Sebuah Catatan : My Liberation Notes


Jauh sebelum saya menuliskan paragraph pembuka postingan ini, di kepala saya sudah muncul pertanyataan berulang, “bagaimanakah saya (akan) memulai tulisan tentang My Liberation Notes?” . Tidak peduli seberapa besar keinginan saya menulis tentang drama ini, toh akhirnya saya tetap tidak mampu menemukan awal yang tepat untuk memulai. Pun setelah dramanya menyelesaikan penayangan episode terakhirnya, saya masih berakhir dengan kebingungan yang sama—tidak tahu mesti memulai dengan kata atau kalimat seperti apa.


Saya tidak berani menulis review atau POV My Liberation Notes di blog. Bagi saya, drama ini terlalu kompleks untuk dijabarkan. Pada banyak drama yang saya sukai, saya bisa dengan segera menemukan poin-poin utama yang menjadi pondasi utama berdirinya drama tersebut, tetapi pada My Liberation Notes… saya speechless. Seperti yang pernah saya twit-kan, setiap episode My Liberation Notes meninggalkan kesan yang kuat sekali untuk saya, yang membuat saya tidak mampu berkata-kata. Setiap selesai menonton satu episode, saya merasa hati saya disesaki entah oleh apa. Saya sendiri dibuat heran, kok bisa ya saya nggak bisa nge hype drama ini di temlen Twitter dan IG, seperti orang lain? Padahal saya suka sekali My Liberation Notes. Apakah karena drama ini ruh-nya terasa terlalu personal untuk saya sehingga membicarakan dramanya sama saja dengan membuka nada demi nada suara-suara yang lebih banyaknya sudah hampir saya lupakan pernah begitu nyaring memenuhi ruang-ruang di dalam kepala saya? Drama ini kaya sekali; rupa-rupa emosi yang dibawanya, kejadian-kejadian sehari-hari di lingkungan keluarga, pertemanan, pekerjaan, hingga hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Complicated but beautiful. So well written.


My Liberation Notes banyak mengingatkan bagaimana rupa saya di masa lalu. Menonton drama ini membuat saya menyadari betapa banyak perubahan yang telah terjadi pada diri saya selama tujuh tahun terakhir. Tentu saja perubahan-perubahan baik.


Jadi yah… beginilah saya membuka tentang My Liberation Notes. Saya tidak akan mereview atau menulis POV seperti yang saya lakukan jika bertemu drama yang saya sukai. Saya akui saya tidak mampu mereview My Liberation Notes, hehe. Postingan ini hanya akan diisi dengan apa yang saya rasakan selama menonton My Liberation Notes. Saya tidak tahu akan sependek atau sepanjang apa tulisan saya ini. Saya juga tidak bisa menjamin tulisannya akan runut atau teratur. Nulisnya ngalir aja. Dan ya, mungkin—saya hampir yakin, ini akan lebih mirip curahan hati saya sebagai pihak yang berhasil dibaca oleh My Liberation Notes.


Percaya atau tidak, diakui atau tidak, disadari atau tidak, perubahan demi perubahan sesungguhnya sedang atau telah terjadi pada diri kita sebagai manusia dari waktu ke waktu. Sekecil apa pun itu, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan fisik dan perubahan secara mental. Saya percaya, perubahan-perubahan ini tidak terlepas dari interaksi kita dengan lingkungan di sekitar; dengan apa dan siapa setiap harinya. Apakah perubahan tersebut bernilai positif atau negatif—output nya tidak selalu bisa diramalkan.


Menonton drama bagi saya telah menjadi satu dari sekian apa dan siapa yang membawa banyak perubahan pada hidup saya; bagaimana saya memandang dan menangani hidup saya yang kacau, bagaimana saya berinteraksi dengan orang lain. Saya bukanlah orang yang berangkat dari kemapanan emosional yang mumpuni. Wajah emosi saya pernah menyerupai leher botol yang mampat. Kacau tak karuan. Semula, menonton saya jadikan pelarian, semacam hiburan yang menolong saya dari kebingungan hidup. Ada bulan-bulan di mana saya hanya berdiam di kosan dari pagi ketemu pagi saya tidak melakukan kegiatan berarti—saya mengisi kekosongan itu dengan menonton. Sekarang, jika saya ingat lagi, bulan-bulan itu adalah masa krusial saya sebagai orang sakit. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya jika saya tidak menemukan pelarian saat itu. Semakin ribet hidup semakin padat jadwal menonton. Saya menonton hampir semua drama Korea yang sedang airing, tidak pilah-pilih genre. Asal cocok aja, hayuk. Begitulah. Hingga saya bertemu Reply 1988 di akhir tahun 2015—pertemuan yang mengubah total, tidak hanya bagaimana cara saya melihat diri saya dan orang-orang di sekitar saya, tetapi juga sikap saya terhadap hobi menonton saya. Saya tidak lagi menjadikan kegiatan menonton hanya sekadar sebagai pelarian, sebagai wadah haha-hihi. Tetapi juga sebagai media yang membantu saya merefleksi diri.


Sebesar itukah pengaruh menonton drama terhadap hidup saya? Terdengar tidak masuk akal bagi orang lain, tapi ya. Sebesar itu memang pengaruhnya. Sejak saat itu saya mulai belajar mencari cara yang tepat untuk memeluk diri sendiri, yang belakangan kemudian saya sadari bukanlah perkara yang mudah, yang bisa dilakukan sehari-dua hari atau setahun-dua tahun. Butuh waktu lama dengan proses jatuh bangun yang selalu hampir berhasil menggoda saya untuk menyerah. Sekali lagi, saya bukanlah seseorang yang berangkat dari kemapanan emosi yang mumpuni. Rupanya menonton drama tertentu membantu saya mengurai kekacauan emosi saya. Menonton tak lagi sebatas mencari hiburan bagi saya. Pengakuan lain, di tengah kekacauan emosi, saya tidak punya siapa-siapa untuk diajak berbagi. Selain Tuhan, saya benar-benar tidak memiliki siapa-siapa saat itu. Saya bukannya tidak memiliki, lebih tepatnya emosi saya terkunci dan saya tidak tahu harus dengan apa untuk membukanya. Saya seperti pejalan kaki yang tersesat di sebuah halte di tempat asing, duduk sendirian di sana mengamati lalu lalang manusia dan kendaraan yang mengeluarkan suara bising tak berkesudahan. Tidak tau mesti ke mana.


Maka menonton, menulis review dan berinteraksi dengan pembaca blog ini menjadi semacam distraksi yang menyenangkan sekaligus membantu saya menghindari kegilaan.


Jika ada pembaca Majimak Sarang yang pernah berinteraksi dengan saya di kolom komentar khususnya era Reply 1988, tak sengaja membaca postingan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Terima kasih karena telah menemani saya. Saya beruntung sekali ditolong kalian.


Lalu apa hubungan intro panjang ini dengan My Liberation Notes? My Liberation Notes berbicara mengenai kebebasan. Pembebasan diri dari entah yang membuat kita hampa, limbung, kosong, merasa tidak berarti dan tidak punya tempat di kehidupan.


Saya membayangkan, andai saya bertemu My Liberation Notes dua-tiga tahun lalu, akan seperti apakah respon saya? Apakah akan sama dengan reaksi saya saat menonton dramanya di masa sekarang? Saya bisa melihat jawabannya dengan terang benderang; tidak. Tidak akan sama. Saya dua-tiga tahun lalu dan saya saat ini—terdapat perbedaan mental yang besar sekali. Dan saya bisa melihat diri saya dua-tiga tahun lalu (akan) menangisi My Liberation Notes seperti sedang menangisi kawan karib saya tiba-tiba muncul setelah puluhan tahun menghilang tanpa kabar.


Sedang saya saat ini, pada sebagian besar bagian My Liberation Notes—pikiran-pikiran tokohnya—saya seperti melihat perwujudan saya di masa lalu. Lebih-kurangnya. My Liberation Notes seolah mau memberitahu saya bahwa saya tidak pernah sendirian dengan seluruh suara-suara di dalam kepala saya. Saya tidak sendirian, dan saya bukan orang aneh. “Ah, iya. Saya tau rasanya.” Saya sering bergumam seperti ini sepanjang menonton My Liberation Notes. Bukan dengan nada sedih. Nada lega?


My Liberation Notes membawa beban-nya sebagai drama tak biasa, sebagai bukan drama kebanyakan dan untuk alasan inilah saya percaya drama ini tidak akan selalu berhasil membangun koneksi yang kuat dengan beberapa penontonnya, penonton yang mungkin saja tidak/belum melewati fase hidup seperti yang dialami para tokoh-tokoh di dalamnya. Bukan salah drama atau salah penonton yang kesulitan menangkap pesan yang ingin disampaikan My Liberation Notes, atau mereka yang menilai drama ini sebagai drama yang flat, lambat, tidak menarik. Mereka yang tidak cukup sabar mengikuti alur My Liberation Notes cukup mengatakan drama ini tidak sesuai dengan selera tontonannya. Cukup sampai di situ. Karena drama ini bukan tipikal drama yang dipenuhi plot-twist, konflik yang tajam atau alur fast-pace. Kalau saya bilang, My Liberation Notes ini hampir setiap sudut-nya dipenuhi nuansa depresi, stress, hidup yang melelahkan. Dramanya berat. Kalo ga dapet mood yang pas cocok, drama ini ga bakal bisa dinikmati dengan sebaik-baiknya. Tak semua penonton tabah dan sabar melihat adegan berulang-ulang makan bersama yang diisi keheningan. Di My Liberation Notes, silence, keheningan adalah suara keras yang mampu mengabarkan banyak hal kepada penontonnya. Keheningan di drama ini memiliki warna emosinya sendiri.


Keheningan, tidak semua orang bisa mengapresiasinya.


Sekalipun, misalnya drama ini tidak relate dengan kita, namun ia berhasil memberikan sudut pandang yang luas dan tidak mengada-ada tentang jenis manusia-manusia yang kerap jadi bulan-bulanan penghakiman lingkungan, manusia-manusia yang dianggap aneh, tidak menarik, membosankan dan dituduh pemurung yang antisosial; para introvert.


Bagi saya My Liberation Notes adalah teman perjalanan yang baik. Ia membuat saya menangis, sesak bercampur-aduk dengan lega di saat yang hampir sama di setiap episodenya.


ã…¡First Impressions


Saya mendapatkan kesan pertama saya saat melihat individual poster  My Liberation Notes lewat di timeline Twitter saya. Membaca terjemahan isi pikiran tokoh-tokohnya mengingatkan saya pada gaungan kata-kata yang menetap di kepala saya, yang seringkali mengganggu saya di waktu-waktu tertentu. Salah satu yang saya ingat, seperti Yeom Gi-jeong, saya juga pernah berharap di suatu hari yang penuh keruwetan saya mendapatkan panggilan telepon, atau di phonebook, saya bisa menemukan nama-nama yang bisa saya hubungi di kala saya butuh didengar, tanpa harus merasa bersalah karena sudah menyita waktu berharga orang lain. Mereka yang bisa saya telepon meski tidak ada hal penting untuk dibicarakan.


Tak hanya individual poster yang menggoda saya, poster utamanya juga bagus banget. Tone gambarnya mengandung dua nuansa; sendu dan hangat. Aroma slice of life nya kental sekali.


Saya sudah yakin bakal cocok dengan drama ini. Dan tibalah saatnya saya menonton episode pilotnya. Saya ingat sekali apa yang saya rasakan. Saya ikut tertawa arus emosi para tokoh-tokoh di My Liberation Notes. Ikut ngerasain lelahnya, capeknya menjalani hidup yang begitu-begitu saja. Monoton setiap harinya. Suram. Seperti robot. Tidak ada sesuatu/hal yang membikin antusias menjalani hari-hari. Lalu apa yang bisa diharapkan dari hidup yang seperti itu? Bagaimanakah mereka bisa bertahan? Saya bisa merasakan tumpukan-tumpukan emosi yang melekati setiap gerak setiap sorot mata setiap kata-kata para tokoh-tokohnya, yang meskipun minim dialog saya bisa segera mengetahui apa yang sedang mereka rasakan.


My Liberation Notes adalah drama yang luar biasa berat karena kejujuran yang dihadirkan ceritanya. Kenyataan-kenyataan hidup yang di-fiksikan. Kira-kira seperti itu. Demikianlah kesan yang saya dapatkan melalui episode pilotnya.


Kesan pertama saya terhadap tokoh-tokoh utama My Liberation Notes memiliki draft-nya masing-masing, dan ini penting sebab di episode-episode mendatang saya bisa melihat perkembangan mereka dengan jelas, yang tentu saja perasaan saya sebagai penonton diajak ikut terlibat di dalamnya.


Yeom Gi Jeong

“Just the feeling of having someone is enough for me.” – Gi Jeong


Kesal. Jengkel. Gregetan pengen banget ngelakuin sesuatu agar Gi Jeong menutup mulutnya. Begitulah kesan yang melompat keluar dari pikiran saya ketika bertemu Gi Jeong pertama kali. Cerocosannya di restoran yang berbuntut panjang epic banget. Tensi adegannya yang kuat bikin saya ikutan panik gara-gara Gi Jeong. Ya gimana ga panik, kamu lagi ngomongin jelek orang dan orang yang lagi dijelek-jelekin ada di situ! Seketika jadi pengen punya kekuatan yang bisa bikin orang amnesia dan bisa menghilang sekejapan mata.


Dia tuh kalo udah ngomong suka ga pake rem, apa yang ada di kepalanya ditumpahin aja semua ga tengok kanan-kiri. Gara-gara epic scene itu, saya suka panikan sendiri kalo udah ada scene Gi Jeong lagi ngobrol sama temen-temennya, takut dia kelewatan jujur badmouthing orang dan orangnya ada di situ. Saya yakin sih Gi Jeong ga berniat jelek-jelekkin orang, dia suka kebangetan jujurnya, nggak mempelajari situasi, nggak menyaring apa-apa yang bisa dan tidak boleh dilempar keluar dari pikiran di dalam kepala. ã… .ã… 


Gi Jeong, si anak pertama yang ngebet banget punya pasangan, ga peduli mau kayak gimana bentukan pasangannya itu, misi utamanya sebelum musim dingin datang adalah dapet pacar! Sebelumnya Gi-jeong kerap berakhir bosan setiap menjalin hubungan kasih sayang dengan pria. Tak ada satu pun yang berjalan baik. Semuanya berjalan singkat, jatuh cinta pagi, jelang malam udah ilang cintanya.


Dia punya temperamen yang agak keras, ga bisa banget nyimpen emosinya. Menurut saya karakter Gi Jeong lebih mudah dibaca dibandingkan adik-adiknya. Apa yang terlihat, apa yang ditampakkan itulah Gi Jeong. Transparan. Jujur, polos, blak-blakkan.


Yeom Chang Hee

“I’ve never felt real joy, pleasure, or excitement in my life.” – Chang Hee


Egois. Emosional. Pemarah. Keras kepala. Kasar. Nggak enak bener ya kesan pertama saya terhadap Chang Hee. ã… .ã… 


Saya ikut ngerasain ketegangan di meja makan saat Chang Hee minta ijin ke ibu-bapaknya untuk beli mobil. Nungguin reaksi bapaknya tuh serasa horror ga sih? Mana mood scene-nya juga ikut ngedukung kan…


Saya menyangka Chang Hee adalah sosok ambisius. Siapa sangka karakter ini justru menjadi karakter yang paling mengejutkan saya di akhir drama ini.


Di episode berapa gitu, eomma-nya memandang foto Chang Hee penuh sayang. Belakangan barulah saya sadari, feeling seorang ibu terhadap anaknya tidak pernah meleset. Moms know very well..


Yeom Mi Jeong

“People are scared of thunder and lightning but strangely, I find them calming.” – Mi Jeong


Salah satu misi utama saya selama menonton My Liberation Notes adalah melihat Yeom Mi Jeong tersenyum lega dan bahagia, sebab kesan pertama saya terhadap karakter ini sangat muram dan sendu. Nggak ada gairah hidup. Mi Jeong di mata saya—khususnya ekspresi wajahnya mengingatkan saya pada sosok IU di My Mister. Benar-benar mirip warna emosi yang dibawanya. Kondisi mentalnya Mi-jeong bisa dilabeli fase languishing ga sih? Dia merasakan perasaan hampa kosong dan kesulitan merasakan hal-hal postif di sekitarnya?


Saya ga bahagia, tapi bukan berarti saya bahagia. Saya sedih, kenapa sedih?

Ga bisa merespon segala sesuatu yang kalo pake kacamata umum bisa bikin orang excited.


Mi Jeong seperti memilih peran antagonis di dalam hidupnya sendiri. Ia cenderung skeptis memandang hidup. Di matanya, hidup dipenuhi kemuraman, kebencian, tidak menarik. Terdapat jurang yang sangat jauh memisahkan dunia di dalam kepalanya dan dunia di luar dirinya. Dan Mi Jeong serta pikiran-pikirannya yang bersuara kerap mewakili suara hati para introvert termasuk saya.


Saya takut dan gugup dengan Mi Jeong. Saya paling nggak bisa menebak arah pikirannya.


Mr. Gu


“That’s how life is. It seems to go well and then stabs you in the back. Did you think it was always going to be peachy?” – Mr. Gu


Misterius. Dingin. Bicaranya irit. Suara-nya hanya bisa didengarkan melalui sorot matanya. Rutinitas Mr. Gu hanya bekerja, makan, minum alcohol sambil menatap jauh entah ke mana. Begitu saja. Tak banyak yang bisa saya katakan tentang karakter ini berasarkan episode pilot.


Siapakah Mr. Gu? Kenapa dia bisa berakhir bekerja di keluarga Yeom? Ini pertanyaan yang mengikuti saya. Saya ingat, saya berdoa semoga dia bukan pembunuh bayaran atau gangster. ã… .ã… 



My Liberation Notes menganut character-driven, ceritanya fokus pada perkembangan tokoh-tokoh di dalamnya, makanya alurnya terasa lambat. Kalau ditanya konfliknya nyeritain apa, saya harus mikir beberapa saat, kayak lebih mudah nyeritain konflik drama yang digerakkan oleh plot-nya.


My Liberation Notes nyeritain kehidupan orang-orang yang tinggal di daerah yang jauh dari pusat kota, dan bekerja di pusat kota. Mereka harus bolak-balik rumah-tempat kerja. Kondisi ini membuat hidup mereka terasa membosankan. Monoton. Waktu banyak dihabiskan dalam perjalanan. Harus bangun pagi agar tidak ketinggalan bus dan kereta. Acara kumpul-kumpul seusai bekerja tidak bisa terlalu jauh atau tidak boleh melewatkan kereta terakhir—biaya taksi menuju pulang terlalu mahal. Banyak hal yang ingin mereka lakukan namun terhalang status bukan anak kota. Acapkali pula status yang melekati mereka dijadikan bahan obrolan di sirkel dunia kerja. Banyak sekali yang relate dengan pola kerja Yeom bersaudara.


Apakah kemudian jika suatu saat mereka berubah status jadi anak kota yang tinggal dan bekerja di kota, lantas mampu mengubah total wajah hidup mereka? Saya rasa inilah salah satu pertanyaan utama yang dibawa My Liberation Notes. Misalnya, saya menganggap wajah murung Mi-jeong, kesulitannya Gi-jeong mendapatkan pacar, dan stuck-nya Chang-hee di posisi yang sama, jauh dari hidup stabil—diputusin pacar karena salah satunya dia ga punya mobil (?)—semata-mata hanya diakibatkan karena mereka tinggalnya di desa, semata-mata karena dihalangi status anak daerah. Apakah membebaskan diri dari status anak daerah serta merta mengubah mereka menjadi orang yang bahagia? Begitu? Jika suatu saat ketiga bersaudara ini pindah dan hidup ke kota selayaknya anak kota, mengikuti gaya hidup anak kota, apakah masalah hidup mereka terselesaikan? Terbebaskan dan bahagia?


“If we had lived in Seoul, would we have been any different?” – Mi Jeong


My Liberation Notes—catatan kebebasan seperti apa yang ingin ditulis orang-orang di drama ini? Apakah kebebasan yang diidamkan benar-benar mampu membebaskan dari labirin frustasi dan kerumitan hidup? Mengapa hidup menjadi rumit dan membuat frustasi? Apakah bebas artinya merdeka dan bahagia? Apakah bebas tidak butuh tebusan apa-apa? Kebebasan… kebebasan, sebagai manusia yang tak sekadar hidup dan bernapas, kebebasan seperti apa yang kita inginkan, sesungguhnya?


“Life is a series of embarrassments. It’s embarassing from the moment you’re born. You are born naked.” – Chang Hee

ã…¡relatable scenes

Banyak sekali adegan di My Liberation Notes yang meneriakkan pengalaman nyata yang pernah saya alami di masa lalu. Saya sampai harus mengklik tombol pause untuk mengambil jeda, menarik napas panjang, dan menahan keharuan—momen yang membuat saya bergumam, “ah… ternyata perasaan saya, apa yang saya rasakan adalah valid. Saya bukan orang aneh. Tidak apa-apa merasakan seperti itu. Sungguh tidak apa-apa.

Saya akan memilih tiga quotes :


#1


“I feel uneasy in bed, I feel uneasy around people. ‘Why can’t I laugh happily like other people? Why am I sad all the time? Why am I always nervous? Why is everything so boring?” – Mi Jeong


Saya ingat dengan jelas sekali waktu-waktu yang saya lewati dengan hati muram. Tuhan, saya kenapa? Apa yang salah dengan saya? Kenapa saya selalu diliputi kemurungan? Kenapa saya kerap merasa tidak nyaman dikelilingi orang banyak? Kenapa saya tidak bisa menemukan hal-hal yang bisa menggembirakan seutuhnya? Kenapa saya?


Saya jarang tertawa.


… apakah saya yang terlalu berlebihan? Di mata saya orang-orang begitu menikmati hidup, mengapa saya selalu merasa kesulitan menjadi saya? Manakah saya yang sebenarnya?


Pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan menyudutkan saya. Saya menganalisa diri sendiri. Sering saya berbaring di kamar, menghadap langit-langit, perasaan saya datar tetapi air mata saya mengalir tanpa saya tau mengapa saya menangis.


Seperti Mi-jeong, ketika berjalan seorang diri, pandangan mata saya menyentuh apa saja yang saya lewati, saya seperti tidak tertarik dengan apa pun itu tetapi kepala saya riuh.


Saat terbangun di pagi hari, tubuh saya terasa sakit, saya membuka pagi dengan rasa lelah. Saya bangun dan bekerja dan hidup karena tubuh saya masih bernapas—saya pernah melewati fase ini dan saya berharap saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana.


#2


“I want liberation. I want to be liberated. I don’t know where I’m trapped but I feel trapped. There’s nothing in my life that relaxes me. I feel cramped and stifled. I want to break free.” – Mi Jeong


Kamu ingin membebaskan dirimu dari kemurungan yang aneh namun di saat yang sama kamu kesulitan menemukan alasan kemurunganmu. Kamu tidak tahu di persimpangan mana kamu keliru memilih arah. Semuanya tampak salah, tampak tidak pada tempatnya. Dan kamu ingin sekali terbebas dari situasi ini.


Pernah merasakan apa yang dirasakan Mi-jeong? Jika ya, sama. Saya pun pernah. Rasanya tidak enak sekali. Mengerikan.


3#


“I feel like I have to fill the silence too. –Yeom Mi-Jeong


Saya bertanya-tanya kenapa saya merasa tidak nyaman berada di tengah orang banyak? Kenapa saya kerap merasa canggung bertemu orang banyak? Mengapa saya cenderung menghindari obrolan dengan orang yang tidak saya akrabi? Apakah saya membenci ide bersosialisasi dengan orang lain?


… saya masih terus bertanya-tanya, hingga saya mendengar Mi-jeong mengatakan, “I feel like I have to fill the silence too.”


AKURAT.  Itulah yang saya rasakan. ã… .ã… 


Berinteraksi dengan orang lain, terlibat dalam obrolan (face to face), saya merasa terbebani dengan tanggung jawab untuk membuat obrolan terasa menyenangkan, sedangkan saya tahu persis betapa membosankannya saya, saya orang yang canggung, sering merasa malas untuk berbicara. Saya tidak bisa pura-pura excited terhadap topic yang tidak saya sukai. Jika bertemu orang yang pada kesan pertama sudah membuat saya hilang rasa, saya tidak segan-segan memasang aksi diam atau terang-terangan menunjukkan keengganan saya—untuk alasan-asalan inilah saya tidak begitu menyukai aksi kumpul-kumpul tanpa alasan jelas. Meski tidak separah dulu, namun kebiasaan tetap kebiasaan. Saya tidak pernah berlama-lama menempatkan diri di suatu lingkungan yang riuh. Saya memilih ngacir pulang setelah jam mengajar selesai, pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, mending saya angkut ke rumah.


Ngobrol banyak sama orang yang dengannya kita tidak punya relasi yang dekat adalah salah satu cara untuk membuat diri lelah. Herannya, saya bisa membuka percakapan-percakapan basa-basi dengan mereka yang saya temui pertama kali di tempat-tempat yang saya tidak merasa familiar.


Saya menemukan rumah, khususnya kamar saya, sebagai tempat teraman dan ternyaman yang bisa menerima saya apa adanya. Saya mau diem aja sepanjang hari, atau berisik cerewet ga jelas, suka-suka saya wkwk. Ga ada yang gangguin.


ã…¡Ending


“That’s how life is. It seems to go well and then stabs you in the back. Did you think it was always going to be peachy?” – Mr. Gu


Saya tak habis-habisnya dibuat speechless dan bergumam sendiri betapa sangat realistisnya My Liberation Notes. Termasuk ending-nya. Karena MLN menggunakan alur character-driven, membahas endingnya tidak bisa jauh-jauh dari amatan terhadap perkembangan karakter-karakter utamanya.


Setelah 16 episode, apa yang terjadi pada mereka? Bagaimana rupa my liberation notes mereka? Bertemukah mereka dengan apa yang mereka cari di bawah nama kebebasan?


Saya menyukai apa yang dikatakan So Hyang Gi pada pertemuan pertama Liberation club setelah sekian lama tak mengadakan pertemuan pasca Mi-Jeong pindah kerja.


“We can’t exactly say we accomplish nothing, don’t you think? Well, some days, I feel like I am. And some days, I feel like I’m back to square one. But I still feel I’ve been liberated even just a little.” – So Hyang Gi


Bagi mereka yang sedang berjuang memperbaiki diri, menemukan kedamaian dalam hidup, mereka yang sedang berusaha menjadi versi terbaik dirinya, proses ini sangat sulit. Terdapat perbedaan yang tipis; membuka hari dengan ngerasa baik, happy, jelang malam perasaan kosong dan lelah kembali datang yang membuat kita mempertanyakan usaha kita sendiri. Apakah kita bisa berubah? Hanya dengan terus-menerus melakukan perubahan demi perubahan baik, sedikit demi sedikit, dengan sabar dengan sebaik-baiknya usaha, menerima proses jatuh bangunnya, kita kemudian sadar, ya… ada yang berubah. Jelas, ada yang berubah. Meski tak besar, meski seperti tak terlihat. Kita berubah.


Proses yang kita jalani inilah yang kelak akan membuat kita tahu bagaimana semestinya menghargai dan memeluk diri sendiri. Mengapa? Karena sebaik-baiknya teman seperjalanan tak lain adalah diri kita sendiri. Dia yang sudah berjuang bersama kita, menikmati jatuh-bangunnya berdua.


Apakah Yeom Bersaudara setelah pindah ke kota dan hidup bahagia? Happily ever after? Apakah Mi Jeong berubah dari pemurung menjadi si wajah gembira yang penuh senyum? Yeom Chang-hee akhirnya bisa punya mobil, kaya-raya dan menikah dengan kekasihnya? Dan Yeom Gi-jeong, apakah dia bisa bertemu pria yang diinginkannya?


My Liberation Notes memilih ending yang sesuai realita hidup sesungguhnya. Tidak ada upaya mengglorifikasi kebebasan. Apa adanya. Raw.


Pindah ke kota tak lantas membuat hidup mereka menjadi mudah. Suasana baru berarti tekanan baru juga. Namun, sebagai penonton saya bisa melihat perbedaan nuansa kehidupan yang dijalani Yeom bersaudara; plus-minusnya.


; Yeom Gi-Jeong,

Pandangan saya terhadap Gi-Jeong setelah 16 episode berubah drastic. Saya tidak lagi melihatnya sebagai sosok yang annoying. Gi-Jeong mungkin terlihat menjengkelkan dengan mulut blak-blakannya, tapi setelah mengenal lebih dekat ternyata nggak se-menjengkelkan yang terlihat dari jauh. Apa ya sebutan yang tepat? Jalan berpikirnya ga mengikuti jalur umum kebanyakan orang. Dua adegan yang saya ingat dan dua adegan ini punya pengaruh besar mengubah pandangan saya terhadap Gi-Jeong. 1) Park Jin Woo memberi saran Gi-Jeong untuk menarik ulur Cho Tae Hoon. Gi-Jeong menjawab, “When a man and woman like each other, shouldn’t you give each other the fullest? Why would you string it out in small portions?”


Saya kayak kena pencerahan denger omongannya Gi-Jeong. Iya ya? Kalo saling sayang kenapa saling menyulitkan? Saling membuang energi, kesempatan dan waktu?


Saya pun mikir, Yeom Gi-Jeong bukan orang yang sulit. Kalo memakai sudut pandang lain, saya bisa melihat dia bukan sebagai orang yang omongannya menjengkelkan dan suka mengeluh. Apa yang Gi-Jeong ucapkan tanpa filter itu adalah sebenar-benarnya isi kepalanya. Dia orang yang logis menurut kamus kelogisannya yang kalo disandingkan dengan kelogisan secara umum, Gi-Jeong akan dipandang sebagai orang yang aneh, annoying, ngeri (inget obrolan kepala jatuh?), padahal enggak. Gi-Jeong ga suka membagus-baguskan omongan. 2) Di ep 16, Tae-Hoon mengira Gi-Jeong potong rambut karena pengen putus (pikiran orang umum), padahal enggak. Dia emang pengen potong rambut aja. Aslik, di adegan ini saya pengen meluk Gi-Jeong. Baik banget mau ngertiin Tae-Hoon. Mau bersabar menunggu. Sebagai orang mencintai Tae-Hoon, Gi-Jeong mengalami roller coaster emosi. ã… .ã… 


Menurut saya, Gi-Jeong adalah jenis orang yang sangat menghargai hal-hal kecil, yah… meski kadang hal-hal kecil bisa membuatnya overthinking. She’s unique in her own.


Yeom Chang Hee :

Room 302.-nya Chang Hee di episode 16 bikin saya nangis kenceng. Bukan adegan sedih loh itu. Dia salah masuk ruangan dan berniat keluar dari sana. Momen ketika dia hendak keluar, Chang Hee terdiam sebentar, lalu senyum kecil terbit di wajahnya. Ia memutuskan tetap tinggal.


Yeom Chang Hee yang saya anggap berisik, egois, ambisius dan cerewet ternyata adalah karakter yang paling… paling powerful perjalanannya. Di mana kakinya membawanya maka di situlah takdirnya—saya tidak menyangka prinsip ini akan membikin saya nangis. Chang Hee yang baik sekali, punya hati yang lembut. Bicaranya saja yang keras, hatinya lembut. Feeling ibunya tidak meleset. Chang Hee lah yang menghidupkan kembali nyala api di dalam keluarga Yeom yang meredup setelah kepergian ibu mereka. ã… .ã… 


Chang-Hee adalah karakter favorit saya.


“Dad, you still have the three of us by your side. Dad, I love you.”


Siapa yang menyangka anak laki-laki satu-satunya yang di awal episode terlihat grumpy adalah dia yang sepeninggal ibunya menjadi pilar yang menguatkan ayah dan saudara-saudaranya. Chang Hee berproses dengan baik. Anak baik ã… .ã… 


Adegan dia makan berdua dengan ayahnya, dia ngilang bentar ke belakang pas balik matanya udah merah. Ya Alah sedih sekali….


Yeom Mi-Jeong :


“Yeom Mi-jeong’s life is divided into two parts, before and after she met Mr. Gu. I must be crazy. I feel so lovable. There’s nothing but love in my heart. So, I can’t feel anything but love.”


Pasca pindah kantor, Mi-Jeong menemukan ritme hidupnya. Mi-Jeong menikmati pekerjaannya. Mi-Jeong bertemu kembali dengan Mr. Gu. Apakah Mi-Jeong sudah menemukan kebebasannya? Ya, tetapi perjalanannya belum selesai. Karena menemukan kebebasan adalah sebuah proses panjang. Yang jelas, Mi-Jeong bersama Mr. Gu adalah chapter hidup yang benar-benar dinikmatinya. Bersama Mr. Gu, Mi-Jeong tetap menjadi dirinya sendiri. Lebih dan kurangnya.


Jika melihat lebih dekat sorot mata Mi-Jeong sebelum dan setelah berpisah dengan Mr. Gu tidak sama alias berubah. Ga hampa lagi.


Adegan Mi-Jeong ketemu mantan yang udah bikin dia kesulitan adalah yang saya highlight. Saya melihat Mi-Jeong menilai dirinya sebagai orang jahat. Tetapi adegan itu membuktikan sebaliknya. She is too kind. Dengan sejarah yang mereka miliki bisa saja Mi-Jeong menjebak si mantan—balas dendam gitu. Tapi tidak. Mi-Jeong tidak melakukan itu. Bangga sama Mi-Jeong!


Mr Gu :

Berbeda dengan penonton lain, saya tidak jatuh cinta pada Mr. Gu. Karakter ini membuat saya takut. Apa tindakannya berikutnya? Apa yang akan dia lakukan? Kata, kalimat apa yang akan dilontarkannya… saya menunggu dengan hati-hati, banyak momen kebersamaannya dengan Mi-Jeong di Sanpo yang membuat saya cemas.


Momen menggetarkannya Mr. Gu di episode 16 adalah adegan koin yang nyaris jatuh di lubang air. Koin yang mengubah pilihan hidup Mr. Gu.


Saya suka cara Mr. Gu memperlakukan Mi-Jeong. Omongannya ga penuh bunga-bunga tapi selalu tepat dan cocok untuk membantu Mi-Jeong menemukan entah apa yang dicarinya.


***

Akhir My Liberation Notes tidak mengenal happy or sad ending. Seperti hidup kita, happy or sad, sifatnya sementara, sedangkan hidup harus terus berjalan. Drama ini tidak butuh ditutup dengan menceritakan secara pasti dan jelas bagaimana kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya. My Liberation Notes berakhir, namun para pencari kebebasan untuk diri sendiri ini masih terus mencari. Satu yang pasti, mereka sudah menemukan arah yang tepat. Begitulah cerita ini ditulis.


ã…¡Special Mentions

Mom

“I don’t expect anything from you. I’m just happy when you smile. And when you cry, I wonder what happened.” – Mom


Melihat punggung Eomma di episode 13, bahunya yang berguncang karena menangis, saya tidak sanggup menahan air mata saya. Dan menit-menit berikutnya hingga episode 14, tidak ada jeda untuk bernapas lega.


Sosok ibu yang sejak kemunculannya di episode satu tidak melakukan hal lain, ia hanya bekerja dan bekerja. Mengurus suami dan anak-anaknya. Bekerja di dapun, di ladang. Memikirkan bagaimana anak-anaknya. Sosok ibu yang selalu bekerja keras memastikan anak-anak dan suaminya makan dengan baik, istirahat dengan nyaman. Dan saat ia benar-benar bisa meraskan nikmatnya istirahat adalah saat ia pergi ke tempat yang jauh dengan hati patah dan berat; ia merasa gagal mengenali kesedihan di wajah anak-anaknya.


Hati saya ikut patah menonton pembukaan episode 14, melihat lubang yang ditinggalkan eomma di tengah keluarganya bersama kepergiannya yang mendadak. Kehilangan yang dirasakan keluarga Yeom terasa kuat dan realistis. Hati saya seperti ikut diremas.


Melihat Gi-jeong, Chang-Hee, Mi-Jeong mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan ibu mereka—momen yang membuat mereka menyadari betapa kuat tubuh kecil ibu mereka yang bisa melakukan semua pekerjaan itu sendiri.



Saya takut menonton after leaving-nya Eomma. Saya teringat ibu saya sendiri. Ibu saya tidak berbeda dari Eomma. Beliau selalu memastikan kami menjalani hidup dengan baik. Dua tahun terakhir hubungan saya dengan ibu semakin baik. Saya sering menangis bila mengingat ibu saya. Mengingat hari-harinya yang tidak pernah mudah sejak kecil. Pernahkah ibu merasakan kebahagiaan yang sebenar-benarnya? Bahkan setelah menikah dan memiliki anak-anak, ibu saya masih menjalani hidup yang sulit. Padahal beliau pernah beberapa kali memiliki kesempatan untuk memilih bahagianya sendiri, tetapi tidak dipilihnya. Ibu saya mengorbankan bahagianya untuk orang lain. Meskipun situasi sudah berubah lebih baik sekarang, setiap kali memandang wajah atau punggung ibu, saya kerap berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan sedih yang ingin sekali saya tanyakan pada beliau. Hasilnya saya sibuk menyusut air mata yang berebutan keluar—takut ditanyain kenapa nangis.


Para ibu adalah sosok paling rentan diabaikan di dalam rumahnya sendiri. Padahal cinta ibu adalah cinta paling rahasia dan tulus. Menurut saya, memiliki dan merasakan cinta ibu adalah privilege yang belum tentu bisa dirasakan orang lain. Peluk erat, jangan disia-siakan.


Saya nggak bohong, saya sudah punya perasaan ga enak melihat sosok eomma sejak episode satu. Saya tidak pernah luput memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi eomma di setiap kemunculannya. Eomma yang ga pernah diam. Di meja makan pun dia masih sibuk. Sedih sekali. Dan ternyata feeling saya benar adanya. ã… .ã… 


Baju yang dikenakan Eomma di foto pemakamannya adalah foto yang biasa ia pakai sehari-hari. Saya tidak tahu apakah ini di sengaja, seolah ingin memberikan symbol, saking sibuknya eomma bahkan ga punya foto cantik.


Kepergian eomma tidak hanya menjadi patah hati terbesar bagi keluarga Yeom, tetapi bagi saya juga sebagai penonton. ã… .ã… 


ã…¡A friend to talk with

“I think you’re unhappy because you don’t know how good you are.” – Officemate


Gi-jeong, Mi-jeong, Chang-hee, saya mau bilang kalau mereka beruntung memiliki teman cerita. Setidaknya ada teman yang mau mendengarkan cerita mereka, se-absurd apa pun ceritanya.


Apa yang ingin saya tulis adalah, meski memiliki teman-teman di sekeliling kita tetap saja rentan merasa kesepian. Apakah kita kurang bersyukur? Saya tidak berpikir demikian. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana cara kerjanya, merasa sepi sepertinya tidak erat kaitannya dengan ada-tidaknya sirkel pertemanan kita. Karena saya mengalaminya sendiri. Saya punya teman yang lumayan beragam tapi itu tidak membuat kesepian yang mengikuti saya entah sejak kapan tidak pernah bisa sepenuhnya menghilang. Ia bisa muncul kapan saja tanpa saya duga-duga.


“You should get paid to listen to someone else talking.” – Mr. Gu


Mungkin, jika kita bisa menikmati hubungan seperti Mr. Gu dan Mi-jeong yang bisa saling mendengarkan dengan perasaan aman dan nyaman, kita tidak akan terlalu merasa kesepian. Hehe. Jago bener nyari alasan ya. Menangani kesepian tidak mesti dengan mencari sosok lain. Karena dia memang nyata adanya dan valid, kita yang harus nyari tau sendiri gimana caranya pas ngerasa sepi kita ketemu simpul yang bisa bikin kita nyantai aja gitu. Kesepian bukan sesuatu yang menyedihkan atau mengerikan. Merasa kesepian bukan isyarat kita menggantungkan diri kepada orang lain.


Ketika Mr. Gu menghilang, Mi-Jeong tetap menjalani hidupnya. Ia sedih? Jelas iya. But life must go on. Inilah yang saya bilang My Liberation Notes menggambarkan dengan realistis momen atau event yang terjadi. Ga dramatisir berlebihan.


Saya pikir kita akan bersepakat soal ini; bertemu seseorang yang mau mendengarkan suara kita adalah hal terbaik yang kita harapkan bisa terjadi. Bagi mereka yang sudah menemukannya, selamat.


ã…¡Liberation Club

“Do not give advice. Do not try to comfort. Those are the rules of our club.” – Mr. Park


Klub Kebebasan—saya benar-benar menginginkan wadah seperti ini. Bagus banget klubnya. Aturannya asik. Kita boleh ngoceh apa aja tanpa takut dihakimi, dan tidak boleh ada yang menghibur. Ga semua uneg-uneg yang kita keluarkan butuh ditanggapi. Kayak cuman pengen dikeluarin aja gitu. Abis itu udah. Karena kadang kita tuh sebenarnya udah tau mesti gimana dengan suara-suara di dalam kepala kita tapi tetep harus dikeluarin biar lega. Ya nggak sih? Saya gitu soalnya wkwk.


ã…¡Tidak ada yang namanya kebetulan


Siapa yang speechless mengetahui koneksi yang terjadi dantara Mr. Gu dan Mi-Jeong? SAYA!!! Plot yang mengejutkan. Hidup bener-bener ga bisa diprediksi dan ga ada itu istilah kebetulan. Apa yang terjadi dalam 24 jam hidup kita, tidak ada namanya kebetulan.Mungkin ini alasan kenapa kita disuruh ngomong baik-baik sama orang lain, perlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Kenal atau tidak. Karena kita nggak pernah tau apa yang sedang dialami orang lain. Small act can help. Hal-hal baik kita terima tidak datang begitu saja. Kita tidak bekerja sendirian di semesta yang luas ini.

***


“Something good will happen to you today.”

Kalimat ini sudah muncul mulai dari episode 1. Otak kayak dicuci, seburuk apa pun harimu, sesuatu yang baik akan datang padamu. Dipikir-pikir, quote ini nyambung sekali dengan emosi yang dibawa My Liberation Notes—ingat alur character-driven nya?


Ditambah dengan kalimat pamungkasnya Mi-jeong untuk Mr. Gu,


“Five minutes a day. If you have five minutes of peace, it’s bearable.” –Yeom Mi-Jeong


Maksudnya Mi-Jeong, kita lah yang mesti berusaha sendiri mencari detik-menit yang berharga yang bisa membuat kita bahagia meskipun itu dari hal-hal kecil misalnya mengucapkan atau menerima terima kasih dari orang asing, atau menerima teriakan "PAKEEEEEEET" depan pintu, atau dapet notif di awal bulan ngabarin kalo gaji udah masuk HAHAHAHA maap garing. Banyak hal-hal kecil yang sebenarnya bisa bikin hepi cuma seringnya kita abaikan karena... ya dirasa nggak penting. 


My Liberation Notes mungkin terlihat muram di luar, usai menamatkan 16 episodenya, saya menemukan banyak hal yang membuat drama ini unik dengan cara bertuturnya dan bagaimana ia disajikan; kesedihan, kesepian, humor, persahabatan, keluarga, dunia kerja. Semuanya sangat dekat dengan kehidupan kita. Tidak ada yang dilebih-lebihkan atau sengaja dibuat dramatis. Porsinya pas.


Sulit membuat drama se-sempurna ini. Storyline-nya solid, character development-nya berjalan dengan baik, alur character-driven nya solid, music scoring-nya bagus banget, dan sinematografi yang apik menjadi alasan saya dibuat speechless di setiap episodenya. Apa yang saya tulis pada postingan ini belum mewakili semua perasaan yang saya rasakan sewaktu menonton My Liberation Notes.


Acting-wise, GILAK. SEMUANYA BAGUS. Tanpa mengecilkan peran yang lain, menurut saya karakter yang paling sulit diperankan di sini adalah Yeom Mi-Jeong, Mr. Gu, dan Appa. Ketiga karakter ini minim dialog dibandingkan karakter lain. Ketiganya lebih banyak bermain di ekspresi wajah dan gestur. Bagaimana mereka membuat penonton mengetahui/ membaca warna emosi mereka hanya dengan melihat wajah mereka—ini bukan perkara mudah.


Akhir kata, seperti halnya saya yang kesulitan menulis opening tulisan ini, pun ketika hendak membuat closing paragraph saya masih kesulitan haduh.


Draft ini nyaris dua bulan saya kerjakan dan hasilnya… entah. Saya tetap saja merasa masih ada yang lupa saya tulis. Menulis drama perfect (dalam kamus per drama an saya) memang seberat ini. Saya berani ngasih skor 10/10 My Liberation Notes untuk genre slice of life. Semua tentang drama ini adalah sempurna. Satu pertanyaan tertinggal, terhadap sosok Park Hae Yeong yang menulis naskah My Liberation Notes, saya sungguh penasaran bagaimana dia menulis cerita tentang manusia dan relasinya dengan dirinya sendiri, dengan manusia lain, dengan segala sesuatu di sekelilingnya, dengan detail emosi yang memiliki kedalaman  pemahaman luar biasa. Bagaimana bisa? LUAR BIASA.


P.s : saya punya alasan sendiri kenapa tidak membahas ‘worship’ nya Mi-Jeong dan Mr. Gu. 



Bagaimana dengan catatan kebebasanmu?

Tabik,

Azz.

2 comments:

  1. Menonton My Liberation Notes bikin aku ngerasa punya temen. Seperti Kak Azz, aku pernah ada di masa-masa tersiram hidupku di mana aku merasa semua orang terasa memuakkan. Aku merasa nggak bahagia. Aku merasa kosong. Aku merasa diriku aneh.

    Menonton MLN bikin aku ngerasa diriku di masa lalu dipeluk lembut, dimaklumi dan dipahami dengan baik. Aku nggak nyangka bahwa ada orang yg paham akan apa yg pernah aku rasakan, dan orang itu, PHY jakka-nim, bener-bener bikin aku ngerasa lega. Lewat MLN, aku jadi paham bahwa apa yg aku rasakan itu manusiawi. Ada orang lain yg juga tau persis rasanya hidup kayak Mi-jeong.

    Aku mau curhat ya, Kak. Karakter paling relate buatku di drama ini, jujur aja, adalah Mi-jeong. Dan waktu aku bahas drama ini sama temen yg menurutku punya kepribadian yg bertolakbelakang denganku, aku agak shock. Dia bilang karakter Mi-jeong itu nyebelin. Pick me girl banget, katanya. Astaga. Aku kaget. Aku langsung mikir apa kalau dia tau cara berpikirku itu hampir sama kayak Mi-jeong, dia bakal bilang begitu juga ya ke aku? :")

    Di situ aku baru paham, kalau ternyata manusia memang punya pola pikirnya sendiri-sendiri. Banyak manusia yg nggak terlalu peka sama perasaan orang lain, pun perasaannya sendiri. Banyak manusia yang hidupnya selalu terasa berat; they live, and they contemplate the meaning of their life, pun ada manusia yang hidup dengan easy going feeling; they and they feel enough. Sayangnya, aku bukan bagian dari golongan yang kedua. Dan MLN bikin aku merasa bahwa aku juga berhak hidup, nggak apa-apa meski aku merasa seperti itu saat menjalaninya.

    Aku nggak sanggup komen untuk karakter lain. Kakak udah kabarin semuanya dengan baik, as always. Apalagi tentang Chang-hee yang juga jadi karakter favorit aku di drama ini. Nggak terhitung berapa kali aku dibikin ketawa sama Chang-hee. Dan unexpectedly, he made me cry a river in the last episodes of this drama. I cried a lot because of him. Bukan karena aku kasian, tapi aku ngerasa orang sebaik Chang-hee juga berhak bahagia. Orang yg peka seperti Chang-hee, juga layak untuk dipahami oleh orang lain.

    Aku berharap banget di akhir episode Changi bisa ketemu lagi sama Mr. Gu, role model-nya, sosok kakak laki-laki yg selalu ia idamkan. Aku agak sedih mereka nggak ketemu lagi. Tapi mungkin di suatu masa, mereka bakal ketemu kan ya? Aku harap begitu. Nanti, saat Chang-hee sudah menjadi versi terbaik dirinya, versi yg bahagia dan merasa ringan menjalankan pekerjaan barunya.

    Kayaknya aku kepanjangan komen. Dan bukannya bahas tulisan kakak, tapi malah curhat gini huhu Maaf ya, kak. Tapi aku mau bahas drama ini sama kakak buat lunasin utang. wkwkwk. Gemes banget dulu pas ongoing nggak ada yg bisa diajak diskusi sedalam ini. :""")

    Aku juga nggak sanggup komen perihal karakter Eomma. :") Nggak sanggup rasanya membahas luka terbesar dalam hidupku. Drama ini berhasil mengejutkan aku dengan bawa konflik ini. Aku nggak nyangka ternyata mereka bakal mengungkap bagaimana sebuah rumah kehilangan ruhnya saat sosok ibu pergi duluan. Dan aku tau benar gimana rasanya. It hurt so much, yet I wanna praise the writer for making such a relatable conflict in a very beautiful yet sorrowfull way.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah nulis "My Liberation Notes seperti wake up call untuk saya" di draft ini tapi kemudian aku hapus.

      Drama ini ngasih kita sudut pandang lain, sudut pandang yang mungkin luput kita gunakan; untuk melihat ke dalam mata kita sendiri, ke dalam mata orang lain. Seperti yang kamu tulis ini, "Di situ aku baru paham, kalau ternyata manusia memang punya pola pikirnya sendiri-sendiri. Banyak manusia yg nggak terlalu peka sama perasaan orang lain, pun perasaannya sendiri. Banyak manusia yang hidupnya selalu terasa berat; they live, and they contemplate the meaning of their life, pun ada manusia yang hidup dengan easy going feeling; they and they feel enough. Sayangnya, aku bukan bagian dari golongan yang kedua. Dan MLN bikin aku merasa bahwa aku juga berhak hidup, nggak apa-apa meski aku merasa seperti itu saat menjalaninya."

      Aku setuju sekali. Dan untuk bisa menerima pemahaman seperti ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memahami diri kita sendiri; semuanya, pada akhirnya memang harus dimulai dari diri kita sendiri. Yang aku rasain selama proses healing sekian tahun ini, hanya setelah aku bisa berdamai dengan diriku sendiri aku bisa pelan-pelan mengubah dan menikmati apa yang namanya menjadi versi terbaik yang kita bisa. Enggak mudah, berat banget. Tapi asalkan kita udah tau arahnya mau ke mana, udah ga bingung lagi, Insya Allah bisa.

      Di tangan kita, ada dua pilihan; mau jadi antagonis atau protagonis bagi diri sendiri. Pilihan itu akan menentukan bagaimana kita melihat diri kita secara utuh. Seringnya kita bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri tanpa pernah berusaha mencari tau tepatkah sikap itu; adilkah?

      My Liberation Notes persis seperti wake up call.

      Saya nggak setuju Mi-Jeong disebut Pick Me Girl. Ga tepat rasanya. Kalo teman-teman kantor Mi-Jeong yang lama mungkin bisa ya disebut seperti itu. Tapi Mi-Jeong? I Guess not, she is not that kind of girl. Mi-Jeong bukan tipikal cewek yang membagus-baguskan diri untuk membuat laki-laki terkesan. Di tongkrongannya, Mi-Jeong bukannya kayak dianggap alien ya? Ga menarik. Penampilannya aja gitu-gitu mulu, datar. Serius, aku bingung bagian mananya yang bikin dia layak disebut Pick Me Girl.

      Aku yakin Mr. Gu dan Chang-hee akan ketemu lagi dalam suasana yang jauh lebih baik. Ini mereka sedang berjuang menjadi versi terbaik diri mereka. :')

      Part Eomma.... ã… .ã… 
      Alfatihah untuk ibuknya Nad. ã… .ã… 
      This part scared me. I wanna hug my mom so tight. I can't imagine my life without her. ã… ã… ã… ã… ã… ã… ã… ã… ã… ã… ã… ã… ã… 

      Nad, kita berhak bahagia. Sungguh, kita berhak. :')

      Delete

Haiii, salam kenal ya. 😊