[Review] Drama Taiwan : Someday Or One Day

 

“When one door closes, another opens. All you have to do is walking.” –Someday or One Day

2019—dua tahun setelah kecelakaan pesawat yang turut menewaskan kekasihnya, Huang Yu-Xuan (Ko Chia-yen) masih bernapas dalam kepedihan yang dalam. Kepergian Wang Quan-sheng (Greg Hsu) yang tiba-tiba seperti turut mencabut separuh jiwa Yu-Xuan. Selama dua tahun terakhir Ia masih rajin mengirim pesan ke nomor ponsel Quan-sheng, rajin meng-update halaman media sosialnya dengan kegiatan sehari-harinya sembari berharap, suatu hari Quang-sheng akan melihat itu semua.


Huang Yu-Xuan belum bisa menerima kenyataan bahwa Wang Quan-sheng telah pergi untuk selamanya, meski dua tahun telah berlalu. Meski orang-orang telah mengusakan semampu mereka agar Huang Yu-Xuan bisa melupakan kesedihannya dan merelakan Wang Quan-sheng.


Suatu hari, Yu-Xuan menerima paket kiriman dari seseorang berupa walkman dan sebuah kaset berisi lagu Last Dance yang dinyanyikan Wu Bai, lagu tersebut dirilis di tahun 1996. Di dalam bus yang membawanya kembali usai menghadiri pelepasan terakhir Wang Quan-Sheng, Yu-Xuan jatuh tertidur sambil mendengarkan Last Dance.


Sesuatu terjadi di luar kesadaran Yu-Xuan. Ia terbangun dan mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Yu-Xuan terlempar jauh ke belakang, ke tahun 1998. Ia terbaring di sebuah rumah sakit dengan kepala terbalut perban. Seorang anak laki-laki berseragam sekolah duduk di sisi ranjangnya. Yu-Xuan terkejut luar biasa melihat kemiripan anak laki-laki tersebut dengan mendiang kekasihnya. Refleks ia memeluk anak laki-laki itu, mengira ia benar-benar Quan-sheng-nya yang telah tiada. Yu-Xuan terisak.


Anak laki-laki itu—Li Zi Wei terkesiap kaget mendapat pelukan yang tiba-tiba itu. Dan—sebentar... ia dipanggil Wang Quan-sheng?

Terang benderanglah apa yang sedang terjadi. Yu-Xuan hidup dalam tubuh gadis yang memiliki wajah yang serupa dirinya bernama Chen Yun-ru. Chen Yun-ru tertabrak mobil di malam sebelumnya (1998), nyaris bersamaan dengan waktu tertidurnya Yu-Xuan saat mendengarkan Last Dance di bus, di tahun 2019. What’s going on?

Kebingungan Yu-Xuan kian bertambah setelah ia mengetahui, Chen Yun-Ru bukan ditabrak mobil melainkan dicelakai orang lain. Gadis itu ditemukan tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala terluka parah di depan sebuah bangunan kosong di tengah hujan deras.

Yu-Xuan, di dalam tubuh Chen Yun-Ru dilanda kebingungan teramat sangat. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ia bisa terlempar jauh ke tahun 1998? Dan Li Zi Wei, mengapa laki-laki itu begitu mirip dengan Wang Quan-sheng? Bahkan banyak sekali kebiasaan-kebiasaan Quan-sheng yang sama persis dengan Li Zi Wei. Tak hanya mencari tahu hubungan Li Zi Wei dan Wang Quang-sheng, Yu- Xuan juga berusaha memecahkan teka-teki mengenai siapakah yang mencelakai Yun-Ru.


Someday Or One Day adalah drama Taiwan tentang time travel dengan balutan fantasi, komedi, romance, thriller, misteri, suspense, self-healing, persahabatan, keluarga, mental health—iya, drama berjumlah 13 episode ini memang diisi banyak sekali sub-konflik yang relate di kehidupan nyata.


Someday or One Day memulai masa penayangannya pada 17 November 2019 dan berakhir 16 Februari 2020.


Pada awal penayangan, respon penonton cenderung biasa, namun perlahan tapi pasti, Someday or One Day segera saja menjadi topik pembicaraan di kalangan penonton seiring bertambahnya jumlah episode dan perkembangan ceritanya yang di luar prediksi. Saya ingat sekali, di akhir tahun 2019, selain Koitsudu, ada satu lagi drama populer yang trending di kalangan fans internasional saat itu. Dibicarakan dengan antusias. Drama itu adalah Someday Or One Day.


Beberapa waktu lalu, Someday or One Day masuk nominasi 6 kategori, dan berhasil membawa pulang 4 piala dari ajang penghargaan bergengsi 55th Golden Bell Awards.


Saya sendiri, setelah menonton 13 episode drama ini, mengakui bahwa wajar jika Someday Or One Day disebut-sebut sebagai salah satu drama Taiwan terbaik yang pernah ada. Memang sebagus dan sekeren itulah Someday or One Day. 13 episode yang terbilang cukup singkat dengan begitu banyaknya isu-isu berat yang diangkat dalam genre time travel. Its not easy. Dan Someday or One Day mampu bercerita tanpa kehilangan pace-nya hingga episode terkhir meski dengan hanya 13 episodenya itu. Kalau saya bilang sih ini drama 13 episode tapi berasa 20 episode ㅋㅋㅋ


Oke. Mari kita akhiri perkenalannya dengan Someday or One Day di sini. Paragraf setelah ini akan diisi dengan POV saya sebagai penonton Someday or One Day, dan saya berani jamin akan banyak spoiler bertebaran. Jadi saran saya, jika kamu belum menonton Someday or One Day, please segera tutup halaman ini—jangan lanjutkan membaca. Jika kamu tetap membaca, maka saya pastikan kamu akan kehilangan unsur penting yang akan terus menjagamu supaya tetap setia menonton Someday or One Day: excitement, and curiosity. Di situlah letak seni-nya menonton Someday or One Day. Membaca spoiler, sama saja kamu membunuh dengan sengaja keseruan yang akan kamu dapatkan ketika menonton Someday or One Day.

TRUST ME, DON’T READ THE SPOILER. PLEASE AVOIDING THAT AS MUCH AS YOU CAN.

Nanti, kembalilah ke sini setelah kamu menyelesaikan 13 episode Someday or One Day.


WARNING

Contain spoiler

Ada dua teman yang merekomendasikan Someday or One Day kepada saya, Fiki dan Amelia. Mereka bilang ini drama bagus. Biasanya, saya kalau dikasih rekomendasi tontonan, hal yang pertama kali saya lakukan adalah browsing, nyari-nyari informasi tentang yang direkomendasikan itu. Biar saya ada pegangan dikit sebelum nonton. Begitu juga terhadap Someday or One Day ini. Sebelum mutusin nonton saya cari dulu review-nya. Saya pastikan, semua review yang saya baca tidak ada satu pun yang saya dapatkan menulis komentar negat. Tidak ada. Mereka bilang bagus, dan sangat merekomendasikan drama Taiwan ini.


Setelah membaca review-review yang bertebaran di mana-mana, di satu sisi saya sangat penasaran, di sisi lain saya menyimpan kekhawatiran tersendiri. Drama ini kok kesannya misterius sekali ya. Antara pengen nonton tapi takut HAHAHAHA. Suer, saya nggak bohong. Mana Fiki-nya kalo ngomporin ampuh banget bikin saya penasaran. Nantangin banget.


Saya mau ngasih jempol deh kepada blogger yang nge-review Someday or One Day tanpa ngasih spoiler berlebihan dramanya. Terima kasih sudah menjaga rahasia Someday or One Day untuk viewers yang belum menonton dramanya.


Yap, saya pun akhirnya menonton Someday or One Day....


Rasanya berat sekali menonton dua episode pertama. Aroma kehilangan dan kesedihan yang dirasakan Yu-Xuan kental sekali. Ikutan nyesek beneran. Sewaktu dia berdoa dengan sepenuh harap sebelum mengucapkan permintaan ketiganya di hadapan kue ulang tahunnya, saya turut harap-harap cemas, tanpa sadar berharap keajaiban benar-benar datang untuk Yu-Xuan—Quan-Sheng muncul di hadapannya. Se-baper itu saya sama episode plot Someday or One Day. Baru dua episode awal ini... sebenarnya saya sudah menyiapkan mental berbekal review orang-orang yang udah nonton, tapi ya tetap saja saya tidak bisa lolos begitu saja dari jeratan baper kisahnya Yu-Xuan dan Quan-sheng .



Someday Or One Day piawai menggambarkan kehilangan dari sudut pandang orang yang ditinggalkan, dan bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya. Realistis, tidak berlebihan. Apa adanya. Kita, orang-orang yang berada di luar lingkaran kesedihan ini cenderung tanpa disadari menganggap remeh proses melepaskan bagi mereka yang ditinggalkan. Kita katakan kepadanya dengan wajah simpatik, waktu akan menyembuhkan semuanya. Berusaha semampunya untuk bijak, sembari berharap itu bisa menguatkan. Lalu setelah beberapa waktu berlalu, kita berpikir waktu telah membuatnya lupa. Barangkali kitalah yang lupa, kehilangan orang yang sangat dicintai, bagi sebagian orang ibarat kehilangan separuh dirinya. Rumus melepaskan tidak semudah itu. Waktu tak selalu bisa dimasukkan sebagai salah satu eksponen paling penting untuk memudahkan pencarian hasil akhir; move on dengan hati lapang. Itulah yang terjadi pada Yu-Xuan. Kepergian Quan-sheng turut membawa pergi separuh hidupnya. Dunia di sekitarnya terus berotasi, berubah-ubah, hanya ia yang konstan menetap tinggal pada kenangan-kenangannya bersama Yu-Xuan. Dua tahun berlalu, Quan-sheng masih hidup di hati Yu-Xuan. .


Melihat Yu-Xuan membuat saya berpikir, cinta sekuat itu pasti nyata adanya di sekitar kita, di antara miliaran manusia di bawah kolong langit ini. Cinta punya banyak wajah, bersetia pada pada yang hilang, salah satunya.

Episode pilot emang garis besarnya nyeritain kehidupannya Yu-Xuan pasca ditinggal mati Quan-sheng. Selain itu, dperlihatkan pula kehidupannya Chen Yun-Ru, Li Zi Wei, dan Mo Jun Jie dari tahun 1998. Bingung iya, bertanya-tanya juga, ya... ada apa nih? Apa hubungannya Quan-sheng dan Li Zi Wei? Lalu Yun-ru dan Yu-Xuan? Abis penasaran main tebak-tebakanlah saya. Bener-bener bikin kita numpukkin pertanyaan.

Saya pikir, wajar aja sih respon penonton cenderung flat pas awal-awal episode. Belom masuk ke konfilknya, semacam dianterin baik-baik dulu penontonnya, biar nggak pada kagetan entar, gitu ya... sopan banget.



Seusai menonton dua  episode Someday or One Day, saya putuskan berhenti dulu nontonnya. Nggak kuaattt lanjutin. Tapi walaupun demikian, dua episode perdananya Someday or One Day berhasil ngasih pencerahan kepada saya, ini bukan tipikal drama yang bisa dirapel satu kali jalan. Iya sih jumlah total episodenya dikit, 13 doang mah kecil ya. Udah biasa nonton drakor dan dracin, 13 bukan angka yang banyak. Tapiiiiiii, konten dramanya, plot dan storyline-nya, yang dibawa Someday or One Day ini berat sekali Tuaaannn untuk otak saya yang lemot ini, saya nggak sanggup balapan nonton. Dua episode awal aja udah bikin saya lelah batin. Otak dan hati. Penasaran sih penasaran ya,  tapi saya nggak mau maksain diri. Kuatirnya kalo saya paksa nonton dengan mood  yang awur-awuran tar malah ngerusak hubungan saya dengan dramanya. Kan sayang.... di kepala saya tuh udah nancep ini drama bagus... ini drama bagus... kalem... jangan paksa ngejar, let it flow aja. Jangan maksa... That’s why saya baru ngelanjutin ep 3 dan seterusnya, sekira sebulan kemudian. Luar biasa HAHAHAHAHA.

Gimana reaksi saya abis nonton kelanjutan kisahnya Yu-Xuan? SAYA SHOCK!! Saya sampe bengong, mbatin “ASTAGA SAYA NONTON DRAMA APA INII??!!!” Ekspresi saya persis itu tuh meme orang yang telentang sambil nangis—banjir. Speechless. Overwhelming. Horor banget suer.

Yang paling saya ingat dari review orang-orang mengenai Someday or One Day selain betapa bagusnya drama ini adalah PLOT TWIST-NYA! Plot twistnya yang sambung-menyambung, bikin kita yang nonton kaget-an ga kelar-kelar. Nonton Someday or One Day tuh berasa diteror entah oleh apa, mungkin diteror sama plot twist-nya. Harap-harap cemas dengan apa yang menunggu di episode berikutnya. Nggak pernah nggak ngagetin. Yang nulis skenarionya jago banget ngebangun plot se-rapi dan se-kece itu. Dan paling asiknya, plot twistnya nggak bikin pusing, ga pake teori njelimet, bisalah dipahami otak lemot saya ini. Unexpected. Benar-benar nggak ketebak alurnya, bikin melongo nggak abis pikir. Cuman bisa bilang ‘astaga’ ‘oh ternyata begitu’ ‘ya ampoon panteeesaaan ih, HEH WOIIII ASTAGA’—sebatas itu aja bisanya. Kayak pengen teriak tapi takut disangka sinting.

GILAK SIH YA. Jadi karena plot twist-nya kita nggak ketemu titik awal dramanya di mana. Pusing? Iya, tapi nyenengin. Dikagetin plot twist tuh gimana ya... Semacam ada kepuasaan tersendiri abis nonton dramanya HAHAHAHA.

Saya mau nulis beberapa hal yang bikin saya jatuh cinta banget sama Someday or One Day.


Plot & Storyline

Saya selalu takjub dengan drama-drama yang sebenernya materi ceritanya sederhana tetapi memiliki impact yang luar biasa kepada penonton. Ia—si drama yang bersangkutan, menjadi tidak biasa bergantung kepada bagaimana ia dikemas. Someday or One Day merupakan drama yang berhasil menjadi tidak biasa itu. Kalau saya bilang, SOOD—saya akan menyingkatnya biar nggak ribet—keluar dari pakem drama kebanyakan. Episode plot sebagai perkenalan, lalu seperti kurva yang naik, semakin jauh episodenya, semakin membulat konfliknya, hingga memasuki akhir, dan selesai. SOOD tidak seperti itu. Drama time traveler ini tidak pernah bermaksud mengecoh penonton, atau bermain-main dengan intelegensi penontonnya. Penulis skenario dan sutradara nampaknya sepakat memulai penceritaan SOOD dari titik tengah, mengurai misteri dari titik yang paling krusial—menyerang dengan tanda tanya besar tentang apa yang sedang terjadi. Tidak banyak basa-basi. Dua episode awal SOOD terkesan rumit, gelap. Namun yang sebenarnya terjadi, guncangan itu sudah dimulai di dua episode itu. Dipenuhi teka-teki. 


Jika kamu memilih berhenti di episode pilot tersebut, bisa dipastikan kamu telah kehilangan satu kesempatan menikmati drama time travel yang bagus sekali.


Konfliknya tidak membulat—setidaknya itulah yang tampak di awal. Ia berserakan seperti puzzle. Adalah tanda tanya yang menjadi arah storyline SOOD. Dan jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut sudah ada di sana bahkan sebelum episode satu dimulai. Bingung? Iya. Ini drama membingungkan, salah satu alasannya karena karakter utama dan konfliknya diperkenalkan dengan cara yang tidak umum—bukan pada episode pilot melainkan dilekatkan pada proses mengalirnya jalan cerita dramanya, tapi percaya deh, kebingunganmu akan berbuah manis jika kamu bersabar melewati dua episode pilot.


Nonton drama ini tuh bawaannya curigaan, suujon, harap-harap cemas, kuatir, banyakan jangan-jangannya dan selalu ngagetin. Cape tapi hepi, sedih tapi lega /nah loh/ ㅋㅋㅋ

Ini drama yang akan bikin kamu ber-oh ooh ternyata setiap kali memasuki episode terbarunya. Dan tentu saja drama ini mengandung bawang yang buanyak sekali. Siapin ember eh tissue yak! I warn you.

SOOD menganut paham tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.


Memasuki materi ceritanya, menurut saya SOOD ini lebih dari sekadar drama time travel perempuan yang kembali ke masa lalu untuk mengubah takdir kisah cintanya yang tragis. Banyak sekali isu-isu penting yang dibawa. Jadi, selain menyukai plot twist-nya yang juara banget, saya juga menyukai konflik-konflik yang dihadirkan SOOD. Dalam sebuah wawancara, penulis skenario SOOD, Jian Qi-Feng mengungkapkan bahwa the real issue yang membungkus SOOD adalah self identity of youth, dan ini berhasil disampaikan dengan baik oleh dramanya. Mendalam dan apa adanya. Tidak didramatisasi sedemikian rupa.


Orang-orang dewasa kerapkali menganggap sepele masalah-masalah yang dihadapi remaja—nggak tau kenapa, kita ini seolah lupa pernah berada pada fase tersebut, fase di mana kita begitu dendam pada ke-superior-an orang-orang yang menganggap dirinya dewasa hanya karena usianya jauh melampaui usia remaja kita. Dan pengalaman-pengalaman dipandang sebelah mata justru membawa kita menjadi sosok yang mengulang hal yang sama, memandang mudah masalah-masalah anak-anak remaja.


SOOD tidak melulu membahas soal cinta dan patah hati yang mendayu-dayu. Ada proses pencarian jati diri dan persahabatan yang sangat kental terasa. Hubungan dengan anggota keluarga, hingga ke hal-hal yang masih jarang dibahas bebas di masyarakat umum; mental health.


Menyoal identitas diri sebagai remaja yang menimpa Yun-Ru, saya teringat sesuatu. Di awal tahun 2000-an, sekira 17 atau 18 tahun lalu, pernah ngetren di kalangan abege kala itu, menulis biodata di kertas binder bergambar cantik dan berbau harum. Nama, alamat, TTL, dst... lalu di akhir biodata tersebut ditulislah moto hidup—dipilihlah kutipan yang paling bagus kedengarannya, yang paling keren, kalo bisa yang pake bahasa Inggris biar kesannya kekinian, gitu. Entah dicomot di lembar TTS yang mana—aih remaja...


Ada satu kutipan yang senang sekali kami digunakan saat itu, yang kesannya cool sekali tetapi setelah bisa berpikir luas, kutipan favorit itu rasa-rasanya terdengar berbahaya jika saja saat itu kami sebenar-benarnya meng-amini ke-cool-an kutipan tersebut.


Just be yourself.

Jadilah dirimu sendiri. Penuh optimisme, kuat, sedikit arogan. Keren bukan? Kedengarannya sih begitu ya... tapi, anak remaja yang belum jauh meninggalkan angka sepuluhnya, yang sedang memasuki fase paling labil jembatan hidupnya mengatakan kepada dirinya untuk just be yourself. Jadilah dirimu sendiri, tanpa rasa takut—meskipun niatnya hanya untuk keren-kerenan saja, belom mikir kejauhan efek quotes tersebut.


Kutipan itu bisa saja menipu. Ia bisa saja memberikan arah yang salah kepada kita. Sebelum mengenali diri sendiri, memahami setiap inci ke-aku-an kita, sebelum kita bisa mengenali seluk beluk kepribadian kita sendiri, sangat riskan mengatakan just be yourself. Menjadi diri yang mana? Yang rapuh kah? Yang menjalani hari-hari di bawah pengaruh self-esteem yang rendah sekali? Yang menganggap nilai diri negatif? Menjadi diri kita yang manakah kita semestinya?


Menjadi versi terbaik diri kita. Bukankah demikian? Tapi apakah remaja yang masih sementara berproses sudah berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa itulah versi terbaik dirinya? Atau sudahkah ia memahami versi terbaik itu yang seperti apa bentukannya?


Konflik inilah yang menimpa Chen Yun-Ru. Krisis identitas diri, krisis kepercayaan diri. Sebelum ia menjadi Yu-Xuan, Yun-Ru menjalani hidupnya dalam hening, sendirian. Seperti ada jarak yang jauh antara dirinya dengan kehidupan yang berputar di sekitarnya. Diam dan muram—dua kata ini tepat menggambarkan karakter satu ini. Yun-Ru tidak mampu bersosialisasi dengan lingkungannya. Di saat teman-temannya asik ber haha-hihi di ruang kelas, di koridor sekolah, di lapangan basket, ia memilih duduk sendirian di bangkunya, tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Yun-Ru yang kalo ke mana-mana selalu pake headseat—dengerin musik, jalannya nunduk melulu, kikuk dengan sekitarnya—saya seperti melihat versi remaja diri saya pada Yun Ru.


Karakter Yun-Ru bikin frustasi. Saya, sebagai orang yang pernah berada di posisi itu, bisa memahami sepenuhnya situasi dan kondisinya. Bukankah (akan) selalu ada bagian dari hidup kita yang tidak akan pernah bisa dipahami orang lain, tidak peduli betapa pun inginnya kita agar dipahami, tidak peduli betapun inginnya orang memahami itu. Terlebih bagi seorang introvert parah, yang lebih leluasa bercerita kepada dirinya sendiri ketimbang kepada orang lain.


Hidup Yun-Ru berubah setelah Yu-Xuan hadir. Karakter Yu-Xuan sangat bertolak belakang dengan Yun-Ru. Yu-Xuan digambarkan enerjik, penuh semangat, tomboi, cheerful, dan pintar bersosialisasi. Bisa dibilang Yu-Xuan lah yang menyelesaikan seluruh problematika hidup Yun-Ru yang berkaitan dengan kepercayaan dirinya, bagaimana ia bersosialisasi, dan ini yang paling penting, Yu-Xuan sebagai Yun-Ru berhasil memutus habis rantai panjang membatasi Yun-Ru dari keluarganya, dari ibu dan adik laki-lakinya sastu-satunya. Yu-Xuan membuka pintu yang selama ini ditutup rapat dari siapa pun Yun-Ru : komunikasi.


Puncak krisis identitas diri Yun-Ru terjadi setelah ia kembali ke tubuhnya sendiri. Selama Yu-Xuan menguasai tubuhnya, Yun-Ru bisa melihat semua yang dilakukan Yu-Xuan dari sebuah kotak transparan. Semula Yun-Ru mencoba meniru Yu-Xuan. Ia menikmati perannya sebagai Yu-Xuan, hanya untuk melihat dirinya terluka lebih dalam lagi. Yu-Xuan merasa sudah melakukan apa yang diinginkan dunia di sekitarnya, namun itu dianggap tidak cukup. THIS! Point utamanya di sini—Yu-Xuan menuduh dunia menuntut terlalu banyak pada dirinya. Ia sudah kadung percaya telah melakukan apa yang dunia minta dari dirinya, namun ternyata itu belum cukup.


Just be yourself—Yun-Ru percaya dirinya yang diam dan gloomy adalah identitas dirinya yang sebenarnya. Ia gagal memercayai dirinya sendiri, gagal membaca nilai-nilai positif yang semestinya bisa dimilikinya tanpa harus meminjam identitas Yu-Xuan. Tidak ada yang memintanya menjadi Yu-Xuan. Yang perlu dilakukan Yun-Ru adalah melangkah keluar dari lingkaran gelap yang dijadikannya tempat persembunyiannya selama ini. Sesekali, kita perlu terluka, bersedih, namun jika kita menganggap semua luka, semua kesedihan itu sebagai identitas yang memang sudah ditakdirkan melekat selamanya kepada kita. Seolah kita sudah memaklumkan hidup berada di jurang kenestapaan, selamanya. Mau sejauh mana kita terus menyakiti diri sendiri? Our soul need to breath.


Memang tidak mudah. Butuh keberanian dan kesabaran menghadapi diri sendiri. Dan syukurlah Yun-Ru bisa menghadapi dirinya sendiri, pada akhirnya. Dia punya dua orang sahabat baik yang akan selalu setia mengiringinya—Mo Jun Jie dan Li Zi Wei.


Dan untuk saya, butuh lebih ari 10 tahun untuk bisa mengatasi dan nge healing diri. Di tahun-tahun yang sudah lewat, saya terlalu banyak melukai dan menyakiti diri sendiri, sadar dan tidak sadar. .


Jujur, saat menonton kedua kali adegan Chen Yun-Ru yang hendak mencelakai dirinya sendiri itu cukup mengganggu saya. Saya nyaris ke trigger, daripada saya kena panic attack terpaksa saya cepetin.

Dan saya kaget berkubik-kubik pas tau masa lalunya Wang Quan-Sheng itu seperti apa. Shock sih lebih tepatnya. Setrong banget HAHAHAHA. Bagai bumi dan langit dengan Li Zi Wei.

Umm, dan part-nya si Xie bener-bener disturbing. 


Cast

Jajaran main cast-nya TOP BANGET, akting bukan kaleng-kaleng. Gara-gara SOOD saya jadi pengen ngepoin Greg Hsu, si mamas bersenyum manis. Kena karma nih saya. Soalnya pas liat penampakannya di episode satu itu, saya mbatin “ini lead cowoknya? Serius?”  Abisnya saya belom dapet feelnya, ya iyalah kecepetan juga saya ngarepnya, wong masih episode satu ini. Dan ga kayak drama-drama yang saya nonton, pasti ada pengenalan karakter utama yang proper di dua episode pilot, maksud saya setidaknya di dua episode plot udah bisa kebaca dikit lead utama cowo-nya seperti apa, sementara SOOD kan enggak pake rumus itu. Makanya saya misuh-misuh, ga sabar. Lebih ke penasaran aja sih sebenernya. Pendek kata, saya meremehkan pesonanya Greg Hsu. Dan balasannya setimpal, saya jatuh cinta sama Li Zi Wei, si cowok petakilan berhati hangat yang sayang banget sama mbak pacarnya .


Greg Hsu charming-nya kebangetaaan.



Aktingnya Greg Hsu sebagai Wang Quan-sheng dan Li Zi Wei bagus banget, keliatan perbedaan karakternya. Begitu juga dengan Ko Chia Yen, KEREN banget. Pas dia jadi Chen Yun-Ru dan Huang Yu-Xuan—aslik beneran dua orang yang berbeda, bagai bumi dan langit. Dari ekspresi wajah dan cara jalannya. Beda banget. WOW. Kalo bukan karena kekuatan akting dan kecerdasaan Ko Chia Yen menganalisa karakter, mana mungkin bisa kejadian se-perfect ini. Salah satu scene yang menunjukkan power aktingnya Ko Chia Yen adalah pas adegan ujan-ujanannya Chen Yun-Ru dan Huang Yu-Xuan yang bedaaa banget gestur dan ekspresi mukanya. Bukan cuma Li Zi Wei doang yang bisa ngebedain, kita juga yang nonton bisaaa. Saya suka banget monolognya Huang Yu-Xuan di opening ep 10, menyentuh dan bikin nyess hati huhuhu.



Patrick Shih juga ga kalah kece aktingnya sebagai Mo Jun Jie. Walaupun di tongkrongan casting utama dia yang paling adek umurnya, tapi aktingnya ga jomplang kok. Bagus. Saya suka salfok sama mukanya—perpaduan Park Seo Joon dan Minhyuk CN Blue dia nih.



We Love Friendship!

There is no triangle love here and we love it!

Semula Mo Jun Jie dan Li Zi Wei ngedeketin Yun-Ru tuh karena Mo Jun Jie nyimpen rasa suka sama Yun-Ru, tapi seiring berjalannya waktu, ketimbang ngecengin Yun-Ru, Mo Jun Jie dan Li Zi Wei malah ketarik jadi sahabatan, terlebih setelah Yu-Xuan ikut campur dalam urusan di 1998 itu. part di 1998 lebih kuat aroma persahabatannya sih kalau aku liat. Kalo pun nge crush, biasalah, anak-anak remaja gimana. Sweet dan uwu. Khas first love. Nggak ada yang perlu dicemaskan dari hubungan ketiga orang ini.


Respek saya untuk Mo Jun Jie yang masih berusaha berpikir logis. Dia nggak membabi buta sih ke Li Zi Wei, demikian pula sebaliknya Li Zi Wei. Saya membaca wajar reaksi-reaksi pertama yang mereka tunjukkan terhadap perubahan emosi yang mereka hadapi. Leganya, itu nggak bikin mereka berjauhan terlalu lama. Ada proses yang berjalan, dan itu logis.


Perjuangan mereka untuk nyelametin satu sama lain mengandung bawang. Li Zi Wei yang ingin menyelamatkan dua sahabatnya, Mo Jun Jie dan Chen Yun-Ru. Mo Jun Jie yang mengusahakan semampunya agar bisa menyelamatkan Chen Yun-Ru.


Waktu mereka bertiga bareng (Yu-Xuan sebagai Yun-Ru) sih yang paling seru. Banyak ngakaknya. Ya abisan Yu-Xuan kan tomboi dan dia selalu ngerasa 10 tahun lebih tua dari Li Zi Wei dan Mo Jun Jie (iyalah dia kan dateng dari tahun 2019), trus itu anak cowok yang dua suka ngebecandain Yu-Xuan. Ekspresi mereka tiap kali Yu-Xuan ngedumel ngingetin dirinya sendiri dia lebih tua, atau pas dia ngomong serius soal time travelnya, itu tuh priceless banget.  Li Zi Wei dan Mo Jun Jie kayak yang “duh kasian ya Yun-Ru abis ketimpuk benda tumpul kepalanya jadi aneh. Dah kita pura-pura paham aja ya...”.

Lawak banget, asli. ㅋㅋㅋㅋ


Wang Quan-Sheng Huang Yu-Xuan

Sukaaa banget kehidupannya Wang Quan-Sheng dan Huang Yu-Xuan. Dari awal mereka ketemu, Quan-Sheng yang berusaha ngedeketin Yu-Xuan. Proses menuju deketnya mereka tuh uwu banget. Romantis. Gemesin. Quan-Sheng nya sih yang gemesin. Sweet boy. Dia bener-bener cinta dan sayang sama Yu-Xuan. Makanya pas dia pergi, Yu-Xuan terpukul banget, dan ga bisa move on. Ga ada lawan emang gimana rasanya dicintai dan disayangi sepenuh hati itu. Ga ada lawan. Quan-Sheng membuat Yu-Xuan menyadari betapa penting keberadaan dirinya untuk Quan-Sheng. Pokoknya kalo liat hubungannya Quan-sheng dan Yu-Xuan pasti langsung ngebatin wajarlah Yu-Xuan susah move on...

Segmen romantis-nya SOOD ga dibikin lebay. Yang dikasih liat dari hubungannya Quan-Sheng dan Yu-Xuan adalah hal-hal normal dan umum yang dilakukan pasangan lain (umm, untuk saya minus tinggal bareng-nya ya ahahaha).

Meleleh deh tiap liat senyumnya Quan-Sheng. Manis dan pure banget. Mengharu biru. ㅠㅠㅠㅠㅠ

Kisahnya Yu-Xuan dan Quan-Shuang (Li Zi Wei) nih kayak pengen ngasih tau ke kita sisi lain dari cinta, yang mampu menembus waktu dan dimensi. Apakah ini bisa terjadi di dunia nyata atau tidak; dua orang yang tidak pernah bertemu, tetapi jiwa mereka telah saling mengenal satu sama lain. Saya tidak yakin. Tapi ya, tidak ada yang tidak mungkin dalam perkara cinta. Who knows kaan? Yang kita anggap mustahil, bisa aja kejadian dengan perbandingan satu per  miliyaran manusia di kolong langitnya Tuhan ini #EAAAKKK HAHAHAHA.

Ending


Saya puas dengan endingnya. Happy ending atau tidak, itu soal lain. Ending-nya SOOD sudah sangat bagus menurut saya. Tidak terkesan dipaksakan, memang sudah seharusnya seperti itu. Manis, tapi bikin sedih. Tapi kita cukup tahu, ada masa depan yang indah menunggu Li Zi Wei dan Hung Yu-Xuan.


Serius deh, saya teriak heboh pas Huang Yu-Xuan kecil ketemu Li Zi Wei untuk pertama kali, YA AMPOOON BAPERRR. Aneka macam tebak-tebakan (tidak) berhadiah nangkring di kepala saya. Nggak tau kenapa saya hepi liatnya HAHAHAHA, sampe saya itung-itungin itu perbedaan usia mereka astaga HAHAHAHA.


Walaupun saya puas dengan keseluruhan cerita SOOD, bukan berarti saya nggak punya pertanyaan. Misalnya, apakah hubungannya Mo Jun Jie dan Chen Yun-Ru ada perkembangan? Selama jiwa Huang Yu-Xuan dan Chen Yun-Ru bertukar, Chen Yun-Ru dan Huang Yu-Xuan bisa melihat dari kotak transaparan keseharian masing-masing dalam tubuhnya Yun-Ru kan?  Nah, berarti Wang Quang-Sheng dan Li Zi Wei gitu juga dong? Sejak tahun 2010-2017 itu Li Zi Wei berada dalam tubuh Wang Quan-Sheng. Kan kecelakaannya terjadi di tahun 2017, berarti jiwanya Wang Quan-Sheng fix mati di tahun itu? Bentar, saya fuyeng.


Yang menjadi pertanyaan utama saya mengapa Last Dance-nya Wu Bai yang menjadi trigger time travel-nya. Ada apa dengan lagu itu?

Ya sudahlah yaaa. Lagian pertanyaan-pertanyaan saya kalo nggak terjawab juga nggak akan mengurangi poin kerennya SOOD sebagai drama time travel terbaik yang pernah saya nonton.

Pesan yang bisa saya ambil dari SOOD adalah cherish the moment we have at the time, and  yeah I should love myself more, and never lose hope to myself. I can do better, I can be the best version of myself, as long as I’m trying hard to work on it. Karena ga semua ada kesempatan keduanya, karena kita bukan Yu-Xuan dan Li Zi Wei yang bisa melintasi waktu ke masa lalu untuk me-restart  kembali hidup kita lagi dan lagi. Karena terkadang, kesempatan yang kita miliki saat ini adalah satu-satunya dan yang terakhir yang bisa kita usahakan. 

Kita tidak pernah tahu apa yang sedang direncanakan hidup untuk kita.


Saya jarang sekali menonton drama keluaran Taiwan. Dulu sih sering ya. Drama Taiwan yang bikin saya susah move on adalah MARS. Kali ini ditambah Someday or One Day. Asli deh, SOOD nih jumlah episodenya dikit tapi muatan materi dan kontennya padat, penceritaannya tidak amburadul, well-written.

Oiya, hampir ketinggalan. OST. Original Soundtrack. Saya suka theme song-nya SOOD. Opening song-nya, Someday or One Day dinyanyiin Shi Shi. Sedangkan Ending song-nya ditutup sama 831 dengan lagunya yang bikin saya baper nggak ketulungan—Miss You 3000. Dua lagu ini nyambung banget sama storyline dramanya. Sejiwa~

SOOD ini ya, ga judulnya, opening episodenya, OST-nya, semuanya aestetik, puitis. KEREN.


Rating

★★★★

5/5

Tidak banyak drama berkonsep time travel di list drama yang pernah saya nonton, dan SOOD akan masuk  ke jajaran list yang tidak banyak itu sebagai drama time travel terbaik yang pernah saya nonton. Storyline rapi dan cast-nya juara. TOP. Sensasinya nonton SOOD ga akan cukup dituliskan dengan kata-kata, harus dirasakan sendirinya.

 

Tabik,

Azz.

Don’t give up on yourself! Here I’m praying for your happiness.

Dan emoga kita semua senantiasa disehatkan ya ^^



No comments:

Post a Comment

Haiii, salam kenal ya. 😊