I*ZONE-Secret Time
Assalamu’alaikum
Helow, temans!
Saya datang dengan postingan baru, dan nggak ada kaitannya dengan drama.
It’s Produce X 101 time! ㅋㅋㅋ
Yo’i! Saya ngikutin ongoing Produce X 101—acara idol survival  yang melibatkan trainee dari sejumlah agensi di Korsel.
Mulanya saya biasa aja sewaktu Mn*t ngeluarin pengumuman bakal ada produce season 4, udah ngjudge duluan acaranya nggak akan jauh-jauh dari drama, seperti season-season sebelumnya. Semacam Produce tanpa drama dan evil editingnya tuh nggak afdol rasanya. Tiga season sebelumnya saya gak ngikutin ongoing, gak donlot juga—saya nonton Producer 101 season 2 setelah acaranya kelar. Deng doang mah yang setia dari season pertama.
Tentang Produce X 101, mood saya seketika berubah TOTAL setelah diumumin Lee Dong Wook yang didapuk jadi MC alias Perwakilan Produser Nasional/Daepyonim. Saya SUKA Lee Dong Wook, ditambah saat pengumuman itu keluar, saya lagi ngikutin Touch Your Heart, dramanya yang kala itu sedang tayang di tvN. Demi Lee Dong Wook saya udah niat banget bakal ngikutin Produce X 101. Bukan karena trainee-trainee nya, tapi MC nya HAHAHAHA. Ama Seung Gi kok gak seniat ini ya di Produce 48? *facepalm* ㅋㅋㅋㅋ
Kira-kira dua pekan dari sekarang M*net akan menayangkan final episode Produce X 101. Karena ini kali pertama saya bener-bener ngikutin setiap episode ongoing-nya, banyak sekali uneg-uneg yang pengen saya keluarin, di twitter ga akan muat menampung itu semua HAHAHAHA. Dan mohon dipahami bahwa, apa pun yang saya tulis nanti semuanya beradasarkan opini pribadi. Dibawa nyantai aja bacanya *jaga-jaga aja kalau ada yang nyasar ke mari dan ga setuju isi postingan saya* HEHE.
Sebelum episode 5-6, saya masih no hard feeling ke Produce X 101. Masih kalem menanggapi siapa aja yang tereliminasi. Giliran trainee-nya makin dikit, bonding yang saya rasakan terhadap acara ini menguat.
Things I Love about Produce X 101
They work really hard
Saya selalu ngerasa takjub dengan kerja keras yang ditunjukkan para trainee di Produce, di season dua juga kayak gitu. They work really... really hard. Di episode satu PD X, saya dibuat terharu oleh anak-anak di kelas X. Jadi, anak-anak yang nggak lolos di evaluasi kelas dimasukkin di kelas ini di mana mereka memulai semuanya dari teknik dasar; nyanyi, dance. Saya beneran dibikin melo liat mereka berlatih keras menarikan dan menyanyikan _X1MA, theme song PD X 101. Kenapa saya melihat kelas X dengan sudut pandang berbeda? Dari segi skill mereka tidak bisa dibandingkan dengan anak-anak di kelas lain, mereka masih di bawah menurut para trainer. Dan untuk bisa lolos ke tahap berikutnya, tidak ada pilihan lain kecuali berlatih lebih giat lagi melebihi trainee di kelas A.
Selama mengikuti PD X, banyak sekali saya membaca komentar-komentar negatif yang ditujukkan kepada trainee yang di mata netijen tidak punya bakat, hanya bermodal tampang, dsb... tapi melesat di ranking atas. Saya punya pandangan lain soal ini. Misalnya Kim Min Kyu yang di pengumuman ranking pertama dia berada di posisi pertama. Dilihat dari ekspresinya, Min Kyu aja kaget kok bisa dia dapet ranking pertama. Dia tuh nyadar skill –nya masih kurang banget untuk bisa berada di posisi teratas. Netijen pun rame-rame ngebuli, bilang dia enggak pantes lah, bla bla bla.... Kesalahan pertama kita adalah saat membandingkan Min Kyu dengan trainee yang sudah bertahun-tahun menjadi trainee, atau dengan trainee yang sudah pernah debut.
Ada ucapan yang dilontarkan Cho Seung Yeon kepada Lee Se Jin di episode 3 yang membuat saya pengen ngajak Seung Yeon high five saking setujunya sama ucapan dia. Saat itu Se Jin mengalami kesulitan mengimbangi teman-teman se-grupnya. Dia selalu tertinggal sendiri dalam hal dance dan menyanyi. Karena terus-terusan seperti itu, ia pun merasa tertekan luar biasa.
“The gap between our competence is inevitable. We’ve been practicing for nine years already, so of course you’ll struggle. So what if the others are slightly disappointed in you? So what if you’re not doing too well? Despite all that, you’re giving your all. You’re still persevering.”  -Cho Seung Yeon
I love him so much.
Seung Yeon benar. Kita enggak seharusnya ngebanding-bandingin trainee satu dengan lainnya. Soal kerja keras, level-nya sama. Semua trainee yang ikut di PD X bekerja keras. Tapi kompetensi, skill, antara trainee yang sudah bertahun-tahun mengikuti training, dan trainee yang belum lama di-training, jelas berbeda jauh. It’s inevitable kata Seung Yeon.
Saya bisa ngerasain beban berat Min Kyu, rankingnya yang tinggi sebelum akhirnya jatuh di posisi 10 di episode 8 membuatnya tertekan luar biasa. Di saat banyak yang memprotes screen time-nya di episode 9, saya merasa kasihan. Dia lelah mental dan fisik. Saya yakin sekali dia membaca komentar-komentar tentang dirinya di internet. Nggak kebayang berada di posisi dia. Dia juga ingin menunjukkan apa yang dia bisa, tapi sekali lagi kompetensi dan skill yang sudah dilatih bertahun-tahun tidak bisa berbohong. Tak terhindarkan.
Perbedaan Yoo Seon Ho dan Min Kyu adalah, Min Kyu melesat ke posisi pertama di saat ia belum siap, secara mental dan skill. Itulah yang melahirkan kritikan. Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah bekerja ekstra keras, lebih dari apa yang sudah dilakukannya.
Saya salut dengan mindset dan mental yang dimiliki Min Kyu. Vibe-nya positif. Akademiknya juga bagus. Oya, Min Kyu ini anak band, posisinya di drummer. Kayaknya bisa main gitar juga. Dia belum terbiasa nge-dance sambil nyanyi. Yakin deh saya, tidak lama lagi, dengan mindset dan mental kuat yang dimilikinya Min Kyu bisa ngebuktiin dia berhak berada di posisi tinggi. Wish him luck! Fighting, Min Kyu-ah... Ngebayangin di kelas saya ada yang modelnya kayak Min Kyu ini huhuhu bakal jadi kesayangan *WOIIII*
DUH, saya ini tipe penonton yang mudah terharu. Kayaknya emang nggak cocok nonton PD X, udah pada taulah acara ini banyak dramanya. Tapi gimana dong udah kadung nonton ga bisa gitu aja ditinggalin. UDAH TERLANJUR SAYANG BANGET SAMA SEMUA TRAINEE. I TRULY DO
This kids show me how supportive they are...
Produce X 101adalah sebuah kompetisi yang di akhir perjalanannya nanti akan ada yang menang, dan akan ada yang kalah. Persaingan ketat adalah sesuatu yang biasa dalam sebuh kompetisi. Namun alih-alih memperlihatkan persaingan di antara trainee, saya justru berkali-kali dibuat terharu melihat keakraban dan saling dukung yang terjalin di Produce X. Sesuatu yang juga saya rasakan ketika menonton Produce season 2. Sekali lagi saya ngaku, saya ini orang yang melankolik abis, dipancing momen seperti itu langsung deh melo baper .
Di preview ep 10—yang ternyata ga ditayangin—terlihat Yunseong, Wooseok, Jin Hyuk, Byungchan membantu tim Monday to Sunday memperbaiki dance mereka. Bisa aja mereka ngebiarin tim MontoSun kesulitan, tapi karena mereka punya kepedulian satu sama lain, (mungkin) bagi anak-anak ini, urusan bersaing nomor kesekian. Semua tim bisa menampilkan performanya dengan baik adalah tujuan utama.
Momen lain, ketika mic nya Yu Vin mati saat nyanyi Lullaby di evaluasi X, melihat Kookheon rekan se-agensinya tidak bisa menahan tangisnya. Ia menyesalkan situasi tersebut. Padahal di saat yang sama dia berada di tim Girls Girls Girls yang menjadi lawan tim-nya Yu Vin. Kookheon dan tim-nya kemudian ngasih kesempatan kedua untuk tim Lullaby menampilkan kembali perform nya mereka. Sebenernyaa bukan cuma Kookheon yang panik, trainee lain dan trainer juga. Dikasih tontonan kayak gini siapa yang gak terharu coba?! .
Pokoknya banyak banget deh momen mengharukan di Produce X 101 yang bikin kita sesaat lupa kalau acara itu adalah ajang kompetisi.
We love our friends!
Han Seung Woo-Son Dong Pyo.
Hwang Yunseong-Keum Dong Hyun
Cha Junho-Kim Yohan
Song Hyun Jung-Kim Min Kyu
Hayoook siapa lagi...?
.... buanyaaakkk banget trainee yang dateng ke Produce selain jadi peserta, sekalian nyari temen yang banyak, eh ada juga ding yang nyambi jadi trainer, jadi bapak-bapak muda juga adaaa ㅋㅋㅋㅋ
Deng, adek bungsu saya itu ngikutin semua jenis acara idol survival di Koriya : Produce 1, 2, 3, 4, Under Nineteen, The Unit—pokoknya semuanya dia ikutin. Berbeda dengan Deng, saya lebih ngeklik Produce versi cowok ketimbang cewek. Sama halnya ketika nge-stan idol group, dua boyband terakhir saya stan adalah MBLAQ, dan  BTOB. Soal selera aja kali ya. Sebenarnya saya punya alasan yang lebih spesifik tapi gak akan saya tulis ini, kuatir menyinggung gender bla bla bla...
Ngeliat para trainee saling becanda, nge-tease satu sama lain, saling nyemangatin, saya ikutan hepi dan lagi lagi lupa kalau Produce adalah sebuah ajang kompetisi. Cowok kan umumnya easy going ya, gak banyak drama, gak  banyak layer, jadi apa yang mereka tunjukkan itulah apa adanya mereka. 

Bunch of clowns
Banyak badut di Produce X 101.
Di episode 5, setelah dikomporin Han Gyul, Cho Seung Yeon dengan percaya dirinya niruin gaya ngomongnya Ahn PD—asli kocak banget, sampe saya ulang berkali-kali pun tetap ngakak, mana Sejin dan Sung Joon (kalau nggak salah) tepuk tangan heboh sambil ngakak ngeliatin tingkah Seung Yeon. Seung Yeon ini emang udah gesrek dari orok kali ya, hobinya bikin ketawa orang, baik banget anaknya. Waktu di ep 8 Min Kyu diumumkan peringkatnya merosot ke nomor 10, semua pada shock kaget, pada nganga ga percaya, Haa-hooo haaaa-hooo semua, ekspresi semua trainee “what the h*ck! Is this even real?” ㅋㅋㅋㅋ Seung Yeon lah yang nyeletuk dari atas tempat duduknya nyuruh temen-temennya meluk Min Kyu, baru deh pada nyadar. Energinya Seung Yeon kayak nggak ada abisnya. Unlimited  ㅋㅋㅋㅋ. Kalau ada poling siapa trainee favorit, saya yakin namanya akan masuk. Udah lucu parah, asik, baik, peduli, jago nge-rap, nyanyi bisa, dance apa lagi, OKE—udah cocoklah debut *eh* wkwkwk.
Jadi saya tuh belum lama nyadar kalau Song Yu Vin itu lawak abis orangnya. Lucu. Celetukan-celetukannya itu loh HAHAHAHA. Itu tuh, waktu Choi Su Hwan ngelawan Kim Hyun Min adu panco. Si Hyun Min nge-tease ukuran tubuh Su Hwan yang agak pendek dibanding trainee lainnya. Nah, Yu Vin yang se-tim sama Su Hwan malah nyautin Hyun Min, “he is already short.” Su Hwan-nya kaget dong. Dia tim gue apa bukan sik? Kok malah ikut ngejatuhin.  Gitu reaksinya Su Hwan. Ini becandaan doang kok, Su Hwan-Yu Vin deket. Mereka satu tim mulu, di kelas A sama, evaluasi X sampe evaluasi konsep, ill-fated relationship katanya Su Hwan HAHAHAHA. Bakalan nangis heboh saya kalau salah satu di antara dua orang ini ter-eliminasi Jumat depan. . /dan saya tetap akan nangis siapapun yang ter-eliminasi nanti, sayang banget 31 trainee yang masih tersisa .
CHOI BYUNG CHAN, our king of meme!  Byung Chan is a living meme HAHAHAHAHA.
Ini bocah atu bener-bener deh. Tinggi menjulang tapi kelakuan kiyowoooo, kacao. Trus saking gesreknya masa ada yang bilang dia nyambi jadi penonton bayaran di Produce X HAHAHAHA. Gara-garanya Byung Chan selalu bereaksi terhadap apa aja! Entah tepuk tangan heboh, nganga, nyeletuk lucu, apa aja deh, dan dia suka enggak nyadar kamera. Ekspresif anaknya.
Lee Dong Wook, Our Daepyonim!
Saya nggak ngikutin Produce Season 1, dan Produce 48, sedang Produce Season 2 saya tonton setelah perhelatannya selesai di Korea. Tanpa bermaksud mengerdilkan previous MC di season sebelumnya, saya ngerasa yang paling TOP dan favorit emang udah Lee Dong Wook. Perhatian dia ke anak-anak Produce gak semata hubungan pekerjaan dia sebagai MC. Keliatan banget dia peduli, bener-bener peduli sama anak-anak Produce. Dia ngikutin dengan seksama perkembangan seluruh trainee, memahami kesulitan-kesulitan mereka. Lee Dong Wook menepati janjinya di episode. Dia ingin anak-anak Produce memperlakukannya seperti “Hyung”.
Terharu banget waktu dia hadir menyemangati Lee Jin Hyuk yang kesulitan menangani tim Turtle Ship-nya di evaluasi posisi. Saya yakin kedatangannya saat itu tidak hanya untuk Jin Hyuk, ia menemui semua anak-anak Produce cuman yang diliatin ke kita Jin Hyuk doang. Tak hanya sekali-dua kali Lee Dong Wook tertangkap kamera sedang menyemangati para trainee. Makanya semua trainee sayang banget sama Daepyonim. Entah saya doang yang kelewat lebay, saya bener-bener bisa merasakan ketulusan Lee Dong Wook ke anak-anak Produce. Lee Dong Wook is warm and friendly. Such a caring person. Thats why I love him even more...
The Things I Hate About Produce X 101
Evil Editing
HUH.
THOSE. DA*N. EVIL. EDITING.
Kayaknya yang nggak kalah terkenal di kalangan fans Produce selain trainee-nya adalah ini—evil editing. Apa pun alasannya, jelas ini salah. Banyak trainee merasa diperlakukan secara tidak adil. Banyak ucapan-ucapan trainee yang dipotong dan dikesankan negative sehingga mengundang reaksi publik. PD-nya berlaku semena-mena. Kalau hasilnya lucu sih (mungkin) nggak masalah, tapi gimana kalau konten cut-nya ngerugiin trainee bersangkutan?
Baru-baru ini, di episode 10, Kim Wooseok jadi korbannya Ahn PD (atau siapapun yang ngedit). Dikesankan seolah-olah Wooseok ini antagonis. Ditambah matanya Wooseok kalu enggak senyum kan agak nyeremin ya, dingin gitu, yaudahlah diabisin sama PD-nya. Di episode sebelumnya juga, sewaktu Dong Yun masuk kembali ke base usai menerima wild card, semua tim diminta mendiskusikan apakah mereka akan menerima Dong Yun di tim mereka atau enggak, semua tim kecuali MontoSun nolak. Nah, saya kan sempet KESEL luar biasa ke tim Pretty Girl gara-gara mereka nendang Min Kyu dari tim, main kesel lagi mereka nggak nerima Dong Yun (sebelum dia tereliminasi dia masuk tim ini), di tim U Got It nggak kalah ngeselinnya juga. Terus terang saya sempet ngerasa gimanaaa gitu sama tanggapannya Wooseok soal tim mau nerima Dong Yun apa enggak—baru belakangan saya mikir mungkin nggak ya ada pengaruh dari evil editing? Evil editing memiliki kemampuan mengubah opini publik terhadap trainee—terlebih yang non-fans. Yang tadinya enggak suka bisa makin enggak suka.
Saya sadar kekesalan saya itu dipicu Min Kyu yang dikeluarkan dari tim Pretty Girl. Tim itu kelebihan anggota sehingga harus dikeluarkan dan kemudian orang-orang yang dikeluarkan ini akan mengisi tim lain yang anggotanya masih kurang usai eliminasi kedua. Saya kemudian mencoba memahami alur berpikir para trainee yang menolak Dong Yun. Tim mereka rata-rata udah mulai solid, dan jika mereka menerima anggota baru maka itu berarti akan terjadi perombakan formasi, hampir dipastikan mereka memulai dari nol, akan terjadi banyak penyesuaian, sedang waktu untuk perform semakin dekat, itulah yang menjadi alasan mereka menolak Dong Yun. Masuk akal.
Zoom in zoom out
Annoying!
Saking keselnya, ada fans yang bela-belain bikin video editan Produce pake effect serial India beserta editing zoom in zoom out-nya yang fenomenal itu HAHAHAHAHA ampun dah. PD-nim, we are tired. Its enough, OK? And we already know that he wont listen our concern LOL. Karena tiap season keluhan fans ya yang itu-itu saja.
Sreentime
Setelah evil editing, ada perbedaan pemberian sreentime terhadap para trainee hingga memunculkan spekulasi di kalangan fans ada sistem PD’s pick. Ada trainee yang jadi favoritnya PD. Saya nggak mau ikut berspekulasi. Tapi emang ada beberapa trainee yang pengen banget saya liat perkembangannya tapi gak diliatin. Contohnya, Hwang Yunseong yang udah dua kali jadi leader tim tapi enggak pernah dikasih liat gimana prosesnya dia dipilih jadi tim, dan gimana caranya nanganin anggota tim-nya. Itu hanya satu contoh, banyak sekali trainee berbakat yang gak kesorot ga kebagian screen time dan akhirnya keburu tereliminasi—its a pity. HMMM, emang agak sulit sih ngebagi screentime untuk 101 trainee. Sebagai PD harus jeli masukin scene yang bisa mengambil perhatian viewers. Kayaknya sih PD-nya Produce doyan ngebikin drama melo atau gak yang ala-ala makjang di acaranya pake zoom in zoom out. Entah dugaan PD’s pick itu bener atau enggak, yang mungkin mendekati kebenaran adalah.... PD-nya jelas hanya akan menampilkan scene yang berpeluang besar menciptakan drama. Dan sebagian viewers menyuka drama.  FIUHHHHHH bikin suujon ajaa nih acara .
Satu hal yang saya sadari selama mengikuti Produce X 101, menjadi idol telah menjadi mimpi banyak anak-anak di Korea. Melihat betapa desperate-nya mereka untuk debut, menjalani masa-masa trainee yang panjang dan seolah tanpa ujung itu, lalu kita menyaksikan begitu banyak grup-grup yang debut setiap tahun dan hanya satu atau dua grup yang survive, terkenal. Setelah debut tidak lantas menjadi akhir perjuangan mereka. Menjadi idol adalah sebuah perjalanan panjang yang akhirnya tidak bisa ditebak akan seperti apa. *let me take a deep sigh*
Kadang saya bertanya-tanya sendiri, kenapa banyak oknum yang memilih jalan yang kemudian merusak karir yang sudah dibangunnya dari nol dengan susah payah itu? Apakah tersebab ia telah melupakan bagaimana rasanya dulu menjadi seseorang yang deperate mengejar mimpi? Ataukah perjalanan  yang ia tempuh terlalu jauh dan sunyi hingga membuatnya hilang arah?
Pemberitaan dunia ent Korea akhir-akhir ini bikin saya kehilangan kepercayaan. Saya jadi mudah curiga bahkan kepada aktor atau idol yang saya sukai. Saya memilih menjadi casual fans sajalah. Saya gak akan tabah manakala dark side kehidupan K.ent wabilkhusus artis-artis yang saya sukai terkuak ke publik. Kita udah sama-sama taulah ga di mana-mana dunia artis itu gak se-indah yang ditampakkan di layar tivi.
Jauh di dalam hati saya, kepada anak-anak Produce X 101, saya berharap kelak jika kesuksesan itu datang kepada mereka, anak-anak itu tidak akan melupakan perjuangan berat yang harus mereka lalui demi kesuksesan itu sendiri. Saya benar-benar berharap mereka semua sukses. Semuanya. Tanpa terkecuali.
bersambung setelah pesan-pesan berikut ini
ㅋㅋㅋㅋㅋ
Please open this link and watch, you'll have a good laugh! Trust me and thank me later.

[Trivia] Produce X 101 Part 1

by on 7/10/2019 04:18:00 AM
ㅡ I*ZONE-Secret Time ♪ ㅡ Assalamu’alaikum ㅡ Helow, temans! Saya datang dengan postingan baru, dan nggak ada kaitannya dengan dram...

Ketika saya menulis draft postingan ini, belum genap dua belas jam sejak Touch Your Heart tamat, dan saya masih konsisten kangenin drama yang mengusung genre romantic comedy ini. Setiap kali buka internet, yang dikunjungi sudah pasti main thread Touch Your Heart di forum Soompi, Official thread Ointment couple juga di forum Soompi, dan tak lupa pula saya menelusuri twit-twit bertagar #TouchYourHeart di Twitter demi melihat bagaimana reaksi orang-orang setelah drama ini berakhir. Touch Your Heart meninggalkan kesan yang bagus bagi saya. Saya nggak akan membuat POV drama ini, sebab itulah saya membuat postingan ini. Isinya tentu saja tidak akan jauh dari alasan apa saja yang membuat saya enjoy nonton Touch Your Heart.
Sebelumnya saya cukup lama menarik diri dari K-dramaland. Nggak ada alasan spesifik. Bukan lantaran saya sibuk di real life, saya emang lagi males aja nonton drakor. Saya tetap nonton kok—J-movies, manga, film barat, dan film Indonesia banyak yang saya lahap saat hiatus dari drakor. Bersamaan dengan itu, saya juga turut meliburkan MS. Di twitter saya jarang nongol (saking niatnya nih aplikasi twitter di ponsel saya uninstall ㅋㅋㅋ). Akibatnya ya... saya nggak update drama apa saja yang sedang tayang.
Saya memulai comeback saya dengan menonton Coffee Friends, Reality Show  yang dikerjakan Na PD bekerja sama dengan Yoo Yeon Seok dan Son Ho Jun. Sekira dua-tiga pekan kemudian, saya mulai mendonlot beberapa ongoing drama antara lain Romance is a Bonus Book (tvN), The Fiery Priest (SBS), daaaan Touch Your Heart (tvN). Waktu itu, Touch Your Heart sudah menayangkan 8 dari jumlah total 16 episode. First Impression saya, dramanya ringan, lucu, unyu, ngegemesin, main lead dan supporting role nya likeable.
Touch Your Heart mengisahkan tentang Oh Yeon Seo/Oh Jin Shim, seorang aktris populer yang terpaksa hiatus dari dunia showbiz setelah tersandung kasus narkoba. Meskipun ia terbukti tidak bersalah, ia tidak menggunakan obat-obatan terlarang, dan hanya menjadi korban seorang chaebol kaya yang terobsesi pada dirinya, namun karena besarnya tekanan publik yang datang kepadanya disusul komentar-komentar kebencian dari netizen, berbanding lurus dengan karir keartisan yang menurun tajam. Dua tahun tanpa tawaran job dari produksi drama, dan iklan. Itulah yang dijalani Yeon Seo. Lalu datanglah sebuah tawaran yang dinanti-nantikannya, sebuah peran utama dari screen writer populer, namun tawaran tersebut dibarengi dengan satu syarat. Demi pendalaman karakter, Oh Yeon Seo harus menjalani magang selama tiga bulan di sebuah Firma Hukum. Agensinya memilih Firma Hukum Always, dikarenakan CEO agensi-nya Oh Yeon Seo sepupu-an sama CEO-nya Always. Jadi gampang ngejagain Oh Yeon Seo.
Melalui Always, aneka macam pengalaman membantu Oh Yeon Seo dan Kwon Jung Rok saling mengenal satu sama lain, dan pada akhirnya itu pula yang mengembalikan Oh Yeon Seo kepada dunia yang dicintainya selama ini—akting.
Di Always, dari tiga pengacara yang bekerja di sana, ada satu yang dianggap sebagai Ace-nya Always. Persentase kemenangannya di pengadilan paling tinggi. Ganteng, cuman sayangnya menurut kabar yang beredar, si pengacara ini rada kaku, jarang senyum, nggak suka basa-basi, trus kalau ngomong tuh sesuai aturan yang berlaku alias bahasanya resmi abis (kalo Indo semacam mengikuti aturan berbasaha yang baik dan benar). Pokoknya narasinya tuh doi nyebelin banget banget. Kalau ada dia, suasana yang tadinya cerah ceria bakalan awkward.
Namanya Kwon Jung Rok. Kwon Byeonsa-nim,  dipanggilnya gitu.
Daaaaan guess what?  Di Always, Oh Yeon Seo dapet tugas magang sebagai sekretarisnya Kwon byeonsa-nim! Mantep nggak tuh? Coba aja bayangin gimana jadinya jika karakter bubble kayak Oh Yeon Seo ketemu Kwon Jung Rok, si kaku yang level awkward-nya bisa bisa nembus 110 persen! Gimana? Udah ngebayangin? Apakah persis seperti yang saya bayangkan? Touch Your Heart nggak akan jauh-jauh dari romcom drakor yang udah pernah ada. Paling Kwon Jung Rok dan Oh Yeon Seo akan dibikin saling benci awalnya trus bagian pertengahan dramanya mereka saling jatuh cinta... Udah kadung terbentuk drama ini nggak jauh beda dari romcom yang pernah ada, saya menyangka Kwon Jung Ruk itu tipe pemeran utama pria yang sejenis bad boy—sok galak tapi lembut di dalem. Awalnya udah underestimate banget deh sama Kwon byeonsa-nim, saya pikir kalau emang bener karakternya yang sok kasar di luar tapi lembut di dalem, berarti nggak ada yang baru dong romcomnya. Eng ing eeeeng, pas nyoba dua episode perdana dengan ekpektasi biasa—penilaian awal saya sebelum nonton dramanya langsung jungkir balik HAHAHAHA. I really love this drama!  Di saat banyak yang bilang dramanya klise, biasa aja bla bla bla... saya justru bisa menangkap sisi lain Touch Your Heart—yang mungkin akan sulit saya temukan di drama lain.
Karakter Oh Yeon Seo dan Kwon Jung Rok masing-masing diperankan oleh Yoo In Na dan Lee Dong Wook. Yang ngikutin kisah cinta memilukan Wang Yeo-Sunny di Goblin pasti banyak yang nonton Touch Your Heart. Well, nggak bisa bohong sih kalau chemistry Lee Dong Wook dan Yoo In Na tuh bagus banget. Malah nih lebih ngegemesin di behind the scene nya loooh ketimbang di dramanya sendiri ㅋㅋㅋㅋ. Ada twist menarik beredar di kalangan kdramalover yang menyukai kisah Wang Yeo-Sunny di Goblin, di situ kan diceritain Wang Yeo dan Sunny nggak bisa bersatu, narasi yang berlanjut adalah semacam harapan semoga di kehidupan berikutnya (reinkarnasi) keduanya bisa bersatu dan bahagia. Nah, di Touch Your Heart inilah narasi itu diwujudkan. Sweet kaaaaan? Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Jadi, yang pengen re-watch Goblin, nggak perlu khawatir ngebaperin Wang Yeo-Sunny lagi dan lagi, kan bisa segera dilanjutkan dengan kisah Jung Rok-Jin Shim. Dijamin bapernya langsung ilang tuntas tas tas HAHAHAHA.
Pertanyaan paling dasar, apa sih yang bikin saya—si penonton yang sering banget ngedrop drama romance/romcom karena alasan aneh, kali ini membetahkan diri ngikutin Touch Your Heart dengan senang hati?
CHEMISTRY.
Ngomongin chemistry, maka fokus bahasannya hanya atau paling banyak akan berkisar pada main leads-nya. Iya nggak? Tapi, di Touch Your Heart, sangat nggak adil kalau kita cuman ngomongin Kwon Jung Rok dan Oh Yeon Seo-nya doang. Soalnya nih, di Touch Your Heart supporting role-nya juga ngasih sumbangsih yang besar banget dalam mengidupkan sisi komedi dramanya. Mulai dari Hyuk Joon, managernya Oh Yeon Seo, Yeon Joon Seok—CEO agensinya, sampe ke orang-orang di Firma hukum Always. Ada Yeon Joon Kyu, CEO nya, bos-nya Kwon Byeonsa-nim  yang—astaga gokil gila HAHAHAHA. As I remember he is the funniest CEO I’ve ever seen in Kdramaland, like.. apapun yang dia lakuin, apapun yang dia omongin, ujung-ujungnya pasti bikin ngakak, apalagi kalau udah ketemu sepupunya, CEO agensinya Oh Yeon Seo—namanya doang CEO, tapi kelakuan sama-sama bocah HAHAHAHA. Pokoknya nonton mereka, siap-siap sakit perut gara-gara ngakak.
Selain Kwon Jung Rok, di Always ada juga lawyer lain. Choi byeonsa-nim, si Mama Boy yang selalu tampil rapi jali, (sok) elegan, dan punya tingkat kepedean yang mengkhawatirkan (baca; malu-maluin) HAHAHA. Hobi banget ngejual kualitas diri alias sok pamer—narsis level planet Uranus.
Kemudian ada Dan byeonsa-nim. Satu-satunya lawyer cewek di Always. Dalam sehari dia bisa lebih dari tiga kali jatuh hati kepada pria berbeda yang ditemuinya. Heol. Semudah ia jatuh cinta, secepat ia patah hati, dan secepat itu pula ia me-recovery hatinya hanya untuk jatuh cinta lagi dan lagiㅋㅋㅋㅋ Choi byeonsa-nim demeeen banget ngejekin dan ngetawain Dan byeonsa-nim. Tapi beberapa kali juga nolongin, makanya nggak heran bila akhirnya mereka ada apa-apa di kemudian hari. Kan ada tuh omongan yang bilang hati-hati kalau punya rasa nggak suka sama orang, nggak ada yang tahu apa yang terjadi besok-besok. Side story Choi-Dan ini ngehibur banget. Chemistry nya dapet banget. Lawak. HAHAHAHA.
Masih di Always, ada karyawan lain. Lee Doo Seob, mantan detective yang sekarang bekerja sebagai konsultan di Always. Wajah doang serem, tapi hati smooth. Kata-kata yang diucapkan mendayu-dayu dan seringkali bernada puitis. Kalau dia udah ngomong, yang lain suka nggak sadar saling tatap seolah-olah pengen bilang ‘hentikan kata-kata menggelikan itu, paaaak sebelum kita muntah berjamaah nih!’ ㅋㅋㅋ. sejak mulai bekerja di Always, Lee Doo Seob diam-diam menyimpan rasa sukanya pada Yang Eun Ji, salah satu sekretaris (kalau nggak salah ya) di Always.
The Squad!
Dari sekian drama ber-genre Law dengan latar pengacara, tidak bisa dipungkiri kesan seriusnya begitu menonjol—paling tidak kasus yang diangkat cukup rumit. Di Always, kita nggak akan menemukan itu. Kasus-kasusnya masuk level tengah. Mungkin karena sedari awal udah ditegasin kali ya kalau genre Touch Your Heart adalah romcom. Setting dunia hukumnya cuman pelengkap/pendukung aja, gitu. Jadi sedari awal kita sebagai penonton diwanti-wanti agar jangan mengharap sesuatu yang serius dan menegangkan dari drama ini. Oya, Always family paling sering makan siang bareng. Adaaa aja obrolan mereka yang bikin ketawa, udah pastilah pencetusnya siapa—CEO Yeon dong! Materi omongan CEO Yeon tuh suka ajaib-ajaib deh. Nggak maksud ngelucu tapi lucu. Kayaknya emang udah dari orok punya bakat bikin orang ketawa.  
Selain di Always dan agensi Yeon Ent. ada pula karakter lain. Kwon Jung Rok punya dua sahabat sejak kuliah, Kim Se Won dan Yoo Yeo Reum. Dua-duanya berprofesi sebagai jaksa. Dan mereka terlibat hubungan yang rumit—Se Won dan Yeo Reum pernah berpacaran, tapi karena satu kejadian di masa lalu sehingga menyebabkan hubungan mereka menjadi dingin. Saya nggak bisa ngomentarin banyak soal chemistry Se Won-Yeo Reum, scene mereka sedikit. Padahal bisa aja sih kisah mereka lebih di-eksplore seperti Choi-Dan. Saya malah lebih terdistraksi chemistry bromance nya Se Won-Jung Rok yang lucu. Jung Rok nggak punya pengalaman jika itu berhubungan dengan perempuan, Se Won-lah tempatnya meminta saran. Lucu aja ngeliat Se Won nyinyirin atau ngomelin kekakuannya Jung Rok.
Chemistry yang terjalin antara supporting role dan lead character-nya di Touch Your Heart bagus banget. Setiap tokoh punya warnanya masing-masing—sekecil apa pun porsi scene yang dimiliknya. Mereka mudah diingat. Kita bahkan masih bisa me-reply kembali scene-scene mereka di dalam kepala kita sambil tetap bisa tertawa.
Saya pernah beberapa kali membaca komentar di kolom search Twitter mengenai Touch Your Heart—bahwa drama ini membosankan, plotnya berantakan, childish, dan masih banyak lagi komentar lainnya yang memandang miring drama yang mengambil slot tayang Rabu-Kamis ini. Saya tidak mau menyalahkan pendapat orang lain, jika itu yang mereka rasakan terhadap drama ini, its okay. Pada dasarnya, seringkali kekecewaan lahir akibat ekspektasi yang tinggi terhadap sesuatu. Saat apa yang diharapkan tidak terjadi, berbondong-bondonglah kata-kata negatif menyembur dari mulut kita. Dan saya melihat itu terjadi pada Touch Your Heart. Banyak viewers yang menaruh harapan besar pada drama ini, antara lain karena drama ini merupakan drama reuni Lee Dong Wook dan Yoo In Na setelah sebelumnya couple ini telah berhasil memporak-porandakan hati banyak penonton melalui karakter mereka di Goblin.
Saya tidak tahu ekspektasi seperti apa yang dicurahkan orangorang kepada Touch Your Heart, tapi sebagai orang yang belakangan menonton drama ini setelah separuh dari total jumlah episodenya ditayangkan, saya cukup enjoy menikmati setiap episodenya. This drama has given me a great laughter for the past eight weeks. I trully enjoying my time. Untuk orang yang tidak menyelesaikan What’s Wrong With Secretary Kim (WWWS), saya cukup terkejut mendapati diri saya begitu setia pada Touch Your Heart, padahal dua-duanya mengusung genre yang sama. Romcom. Dan dua drama ini juga disutradai orang yang sama—Park Joon Hwa. Berbeda dengan sebagian besar penonton, saya tidak bisa memaksa mood nonton saya bertahan dengan WWWS. Saya menyukai genre romance, tapi tidak semua drama/film atau buku ber-genre romance saya tonton atau baca.
Menurut saya Touch Your Heart berhasil menarasikan genre romcom dengan baik tanpa melepaskan aspek-aspek lain yang menjadikan drama ini tidak selesai dibahas hanya sebatas pada sisi romcomnya.
Kehidupan Oh Yeon Seo sebagai artis.
Public figure, khususnya artis, tidak bisa jauh dari penilaian netizen. Mereka seperti dua sisi mata uang. Yang datang kepada artis bukan hanya komentar positif, tapi juga negatif. Mungkin ada sebagian netizen yang berpikir bahwa komentar negatif/jahat/kebencian kepada artis itu wajar, itu adalah satu dari sekian banyak resiko yang harus dihadapi. Telan saja. Kalau ndak mau dikomentari ya ndak usah jadi artis aja. Pada titik ini kita lupa, terlepas dari jubah keartisan, mereka juga manusia biasa, sama seperti kita. Kritik negatif dengan tujuan membully, atau menjatuhkan dengan kata-kata kasar di luar kepantasan akan berdampak buruk pada perkembangan mental seseorang, tidak peduli ia artis atau bukan.
Sebagai artis, Oh Yeon Seo sudah kenyang dengan cyber bully. Ketika Kwon byeonsa-nim menangani sebuah kasus cyber bully yang menimpa seorang pemilik toko macaroon, pemilik toko tersebut bercerita bahwa sejak menerima komentar negatif, ia sering mengalami mimpi buruk. Ia penasaran bagaimana para artis yang ia lihat di tv bisa bertahan dengan semua komentar jahat yang mereka terima di internet. Oh Yeon Seo mengalaminya. Bagaimana ia mencoba bertahan dari komentar-komentar kebencian itu, dan betapa komentar kebencian itu memengaruhi dirinya, seperti teror mengerikan yang terus menerus datang kepadanya. Oh Yeon Seo pernah mencoba menuntut para netizen yang mengirimkan komentar kebencian di internet, namun setelah ia menemui orang-orang itu, ia terkejut mendapati kenyataan mereka ada siswa, ibu-ibu yang memiliki anak dsb... dan itu membuatnya menarik kembali tuntutannya.
Saya tidak mau menghakimi, tapi satu hal yang saya pahami—kita tidak punya hak melemparkan emosi kepada orang lain (termasuk apakah  orang lain itu adalah artis atau bukan), atas kemalangan atau ketidakberuntungan yang datang kepada kita. Saya masih tidak habis pikir dengan orang yang begitu mudah memaki, menghina, atau mengirim komentar kebencian kepada orang lain di sosmed. Meskipun (mungkin) si pengirim itu memiliki latar belakang kehidupan yang tidak membahagiakan—itu tidak lantas menjadikan tindakannya benar atau bisa diterima dengan sebuah kompromi.
Setelah kasus menghebohkan yang menimpa sejumlah penyanyi pria di Korea beberapa pekan lalu, sejujurnya saya mengalami degradasi kepercayaan yang luar biasa parah kepada mereka yang dilabeli artis. Saya mengkhawatirkan bagaimana cara saya menilai artis selama ini, saya menjadi lebih hati-hati dan enggan berekspektasi. Namun tetap saja pada karakter Oh Yeon Seo saya bisa membaca sisi lain seorang artis. Sekali lagi mereka manusia yang sama biasanya dengan kita.
Healthy relationship
Unyu-unyu, ngegemesin, bikin yang nonton meluk guling sambil senyam-senyum gaje—itulah yang dilakukan couple Jung Rok dan Yeon Seo kepada penonton, termasuk saya.
Di Asianwiki ditulis kalau karakter Kwon Jung Rok itu berhati dingin dan sombong. Tapi setelah menonton dua episode plot, saya merasa tertipu. Uraian karakter Kwon byeonsa-nim misleading banget. Kwon Byeonsa-nim bukannya berhati dingin dan sombong, dia ini lebih ke karakter yang kaku dan polos, tapi tegas dan perfeksionis jika menyangkut pekerjaan. Kwon Byeonsa-nim baik kok, walaupun kadang ga sadar lagi nge-judge orang, dia nggak akan segan untuk meminta maaf, mengakui kesalahan. Saya bersyukur Kwon Jung Rok tidak digambarkan dreamy banget. Masih dalam taraf manusiawi-lah. Di benak saya sudah membayang adegan-adegan standar drama romcom yang akan terjadi antara Kwon byeonsa-nim dan sekretarisnya—Oh Yeon Seo, yang dipanggilnya Oh Jin Shim. Semacam plot benci jadi cinta. Eeeeeh ternyata jauh banget dari perkiraan saya. Hubungan keduanya berjalan natural. Tidak ada perubahan karakter yang drastis. Nggak ada tuh pertengkaran lebay. Ketika kemudian Jung Rok dan Jin Shim resmi pacaran, tidak lantas hubungan profesionalitas di antara mereka menghilang. Saya justru melihat, seiring berjalannya waktu, Jin Shim menunjukkan bahwa dirinya adalah pribadi yang mandiri, cerdas, punya sensitivitas yang bagus, profesional, dan tidak menye-menye.
Yang saya sukai dari karakter Oh Yeon Seo adalah, dia tidak mengikuti stereotype artis yang sudah sering kita lihat di drama-drama—terkesan eksklusif dengan segala yang ada pada mereka. Di episode plot, kemunculannya digambarkan begitu dramatis seolah-olah ingin memancing penghakiman penonton bahwa ia tak berbeda dari karakter artis di drama-drama lain. Oh Yeon Seo tidak menunggu lama untuk menjungkirbalikkan penilaian itu. Dia bukan artis manja yang nge-bossy, sombong dan menyebalkan. Dia likeable. Full of cuteness. Ia bisa dengan cepat membaur akrab dengan orang-orang di Always. Karir keartisannya tidak menjadikannya terpisah dari pergaulan. I think Oh Yeon Seo’s character is amazing. Auranya postif. Menyenangkan.
Banyak yang bilang kapel ini childish-lah, cringe-lah, saya justru merasa hubungan yang dimiliki Jung Rok-Jin Shim masih jarang saya temukan di kapel drama lain. Ada banyak momen di mana saya mengira akan terjadi konflik antara keduanya, tapi itu tidak terjadi. Misalnya, ketika Jung Rok tahu niat tersembunyi Jin Shim datang bekerja di Always, saya pikir Jung Rok akan marah. Secara mengejutkan, Jung Rok memberikan pengertiannya kepada Jin Shim. Ia bisa menerima. Di kali lain, Se Won dan Yeo Reum menjebak Jung Rok dalam sebuah blind date, dan Jin Shim menangkap basah. Jung Rok menyangka Jin Shim marah, emang marah sih, tapi alasan kemarahannya Jin Shim itu loh bikin senyam-senyum HAHAHAHA. Bukan blind date-nya yang bikin Jin Shim marah, tapi karena Jung Rok terlalu tampan, makanya mudah baginya disukai wanita ㅋㅋㅋㅋ, Jin Shim tidak meragukan kesungguhan perasaan Jung Rok padanya. Itu sudah final, tidak bisa diganggu gugat lagi oleh siapa pun. CIEEEEEEEEEEE. Lucu deh liatnya. Jung Rok yang kaku, kalau ngomong teratur banget, ketemu Jin Shim yang full aegyo, lovable, dan penuh semangat. Klop banget. Hubungan Jung Rok-Jin Shim ngebuktiin nggak perlu banyak skinship untuk ngebangun chemistry. Mereka ngobrol aja bisa bikin yang nonton senyum-senyum sendiri. Saya contohnya HAHAHAHA.
Kwon Jung Rok dan Oh Jin Shim memahami betul pentingnya komunikasi, saling memahami, dan saling memberi dukungan dalam sebuah hubungan. Mereka menunjukkan seperti apa itu mencintai sepenuh dan setulus hati. Jung Rok dan Jin Shim ngasih influence yang positif satu sama lain. Sekali lagi chemistry­nya Lee Dong Wook-Yoo In Na BAGUS bener. Natural. Btw banyak banget yang ngedoain mereka pacaran beneran di real life. Saya curiga, chemistry dua orang inilah yang membuat karakter Jung Rok-Jin Shim begitu hidup dan menghipnotis banyak penonton. Nggak cuma I-Net, tapi K-Net juga. Its like a magic.
The CEO
Kalo denger kata ‘CEO’, yang terbayang pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya ganteng, dan cool. Di Touch Your Heart nggak ada itu. Dua CEO yang ada di sini, sama-sama konyolnya. Sepupuan, katanya. Tapi tiap ketemu ujung-ujungnya pasti saling nge-diss HAHAHA. CEO-nya Always lah yang paling konyol. Yeon Joon Kyu. Dari awal kemunculannya udah mancing tawa. Kelakuannya itu loh... pokoknya ajaib. Kata-kata yang keluar dari mulutnya berpotensi mengundang tawa. Tapiiiiiiiiiii, CEO Yeon sayang banget sama bawahannya. Dia akan melakukan apa saja demi melindungi mereka. Buktinya, meskipun Jung Rok nikung dia, CEO Yeon tetap sayang ke Jung Rok. Waktu Sekretaris Yang dan Jung Rok bermasalah, dia turut serta membantu sampai masalahnya kelar. Jung Rok tetap bisa bekerja sebagai pengacara juga karena perjuangan CEO Yeon. Dua CEO yang sepupuan di Touch Your Heart ini membuktikan kalau jadi bos nggak mesti harus galak atau kejam supaya bisa dihargai sama bawahan, buktinya CEO Yeon dan CEO Yeon—kan sepupuan, makanya nama depannya sama—tetap disayang dan dihormati bawahannya walaupun kelakuannya... ya gitu deh HAHAHAHA.
... dan masih banyak lagi poin plus yang bikin saya mikir kalau Touch Your Heart bukan sekadar romcom yang memancing tawa doang, tapi lebih dari itu.
Seperti title dramanya, Touch Your Heart, drama ini telah menyentuh hati penonton dengan kekliseannya. Kalau kamu nyari drama yang ringan, menyenangkan, tanpa peran antagonis yang membikin esmosi jiwa, mungkin kamu cocok dengan Touch Your Heart. Give it try. Di sini nggak ada cinta segi-banyak, nggak ada karakter utama dengan latar belakang traumatis, dan nggak ada karakter protagonis. Kalau kata Ning, Touch Your Heart pas banget ditonton sebagai pelepas penat dan lelah setelah seharian digempur rutinitas pekerjaan. Sekali-kali, kita butuh drama kayak Touch Your Heart ini. Karakter-karakternya unik, orisinil, dan konsisten. Konfliknya nggak njelimet, tapi bukan berarti materi dramanya ala kadarnya saja mentang-mentang genre-nya romcom—NO. Touch Your Heart—meski dinilai banyak orang sebagai drama biasa aja, ia tetap memiliki value. Saran saya, sebelum atau saat sedang menonton drama ini, jangan mengisi kepalamu dengan prasangka atau ekspektasi. Nikmati saja. Apa adanya. Tertawalah bersamanya. Beberapa scene (mungkin) berpeluang menguji seberapa rapuh kelenjar air matamu. Hehe.
AH. Hampir terlewatkan, OST dramanya juga oke banget. Favorit saya; What If Love-nya Wendy, Jung Sewon-Good Night, dan Photograph dari 1415.

bye-ing!
- Azz -

[Review] Touch Your Heart

by on 4/02/2019 11:24:00 AM
Ketika saya menulis draft postingan ini, belum genap dua belas jam sejak Touch Your Heart tamat, dan saya masih konsisten kangenin dram...

Starring : Lee Jong Suk, Shin Hye Sun
WARNING : Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!
Agustus, 4th 1926
04.00 AM.
Kim Woo Jin dan Yoon Shim Deok melompat dari kapal ferry yang membawa mereka dari Simonoseki (Jepang) menuju Busan. Yoon Shim Deok, penyanyi soprano pertama Korea memutuskan mengakhiri hidupnya bersama kekasihnya, Kim Woo Jin—putra seorang kaya raya di Jeolla-do, yang juga merupakan penulis puisi dan naskah drama.
Dua minggu setelah kematian tragis Yoon Shim Deok, Nito Record Company—perusahaan rekaman di Osaka yang mengontrak penyanyi tersebut—merilis lagu Praise of Death. Yoon Shim Deok merekam lagu tersebut tiga hari sebelum ia meninggalkan Osaka. Tak disangka setelah dirilis, Praise of Death, meledak dan menjadi hits tak hanya di Korea, tetapi juga di Jepang.
Dikutip dari Joongang Daily, kematian sepasang kekasih itu telah menciptakan sensasi di Korea pada masa itu. Banyak pemuda-pemudi Korea yang mengikuti jejak Woo Jin dan Shim Deok. Mengakhiri hidup.
Kim Woo Jin & Yoon Shim Deok
Lirik lagu Praise of Death dianggap mewakili situasi Korea yang ketika itu masih berada di bawah kekuasaan Jepang. Pesimisme menyebar dengan cepat di kalangan generasi muda yang dipicu gagalnya Gerakan 3.1 Gerakan 3.1 (3.1, Samil Jeol, 3.1 Jeol), atau dikenal juga dengan sebutan Hari Gerakan 1 Maret/Hari Gerakan Kemerdekaan Samil. Ada juga yang menyebutnya Demonstrasi Manse. Pada tanggal 1 Maret 1919, di Taman Tapgol Seoul terjadi demonstrasi menentang kependudukan Jepang yang dinilai telah melakukan tindakan represif terhadap masyarakat Joseon/Korea. Protes keras tersebut dipelopori 33 mahasiswa berkebangsaan Korea. Ketika itu dibacakan pula Deklarasi Kemerdekaan Korea yang kemudian menjadi titik awal pembentukan Pemerintahan Sementara Republik Korea pada tanggal 13 April 1919.
Mengapa lagu Praise of Death dianggap mampu mewakili suasana hati kalangan muda di Korea pada masa itu? Barangkali agak sulit bagi kita—generasi yang tidak dilahirkan dari rahim masa penjajahan dan perjuangan fisik dan emosional melawan kolonial–untuk memahami ini, namun dari lirik lagu Praise of Death, kita bisa (setidaknya) merasakan betapa begitu pilu, dan depresif lagu ini. Betapa ironi yang mengikutinya demikian menyesakkan.
In this world of tears, will my death end it?
All of you looking for happiness
Finding you is a sad thing
Ketika hari-hari menjelma lautan air mata, mampukah kematian mengakhiri? Apakah hanya itu satu-satunya jalan keluar? Kita tahu, kesedihan bisa menjadi candu. Terkadang, saat segalanya menjadi terasa sangat rumit dan tak terjelaskan—pedihnya, sedihnya, lukanya, air matanya—kita seperti menemukan jawaban pada sepotong lirik lagu, atau pada melodinya yang begitu pas, sepadan dengan apa yang kita rasakan saat itu. Tampaknya itulah yang orang-orang rasakan terhadap Praise of Death hingga membuat lagu ini melejit menjadi lagu populer pada masanya. Lagu yang menjadi curahan hati terakhir Yoon Shim Deok itu menjelma menjadi tangisan tanpa suara orang-orang Korea/Joseon yang tertindas penjajahan Jepang... .
Drama Praise of Death ditayangkan di stasiun tv SBS, disutradarai Park Soo Jin dan naskah skenarionya ditulis oleh Jo Soo Jin. Sebelum dikisahkan kembali dalam sebuah drama 3 episode, Praise of Death pernah diangkat dalam sebuah film berjudul Death Song di tahun 1991. Death Song memenangkan sederet penghargaan bergengsi antara lain Blue Dragon Film Award 1991, dan Grand Bell Awards di tahun 1992 sebagai film terbaik.
Jika Death Song diceritakan melalui sudut pandang Yoon Shim Deok, maka Praise of Death dengan leluasa mengeksplor kehidupan dua tokoh utamanya—Kim Woo Jin dan Yoon Shim Deok. Sebagai penonton, saya mendapatkan gambaran yang cukup detail mengenai situasi kehidupan Woo Jin dan Shim Deok. Meskipun banyak aspek dari drama ini yang berupa fiksi namun tidak mengubah alur fakta bahwa Shim Deok dan Woo Jin bertemu di Jepang, lalu jatuh cinta, dan dimulailah tragedi paling menyentuh dan menyedihkan dalam sejarah kehidupan keduanya; Woo Jin memilih hidup selamanya bersama Shim Deok di kedalaman laut Genkai.
Pada akhirnya....
Storyline
Kisah ini dimulai di Tokyo, tahun 1921.
Kim Woo Jin (Lee Jong Suk) menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa. Sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan bangsanya  melawan penjajahan kolonialisme kala itu, Woo Jin dan teman-temannya diam-diam merencanakan tur teater  di beberapa daerah sekembalinya mereka ke Korea nanti. Woo Jin berpikir akan lebih baik bila drama teater tersebut dilengkapi dengan musik. Mereka butuh penyanyi. Karena di antara mereka tidak ada yang memiliki potensi mengisi posisi tersebut, Hong Nan Pa (Lee Ji Hoon) mengusulkan seseorang untuk membantu mereka. Ialah Yoon Shim Deok (Shin Hye Sun). Sama seperti Kim Woo Jin, Shim Deok juga seorang mahasiswa tapi dari jurusan musik. Semula, Shim Deok tidak bersedia. Mengetahui bahwa pertunjukan tersebut bertujuan mengumpulkan dana perjuangan membuatnya keberatan. Ia datang ke Tokyo karena beasiswa. Ia khawatir keikutsertaannya akan berimbas pada studinya.
Namun, setelah Woo Jin menyindirnya dengan sinis, Shim Deok terprovokasi. Ia serta merta bersedia ikut namun dengan dua syarat; ia hanya akan menyanyi, dan bila terjadi sesuatu selama pertunjukkan ia akan berhenti segera.
Tampaknya kesan pertama dua orang ini terhadap satu sama lain sangat buruk. Shim Deok merasa Woo Jin meremehkannya, sedangkan di mata Woo Jin, Shim Deok adalah sosok egois yang mementingkan hidupnya dan tidak memedulikan situasi negaranya yang sedang kacau saat itu. Um, well... namanya juga baru ketemu. Terlebih mereka berasal dari dua latar belakang yang sangat berbeda. Kesalahpahaman kemungkinan besar bisa terjadi.
Seiring waktu berjalan, Woo Jin dan Shim Deok beberapa kali terlibat percakapan. Di situlah keduanya mulai saling mengenali karakter dan isi pikiran masing-masing. Sedari awal, mereka berangkat dari dua sudut pandang yang berbeda, lalu di satu titik persimpangan, dua sudut pandang yang berbeda itu, bertemu—tetapi tidak ada yang saling bertabrakan. Sebaliknya, perbedaan itu justru melahirkan kekuatan baru; tentang bagaimana mereka memandang hidup dan kehidupan yang getir yang sendu yang seolah hanya menawarkan pesimisme dari hari ke hari....
“It’s fine even if we can’t change anything. The fact that we’re trying something with hope is what matters.” –Yoon Shim Deok
Yoon Shim Deok jatuh cinta kepada Kim Woo Jin, demikian pula sebaliknya. Namun, belakangan diketahui rupanya Kim Woo Jin telah menikah dengan seorang gadis pilihan ayahnya.  Konflik dimulai.
Meski saling mencintai, namun terlalu banyak rintangan yang harus dilewati Shim Deok dan Woo Jin. Bagi Woo Jin, ayahnya adalah rintangan terbesar. Sedangkan di sisi Shim Deok, tanggung jawabnya sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga mengikatnya erat. Harus ada yang dikorbankan jika mereka ingin bersama. Mampukah mereka? Pilihan apa yang akan dipilih Shim Deok dan Woo Jin? Di  atas nama cinta yang begitu kuat namun di sisi lain menawarkan kehilangan yang tidak sederhana...
Mengapa bunuh diri dipilih sebagai jalan keluar dari kerumitan kisah Shim Deok dan Woo Jin? Masa sih nggak ada jalan lain? Mungkin ada satu dua yang mikir kayak gitu. Tapi setelah nonton tiga episode versi dramanya, dan ngulik gugel nyari-nyari referensi tambahan mengenai perjalanan cinta Shim Deok-Woo Jin, saya akhirnya memahami sepenuhnya keputusan yang diambil keduanya. .
Youth
Oh, youth doesn’t wait for us
Coldly, like a flowing stream
Sadly, like a wilting flower
Our youth is fleeting
Oh, youth is just like a handful of sand we encounter while reading the waves of life
With all your might, hurl it at the tides
Make them snarl and howl
Cast and Characters
Belakangan, setelah searching di Google, saya mengetahui director Praise of Death adalah orang yang juga membuat  While You Were Sleeping (salah satu drama Lee Jong Suk yang jadi favorit saya). Ooooh—pantas saja banyak wajah familiar di drama ini, hampir semuanya pernah main satu drama sama Jong Suk. Nggak tahu kenapa, saya seneng aja liatnya.
Lee Jong Suk as Kim Woo Jin
As time goes by, tears down because of the wound that can’t be healed
Not being able to bear it, I cry
But why does it sit deep as if there’s a fire burning inside me?
If I were a child, and cried in pain, my mother would call for a physician
If I were a child, my mother would bring me cold water for my burning heart
If I were a child, and was sick, a good night’s sleep would wash it away
However, since I am not a child, the wound keeps digging deeper inside
Aah... if only I were a child
Soosan
Kim Woo Jin terlahir dari keluarga kaya raya. Ayahnya dikenal sebagai saudagar kaya. Pendek kata, Woo Jin memiliki segalanya kecuali satu; kebebasannya sebagai manusia seutuhnya. Ia adalah sosok yang telah selesai dirumuskan bahkan sebelum ia mampu mengeja namanya sendiri. Bahwa ia akan tumbuh dan menjadi seperti apa yang diinginkan ayahnya. Demikianlah Woo Jin menjalani hidupnya.
Kecintaan Woo Jin pada sastra, pada puisi, pada dunia literasi, rupanya turut pula membentuk sisi dirinya yang lain. Pada apa-apa yang membuatnya tertekan, pada kesedihan-kesedihannya yang tak terungkap, ia tuangkan seluruhnya pada bait-bait puisi. Tulisan Woo Jin seperti bernapas dalam kepiluan yang teramat sangat.
“Isn’t it hard for you? Isn’t  it exhausting to live a life has already been mapped out?”
Pertanyaan yang ia berikan pada istrinya tersebut, sesungguhnya ia tujukan pula pada dirinya. Tidakkah terasa berat dan melelahkan menjalani hidup seperti yang telah diatur orang lain? Ia tahu itu melelahkan, tetapi ia tak menemukan jalan lain yang bisa ia tempuh untuk menjalani hidup atas kemauannya sendiri tanpa harus menyakiti ayahnya. Sampai di sini, saya tidak tahu lagi bagaimana saya harus memperlakukan karakter Kim Woo Jin ini. Ia sosok yang baik. Mematuhi keinginan ayahnya bukanlah sesuatu yang mudah, butuh ruang yang sangat luas untuk mengalah, dan ia memiliki itu.
Konfrontasi Woo Jin dengan ayahnya di penghujung episode 3-4 tak bisa dianggap sebagai pemberontakan. Ayahnya marah dan tak setuju pada kegiatan menulisnya. Meledaklah amarah Woo Jin. Hingga detik itu, ia sudah melakukan semua yang diinginkan ayahnya. Ia hanya berharap ayahnya mau membiarkannya bernapas sedikit, dan itu bisa ayahnya wujudkan dengan mengijinkannya tetap menulis.
“Father, do you want me to live or die?”
Bagaimanalah... bila membebaskan kata-kata adalah juga kebebasan baginya? Melarangnya menulis sama saja dengan menyuruhnya mati.  .
Di tahun-tahun itu, saya yakin banyak sosok Woo Jin-Woo Jin lain di seantero Joseon/Korea. Yang terlahir dari keluarga kaya, yang hidupnya telah selesai dirumuskan hanya dengan melihat nama besar keluarganya, namun pada sosok-sosok ini lahir pula kegelisahan-kegelisahan tentang negerinya yang tengah dirundung penjajahan. Mereka yang berjuang diam-diam karena cinta mereka pada kemerdekaan sama besarnya dengan yang mereka berikan kepada orang-orang yang merumuskan hidup mereka. Seringkali, dalam hidup, memilih tak selalu mampu disuarakan dengan lantang. Ia mewujud dalam bentuk lain, yang dalam diamnya ia tetap bisa meng-ada.
Sebagai manusia biasa, mampukah Woo Jin bertahan dalam situasi seperti itu? Bagaimana bila ada variabel lain yang datang menambah keruwetan hubungannya dengan ayahnya? Bagaimana bila variabel itu membawa efek yang besar dalam hidupnya, jauh lebih besar dari kecintaannya menulis? Kita selalu memiliki batasan untuk segala sesuatunya, bahkan dalam cinta sekalipun. Dan Woo Jin, sekali lagi hanyalah manusia biasa. Yang pada saatnya nanti berhak memutuskan sendiri arah hidupnya. Meski untuk itu, ia harus merasai kehilangan.
“Father, with a whirlwind in my heart, for the first time in my life, I chose to go against your will.” –Kim Woo Jin from Leaving Home, his award winning literature, June 21, 1926.
Sejak di While You Were Sleeping, saya tahu Lee Jong Suk sudah memiliki tempatnya sendiri di list aktor-aktor yang saya sukai aktingnya. Sungguh, drama SBS itu telah membantu saya me-reset ulang pandangan saya terhadap Jong Suk. Berbeda dari karakter Jung Jae Chan yang ceroboh, lucu, bodor, bego, tapi baiknya selangit itu, Kim Woo Jin jauh dari kesan periang; ia gelap, sendu, suram, yang terkadang seperti sedang meratap dalam diamnya. Jangan harap kamu bakal ngeliat senyum lebarnya Jong Suk deh dalam perannya sebagai Kim Woo Jin. Tapi saya pribadi suka dengan pilihan peran Jong Suk setelah While You Were Sleeping ini. Saya pernah bilang di POV While You Were Sleeping, bahwa sudah saatnya Jong Suk berpisah dengan Park Hae Ryun—saya nggak ngomong dalam konteks negatif loh. Sebagai orang yang mengikuti karir drama Jong Suk (walaupun ga semua dramanya saya tonton tuntas), saya pengen liat Jong Suk memerankan karakter-karakter yang lebih menantang lagi karena menurut saya secara alamiah itu akan turut mengasah ketajaman dan spektrum aktingnya. Nah, peran Kim Woo Jin yang melankolik parah ternyata bagus banget dimainkan sama Jong Suk, apalagi pas dia nangis... tapi asli parah sih dramanya super duper sadis sedihnya. Cuma 3 episode doang tapi bapernya ngalahin drama 20 episode! Nyeseknya gak pernah ilang sampe sekarang tiap inget momen-momen krusial dramanya. .
Jong Suk udah mulai jago mainin detail di ekspresi. Good. Good.
Are you truly living?
No, I am yearning for death in order to truly live. –Kim Woo Jin from The Theory of Death and Life, May 4, 1926
Shin Hye Sun as Yoon Shim Deok
Sebelum Thirty But Seventeen, satu-satunya peran Shin Hye Sun yang melekat di memori saya adalah perannya sebagai Young Eun Soo di Secret Forest. Mungkin, sebelumnya saya sudah pernah nonton drama-drama yang di dalamnya ada Hye Sun, tapi barangkali karena perannya tidak menonjol, makanya saya enggak ingat satu pun. Saya malah kaget pas baca-baca di twitter, dia pernah main di School 2013—ASTAGA kok saya nggak ada bayangan sama sekali karakter Hye Sun di situ?, itu tuh drama sekolah favorit saya sepanjang masa. Dan FYI, drama itu turut berperan besar memengaruhi arah hidup saya hingga (akhirnya) saya memutuskan menjalani profesi yang sebelumnya saya tolak dengan lantang di depan ibu saya—menjadi guru. Saking sukanya saya sama School 2013, saya donlot video versi HD-nya. Sayangnya Hardisk saya kena virus dan abis semua isinya termasuk School 2013.
Di sini saya nggak akan ngomongin akting Hye Sun—udah pada sepakatlah aktingnya natural. Mau meranin apa aja bisaaaa. Sebagai Shim Deok, Hye Sun berhasil menunjukkan betapa gamangnya hidup gadis itu. Ia mencintai keluarganya, mencintai musik, dan mencintai Kim Woo Jin. Sebelum bertemu Woo Jin di Tokyo, Shim Deok belum tahu jika mencintai bisa begitu sulit dan membawa derita, menyakitkan. Sedari awal perbedaan itu sudah membentang, menjauhkan. Woo Jin dan Shim Deok berangkat dari latar belakang berbeda. Jika Woo Jin adalah pewaris kekayaan ayahnya, Shim Deok adalah tulang punggung keluarganya; ayah, ibunya, adik-adiknya. Sebab itu ia harus tegak, kuat, dan bekerja keras.
Di awal kemunculannya, saya percaya Shim Deok adalah seseorang yang punya idealisme jika menyoal mimpi dan harapannya. Akan tetapi, setelah hidupnya beririsan dengan Kim Woo Jin, sudut pandangnya menjadi goyah. Ia gamang. Pada akhirnya, ia pun sadar ia bukanlah perempuan merdeka.   
CHEMISTRY
Saya selalu setuju, Jong Suk pandai membangun chemistry dengan siapa pun dan apa pun di setiap dramanya. Saya juga percaya tidak ada chemistry yang berjalan satu arah. Chemistry dihadirkan oleh dua pihak, atau lebih. Jong Suk dan Hye Sun mampu menghadirkan itu. Mereka serasi. Narasi sebagai dua orang yang saling jatuh cinta namun terhalang status sosial dan lain-lain, terbangun dengan baik. Selalu, saya melihat tatapan Woo Jin ke Shim Deok diisi kesedihan yang pekat dan dalam, pun saat mereka terlihat bahagia. Kesedihan itu masih menggantung di sana. Seolah kesedihan itu sengaja terperangkap dan enggan pergi.
Praise of Death memesona saya dengan ketragisannya.
Siapakah yang jatuh cinta lebih dahulu? Bagi saya, itu adalah Yoon Shim Deok. Semakin sering ia berinteraksi dengan Woo Jin, semakin kuat pula keterpikatannya pada pemuda itu. YAAAAAAAAAA, saya juga kalau ketemu orang macam Woo Jin, peluang jatuh cintanya besar. Dan emang pernah kejadian sih HAHAHAHA.  Cerdas, suka puisi, suka nulis, memiliki kesinisan yang tak biasa terhadap diri dan hidupnya. Dan pendiam, dan selalu tampak kesepian, pada mata dan ketenangan wajahnya selalu ada kesedihan yang menggenang diam-diam dan seringnya tak terbaca
Saya tulis kembali momen kesedihan antara Woo Jin dan Shim Deok, dialog-dialog mereka yang menyiratkan perjuangan melawan segala apa yang berada di luar diri mereka. Mereka bertemu, saling mengenali diri;cita-cita;cinta, lalu berpisah karena mereka sadar sejauh mana cinta membawa mereka, yang tampak jelas hanya ketidakmungkinan. Tahun-tahun berlalu, dan mereka dipertemukan kembali, dan mereka (nyatanya) masih saling mengharapkan satu sama lain.
Saat Woo Jin dan Shim Deok memutuskan mengakhiri hubungan mereka, karena Shim Deok akhirnya mengetahui kalau Woo Jin sudah beristri, seorang anak berlari seraya menyebarkan surat kabar berisi berita kematian Takeo Arishima. Ia melakukan bunuh diri bersama kekasihnya. Isi surat kabar tersebut membuat Shim Deok tersentak. Ia bergumam lirih, “If a forbidden love is causing pain, you can just end it. Why take such drastic measures?”
Woo Jin, dengan ekspresi sedihnya menjawab, “The loneliness they would be left with after they part must have been terrifying for them.”
Well,we all eventually forget,”  pungkas Shim Deok.
Dialog ini menyiratkan bahwasanya Shim Deok belum sepenuhnya menyadari seberapa penting dan kuatnya Woo Jin di dalam hatinya. Menurutnya, bunuh diri bukanlah jalan terbaik untuk mengakhiri kisah cinta yang terlarang. Baginya, kisah cinta seperti itu cukup diakhiri dengan perpisahan, dan pada saatnya nanti ia akan terlupakan. Shim Deok menyikapi keputusan bunuh diri Takeo Arishima dengan dingin. Ia berpikir itu akan berjalan semudah yang ia sangkakan. Sebaliknya, Woo Jin memiliki pemahaman yang lebih mendalam, terkesan empatik pada Takeo Arishima. Bahwa menurutnya, mungkin saja bagi Takeo Arishima dan kekasihnya hidup di dunia tanpa kehadiran satu sama lain, jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Tidak bisa dimungkiri, kita sering menemukan persoalan menyangkut pertanyaan-pertanyaan tentang cinta yang tak lantas mudah teruraikan hanya dengan sudut pandang yang kita miliki.
“Now, I think I can understand, why he (Takeo Arishima) made a choice like that. You see, he must have wanted to rest a place where he no longer to try so hard and where there is no more parting. He must have wanted be at peace. I want to get some rest now. I’m really exhausted now. But I can’t do that for I fear I might end up missing you too much.” –Yoon Shim Deok
“If That’s the reason, you can rest. I used to think that he (Takeo Arishima) ran away from life, but I no longer think so. He made that choice to live, in order not to lose himself he chose death. That’s all. For the first and last time in my life, I want to live my life as who I am. Even if that life means death. So, you can rest in peace too, by my side.” –Kim Woo Jin
Membaca dialog antara Kim Woo Jin dan Yoon Shim Deok, saya bisa menangkap isyarat baik Shim Deok dan Woo Jin telah selesai dengan perenungan mereka. Shim Deok sudah mencapai kulminasi ketegarannya, ia tak punya sisanya lagi. Dari kalimat panjang yang disampaikannya kepada Woo Jin dengan nada lirih nyaris diselingi tangis itu, ia ingin melepaskan semua yang membuatnya lelah, namun di satu sisi ia takut kehilangan Woo Jin. Sejalan dengan apa yang diucapkan Woo Jin ketika menanggapi kabar bunuh diri Takeo Arishima—ditinggal seorang diri oleh orang yang kita cintai jauh lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.
Ucapan Woo Jin berikutnya menjawab ketakutan Shim Deok. Woo Jin tak kalah lelahnya dari Shim Deok. Maka ia mengamini keinginan kekasihnya. Jika dunia yang mereka tempati tak lagi membuat mereka hidup, untuk apa bertahan?
Woo Jin dan Shim Deok telah kehilangan jalan pulang, ataukah jalan pulang itu sejatinya tidak pernah ada? Karena rumah sesungguhnya telah mereka temukan pada diri mereka satu sama lain? Pada Woo Jin, Shim Deok menemukan jiwanya hidup. Demikian pula Woo Jin, seperti yang tertuang pada puisinya berikut,    
“Passionately, I listened to the curses put on my fate
She was  the only safe heaven in my life besieged by the devil.” –Trace of Heart, Kim Woo Jin’s Journal (November 26, 1921)
Shim Deok adalah safe heaven bagi Woo Jin, di mana selalu ia jumpai detak jiwanya di sana. Jika ia dan Shim Deok memutuskan kembali ke Korea, itu sama halnya dengan menyerahkan jiwa mereka untuk dibunuh. Karena di Korea Woo Jin, tidak akan bisa lagi menulis dan memiliki Shim Deok. Sama halnya dengan Shim Deok.
Lalu dari manakah muasal rasa takut kehilangan yang melingkupi Woo Jin dan Shim Deok? Dari rasa cinta yang berlebihankah? Saya rasa bukan. Saya mencoba berasumsi kondisi serba tidak menentu saat itu berperan besar memengaruhi rasa saling memiliki keduanya. Mengapa banyak kisah cinta agung yang dikisahkan dari masa lampau, begitu melegenda dan membuat kita kerap berdecak haru? Situasi dan kondisi yang luar biasa, tidak biasa. Mereka jatuh cinta di tengah masa-masa sulit. Barangkali tersebab mereka—yang saling mengasihi itu tak punya banyak pilihan seperti yang kita miliki saat ini; kita bisa jatuh cinta lagi, lagi dan lagi, dengan orang yang berbeda. Saat itu, bagi mereka seringkali rasa cinta yang dihadirkan oleh entah kepada yang mereka kasihi, masih harus berjibaku dengan urusan-urusan lain menyangkut hidup dan perjuangan akan masa depan. Maka, saat mereka jatuh cinta, mereka mencintai sebesar-besarnya, dan sedalam-dalamnya. Sebab tak ada jaminan mereka bisa merasakan hal yang sama. Bukan sesuatu yang gampang, untuk segera mengenali pasangan jiwamu, karena ada begitu banyak kamuflase yang justru dipasang oleh hatimu sendiri.
Tapi, Shim Deok dan Woo Jin bisa.
Kim Woo Jin dan Yoon Shim Deok adalah dua orang yang terbuang dari dunia, dari orang-orang yang mereka kasihi, hanya karena mereka berdua menemukan cinta yang berbeda, yang tidak bisa mereka temukan pada orang lain, cinta yang demikian hidup dan menggairahkan terhadap satu sama lain. Woo Jin dan Shim Deok adalah dua dari banyak orang yang memilih mencintai dengan berani pada masanya. Dan karena keberanian itulah mereka diingat dan dikenang.  
Saya bersyukur Praise of Death hanya berjumlah 3 episode (yang di-split menjad 6/30 menit). Saya nggak sanggup ngebayangin drama tragis yang didasarkan pada kisah nyata ini diceritakan kembali dalam jumlah episode yang banyak. Tiga episode aja udah sukses mengharu biru begini, gimana yang banyak episodenya? Heol. Tapi kalau formatnya kayak kisah cintanya Ae Shin-Eugene sih, mungkin aku masih bisa (sok) nguatin hati ngikutin per episodenya... Yakaliiii. Lah sekarang aja saya masih suka nangis tiap kali nontonin ending Mr. Sunshine—scene kereta BEUGH.
Life running in the vast wilderness
Where is it that you are heading?
In this lonely world filled with cruel suffering,
what are you looking for?
In this world made of tears, will my death end truly be the end of it all?
Those of you in search of happiness, only futility awaits you
Those smiling flowers and crying birds all share the same fate
Pitiful life, absorbed in living, you are the one dancing on the blade
-Praise of Death
Lagu inilah yang menjadi titik kunci kisah Yoon Shim Deok dan Kim Woo Jin. Liriknya yang lirih menyiratkan pesimisme yang tajam.
In this lonely world filled with cruel suffering,
what are you looking for?
Kita tidak akan pernah benar-benar bisa merasakan sesuatu sebelum kita merasakan hidup bersamanya. Tetapi, mustahil bagi kita untuk kembali ke awal abad ke 19 Korea untuk bisa menyelami kepahitan hidup Shim Deok dan Woo Jin—maka lirik lagu Praise of Death, dan bait-bait puisi Woo Jin bisa menjadi jembatan kita menyesap setiap inci kepedihan itu.
Dan kita tahu, yang (tak) lekang oleh waktu adalah kenangan.
***
Takeo Arishima merupakan seorang novelis, dan penulis esai berkebangsaan Jepang yang hidup di akhir periode Meiji. Ia menikah di tahun 1910, namun istrinya meninggal karena TBC enam tahun kemudian. Pada tahun 1922, Arishima bertemu Akiko Hatano, seorang wanita yang sudah bersuami. Arishima dan Hatano saling jatuh cinta. Hatano adalah editor di sebuah majalah wanita populer. Suami Hatano mengetahui hubungan gelap Arishima dan Hatano, inilah yang memicu keduanya memutuskan bunuh diri dengan menggantung diri di Karuizawa.

*) bunuh diri, atas alasan apa pun, tidak bisa dibenarkan. Namun dalam hal ini (kisah nyata dari masa lampau di atas) saya tidak punya hak men-judge. Mereka yang telah selesai dengan hidup mereka. 
Tabik,
Azz