Showing posts with label Drama Taiwan. Show all posts
Showing posts with label Drama Taiwan. Show all posts

 


“Even after wounds are healed, he still can’t completely forget the pains. Even though many people have experienced such pains, but very few people can express the feeling.

Drama yang menjadi ajang reuni-an Vic Zhou dan Barbie Hsu setelah demam Meteor Garden—tampaknya ini menjadi alasan utama mengapa saya begitu excited menonton MARS belasan tahun silam. Sebagai penonton Meteor Garden dan pendukung garis keras Lei-Sanchai, saya seneng banget. Drama 21 episode ini disiarkan oleh salah satu stasiun tivi swasta. Usia saya masih belasan waktu itu. Seingat saya, saya masih duduk di bangku sekolah setingkat SMP. Saat itu saya tergila-gila dengan drama Taiwan produksi Comid Ritz ini.

Kecintaan saya terhadap MARS tidak pernah hilang, tidak terhitung sudah berapa kali saya menonton ulang. Saya ingat, saat pertama kali bertemu dengan internet di tahun 2008, yang saya cari pertama kali adalah OST dan informasi drama-drama yang tonton lewat siaran tivi—Winter Sonata, Endless Love, Stairway to Heaven, Sassy Girl, At The Dolphin Bay, Twins… dan masih banyak lagi, dan Mars termasuk di antaranya. Waktu itu saya masih kesulitan mencari link donlot untuk dramanya, aksesnya masih belum leluasa seperti sekarang ini. Oya saya pernah tuh beli dvd nya di lapak mamang yang suka jualin dvd drama di mall. Cuman ya itu, sub Indonya bikin batin saya lelah sebagai penonton wkwk.  Beberapa tahun kemudian barulah saya berhasil mengamankan 21 episode MARS di laptop. Sayangnya, laptop saya rusak, seluruh file hidup saya sejak 2008 ikut terbawa, belum sempat saya selamatkan.

Saya melupakan MARS hingga—kira-kira beberapa hari jelang puasa kemarin, saya terlibat obrolan dengan Mbak Ta di Twitter. Saya tidak ingat bagaimana ceritanya obrolan kami menyentuh topic MARS dan entah mengapa minat saya untuk menonton MARS menguar kembali. Tidak butuh waktu lama, saya menyusuri Google untuk mencari link donlot, ternyata masih ada yang tersedia meskipun kualitas videonya jauh dari HD. Tidak apa-apa, yang penting sub-nya waras saya oke-okeh aja.

Ya. Saya yang semula meneguhkan niat nggak mau nyentuh drama selama puasa, mematahkan sendiri niatnya. Dimulai dengan me-rerun Someday or One Day, disusul MARS.

Sebenarnya, saya sudah menyimpan ingin untuk membuat POV atau semacam review suka-suka MARS di Majimak Sarang, tetapi belum juga bisa saya realisasikan. Rasa-rasanya saya paham mengapa review yang mengambang di kepala saya, terus-terusan berada di sana selama bertahun-tahun—pemahaman saya tentang drama ini belum sempurna.

Saya merasa kali terakhir saya menonton ulang MARS, feeling yang dibawa dan saya rasakan sangat berbeda bila dibandingkan saat saya menontonnya 2-3 tahun silam. Kali ini saya merasa mampu memahami setiap emosi yang dibawa karakternya, terutama tiga karakter utamanya yakni Chen Ling, Han Qi Luo dan Tongtao. Yang cukup mengejutkan saya, drama berkonten berat ini tidak membuat saya mengalami panic attack. Syukurlah.

Storyline



Trigger Warning!!!

Hingga beberapa waktu lalu saat menonton ulang MARS, saya tidak menyadari bahwa drama ini patut diberi label TW dengan huruf KAPITAL dan tanda seru yang banyak mengingat apa yang ia suguhkan jauh dari kesan light. Suici*de, r*ape, bullying. Jika diingat-ingat lagi, apa yang membuat saya begitu terpikat pada MARS adalah bagaimana drama ini menawarkan kepada saya mengenai tuturan sisi gelap emosi manusia. Saya di usia belasan, dalam suasana hati yang gelap, berat, dan sunyi, mudah sekali terpikat pada hal-hal semacam ini. Seolah-olah mereka menjadi pelarian lumbung emosi saya yang mampat. Dengan mempelajari bermacam-macam karakter dan emosi yang dibawa manusia, saya seperti menemukan ketenangan di sana. Apa ya namanya ini? Saya terbiasa mencandu kesedihan dan kerumitan, yang membuat saya berkali-kali gagal membebaskan diri.

Nuansa psikologis nya MARS lumayan kuat.

Menonton ulang MARS, saya menyadari satu hal, bahwa sudut pandang kita terhadap sesuatu, apa saja itu, sangat dipengaruhi oleh kondisi kita di dalam; hati dan pikiran. Inilah yang saya rasakan usai menuntaskan 21 episode MARS untuk yang kesekian kali. Banyak insight dari drama ini yang luput saya sadari ketika menontonnya dulu. Apakah ini menandakan kondisi mental saya sudah sedikit lebih matang menuju tenang? Semoga.

MARS dirilis pada tahun 2004, diangkat dari manga terbitan Jepang tahun 1996-2000 berjudul Best Friends (MARS). Apa yang membuat saya salut, isu-isu yang dibawa MARS, belasan tahun kemudian ternyata telah menjadi isu penting dan mulai ramai dibicarakan orang saat ini tentang mental health. Barangkali, untuk alasan inilah, meskipun sudah 18 tahun berlalu MARS masih sangat relevan untuk dinonton. Dan untuk alasan yang sama pula—selain chemistry badainya Vic-Barbie—saya nggak pernah bosen sama MARS.

MARS menceritakan kehidupan Chen Ling dan Han Qi Luo, dua orang yang berangkat dari garis tragedi hidup yang berbeda. Chen Ling dikenal sebagai sosok troublemaker di kampus yang hobinya selain balapan adalah gonta-ganti cewek. Tak banyak yang tahu Ling mengalami gangguan psikologis yang cukup berat pasca insiden bunuh diri saudara kembarnya, Sheng. Bila terkena trigger, Ling jatuh pingsan dan dalam kondisi gawat bisa terjadi henti jantung. Ling pernah dirawat di rumah sakit jiwa, dengan bantuan dokter ia berhasil keluar dan mencoba menjalani hidup normalnya. Namun nun di dalam dirinya, Ling tidak pernah melepaskan pemikiran bahwa ia tidak seperti orang normal kebanyakan. Bayang-bayang trauma yang ditinggalkan Sheng, fragmen-fragmen masa kecilnya bersama sosok ibunya yang samar dan misterius masih terus memenuhi kepalanya.

Han Qi Luo selalu terlihat berjarak dengan siapa saja, terutama laki-laki. Di kampus ia tak punya teman. Ke mana-mana selalu menunduk, kikuk dengn sorot matanya yang was-was. Ada perasaan tidak aman dan nyaman yang mengikutinya. Qi Luo suka melukis. Selain ibunya, tak ada yang tahu jika Qi Luo pernah menjadi korban kebejatan ayah tirinya saat masih di bangku sekolah.

Nah, apa jadinya bila dua orang ini bertemu? Ling yang berpembawaan semau-gue, dan Qi Luo yang pendiam—dengan luka dan trauma masing-masing yang dibawa masa lalu… Berawal dari menanyakan arah sebuah rumah sakit dan sketsa, hubungan keduanya pun dimulai.

Dulu, saya pernah keliru meromantisasi hubungan Ling-Qi Luo. Cowok bad boy yang ketemu cewek lemah dan akhirnya berubah karena cinta. Aw, how romantic! Wait—kok kayak ada yang salah ya? No. Nggak kayak gitu. Upaya saya meromantisasi membuat saya luput menangkap esensi hubungan Ling-Qi Luo. Semula saya pun sempat menimbang-nimbang apakah drama ini membawa red flag dalam hubungan Ling-Qi Luo, dan setelah menonton lagi, menyimak interksi dan dialog-dialog antara Ling dan Qi Luo, saya berani bilang TIDAK. Saya tidak menemukan konten red flag dalam hubungan mereka. Bahkan label bad boy yang diberikan kepada Ling, ia sebagai ke*amin berjalan kata Da Ye, pun tak bisa serta merta diamini begitu saja.  Ling tidak pernah melakukan tindakan manipulative kepada perempuan. Semua yang terjadi di atas kesepakatan suka sama suka (bukan berarti saya benerin kelakuannya ya). Nyebelinnya Ling, dia tau diri kalo dia cakep, punya pesona dan jadi pujaan ciwi-ciwi. Sigh… Tapi, sekali lagi, menurut saya Ling bukan tipikal cowok brengsek yang ingin saya paketkan ke kutub Utara. Jika saya berada di seberang line pemujanya, saya melihat Ling sebagai pitiful guy. It’s like he lost his soul. His eyes full of the loneliness, and you can see those unbearable sadness there. Saya mengasihaninnya tapi tidak berniat berurusan dengannya HAHA.

Lantas apakah pada akhirnya Ling berubah karena Qi Luo? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Ya atau tidak, kalimat penjelas yang mengikutinya kemudian meleset jauh dari kesan meromantisasi a bad boy who meets a good girl. MARS lebih dari sekadar itu. Pada awal 2000-an di mana drama dengan cowo-cowo tsundere masih menjamur, Ling muncul tak biasa.

MARS tidak memberikan pijakan yang paten untuk tokoh-tokohnya, perkara benar atau salah, hitam atau putih tidak melulu menjadi soal karena sepengamatan saya, drama ini banyak menawarkan wilayah abu-abu bagi interpretasi kita sebagai penonton. Mengikuti logika berpikir para tokohnya yang kerapkali terasa intriguing membuat kita melempar balik pertanyaan. Mempertanyakan argumen-argumen mereka. Karena inilah saya bisa merasakan orisinalitas karakter MARS. Mereka manusia-manusia yang berkontemplasi tentang banyak hal, ada pikiran-pikiran yang bertabrakan dan saling gugat-menggunggat. Dan pada akhirnya kita pun dibuat sadar, kita sendirilah yang harus bertanggung jawab terhadap seluruh pilihan keputusan yang kita ambil terlepas dari besar dan kuatnya arus pengaruh yang datang dari sekeliling. Asal tidak menyerah, asal tidak sempurna kehilangan kesejatian diri sendiri, saya pikir kelak kita akan baik-baik saja. Akhirnya.

Mengenai wilayah abu-abu MARS, misalnya ucapan Ling kepada Qi Luo tentang Tong Dao di episode 12. Qi Luo berpikir kekerasan fisik berat dan berkelanjutan yang dialami Tong Dao telah mengubahnya menjadi sosok mengerikan. Dengan cepat Ling membantah. Menurutnya Tong Dao bukanlah jenis orang yang akan berubah abnormal setelah mengalami hal-hal semacam itu.

“He is born like that. Some people are born pervert. He can’t stand normal folks. So he thinks of some excuses to persuade himself that the reason he has become like that is because he has been badly tortured.”

Apakah yang dikatakan Ling benar adanya? Tanpa insiden pembulian yang membuat jiwa Tong Dao terguncang, Tong Dao sejak lahir memang telah memiliki karakter mengerikan itu? Tidak ada jawaban pasti. Saya rasa kita semua bersepakat bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan sebagai monster. Tetapi perlu diingat, bersama kelahiran kita, turut pula mengikut dua poros kuat yang saling berseberangan; jahat dan baik, dan tergantung poros mana yang lebih banyak mendapat asupan makanan dalam perjalanan hidup seseorang  Saya selalu merasa bahwa manusia adalah makhluk yang sulit dibaca dan didefinisikan keutuhannya. Manusia bisa bertindak manipulative melebihi logika umum, saya percaya ini. Manusia bahkan memiliki kemampuan mumpuni untuk menipu dirinya sendiri, dan di saat yang sama ia percaya sedang melakukan hal yang tepat dan benar.

Tidak ada yang pasti mengenai Tong Dao. MARS seperti sengaja memberi kesempatan kepada penonton untuk memutuskan sendiri. Yang pasti, drama ini memberi peringatan yang jelas kepada kita, perundungan baik dalam bentuk fisik dan verbal sangat mengerikan dan berbahaya outputnya, terutama dari sisi korban perundungan.

“Mars, wore shining armor, looks dignified and was unstoppable. He was a dark hero who helped people overcome tragedy.”

MARS adalah tentang tragedy di atas tragedy yang menimpa para tokohnya, serta bagaimana mereka membebaskan diri kerangkeng trauma yang memberati kaki-kaki mereka.

Character

[Ling] It says that a terrifying king will control this world and the world will be ruled by Mars. What kind of world do you think it would be if it was ruled by Mars?

[Qi Luo] It seems that you are more inclined to believe that Mars is evil.

[Ling] It doesn’t matter what I believe in, the world is all messed up anyway. It’ll collapse sooner or later. I also don’t believe the future is going to be that great. So why not just come to a flashy and glorified end, doesn’t sound better?

Dialog di atas terjadi antara Han Qi Luo dan Chen Ling di episode 2. Dialog ini mencerminkan betapa berbeda karakter Qi Luo dan Ling. Yang bisa saya katakan adalah, Ling terdengar terlalu pesimis dan sinis menyikapi hidup di depannya. Ini menjadi semakin jelas melihat seperti apa ia menjalani hidupnya. Ia tidak punya arah. Ada sesuatu sedang mati-matian coba dihindarinya dengan bersikap tak acuh terhadap hidup. Ling seperti berlari di lintasan yang tak berujung.

“… in this world, there are many malicious people and you can’t do anything about them. It doesn’t matter how hard they try to pretend. Their malice will be revealed bit by bit and emit a foul smell.”

Di sisi lain, Qi Luo yang selalu terlihat berhati-hati dengan orang lain, tampaknya memiliki kesan yang tidak biasa terhadap Ling. Ia melihat apa yang tak dilihat orang lain pada sosok Ling. Semoga saya tidak terdengar sedang meromantisasi—berdasarkan pengalaman, manusia cenderung mudah mengenali luka dan duka yang diderita orang lain karena ia pernah atau sedang mengalaminya. Apakah ini akan segera disusul simpati atau empati, ini menjadi soal berikutnya. Kita cepat mengenali wajah kita dengan jelas bila ada cermin di hadapan kita, seperti itulah kira-kira gambarannya. Saya menebak itulah yang terjadi pada Qi Luo dan reaksinya terhadap Ling. Qi Luo menyadari ada sesuatu yang tak biasa pada Ling. Semula, Qi Luo memang tak nyaman dengan Ling. Ia sudah tahu citranya seperti apa di lingkungan kampus. Ia melihat sendiri dari jauh Ling kerap terlihat gonta-ganti pasangan di kampus. Penilaian sepihak itu tak butuh waktu lama untuk tersingkirkan. Citra Ling yang didengarnya dari mulut ke mulut berbeda dengan apa yang ia rasakan saat berinteraksi langsung. Apakah Ling tampil ala bad boy, petantang-petenteng menyebarkan senyum manis penuh pesonanya pada Qi Luo? Nope. Di hadapan Qi Luo, Ling tidak berusaha memberikan impresi yang bagus. Sedari mula ia tidak punya maksud apa-apa pada gadis itu. Ling malah terang-terangan ngaku kalo di mata cewe-cewe dia kayak sebuah brand fashion ternama yang kalo satu cewe dapetin itu bangganya luar biasa. Ling, menghargai dirinya dengan cara yang keliru. Sebuah kekeliruan yang dpilih dengan sengaja, memang. Sebab dari semua hal di dunianya, yang paling ditakuti Ling adalah menghadapi dirinya sendiri.

Dari POV Ling pun tak jauh berbeda reaksinya terhadap Qi Luo. Meski tidak pernah diakui secara terang-terangan oleh Ling, saya percaya Ling sudah tahu sejak awal, Qi Luo dan sorot matanya yang menggunggat itu belum pernah ditemuinya pada gadis lain. Kepada Ling, Qi Luo mempertanyakan hal-hal yang setengah mampus ingin dihindari Ling. Apakah Ling terpaksa menghadapi trauma dan ketakutan-ketakutannya akibat pengaruh Qi Luo yang terjadi secara alamiah seiring kedekatan mereka yang semakin intim? Apa boleh buat. Toh Ling tidak bisa selamanya membelakangi masa lalunya.

Chen Ling


Hati saya terbelah. Saya akui, dulu, sisi maskulin yang memancar kuat dari Ling lah yang membuat saya terpesona. Entah kenapa cowo bad boy itu daya tariknya kuat sekali di mata anak remaja, termasuk saya. Dan butuh waktu lama dan pemahaman yang lebih mendalam lagi bagi saya untuk membaca sosok ini dengan perspektif berbeda.

Sisi maskulinnya Ling tidak ada apa-apanya. Bukan itu yang menjadi daya tarik utama karakter ini. Lalu apa?

Pertama, saya mau bilang karakter Ling ini iconic sekali pada jamannya. Vic Zhou berhasil menghidupkan Ling dengan sempurna. Mikro ekspresinya juga dapet banget. Saya dan temen saya dulu tuh terobsesi sekali sama Ling. Paling inget, kita pernah ngikutin cara minum birnya Ling pake botol air mineral HAHAHAHAHA. Kalo 18-19 tahun lalu udah ada medsos, kayaknya tiap hari ga ada kerjaan lain hanya teriakin Ling di temlen ㅋㅋㅋ

I think Ling is cool. 18 tahun kemudian, saya masih percaya Ling is cool. Karakternya likeable, bukan tipikal hot bad boy yang tsundere yang egosentris, kasar blab la bla. Di mata saya, Ling adalah cowok normal yang kebetulan memiliki rekam jejak masa lalu tak biasa dan menghabiskan beberapa waktunya untuk merumuskan masa depannya kembali.

“Everyone lives alone in this world. I know this. But Ling’s loneliness seems to be lonelier and loneliness.”

Yang saya sukai dari Ling, setelah mengakui perasaannya pada Qi Luo, dia benar-benar berusaha membawa dirinya menjadi lebih baik. Ling tidak malu menunjukkan kelemahannya, ia bukan sosok superior, ketika salah ia tak sungkan meminta maaf. Perlakuannya pada Qi Luo bagus banget. Ia membagi semua hal-hal paling rahasia mengenai kehidupannya. Pada Qi Luo, Ling tidak menyembunyikan apa-apa kecuali ada satu insiden kecil terkait Tong Dao. Character development-nya Chen Ling ini jempolan lah. Ling is not a flawless character and he knows that, that’s why after met Qi Luo, he always trying his best to bring the best version of himself. Yang dalam perjalanannya, Ling mengalami naik-turun emosi yang tidak mudah. Di titik ia mulai memberanikan diri menemui dirinya di masa lalu, di saat ia mulai membuka dinding penghalang yang menyumbat ingatannya pada beberapa kejadian di masa lalu dan menyebabkan keran kenangannya tumpah ruah, Ling tidak melarikan diri.

“I’ve never r*ped anyone, and I’m not a girl. So to be honest, I don’t really know how you feel. But I’m not going to ask you to forget so quickly, because I know it’s not that easy. That talk about forgetting is a bull. But what I want to tell you is… no matter what you do, no matter what happens to you, in my heart you’ll always be the same. You’ll never change. We’ve both started out from tragedies, and then we met. We instantly picked each other out. We have to walk hand in hand. Otherwise, we’ll lose the courage to leave our tragedies.” –Ling

Reaksi Ling usai mengetahui penyebab trauma yang dialami Qi Luo bikin saya makin respek sama karakter fiksi satu ini. Ling nggak langsung menemui Qi Luo, dia ngambil jeda berpikir—bukan untuk keputusan putus dari Qi Luo, tapi ia mencari-cari rumusan kalimat yang tepat, yang tidak akan berpotensi menyakiti gadis itu. Kedewasaannya nya Ling keliatan banget di sini. Dia tulus. No dramatic moment. Dan abis itu Ling buktiin ucapannya ga sekadar lip service belaka, dia bekerja lebih keras lagi untuk satu tujuan; membahagiakan Qi Luo.

Qi Luo once said, “he (Ling) acts crazily, and it’s difficult for people to identify him. But he has such a clean face, I can’t sense any trace of malice in it….”

 

Han Qi Luo


Sepintas, dari perawakan dan gerak-gerik serta bahasa tubuhnya, Han Qi Luo terlihat rapuh, lemah. Hanya dengan mengenalnya lebih dekat, barulah diketahui, sesungguhnya karakter ini memiliki strong point nya sendiri. Sama halnya dengan Ling yang membangun mekanisme pertahanan diri akibat dari trauma yang ditimbulkan oleh tragedy di masa lalu, Qi Luo juga secara sadar-tidak sadar juga melakukan hal yang sama. Tragedi mengerikan yang dialaminya membuatnya mau tidak mau harus berjuang seorang diri melindungi dirinya sendiri. Meski itu tidak memberikannya pilihan kecuali menutup akses siapa pun untuk masuk ke hidupnya. Efek trauma sebagai korban per**saan ayah tirinya terus menerus menghantuinya.

Melukis menjadi satu-satunya katarsis bagi Qi Luo.

Saya mengagumi Qi Luo, dengan seluruh keberanian yang dimilikinya. Strong point-nya Qi Luo lah yang berhasil memberikan dorongan kuat kepada Ling untuk berhenti berlari menghindari mimpi buruknya. Qi Luo membantu Ling menemukan arah yang tepat, lalu di saat yang sama pula ia menjadi lebih berani memeluk dirinya sendiri.

Aktingnya Barbie Hsu jempolan. Bagus banget. Sayangnya project beliau yang pernah saya ikutin cuman MG sama MARS ini doang. Saya dibikin nangis liat akting nangisnya dia di episode 14 sambil ngomong, “Who’ll save me?” setelah dikonfrontasi Ling hingga memantik ingatannya pada tindakan asusila ayah tirinya. Salah satu heartbreaking moment-nya MARS. Juga ketika Ling sedang menghadapi masa kiritis di episode 21—sedih banget nangisnya Qi Luo. Sebuah totalitas yang keren sekali menurut saya. Dia ga takut nangis jelek, malah di mata saya nangisnya cantik ga ada jelek-jeleknya.

“Previously, when you or Sheng cried, I would risk my life to eliminate the sources that made you two cry. When Qi Luo cries, but do you know? I just felt helpless and didn’t know what to do. I’m not kidding. At those time, even I felt like crying.” –Ling

Dan bener. Tiap Qi Luo nangis, Ling kayak orang bingung. Panik ga tau gimana caranya supaya Qi Luo berhenti nangis. .

Qi Luo nih tipe orang yang suka berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Tipe pengamat. A deep thinker. Kalo Ling bawaannya sinis terhadap hidup, Qi Luo lebih kalem dan berkepala dingin. Sepertinya mereka yang lebih banyak menelan kesendirian dalam waktunya memiliki pemahaman yang dalam soal banyak hal. Nggak ngasal ngambil keputusan, apa-apa selalu dipikirkan matang, gag rasa-grusu. Qi Luo orang seperti itu. Mungkin ini alasan Ling menemukan kenyamanan padanya.

Selain terobsesi pada cara minumnya Ling, saya dan temen saya pada masanya pernah ngefans berat sama lipstiknya Qi Luo, terpukau sama rambut sun silk nya yang bagus banget itu HAHAHAHA. Barbie Hsu sebagai Qi Luo ayuuuuu sekali. Style nya biasa banget, make up nya minimalis tapi ayuuuuuu. Cakep banget.

Tong Dao  

Satu-satunya karakter di MARS yang sulit saya definisikan.

“The real target Tongdao wants to revenge is the loneliness in his heart.” –Ling

Kapan hidup Tong Dao mulai berjalan ke arah yang salah? Apakah sejak perundungan berat yang dialaminya? Atau jauh sebelum itu?

Saya ngeri sendiri mendalami cara dan logika berpikirnya Tong Dao yang manipulative. Dia seneng bisa ketemu lagi dengan Ling, ia menyangka Ling serupa dirinya. Pada beberapa kesempatan, Ling pernah terguncang dan terseret arus pemikiran Tong Dao, semacam hendak mengamini bahwa ia dan Tong Dao memiliki kemiripan—sama-sama abnormal. Ling bisa memahami dan mengetahui apa yang bernapas di dalam kepala Tong Dao. Jika memakai pemikiran saya di awal mengenai kecenderungan manusia mengenali kesedihan manusia lain karena ia pernah atau sedang mengalami kesedihan yang sama, apakah artinya Ling juga pernah berada di fase yang sedang dihidupi Tong Dao? Jika ya, lantas apa yang membuat Ling memiliki akhir yang berbeda? Rasanya tidak mudah merumuskan jawabannya. Orang-orang di sekitarnya yang membawa pengaruh besar. Dan ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri—Ling tidak pernah benar-benar kehilangan dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya, ia tidak sekali pun menyerah atas hidupnya.

Ling, Tong Dao, dan Qi Luo memiliki caranya masing-masing untuk melindungi diri. Ling dan Qi Luo memilih cara yang hampir sama, sedangkan Tong Dao, ia melindungi dirinya dengan menyalahkan dunia. Dan kesepian di dalam hati manusia, pada titik tertentu mampu menciptakan pusaran jelaga yang bisa menelan apa saja termasuk pemiliknya sendiri.

Selain ketiga karakter di atas, ada beberapa karakter yang cukup menonjol kehadirannya. Qing Mei yang pernah jadi saingannya Qi Luo. Da Ye, sahabatnya Ling yang juga pernah naksir Qi Luo. Qing Mei dan Da Ye nih jadi support system-nya Ling-Qi Luo. Bisa punya temen kayak mereka tuh bener-bener anugerah terindah yang dikasih Tuhan.

Terus ada bapaknya Ling yang kemunculannya di beberapa episode jelang akhir menjadi kunci utama proses healing-nya Ling. Ternyata beliau lah yang menjadi silent protector nya Ling dan Sheng sejak kecil. .

Kalo ada karakter yang saya ga suka karena saya nggak bisa menerima tindakan dan keputusan yang diambil, maka itu adalah ibunya Qi Luo. Ibunya Qi Luo ngasih gambaran kenapa banyak korban perkos**n mengalami masa-masa sulit salah satunya karena orang-orang terdekat mereka tidak memberikan apa yang paling mereka butuhkan saat itu.

Saya nggak bisa membenci Tong Dao dan Sachi.

Ending


|Qi Luo :Do you still believe the world is going to end?  | Ling : That’s inevitable. It’s just a question of when. But, we still have to go on. Qi Luo, you have to stay with me.|

Dialog di episode 21 di atas menunjukkan perubahan signifikan pada karakter Ling. Jawabannya udah nggak sinis lagi. Kedengarannya optimis, bahagia, dan bernada harapan.

Meskipun endingnya terkesan diburu-buruin, sepanjang akhirnya bahagia, yowes lah wkwk. Jujur aja saya inget tuh reaksi saya pas Lucky Strike nongol di akhir disusul scene menggambarnya Tong Dao—saya pengen nangis, ga rela MARS kelar bubar. Masih pengen liat kehidupan pernikahannya Ling-Qi Luo. Kirain teh di akhir mereka bakal punya anak kembar HAHAHAHAHA.

Memperhatikan dialog-dialog di drama ini, banyak loh isinya yang menyentil realita sosial tentang hubungan manusia dengan manusia, bagaimana lingkungan memotret dan memperlakukan seseorang, pun sebaliknya. Dialog-dialognya berisi dan masih relate dengan kehidupan saat ini.

 “If you walk in the light, dressed like a good person, acting like a good person, than everyone thinks you are a good person. When the day comes that you accidentally let the truth slip, everyone thinks it was a fluke and jumps to give you another chance.” –Ling

Saya nggak baca komik aslinya jadi saya nggak tau seberapa besar perubahan cerita versi Taiwan ini. Beberapa tahun lalu saya yang baru tau MARS ada rilis doramanya langsung nonton dong. Ya dasar bucin versi Taiwannya kuat banget, saya malah sibuk banding-bandingin. Tentu saja ini jatohnya sangat tidak sopan. .

Tak jadi soal versi mana yang lebih mendekati keaslian komiknya, saya menikmati MARS versi Taiwan dan pesan yang ingin disampaikan drama ini. That’s enough.

Ada satu ucapan Ling yang membuat saya kepikiran sampai lama sekali saat terakhir kali saya menonton ulang. Padahal dulu tuh biasa aja, tapi ga tau kenapa pas terakhir ini impact nya ke saya kuat sekali.

“The idiot… only lived for 17 years and already made a conclusion about life.” –Ling

Ling ngomong begini usai membaca surat terakhir yang ditinggalkan Sheng. Makna ucapan Ling ini dalam sekali. Sarat sesal dan sedih. Menurutnya, Sheng terlalu cepat menyimpulkan soal hidup, baru 17 tahun… dan Sheng memilih menyerah.

Saya berpikir banyak soal hidup saya sendiri (kayaknya saya nggak pernah brenti mikirin idup deh wkwk). Akhir-akhir ini, mendengarkan lagu-lagu berisi lirik yang menyiratkan depresi dan kesepian tidak lagi membuat saya merasakan kesedihan yang misterius. Saya sadar dan tahu persis telah banyak yang berubah dari cara saya memandang diri saya sendiri dan apa-apa yang ada di sekitar saya. Mungkin saya sudah berubah sedikit lebih dewasa dari sebelumnya. Jika pun saya menangis, bukan semata karena saya menangisi kesedihan dan kesepian yang pernah mengikat saya begitu lamanya, saya menangisi kelegaan yang saya rasakan. Saya bersyukur saya tidak pernah benar-benar menyerah. Saya sering ingin menyerah, tetapi saya takut. Saya takut mati membawa kesedihan bersama saya.

…. Kita harus terus berusaha keras untuk hidup bagaimana pun caranya. Sesakit dan sebesar apa pun lubang yang diberikan kepada kita, kita harus terus berusaha untuk tidak menyerah sampai suatu saat kita (akhirnya) mendapatkan jawaban mengapa kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kesimpulan soal hidup, serahkan saja pada hidup itu sendiri. Sebab, kesimpulan kita tentang hidup ini mungkin saja bias.

Sebab tidak pernah ada rumusan yang pasti soal hidup. Dan tidak ada yang bisa memberikan kita pelukan paling hangat selain diri kita sendiri. Di saat kita mulai bisa memeluk diri sendiri, di saat itu pula sudut pandang kita terhadap semua hal di depan mata perlahan berubah.

MARS menjadi drama pertama yang memasukan ide bagaimana mengamati manusia dan emosinya ke dalam kepala saya, belasan tahun silam. Tak disangka belasan tahun kemudian, drama ini masih juga berhasil menjadi bagian kontemplasi saya tetapi dengan sudut pandang baru. MARS dibuka dan ditutup dengan sketsa Qi Luo. Skesta di episode 1 berjudul Mother and Son, sketsa di episode 21 dikasih judul Father and Son. Dua-duanya menyiratkan isi dramanya.

MARS mengingatkan, bahwa ternyata saya tidak jalan di tempat, meski prosesnya sulit, rumit, dan melelahkan, saya terus bertumbuh sebagai manusia, juga sebagai diri saya sendiri. Kayaknya saya ga bakal bosen-bosennya nontonin ulang MARS. Kapan-kapan saya akan balik lagi untuk rewatch kalo nemu momennya.

Oya, saya yakin Ling berubah bukan semata-mata hanya karena Qi Luo. Tapi bila dikatakan ada andilnya Qi Luo—jelas. Bersama Qi Luo, Ling menemukan momennya. 

Please take care of yourself.

Tabik,

Azz.

[Review] Taiwan Drama : MARS

by on 4/26/2022 04:19:00 PM
  “Even after wounds are healed, he still can’t completely forget the pains. Even though many people have experienced such pains, but very f...

 

“When one door closes, another opens. All you have to do is walking.” –Someday or One Day

2019—dua tahun setelah kecelakaan pesawat yang turut menewaskan kekasihnya, Huang Yu-Xuan (Ko Chia-yen) masih bernapas dalam kepedihan yang dalam. Kepergian Wang Quan-sheng (Greg Hsu) yang tiba-tiba seperti turut mencabut separuh jiwa Yu-Xuan. Selama dua tahun terakhir Ia masih rajin mengirim pesan ke nomor ponsel Quan-sheng, rajin meng-update halaman media sosialnya dengan kegiatan sehari-harinya sembari berharap, suatu hari Quang-sheng akan melihat itu semua.


Huang Yu-Xuan belum bisa menerima kenyataan bahwa Wang Quan-sheng telah pergi untuk selamanya, meski dua tahun telah berlalu. Meski orang-orang telah mengusakan semampu mereka agar Huang Yu-Xuan bisa melupakan kesedihannya dan merelakan Wang Quan-sheng.


Suatu hari, Yu-Xuan menerima paket kiriman dari seseorang berupa walkman dan sebuah kaset berisi lagu Last Dance yang dinyanyikan Wu Bai, lagu tersebut dirilis di tahun 1996. Di dalam bus yang membawanya kembali usai menghadiri pelepasan terakhir Wang Quan-Sheng, Yu-Xuan jatuh tertidur sambil mendengarkan Last Dance.


Sesuatu terjadi di luar kesadaran Yu-Xuan. Ia terbangun dan mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Yu-Xuan terlempar jauh ke belakang, ke tahun 1998. Ia terbaring di sebuah rumah sakit dengan kepala terbalut perban. Seorang anak laki-laki berseragam sekolah duduk di sisi ranjangnya. Yu-Xuan terkejut luar biasa melihat kemiripan anak laki-laki tersebut dengan mendiang kekasihnya. Refleks ia memeluk anak laki-laki itu, mengira ia benar-benar Quan-sheng-nya yang telah tiada. Yu-Xuan terisak.


Anak laki-laki itu—Li Zi Wei terkesiap kaget mendapat pelukan yang tiba-tiba itu. Dan—sebentar... ia dipanggil Wang Quan-sheng?

Terang benderanglah apa yang sedang terjadi. Yu-Xuan hidup dalam tubuh gadis yang memiliki wajah yang serupa dirinya bernama Chen Yun-ru. Chen Yun-ru tertabrak mobil di malam sebelumnya (1998), nyaris bersamaan dengan waktu tertidurnya Yu-Xuan saat mendengarkan Last Dance di bus, di tahun 2019. What’s going on?

Kebingungan Yu-Xuan kian bertambah setelah ia mengetahui, Chen Yun-Ru bukan ditabrak mobil melainkan dicelakai orang lain. Gadis itu ditemukan tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala terluka parah di depan sebuah bangunan kosong di tengah hujan deras.

Yu-Xuan, di dalam tubuh Chen Yun-Ru dilanda kebingungan teramat sangat. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ia bisa terlempar jauh ke tahun 1998? Dan Li Zi Wei, mengapa laki-laki itu begitu mirip dengan Wang Quan-sheng? Bahkan banyak sekali kebiasaan-kebiasaan Quan-sheng yang sama persis dengan Li Zi Wei. Tak hanya mencari tahu hubungan Li Zi Wei dan Wang Quang-sheng, Yu- Xuan juga berusaha memecahkan teka-teki mengenai siapakah yang mencelakai Yun-Ru.


Someday Or One Day adalah drama Taiwan tentang time travel dengan balutan fantasi, komedi, romance, thriller, misteri, suspense, self-healing, persahabatan, keluarga, mental health—iya, drama berjumlah 13 episode ini memang diisi banyak sekali sub-konflik yang relate di kehidupan nyata.


Someday or One Day memulai masa penayangannya pada 17 November 2019 dan berakhir 16 Februari 2020.


Pada awal penayangan, respon penonton cenderung biasa, namun perlahan tapi pasti, Someday or One Day segera saja menjadi topik pembicaraan di kalangan penonton seiring bertambahnya jumlah episode dan perkembangan ceritanya yang di luar prediksi. Saya ingat sekali, di akhir tahun 2019, selain Koitsudu, ada satu lagi drama populer yang trending di kalangan fans internasional saat itu. Dibicarakan dengan antusias. Drama itu adalah Someday Or One Day.


Beberapa waktu lalu, Someday or One Day masuk nominasi 6 kategori, dan berhasil membawa pulang 4 piala dari ajang penghargaan bergengsi 55th Golden Bell Awards.


Saya sendiri, setelah menonton 13 episode drama ini, mengakui bahwa wajar jika Someday Or One Day disebut-sebut sebagai salah satu drama Taiwan terbaik yang pernah ada. Memang sebagus dan sekeren itulah Someday or One Day. 13 episode yang terbilang cukup singkat dengan begitu banyaknya isu-isu berat yang diangkat dalam genre time travel. Its not easy. Dan Someday or One Day mampu bercerita tanpa kehilangan pace-nya hingga episode terkhir meski dengan hanya 13 episodenya itu. Kalau saya bilang sih ini drama 13 episode tapi berasa 20 episode ㅋㅋㅋ


Oke. Mari kita akhiri perkenalannya dengan Someday or One Day di sini. Paragraf setelah ini akan diisi dengan POV saya sebagai penonton Someday or One Day, dan saya berani jamin akan banyak spoiler bertebaran. Jadi saran saya, jika kamu belum menonton Someday or One Day, please segera tutup halaman ini—jangan lanjutkan membaca. Jika kamu tetap membaca, maka saya pastikan kamu akan kehilangan unsur penting yang akan terus menjagamu supaya tetap setia menonton Someday or One Day: excitement, and curiosity. Di situlah letak seni-nya menonton Someday or One Day. Membaca spoiler, sama saja kamu membunuh dengan sengaja keseruan yang akan kamu dapatkan ketika menonton Someday or One Day.

TRUST ME, DON’T READ THE SPOILER. PLEASE AVOIDING THAT AS MUCH AS YOU CAN.

Nanti, kembalilah ke sini setelah kamu menyelesaikan 13 episode Someday or One Day.


WARNING

Contain spoiler

Ada dua teman yang merekomendasikan Someday or One Day kepada saya, Fiki dan Amelia. Mereka bilang ini drama bagus. Biasanya, saya kalau dikasih rekomendasi tontonan, hal yang pertama kali saya lakukan adalah browsing, nyari-nyari informasi tentang yang direkomendasikan itu. Biar saya ada pegangan dikit sebelum nonton. Begitu juga terhadap Someday or One Day ini. Sebelum mutusin nonton saya cari dulu review-nya. Saya pastikan, semua review yang saya baca tidak ada satu pun yang saya dapatkan menulis komentar negat. Tidak ada. Mereka bilang bagus, dan sangat merekomendasikan drama Taiwan ini.


Setelah membaca review-review yang bertebaran di mana-mana, di satu sisi saya sangat penasaran, di sisi lain saya menyimpan kekhawatiran tersendiri. Drama ini kok kesannya misterius sekali ya. Antara pengen nonton tapi takut HAHAHAHA. Suer, saya nggak bohong. Mana Fiki-nya kalo ngomporin ampuh banget bikin saya penasaran. Nantangin banget.


Saya mau ngasih jempol deh kepada blogger yang nge-review Someday or One Day tanpa ngasih spoiler berlebihan dramanya. Terima kasih sudah menjaga rahasia Someday or One Day untuk viewers yang belum menonton dramanya.


Yap, saya pun akhirnya menonton Someday or One Day....


Rasanya berat sekali menonton dua episode pertama. Aroma kehilangan dan kesedihan yang dirasakan Yu-Xuan kental sekali. Ikutan nyesek beneran. Sewaktu dia berdoa dengan sepenuh harap sebelum mengucapkan permintaan ketiganya di hadapan kue ulang tahunnya, saya turut harap-harap cemas, tanpa sadar berharap keajaiban benar-benar datang untuk Yu-Xuan—Quan-Sheng muncul di hadapannya. Se-baper itu saya sama episode plot Someday or One Day. Baru dua episode awal ini... sebenarnya saya sudah menyiapkan mental berbekal review orang-orang yang udah nonton, tapi ya tetap saja saya tidak bisa lolos begitu saja dari jeratan baper kisahnya Yu-Xuan dan Quan-sheng .



Someday Or One Day piawai menggambarkan kehilangan dari sudut pandang orang yang ditinggalkan, dan bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya. Realistis, tidak berlebihan. Apa adanya. Kita, orang-orang yang berada di luar lingkaran kesedihan ini cenderung tanpa disadari menganggap remeh proses melepaskan bagi mereka yang ditinggalkan. Kita katakan kepadanya dengan wajah simpatik, waktu akan menyembuhkan semuanya. Berusaha semampunya untuk bijak, sembari berharap itu bisa menguatkan. Lalu setelah beberapa waktu berlalu, kita berpikir waktu telah membuatnya lupa. Barangkali kitalah yang lupa, kehilangan orang yang sangat dicintai, bagi sebagian orang ibarat kehilangan separuh dirinya. Rumus melepaskan tidak semudah itu. Waktu tak selalu bisa dimasukkan sebagai salah satu eksponen paling penting untuk memudahkan pencarian hasil akhir; move on dengan hati lapang. Itulah yang terjadi pada Yu-Xuan. Kepergian Quan-sheng turut membawa pergi separuh hidupnya. Dunia di sekitarnya terus berotasi, berubah-ubah, hanya ia yang konstan menetap tinggal pada kenangan-kenangannya bersama Yu-Xuan. Dua tahun berlalu, Quan-sheng masih hidup di hati Yu-Xuan. .


Melihat Yu-Xuan membuat saya berpikir, cinta sekuat itu pasti nyata adanya di sekitar kita, di antara miliaran manusia di bawah kolong langit ini. Cinta punya banyak wajah, bersetia pada pada yang hilang, salah satunya.

Episode pilot emang garis besarnya nyeritain kehidupannya Yu-Xuan pasca ditinggal mati Quan-sheng. Selain itu, dperlihatkan pula kehidupannya Chen Yun-Ru, Li Zi Wei, dan Mo Jun Jie dari tahun 1998. Bingung iya, bertanya-tanya juga, ya... ada apa nih? Apa hubungannya Quan-sheng dan Li Zi Wei? Lalu Yun-ru dan Yu-Xuan? Abis penasaran main tebak-tebakanlah saya. Bener-bener bikin kita numpukkin pertanyaan.

Saya pikir, wajar aja sih respon penonton cenderung flat pas awal-awal episode. Belom masuk ke konfilknya, semacam dianterin baik-baik dulu penontonnya, biar nggak pada kagetan entar, gitu ya... sopan banget.



Seusai menonton dua  episode Someday or One Day, saya putuskan berhenti dulu nontonnya. Nggak kuaattt lanjutin. Tapi walaupun demikian, dua episode perdananya Someday or One Day berhasil ngasih pencerahan kepada saya, ini bukan tipikal drama yang bisa dirapel satu kali jalan. Iya sih jumlah total episodenya dikit, 13 doang mah kecil ya. Udah biasa nonton drakor dan dracin, 13 bukan angka yang banyak. Tapiiiiiii, konten dramanya, plot dan storyline-nya, yang dibawa Someday or One Day ini berat sekali Tuaaannn untuk otak saya yang lemot ini, saya nggak sanggup balapan nonton. Dua episode awal aja udah bikin saya lelah batin. Otak dan hati. Penasaran sih penasaran ya,  tapi saya nggak mau maksain diri. Kuatirnya kalo saya paksa nonton dengan mood  yang awur-awuran tar malah ngerusak hubungan saya dengan dramanya. Kan sayang.... di kepala saya tuh udah nancep ini drama bagus... ini drama bagus... kalem... jangan paksa ngejar, let it flow aja. Jangan maksa... That’s why saya baru ngelanjutin ep 3 dan seterusnya, sekira sebulan kemudian. Luar biasa HAHAHAHAHA.

Gimana reaksi saya abis nonton kelanjutan kisahnya Yu-Xuan? SAYA SHOCK!! Saya sampe bengong, mbatin “ASTAGA SAYA NONTON DRAMA APA INII??!!!” Ekspresi saya persis itu tuh meme orang yang telentang sambil nangis—banjir. Speechless. Overwhelming. Horor banget suer.

Yang paling saya ingat dari review orang-orang mengenai Someday or One Day selain betapa bagusnya drama ini adalah PLOT TWIST-NYA! Plot twistnya yang sambung-menyambung, bikin kita yang nonton kaget-an ga kelar-kelar. Nonton Someday or One Day tuh berasa diteror entah oleh apa, mungkin diteror sama plot twist-nya. Harap-harap cemas dengan apa yang menunggu di episode berikutnya. Nggak pernah nggak ngagetin. Yang nulis skenarionya jago banget ngebangun plot se-rapi dan se-kece itu. Dan paling asiknya, plot twistnya nggak bikin pusing, ga pake teori njelimet, bisalah dipahami otak lemot saya ini. Unexpected. Benar-benar nggak ketebak alurnya, bikin melongo nggak abis pikir. Cuman bisa bilang ‘astaga’ ‘oh ternyata begitu’ ‘ya ampoon panteeesaaan ih, HEH WOIIII ASTAGA’—sebatas itu aja bisanya. Kayak pengen teriak tapi takut disangka sinting.

GILAK SIH YA. Jadi karena plot twist-nya kita nggak ketemu titik awal dramanya di mana. Pusing? Iya, tapi nyenengin. Dikagetin plot twist tuh gimana ya... Semacam ada kepuasaan tersendiri abis nonton dramanya HAHAHAHA.

Saya mau nulis beberapa hal yang bikin saya jatuh cinta banget sama Someday or One Day.


Plot & Storyline

Saya selalu takjub dengan drama-drama yang sebenernya materi ceritanya sederhana tetapi memiliki impact yang luar biasa kepada penonton. Ia—si drama yang bersangkutan, menjadi tidak biasa bergantung kepada bagaimana ia dikemas. Someday or One Day merupakan drama yang berhasil menjadi tidak biasa itu. Kalau saya bilang, SOOD—saya akan menyingkatnya biar nggak ribet—keluar dari pakem drama kebanyakan. Episode plot sebagai perkenalan, lalu seperti kurva yang naik, semakin jauh episodenya, semakin membulat konfliknya, hingga memasuki akhir, dan selesai. SOOD tidak seperti itu. Drama time traveler ini tidak pernah bermaksud mengecoh penonton, atau bermain-main dengan intelegensi penontonnya. Penulis skenario dan sutradara nampaknya sepakat memulai penceritaan SOOD dari titik tengah, mengurai misteri dari titik yang paling krusial—menyerang dengan tanda tanya besar tentang apa yang sedang terjadi. Tidak banyak basa-basi. Dua episode awal SOOD terkesan rumit, gelap. Namun yang sebenarnya terjadi, guncangan itu sudah dimulai di dua episode itu. Dipenuhi teka-teki. 


Jika kamu memilih berhenti di episode pilot tersebut, bisa dipastikan kamu telah kehilangan satu kesempatan menikmati drama time travel yang bagus sekali.


Konfliknya tidak membulat—setidaknya itulah yang tampak di awal. Ia berserakan seperti puzzle. Adalah tanda tanya yang menjadi arah storyline SOOD. Dan jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut sudah ada di sana bahkan sebelum episode satu dimulai. Bingung? Iya. Ini drama membingungkan, salah satu alasannya karena karakter utama dan konfliknya diperkenalkan dengan cara yang tidak umum—bukan pada episode pilot melainkan dilekatkan pada proses mengalirnya jalan cerita dramanya, tapi percaya deh, kebingunganmu akan berbuah manis jika kamu bersabar melewati dua episode pilot.


Nonton drama ini tuh bawaannya curigaan, suujon, harap-harap cemas, kuatir, banyakan jangan-jangannya dan selalu ngagetin. Cape tapi hepi, sedih tapi lega /nah loh/ ㅋㅋㅋ

Ini drama yang akan bikin kamu ber-oh ooh ternyata setiap kali memasuki episode terbarunya. Dan tentu saja drama ini mengandung bawang yang buanyak sekali. Siapin ember eh tissue yak! I warn you.

SOOD menganut paham tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.


Memasuki materi ceritanya, menurut saya SOOD ini lebih dari sekadar drama time travel perempuan yang kembali ke masa lalu untuk mengubah takdir kisah cintanya yang tragis. Banyak sekali isu-isu penting yang dibawa. Jadi, selain menyukai plot twist-nya yang juara banget, saya juga menyukai konflik-konflik yang dihadirkan SOOD. Dalam sebuah wawancara, penulis skenario SOOD, Jian Qi-Feng mengungkapkan bahwa the real issue yang membungkus SOOD adalah self identity of youth, dan ini berhasil disampaikan dengan baik oleh dramanya. Mendalam dan apa adanya. Tidak didramatisasi sedemikian rupa.


Orang-orang dewasa kerapkali menganggap sepele masalah-masalah yang dihadapi remaja—nggak tau kenapa, kita ini seolah lupa pernah berada pada fase tersebut, fase di mana kita begitu dendam pada ke-superior-an orang-orang yang menganggap dirinya dewasa hanya karena usianya jauh melampaui usia remaja kita. Dan pengalaman-pengalaman dipandang sebelah mata justru membawa kita menjadi sosok yang mengulang hal yang sama, memandang mudah masalah-masalah anak-anak remaja.


SOOD tidak melulu membahas soal cinta dan patah hati yang mendayu-dayu. Ada proses pencarian jati diri dan persahabatan yang sangat kental terasa. Hubungan dengan anggota keluarga, hingga ke hal-hal yang masih jarang dibahas bebas di masyarakat umum; mental health.


Menyoal identitas diri sebagai remaja yang menimpa Yun-Ru, saya teringat sesuatu. Di awal tahun 2000-an, sekira 17 atau 18 tahun lalu, pernah ngetren di kalangan abege kala itu, menulis biodata di kertas binder bergambar cantik dan berbau harum. Nama, alamat, TTL, dst... lalu di akhir biodata tersebut ditulislah moto hidup—dipilihlah kutipan yang paling bagus kedengarannya, yang paling keren, kalo bisa yang pake bahasa Inggris biar kesannya kekinian, gitu. Entah dicomot di lembar TTS yang mana—aih remaja...


Ada satu kutipan yang senang sekali kami digunakan saat itu, yang kesannya cool sekali tetapi setelah bisa berpikir luas, kutipan favorit itu rasa-rasanya terdengar berbahaya jika saja saat itu kami sebenar-benarnya meng-amini ke-cool-an kutipan tersebut.


Just be yourself.

Jadilah dirimu sendiri. Penuh optimisme, kuat, sedikit arogan. Keren bukan? Kedengarannya sih begitu ya... tapi, anak remaja yang belum jauh meninggalkan angka sepuluhnya, yang sedang memasuki fase paling labil jembatan hidupnya mengatakan kepada dirinya untuk just be yourself. Jadilah dirimu sendiri, tanpa rasa takut—meskipun niatnya hanya untuk keren-kerenan saja, belom mikir kejauhan efek quotes tersebut.


Kutipan itu bisa saja menipu. Ia bisa saja memberikan arah yang salah kepada kita. Sebelum mengenali diri sendiri, memahami setiap inci ke-aku-an kita, sebelum kita bisa mengenali seluk beluk kepribadian kita sendiri, sangat riskan mengatakan just be yourself. Menjadi diri yang mana? Yang rapuh kah? Yang menjalani hari-hari di bawah pengaruh self-esteem yang rendah sekali? Yang menganggap nilai diri negatif? Menjadi diri kita yang manakah kita semestinya?


Menjadi versi terbaik diri kita. Bukankah demikian? Tapi apakah remaja yang masih sementara berproses sudah berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa itulah versi terbaik dirinya? Atau sudahkah ia memahami versi terbaik itu yang seperti apa bentukannya?


Konflik inilah yang menimpa Chen Yun-Ru. Krisis identitas diri, krisis kepercayaan diri. Sebelum ia menjadi Yu-Xuan, Yun-Ru menjalani hidupnya dalam hening, sendirian. Seperti ada jarak yang jauh antara dirinya dengan kehidupan yang berputar di sekitarnya. Diam dan muram—dua kata ini tepat menggambarkan karakter satu ini. Yun-Ru tidak mampu bersosialisasi dengan lingkungannya. Di saat teman-temannya asik ber haha-hihi di ruang kelas, di koridor sekolah, di lapangan basket, ia memilih duduk sendirian di bangkunya, tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Yun-Ru yang kalo ke mana-mana selalu pake headseat—dengerin musik, jalannya nunduk melulu, kikuk dengan sekitarnya—saya seperti melihat versi remaja diri saya pada Yun Ru.


Karakter Yun-Ru bikin frustasi. Saya, sebagai orang yang pernah berada di posisi itu, bisa memahami sepenuhnya situasi dan kondisinya. Bukankah (akan) selalu ada bagian dari hidup kita yang tidak akan pernah bisa dipahami orang lain, tidak peduli betapa pun inginnya kita agar dipahami, tidak peduli betapun inginnya orang memahami itu. Terlebih bagi seorang introvert parah, yang lebih leluasa bercerita kepada dirinya sendiri ketimbang kepada orang lain.


Hidup Yun-Ru berubah setelah Yu-Xuan hadir. Karakter Yu-Xuan sangat bertolak belakang dengan Yun-Ru. Yu-Xuan digambarkan enerjik, penuh semangat, tomboi, cheerful, dan pintar bersosialisasi. Bisa dibilang Yu-Xuan lah yang menyelesaikan seluruh problematika hidup Yun-Ru yang berkaitan dengan kepercayaan dirinya, bagaimana ia bersosialisasi, dan ini yang paling penting, Yu-Xuan sebagai Yun-Ru berhasil memutus habis rantai panjang membatasi Yun-Ru dari keluarganya, dari ibu dan adik laki-lakinya sastu-satunya. Yu-Xuan membuka pintu yang selama ini ditutup rapat dari siapa pun Yun-Ru : komunikasi.


Puncak krisis identitas diri Yun-Ru terjadi setelah ia kembali ke tubuhnya sendiri. Selama Yu-Xuan menguasai tubuhnya, Yun-Ru bisa melihat semua yang dilakukan Yu-Xuan dari sebuah kotak transparan. Semula Yun-Ru mencoba meniru Yu-Xuan. Ia menikmati perannya sebagai Yu-Xuan, hanya untuk melihat dirinya terluka lebih dalam lagi. Yu-Xuan merasa sudah melakukan apa yang diinginkan dunia di sekitarnya, namun itu dianggap tidak cukup. THIS! Point utamanya di sini—Yu-Xuan menuduh dunia menuntut terlalu banyak pada dirinya. Ia sudah kadung percaya telah melakukan apa yang dunia minta dari dirinya, namun ternyata itu belum cukup.


Just be yourself—Yun-Ru percaya dirinya yang diam dan gloomy adalah identitas dirinya yang sebenarnya. Ia gagal memercayai dirinya sendiri, gagal membaca nilai-nilai positif yang semestinya bisa dimilikinya tanpa harus meminjam identitas Yu-Xuan. Tidak ada yang memintanya menjadi Yu-Xuan. Yang perlu dilakukan Yun-Ru adalah melangkah keluar dari lingkaran gelap yang dijadikannya tempat persembunyiannya selama ini. Sesekali, kita perlu terluka, bersedih, namun jika kita menganggap semua luka, semua kesedihan itu sebagai identitas yang memang sudah ditakdirkan melekat selamanya kepada kita. Seolah kita sudah memaklumkan hidup berada di jurang kenestapaan, selamanya. Mau sejauh mana kita terus menyakiti diri sendiri? Our soul need to breath.


Memang tidak mudah. Butuh keberanian dan kesabaran menghadapi diri sendiri. Dan syukurlah Yun-Ru bisa menghadapi dirinya sendiri, pada akhirnya. Dia punya dua orang sahabat baik yang akan selalu setia mengiringinya—Mo Jun Jie dan Li Zi Wei.


Dan untuk saya, butuh lebih ari 10 tahun untuk bisa mengatasi dan nge healing diri. Di tahun-tahun yang sudah lewat, saya terlalu banyak melukai dan menyakiti diri sendiri, sadar dan tidak sadar. .


Jujur, saat menonton kedua kali adegan Chen Yun-Ru yang hendak mencelakai dirinya sendiri itu cukup mengganggu saya. Saya nyaris ke trigger, daripada saya kena panic attack terpaksa saya cepetin.

Dan saya kaget berkubik-kubik pas tau masa lalunya Wang Quan-Sheng itu seperti apa. Shock sih lebih tepatnya. Setrong banget HAHAHAHA. Bagai bumi dan langit dengan Li Zi Wei.

Umm, dan part-nya si Xie bener-bener disturbing. 


Cast

Jajaran main cast-nya TOP BANGET, akting bukan kaleng-kaleng. Gara-gara SOOD saya jadi pengen ngepoin Greg Hsu, si mamas bersenyum manis. Kena karma nih saya. Soalnya pas liat penampakannya di episode satu itu, saya mbatin “ini lead cowoknya? Serius?”  Abisnya saya belom dapet feelnya, ya iyalah kecepetan juga saya ngarepnya, wong masih episode satu ini. Dan ga kayak drama-drama yang saya nonton, pasti ada pengenalan karakter utama yang proper di dua episode pilot, maksud saya setidaknya di dua episode plot udah bisa kebaca dikit lead utama cowo-nya seperti apa, sementara SOOD kan enggak pake rumus itu. Makanya saya misuh-misuh, ga sabar. Lebih ke penasaran aja sih sebenernya. Pendek kata, saya meremehkan pesonanya Greg Hsu. Dan balasannya setimpal, saya jatuh cinta sama Li Zi Wei, si cowok petakilan berhati hangat yang sayang banget sama mbak pacarnya .


Greg Hsu charming-nya kebangetaaan.



Aktingnya Greg Hsu sebagai Wang Quan-sheng dan Li Zi Wei bagus banget, keliatan perbedaan karakternya. Begitu juga dengan Ko Chia Yen, KEREN banget. Pas dia jadi Chen Yun-Ru dan Huang Yu-Xuan—aslik beneran dua orang yang berbeda, bagai bumi dan langit. Dari ekspresi wajah dan cara jalannya. Beda banget. WOW. Kalo bukan karena kekuatan akting dan kecerdasaan Ko Chia Yen menganalisa karakter, mana mungkin bisa kejadian se-perfect ini. Salah satu scene yang menunjukkan power aktingnya Ko Chia Yen adalah pas adegan ujan-ujanannya Chen Yun-Ru dan Huang Yu-Xuan yang bedaaa banget gestur dan ekspresi mukanya. Bukan cuma Li Zi Wei doang yang bisa ngebedain, kita juga yang nonton bisaaa. Saya suka banget monolognya Huang Yu-Xuan di opening ep 10, menyentuh dan bikin nyess hati huhuhu.



Patrick Shih juga ga kalah kece aktingnya sebagai Mo Jun Jie. Walaupun di tongkrongan casting utama dia yang paling adek umurnya, tapi aktingnya ga jomplang kok. Bagus. Saya suka salfok sama mukanya—perpaduan Park Seo Joon dan Minhyuk CN Blue dia nih.



We Love Friendship!

There is no triangle love here and we love it!

Semula Mo Jun Jie dan Li Zi Wei ngedeketin Yun-Ru tuh karena Mo Jun Jie nyimpen rasa suka sama Yun-Ru, tapi seiring berjalannya waktu, ketimbang ngecengin Yun-Ru, Mo Jun Jie dan Li Zi Wei malah ketarik jadi sahabatan, terlebih setelah Yu-Xuan ikut campur dalam urusan di 1998 itu. part di 1998 lebih kuat aroma persahabatannya sih kalau aku liat. Kalo pun nge crush, biasalah, anak-anak remaja gimana. Sweet dan uwu. Khas first love. Nggak ada yang perlu dicemaskan dari hubungan ketiga orang ini.


Respek saya untuk Mo Jun Jie yang masih berusaha berpikir logis. Dia nggak membabi buta sih ke Li Zi Wei, demikian pula sebaliknya Li Zi Wei. Saya membaca wajar reaksi-reaksi pertama yang mereka tunjukkan terhadap perubahan emosi yang mereka hadapi. Leganya, itu nggak bikin mereka berjauhan terlalu lama. Ada proses yang berjalan, dan itu logis.


Perjuangan mereka untuk nyelametin satu sama lain mengandung bawang. Li Zi Wei yang ingin menyelamatkan dua sahabatnya, Mo Jun Jie dan Chen Yun-Ru. Mo Jun Jie yang mengusahakan semampunya agar bisa menyelamatkan Chen Yun-Ru.


Waktu mereka bertiga bareng (Yu-Xuan sebagai Yun-Ru) sih yang paling seru. Banyak ngakaknya. Ya abisan Yu-Xuan kan tomboi dan dia selalu ngerasa 10 tahun lebih tua dari Li Zi Wei dan Mo Jun Jie (iyalah dia kan dateng dari tahun 2019), trus itu anak cowok yang dua suka ngebecandain Yu-Xuan. Ekspresi mereka tiap kali Yu-Xuan ngedumel ngingetin dirinya sendiri dia lebih tua, atau pas dia ngomong serius soal time travelnya, itu tuh priceless banget.  Li Zi Wei dan Mo Jun Jie kayak yang “duh kasian ya Yun-Ru abis ketimpuk benda tumpul kepalanya jadi aneh. Dah kita pura-pura paham aja ya...”.

Lawak banget, asli. ㅋㅋㅋㅋ


Wang Quan-Sheng Huang Yu-Xuan

Sukaaa banget kehidupannya Wang Quan-Sheng dan Huang Yu-Xuan. Dari awal mereka ketemu, Quan-Sheng yang berusaha ngedeketin Yu-Xuan. Proses menuju deketnya mereka tuh uwu banget. Romantis. Gemesin. Quan-Sheng nya sih yang gemesin. Sweet boy. Dia bener-bener cinta dan sayang sama Yu-Xuan. Makanya pas dia pergi, Yu-Xuan terpukul banget, dan ga bisa move on. Ga ada lawan emang gimana rasanya dicintai dan disayangi sepenuh hati itu. Ga ada lawan. Quan-Sheng membuat Yu-Xuan menyadari betapa penting keberadaan dirinya untuk Quan-Sheng. Pokoknya kalo liat hubungannya Quan-sheng dan Yu-Xuan pasti langsung ngebatin wajarlah Yu-Xuan susah move on...

Segmen romantis-nya SOOD ga dibikin lebay. Yang dikasih liat dari hubungannya Quan-Sheng dan Yu-Xuan adalah hal-hal normal dan umum yang dilakukan pasangan lain (umm, untuk saya minus tinggal bareng-nya ya ahahaha).

Meleleh deh tiap liat senyumnya Quan-Sheng. Manis dan pure banget. Mengharu biru. ㅠㅠㅠㅠㅠ

Kisahnya Yu-Xuan dan Quan-Shuang (Li Zi Wei) nih kayak pengen ngasih tau ke kita sisi lain dari cinta, yang mampu menembus waktu dan dimensi. Apakah ini bisa terjadi di dunia nyata atau tidak; dua orang yang tidak pernah bertemu, tetapi jiwa mereka telah saling mengenal satu sama lain. Saya tidak yakin. Tapi ya, tidak ada yang tidak mungkin dalam perkara cinta. Who knows kaan? Yang kita anggap mustahil, bisa aja kejadian dengan perbandingan satu per  miliyaran manusia di kolong langitnya Tuhan ini #EAAAKKK HAHAHAHA.

Ending


Saya puas dengan endingnya. Happy ending atau tidak, itu soal lain. Ending-nya SOOD sudah sangat bagus menurut saya. Tidak terkesan dipaksakan, memang sudah seharusnya seperti itu. Manis, tapi bikin sedih. Tapi kita cukup tahu, ada masa depan yang indah menunggu Li Zi Wei dan Hung Yu-Xuan.


Serius deh, saya teriak heboh pas Huang Yu-Xuan kecil ketemu Li Zi Wei untuk pertama kali, YA AMPOOON BAPERRR. Aneka macam tebak-tebakan (tidak) berhadiah nangkring di kepala saya. Nggak tau kenapa saya hepi liatnya HAHAHAHA, sampe saya itung-itungin itu perbedaan usia mereka astaga HAHAHAHA.


Walaupun saya puas dengan keseluruhan cerita SOOD, bukan berarti saya nggak punya pertanyaan. Misalnya, apakah hubungannya Mo Jun Jie dan Chen Yun-Ru ada perkembangan? Selama jiwa Huang Yu-Xuan dan Chen Yun-Ru bertukar, Chen Yun-Ru dan Huang Yu-Xuan bisa melihat dari kotak transaparan keseharian masing-masing dalam tubuhnya Yun-Ru kan?  Nah, berarti Wang Quang-Sheng dan Li Zi Wei gitu juga dong? Sejak tahun 2010-2017 itu Li Zi Wei berada dalam tubuh Wang Quan-Sheng. Kan kecelakaannya terjadi di tahun 2017, berarti jiwanya Wang Quan-Sheng fix mati di tahun itu? Bentar, saya fuyeng.


Yang menjadi pertanyaan utama saya mengapa Last Dance-nya Wu Bai yang menjadi trigger time travel-nya. Ada apa dengan lagu itu?

Ya sudahlah yaaa. Lagian pertanyaan-pertanyaan saya kalo nggak terjawab juga nggak akan mengurangi poin kerennya SOOD sebagai drama time travel terbaik yang pernah saya nonton.

Pesan yang bisa saya ambil dari SOOD adalah cherish the moment we have at the time, and  yeah I should love myself more, and never lose hope to myself. I can do better, I can be the best version of myself, as long as I’m trying hard to work on it. Karena ga semua ada kesempatan keduanya, karena kita bukan Yu-Xuan dan Li Zi Wei yang bisa melintasi waktu ke masa lalu untuk me-restart  kembali hidup kita lagi dan lagi. Karena terkadang, kesempatan yang kita miliki saat ini adalah satu-satunya dan yang terakhir yang bisa kita usahakan. 

Kita tidak pernah tahu apa yang sedang direncanakan hidup untuk kita.


Saya jarang sekali menonton drama keluaran Taiwan. Dulu sih sering ya. Drama Taiwan yang bikin saya susah move on adalah MARS. Kali ini ditambah Someday or One Day. Asli deh, SOOD nih jumlah episodenya dikit tapi muatan materi dan kontennya padat, penceritaannya tidak amburadul, well-written.

Oiya, hampir ketinggalan. OST. Original Soundtrack. Saya suka theme song-nya SOOD. Opening song-nya, Someday or One Day dinyanyiin Shi Shi. Sedangkan Ending song-nya ditutup sama 831 dengan lagunya yang bikin saya baper nggak ketulungan—Miss You 3000. Dua lagu ini nyambung banget sama storyline dramanya. Sejiwa~

SOOD ini ya, ga judulnya, opening episodenya, OST-nya, semuanya aestetik, puitis. KEREN.


Rating

★★★★

5/5

Tidak banyak drama berkonsep time travel di list drama yang pernah saya nonton, dan SOOD akan masuk  ke jajaran list yang tidak banyak itu sebagai drama time travel terbaik yang pernah saya nonton. Storyline rapi dan cast-nya juara. TOP. Sensasinya nonton SOOD ga akan cukup dituliskan dengan kata-kata, harus dirasakan sendirinya.

 

Tabik,

Azz.

Don’t give up on yourself! Here I’m praying for your happiness.

Dan emoga kita semua senantiasa disehatkan ya ^^