebusukan di tubuh mereka. Bukannya nyari penyebab dan solusi kenapa selalu ada tentara yang melarikan diri dari barak... Selain karena kerasnya pembulian yang diterima, juga ada alasan lain yang membuat tamtama itu tidak betah di barak.


"Aku harap tak akan ada lagi kejadian seperti ini...."


Apakah harapan kakak perempuan Shin Woo-suk di episode 6, yang diucapkannya kepada An Jun-ho sembari menatap foto mendiang adiknya hanya akan menjadi utopis semata? 


Jejeran aktor yang mengisi D.P nggak main-main euy, main roles, cameo, dan supporting roles-nya pada keren-keren semua aktingnya. Nonton D.P mustahil ga ngerasa tegang dan cemas. Oh iya, dan perasaan gemas bercampur marah. Aksi pembulian yang dilakukan trigger banget lah. Abis nonton saya butuh waktu untuk menenangkan diri dari rasa marah dan sedih.

Saya kembali bertanya, untuk apakah sebuah film/drama dibuat? Sekadar hiburan semata kah? Atau ini, drama/film bisa saja dijadikan alat untuk meneriakkan kenyataan yang kerap disenyapkan atau diabaikan dengan sengaja oleh orang lain.

Terlepas benar atau tidaknya apa yang dikisahkan di D.P, saya tidak bisa menampik bahwa drama adalah sebuah kritik keras yang ingin disampaikan kepada siapa pun di luar sana. Ia bisa dimaknai secara personal atau kelompok (institusi). Sebuah pengingat bagi nurani. Hai, masih hidupkah ia?

Pelaku atau bukan, ataukah orang-orang berwenang yang memiliki kuasa untuk menghentikan lingkaran setan ini, juga kepada mereka yang memosisikan diri sebagai 'orang lewat', Deserter Pursuit datang kepada kita dengan kejujurannya yang brutal.

Semoga kita selalu mengingat bahwa kita selalu punya pilihan, dan memilih untuk tidak menjadi pencundang atau orang brengsek adalah salah satunya.


Tabik,
Azz 
.
.
.

No comments:

Post a Comment

Haiii, salam kenal ya. 😊