Jauh sebelum saya menuliskan paragraph pembuka postingan ini, di kepala saya sudah muncul pertanyataan berulang, “bagaimanakah saya (akan) memulai tulisan tentang My Liberation Notes?” . Tidak peduli seberapa besar keinginan saya menulis tentang drama ini, toh akhirnya saya tetap tidak mampu menemukan awal yang tepat untuk memulai. Pun setelah dramanya menyelesaikan penayangan episode terakhirnya, saya masih berakhir dengan kebingungan yang sama—tidak tahu mesti memulai dengan kata atau kalimat seperti apa.


Saya tidak berani menulis review atau POV My Liberation Notes di blog. Bagi saya, drama ini terlalu kompleks untuk dijabarkan. Pada banyak drama yang saya sukai, saya bisa dengan segera menemukan poin-poin utama yang menjadi pondasi utama berdirinya drama tersebut, tetapi pada My Liberation Notes… saya speechless. Seperti yang pernah saya twit-kan, setiap episode My Liberation Notes meninggalkan kesan yang kuat sekali untuk saya, yang membuat saya tidak mampu berkata-kata. Setiap selesai menonton satu episode, saya merasa hati saya disesaki entah oleh apa. Saya sendiri dibuat heran, kok bisa ya saya nggak bisa nge hype drama ini di temlen Twitter dan IG, seperti orang lain? Padahal saya suka sekali My Liberation Notes. Apakah karena drama ini ruh-nya terasa terlalu personal untuk saya sehingga membicarakan dramanya sama saja dengan membuka nada demi nada suara-suara yang lebih banyaknya sudah hampir saya lupakan pernah begitu nyaring memenuhi ruang-ruang di dalam kepala saya? Drama ini kaya sekali; rupa-rupa emosi yang dibawanya, kejadian-kejadian sehari-hari di lingkungan keluarga, pertemanan, pekerjaan, hingga hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Complicated but beautiful. So well written.


My Liberation Notes banyak mengingatkan bagaimana rupa saya di masa lalu. Menonton drama ini membuat saya menyadari betapa banyak perubahan yang telah terjadi pada diri saya selama tujuh tahun terakhir. Tentu saja perubahan-perubahan baik.


Jadi yah… beginilah saya membuka tentang My Liberation Notes. Saya tidak akan mereview atau menulis POV seperti yang saya lakukan jika bertemu drama yang saya sukai. Saya akui saya tidak mampu mereview My Liberation Notes, hehe. Postingan ini hanya akan diisi dengan apa yang saya rasakan selama menonton My Liberation Notes. Saya tidak tahu akan sependek atau sepanjang apa tulisan saya ini. Saya juga tidak bisa menjamin tulisannya akan runut atau teratur. Nulisnya ngalir aja. Dan ya, mungkin—saya hampir yakin, ini akan lebih mirip curahan hati saya sebagai pihak yang berhasil dibaca oleh My Liberation Notes.


Percaya atau tidak, diakui atau tidak, disadari atau tidak, perubahan demi perubahan sesungguhnya sedang atau telah terjadi pada diri kita sebagai manusia dari waktu ke waktu. Sekecil apa pun itu, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan fisik dan perubahan secara mental. Saya percaya, perubahan-perubahan ini tidak terlepas dari interaksi kita dengan lingkungan di sekitar; dengan apa dan siapa setiap harinya. Apakah perubahan tersebut bernilai positif atau negatif—output nya tidak selalu bisa diramalkan.


Menonton drama bagi saya telah menjadi satu dari sekian apa dan siapa yang membawa banyak perubahan pada hidup saya; bagaimana saya memandang dan menangani hidup saya yang kacau, bagaimana saya berinteraksi dengan orang lain. Saya bukanlah orang yang berangkat dari kemapanan emosional yang mumpuni. Wajah emosi saya pernah menyerupai leher botol yang mampat. Kacau tak karuan. Semula, menonton saya jadikan pelarian, semacam hiburan yang menolong saya dari kebingungan hidup. Ada bulan-bulan di mana saya hanya berdiam di kosan dari pagi ketemu pagi saya tidak melakukan kegiatan berarti—saya mengisi kekosongan itu dengan menonton. Sekarang, jika saya ingat lagi, bulan-bulan itu adalah masa krusial saya sebagai orang sakit. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya jika saya tidak menemukan pelarian saat itu. Semakin ribet hidup semakin padat jadwal menonton. Saya menonton hampir semua drama Korea yang sedang airing, tidak pilah-pilih genre. Asal cocok aja, hayuk. Begitulah. Hingga saya bertemu Reply 1988 di akhir tahun 2015—pertemuan yang mengubah total, tidak hanya bagaimana cara saya melihat diri saya dan orang-orang di sekitar saya, tetapi juga sikap saya terhadap hobi menonton saya. Saya tidak lagi menjadikan kegiatan menonton hanya sekadar sebagai pelarian, sebagai wadah haha-hihi. Tetapi juga sebagai media yang membantu saya merefleksi diri.


Sebesar itukah pengaruh menonton drama terhadap hidup saya? Terdengar tidak masuk akal bagi orang lain, tapi ya. Sebesar itu memang pengaruhnya. Sejak saat itu saya mulai belajar mencari cara yang tepat untuk memeluk diri sendiri, yang belakangan kemudian saya sadari bukanlah perkara yang mudah, yang bisa dilakukan sehari-dua hari atau setahun-dua tahun. Butuh waktu lama dengan proses jatuh bangun yang selalu hampir berhasil menggoda saya untuk menyerah. Sekali lagi, saya bukanlah seseorang yang berangkat dari kemapanan emosi yang mumpuni. Rupanya menonton drama tertentu membantu saya mengurai kekacauan emosi saya. Menonton tak lagi sebatas mencari hiburan bagi saya. Pengakuan lain, di tengah kekacauan emosi, saya tidak punya siapa-siapa untuk diajak berbagi. Selain Tuhan, saya benar-benar tidak memiliki siapa-siapa saat itu. Saya bukannya tidak memiliki, lebih tepatnya emosi saya terkunci dan saya tidak tahu harus dengan apa untuk membukanya. Saya seperti pejalan kaki yang tersesat di sebuah halte di tempat asing, duduk sendirian di sana mengamati lalu lalang manusia dan kendaraan yang mengeluarkan suara bising tak berkesudahan. Tidak tau mesti ke mana.


Maka menonton, menulis review dan berinteraksi dengan pembaca blog ini menjadi semacam distraksi yang menyenangkan sekaligus membantu saya menghindari kegilaan.


Jika ada pembaca Majimak Sarang yang pernah berinteraksi dengan saya di kolom komentar khususnya era Reply 1988, tak sengaja membaca postingan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Terima kasih karena telah menemani saya. Saya beruntung sekali ditolong kalian.


Lalu apa hubungan intro panjang ini dengan My Liberation Notes? My Liberation Notes berbicara mengenai kebebasan. Pembebasan diri dari entah yang membuat kita hampa, limbung, kosong, merasa tidak berarti dan tidak punya tempat di kehidupan.


Saya membayangkan, andai saya bertemu My Liberation Notes dua-tiga tahun lalu, akan seperti apakah respon saya? Apakah akan sama dengan reaksi saya saat menonton dramanya di masa sekarang? Saya bisa melihat jawabannya dengan terang benderang; tidak. Tidak akan sama. Saya dua-tiga tahun lalu dan saya saat ini—terdapat perbedaan mental yang besar sekali. Dan saya bisa melihat diri saya dua-tiga tahun lalu (akan) menangisi My Liberation Notes seperti sedang menangisi kawan karib saya tiba-tiba muncul setelah puluhan tahun menghilang tanpa kabar.


Sedang saya saat ini, pada sebagian besar bagian My Liberation Notes—pikiran-pikiran tokohnya—saya seperti melihat perwujudan saya di masa lalu. Lebih-kurangnya. My Liberation Notes seolah mau memberitahu saya bahwa saya tidak pernah sendirian dengan seluruh suara-suara di dalam kepala saya. Saya tidak sendirian, dan saya bukan orang aneh. “Ah, iya. Saya tau rasanya.” Saya sering bergumam seperti ini sepanjang menonton My Liberation Notes. Bukan dengan nada sedih. Nada lega?


My Liberation Notes membawa beban-nya sebagai drama tak biasa, sebagai bukan drama kebanyakan dan untuk alasan inilah saya percaya drama ini tidak akan selalu berhasil membangun koneksi yang kuat dengan beberapa penontonnya, penonton yang mungkin saja tidak/belum melewati fase hidup seperti yang dialami para tokoh-tokoh di dalamnya. Bukan salah drama atau salah penonton yang kesulitan menangkap pesan yang ingin disampaikan My Liberation Notes, atau mereka yang menilai drama ini sebagai drama yang flat, lambat, tidak menarik. Mereka yang tidak cukup sabar mengikuti alur My Liberation Notes cukup mengatakan drama ini tidak sesuai dengan selera tontonannya. Cukup sampai di situ. Karena drama ini bukan tipikal drama yang dipenuhi plot-twist, konflik yang tajam atau alur fast-pace. Kalau saya bilang, My Liberation Notes ini hampir setiap sudut-nya dipenuhi nuansa depresi, stress, hidup yang melelahkan. Dramanya berat. Kalo ga dapet mood yang pas cocok, drama ini ga bakal bisa dinikmati dengan sebaik-baiknya. Tak semua penonton tabah dan sabar melihat adegan berulang-ulang makan bersama yang diisi keheningan. Di My Liberation Notes, silence, keheningan adalah suara keras yang mampu mengabarkan banyak hal kepada penontonnya. Keheningan di drama ini memiliki warna emosinya sendiri.


Keheningan, tidak semua orang bisa mengapresiasinya.


Sekalipun, misalnya drama ini tidak relate dengan kita, namun ia berhasil memberikan sudut pandang yang luas dan tidak mengada-ada tentang jenis manusia-manusia yang kerap jadi bulan-bulanan penghakiman lingkungan, manusia-manusia yang dianggap aneh, tidak menarik, membosankan dan dituduh pemurung yang antisosial; para introvert.


Bagi saya My Liberation Notes adalah teman perjalanan yang baik. Ia membuat saya menangis, sesak bercampur-aduk dengan lega di saat yang hampir sama di setiap episodenya.


First Impressions


Saya mendapatkan kesan pertama saya saat melihat individual poster  My Liberation Notes lewat di timeline Twitter saya. Membaca terjemahan isi pikiran tokoh-tokohnya mengingatkan saya pada gaungan kata-kata yang menetap di kepala saya, yang seringkali mengganggu saya di waktu-waktu tertentu. Salah satu yang saya ingat, seperti Yeom Gi-jeong, saya juga pernah berharap di suatu hari yang penuh keruwetan saya mendapatkan panggilan telepon, atau di phonebook, saya bisa menemukan nama-nama yang bisa saya hubungi di kala saya butuh didengar, tanpa harus merasa bersalah karena sudah menyita waktu berharga orang lain. Mereka yang bisa saya telepon meski tidak ada hal penting untuk dibicarakan.


Tak hanya individual poster yang menggoda saya, poster utamanya juga bagus banget. Tone gambarnya mengandung dua nuansa; sendu dan hangat. Aroma slice of life nya kental sekali.


Saya sudah yakin bakal cocok dengan drama ini. Dan tibalah saatnya saya menonton episode pilotnya. Saya ingat sekali apa yang saya rasakan. Saya ikut tertawa arus emosi para tokoh-tokoh di My Liberation Notes. Ikut ngerasain lelahnya, capeknya menjalani hidup yang begitu-begitu saja. Monoton setiap harinya. Suram. Seperti robot. Tidak ada sesuatu/hal yang membikin antusias menjalani hari-hari. Lalu apa yang bisa diharapkan dari hidup yang seperti itu? Bagaimanakah mereka bisa bertahan? Saya bisa merasakan tumpukan-tumpukan emosi yang melekati setiap gerak setiap sorot mata setiap kata-kata para tokoh-tokohnya, yang meskipun minim dialog saya bisa segera mengetahui apa yang sedang mereka rasakan.


My Liberation Notes adalah drama yang luar biasa berat karena kejujuran yang dihadirkan ceritanya. Kenyataan-kenyataan hidup yang di-fiksikan. Kira-kira seperti itu. Demikianlah kesan yang saya dapatkan melalui episode pilotnya.


Kesan pertama saya terhadap tokoh-tokoh utama My Liberation Notes memiliki draft-nya masing-masing, dan ini penting sebab di episode-episode mendatang saya bisa melihat perkembangan mereka dengan jelas, yang tentu saja perasaan saya sebagai penonton diajak ikut terlibat di dalamnya.


Yeom Gi Jeong

“Just the feeling of having someone is enough for me.” – Gi Jeong


Kesal. Jengkel. Gregetan pengen banget ngelakuin sesuatu agar Gi Jeong menutup mulutnya. Begitulah kesan yang melompat keluar dari pikiran saya ketika bertemu Gi Jeong pertama kali. Cerocosannya di restoran yang berbuntut panjang epic banget. Tensi adegannya yang kuat bikin saya ikutan panik gara-gara Gi Jeong. Ya gimana ga panik, kamu lagi ngomongin jelek orang dan orang yang lagi dijelek-jelekin ada di situ! Seketika jadi pengen punya kekuatan yang bisa bikin orang amnesia dan bisa menghilang sekejapan mata.


Dia tuh kalo udah ngomong suka ga pake rem, apa yang ada di kepalanya ditumpahin aja semua ga tengok kanan-kiri. Gara-gara epic scene itu, saya suka panikan sendiri kalo udah ada scene Gi Jeong lagi ngobrol sama temen-temennya, takut dia kelewatan jujur badmouthing orang dan orangnya ada di situ. Saya yakin sih Gi Jeong ga berniat jelek-jelekkin orang, dia suka kebangetan jujurnya, nggak mempelajari situasi, nggak menyaring apa-apa yang bisa dan tidak boleh dilempar keluar dari pikiran di dalam kepala. .


Gi Jeong, si anak pertama yang ngebet banget punya pasangan, ga peduli mau kayak gimana bentukan pasangannya itu, misi utamanya sebelum musim dingin datang adalah dapet pacar! Sebelumnya Gi-jeong kerap berakhir bosan setiap menjalin hubungan kasih sayang dengan pria. Tak ada satu pun yang berjalan baik. Semuanya berjalan singkat, jatuh cinta pagi, jelang malam udah ilang cintanya.


Dia punya temperamen yang agak keras, ga bisa banget nyimpen emosinya. Menurut saya karakter Gi Jeong lebih mudah dibaca dibandingkan adik-adiknya. Apa yang terlihat, apa yang ditampakkan itulah Gi Jeong. Transparan. Jujur, polos, blak-blakkan.


Yeom Chang Hee

“I’ve never felt real joy, pleasure, or excitement in my life.” – Chang Hee


Egois. Emosional. Pemarah. Keras kepala. Kasar. Nggak enak bener ya kesan pertama saya terhadap Chang Hee. .


Saya ikut ngerasain ketegangan di meja makan saat Chang Hee minta ijin ke ibu-bapaknya untuk beli mobil. Nungguin reaksi bapaknya tuh serasa horror ga sih? Mana mood scene-nya juga ikut ngedukung kan…


Saya menyangka Chang Hee adalah sosok ambisius. Siapa sangka karakter ini justru menjadi karakter yang paling mengejutkan saya di akhir drama ini.


Di episode berapa gitu, eomma-nya memandang foto Chang Hee penuh sayang. Belakangan barulah saya sadari, feeling seorang ibu terhadap anaknya tidak pernah meleset. Moms know very well..


Yeom Mi Jeong

“People are scared of thunder and lightning but strangely, I find them calming.” – Mi Jeong


Salah satu misi utama saya selama menonton My Liberation Notes adalah melihat Yeom Mi Jeong tersenyum lega dan bahagia, sebab kesan pertama saya terhadap karakter ini sangat muram dan sendu. Nggak ada gairah hidup. Mi Jeong di mata saya—khususnya ekspresi wajahnya mengingatkan saya pada sosok IU di My Mister. Benar-benar mirip warna emosi yang dibawanya. Kondisi mentalnya Mi-jeong bisa dilabeli fase languishing ga sih? Dia merasakan perasaan hampa kosong dan kesulitan merasakan hal-hal postif di sekitarnya?


Saya ga bahagia, tapi bukan berarti saya bahagia. Saya sedih, kenapa sedih?

Ga bisa merespon segala sesuatu yang kalo pake kacamata umum bisa bikin orang excited.


Mi Jeong seperti memilih peran antagonis di dalam hidupnya sendiri. Ia cenderung skeptis memandang hidup. Di matanya, hidup dipenuhi kemuraman, kebencian, tidak menarik. Terdapat jurang yang sangat jauh memisahkan dunia di dalam kepalanya dan dunia di luar dirinya. Dan Mi Jeong serta pikiran-pikirannya yang bersuara kerap mewakili suara hati para introvert termasuk saya.


Saya takut dan gugup dengan Mi Jeong. Saya paling nggak bisa menebak arah pikirannya.


Mr. Gu


“That’s how life is. It seems to go well and then stabs you in the back. Did you think it was always going to be peachy?” – Mr. Gu


Misterius. Dingin. Bicaranya irit. Suara-nya hanya bisa didengarkan melalui sorot matanya. Rutinitas Mr. Gu hanya bekerja, makan, minum alcohol sambil menatap jauh entah ke mana. Begitu saja. Tak banyak yang bisa saya katakan tentang karakter ini berasarkan episode pilot.


Siapakah Mr. Gu? Kenapa dia bisa berakhir bekerja di keluarga Yeom? Ini pertanyaan yang mengikuti saya. Saya ingat, saya berdoa semoga dia bukan pembunuh bayaran atau gangster. .



My Liberation Notes menganut character-driven, ceritanya fokus pada perkembangan tokoh-tokoh di dalamnya, makanya alurnya terasa lambat. Kalau ditanya konfliknya nyeritain apa, saya harus mikir beberapa saat, kayak lebih mudah nyeritain konflik drama yang digerakkan oleh plot-nya.


My Liberation Notes nyeritain kehidupan orang-orang yang tinggal di daerah yang jauh dari pusat kota, dan bekerja di pusat kota. Mereka harus bolak-balik rumah-tempat kerja. Kondisi ini membuat hidup mereka terasa membosankan. Monoton. Waktu banyak dihabiskan dalam perjalanan. Harus bangun pagi agar tidak ketinggalan bus dan kereta. Acara kumpul-kumpul seusai bekerja tidak bisa terlalu jauh atau tidak boleh melewatkan kereta terakhir—biaya taksi menuju pulang terlalu mahal. Banyak hal yang ingin mereka lakukan namun terhalang status bukan anak kota. Acapkali pula status yang melekati mereka dijadikan bahan obrolan di sirkel dunia kerja. Banyak sekali yang relate dengan pola kerja Yeom bersaudara.


Apakah kemudian jika suatu saat mereka berubah status jadi anak kota yang tinggal dan bekerja di kota, lantas mampu mengubah total wajah hidup mereka? Saya rasa inilah salah satu pertanyaan utama yang dibawa My Liberation Notes. Misalnya, saya menganggap wajah murung Mi-jeong, kesulitannya Gi-jeong mendapatkan pacar, dan stuck-nya Chang-hee di posisi yang sama, jauh dari hidup stabil—diputusin pacar karena salah satunya dia ga punya mobil (?)—semata-mata hanya diakibatkan karena mereka tinggalnya di desa, semata-mata karena dihalangi status anak daerah. Apakah membebaskan diri dari status anak daerah serta merta mengubah mereka menjadi orang yang bahagia? Begitu? Jika suatu saat ketiga bersaudara ini pindah dan hidup ke kota selayaknya anak kota, mengikuti gaya hidup anak kota, apakah masalah hidup mereka terselesaikan? Terbebaskan dan bahagia?


“If we had lived in Seoul, would we have been any different?” – Mi Jeong


My Liberation Notes—catatan kebebasan seperti apa yang ingin ditulis orang-orang di drama ini? Apakah kebebasan yang diidamkan benar-benar mampu membebaskan dari labirin frustasi dan kerumitan hidup? Mengapa hidup menjadi rumit dan membuat frustasi? Apakah bebas artinya merdeka dan bahagia? Apakah bebas tidak butuh tebusan apa-apa? Kebebasan… kebebasan, sebagai manusia yang tak sekadar hidup dan bernapas, kebebasan seperti apa yang kita inginkan, sesungguhnya?


“Life is a series of embarrassments. It’s embarassing from the moment you’re born. You are born naked.” – Chang Hee

relatable scenes

Banyak sekali adegan di My Liberation Notes yang meneriakkan pengalaman nyata yang pernah saya alami di masa lalu. Saya sampai harus mengklik tombol pause untuk mengambil jeda, menarik napas panjang, dan menahan keharuan—momen yang membuat saya bergumam, “ah… ternyata perasaan saya, apa yang saya rasakan adalah valid. Saya bukan orang aneh. Tidak apa-apa merasakan seperti itu. Sungguh tidak apa-apa.

Saya akan memilih tiga quotes :


#1


“I feel uneasy in bed, I feel uneasy around people. ‘Why can’t I laugh happily like other people? Why am I sad all the time? Why am I always nervous? Why is everything so boring?” – Mi Jeong


Saya ingat dengan jelas sekali waktu-waktu yang saya lewati dengan hati muram. Tuhan, saya kenapa? Apa yang salah dengan saya? Kenapa saya selalu diliputi kemurungan? Kenapa saya kerap merasa tidak nyaman dikelilingi orang banyak? Kenapa saya tidak bisa menemukan hal-hal yang bisa menggembirakan seutuhnya? Kenapa saya?


Saya jarang tertawa.


… apakah saya yang terlalu berlebihan? Di mata saya orang-orang begitu menikmati hidup, mengapa saya selalu merasa kesulitan menjadi saya? Manakah saya yang sebenarnya?


Pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan menyudutkan saya. Saya menganalisa diri sendiri. Sering saya berbaring di kamar, menghadap langit-langit, perasaan saya datar tetapi air mata saya mengalir tanpa saya tau mengapa saya menangis.


Seperti Mi-jeong, ketika berjalan seorang diri, pandangan mata saya menyentuh apa saja yang saya lewati, saya seperti tidak tertarik dengan apa pun itu tetapi kepala saya riuh.


Saat terbangun di pagi hari, tubuh saya terasa sakit, saya membuka pagi dengan rasa lelah. Saya bangun dan bekerja dan hidup karena tubuh saya masih bernapas—saya pernah melewati fase ini dan saya berharap saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana.


#2


“I want liberation. I want to be liberated. I don’t know where I’m trapped but I feel trapped. There’s nothing in my life that relaxes me. I feel cramped and stifled. I want to break free.” – Mi Jeong


Kamu ingin membebaskan dirimu dari kemurungan yang aneh namun di saat yang sama kamu kesulitan menemukan alasan kemurunganmu. Kamu tidak tahu di persimpangan mana kamu keliru memilih arah. Semuanya tampak salah, tampak tidak pada tempatnya. Dan kamu ingin sekali terbebas dari situasi ini.


Pernah merasakan apa yang dirasakan Mi-jeong? Jika ya, sama. Saya pun pernah. Rasanya tidak enak sekali. Mengerikan.


3#


“I feel like I have to fill the silence too. –Yeom Mi-Jeong


Saya bertanya-tanya kenapa saya merasa tidak nyaman berada di tengah orang banyak? Kenapa saya kerap merasa canggung bertemu orang banyak? Mengapa saya cenderung menghindari obrolan dengan orang yang tidak saya akrabi? Apakah saya membenci ide bersosialisasi dengan orang lain?


… saya masih terus bertanya-tanya, hingga saya mendengar Mi-jeong mengatakan, “I feel like I have to fill the silence too.”


AKURAT.  Itulah yang saya rasakan. .


Berinteraksi dengan orang lain, terlibat dalam obrolan (face to face), saya merasa terbebani dengan tanggung jawab untuk membuat obrolan terasa menyenangkan, sedangkan saya tahu persis betapa membosankannya saya, saya orang yang canggung, sering merasa malas untuk berbicara. Saya tidak bisa pura-pura excited terhadap topic yang tidak saya sukai. Jika bertemu orang yang pada kesan pertama sudah membuat saya hilang rasa, saya tidak segan-segan memasang aksi diam atau terang-terangan menunjukkan keengganan saya—untuk alasan-asalan inilah saya tidak begitu menyukai aksi kumpul-kumpul tanpa alasan jelas. Meski tidak separah dulu, namun kebiasaan tetap kebiasaan. Saya tidak pernah berlama-lama menempatkan diri di suatu lingkungan yang riuh. Saya memilih ngacir pulang setelah jam mengajar selesai, pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, mending saya angkut ke rumah.


Ngobrol banyak sama orang yang dengannya kita tidak punya relasi yang dekat adalah salah satu cara untuk membuat diri lelah. Herannya, saya bisa membuka percakapan-percakapan basa-basi dengan mereka yang saya temui pertama kali di tempat-tempat yang saya tidak merasa familiar.


Saya menemukan rumah, khususnya kamar saya, sebagai tempat teraman dan ternyaman yang bisa menerima saya apa adanya. Saya mau diem aja sepanjang hari, atau berisik cerewet ga jelas, suka-suka saya wkwk. Ga ada yang gangguin.


Ending


“That’s how life is. It seems to go well and then stabs you in the back. Did you think it was always going to be peachy?” – Mr. Gu


Saya tak habis-habisnya dibuat speechless dan bergumam sendiri betapa sangat realistisnya My Liberation Notes. Termasuk ending-nya. Karena MLN menggunakan alur character-driven, membahas endingnya tidak bisa jauh-jauh dari amatan terhadap perkembangan karakter-karakter utamanya.


Setelah 16 episode, apa yang terjadi pada mereka? Bagaimana rupa my liberation notes mereka? Bertemukah mereka dengan apa yang mereka cari di bawah nama kebebasan?


Saya menyukai apa yang dikatakan So Hyang Gi pada pertemuan pertama Liberation club setelah sekian lama tak mengadakan pertemuan pasca Mi-Jeong pindah kerja.


“We can’t exactly say we accomplish nothing, don’t you think? Well, some days, I feel like I am. And some days, I feel like I’m back to square one. But I still feel I’ve been liberated even just a little.” – So Hyang Gi


Bagi mereka yang sedang berjuang memperbaiki diri, menemukan kedamaian dalam hidup, mereka yang sedang berusaha menjadi versi terbaik dirinya, proses ini sangat sulit. Terdapat perbedaan yang tipis; membuka hari dengan ngerasa baik, happy, jelang malam perasaan kosong dan lelah kembali datang yang membuat kita mempertanyakan usaha kita sendiri. Apakah kita bisa berubah? Hanya dengan terus-menerus melakukan perubahan demi perubahan baik, sedikit demi sedikit, dengan sabar dengan sebaik-baiknya usaha, menerima proses jatuh bangunnya, kita kemudian sadar, ya… ada yang berubah. Jelas, ada yang berubah. Meski tak besar, meski seperti tak terlihat. Kita berubah.


Proses yang kita jalani inilah yang kelak akan membuat kita tahu bagaimana semestinya menghargai dan memeluk diri sendiri. Mengapa? Karena sebaik-baiknya teman seperjalanan tak lain adalah diri kita sendiri. Dia yang sudah berjuang bersama kita, menikmati jatuh-bangunnya berdua.


Apakah Yeom Bersaudara setelah pindah ke kota dan hidup bahagia? Happily ever after? Apakah Mi Jeong berubah dari pemurung menjadi si wajah gembira yang penuh senyum? Yeom Chang-hee akhirnya bisa punya mobil, kaya-raya dan menikah dengan kekasihnya? Dan Yeom Gi-jeong, apakah dia bisa bertemu pria yang diinginkannya?


My Liberation Notes memilih ending yang sesuai realita hidup sesungguhnya. Tidak ada upaya mengglorifikasi kebebasan. Apa adanya. Raw.


Pindah ke kota tak lantas membuat hidup mereka menjadi mudah. Suasana baru berarti tekanan baru juga. Namun, sebagai penonton saya bisa melihat perbedaan nuansa kehidupan yang dijalani Yeom bersaudara; plus-minusnya.


; Yeom Gi-Jeong,

Pandangan saya terhadap Gi-Jeong setelah 16 episode berubah drastic. Saya tidak lagi melihatnya sebagai sosok yang annoying. Gi-Jeong mungkin terlihat menjengkelkan dengan mulut blak-blakannya, tapi setelah mengenal lebih dekat ternyata nggak se-menjengkelkan yang terlihat dari jauh. Apa ya sebutan yang tepat? Jalan berpikirnya ga mengikuti jalur umum kebanyakan orang. Dua adegan yang saya ingat dan dua adegan ini punya pengaruh besar mengubah pandangan saya terhadap Gi-Jeong. 1) Park Jin Woo memberi saran Gi-Jeong untuk menarik ulur Cho Tae Hoon. Gi-Jeong menjawab, “When a man and woman like each other, shouldn’t you give each other the fullest? Why would you string it out in small portions?”


Saya kayak kena pencerahan denger omongannya Gi-Jeong. Iya ya? Kalo saling sayang kenapa saling menyulitkan? Saling membuang energi, kesempatan dan waktu?


Saya pun mikir, Yeom Gi-Jeong bukan orang yang sulit. Kalo memakai sudut pandang lain, saya bisa melihat dia bukan sebagai orang yang omongannya menjengkelkan dan suka mengeluh. Apa yang Gi-Jeong ucapkan tanpa filter itu adalah sebenar-benarnya isi kepalanya. Dia orang yang logis menurut kamus kelogisannya yang kalo disandingkan dengan kelogisan secara umum, Gi-Jeong akan dipandang sebagai orang yang aneh, annoying, ngeri (inget obrolan kepala jatuh?), padahal enggak. Gi-Jeong ga suka membagus-baguskan omongan. 2) Di ep 16, Tae-Hoon mengira Gi-Jeong potong rambut karena pengen putus (pikiran orang umum), padahal enggak. Dia emang pengen potong rambut aja. Aslik, di adegan ini saya pengen meluk Gi-Jeong. Baik banget mau ngertiin Tae-Hoon. Mau bersabar menunggu. Sebagai orang mencintai Tae-Hoon, Gi-Jeong mengalami roller coaster emosi. .


Menurut saya, Gi-Jeong adalah jenis orang yang sangat menghargai hal-hal kecil, yah… meski kadang hal-hal kecil bisa membuatnya overthinking. She’s unique in her own.


Yeom Chang Hee :

Room 302.-nya Chang Hee di episode 16 bikin saya nangis kenceng. Bukan adegan sedih loh itu. Dia salah masuk ruangan dan berniat keluar dari sana. Momen ketika dia hendak keluar, Chang Hee terdiam sebentar, lalu senyum kecil terbit di wajahnya. Ia memutuskan tetap tinggal.


Yeom Chang Hee yang saya anggap berisik, egois, ambisius dan cerewet ternyata adalah karakter yang paling… paling powerful perjalanannya. Di mana kakinya membawanya maka di situlah takdirnya—saya tidak menyangka prinsip ini akan membikin saya nangis. Chang Hee yang baik sekali, punya hati yang lembut. Bicaranya saja yang keras, hatinya lembut. Feeling ibunya tidak meleset. Chang Hee lah yang menghidupkan kembali nyala api di dalam keluarga Yeom yang meredup setelah kepergian ibu mereka. .


Chang-Hee adalah karakter favorit saya.


“Dad, you still have the three of us by your side. Dad, I love you.”


Siapa yang menyangka anak laki-laki satu-satunya yang di awal episode terlihat grumpy adalah dia yang sepeninggal ibunya menjadi pilar yang menguatkan ayah dan saudara-saudaranya. Chang Hee berproses dengan baik. Anak baik .


Adegan dia makan berdua dengan ayahnya, dia ngilang bentar ke belakang pas balik matanya udah merah. Ya Alah sedih sekali….


Yeom Mi-Jeong :


“Yeom Mi-jeong’s life is divided into two parts, before and after she met Mr. Gu. I must be crazy. I feel so lovable. There’s nothing but love in my heart. So, I can’t feel anything but love.”


Pasca pindah kantor, Mi-Jeong menemukan ritme hidupnya. Mi-Jeong menikmati pekerjaannya. Mi-Jeong bertemu kembali dengan Mr. Gu. Apakah Mi-Jeong sudah menemukan kebebasannya? Ya, tetapi perjalanannya belum selesai. Karena menemukan kebebasan adalah sebuah proses panjang. Yang jelas, Mi-Jeong bersama Mr. Gu adalah chapter hidup yang benar-benar dinikmatinya. Bersama Mr. Gu, Mi-Jeong tetap menjadi dirinya sendiri. Lebih dan kurangnya.


Jika melihat lebih dekat sorot mata Mi-Jeong sebelum dan setelah berpisah dengan Mr. Gu tidak sama alias berubah. Ga hampa lagi.


Adegan Mi-Jeong ketemu mantan yang udah bikin dia kesulitan adalah yang saya highlight. Saya melihat Mi-Jeong menilai dirinya sebagai orang jahat. Tetapi adegan itu membuktikan sebaliknya. She is too kind. Dengan sejarah yang mereka miliki bisa saja Mi-Jeong menjebak si mantan—balas dendam gitu. Tapi tidak. Mi-Jeong tidak melakukan itu. Bangga sama Mi-Jeong!


Mr Gu :

Berbeda dengan penonton lain, saya tidak jatuh cinta pada Mr. Gu. Karakter ini membuat saya takut. Apa tindakannya berikutnya? Apa yang akan dia lakukan? Kata, kalimat apa yang akan dilontarkannya… saya menunggu dengan hati-hati, banyak momen kebersamaannya dengan Mi-Jeong di Sanpo yang membuat saya cemas.


Momen menggetarkannya Mr. Gu di episode 16 adalah adegan koin yang nyaris jatuh di lubang air. Koin yang mengubah pilihan hidup Mr. Gu.


Saya suka cara Mr. Gu memperlakukan Mi-Jeong. Omongannya ga penuh bunga-bunga tapi selalu tepat dan cocok untuk membantu Mi-Jeong menemukan entah apa yang dicarinya.


***

Akhir My Liberation Notes tidak mengenal happy or sad ending. Seperti hidup kita, happy or sad, sifatnya sementara, sedangkan hidup harus terus berjalan. Drama ini tidak butuh ditutup dengan menceritakan secara pasti dan jelas bagaimana kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya. My Liberation Notes berakhir, namun para pencari kebebasan untuk diri sendiri ini masih terus mencari. Satu yang pasti, mereka sudah menemukan arah yang tepat. Begitulah cerita ini ditulis.


Special Mentions

Mom

“I don’t expect anything from you. I’m just happy when you smile. And when you cry, I wonder what happened.” – Mom


Melihat punggung Eomma di episode 13, bahunya yang berguncang karena menangis, saya tidak sanggup menahan air mata saya. Dan menit-menit berikutnya hingga episode 14, tidak ada jeda untuk bernapas lega.


Sosok ibu yang sejak kemunculannya di episode satu tidak melakukan hal lain, ia hanya bekerja dan bekerja. Mengurus suami dan anak-anaknya. Bekerja di dapun, di ladang. Memikirkan bagaimana anak-anaknya. Sosok ibu yang selalu bekerja keras memastikan anak-anak dan suaminya makan dengan baik, istirahat dengan nyaman. Dan saat ia benar-benar bisa meraskan nikmatnya istirahat adalah saat ia pergi ke tempat yang jauh dengan hati patah dan berat; ia merasa gagal mengenali kesedihan di wajah anak-anaknya.


Hati saya ikut patah menonton pembukaan episode 14, melihat lubang yang ditinggalkan eomma di tengah keluarganya bersama kepergiannya yang mendadak. Kehilangan yang dirasakan keluarga Yeom terasa kuat dan realistis. Hati saya seperti ikut diremas.


Melihat Gi-jeong, Chang-Hee, Mi-Jeong mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan ibu mereka—momen yang membuat mereka menyadari betapa kuat tubuh kecil ibu mereka yang bisa melakukan semua pekerjaan itu sendiri.



Saya takut menonton after leaving-nya Eomma. Saya teringat ibu saya sendiri. Ibu saya tidak berbeda dari Eomma. Beliau selalu memastikan kami menjalani hidup dengan baik. Dua tahun terakhir hubungan saya dengan ibu semakin baik. Saya sering menangis bila mengingat ibu saya. Mengingat hari-harinya yang tidak pernah mudah sejak kecil. Pernahkah ibu merasakan kebahagiaan yang sebenar-benarnya? Bahkan setelah menikah dan memiliki anak-anak, ibu saya masih menjalani hidup yang sulit. Padahal beliau pernah beberapa kali memiliki kesempatan untuk memilih bahagianya sendiri, tetapi tidak dipilihnya. Ibu saya mengorbankan bahagianya untuk orang lain. Meskipun situasi sudah berubah lebih baik sekarang, setiap kali memandang wajah atau punggung ibu, saya kerap berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan sedih yang ingin sekali saya tanyakan pada beliau. Hasilnya saya sibuk menyusut air mata yang berebutan keluar—takut ditanyain kenapa nangis.


Para ibu adalah sosok paling rentan diabaikan di dalam rumahnya sendiri. Padahal cinta ibu adalah cinta paling rahasia dan tulus. Menurut saya, memiliki dan merasakan cinta ibu adalah privilege yang belum tentu bisa dirasakan orang lain. Peluk erat, jangan disia-siakan.


Saya nggak bohong, saya sudah punya perasaan ga enak melihat sosok eomma sejak episode satu. Saya tidak pernah luput memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi eomma di setiap kemunculannya. Eomma yang ga pernah diam. Di meja makan pun dia masih sibuk. Sedih sekali. Dan ternyata feeling saya benar adanya. .


Baju yang dikenakan Eomma di foto pemakamannya adalah foto yang biasa ia pakai sehari-hari. Saya tidak tahu apakah ini di sengaja, seolah ingin memberikan symbol, saking sibuknya eomma bahkan ga punya foto cantik.


Kepergian eomma tidak hanya menjadi patah hati terbesar bagi keluarga Yeom, tetapi bagi saya juga sebagai penonton. .


A friend to talk with

“I think you’re unhappy because you don’t know how good you are.” – Officemate


Gi-jeong, Mi-jeong, Chang-hee, saya mau bilang kalau mereka beruntung memiliki teman cerita. Setidaknya ada teman yang mau mendengarkan cerita mereka, se-absurd apa pun ceritanya.


Apa yang ingin saya tulis adalah, meski memiliki teman-teman di sekeliling kita tetap saja rentan merasa kesepian. Apakah kita kurang bersyukur? Saya tidak berpikir demikian. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana cara kerjanya, merasa sepi sepertinya tidak erat kaitannya dengan ada-tidaknya sirkel pertemanan kita. Karena saya mengalaminya sendiri. Saya punya teman yang lumayan beragam tapi itu tidak membuat kesepian yang mengikuti saya entah sejak kapan tidak pernah bisa sepenuhnya menghilang. Ia bisa muncul kapan saja tanpa saya duga-duga.


“You should get paid to listen to someone else talking.” – Mr. Gu


Mungkin, jika kita bisa menikmati hubungan seperti Mr. Gu dan Mi-jeong yang bisa saling mendengarkan dengan perasaan aman dan nyaman, kita tidak akan terlalu merasa kesepian. Hehe. Jago bener nyari alasan ya. Menangani kesepian tidak mesti dengan mencari sosok lain. Karena dia memang nyata adanya dan valid, kita yang harus nyari tau sendiri gimana caranya pas ngerasa sepi kita ketemu simpul yang bisa bikin kita nyantai aja gitu. Kesepian bukan sesuatu yang menyedihkan atau mengerikan. Merasa kesepian bukan isyarat kita menggantungkan diri kepada orang lain.


Ketika Mr. Gu menghilang, Mi-Jeong tetap menjalani hidupnya. Ia sedih? Jelas iya. But life must go on. Inilah yang saya bilang My Liberation Notes menggambarkan dengan realistis momen atau event yang terjadi. Ga dramatisir berlebihan.


Saya pikir kita akan bersepakat soal ini; bertemu seseorang yang mau mendengarkan suara kita adalah hal terbaik yang kita harapkan bisa terjadi. Bagi mereka yang sudah menemukannya, selamat.


Liberation Club

“Do not give advice. Do not try to comfort. Those are the rules of our club.” – Mr. Park


Klub Kebebasan—saya benar-benar menginginkan wadah seperti ini. Bagus banget klubnya. Aturannya asik. Kita boleh ngoceh apa aja tanpa takut dihakimi, dan tidak boleh ada yang menghibur. Ga semua uneg-uneg yang kita keluarkan butuh ditanggapi. Kayak cuman pengen dikeluarin aja gitu. Abis itu udah. Karena kadang kita tuh sebenarnya udah tau mesti gimana dengan suara-suara di dalam kepala kita tapi tetep harus dikeluarin biar lega. Ya nggak sih? Saya gitu soalnya wkwk.


Tidak ada yang namanya kebetulan


Siapa yang speechless mengetahui koneksi yang terjadi dantara Mr. Gu dan Mi-Jeong? SAYA!!! Plot yang mengejutkan. Hidup bener-bener ga bisa diprediksi dan ga ada itu istilah kebetulan. Apa yang terjadi dalam 24 jam hidup kita, tidak ada namanya kebetulan.Mungkin ini alasan kenapa kita disuruh ngomong baik-baik sama orang lain, perlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Kenal atau tidak. Karena kita nggak pernah tau apa yang sedang dialami orang lain. Small act can help. Hal-hal baik kita terima tidak datang begitu saja. Kita tidak bekerja sendirian di semesta yang luas ini.

***


“Something good will happen to you today.”

Kalimat ini sudah muncul mulai dari episode 1. Otak kayak dicuci, seburuk apa pun harimu, sesuatu yang baik akan datang padamu. Dipikir-pikir, quote ini nyambung sekali dengan emosi yang dibawa My Liberation Notes—ingat alur character-driven nya?


Ditambah dengan kalimat pamungkasnya Mi-jeong untuk Mr. Gu,


“Five minutes a day. If you have five minutes of peace, it’s bearable.” –Yeom Mi-Jeong


Maksudnya Mi-Jeong, kita lah yang mesti berusaha sendiri mencari detik-menit yang berharga yang bisa membuat kita bahagia meskipun itu dari hal-hal kecil misalnya mengucapkan atau menerima terima kasih dari orang asing, atau menerima teriakan "PAKEEEEEEET" depan pintu, atau dapet notif di awal bulan ngabarin kalo gaji udah masuk HAHAHAHA maap garing. Banyak hal-hal kecil yang sebenarnya bisa bikin hepi cuma seringnya kita abaikan karena... ya dirasa nggak penting. 


My Liberation Notes mungkin terlihat muram di luar, usai menamatkan 16 episodenya, saya menemukan banyak hal yang membuat drama ini unik dengan cara bertuturnya dan bagaimana ia disajikan; kesedihan, kesepian, humor, persahabatan, keluarga, dunia kerja. Semuanya sangat dekat dengan kehidupan kita. Tidak ada yang dilebih-lebihkan atau sengaja dibuat dramatis. Porsinya pas.


Sulit membuat drama se-sempurna ini. Storyline-nya solid, character development-nya berjalan dengan baik, alur character-driven nya solid, music scoring-nya bagus banget, dan sinematografi yang apik menjadi alasan saya dibuat speechless di setiap episodenya. Apa yang saya tulis pada postingan ini belum mewakili semua perasaan yang saya rasakan sewaktu menonton My Liberation Notes.


Acting-wise, GILAK. SEMUANYA BAGUS. Tanpa mengecilkan peran yang lain, menurut saya karakter yang paling sulit diperankan di sini adalah Yeom Mi-Jeong, Mr. Gu, dan Appa. Ketiga karakter ini minim dialog dibandingkan karakter lain. Ketiganya lebih banyak bermain di ekspresi wajah dan gestur. Bagaimana mereka membuat penonton mengetahui/ membaca warna emosi mereka hanya dengan melihat wajah mereka—ini bukan perkara mudah.


Akhir kata, seperti halnya saya yang kesulitan menulis opening tulisan ini, pun ketika hendak membuat closing paragraph saya masih kesulitan haduh.


Draft ini nyaris dua bulan saya kerjakan dan hasilnya… entah. Saya tetap saja merasa masih ada yang lupa saya tulis. Menulis drama perfect (dalam kamus per drama an saya) memang seberat ini. Saya berani ngasih skor 10/10 My Liberation Notes untuk genre slice of life. Semua tentang drama ini adalah sempurna. Satu pertanyaan tertinggal, terhadap sosok Park Hae Yeong yang menulis naskah My Liberation Notes, saya sungguh penasaran bagaimana dia menulis cerita tentang manusia dan relasinya dengan dirinya sendiri, dengan manusia lain, dengan segala sesuatu di sekelilingnya, dengan detail emosi yang memiliki kedalaman  pemahaman luar biasa. Bagaimana bisa? LUAR BIASA.


P.s : saya punya alasan sendiri kenapa tidak membahas ‘worship’ nya Mi-Jeong dan Mr. Gu. 



Bagaimana dengan catatan kebebasanmu?

Tabik,

Azz.

Sebuah Catatan : My Liberation Notes

by on 7/09/2022 10:47:00 AM
Jauh sebelum saya menuliskan paragraph pembuka postingan ini, di kepala saya sudah muncul pertanyataan berulang, “bagaimanakah saya (akan)...

 


“Even after wounds are healed, he still can’t completely forget the pains. Even though many people have experienced such pains, but very few people can express the feeling.

Drama yang menjadi ajang reuni-an Vic Zhou dan Barbie Hsu setelah demam Meteor Garden—tampaknya ini menjadi alasan utama mengapa saya begitu excited menonton MARS belasan tahun silam. Sebagai penonton Meteor Garden dan pendukung garis keras Lei-Sanchai, saya seneng banget. Drama 21 episode ini disiarkan oleh salah satu stasiun tivi swasta. Usia saya masih belasan waktu itu. Seingat saya, saya masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP. Saat itu saya tergila-gila dengan drama Taiwan produksi Comid Ritz ini.

Kecintaan saya terhadap MARS tidak pernah hilang, tidak terhitung sudah berapa kali saya menonton ulang. Saya ingat, saat pertama kali bertemu dengan internet di tahun 2008, yang saya cari pertama kali adalah OST dan informasi drama-drama yang tonton lewat siaran tivi—Winter Sonata, Endless Love, Stairway to Heaven, Sassy Girl, At The Dolphin Bay, Twins… dan masih banyak lagi, dan Mars termasuk di antaranya. Waktu itu saya masih kesulitan mencari link donlot untuk dramanya, aksesnya masih belum leluasa seperti sekarang ini. Oya saya pernah tuh beli dvd nya di lapak mamang yang suka jualin dvd drama di mall. Cuman ya itu, sub Indonya bikin batin saya lelah sebagai penonton wkwk.  Beberapa tahun kemudian barulah saya berhasil mengamankan 21 episode MARS di laptop. Sayangnya, laptop saya rusak, seluruh file hidup saya sejak 2008 ikut terbawa, belum sempat saya selamatkan.

Saya melupakan MARS hingga—kira-kira beberapa hari jelang puasa kemarin, saya terlibat obrolan dengan Mbak Ta di Twitter. Saya tidak ingat bagaimana ceritanya obrolan kami menyentuh topic MARS dan entah mengapa minat saya untuk menonton MARS menguar kembali. Tidak butuh waktu lama, saya menyusuri Google untuk mencari link donlot, ternyata masih ada yang tersedia meskipun kualitas videonya jauh dari HD. Tidak apa-apa, yang penting sub-nya waras saya oke-okeh aja.

Ya. Saya yang semula meneguhkan niat nggak mau nyentuh drama selama puasa, mematahkan sendiri niatnya. Dimulai dengan me-rerun Someday or One Day, disusul MARS.

Sebenarnya, saya sudah menyimpan ingin untuk membuat POV atau semacam review suka-suka MARS di Majimak Sarang, tetapi belum juga bisa saya realisasikan. Rasa-rasanya saya paham mengapa review yang mengambang di kepala saya, terus-terusan berada di sana selama bertahun-tahun—pemahaman saya tentang drama ini belum sempurna.

Saya merasa kali terakhir saya menonton ulang MARS, feeling yang dibawa dan saya rasakan sangat berbeda bila dibandingkan saat saya menontonnya 2-3 tahun silam. Kali ini saya merasa mampu memahami setiap emosi yang dibawa karakternya, terutama tiga karakter utamanya yakni Chen Ling, Han Qi Luo dan Tongtao. Yang cukup mengejutkan saya, drama berkonten berat ini tidak membuat saya mengalami panic attack. Syukurlah.

Storyline



Trigger Warning!!!

Hingga beberapa waktu lalu saat menonton ulang MARS, saya tidak menyadari bahwa drama ini patut diberi label TW dengan huruf KAPITAL dan tanda seru yang banyak mengingat apa yang ia suguhkan jauh dari kesan light. Suici*de, r*ape, bullying. Jika diingat-ingat lagi, apa yang membuat saya begitu terpikat pada MARS adalah bagaimana drama ini menawarkan kepada saya mengenai tuturan sisi gelap emosi manusia. Saya di usia belasan, dalam suasana hati yang gelap, berat, dan sunyi, mudah sekali terpikat pada hal-hal semacam ini. Seolah-olah mereka menjadi pelarian lumbung emosi saya yang mampat. Dengan mempelajari bermacam-macam karakter dan emosi yang dibawa manusia, saya seperti menemukan ketenangan di sana. Apa ya namanya ini? Saya terbiasa mencandu kesedihan dan kerumitan, yang membuat saya berkali-kali gagal membebaskan diri.

Nuansa psikologis nya MARS lumayan kuat.

Menonton ulang MARS, saya menyadari satu hal, bahwa sudut pandang kita terhadap sesuatu, apa saja itu, sangat dipengaruhi oleh kondisi kita di dalam; hati dan pikiran. Inilah yang saya rasakan usai menuntaskan 21 episode MARS untuk yang kesekian kali. Banyak insight dari drama ini yang luput saya sadari ketika menontonnya dulu. Apakah ini menandakan kondisi mental saya sudah sedikit lebih matang menuju tenang? Semoga.

MARS dirilis pada tahun 2004, diangkat dari manga terbitan Jepang tahun 1996-2000 berjudul Best Friends (MARS). Apa yang membuat saya salut, isu-isu yang dibawa MARS, belasan tahun kemudian ternyata telah menjadi isu penting dan mulai ramai dibicarakan orang saat ini tentang mental health. Barangkali, untuk alasan inilah, meskipun sudah 18 tahun berlalu MARS masih sangat relevan untuk dinonton. Dan untuk alasan yang sama pula—selain chemistry badainya Vic-Barbie—saya nggak pernah bosen sama MARS.

MARS menceritakan kehidupan Chen Ling dan Han Qi Luo, dua orang yang berangkat dari garis tragedi hidup yang berbeda. Chen Ling dikenal sebagai sosok troublemaker di kampus yang hobinya selain balapan adalah gonta-ganti cewek. Tak banyak yang tahu Ling mengalami gangguan psikologis yang cukup berat pasca insiden bunuh diri saudara kembarnya, Sheng. Bila terkena trigger, Ling jatuh pingsan dan dalam kondisi gawat bisa terjadi henti jantung. Ling pernah dirawat di rumah sakit jiwa, dengan bantuan dokter ia berhasil keluar dan mencoba menjalani hidup normalnya. Namun nun di dalam dirinya, Ling tidak pernah melepaskan pemikiran bahwa ia tidak seperti orang normal kebanyakan. Bayang-bayang trauma yang ditinggalkan Sheng, fragmen-fragmen masa kecilnya bersama sosok ibunya yang samar dan misterius masih terus memenuhi kepalanya.

Han Qi Luo selalu terlihat berjarak dengan siapa saja, terutama laki-laki. Di kampus ia tak punya teman. Ke mana-mana selalu menunduk, kikuk dengn sorot matanya yang was-was. Ada perasaan tidak aman dan nyaman yang mengikutinya. Qi Luo suka melukis. Selain ibunya, tak ada yang tahu jika Qi Luo pernah menjadi korban kebejatan ayah tirinya saat masih di bangku sekolah.

Nah, apa jadinya bila dua orang ini bertemu? Ling yang berpembawaan semau-gue, dan Qi Luo yang pendiam—dengan luka dan trauma masing-masing yang dibawa masa lalu… Berawal dari menanyakan arah sebuah rumah sakit dan sketsa, hubungan keduanya pun dimulai.

Dulu, saya pernah keliru meromantisasi hubungan Ling-Qi Luo. Cowok bad boy yang ketemu cewek lemah dan akhirnya berubah karena cinta. Aw, how romantic! Wait—kok kayak ada yang salah ya? No. Nggak kayak gitu. Upaya saya meromantisasi membuat saya luput menangkap esensi hubungan Ling-Qi Luo. Semula saya pun sempat menimbang-nimbang apakah drama ini membawa red flag dalam hubungan Ling-Qi Luo, dan setelah menonton lagi, menyimak interksi dan dialog-dialog antara Ling dan Qi Luo, saya berani bilang TIDAK. Saya tidak menemukan konten red flag dalam hubungan mereka. Bahkan label bad boy yang diberikan kepada Ling, ia sebagai ke*amin berjalan kata Da Ye, pun tak bisa serta merta diamini begitu saja.  Ling tidak pernah melakukan tindakan manipulative kepada perempuan. Semua yang terjadi di atas kesepakatan suka sama suka (bukan berarti saya benerin kelakuannya ya). Nyebelinnya Ling, dia tau diri kalo dia cakep, punya pesona dan jadi pujaan ciwi-ciwi. Sigh… Tapi, sekali lagi, menurut saya Ling bukan tipikal cowok brengsek yang ingin saya paketkan ke kutub Utara. Jika saya berada di seberang line pemujanya, saya melihat Ling sebagai pitiful guy. It’s like he lost his soul. His eyes full of the loneliness, and you can see those unbearable sadness there. Saya mengasihaninnya tapi tidak berniat berurusan dengannya HAHA.

Lantas apakah pada akhirnya Ling berubah karena Qi Luo? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Ya atau tidak, kalimat penjelas yang mengikutinya kemudian meleset jauh dari kesan meromantisasi a bad boy who meets a good girl. MARS lebih dari sekadar itu. Pada awal 2000-an di mana drama dengan cowo-cowo tsundere masih menjamur, Ling muncul tak biasa.

MARS tidak memberikan pijakan yang paten untuk tokoh-tokohnya, perkara benar atau salah, hitam atau putih tidak melulu menjadi soal karena sepengamatan saya, drama ini banyak menawarkan wilayah abu-abu bagi interpretasi kita sebagai penonton. Mengikuti logika berpikir para tokohnya yang kerapkali terasa intriguing membuat kita melempar balik pertanyaan. Mempertanyakan argumen-argumen mereka. Karena inilah saya bisa merasakan orisinalitas karakter MARS. Mereka manusia-manusia yang berkontemplasi tentang banyak hal, ada pikiran-pikiran yang bertabrakan dan saling gugat-menggunggat. Dan pada akhirnya kita pun dibuat sadar, kita sendirilah yang harus bertanggung jawab terhadap seluruh pilihan keputusan yang kita ambil terlepas dari besar dan kuatnya arus pengaruh yang datang dari sekeliling. Asal tidak menyerah, asal tidak sempurna kehilangan kesejatian diri sendiri, saya pikir kelak kita akan baik-baik saja. Akhirnya.

Mengenai wilayah abu-abu MARS, misalnya ucapan Ling kepada Qi Luo tentang Tong Dao di episode 12. Qi Luo berpikir kekerasan fisik berat dan berkelanjutan yang dialami Tong Dao telah mengubahnya menjadi sosok mengerikan. Dengan cepat Ling membantah. Menurutnya Tong Dao bukanlah jenis orang yang akan berubah abnormal setelah mengalami hal-hal semacam itu.

“He is born like that. Some people are born pervert. He can’t stand normal folks. So he thinks of some excuses to persuade himself that the reason he has become like that is because he has been badly tortured.”

Apakah yang dikatakan Ling benar adanya? Tanpa insiden pembulian yang membuat jiwa Tong Dao terguncang, Tong Dao sejak lahir memang telah memiliki karakter mengerikan itu? Tidak ada jawaban pasti. Saya rasa kita semua bersepakat bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan sebagai monster. Tetapi perlu diingat, bersama kelahiran kita, turut pula mengikut dua poros kuat yang saling berseberangan; jahat dan baik, dan tergantung poros mana yang lebih banyak mendapat asupan makanan dalam perjalanan hidup seseorang  Saya selalu merasa bahwa manusia adalah makhluk yang sulit dibaca dan didefinisikan keutuhannya. Manusia bisa bertindak manipulative melebihi logika umum, saya percaya ini. Manusia bahkan memiliki kemampuan mumpuni untuk menipu dirinya sendiri, dan di saat yang sama ia percaya sedang melakukan hal yang tepat dan benar.

Tidak ada yang pasti mengenai Tong Dao. MARS seperti sengaja memberi kesempatan kepada penonton untuk memutuskan sendiri. Yang pasti, drama ini memberi peringatan yang jelas kepada kita, perundungan baik dalam bentuk fisik dan verbal sangat mengerikan dan berbahaya outputnya, terutama dari sisi korban perundungan.

“Mars, wore shining armor, looks dignified and was unstoppable. He was a dark hero who helped people overcome tragedy.”

MARS adalah tentang tragedy di atas tragedy yang menimpa para tokohnya, serta bagaimana mereka membebaskan diri kerangkeng trauma yang memberati kaki-kaki mereka.

Character

[Ling] It says that a terrifying king will control this world and the world will be ruled by Mars. What kind of world do you think it would be if it was ruled by Mars?

[Qi Luo] It seems that you are more inclined to believe that Mars is evil.

[Ling] It doesn’t matter what I believe in, the world is all messed up anyway. It’ll collapse sooner or later. I also don’t believe the future is going to be that great. So why not just come to a flashy and glorified end, doesn’t sound better?

Dialog di atas terjadi antara Han Qi Luo dan Chen Ling di episode 2. Dialog ini mencerminkan betapa berbeda karakter Qi Luo dan Ling. Yang bisa saya katakan adalah, Ling terdengar terlalu pesimis dan sinis menyikapi hidup di depannya. Ini menjadi semakin jelas melihat seperti apa ia menjalani hidupnya. Ia tidak punya arah. Ada sesuatu sedang mati-matian coba dihindarinya dengan bersikap tak acuh terhadap hidup. Ling seperti berlari di lintasan yang tak berujung.

“… in this world, there are many malicious people and you can’t do anything about them. It doesn’t matter how hard they try to pretend. Their malice will be revealed bit by bit and emit a foul smell.”

Di sisi lain, Qi Luo yang selalu terlihat berhati-hati dengan orang lain, tampaknya memiliki kesan yang tidak biasa terhadap Ling. Ia melihat apa yang tak dilihat orang lain pada sosok Ling. Semoga saya tidak terdengar sedang meromantisasi—berdasarkan pengalaman, manusia cenderung mudah mengenali luka dan duka yang diderita orang lain karena ia pernah atau sedang mengalaminya. Apakah ini akan segera disusul simpati atau empati, ini menjadi soal berikutnya. Kita cepat mengenali wajah kita dengan jelas bila ada cermin di hadapan kita, seperti itulah kira-kira gambarannya. Saya menebak itulah yang terjadi pada Qi Luo dan reaksinya terhadap Ling. Qi Luo menyadari ada sesuatu yang tak biasa pada Ling. Semula, Qi Luo memang tak nyaman dengan Ling. Ia sudah tahu citranya seperti apa di lingkungan kampus. Ia melihat sendiri dari jauh Ling kerap terlihat gonta-ganti pasangan di kampus. Penilaian sepihak itu tak butuh waktu lama untuk tersingkirkan. Citra Ling yang didengarnya dari mulut ke mulut berbeda dengan apa yang ia rasakan saat berinteraksi langsung. Apakah Ling tampil ala bad boy, petantang-petenteng menyebarkan senyum manis penuh pesonanya pada Qi Luo? Nope. Di hadapan Qi Luo, Ling tidak berusaha memberikan impresi yang bagus. Sedari mula ia tidak punya maksud apa-apa pada gadis itu. Ling malah terang-terangan ngaku kalo di mata cewe-cewe dia kayak sebuah brand fashion ternama yang kalo satu cewe dapetin itu bangganya luar biasa. Ling, menghargai dirinya dengan cara yang keliru. Sebuah kekeliruan yang dpilih dengan sengaja, memang. Sebab dari semua hal di dunianya, yang paling ditakuti Ling adalah menghadapi dirinya sendiri.

Dari POV Ling pun tak jauh berbeda reaksinya terhadap Qi Luo. Meski tidak pernah diakui secara terang-terangan oleh Ling, saya percaya Ling sudah tahu sejak awal, Qi Luo dan sorot matanya yang menggunggat itu belum pernah ditemuinya pada gadis lain. Kepada Ling, Qi Luo mempertanyakan hal-hal yang setengah mampus ingin dihindari Ling. Apakah Ling terpaksa menghadapi trauma dan ketakutan-ketakutannya akibat pengaruh Qi Luo yang terjadi secara alamiah seiring kedekatan mereka yang semakin intim? Apa boleh buat. Toh Ling tidak bisa selamanya membelakangi masa lalunya.

Chen Ling


Hati saya terbelah. Saya akui, dulu, sisi maskulin yang memancar kuat dari Ling lah yang membuat saya terpesona. Entah kenapa cowo bad boy itu daya tariknya kuat sekali di mata anak remaja, termasuk saya. Dan butuh waktu lama dan pemahaman yang lebih mendalam lagi bagi saya untuk membaca sosok ini dengan perspektif berbeda.

Sisi maskulinnya Ling tidak ada apa-apanya. Bukan itu yang menjadi daya tarik utama karakter ini. Lalu apa?

Pertama, saya mau bilang karakter Ling ini iconic sekali pada jamannya. Vic Zhou berhasil menghidupkan Ling dengan sempurna. Mikro ekspresinya juga dapet banget. Saya dan temen saya dulu tuh terobsesi sekali sama Ling. Paling inget, kita pernah ngikutin cara minum birnya Ling pake botol air mineral HAHAHAHAHA. Kalo 18-19 tahun lalu udah ada medsos, kayaknya tiap hari ga ada kerjaan lain hanya teriakin Ling di temlen ㅋㅋㅋ

I think Ling is cool. 18 tahun kemudian, saya masih percaya Ling is cool. Karakternya likeable, bukan tipikal hot bad boy yang tsundere yang egosentris, kasar blab la bla. Di mata saya, Ling adalah cowok normal yang kebetulan memiliki rekam jejak masa lalu tak biasa dan menghabiskan beberapa waktunya untuk merumuskan masa depannya kembali.

“Everyone lives alone in this world. I know this. But Ling’s loneliness seems to be lonelier and loneliness.”

Yang saya sukai dari Ling, setelah mengakui perasaannya pada Qi Luo, dia benar-benar berusaha membawa dirinya menjadi lebih baik. Ling tidak malu menunjukkan kelemahannya, ia bukan sosok superior, ketika salah ia tak sungkan meminta maaf. Perlakuannya pada Qi Luo bagus banget. Ia membagi semua hal-hal paling rahasia mengenai kehidupannya. Pada Qi Luo, Ling tidak menyembunyikan apa-apa kecuali ada satu insiden kecil terkait Tong Dao. Character development-nya Chen Ling ini jempolan lah. Ling is not a flawless character and he knows that, that’s why after met Qi Luo, he always trying his best to bring the best version of himself. Yang dalam perjalanannya, Ling mengalami naik-turun emosi yang tidak mudah. Di titik ia mulai memberanikan diri menemui dirinya di masa lalu, di saat ia mulai membuka dinding penghalang yang menyumbat ingatannya pada beberapa kejadian di masa lalu dan menyebabkan keran kenangannya tumpah ruah, Ling tidak melarikan diri.

“I’ve never r*ped anyone, and I’m not a girl. So to be honest, I don’t really know how you feel. But I’m not going to ask you to forget so quickly, because I know it’s not that easy. That talk about forgetting is a bull. But what I want to tell you is… no matter what you do, no matter what happens to you, in my heart you’ll always be the same. You’ll never change. We’ve both started out from tragedies, and then we met. We instantly picked each other out. We have to walk hand in hand. Otherwise, we’ll lose the courage to leave our tragedies.” –Ling

Reaksi Ling usai mengetahui penyebab trauma yang dialami Qi Luo bikin saya makin respek sama karakter fiksi satu ini. Ling nggak langsung menemui Qi Luo, dia ngambil jeda berpikir—bukan untuk keputusan putus dari Qi Luo, tapi ia mencari-cari rumusan kalimat yang tepat, yang tidak akan berpotensi menyakiti gadis itu. Kedewasaannya nya Ling keliatan banget di sini. Dia tulus. No dramatic moment. Dan abis itu Ling buktiin ucapannya ga sekadar lip service belaka, dia bekerja lebih keras lagi untuk satu tujuan; membahagiakan Qi Luo.

Qi Luo once said, “he (Ling) acts crazily, and it’s difficult for people to identify him. But he has such a clean face, I can’t sense any trace of malice in it….”

 

Han Qi Luo


Sepintas, dari perawakan dan gerak-gerik serta bahasa tubuhnya, Han Qi Luo terlihat rapuh, lemah. Hanya dengan mengenalnya lebih dekat, barulah diketahui, sesungguhnya karakter ini memiliki strong point nya sendiri. Sama halnya dengan Ling yang membangun mekanisme pertahanan diri akibat dari trauma yang ditimbulkan oleh tragedy di masa lalu, Qi Luo juga secara sadar-tidak sadar juga melakukan hal yang sama. Tragedi mengerikan yang dialaminya membuatnya mau tidak mau harus berjuang seorang diri melindungi dirinya sendiri. Meski itu tidak memberikannya pilihan kecuali menutup akses siapa pun untuk masuk ke hidupnya. Efek trauma sebagai korban per**saan ayah tirinya terus menerus menghantuinya.

Melukis menjadi satu-satunya katarsis bagi Qi Luo.

Saya mengagumi Qi Luo, dengan seluruh keberanian yang dimilikinya. Strong point-nya Qi Luo lah yang berhasil memberikan dorongan kuat kepada Ling untuk berhenti berlari menghindari mimpi buruknya. Qi Luo membantu Ling menemukan arah yang tepat, lalu di saat yang sama pula ia menjadi lebih berani memeluk dirinya sendiri.

Aktingnya Barbie Hsu jempolan. Bagus banget. Sayangnya project beliau yang pernah saya ikutin cuman MG sama MARS ini doang. Saya dibikin nangis liat akting nangisnya dia di episode 14 sambil ngomong, “Who’ll save me?” setelah dikonfrontasi Ling hingga memantik ingatannya pada tindakan asusila ayah tirinya. Salah satu heartbreaking moment-nya MARS. Juga ketika Ling sedang menghadapi masa kiritis di episode 21—sedih banget nangisnya Qi Luo. Sebuah totalitas yang keren sekali menurut saya. Dia ga takut nangis jelek, malah di mata saya nangisnya cantik ga ada jelek-jeleknya.

“Previously, when you or Sheng cried, I would risk my life to eliminate the sources that made you two cry. When Qi Luo cries, but do you know? I just felt helpless and didn’t know what to do. I’m not kidding. At those time, even I felt like crying.” –Ling

Dan bener. Tiap Qi Luo nangis, Ling kayak orang bingung. Panik ga tau gimana caranya supaya Qi Luo berhenti nangis. .

Qi Luo nih tipe orang yang suka berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Tipe pengamat. A deep thinker. Kalo Ling bawaannya sinis terhadap hidup, Qi Luo lebih kalem dan berkepala dingin. Sepertinya mereka yang lebih banyak menelan kesendirian dalam waktunya memiliki pemahaman yang dalam soal banyak hal. Nggak ngasal ngambil keputusan, apa-apa selalu dipikirkan matang, gag rasa-grusu. Qi Luo orang seperti itu. Mungkin ini alasan Ling menemukan kenyamanan padanya.

Selain terobsesi pada cara minumnya Ling, saya dan temen saya pada masanya pernah ngefans berat sama lipstiknya Qi Luo, terpukau sama rambut sun silk nya yang bagus banget itu HAHAHAHA. Barbie Hsu sebagai Qi Luo ayuuuuu sekali. Style nya biasa banget, make up nya minimalis tapi ayuuuuuu. Cakep banget.

Tong Dao  

Satu-satunya karakter di MARS yang sulit saya definisikan.

“The real target Tongdao wants to revenge is the loneliness in his heart.” –Ling

Kapan hidup Tong Dao mulai berjalan ke arah yang salah? Apakah sejak perundungan berat yang dialaminya? Atau jauh sebelum itu?

Saya ngeri sendiri mendalami cara dan logika berpikirnya Tong Dao yang manipulative. Dia seneng bisa ketemu lagi dengan Ling, ia menyangka Ling serupa dirinya. Pada beberapa kesempatan, Ling pernah terguncang dan terseret arus pemikiran Tong Dao, semacam hendak mengamini bahwa ia dan Tong Dao memiliki kemiripan—sama-sama abnormal. Ling bisa memahami dan mengetahui apa yang bernapas di dalam kepala Tong Dao. Jika memakai pemikiran saya di awal mengenai kecenderungan manusia mengenali kesedihan manusia lain karena ia pernah atau sedang mengalami kesedihan yang sama, apakah artinya Ling juga pernah berada di fase yang sedang dihidupi Tong Dao? Jika ya, lantas apa yang membuat Ling memiliki akhir yang berbeda? Rasanya tidak mudah merumuskan jawabannya. Orang-orang di sekitarnya yang membawa pengaruh besar. Dan ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri—Ling tidak pernah benar-benar kehilangan dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya, ia tidak sekali pun menyerah atas hidupnya.

Ling, Tong Dao, dan Qi Luo memiliki caranya masing-masing untuk melindungi diri. Ling dan Qi Luo memilih cara yang hampir sama, sedangkan Tong Dao, ia melindungi dirinya dengan menyalahkan dunia. Dan kesepian di dalam hati manusia, pada titik tertentu mampu menciptakan pusaran jelaga yang bisa menelan apa saja termasuk pemiliknya sendiri.

Selain ketiga karakter di atas, ada beberapa karakter yang cukup menonjol kehadirannya. Qing Mei yang pernah jadi saingannya Qi Luo. Da Ye, sahabatnya Ling yang juga pernah naksir Qi Luo. Qing Mei dan Da Ye nih jadi support system-nya Ling-Qi Luo. Bisa punya temen kayak mereka tuh bener-bener anugerah terindah yang dikasih Tuhan.

Terus ada bapaknya Ling yang kemunculannya di beberapa episode jelang akhir menjadi kunci utama proses healing-nya Ling. Ternyata beliau lah yang menjadi silent protector nya Ling dan Sheng sejak kecil. .

Kalo ada karakter yang saya ga suka karena saya nggak bisa menerima tindakan dan keputusan yang diambil, maka itu adalah ibunya Qi Luo. Ibunya Qi Luo ngasih gambaran kenapa banyak korban perkos**n mengalami masa-masa sulit salah satunya karena orang-orang terdekat mereka tidak memberikan apa yang paling mereka butuhkan saat itu.

Saya nggak bisa membenci Tong Dao dan Sachi.

Ending


|Qi Luo :Do you still believe the world is going to end?  | Ling : That’s inevitable. It’s just a question of when. But, we still have to go on. Qi Luo, you have to stay with me.|

Dialog di episode 21 di atas menunjukkan perubahan signifikan pada karakter Ling. Jawabannya udah nggak sinis lagi. Kedengarannya optimis, bahagia, dan bernada harapan.

Meskipun endingnya terkesan diburu-buruin, sepanjang akhirnya bahagia, yowes lah wkwk. Jujur aja saya inget tuh reaksi saya pas Lucky Strike nongol di akhir disusul scene menggambarnya Tong Dao—saya pengen nangis, ga rela MARS kelar bubar. Masih pengen liat kehidupan pernikahannya Ling-Qi Luo. Kirain teh di akhir mereka bakal punya anak kembar HAHAHAHAHA.

Memperhatikan dialog-dialog di drama ini, banyak loh isinya yang menyentil realita sosial tentang hubungan manusia dengan manusia, bagaimana lingkungan memotret dan memperlakukan seseorang, pun sebaliknya. Dialog-dialognya berisi dan masih relate dengan kehidupan saat ini.

 “If you walk in the light, dressed like a good person, acting like a good person, than everyone thinks you are a good person. When the day comes that you accidentally let the truth slip, everyone thinks it was a fluke and jumps to give you another chance.” –Ling

Saya nggak baca komik aslinya jadi saya nggak tau seberapa besar perubahan cerita versi Taiwan ini. Beberapa tahun lalu saya yang baru tau MARS ada rilis doramanya langsung nonton dong. Ya dasar bucin versi Taiwannya kuat banget, saya malah sibuk banding-bandingin. Tentu saja ini jatohnya sangat tidak sopan. .

Tak jadi soal versi mana yang lebih mendekati keaslian komiknya, saya menikmati MARS versi Taiwan dan pesan yang ingin disampaikan drama ini. That’s enough.

Ada satu ucapan Ling yang membuat saya kepikiran sampai lama sekali saat terakhir kali saya menonton ulang. Padahal dulu tuh biasa aja, tapi ga tau kenapa pas terakhir ini impact nya ke saya kuat sekali.

“The idiot… only lived for 17 years and already made a conclusion about life.” –Ling

Ling ngomong begini usai membaca surat terakhir yang ditinggalkan Sheng. Makna ucapan Ling ini dalam sekali. Sarat sesal dan sedih. Menurutnya, Sheng terlalu cepat menyimpulkan soal hidup, baru 17 tahun… dan Sheng memilih menyerah.

Saya berpikir banyak soal hidup saya sendiri (kayaknya saya nggak pernah brenti mikirin idup deh wkwk). Akhir-akhir ini, mendengarkan lagu-lagu berisi lirik yang menyiratkan depresi dan kesepian tidak lagi membuat saya merasakan kesedihan yang misterius. Saya sadar dan tahu persis telah banyak yang berubah dari cara saya memandang diri saya sendiri dan apa-apa yang ada di sekitar saya. Mungkin saya sudah berubah sedikit lebih dewasa dari sebelumnya. Jika pun saya menangis, bukan semata karena saya menangisi kesedihan dan kesepian yang pernah mengikat saya begitu lamanya, saya menangisi kelegaan yang saya rasakan. Saya bersyukur saya tidak pernah benar-benar menyerah. Saya sering ingin menyerah, tetapi saya takut. Saya takut mati membawa kesedihan bersama saya.

…. Kita harus terus berusaha keras untuk hidup bagaimana pun caranya. Sesakit dan sebesar apa pun lubang yang diberikan kepada kita, kita harus terus berusaha untuk tidak menyerah sampai suatu saat kita (akhirnya) mendapatkan jawaban mengapa kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kesimpulan soal hidup, serahkan saja pada hidup itu sendiri. Sebab, kesimpulan kita tentang hidup ini mungkin saja bias.

Sebab tidak pernah ada rumusan yang pasti soal hidup. Dan tidak ada yang bisa memberikan kita pelukan paling hangat selain diri kita sendiri. Di saat kita mulai bisa memeluk diri sendiri, di saat itu pula sudut pandang kita terhadap semua hal di depan mata perlahan berubah.

MARS menjadi drama pertama yang memasukan ide bagaimana mengamati manusia dan emosinya ke dalam kepala saya, belasan tahun silam. Tak disangka belasan tahun kemudian, drama ini masih juga berhasil menjadi bagian kontemplasi saya tetapi dengan sudut pandang baru. MARS dibuka dan ditutup dengan sketsa Qi Luo. Skesta di episode 1 berjudul Mother and Son, sketsa di episode 21 dikasih judul Father and Son. Dua-duanya menyiratkan isi dramanya.

MARS mengingatkan, bahwa ternyata saya tidak jalan di tempat, meski prosesnya sulit, rumit, dan melelahkan, saya terus bertumbuh sebagai manusia, juga sebagai diri saya sendiri. Kayaknya saya ga bakal bosen-bosennya nontonin ulang MARS. Kapan-kapan saya akan balik lagi untuk rewatch kalo nemu momennya.

Oya, saya yakin Ling berubah bukan semata-mata hanya karena Qi Luo. Tapi bila dikatakan ada andilnya Qi Luo—jelas. Bersama Qi Luo, Ling menemukan momennya. 

Please take care of yourself.

Tabik,

Azz.

[Review] Taiwan Drama : MARS

by on 4/26/2022 04:19:00 PM
  “Even after wounds are healed, he still can’t completely forget the pains. Even though many people have experienced such pains, but very f...