Showing posts with label Seo In Guk. Show all posts
Showing posts with label Seo In Guk. Show all posts

 What is the wish of your life?

 


Satu dari sekian banyak hal menarik dari DAYS yang membuat saya tak habis-habisnya memuji drama ini sebagai salah satu drama dengan plot yang ditulis dengan rapi  adalah pemilihan judul dramanya. Jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris berarti One Day, Doom Entered The Front Door of My House. Pemilihan judul ini sangat tepat dan akurat menggambarkan situasi DAYS. Judul yang memiliki arti tersirat, bila menengok kembali episode pilot, saya dengan mudahnya bisa menghubungkan judul drama dengan premis cerita yang dibangun.

 

Apakah yang akan terjadi atau apa yang kamu lakukan bila suatu hari, tiba-tiba saja kehancuran memasuki pintu depan rumahmu? Berlari? Sembunyi? Atau apa?

 

Kehancuran. Sebuah metafora. Ini bisa berarti apa saja. A-pa saja. Segala sesuatu yang bisa dihubungkan dengan kemalangan, kesedihan, kehilangan, kesusahan, kesulitan. Hal-hal yang membuat dada sesak, yang menguji ketegaran kita sebagai manusia. Doom. 

 

“Everyone has a sob story. | As sad as yours? | I don’t know about that, but everyone has their share of sorrow. Everyone has their share of burdens.|”

 

DAYS sangat relatable.

Inilah alasan mengapa saya bisa segera ngeklik dengan ceritanya. Di satu sisi saya menikmati kisah cintanya Dong-kyung dan Myul-mang, di sisi lain, DAYS ngasih saya banyak sekali pelajaran soal hidup. Sebenarnya bukan sesuatu yang baru, tapi seringnya dilupakan atau disepelekan. Saya kerapkali mendapati diri saya menarik napas panjang, atau menekan tombol pause sejenak untuk menenangkan diri ketika menonton DAYS, disebabkan sinematografi, monolog, narasi, dan kekuatan kata-katanya. DAYS ngajak yang nonton mikir, banyakan ngangguk-ngangguk setuju, atau bergumam “eh iya ya….”.

 


Ada yang ngeluh dialog-dialog DAYS sulit dicerna yang berbuntut pada klaim drama ini membosankan, banyak metafora sehingga disalahpahami bahwa dialog-dialognya nggak nyambung dengan adegan-adegan dramanya, padahal yang sesungguhnya terjadi, pada dialog-dialog itulah nyawa drama ini diletakkan. Saya sendiri tidak habis pikir, ternyata saya bisa menggunakan banyak sudut pandang saat menonton drama. Dan tidak ada yang salah dengan ini. Uniknya DAYS, semua sudut pandang yang saya gunakan itu akirnya bermuara pada satu titik yang memunculkan satu pemahaman utuh. DAYS tidak memusatkan ceritanya hanya kepada Myul-mang dan Tak Dong-kyung semata, walaupun memang tidak bisa dipungkiri, porsi adegan mereka yang paling banyak. Namun kehadiran karakter lain-lah yang membulatkan cerita DAYS.

 

Saya nggak akan capek memuji cara Im Me-ari merumuskan plot DAYS. Setiap dot (.) terhubung dengan tepat.

 

Postingan ini mungkin saja akan berisi hal-hal yang berulang soal DAYS, yang sudah pernah saya tulis sebelumnya. Jika ya, saya minta maaf. Setelah Reply 1998 di tahun 2015-2016, saya tidak pernah lagi membuat banyak postingan demi membahas satu project drama. Biasanya, untuk satu drama yang saya sukai, saya hanya membuatkan satu postingan yang merangkum semuanya di bawah tag POV (Point of View). Ada sih satu-dua drama yang pernah saya buatin sampe tiga postingan, seperti A Piece of Your Mind.

 

Tidak seperti kebanyakan orang yang rajin membuat thread di Twitter untuk membahas drama-drama kesayangannya, saya nggak bisa. Belum pernah nyoba kali ya, tapi kalo baca thread orang mah seneeeeng wkwk. Jadi hanya di blog inilah saya merasa leluasa menulis.

 

Tentang DAYS, semula saya hanya akan membuatkan satu postingan, POV. Namun niat itu buyar saat saya tidak sengaja membaca banyak sekali komentar-komentar miring terhadap drama ini. Nggak pernah kebayang kalo trivia-nya akan berjilid-jilid wkwk.

 

Banyak yang bisa diomongin dari DAYS. Bahkan adegan yang dianggap ga penting nyatanya membawa pesannya sendiri. Ada adegan yang meninggalkan kesan kuat di kepala saya, selain adegan-adegan yang pernah saya tuliskan pada postingan-postingan sebelumnya. Dan untuk ini, saya berterima kasih kepada Im Me-ari. Saya tahu banyak yang nge-judge dan nyalahin beliau terkait apa-apa yang dirasa tidak memuaskan dari cerita DAYS, tapi bagi saya, Im Me-ari sudah berbuat sebaik-baiknya untuk DAYS.

 

#Episode 1

Tak Dong-kyung dan CEO Park

 

Emosi saya naik melihat CEO Park mengomeli Dong-kyung. Lebih tepatnya melecehkan. Kata-katanya kepada Dong-kyung nyakitin banget. Apa yang dialami Dong-kyung, lontaran kalimat si CEO kurang ajar mengingatkan saya pada buku Kim Ji-yeong 1982. Pelecehan dan diskriminasi perempuan di dunia sudah biasa dan ini sangat meresahkan. Istilah mesin rusak yang dialamatkan CEO kepada Dong-kyung dan perempuan secara umum tidak hanya terdengar kasar, tetapi juga menyakitkan. Tentang pelecehan dan diskriminasi terhdap perempuan di dunia kerja, ini adalah isu sensitif yang masih dan akan terus diperjuangkan.

 

Beneran deh, pas nonton ini pengen banget geplakin pake sendal jepit mukanya tuh CEO. Trus setiap kali dia nongol bawaannya emosian.

 

#Episode 8

Tak Dong-kyung dan Penulis Dalgona

 

“He is the only person that makes me smile.” -Dalgona

 

Sekilas yang terlihat, Dalgona memberikan penguatan kepada Dong-kyung. Cintailah dia yang membuatmu banyak tersenyum. Sebatas itu? Tidak. Adegan ini justru membuat saya berpikir.

 

Saya suka semua adegannya Dong-kyung dan Dalgona, dialog-dialognya punya makna yang dalam. Tapi adegan di episode 8 inilah yang membuat saya hampir menangis. Saya teringat sesuatu.

 

Dalgona sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Di tengah masa sulitnya itu, Park Young, si penulis muda yang sedang mencoba peruntungannya dengan mengikuti ajang pencarian bakat rupanya menarik perhatian Dalgona. Siapa sangka, Park Young alias Young Prince yang bikin pusing kepalanya Dong-kyung ternyata menjadi penyemangat Dalgona. Saat itu, Dong-kyung bisa aja dengan egoisnya merusak senyum Dalgona, tapi enggak. Dong-kyung justru menganggap itu luar biasa. Ngeliat ekspresinya Dong-kyung, saya yakin sekali dia tulus ketika mengatakan itu.

 

Lebih jauhnya lagi, seringkali, entah sadar atau tidak, kita menjadi pihak yang enteng saja merusak senyum dan kebahagiaan orang lain hanya karena kita tidak sepakat dalam hal selera. Hanya karena kita tidak menemukan alasan yang sama pada sesuatu yang dianggap orang lain sebagai sumber bahagia dan kita tidak…Kita tidak pantas merusak piring kebahagiaan orang lain. Terlebih dalam situasi sulit seperti sekarang ini. Kita harus pintar-pintar mengelola zona egois di hati masing-masing. Bukan berarti kita dilarang mengekspresikan diri, mesti diingat ada batasan-batasan yang jelas sampai di mana kita berhak bersuara, dalam hal ini, narasi ketika bersuara perlu diperhatikan. Masih aja nemu orang yang menyepelekan selera orang lain dengan alasan “loh ini akun saya, saya mau nulis apa terserah saya”.

 

Di umur segitu kok masih suka kipopan?

HAHH? Kamu suka nonton drama Korea?

Ih, drama jelek begitu kok dinonton?

Astaga, seleramu jelek banget siiiih!

 

Kebahagiaan bisa ditemukan di mana saja, pada apa saja. Bahkan ia bisa ditemukan pada hal-hal receh bin remeh. Apa yang kita anggap biasa, tidak menarik, bisa jadi berarti sebaliknya bagi orang lain.

 

Bahkan dalam kebebasan pun akan selalu ada kata cukup. Jangan berlebihan.

 

Oke, lanjut ke bagian lain dari DAYS yang menurut saya keren.

 

Relationship Antarkarakter

 


Nggak ada satu pun karakter yang bisa dianggap sebagai toxic character di DAYS. Selain dialog-dialognya yang kuat, hubungan antarkarakternya juga hidup dan unik. Seru, ada lucunya, menggemaskan juga, nggak ngebosenin. Dan paling penting ada isinya. Tidak semata berperan sebagai penggembira saja.

 

Hubungan atasan-bawahan Cha timjang dan Dong-kyung yang udah kayak kucing-tikus, tapi kulitnya doang, aslinya Cha Joo-ik peduli banget sama Dong-kyung. Bickering-nya mereka menggemaskan. Kebayang dong, Dong-kyung dan Sa Ram ketemu Joo-ik, misal double date sama Ji-na, apa tidak ribut itu HAHAHAHAHA. Joo-ik kan mulutnya suka lebih pedes dari mulut tetangga. Nggak beda jauh sama Sa Ram. Kalo ngomong kadang nggak pake perasaan. Saling nge-diss nya bisa sampe lebaran kodok, nggak kelar-kelar. Nggak bakalan ada yang mau ngalah.

 

Dong-kyung dan Ji-na.

Yang nonton DAYS pasti setuju, persahabatannya Don-kyung dan Ji-na keren banget. Hanya dengan melihat interaksi mereka aja udah ketebak seberapa dalam dan tangguh hubungan keduanya. Ini jenis persahabatan yang sehat, yang udah berlangsung bertahun-tahun. Seneng deh liat mereka ngobrol.

 

Jaminan bahwa persahabatannya Dong-kyung dan Ji-na se-dalam itu bisa terbaca dari kedekatan Ji-na dan Sun-kyung. Sun-kyung berasa punya dua nuna wkwk. Bedanya, Ji-na lebih setrong ketimbang Dong-kyung dalam menangani Sun-kyung. Cita rasa omelannya Dong-kyung dan Ji-na berbeda HAHAHAHA.

 

Lee Hyun-kyu dan Cha Joo-ik.

Sampe sekarang saya masih samar soal kejelasan hubungan Hyun-kyu dan Joo-ik. Kakak-adek kandung jelas bukan. Sepupu kah?

 

Joo-ik sayang banget sama Hyun-kyu. Makanya dia nggak tega ngerebut Ji-na dari Hyun-kyu. Saya tetep nyalahin Joo-ik karena nyium Ji-na yang lagi duduk di anak tangga nungguin Hyun-kyu.

 

Saya lega hubungan Joo-ik dan Hyun-kyu berjalan sesuai trek. Masalah Ji-na nggak dijadiin trigger untuk merusak. Sebaliknya, ini menjadi titik balik Hyun-kyu untuk bertumbuh. Patah hati nggak lantas membuat Hyun-kyu lupa berpikir rasional. Joo-ik juga nggak berubah jadi ngeselin. Nggak ada yang out of character. Menurut saya sih gitu.

 

Dong-kyung dan Park Young/Young Prince.

Hubungan antara penulis dan editornya. Lucu, menggemaskan. Barulah setelah episode 16 saya paham mengapa ekspresi Myul-mang gitu amat sewaktu bertemu Park Young pertama kali, dan seterusnya nggak pernah nyantai. Ternyata dia tau Park Young suka sama Dong-kyung HAHAHAHA si bapak cemburu sama bocah HAHAHAHA.

 

Park Young dan Dalgona adalah dua penulis yang di-editori Dong-kyung. Cara mereka menanggapi pertanyaan Dong-kyung atau bagaimana keduanya berinteraksi dengannya begitu berbeda, selain perbedaan latar belakang dan situasi yang melekati hidup mereka, sudut pandang mereka sebagai penulis juga memegang pengaruh banyak. Di tangan penulis, si juru kisah dan cerita ini, bagaimana patah hati atau jatuh cinta diolah bisa sangat berbeda narasinya. Saya yakin sekali cerita-cerita yang ditulis Dalgona dan Park Young bedanya bagai bumi dan langit. Dan lebih yakin lagi, nggak akan ada yang menyangka Young Prince adalah anak remaja laki-laki. Rasional dan tegas, cenderung nggak banyak pertimbangan kesan inilah yang saya tangkap dari dia, dengan melihat tanggapannya terhadap pertanyaan Dong-kyung. Sedangkan Dalgona lebih wise dan kalem. Pengalaman hidup yang dimiliki Park Young dan Dalgona berbeda.

 

Dong-kyung, Kevin, Myul-mang.

Apakah percakapan antara uncle Kevin dan Dong-kyung di episode 11, dan Kevin-Myul-mang di episode 16 hanya sekadar pengisi atau hiburan semata? Masa sih? Saya pernah membaca komentar semacam ini, bahkan ada yang menuduh Im Me-ari rasis.

Saya menganggap kehadiran Kevin menarik. Dari obrolan dua pihak dengan kendala perbedaan bahasa inilah, kata family terlontar. Dari Kevin, meskipun dia nggak gitu paham sama bahasa Korea, terkendala budaya, cuman bisa ngomong sepotong-sepotong doang, tapi dari dua adegan ini aja udah kebaca gimana karakternya. Kevin bisa menjadi ayah dan paman di saat yang sama bagi Dong-kyung dan Sun-kyung, juga Myul-mang (Sa Ram). Kevin akan melakukan apa pun itu demi keluarganya. Keluarga selalu yang utama.

 

Saya nggak pernah menganggap kehadiran Kevin di DAYS sebagai sesuatu yang nggak penting. Entahlah. Mungkin karena sejak episode pilot saya melihat DAYS dengan tone positif sehingga saya selalu melihat niat baik Im Me-ari pada karakter-karakter yang beliau hadirkan di drama ini.

 

Hubungannya Hyun-kyu, Sun-kyung, Cha Joo-ik juga menggemaskan. Sun-kyung jadi kesayangan semua orang.

 

Character Development

 


Untuk membuka cerita fiksi, kita bisa menggunakan dialog, narasi, atau umm… sebuah bantingan pintu.

 

BBAAAMMMM!!

 

Im Me-ari memilih membuka DAYS dengan bantingan pintu. Oh, ini maaf bukan dalam arti sebenarnya. Maksud saya DAYS dibuka dengan efek kejut seperti mendengar bantingan pintu yang tiba-tiba di belakang kita. Im Me-ari nggak pake basa-basi, langsung aja masuk ke ruang konflik. Inget dong tensi ending episode satu antara Dong-kyung dan Myul-mang yang diiringi Breaking Down-nya Ailee? Siapa coba yang tidak ber-woah terpesona?

 

Sesuai judul dramanya; One Day, Doom Entered The Front Door My House.  Perhatiin deh, bagaimana major karakter DAYS diperkenalkan di episode pilot. Mereka sedang berada di titik krusial hidupnya masing-masing. Myul-mang yang lelah dengan manusia dan menginginkan kehancuran dunia beserta dirinya, Dong-kyung dan vonis tiga bulannya, Ji-na yang stuck di tulisan dan masa lalunya, juga Sun-kyung yang belum menemukan arah hidupnya yang tepat. Anggap saya sok tau, saya membaca cara Im Mea-ri ini menandakan beliau sudah punya gambaran utuh akan diapakan nasib karakter-karakter ini di depan. Alurnya jelas, nggak akan salah amat apalagi nyasar. Mustahil rasanya.

 

Nah karena karakter-karakter ini berangkat dari titik terlemah hidup mereka, perkembangan karakternya mudah sekali terdeteksi. Makanya saya bilang pemilihan judul drama ini tepat sekali, cocok dengan premisnya. Doom ini bisa berarti banyak, tergantung siapa karakternya dan konflik apa yang dihadapinya. Dan kita sudah sama-sama melihat bagaimana perkembangan karakter keempat tokoh yang saya sebutkan di atas. Nggak ada yang keluar alur.

 

Mengapa Cha Joo-ik tidak saya masukkan? Jika melihat karakternya, Joo-ik ini major karakter yang character development-nya paling lemah. Bukan jelek atau nggak konsisten ya, tapi emang sejak awal selain kisah cintanya dengan Ji-na, Joo-ik tidak memiliki banyak materi yang bisa membuatnya berkembang. Karakternya udah kuat. Dia nih satu-satunya karakter yang santuy, hubungannya dengan ayahnya juga terbilang nggak rumit.

 

Love-Hate Relationship

 


Myul-mang dan Dong-kyung.

Siapa yang jatuh cinta duluan? Kapan?

 

“To love someone, I must know his world. Show me your world.”

 


Episode 4, adegan Myul-mang mengajak Dong-kyung melihat dunianya, dunia kehancuran, di mana semua hal-hal indah menghilang, inilah momen Dong-kyung bisa melihat dengan jelas kesedihan dan kesepian pada sorot mata Myul-mang.

 

Untuk bisa memutuskan menyukai seseorang, kita harus sudah tahu isi kepalanya. Mantan crush saya di masa lalu pernah ngomong gini ke saya. Artinya rapuh sekali pondasinya jika jatuh cinta karena tampang doang. Ini pula sebabnya mengapa saya sangat menikmati drama romantis dengan kisah semacam ini, yang jelas timeline jatuh cintanya, nggak sekadar saling tatap sekian detik dengan efek slow-mo dramatis wkwk.

 


It sure must be lonely to love the things that disappear the moment you touch them. Lonely enough not to ever want to love them.”

 

Setelah tahu seperti apa rasanya menjadi seorang Myul-mang, Dong-kyung mulai mengubah caranya memandang Myul-mang. Sebenernya Myul-mang juga ikut berubah sih. Lebih tepatnya ia mulai terusik perlakuan Dong-kyung padanya. Dengan kata lain, Dong-kyung dan Myul-mang melangkah bersama-sama ke tahap yang berikutnya dalam sebuah hubungan kasih sayang; mencoba mengenali dunia masing-masing. Cuman pada nggak sadar aja wkwk.

 

Awalnya nih, Myul-mang enteng aja ngomong ‘ayok sukai aku, biar aku yang mati demi kamu’, nggak pake perasaan, setengah serius, setengah bercanda, semacam pengen ngusilin Dong-kyung, entah. Belom nyadar ada yang diam-diam bertunas dan tumbuh di hatinya, rasa sayang ke Dong-kyung. Myul-mang belum ngeh ada patah hati yang demikian besar menunggunya di depan sana.

 

Nah di ending episode 6, abis kiss scene itu, ekspresi  Myul-mang kayak “eh kok” “oh tidaaakkk ini salah ini salaaahhh” trus cling, doi ngilang kayak Om Jin HAHAHAHA kena batu yang dilemparnya sendiri.

 

Yang bilang kok kisah cintanya Myul-mang dan Dong-kyung gitu-gitu aja, kek jalan di tempat, berarti nggak cocok sama model alur romance lambat tapi jelas kayak di DAYS ini.

 

Love-hate relationship tapi skinship-nya banyak HAHAHAHA. Tapi bukan jenis skinship yang gimana-gimana, bukan yang sok dramatis romantis. Skinship-nya Dong-kyung dan Myul-mang tuh santai, natural, gemes-gemes lucu dan bikin baper wkwk. Level pegangan tangan aja bisa bikin yang liat baper. Btw, ada nggak sih yang bikin video kumpulan pegangan tangannya Myul-mang - Dong-kyung? Keren loh kalo dibikin kompilasinya pake bgm yang pas.

 

Ending

 

Suka banget iniiiiii, tampak belakang aja udah bisa keliatan sedihnya 😭

Baru beberapa hari lalu beredar bocoran skrip aslinya DAYS, dari situ ketauan bagian-bagian yang diisi adlibs nya In-guk atau Bo-young. Gara-gara ini bermunculan nada protes hingga (maaf) mengkritik Im Mea-ri. Saya tidak ingin mengkritik balik atau membela Im Mea-ri. Kita semua sayang sama DAYS dan orang-orang yang sudah bekerja keras demi drama ini.

 

Terhadap ending DAYS, saya punya pemikiran sendiri. Apakah saya menyesali ending-nya yang menurut sebagian viewers-nya biasa saja itu? Nope. Saya masih konsisten dengan pernyataan saya bahwa saya menyukai ending DAYS. Akhir yang berarti awal bagi kehidupan Dong-kyung dan Kim Sa-ram.

 

Saya nggak mau melihat DAYS hanya sepotong-potong saja.

 

Saya yakin banyak yang nggak puas karena kita udah sedemikian dalam-nya masuk terpengaruh kisah cintanya Sa-ram - Dong-kyung, dan ini yang bikin kita pengen liat mereka nikah bla bla bla…. jika seperti ini, DAYS nggak akan ada bedanya dengan drama lain yang pernah ada.

 

Ending-nya nggak setimpal dengan air mata yang udah dikeluarin di 14 episode sebelumnya. Memangnya mau yang setimpal seperti apa? Nikah, makan ramyeon beneran? Kissing scene yang banyak? Duh, saya bener-bener nggak pengen keindahan DAYS bercampur dengan hal-hal yang sifatnya um apa ya…. napsuan? HAHAHAHAHA MAAFKAN SAYAAAAA HAHAHAHA. Saya nggak pernah melihat Dong-kyung dan Myul-mang dengan tatapan liar. Pun dari hubungan keduanya, Dong-kyung ke Myul-mang, atau sebaliknya, hubungan mereka tuh nggak ada aroma mature dalam artian sesungguhnya. Lebih ke yang pure, warm, dan gemes (aslik bingung gimana jelasinnya).

 


Saya berharap DAYS diingat karena keindahan story line, karakter-karakter, dan pesan yang ingin disampaikan kepada penontonnya.

 

Kehidupan Myul-mang - Dong-kyung pasca nikah udah bisa ketauan kayak gimana dengan melihat bagaimana interaksi mereka setelah mereka jadian. Kurang lebih akan seperti itu. Scene nyuapin cokelat di sofa misalnya. Myul-mang bisa sangat annoying dan tsundere lalu di kali lain bisa sweet banget ke Dong-kyung. Dan Dong-kyung nggak akan pernah bosen ngomelin, protesin, misuh-misuhin Myul-mang, bickering tiada akhir HAHAHAHA. Relationship mereka kayak gitu adanya. Seru.

 

Ugh. Kangen.

 


Saya belum pernah nyoba nulis naskah film/sinetron, kalo naskah drama sekolah seriiiing, dulu. Makanya ketika ada yang mempertanyakan tulisan Im jakkanim, saya diem aja. Nggak paham format naskahnya kayak gimana. Yang saya rasakan,  naskah yang ditulis Im Mea-ri memberi peluang sebanyak-banyaknya aktor untuk mengeksplor kemampuan aktingnya. Saya pernah bilang sebelumnya kalo In-guk tuh tau apa maunya naskah, sama halnya dengan Park Bo-young. Ini dibuktikan dengan apa yang mereka tampakkan sebagai Myul-mang dan Dong-kyung, di bawah arahan sutradara keren. Di lokasi syuting DAYS atmosfer-nya bagus sekali. Kerja sama timnya OKE. Di bts-bts nya keliatan proses rehearsal sebelum shooting actual scene-nya. Terlihat In-guk, Bo-young, dan aktor-aktris lainnya berdiskusi dengan PD-nim bagaimana pengambilan adegan yang bagus. PD-nimnya mau menerima saran. Akting + pelafalan dialog + intonasi Bo-young dan In-guk menurut saya juara banget sih. PD-nim berhasil manfaatin ini.

 

Gaya penulisan Im Me-ari bisa bebas dimaknai seperti apa, tapi saya tidak akan meragukan kemampuan menulis beliau. Setiap penulis punya cara menulisnya masing-masing. Tapi tak banyak yang berhasil menciptakan ciri khasnya sendiri. Dari dua drama Im jakkanim yang sudah saya nonton, ciri khas-nya udah keliatan. Saya dengan senang hati menantikan project Im Mea-ri selanjutnya setelah DAYS.

 

Pemilihan aktor/aktris yang akan terlibat dalam project drama yang bersangkutan sangatlah penting, kehati-hatiannya. Salah pilih bisa berimbas pada kualitas dramanya. Bisa juga sih, aktor/aktrisnya udah kece tapi jatoh di naskah. Sering kejadian. Kesimpulan paling dekatnya ya… naskah yang ketemu pemeran yang cocok hasilnya luar biasa, yang bisa membuat kita sulit membayangkan aktor/aktris lain memerankan peran tersebut.

 

Coba bayangkan Myul-mang dan Dong-kyung diperanin sama aktor dan aktris yang kualitas aktingnya b aja dengan range akting std alias standar? Apa tidak ancur-ancuran dramanya?

 

Mudah saja untuk melihat kualitas naskah Im Mea-ri, cukup lihat Seo In-guk, Park Bo-young, dan Kwon PD + Yoo PD. In-guk selalu teliti dalam memilih peran di setiap project-nya. Ia memilih DAYS karena tertarik dengan naskahnya. Bukankah bisa disimpulkan demikian?

 

…. saya bisa saja sok tau soal ini. Saya mainnya kurang jauh. Hehe.

 

Scene Stealer

 

Pertama, Dawon! Adek kesayangan semua orang, tempat curhat dan dokter cinta-nya Hyun-kyu dan Ji-na wkwk. Kalo nggak salah Tak Sun-kyung ini debut perannya dia ya? Udah bagus. Aktingnya natural, pelafalan dialognya juga udah lumayan bagus. Saya berharap Dawon nggak terburu-buru mengincar peran utama. Banyakin jam terbang dulu, ambil peran-peran kecil tapi penting, asah aktingnya. Potensinya besar.

 

Scene yang bikin saya jatuh sayang sama Sun-kyung adalah ketika dia jalan sambil nangis usai mengetahui kakaknya mengidap penyakit mematikan. Liat dia nangis, antara sedih sama pengen ketawa. Nangisnya natural, ga jelek. Bener-bener kayak bocah. Gemes.

 

Kedua, Jung Ji-so. Pemeran Sonyeoshin yang pernah disangkain antagonis sama penonton HAHAHA. Waktu pertama kali dia nongol, saya pikir dia masih remaja di bawah usia duapuluh-an ehhh ternyata line 99. Baby face banget. Mana rambutnya di-potong pendek. Yang nge-cast dia meranin Sonyeoshin jago banget dah. Sonyeoshin tuh kan Deity yang tinggal di tubuh anak remaja, tapi cara ngomongnya dewasa banget. Jung Ji-so sukses bawain karakter Sonyeoshin dengan baik. Chemistry-nya dengan In-guk bagoooosssss. Vibes keibuannya Sonyeoshin terasa sekali. Ketika berinteraksi dengan Dong-kyung juga sama bagusnya. Sayang yah kita nggak dikasih liat gimana bts-bts nya Jung Ji-so selain di ep 15-16 itu. Padahal dia termasuk karakter super penting di DAYS.

 

***



Kalo kamu tau waktumu hanya menyisakkan 100 hari, apa yang akan kamu lakukan?


Di kepala kita pasti banyak sekali hal yang ingin kita lakukan, tetapi saya yakin, jika kita benar-benar berada di posisi Dong-kyung, hal pertama yang muncul di kepala kita adalah rentetan penyesalan mengapa kita menyia-nyiakan waktu yang kita miliki selama ini.

 

Kita baru bisa menghargai sesuatu justru di saat sesuatu itu menghilang dari kita; waktu luang, nama-nama, kesempatan, atau sebut apa saja itu…

 

Di episode 7, Dalgona yang mengetahui dirinya mengidap kanker ovarium mengatakan kepada Dong-kyung betapa ia menyesali banyak hal setelah jatuh sakit; seharusnya aku lebih jujur tentang hal yang kusukai dan kubenci; aku seharusnya lebih peduli pada keinginanku daripada keinginan orang lain; aku seharusnya memuji diriku sendiri daripada membuang waktu memuji orang lain.

 

Karena ya, seringkali kita luput memeluk diri sendiri. Kita kerap melewatkan hal-hal kecil karena menganggapnya hal biasa.

 

DAYS bukanlah drama perfect, masih banyak pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, potensi-potensi yang tidak diolah, dan lain-lain. Namun hemat saya, jika sebuah drama mampu menyampaikan pesannya dengan selamat kepada penontonnya tanpa ada dull moment dalam perjalanannya, saya rasa tidaklah berlebihan bila DAYS termasuk ke dalam kategori drama bagus dan berkualitas. Setidaknya versi saya DAYS berhak dapet rating bagus.

 


9/10

 Doom At Your Service bisa dilihat secara utuh sebagai sebuah cerita fantasi romance dengan moral cerita yang kuat, dan relatable. Story line, plot, konflik, OST sinematografi, akting, dan chemistry-nya solid.

Satu kata, heartwarming!

 

Saya nggak pernah ngebayangin atau sekadar berandai-andai Seo In-guk dan Park Bo-young disatukan dalam drama. Ketika ini beneran kejadian, efeknya magic! Di bts-bts dan drama, chemistry dua orang ini selalu menjalarkan kebahagiaan. Jangan-jangan ini misi terselubungnya Yoo PD dan Kwon PD nih, nyatuain Inguk-Boyoung di satu drama, bukan sebagai cameo tapi sebagai partner HAHAHAHAHA. Mari nge-halu.

 

Tabik,

Azz

 

P.s : psssttt…. hati-hati dengan permintaan atau harapan yang kamu lontarkan dalam keadaan marah, kecewa, atau sedih. 

 


Sebelum memasuki ending Doom at Your Service, di kepala saya sudah banyak hal yang ingin saya tulis tentang DAYS. Banyak. Yang banyak itu buyar setelah saya menyelesaikan episode 16. Dasar.

 

Di Jam-jam menuju perilisan DAYS episode 16 di VIU, saya sengaja tidak men-scroll timeline Twitter dan Instagram. Yang saya lakukan selagi menunggu adalah menonton Taxi Driver di VIU. Mendistraksi diri supaya tidak tergoda ngintip spoiler. Penayangan DAYS episode 15 dan 16 di Korea dan di VIU beda sejam-an. Saya niat banget ga mau tersentuh spoiler.

 

Perasaan saya campur aduk. Saya yang biasanya berisik seusai menonton spoiler di Twitter lewat hestek #DoomatYourService, kali ini tidak punya mood untuk itu. Abis nonton episode 16  tuh saya bisanya bengong beberapa saat lamanya. Rasanya DAYS belum kelar, perasaan yang ditinggalkan sesuai menonton episode 16 seperti saya dan seorang teman berpisah dengan janji temu pekan berikutnya. Gimana ya bilangnya… semacam ada perasaan antusias menunggu kisah selanjutnya. Episode 16 DAYS tidak memberikan kesan bahwa dramanya sudah berakhir. Senang tapi di saat yang sama saya ngerasain sedih juga, bayangin deh gimana rasanya. Senang tapi sedih.

 

Pasca episode 14 pekan lalu, saya tidak menuntut banyak dari episode 15 dan 16. Happy ending untuk Myul-mang dan Dong-kyung. Itu sudah cukup bagi saya. Happy ending di kepala saya nggak muluk-muluk; Myul-mang kembali; Dong-kyung sehat walafiat.


Saya akui ketakutan terbesar saya selama mengikuti DAYS adalah sad ending untuk mereka. Potensi patah hatinya besar sekali, mengingat premis dramanya yang menyiratkan itu, dan lagi ini adalah drama fantasi, ending drama-nya bisa banget ngikutin genre yang bersangkutan. Sad ending atau open ending. Makanya, saya, meskipun ngarep happy ending, tetap nyiapin ruang kemungkinan untuk ending yang tidak saya harapkan. Ceritanya sedia payung sebelum hujan nih wkwk.

 


Saya pernah nulis di postingan Trivia #4 DAYS, bahwa puncak konflik DAYS ada di episode 14. Lalu sisa dua episode berikutnya akan melengkapi. Puzzle-nya. Apa pun ekspektasi di kepala saya, DAYS sudah memilih jalan ceritanya sendiri sejak awal. Maka satu-satunya ekspektasi yang saya biarkan tetap ada setelah episode 14 adalah Myul-mang kembali. Selebihnya, terserah penulisnya mau gimana. 14 episode sudah bisa jadi jaminan bagi saya untuk percaya ke Im Mea-ri jakkanim. Hehe.

 

Episode 15.

Longing.



 

“Hey.

Are you doing well?

I’m doing okay. It’s the same every day. The flower you gave me have wilted. And looking at them made me feel sad.

So, I got myself  a new one pretending like I got if from you. Its pretty isn’t it?

Once this one wilts, I’ll buy a new one and pretend like you got it for me again.

I’ll do that again and again.That’s how I’ll continue live.”

 

Abis dibikin nangis-nangis parah di episode 14, saya blank jika disuruh membayangkan akan seperti apa episode 15. Bener-bener nge-blank. Saya nih sepertinya memang tipikal penonton yang nggak pinter memikirkan atau menebak kemungkinan skenario berikutnya. Satu-satunya pertanyaan yang muncul begitu saja adalah ini; bagaimanakah cara Im Mea-ri memberikan closure pada Dong-kyung dan viewers setelah kehilangan Myul-mang? Episode 15 nih krusial banget, tensi cerita DAYS jelas akan menurun di sini. Nah, bagaimana mempertahankan antusias penonton dengan suasana seperti ini?

 

Saya pernah menulis, DAYS adalah drama ber-genre fantasi yang isi ceritanya bisa disetarakan dengan drama ber-genre slice of life. Dan sekali lagi, episode 15 membuktikan itu.

 

Menyoal kehilangan, saya tidak tahu formula apa yang mesti dipakai untuk mengakalinya agar kita bisa selekasnya pulih dari rasa sakit, juga kesedihan yang dalam. Kehilangan, kerapkali mengantarkan kita pada waktu-waktu yang terasa sangat jauh, yang kepadanya kita masih saja setia memulangkan rindu. Waktu-waktu yang disebut kenangan.

 

Tampaknya inilah yang dijalani Dong-kyung di episode 15.

Dong-kyung menerima fakta bahwa ia telah kehilangan Myul-mang. Tetapi ini tidak lantas membuatnya bersikap keras pada dirinya menghadapi jenis kehilangan seperti ini. Ia bersedih, tentu saja. Namun di sisi lain, ia tetap berusaha menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Narasi-narasi Dong-kyung yang ditujukan kepada Myul-mang menunjukkan ini.

 


“Hi. How are you? Everything’s good with me as usual. I smile at times. I get angry at times. I get bored at times. Then at times, there are moments that feel like gifts. There are also moments that are excruciating.

But I still alive.

 Because you gave me this life.

But I still walk because that’s life.”

 

Yang bikin saya pengen meluk Dong-kyung adalah bagaimana ia bereaksi terhadap kehilangannya atas Myul-mang. Saya teringat narasi Dong-kyung di awal episode DAYS. Kehilangan kedua orang tuanya di usia yang masih sangat belia pernah membuatnya lupa caranya menangis. Inget banget gimana wajah Dong-kyung sebelum hatinya terlibat dengan Myul-mang. Dong-kyung hidup, tapi nggak sebenar-benarnya hidup. Yang ia jalani adalah hidup seperti ‘oh oke’ ‘yasudahlah’ ‘mau digimanain lagi’. Pasrah dengan apa saja yang datang kepadanya. Dong-kyung menjalani hidupnya karena ya… dia hidup.

 

Saya membandingkan Dong-kyung di awal episode dan Dong-kyung setelah kehilangan Myul-mang. Sekilas saja sudah kebaca perbedaannya. Dong-kyung di episode 15 ini vibes-nya sangat positif. Memang, ketika sendirian, kesedihan jelas sekali tergambar di matanya. Cara Dong-kyung mengenang dan mengingat Myul-mang bukanlah jenis yang bikin frustasi atau stres, meski (tetep) bikin saya pengen nangis liatnya. Sorot kerinduan di matanya…

Pendeknya, Dong-kyung berterima kasih pada Myul-mang dengan cara menghidupi hidupnya dengan hal-hal baik.

 

Ia mulai bekerja kembali. Sesekali berkumpul bersama Imo, Sun-kyung, dan Na Ji-na. Ia juga masih menjalin hubungan baik dengan teman-teman di perusahaan sebelumnya. Kali ini Dong-kyung tidak lagi berusaha tampil baik-baik saja di depan orang-orang yang mengenalnya. Inilah yang saya bilang, Dong-kyung akhirnya berhenti bersikap keras pada dirinya sendiri.

 

Episode 15 menggambarkan dengan sangat realistis bagaimana seseorang menyikapi kehilangan yang datang kepadanya. Rindunya  Dong-kyung pada Myul-mang nggak digambarin dengan tone depresi. Optimis, itu sih yang saya rasakan.

Saya lega, Dong-kyung dikelilingi orang-orang baik yang peduli padanya. Mereka selalu mempertimbangkan perasaan Dong-kyung.

 

“... celebrating spending a day that was full and healthy. Celebrating how sunny it was today.”

 

Saya suka sekali scene yang saya kutip quote-nya di atas. Dong-kyung mengajak Imo, Sun-kyung, dan Ji-na makan bareng. Ketika ditanya dalam rangka merayakan apa kah ajakan makan itu, alih-alih menjawab karena mendapatkan pekerjaan, Dong-kyung menjawab Imo seperti itu. Maka beruntunlah Sun-kyung, Ji-na dan Imo mengungkapkan kebahagiaan mereka pada hari itu. Dan apa yang mereka katakan bukan sesuatu yang luar biasa, hanya hal-hal kecil semacam ‘cucian yang cepat kering, ‘kerja keras’ ‘bahagia bisa keluar di hari itu’, namun justru hal-hal kecil seperti inilah yang sering banget kita sepelekan. Mensyukuri hal-hal kecil yang kita alami sepanjang hari. Banyak sekali. Tidak apa-apa merasa sedang tidak baik-baik saja, tapi menganggap sepanjang hari adalah waktu buruk… justru akan semakin menjerumuskan mood kita menjadi semakin buruk. Obrolan di acara makan bareng ini keliatan sederhana tapi nampar telak.

 


Sejak setahun lalu, kondisi hidup kita sedang tidak baik-baik saja. Kita masih terus berjibaku menghadapi pandemi tanpa tahu kapan akan berakhir. Kehilangan seperti menjadi menu utama yang tidak bisa dihindari. Tetap bisa merasakan nikmat sehat hingga hari berikutnya saja sudah menjadi kesyukuran luar biasa.

 

“I still have no idea what kind of ending I’m going to have. I just standing here imagining myself holding hands with you, and having my body wrapped around your arms. Because this world is still filled with things that disappear. It’s filled with you.

 

Dong-kyung seolah-olah ingin bilang, kerinduannya pada Myung-mang lah yang menjadi booster hidupnya. Saya sendiri masih takjub dengan penggambaran karakter Dong-kyung di episode 15. Detail sekali rasa-nya. Feeling yang saya rasakan ketika melihat Dong-kyung merindukan Myul-mang semacam punya dua warna; sedih dan lega yang datang bersamaan.

 

Cha Joo-ik : But, don’t some feeling get clearer as time goes by?

Tak Dong-kyung :Like what?

Cha Joo-ik : Longing.

 

Kehilangan punya banyak wajah. Kita nggak pernah tahu ia, kehilangan ini akan datang kepada kita dalam bentuk apa. Apakah kita siap atau tidak, ia tidak peduli.

Saya membayangkan, pada kehilangan-kehilangan yang kita rasakan, mempercepat hati untuk segera recovery adalah sesuatu yang mustahil. Hati tidak punya tombol fast forward. Maka yang bisa kita lakukan ya… menjalaninya. Dan ini berat sekali.

 

Dong-kyung sudah melakukannya. Nggak akan ada yang membantah betapa dahsyat patah hatinya Dong-kyung melihat Myul-mang menghilang di depan matanya, aftermath-nya menunjukkan sebesar rasa kehilangannya sebesar itu pula upaya Dong-kyung berusaha menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya.

 

Saya tidak bisa membayangkan eksekusi episode 15 yang lebih baik selain yang sudah saya tonton. Tidak dramastis. Saya bahkan tidak komplain kemunculan Myul-mang hanya seuprit saja. Episode 15 adalah episode-nya Dong-kyung menangani kehilangan dan kerinduannya pada Myul-mang. Di episode ini takaran longing, dan live life to the fullest-nya pas. Relate sekali. Pesan episode ini nyampe dengan sempurna ke hati saya.

 

 Some stories just don’t have a clear ending…”

 

Ucapan Dong-kyung yang ini bikin resah penonton. Seperti yang saya bilang sebelumnya, dialog-dialog-nya DAYS bisa ngasih perasaan yakin dan tidak yakin di saat bersamaan yang suskes menerbitkan insecure terhadap arah akhir dramanya.

Karena setiap dialog DAYS selalu punya makna terselubung, maka inilah saya yang mencoba membaca apa yang ingin disampaikan scene kepada saya sebagai penonton.

 


Tidak semua cerita punya akhir yang jelas, kata Dong-kyung begitu. Sebagai penulis, gagal menyelesaikan satu cerita, kita masih bisa menulis cerita baru. Semudah itu. Sedihnya dalam hidup, menulis cerita baru di atas cerita yang belum selesai atau tidak jelas akhirnya merupakan pilihan yang sulit dijalani. Karena kita masih menyimpan harapan pada ending yang belum jelas itu. Seperti Dong-kyung kepada Myul-mang.

 

 

“If its going to be a sad story, I shouldn’t even start reading it.”

 

Pernah nggak sih menggumam kayak gini? Ke buku yang kita baca, ke film/drama yang kita nonton? Saya pernah. Lebih ke endingnya yang ngecewain sih. Saya bisa terima apa yang saya tonton berakhir sad ending atau open ending asalkan jelas dan masuk akal eksekusinya. Kalo terkesan maksa, saya biasanya kesel wkwk. Nah persis sama yang dibilang Young Prince, andai udah tau endingnya bakal gaje nggak bakal dinonton.

 

Relate ke hidup nggak sih? Andai kita udah tau apa yang menunggu kita di depan, misalnya itu buruk atau bikin sedih kita pasti akan memilih jalan lain, sebisanya menghindari itu. Jika seperti itu, tidakkah hidup akan terasa membosankan? Jika sudah tau ending-nya bakal seperti apa, kita hanya akan bereksperimen dengan hal-hal yang bisa diprediksi.

 

Faktanya, life is fragile and very unpredictable. Dan sebab inilah kita mengenal apa itu excited, hope dan wish, kecewa, rindu, kehilangan, effort…Jatuh bangun yang bikin babak belur. Karena kita nggak tahu apa yang menunggu di depan sana, yang semampunya kita usahakan adalah segalanya. Seluruhnya.

 

Seharusnya begitu. Tapi sekali lagi, hidup ga ketebak alurnya, demikian pula pada cara kita menghadapi dan menerima apa yang diberikan hidup.

 

Ucapan Young Prince mengingatkan saya pada Myul-mang. Myul-mang meski takdir mereka sudah ketahuan, mau digimanain juga, tapi Myul-mang akan tetap memilih terlahir kembali, bertemu Dong-kyung dan jatuh cinta lagi dan lagi.

 

 

“If I walk pass you, will you take my hand as you always  did? Even if it’s only briefly. It’s okay if it’s only for a brief moment. Please hold my hand. Please hold me.  

 

 

Dong-kyung tahu betul, baginya mustahil Myul-mang kembali, tapi lihatlah apa yang dilakukannya… Menaruh doa dalam harapannya. Saya ngebayangin, selama tiga bulan setelah kepergian Myul-mang, berapa kali harapan semacam ini muncul di benaknya? Pasti tidak terhitung lagi. Heartbreaking. Menurut Elisabeth Kubler-Ross ada lima fase yang dilewati setelah kita kehilangan orang yang disayangi. Penolakan, amarah, penawaran, depresi, dan penerimaan. Tampaknya Dong-kyung sudah mengalami sebagian fase tersebut saat masih bersama Myul-mang yaitu saat-saat jelang Myul-mang menghilang. Hingga tiga bulan setelahnya Dong-kyung telah berada di fase terakhir, penerimaan.

 

Dia yang sedang atau pernah menghadapi kehilangan orang-orang terkasihnya paham betul apa yang dirasakan Dong-kyung.

 

Kelanjutan Cinta Segitiga Hyun-kyu,  Ji-na, Joo-ik

 

Saya membaca beberapa twit yang menyuarakan ketidakpahaman mereka tentang kisah cinta segitiga ini, kok nggak ada hubungannya dengan cerita utama?

 

Saya garuk-garuk kepala. Saya tidak paham hubungan seperti apa yang diinginkan. Jangan-jangan referensinya itu seperti Goblin? Ingin side story dan main story terlibat hubungan rumit dan dramatis. Yaaa sulit, premisnya kan enggak gitu. Mau dibilang nggak ada hubungan juga lebih nggak masuk akal lagi. Joo-ik merupakan atasan Dong-kyung, Dong-kyung dan Ji-na bersahabat, Sun-kyung bekerja di kafe Hyun-kyu. Kan lucu kalo dibilang nggak ada hubungannya. Saya lebih prefer seperti ini ketimbang libatan cinta segi-banyak yang bikin lelah.

 

Saya cukup senang dengan perkembangan kisah cinta segitiga ini. Tidak diburu-buru, alurnya masuk akal. Logis. Mau dibilang lambat juga nggak masalah. Cara eksekusinya mature. Ga ada toxic-nya sama sekali. Yang paling penting, Ji-na nya strong, independen dengan perasaannya. Cuman agak ga sreg dengan bucin-nya Joo-ik (godaannya ke Ji-na). Anggap saja cara ngomongnya Joo-ik ke Ji-na bukan favorit saya HAHAHAHA. Selebihnya, I love Cha Joo-ik!

 

Hujan dan Payung

 

Sekali lagi DAYS berhasil mengejutkan saya dengan scene pararel-nya.

Dong-kyung naik bus, lalu hujan turun dengan derasnya. Dong-kyung merasa tenang karena ia membawa payung. Ketika turun di halte tujuannya, Sonyeoshin sudah menunggunya. Saling tanya kabar bla bla bla... Part menariknya adalah sewaktu Dong-kyung memberikan payungnya kepada Sonyeoshin. Senyumnya Dong-kyung terlihat cerah dan bahagia sekali. Sudah dekat, katanya. Ia bisa berlari.

 

Saya inget pesan Myul-mang sebelum menghilang.

 

Dong-kyung punya payung, akhirnya. Tapi ia berikan itu pada Sonyeoshin. Dan ia berlari pulang dengan enerjik. Dong-kyung nih bener-bener memenuhi permintaan Myul-mang. Siapa yang tidak sayang Dong-kyung kalau sudah begini? Sayang banget banget.

 

Trus payungnya, oleh Sonyeoshin diberikan kepada Myul-mang. Unexpected. Filosofis kan? Dua orang yang sangat berarti bagi Myul-mang; Sonyeoshin dan Dong-kyung. Dua-duanya menyayangi Myul-mang dengan sama besarnya. Dong-kyung yang membantu Myul-mang menumbuhkan sisi manusianya, dan Sonyeoshin lah yang merawat mereka berdua di kebun-nya.

 

“I don’t resent you. I’m simply  happy. Because… I can see her again.”

 

Pas scene ini, saya speechless liat matanya Myul-mang berkaca-kaca. Se-bahagia itu dia bisa kembali ke Dong-kyung.

Trus ngeliat tatapannya Sonyeoshin ke Myul-mang, kata-katanya…. Sedih.

 

Jalga, saram-ah…

 

Yang udah suujon dan membuli Sonyeoshin gih sungkeman. Sejak awal dialah yang selalu mendukung dan percaya Myul-mang dan Dong-kyung. Emang beberapa kali Sonyeoshin seperti berusaha menjatuhkan Myul-mang, padahal nggak. Itu adalah cara Sonyeoshin mengarahkan Myul-mang. Myul-mang kan keras kepala ya, kudu ditantang dulu biar panas HAHAHAHA.

 

Ada sesuatu yang terasa spesial dari proses perjalanan Myul-mang menjadi Kim Saram. Sesuatu yang indah dan berkesan. Menyentuh. Simply beautiful. I’m in awe.  

 

Episode 16.

 


“I’m back.” -Kim Saram

 

Siapa yang tidak terharu mendengar Myul-mang mengucapkan itu di halaman rumah Imo? Di hadapannya Imo, Kevin, dan Sun-kyung tersenyum hangat menyambutnya. Best.

 

Jika episode 15 adalah tentang Dong-kyung yang menangani kesedihan atas kehilangan dan kerinduannya kepada Myul-mang, maka episode 16 lebih banyak menampilkan POV Myul-mang sebagai Kim Saram. Ia bukan lagi Myul-mang (Doomi) tapi manusia. Sa-ram

 

I have so much to tell about this episode but I don’t know where to start it.

 


Episode 16 penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Pure happiness. Setiap orang mendapatkan happy end-nya. Nggak cuma tokoh utama, supporting character-nya juga. Tidak ada yang ditinggalkan sendirian. Dugaan saya terbukti bahwa di episode 16 semua karakter akan terkoneksi. Ini membuktikan Im Mea-ri tidak menghadirkan mereka sebagai pelengkap doang. Saya bisa menuliskan dengan percaya diri setiap karakter membawa pesan-nya. Setiap karakter di drama ini. Mungkin di postingan berikutnya.

 

Ini bukan open ending. Hanya karena kita tidak diperlihatkan Sa-ram dan Dong-kyung menikah bukan berarti itu ketidakjelasan pada hubungan mereka. Jujur, saya suka banget Doom at Your Service diakhiri seperti ini. Saya tahu banyak yang menginginkan hubungannya Sa-ram dan Dong-kyung membara mengingat perpisahan mereka yang dramatis dan menyakitkan di episode 14. Perbedaan nuansa di episode 1-14, lalu 15-16 jelas berbeda. Episode 15-16, Sa-ram dan Dong-kyung tidak lagi diikat kontrak 100 hari, tidak ada tenggat waktu bagi kebersamaan mereka. Kali ini mereka punya waktu. Saya pikir itulah sebabnya Dong-kyung terlihat sangat menikmati kebersamaannya dengan Sa-ram. Tidak ada yang mengejar mereka.

 


Akhir DAYS jelas sekali adalah happy ending yang diharapkan penonton. Myul-mang reborn sebagai Kim Sa-ram, Dong-kyung pulih dari sakitnya, dan perjanjian 100 hari yang semula disangka membawa kesedihan mendalam nyatanya adalah harga yang harus ditebus untuk mendapatkan kebahagiaan oleh Dong-kyung dan Kim Sa-ram. Kebahagiaan dan kesedihan terkadang bisa datang dengan wajah yang sama. Sebagai bucin Myul-mang dan Dong-kyung saya puas dengan ending seperti ini. I couldn’t ask more than this.

 

Transisi Myul-mang sebagai Kim Sa-ram adalah salah satu part terbaik di episode 16. Kim Sa-ram merasakan langsung pengalaman pertamanya sebagai manusia. Ia makan dan minum, bekerja, making friends, ketiduran wkwk.

 

Ngakak dong liat makanan pertama Myul-mang sebagai Kim Sa-ram. Sereal HAHAHAHA. Ga tau kenapa yang saya ingat malah behind the scene-nya Seo In-guk yang dilarang makan sama  PD-nim. Nah ini kan udah jadi Sa-ram, pasti dihabisin itu sereal sama In-guk HAHAHAHA.

 



“Because I’m ensure, I find  myself making an effort.”

 

Tentang pekerjaan Sa-ram sebagai dokter ER, saya  terharu. Dari Myul-mang, yang kehadirannya berarti kehancuran, dia yang selalu melihat hal-hal menghilang di depan matanya, kini bereksperimen dengan penyelamatan. Cocok sekali dengan Sa-ram. Manusia pertama yang ia selamatkan adalah Dong-kyung.

 

“Fate doesn’t change. When I knew things where were going to end, I never reached out to them. But now I can’t see that, I end up trying my best. Sometimes I feel like it’s going to end. But that becomes a new begining.”

 

Ini adalah POV Myul-mang setelah reborn menjadi Kim Sa-ram. Sudut pandangnya berubah total. Tidak mengetahui apa yang menunggu kita di depan sana membuat kita (rasa-rasanya) tidak punya pilihan selain mengusahakan sebaik-baiknya usaha menuju ke apa yang di depan itu; sebut saja itu masa depan. Karena kita tidak yakin, maka lahirlah usaha dan percaya. Yang kita sangka telah berakhir, nyatanya justru menjadi awal mula yang baru. Life is unpredictable. Untuk kita.

 

“When you know how would it end, why do you let us go through it?”

 

Pertanyaan Dong-kyung ke Sonyeoshin memiliki vibes yang sama dengan ucapan Young Prince kepada Dong-kyung di episode 15, jika sudah tau akan berakhir sedih, Young Prince tidak akan memulai membaca cerita yang ditulis Dong-kyung.

 

Tidakkah pertanyaan-pertanyaan semacam ini hanya mengantarkan kita pada satu kesimpulan dasar? Menyoal takdir yang tidak dan bisa diubah, sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, making an effort untuk menjani lalu menerimanya pada akhirnya? Karena kita tidak tahu akan seperti apa hasilnya, seperti apa akhirnya, seperti kata Sa-ram, we end up trying our best. Manusiawi sekali. Kalau diomongin lebih jauh lagi, saya takut ini akan menjurus ke bahasan religius wkwk.

 

Saya sedang berpikir, quote-quote di DAYS ini sesungguhnya adalah satu pesan panjang yang diurai satu-satu, dilekatkan pada karakter-karakter dramanya, saling menjawab satu sama lain.

 

Saya ingin menangis. Drama ini bagus sekali. Sungguh. Saya tidak ragu kembali ke episode 1 untuk menontonnya ulang.

 


 Sebelum menutup postingan ini, saya ingin menegaskan kembali soal ending Doom at Your Service. Ini bukan open atau sad ending. Menurut saya open ending memberikan kesempatan kepada viewers untuk menebak-nebak apakah tokoh utamanya bahagia atau tidak, mati atau hidup. Open ending memicu viewers masing-masing membuat alternatif ending. Sedangkan DAYS tidak seperti itu. Semuanya jelas. Tidak ada yang digantungin nasibnya. Sebagai orang yang hobi menggantungkan nasib tokohnya di ending, saya menolak jika ada yang bilang ending days itu open ending.

 

Yang menarik dari akhir DAYS adalah nuansa yang dihadirkan. Ada antisipasi yang datang, yang disangka akhir justru menjadi permulaan.

 

Myul-mang sebagai Kim Sa-ram. Si manusia.

 

How’s life?

 


Tabik,

Azz. 💚💚💚

 

P.s : saya masih ingin menulis tentang DAYS.

.

.

.