Review In Your Radiant Season (2026)
Selamat datang di review suka-suka Azz. Kalau kamu nggak suka tulisan yang panjaaang, kamu mendingan skip postingan ini. 😄
Sinopsis
Song
Ha-ran (Lee Sung-kyung) merupakan Chief
designer sebuah rumah mode kelas atas terkemuka di Korea Selatan, Nana
Atelier. Tidak seperti penampilannya yang tampak sempurna tanpa cela, Song
Ha-ran menyimpan luka dan trauma mendalam setelah kehilangan kedua orang tua
dan kekasihnya di waktu yang berbeda. Pertemuan tak terduganya dengan
Sunwoo-chan (Chae Jong-hyeop) membawa perubahan tak terduga pada hidup Ha-ran.
Sunwoo-chan,
seorang pemuda berpostur tinggi menjulang tidak bisa menyembunyikan sukacitanya
menempuh penerbangan jauh dari Amerika ke Korea Selatan demi pekerjaannya
sebagai Animator, desainer karakter di bawah sebuah studio animasi ternama
dunia. Kepribadiannya yang ceria, punya semangat tinggi, dan selalu punya stok senyum
cerah untuk siapa saja membuatnya mudah menarik perhatian serta kedekatan
dengan manusia lain. Ia tidak pernah mengira, hubungan kerjasama perusahaannya
dan Nana Atelier akan mempertemukannya dengan Song Ha-ran.
Pertemuan
tersebut membangkitkan kembali ingatannya pada satu kenangan traumatisnya di
masa lalu.
Apa
yang akan terjadi bila dua orang yang hidup bersama luka traumatis bertemu? Kemungkinan-kemungkinan
apa saja yang bisa terjadi di antara kedua orang ini? Akankah mereka bisa saling menemukan di ruang yang sama?
Mampukah Ha-ran dan Chan berlepas dari kenangan menyakitkan masa lalu itu? Mampukah
mereka memeluk musim dingin yang
telah lama memerangkap hidup mereka, lalu mengucapkan selamat berpisah
kepadanya?
… dan
musim semi yang sudah begitu lama dinantikan akhirnya datang membawa
kehangatan?
Atau, bom masa lalu akhirnya meledak,
meleburkan kebahagiaan yang sedang coba mereka bangun bersama?
Storyline & Plot
“The seasons of life don’t
always come in order. Sometimes, the moment you feel like it’s spring, a harsh
winter suddenly arrives.” –Sunwoo Chan, Ep 1
Hidup
bisa tampak tidak berarti di mata seseorang, dan di mata seseorang lainnya,
hidup adalah semacam cerita yang dipenuhi plot twist dengan tikungan-tikungan
tajam yang membuatnya kesulitan mengatur napas dan ritme langkah. Tentang
hidup, kadangkala ia hanya sebatas seperti apa kita memandangnya. Ia—hidup itu, bisa mewujud
warna lain, warna baru saat kita memutuskan mengganti sudut pandang. Dan itu
sangat dipengaruhi oleh lintasan-lintasan peristiwa yang datang silih berganti
di kehidupan kita. Barangkali itulah
yang terjadi pada dua tokoh utama In
Your Radiant Season—Song Ha-ran dan Sunwoo Chan. Sekali waktu, Sunwoo Chan
pernah tenggelam dalam hidup yang gelap, sesak, dan melelahkan untuk waktu yang
lama, hingga membuatnya ingin menghentikan kehidupannya sendiri. Lalu datanglah
satu momen yang berhasil menariknya keluar dari lingkaran gelap tak terujung
itu; Song Ha-ran. Seperti katanya Chan di ep 1, andai hidup ini adalah
serangkaian musim, pergantiannya nggak ngikutin alur semestinya. Kadang kala,
di saat kita berpikir musim semi sudah di depan mata, ternyata yang menyapa
adalah musim dingin yang kejam. Sekonyong-konyong saja terjadinya. Chan-nya sudah
hepi, sudah bisa menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya, giliran Ha-ran yang
terperangkap musim dingin panjang dan membekukan.
Kalau musim
dinginnya Ran dan Chan nggak datang bersamaan, bagaimana mereka bisa menjumpai
musim semi bersama-sama?
In Your Radiant Season tidak sesederhana yang terlihat
pada setiap episodenya. Pacing romance-nya yang cenderung slow-burn bisa memicu kebosanan bagi penonton yang sukanya drama
sat set (fast-paced). Tapi memang
demikianlah drama yang mengangkat pergulatan dan pergolakan emosi-emosi
tokoh-tokohnya sebagai pusat cerita. Ia berusaha
mengurainya dengan hati-hati. Membicarakan trauma yang lahir dari pengalaman
traumatis tidak pernah terasa mudah. Drama ini tak hanya mengisahkan bagaimana
seseorang memroses duka traumatis atas kehilangan dari sudut pandang Ha-ran dan
adik-adiknya, tetapi juga dari sudut pandang Sunwoo Chan—tentang keberaniannya
berjalan melawan arah pengalaman traumatis dan luka pengabaian yang dialaminya
selama bertahun-tahun.
Di
mata saya, drama ini bukan sekadar drama romantic biasa. Setidaknya, itulah
yang saya rasakan saat memutuskan menonton episode demi episode drama yang
naskahnya ditulis Jo Sung-hee (Still 17,
She Was Pretty). Premisnya sudah
kuat dan memikat pada dua episode pilotnya, semakin bertambah episode, arah
ceritanya tetap konsisten. Hook di setiap akhir episode-nya dapet banget. Bikin
saya berani berekspektasi, menebak-neba (agak takut, deg-degan) bahwa beberapa
menit sebelum episode berakhir khususnya episode genap pasti ada sesuatu yang
akan membuat penonton pengen besoknya udah hari Jum’at lagi alias ENDING-NYA
BIKIN PENASARAN GA BISA TIDUR! Jago banget mempermainkan
emosi penonton. Director dan penulis skenario-nya tau apa yang mereka
lakukan. Mereka bisa membaca apa saja
yang bisa membuat penonton terjaga sampai
Jum’at berikutnya tiba.
Plot
In Your Radiant Season menggunakan model puzzle
dari sepotong demi sepotong ingatan Chan. Ini seperti membuka satu demi
satu lapisan bawang. Seperti halnya tokoh-tokoh di drama, penonton pun tak
sepenuhnya memiliki pengetahuan yang dalam mengenai keseluruhan cerita—hanya
spekulasi yang berkembang tentang apa dan bagaimana. Kita turut masuk ke dalam
dan merasakan emosi-emosi yang dibawa tokoh drama ini. Tidak ada satu pun saya
temukan dull moment pada
adegan-adegannya. Semuanya penting
dan bikin excited, on point, bahkan
sudut pandang tokoh pendukung juga sama pentingnya. Kayak pas aja gitu. Melo-nya dapet, hepinya dapet, humornya pas,
hangatnya dapet. Jatuh cintanya? Nggak usah ditanyain, udah jelas itu wkwk.
Mengapa
plot In Your Radiant Season mampu membuat penonton betah? Salah satunya karena
perkembangan cerita dan karakter tokohnya berjalan sebagaimana mestinya. Ceritanya
hidup, alurnya rapi, fokusnya terjaga. Plot In Your Radiant Season menganut
pola Character-Driven. Caranya
bertutur tidak dibuat dramatis. Dialognya berisi, puitis. Perkembangan alur
cerita focus pada bagaimana karakter berubah atau bereaksi terhadap situasi
yang datang kepadanya. Cabang-cabang konflik juga lahir dari sini. Tapi nggak mengganggu cerita
utama. Maka tidak heran penonton ikut terseret arus emosi. Kita melihat bagaimana mereka hidup dari satu
kejadian ke kejadian lainnya. Mengapa kita berharap ada perubahan karakter (Character Arc) terjadi pada mereka?
Karena tanpa sadar, kita sudah jatuh cinta pada tokoh-tokoh ini, we are rooting for their happiness. Why?
Because we know they deserve all the good things in this world.
Pengenalan
karakter tokoh-tokohnya juga berjalan baik. Drama yang menggunakan plot Character-Driven biasanya memiliki
dialog yang bermakna, mendalam dan emosional yang melahirkan interaksi yang
kuat antartokoh, di situlah chemistry yang
memikat tercipta. Dan itu terlihat di In Your Radiant Season. Hanya dari interaksi dan dialog Sunwo
Chan dan Song Ha-ran, atau Song Ha-young dan Yeon Tae-suk, bisa banget bikin
penonton mleyot meleleh, senyam-senyum enggak jelas, udah kayak yang paling
kecintaan aja (TAPI EMANG).
Tak
hanya itu, ada dialog Na-na halmeoni dan Cha Yoo-gyeom yang bikin penonton yang
sudah menginjak usia matang ini ikutan manggut-manggut setuju, pengen ikut
campur bilang ke Yoo-gyeom—dengeriiiin
kata Nenek! Cinta bukanlah segalanya. Makan lebih penting! Wkwk.
Asli
deh, drama ini ngasih pengalaman menyenangkan pada saya sebagai penontonnya.
Sesuatu yang sudah lama sekali tidak saya rasakan terhadap drama Korea. Sebagai
seseorang yang sekian tahun terakhir ini semakin jauh dari drama Korea, bisa
menemukan satu aja drama yang bikin betah tuh rasanya hepi banget. Berasa
banget ya kangennya.
Storyline
dan plot yang solid—ini sudah bisa menjadi alasan untuk saya nggak boleh
melewatkan satu drama ini. One in a
million deh. Candu. Nagih tiap episodenya. Taste drakornya berasa banget. Gimana ya ngomongnya… Pokoknya
gitulah. Tau-tau udah mau tamat aja. Btw, saya nge-dratf postingan ini saat In
Your Radiant Season masih ongoing.
Ada
satu lagi yang hampir saja saya lewatkan pembahasannya di bagian plot dan
storyline ini—teknik mirroring! Jo
Sung-hee menggunakan teknik mirroring saat menuturkan cerita In Your Radiant
Season. Menariknya, pola hubungan satu adegan ke adegan atau dialog satu ke
dialog lain menandai adanya informasi
baru (mengenai tokoh atau sub-plot cerita) yang secara blak-blakkan
menunjukkan kepada penonton adanya perkembangan karakter si tokoh. Pemahaman
kita tentang karakter tokoh-tokohnya jadi ikut berkembang juga. Ini semakin
membuktikan kepada saya betapa solid dan utuh garis cerita dan plot drama ini.
Konsepnya emang udah dipikirin matang-matang sih. Menurut saya nih, mirroring atau yang lebih sering disebut paralelisme
pada visualisasi cerita drama secara nggak langsung bikin penontonnya hidup, enggak berasa monoton—kita diajak
ikut mikir, actively connecting the dots—aktif menghubungkan puzzle cerita. Dan
udah pasti ketebak lah reaksi penonton seperti apa. SANGAT EKSPRESIF! We are very excited.
Salah
satu adegan mirroring yang paling saya ingat adalah ketika Chan berusaha menarik keluar Ha-ran dari lingkaran
musim dinginnya. Jo Sung-hee menggunakan symbol bunga untuk menggambarkan
situasi sulit yang sedang dihadapi
Ha-ran—bicara tentang beradaptasi dengan situasi atau lingkungan baru. Ha-ran
dan bunga yang dibawa Chan ke kafe Park Man-jae berada di posisi yang sama.
Bunga itu dikeluarkan dari wadah berisi air untuk ditanam di wadah berisi
tanah. Pada mulanya, bunga itu seperti tidak akan hidup karena menghadapi
stress pergantian lingkungan. Proses adaptasi berlangsung. Kemudian bunganya hidup. Kira-kira begitulah yang dihadapi
Ran. Dan bagi siapa pun yang pernah berada pada suasana trauma ekstrim,
meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah kadung dianggap sebagai zona
aman dan nyaman bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan terasa mengancam
tenang. Ini cara bercerita yang cerdas dan logis, enggak berusaha meromantisasi
karakter Ha-ran. Tentang bagaimana menjadi-nya begitu dekat dengan
kejadian-kejadian di kehidupan nyata kita.
Mirroring juga terbaca dari pemilihan kalimat-kalimat
dialog drama ini.
Sebenarnya
mirroring paling nyata sudah tampak
nyata pada pemilihan judul drama ini, 찬란한
너의 계절에—versi Bahasa Inggrisnya : In
Your Radiant Season. Di Musimmu Yang Cemerlang. Coba hubungkan dengan situasi
masing-masing tokoh yang terlibat atau terkoneksi dengan gambar besar
ceritanya? Yes, we will get our happy
ending. Saya berani bertauruh atas nama cinta saya untuk Sunwoo Chan. Hihi.
Dahlah.
Makin bahas detail In Your Radiant Season, semakin yakin lah saya kalau drama
yang masa penayangannya akan berakhir pada 3 April mendatang bukan drama yang
dibuat asal jadi, tapi bener-bener disusun
secara matang. Tidak tergesa. Penulisnya tahu betul apa yang ingin
diceritakannya. Still 17 yang
dibintangi Shin Hae-sun dan Yang Se-jong serta turut melejitkan nama Ahn Hye-seop dan LeeDo-hyun
merupakan karya terakhir Jo Sung-hee, dirilis 2018 silam. Sudah 9 tahun berlalu.
Entah apa yang terjadi di rentang waktu yang tidak singkat itu. Mungkinkah ini
refleksi kehidupan Jo Sung-hee?
Cast dan Penokohan
“It’s the same with people. We
have to empty ourselves out from time to time to clear our heads and soften our
hearts.” – Kim Sun Halmeoni
Tokoh
drama yang karakternya mengalami perkembangan, yang bertumbuh bersama konflik
akan selalu menjadi favorit saya, dan pada banyak kejadian, tokoh-tokoh ini
menjadi alasan utama saya menyukai sebuah drama. Sebut saja Han Seo-woo dari A
Piece of Your Mind. Gara-gara Isseojeo-nya di episode 2,
saya putuskan lanjut nonton padahal sebelumnya saya merasa bosan. Saya
menemukan situasi yang lumayan mirip di In Your Radiant Season. Itu adalah
adegan yang memperlihatkan Sunwoo Chan yang hendak melompat dari jendela, namun
gagal hanya karena bunyi beruntun notifikasi chat yang dikirim Ha-ran.
“Because
she was a grateful disruption that made me live again.” –Chan
Dia adalah gangguan
yang kusyukuri yang membuatku hidup kembali.
Indah banget, Chan. Sungguh. Saya menemukan alasan untuk melanjutkan In
Your Radiant Season; untuk melihat musim semi di wajah Chan-ie dan Ran-ie.
Dan ya, benar, terjadi lagi. Saya dibikin jatuh cinta pada tokoh drama.
Tokoh-tokoh In Your Radiant Season membuat saya jatuh suka pada drama
ini.
Lee Sung-kyung sebagai Song Ha-ran
Pertama,
Lee Sung-Kyung cantik banget. Demi apa pun, cantik banget. Definisi
sesungguhnya dari bersinar. Kita udah
tau ya dia emang cantik. Tapi di drama ini, cantiknya meluap-luap. Make up,
outfit, keseluruhannya sempurna. Pas. Aura elegan memancar kuat. Ngeklik dengan
latar belakang pekerjaannya sebagai chief designer.
“I thought I’d only have sad
memories about it forever, but I realized I could smile there. Perhaps I can
overwrite those sad memories, too.”
Karena
takut kehilangan lagi, Song Ha-ran membatasi relasinya setipis mungkin dengan
manusia lain. Di mata orang lain, ia adalah perempuan yang dingin, tak acuh,
antisosial. Ia menolak terlibat terlalu dalam dengan emosi manusia lain. Kesan avoidant nya kenceng banget.
Ini
karakter yang kompleks. Perilaku Song Ha-ran menunjukkan sedalam apa trauma
kehilangan membentuk pola kebiasaannya sehari-hari. Ha-ran mengalami PTSD (Post-traumatic stress disorder) . Ia
tidak hanya berduka atas apa yang sudah hilang,
ia juga terus-menerus mencemaskan apa
yang akan hilang berikutnya. Kedekatan emosi serupa ancaman baginya. Itulah
alasan mengapa ia memilih berjarak dengan siapa pun. Tidak menjalin hubungan
asmara dengan siapa pun.
“I feel like I’m surrounded by
walls today.” Song Ha-ran
Saya
menduga Jo Sung-hee menyimbolkan trauma Ha-ran dengan ruangan sempit di dalam
kamarnya. Kamar dalam kamar. Lapisan dan lapisan emosi yang berusaha dihindari
Ha-ran. Perempuan itu selalu tidur dan beraktivitas di ruangan itu. Menurut
saya, ruangan kecil itu adalah representasi hati Ha-ran dan
ketakutan-ketakutannya. Ia menemukan rasa aman di ruang sempit. Mungkinkah
Ha-ran mengalami hypervigilance? Sebuah
kondisi yang membuat seseorang selalu berada pada mode waspada. Space yang luas kerap membuatnya cemas.
Ha-ran menghindari keramaian juga kan?
PTSD-nya
Ha-ran menjadi kompleks dan berat karena kejadian traumatisnya berulang. Kehilangan
pertama (orang tua) dan kedua (kekasihnya)—dua kejadian yang mengubah total
bagaimana Ha-ran melihat dunia dan manusia lain.
Melihat
kompleksitas karakter ini, saya tidak pernah sedikit pun mengkritik setiap
tindakan yang diambil Ha-ran—meskipun jika dilihat dari sisi garis romance itu
terlihat kejam dan bikin pedih hati.
Reaksi Ha-ran sudah bisa diduga. Ia belum sempurna pulih. Syukurlah Jo Sung-hee
memilih jalur logis saja wkwk. Akan aneh rasanya bila Ha-ran tidak bereaksi
sekeras itu pada Chan.
Tokoh
Song Ha-ran memiliki perkembangan karakter yang padat, rapi dan kuat. Momentum itu terjadi saat Ha-ran menerima
tawaran Chan untuk terlibat kontrak uji
coba menjadi teman tiga bulan. Ha-ran nggak langsung menerima, di sini,
refleksi trauma-nya menguat. Tapi begitu melihat kegigihan Chan, Ha-ran mulai
mempertimbangkannya hingga akhirnya setuju.
Melihat
kondisi psikis Ha-ran, PTSD nya bisa dipulihkan. Tapi butuh waktu lama dan
tidak sesederhana yang kita pikir. Kalau mau lebih logis lagi, Ha-ran sebaiknya
berkonsultasi ke ahlinya, cuman di drama nggak diperlihatkan, yakin deh pasti
ada fase itu, seperti yang dilakukan Chan. Yang berusaha di-highlight adalah
bawah Ha-ran bisa pulih apabila ia bertemu dengan orang yang konsisten, sabar
dan tidak memaksa.
Ya.
Itu Chan.
Sayang
sekali, sebagian penonton keburu reaktif setelah ep 9 dan 10 tayang. Efek
trauma berat Ha-ran dianggap kecil.
Sering terjadi, memang, lagi-lagi demi romance,
karakter tokoh yang sudah lebih dahulu hadir daripada romance itu sendiri
justru diabaikan. Padahal, menilik jejak kehidupan Ha-ran, wajar ia bereaksi
demikian. Malah apa yang ditampakkan di drama masih terhitung tidak terlalu keras. Alur logika konflik dan perkembangan
karakter Ha-ran sudah berjalan semestinya. Ini pendapat saya. Untuk ukuran 12
ep, ini udah mendingan loh. Prosesnya ada. Meski terkesan terlalu padat
disimpan di satu satu episode, seenggaknya nggak lompat-lompat, minim plot-hole
juga.
Karakter
Song Ha-ran bertolak belakang dengan karakter real life Lee Sung-kyung. Song Ha-ran introvert, Lee Sung-lyung
extrovert, bagai bumi dan langit kan? Dan Lee Sung-kyung bisa menghadirkan Song
Ha-ran yang dingin, berjarak, kaku, traumatis. Suka!
Saya
nggak banyak ngukutin semua project drama Sung-kyung, tapi saya akui, sejak
nonton drama terakhirnya kalo ngga salah Shooting Stars (2022) dan Call It
(2023) tapi nggak berhasil namatin, dari satu peran ke peran lain aktingnya
selalu meningkat. Ngikutinnya enak. Enjoyable.
Good job, Mbak Bibel.
Chae Jong-hyeop sebagai Sunwoo Chan
Waktu
pertama kali liat cuplikan video-video pendek In Your Radiant Season yang
muncul di fyp Tiktok saya, saya
sempat mengira Chan adalah tokoh yang suram.
Imej itu memengaruhi kesan pertama saya terhadap Chan pada awal episode
pilot—saya sempat bingung. Kok beda ya?
Wait.
Barulah
setelah menyelesaikan dua episode pertama, saya mulai mendapatkan pencerahan.
Mustahil
banget nggak jatuh cinta pada tokoh satu ini. Setuju nggak? Saya jarang nemu
tokoh utama cowo yang pembawaannya kayak Chan ini. Yang kayak Chan ini lebih
seringnya jadi sekenlit. He is like a
ball of sunshine. Sangat menyenangkan. Terlepas dari fakta bahwa ia adalah
penyintas trauma juga. Chan nggak menolak rasa sakit akibat trauma itu. Ia akui keberadaannya dan berusaha hidup
berdampingan dengannya. Ia berusaha menjalani dan menikmati hidupnya dengan
usaha terbaik yang ia miliki. Seperti katanya kepada Ha-ran, “Let’s
live so I won’t have any regrets when they close my coffin.”
Mungkin
karena Chan sudah pernah mengalami kejadian berat yang hampir merenggut
nyawanya, itulah sebabnya ia belajar menikmati hidupnya sebaik-baiknya.
Karakter
Chan hangat, senyumnya bikin nagih—yang liat dia senyum ikutan senyum juga. Sebenarnya,
karakter Chan nggak kalah kompleksnya dari Ha-ran. Bedanya, kalau Ha-ran
memilih menutup diri, Chan sebaliknya. Chan membiarkan dirinya terpapar segala kemungkinan bahkan meski
itu akan membuatnya hancur. Karakter
yang berani.
Apa
yang diperlihatkan Chan kepada kita pasca kecelakaan di laboratorium itu,
bukanlah bukti bahwa ia telah pulih. Chan masih berada di fase PTSD-nya. Masih
ada potongan memori yang hilang, yang sering datang kepadanya hanya dalam
bentuk lintasan-lintasan kejadian yang tidak utuh. Psikiater yang menangani
Chan juga bilang kalau Chan yang sekarang bukanlah Chan yang asli. Kuatirnya, Chan akan mengalami
shock hebat apabila titik-titik memorinya itu akhirnya saling terhubung.
Chan
memilih Memento Mori.
Saya
menyukai Chan karena pembawaannya yang otentik. Setelah mengikuti ep 1 sampai
ep 8, berasa banget grateful-nya Chan ke hidup yang ia miliki. Itu terlihat
dari caranya memperlakukan hidupnya sendiri dan orang lain. Energi inilah yang
berhasil memengaruhi musim dingin-nya
Ha-ran. Chan ngasih rasa aman yang
dibutuhkan Ha-ran. Validasi yang membuat Ha-ran berani keluar dari ruangan
kecil di dalam hatinya.
Saya
juga mendapatkan rasa aman selama
menonton Chan. Saya yakin Chan tidak akan mengambil tindakan atau keputusan
tolol semacam noble idiocy kecuali ada factor logis yang bikin dia milih jalur
itu. He is strong, yet vulnerable. Chan
tau kelemahannya dan dia nggak nyerah.
Jika
Chan bisa menjadi matahari bagi orang
lain, lalu siapa yang akan menjadi matahari-nya Chan saat semua tidak baik-baik
saja? Tau ga bagian paling sedihnya? Sejak awal, Chan berjuang sendiri. Ia
tidak pernah memiliki siapa-siapa. Ia hanya punya if-nya. Ha-ran. Andai
saja ia dan Ha-ran lebih dulu bertemu. Dia bertahan hidup dengan itu. Sedih.
Saya
menangisi Chan sejak ep 9. Kentara banget transisi ceria ke mendung-nya. Yang
bikin nyesek tuh dia nggak mau nyerah. Semua diusahakan demi Ha-ran. Bukan
karena Ha-ran pernah nyelametin dia, tapi karena dia emang se-sayang itu sama
Ha-ran. Dia nggak ingin melihat Ha-ran balik lagi mengunci diri di balik tembok
dinginnya musim dingin.
He is such a pure soul.
Aktingnya
Chae Jong-hyeop gilak ya. Saya nggak pernah benar-benar merhatiin actor Korea
Selatan satu ini. Sebelum In Your Radiant Season, saya belum pernah nonton
project-nya sebagai pemeran utama. Saya baru tau dia pernah berperan sebagai
figuran di beberapa drama yang pernah saya nonton seperti Come and Hug Me. Saya
tau beberapa drama popular yang dibintangi cowo kelahiran 1993 ini, hanya tau karena sering lewat di temlen
X saya, tapi nggak pernah nonton. Nah, saya kan nonton In Your Radiant Season
belakangan banget pas udah tayang 7 episode. Kejar setoran banget nontonnya.
Sambil nunggu episode berikutnya saya iseng nyicip Serendipity’s Embrace,
project drama 8 episode bareng Kim So Hyun. Di situ saya dibikin takjub. Detail
aktingnya beda banget dengan perannya sebagai Sunwoo Chan. Dia meyakinkan saya
bahwa dua tokoh dari dua drama yang berbeda ini emang beda orang meski
pemerannya orang yang sama! Mikro ekspresinya keren banget ini.
Balik
lagi ke perannya sebagai Sunwoo Chan. Ada satu adegan yang bagi saya membekas
banget karena aktingnya Chae Jong-hyeop bikin saya bengong bentar. Bengong
karena kaget, HAH KOK BISA BANGET DIA KAYAK GITU. DETAIL EKSPRESINYA BAGUS
BANGET. Ending ep7, ada sepersekian detik ekspresi dia kayak yang nyesek banget
tapi udah ga bisa nahan perasaannya ke Ha-ran. Adegan itu saya ulang-ulang.
Galaunya pake ngajak berjamaah ih.
Mata Chae Jong-hyeop sangat sangat ekspresif. Saya pikir cuma senyumnya aja yang bikin candu, ternyata mode nangis, nyesek, nelangsa, patah hati ga kalah nagih juga. Bisalah ini maen drama melo, yang naskahnya bagus tapiiiiiiii, bukan melo abal-abal. Hati moengil ini sepertinya akan kuat melihat Jong-hyeop mode melo. Senyum ganteng, pas adegan nangis gantengnya berkali-kali lipat. Detail acting juara. Duh. Saya kudu harus lanjut nonton drama dia yang lain nih.
Han Ji Hyun sebagai Song Ha-young
Katanya
anak kedua atau anak tengah kerap dianggap anak yang terlupakan ya? Forgotten middle child. Dalam cerita
ini, Song Ha-young bukanlah anak tengah yang terlupakan. Ia anak yang dipenuhi
cinta kasih dan kepedulian. Namun bukan berarti kehilangan kedua orang tuanya
tidak menimbulkan efek berupa trauma pada kehidupannya. Bentuk pertahanan diri
atau self-mechanism nya Ha-young berbeda dari Song Ha-ran. Di hari pemakaman orang
tuanya, Ha-young berjanji pada dirinya bahwa dia akan baik-baik saja, akan selalu baik-baik saja agar
keluarganya tidak hancur. Ha-young memilih menjadi penopang emosi keluarga. Di sisi lain, Ha-young memiliki ketahanan
mental yang luar biasa kuat. Ia juga memiliki empati mendalam terhadap orang
lain dan kemandirian emosi. Kita nggak tau lebih mendalam seberapa jauh trauma
mengubah hidup Ha-young. Kita hanya tau, ia telah menjadi observer ulung di
hari kematian kedua orang tuanya. Ia selalu memastikan nenek, kakak dan adik
bungsunya selalu berada pada kondisi yang baik-baik saja. Seolah-olah itu
adalah tugas utamanya hidup di dunia.
Saya
ikut menangis bersama ha-young saat Yeon Tae-suk menolak cintanya. Saya persis
seperti Ha-young. Kalau udah yakin suka sama seseorang, pasti saya ungkapin.
Nggak mau saya simpan-simpan. Bikin nggak nyaman hati. Tapi emang sih resikonya
ditolaknya gede. Tau ga, saya udah antisipasi itu. Jadi udah nyiapin patah
hatinya dulu. Prinsipnya, perasaan saya adalah tanggung jawab saya bukan orang
lain. Perkara patah hati dan gimana caranya move
on biar menjadi urusan saya. Ha-young gitu juga kan? Dia memberikan closure
kepada dirinya sendiri.
Ini
satu-satunya adegan yang memperlihatkan sisi terlemahnya Ha-young. Abis itu dia
bisa berfungsi dengan normal.
Kepekaan dan kemandirian emosinya bagus banget ya? Mungkinkah masih ada
hubungannya dengan kehilangan kedua orang tuanya yang terlalu mendadak saat
usia belia turut membantunya membentuk kebiasaan
tersebut?
Suka banget acting naturalnya Han Ji-hyun. Curiga nih dia banyak adlib-nya. Detail aktingnya—di bagian gesture tubuh sangat sangat oke, seperti gerakan reflex yang muncul begitu saja. Jadi nge-blend dengan karakter Song Ha-young si anak kedua yang aktif.
Oh Ye-ju sebagai Song Ha-dam
Si
bungsu yang paling sedikit terpapar trauma kehilangan kedua orang tuanya.
Baru-baru
ini saya menonton podcast di Youtube-nya Rory Asyari dan Vina Nugroho, seorang
psikolog. Mereka banyak membahas tentang trauma pada anak. Vina Nugroho bilang
kalau trauma itu bukan pada kejadiannya, tapi luka yang tertinggal di dalam
diri karena tidak disembuhkan. Setelah kejadian traumatis dialami, apalah
setelah itu kita dibiarkan sendirian dan tidak ada siapa-siapa yang mendampingi
pemulihan luka, di situlah letak masalah-nya.
Setelah
kehilangan kedua orang tuanya, Song Ha-dam tidak pernah kekurangan kasih
sayang. Ia memiliki seorang nenek dan dua kakak perempuan yang menyayanginya
sepenuh hati.
Kita
diberi sedikit cerita mengenai efek dari kepergian kedua orangtuanya dan ini
menyentuh sekali. Itu adalah aroma ibu yang melekat pada selimut pemberian
mendiang ibunya. Selimut itu selalu menjadi penenang
bagi Ha-dam. Udah dicari-cari ke rak-rak pewangi pakaian, ia tak kunjung
menemukan aroma yang sama. Barulah setelah dipeluk ibunya Cha Yoo-gyum, Ha-dam
menemukan apa yang selama ini dicarinya.
Ha-dam
juga sempat diliputi rasa bersalah, sedih dan sedikit perasaan marah kepada
kakak-kakaknya. Di saat kakak-kakaknya selalu mengulang cerita sembari bertukar
tawa nostalgia mengenai kebiasaan mendiang kedua orangtua mereka, Ha-dam tidak
memiliki ingatan-ingatan itu. Ia masih kecil saat kejadian menyakitkan itu
terjadi. Tampaknya, seiring berjalan waktu, memorinya tentang ayah-ibunya
perlahan memudar. Makanya satu-satunya yang dimilikinya adalah selimut dan
aroma ibunya yang tertinggal di situ.
Kenapa
efek kehilangan ayah-ibunya tidak begitu keras
kepada Ha-dam? Saat guncangan itu datang, Ha-dam memiliki tiga lapisan
utama yang menjadi pelindungnya. Neneknya, dan kedua kakak perempuannya. Ha-dam
tumbuh dengan sangat baik, penuh kasih sayang dan peka. Manjanya sebagai anak
bungsu tetap ada dong.
Saya
nggak inget penampilan Oh Ye-ju di Hometown Cha-Cha (2021), debut dramanya. Ia
juga tampil sebagai cameo di From Now On Showtime (2022), Under The Queen’s
Umbrella (2022)—demi apa saya baru inget dia yang jadi putri mahkota yang
menggemaskan dan charming ituuu AAAAAAAAAAAAA!! Banyak juga yang gemes dengan
pairing Oh Ye-ju-Hong Min-gi dari drama Love Your Enemy (2024). Oh Ye-ju juga
muncul di drama SBS yang sedang tayang, Phantom Lawyer.
Akting
Oh Ye-ju menjanjikan. Bagusnya lagi, dia nggak langsung masuk ke peran utama,
tapi sebagai pemeran pembantu dulu. Masih muda. Jadi itung-itung sambil belajar
sama senior-senior. Nambahin jam terbang.
Lee Mi-sook
Aktris
veteran kelahiran 1960 ini memulai debut di era 80-an melalui film An Innocent
Collage Student. Saya mengenal beliau lewat drama makjang MBC tentang
pembalasan dendam yang bikin kepala pusing, East of Eden. Lee Mi-sook banyak dikenal warga Kdramaland melalui
perannya sebagai ibu di drama-drama popular seperti Queen of Tears dan Perfect
Marriage Revenge.
Lee
Mi-sook memerankan Nana Kim—Kim Nabong di In Your Radiant Season. Seorang nenek
tiga cucu yang menjadi pilar utama agar keluarga kecilnya tetap utuh dan kuat.
Memulai karir designer pakaian sejak usia belia membuat Nana Kim tumbuh menjadi
sosok perempuan yang mandiri dan tegar. Karirnya sukses.
Awalnya
saya pikir halmeoni satu ini galak dan jutek. Abis kemunculannya dramatis amat
sih di episode 1. Dan momen kocak soal angle foto bareng Chan yang membuatnya
terlihat cantik memecahkan imej tersebut. Halmeoni-nya lucu ternyata.
Profesional dan tegas di kerjaan, bijak di kehidupan. Nenek idaman!
{{{
Di
deretan cast, ada juga Kwon
Hyuk yang
berhasil mencuri perhatian penonton melalui perannya sebagai Yeon Tae-suk,
tangan kanan Halmeoni yang kaku, irit senyum, yang mendedikasikan hidupnya
untuk keluarga Halmeoni. Yakin nih, gara-gara In Your Radiant Season, fansnya
naik. Dan semoga doi dapet tawaran peran bagus di project-project yang akan
datang ya. TMI, saya dan Kwon Hyuk seumuran wkwk. Baek-baek lu, bang. Jaga
sikap. Semoga masa lalu aman-aman aja. Pada taulah pattern-nya di Sokor. Suka
ada aja ujiannya pas karir lagi gacor. Matanya Kwon Hyuk cocok bener jadi
villain. Maap.
Kemudian
ada Kim Tae-young, pemeran Cha Yoo-gyum—si soft
boi bucin kita. Mengutip AsianWiki, In Your Radiant Days merupakan drama
debut-nya Tae-young. Sudah beberapa bulan ini saya nggak aktif di X, nggak
banyak informasi yang saya ketahui tentang perkembangan artis-artis Korsel.
Untuk ukuran debutan pertama kali, acting Tae-young udah bagus loh.
Berikutnya
pemeran Park Man-jae ahjussi, pemiliki kafe SHIM—Kang Seok-woo, aktor berusia 69 tahun ini merupakan veteran di atas veteran di dunia
entertainment Korsel. Debutnya dimulai saat beliau masih berumur 12 tahun
melalui film Thy Name is Woman pada tahun 1969.
Yang menarik dari In Your Radiant Season
adalah meskipun peran aktor/aktrisnya masuk hitungan pemeran pendukung atau
muncul sebagai cameo, kemunculan mereka turut memberi warna pada perkembangan
cerita. Sebut saja neneknya Chan, Kim Sun yang diperankan aktris senior yang
wajahnya sudah sangat akrab dengan penonton drama Korea—Kang Ae-shim. Trus siapa yang nggak ingat Jeremy dengan segala tingkahnya itu? Saat
membaca profile nya, saya agak tidak percaya, Jang Yong-won memerankan Jeremy yang gemulai itu. Tapi
itulah kekuatan acting. DAN NGGAK BOLEH DILUPAIN—THE ONE AND ONLY, ANAK BAIK
KITA. 천재 (Cheon-jae). Anabul pinter yang juga berhasil nyuri perhatian penonton.
Drama yang bisa bikin penontonnya jatuh hati
dan mengingat sampai ke pemeran pendukungnya adalah drama yang sukses bercerita. In Your Radiant Season masuk
list!
Chemistry
Yeay, my favorite part! Hehe.
Storyline yang bagus, diperankan aktor/aktris
yang tepat mampu melahirkan chemistry yang
bekerja seperti mantra ajaib, menyihir penonton dari satu episode ke episode
berikutnya.
Membicarakan chemistry di In Your Radiant Season, saya tidak mau hanya focus
pada sisi romance-nya saja, saya sudah bilang di awal tulisan ini bahwa
ceritanya bukan sekadar tentang drama romantic biasa. Ada satu kekuatan utama
ceritanya yang mengingatkan saya pada satu drama favorit saya dari penulis
scenario Park Hae-ryun, While You’re Sleeping. Drama yang ditayangkan di SBS
2017 silam. Saya tidak akan melupakan kehangatan yang mengaliri hati saya
begitu drama ini menayangkan menit-menit penghabisan episode terakhirnya. Indah
sekali. Terkesan terlalu banyak kebetulan bagi sebagian orang yang melihatnya.
Namun adegan-adegan ini justru menjadi pengingat untuk saya bahwa relasi sesama
manusia bisa sangat se-menyenangkan dan sehangat itu.
Dan kali ini saya menemukannya lagi di In Your
Radiant Season. Nuansanya. Saya menyukai hubungan yang hidup di antara tokoh drama ini. Ada koneksi, build-up yang konsisten dan mengalir natural, juga bonding yang kuat.
Keterkaitan inilah yang menggerakan plot cerita. Kita jadi tau isi kepala
tokoh-tokohnya, tentang mengapa dan bagaimana-nya mereka menjalani dan
memutuskan sesuatu. Area reasonable-nya
jelas. Walau kadang apa yang dilakukan tokoh-tokohnya nggak cocok menurut alur
berpikir sebagian penonton, tapi kalau dipikir pake sudut pandang situasi dan
kondisi yang dijalani tokohnya, kita ngerti kenapa ceritanya harus dibikin
seperti itu. Begitulah hidup ini bekerja, bukan begitu? Dunia, ya kadang,
memang hanya selebar daun kelor.
Koneksi inilah yang mengalirkan kehangatan
yang menjalar jauh sampai tiba di hati penonton. Interaksi antartokohnya hidup. Tidak salah juga menyebut In Your
Radiant Season sebagai healing romance drama.
Kesan hangatnya kental banget, misalnya di
adegan-adegan Nana Halmeoni ngobrol bareng tiga calon cucu mantunya. Kebijakan
hatinya yang turut membantu Chan, Tae-suk, dan Yoo-gyeom meneguhkan hati untuk
mencintai dengan berani. Adegan Chan dan Man-jae ahjussi juga. Percaya nggak
percaya sih, tapi udah sering kejadian, vibrasi baik/positif yang memancar dari
seseorang akan mengenali vibrasi yang sama dari manusia lain. Dahlah, ini drama
isinya emang orang-orang baik terlepas dari situasi kehidupan yang mereka
hadapi.
Berikut ini adalah relasi-relasi yang bisa
diceritakan kembali dari drama ini;
Satu Nenek, 3 Cucu Perempuan; selalu ada tempat untuk memulangkan diri
Sebagai
anak perempuan pertama yang punya dua adik perempuan, saya seperti melihat
cerminan diri pada Song Ha-ran. Bagaimana dia berusaha menarik dan menutup diri
demi melindungi kewarasan yang
tersisa. Sibuk melindungi dan menyelamatkan diri, saya luput menangkap
jejak-jejak luka trauma yang ternyata juga dialami adik-adik saya khususnya
adik pertama saya, si anak tengah yang selalu menjadi yang paling pengertian
setiap kali saya memasuki fase shutting
down. Familiar? Ya. Kita nggak pernah benar-benar tahu seperti apa Song
Ha-young melewati fase-fase terberat hidupnya setelah kehilangan. Ia sibuk menjadi pilar penopang emosi kakak
dan adiknya. Dan itu terlihat sewaktu Song Ha-dam marah-marah usai memecahkan
piring kramat peninggalan ibu mereka. Ha-young lah yang mengejar dan mengurai
emosi adiknya. Lalu setiap kali Ha-ran mengalami masa-masa sulit, lagi-lagi
Ha-young yang panik pontang-panting demi memastikan kakaknya baik-baik saja.
Ha-young ah. Saya teringat di drama lain, ada sosok anak kedua perempuan yang
juga selalu menjadi yang paling peka sampai ia sendiri tak sadar bahwa
perilakunya turut dipengaruhi trauma yang muncul dari rumah. Namanya Kim Eun-hee dari My Unfamiliar Family.
Saya
suka hubungan kakak-adik di In Your Radiant Season. Dinamika (gesekan dan
proses tumbuh) dan harmoni (bond dan support system) yang terjalin persis
seperti yang sering diulang-ulang nenek saya kepada anak dan cucunya—baik-baik ke saudara kalian, karena kalau
ada apa-apa, kamu hanya punya saudaramu. Habis berantem gede,
ujung-ujungnya haha-hihi bareng lagi. Nggak ada yang saling nyimpen emosi
diam-diam. Nggak ada yang sungkan minta maaf kalau salah. Hubungan persaudaraan
yang baik bukannya kayak gini ya? Aslinya saling sayang, tapi bukan berarti
nggak pernah berantem. Yang saling menyimpan emosi dalam diam justru berpotensi
membakar habis kasih sayang.
Tiga
anak perempuan yang ditinggal meninggal ayah dan ibunya ini memiliki cara
berbeda memroses duka kehilangan. Kehadiran nenek mereka, Nana Kim, berperan
besar menemani proses tersebut.
Nyatanya, saat peristiwa menyakitkan terjadi, kehadiran orang dewasa di sekitar
anak-anak memang sangat mempengaruhi cara mereka melewati fase itu.
Tentang
duka dan trauma, tokoh-tokoh yang dominan hadir, selain dua pemeran utamanya,
masing-masing memiliki itu. Meski porsinya kecil,
tetapi turut memengaruhi pola komunikasi yang mereka pilih. Ngerasa nggak sih
kalau manusia tuh rumit banget? Yang kita anggap sepele, bagi orang lain bisa
saja itu perkara antara hidup dan matinya. Maka memiliki seseorang yang bisa
memahami situasi kita dengan sabar tanpa tapi adalah sesuatu yang sangat mahal, dan sayangnya tidak semua orang
bisa seberuntung itu.
Tokoh-tokoh di drama ini beruntung karena mereka saling memiliki satu sama lain. Yang memilih tetap tinggal saat badai menerjang.
| Kisah Cinta Empat Musim |
Sesuai
judulnya, ada empat musim di drama ini yang direfleksikan pada 4 relasi kasih
sayang tokoh-tokohnya. Udah ketebak ya siapa musim dinginnya. Musim lain, saya
menebaknya; Musim gugur (Kim Nana-Park Man Jae), musim panas (Song Ha
Young-Yeon Tae Suk), musim semi (Song Ha Dam-Cha Yoo Gyeom). Gemeshh amat sih.
Kamu bisa memilih musim favoritmu. Tapi satu yang pasti, cinta yang utuh tidak
akan pernah datang terlambat. Jalani saja hidup dengan sebaik-baiknya.
Belajarlah menjadi dirimu yang utuh dulu.
In
Your Radiant Season hanya memiliki 12
episode tapi kerennya mampu menghadirkan 4 kisah cinta yang membekas di hati
penonton. Nggak ada yang dikesankan sekadar filler aja. Orang-orang tuh sampe
lupa kalau kisah lain porsinya nggak boleh melebihi porsi waktu cerita cinta
utama. Keburu invest perasaan terdalam wkwk. 4 kisah cinta yang ditampilkan
punya warnanya masing-masing mewakili semua generasi. Kamu masuk di generasi
mana nih?
Relasi Sunwoo Chan dan Ayahnya; trauma antargenerasi
Trauma
Chan salah satunya bersumber dari kematian ibunya dan luka pengabaian dari
ayahnya. Chan menjadi sasaran projected
fear, ketakutan yang diproyeksikan ayahnya kepadanya. Kematian istrinya
saat mengejar mimpinya sebagai pelukis membuat Sunwoo Seok berusaha menjauhkan
Chan dari jejak yang dipilih ibunya. Niatnya melindungi Chan justru membuka
jalan yang gelap dan tak berujung bagi Chan. Itulah musim dingin terpanjang
Chan.
Saya
menyukai bagaimana tokoh-tokoh ini melakukan refleksi terhadap pilihan-pilihan
hidup mereka. Terlihat sangat manusiawi. Hubungan Chan dan ayahnya, bagaimana
mereka akhirnya melakukan rekonsiliasi—caranya khas banget. Anak laki-laki dan ayahnya yang terpisah jarak yang
jauh dan mencoba perlahan berjalan di tengah. Nggak ada drama berlebihan.
Akting Chae Jong-hyeop pas marah-marah, kemudian dalam sepersekian detik
beralih ke rasa tidak berdaya dan rasa bersalah melihat Ha-ran terluka—beugh.
Emosinya nyampe sedalam-dalamnya ke lubuk hati terdalam penonton.
Ending
“Traditional knot each have a
specific meaning. A new life, change. Sometimes, you have to free something
instead of clutching it tightly. To open up a new beginning. That’s what this
butterfly knot means.” –Nana Kim
Mau
tau nggak apa yang bisa merusak mood nonton saya di tengah jalan? Ketika saya
nggak sengaja membaca komentar orang-orang yang kadang-kadang terlalu
berlebihan menganalisa. Ini terjadi jelang In Your Radiant Season memasuki 3
episode terakhir. Saya baca-baca komentar orang-orang Tiktok. Komentar-komentar
ini bikin saya mikir, “kita lagi nonton
drama yang sama nggak sih?”
Masa
yang nyamain karakter Chan bakal berakhir sama dengan karakter Hae-jo dari Mr.
Plankton hanya karena dua-duanya sama-sama punya penyakit? Maksud saya, dari
nuansa ceritanya aja udah beda banget, trus plot-line dan storyline juga ga ada
miripnya sama sekali. Ada juga yang komen bakal SE karena foto posternya Ha-ran
dan Chan nggak saling menatap satu sama lain, kata orang-orang di drama-drama
terdahulu biasanya ini firasat bakal SE. ARRGGGGHHHHH. Pengen nabok orang.
Tentang
ending, ketimbang mikirin HE atau SE (saya udah yakin banget bakal HE), saya
lebih kepikiran gimana caranya Joo Sung-hee ngebungkus cerita In Your Radiant
Season dengan sempurna tanpa meninggalkan lubang di plot-nya. Saya nggak pengen
drama favorit saya ini berakhir antiklimaks.
Saya
sudah kadung menaruh ekspektasi tinggi banget, nggak bisa diturunin lagi. Syukurlah,
investasi perasaan saya tidak sia-sia. Ending In Your Radiant Season sesuai
ekspektasi, sangat memuaskan. Selain tidak ada yang jadi ubi, drama ini
berhasil mempertahankan konsistensi cerita, tidak keluar dari premis. Ini aja
udah juara sih sebagai salah satu drama Korea terbaik di pembukaan 2026 ini. Kita
tau, premis yang kuat mampu menjaga konsistensi cerita, bisa menjadi dasar
pengembangan konflik dan karakter, dan menciptakan kesatuan cerita. Premis juga
membantu penonton mengatur eskpektasi—jujur deh, kamu melihat ini semua terjadi
di drama ini kan?
Ucapan
neneknya Chan kepada Ha-ran usai menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki piring
ibunya Ha-ran menggambarkan salah satu pesan utama yang dibawa drama ini, yang
juga menjadi refleksi cerita dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, dan
sebagai pengingat kepada penonton yang menyukai drama ini bahwa—
“Restoration begins the moment
you decide to put it back together. It may take a while, but as long as you
don’t give up, the pieces will come together in the end, and those pieces will
contain a deeper story compared to before.”
Jiwa
sering kali menjadi jauh lebih indah setelah mengalami luka—kutipan dari novel
Serenade-nya Morra Quatro. Itulah yang terjadi pada tokoh-tokoh di drama ini.
Akhir yang bahagia bukan hanya ketika Chan dan Ha-ran menikah. Saya sudah
bilang di awal tulisan ini, In Your Radiant Season bukanlah drama romantic
biasa. Drama ini datang membawa kisah manusia-manusia dengan lukanya
masing-masing. Kita melihat mereka bertumbuh dan berproses, mengenali dan
memeluk luka. Melewati musim-musim yang silih berganti. Tahu-tahu kita melihat
refleksi hidup kita pada mereka, pada rasa dan emosi yang dibawa oleh setiap
tokohnya.
Akhir
yang bahagia adalah ketika semua tokohnya menemukan closure-nya masing-masing.
Waktu untuk pulih memang tidak ringkas, ada jarak jauh yang mesti ditempuh
dengan berani. Harus babak belur dulu. Harus banyak retaknya dulu. Barulah
setelahnya kita menemukan jawaban tentang mengapa harus kita yang kebagian itu
semua. Saya tidak ingin disebut meromantisasi kesulitan atau trauma—sebagai
seseorang yang menghabiskan sebagian besar usia saya untuk pulih dari
luka-luka, drama ini telah memberikan saya pelukan yang hangat.
Saya
nangis sewaktu neneknya Chan bilang, “I learned through this job that miracles
begin by not giving up.”
Keajaiban
dimulai saat kita menolak menyerah.
Karena
itulah yang terjadi pada saya. Andai saya menyerah belasan tahun lalu, saya
tidak akan bisa menikmati bagaimana rasanya bernapas lega, bagaimana rasanya
tidur dengan tentang, tidak ada lagi insomnia. Saya menjalani hidup dengan
terus menerus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan diri saya—terima kasih
karena tidak menyerah. Saat saya memutuskan bertahan dan melanjutkan perjalanan
meskipun saya tidak tahu apakah saya akan benar-benar tiba di tujuan yang saya
doakan. Asal nggak nyerah, pokoknya. Dengan tidak menyerah, saya sudah
berada di jalan yang tepat.
Saya
tidak akan membahas apa yang terjadi di sepanjang episode terakhir In Your
Radiant Season. Saya ingin menyoroti bagaimana Jo Sung-hee begitu sempurna
menutup cerita dengan kepingan terakhir yang membuat saya sebagai penonton
melihat rupa pulih seutuhnya seperti apa. Jo Sung-hee tidak memperlakukan
trauma-trauma tokohnya sebagai alat
penggerak cerita atau untuk menarik simpati penonton.
Bahwa
luka dan trauma itu ada dan hidup. Untuk berdamai, hal pertama yang
dilakukan adalah mengakuinya, lalu belajar memeluk luka-luka itu. Untuk menuju
pulih, banyak sakit-nya. Jo Sung-hee bersedia memberi ruang dan jeda kepada tokoh-tokohnya untuk menatap luka dan traumanya. Sebab sesungguhnya, Keberanian untuk
melangkah maju tidak datang begitu saja. Itu diusahakan.
Ini
terlihat pada episode-episode ketika Ha-ran masih memilih berjarak dari Chan.
Lalu Chan mencoba melakukan sesuatu yang membuat Ha-ran tidak lagi merasa
beberapa tempat di Seoul sebagai tempat yang merekam luka dan traumanya. Dengan
caranya, Chan memberikan kenangan baru tanpa membuat Ha-ran merasa tidak
nyaman.
Akhir
In Your Radiant Season sangat berkesan bagi saya.
Ada
yang komentar, 12 episode nggak cukup mengurai cerita, tiga episode terakhir
terkesan diburu-buru, terlalu padat. Tapi menurut saya, ini adalah 12 episode
terbaik. Saya merasa kurang panjang episodenya karena saya masih ingin menonton
cerita kehidupan warga IYRS, menyimak interaksi mereka yang hangat dan
menyenangkan itu, ingin mengintip masa pacarannya couple musim semi yang
canggung bin gregetan itu, masih kepengen ngintilin pacarannya Chan dan Ran—masih
banyak maunya saya mah. Tapi kalau melihat dari segi garis cerita dan plot, ending
IYRS udah komplit.
Ini
drama nggak ada tokoh jahatnya. Ini drama yang penulis skenarionya dituduh
sebagai villain oleh beberapa orang hanya karena ada satu episode yang berhasil
bikin patah hati. Bikin penonton berasa masuk ke musim dingin juga.
Ini
drama yang berhasil menarik saya keluar dari drama slump.
Terima
kasih, In Your Radiant Season. Berkat kamu,
musim semi saya di drama Korea sudah
datang kembali.
Special mention :
Saya
jatuh cinta banget dengan kapel musim dingin di drama ini. Song Ha-ran dan
Sunwoo Chan. Saya yakin banyak yang ngerasain kayak saya. Mereka emang selayak
itu dijatuhi cinta sebanyak-banyaknya dari penonton.
Ha-ran
dan Chan ngebuktiin, hubungan yang berhasil adalah ketika dua orang mau saling
mengusahakan, bukan hanya ketika keadaan baik-baik aja, tapi juga saat semua
serba tidak baik-baik saja dan berpisah menjadi satu-satunya pilihan yang
tersisa. Saat situasi sedang sulit, harus ada satu pihak yang pasang mode bertahan. Karena kita nggak akan pernah
benar-benar tahu arti (nilai) sebuah hubungan kalau nggak pernah ancur-ancuran
bareng.
Sampai
kapan bertahan? I don’t know, mungkin
sampai kita sudah yakin, kita sudah melakukan seutuhnya secukupnya usaha yang
bisa kita sanggupi. Mungkin sampai kita berhasil meyakinkan diri bahwa
setelahnya tidak akan ada penyesalan yang tersisa.
Coba
aja Ran nyerah dan berhenti ngejar Chan,
mana ada itu happy ending. Di real
life, dua orang yang saling menyayangi aja nggak akan pernah cukup untuk bisa
membuat sebuah hubungan berhasil.
Cara
Chan mencintai Ha-ran tuh utuh banget. Semua bahasa cinta diberikan kepada
Ha-ran. Dan sebagai anak perempuan pertama, saya juga berharap cinta yang seperti
ini akan menemukan saya. Selain karena saya bisa relate dengan situasi emosinya Ran, saya persis seperti Chan—bahasa
cintanya sama utuhnya.
"Every eldest daughter
was the first lamb to the slaughter,
So we all dressed up as wolves
and we looked fire." (Eldest Daughter, Taylor
Swift)
Saya
nggak bisa menolong diri saya untuk nggak masang ekspresi meleleh terharu
ketika Chan nembak Ran pake kata-kata
yang nggak biasa. Cerdas. Yang ditanya udah pasti ada di posisi sulit untuk
nolak. Nggak nyangka bakal ditanyain kayak gitu.
“Is it ok if I start being really nice to
you from now on?”
Mulai
sekarang, nggak apa-apa kan kalau aku mulai bersikap baik banget ke kamu?
Pertama,
Chan tau setebal apa dinding musim dinginnya Ran. Makanya dia nggak pake mode dobrak—bakal
makin kenceng lah penolakannya Ran, udah kebukti kan pas Chan ngajak temenan
tiga bulan? Pake cara alus lebih cocok. Kedua, Chan nanyain consent-nya Ran, dalam
hal ini, emosi Ran lebih utama bagi Chan.
Boleh
nggak aku baik sama kamu? YA SIAPA JUGA YANG BISA NOLAK, CHAN-AAAAHHHH MANIS
BANGET ITU MULUT. Kita tau Chan nggak lagi nge gombal. Dia sopan banget, Tuhan.
ADEGAN
PROPOSAL DI PANTAI!!!
AAARRRGGHHHH.
Sunwoo Chan, laki-laki yang selalu menepati janji.
“Let’s go see cherry blossoms
in spring, eat shaved ice in summer, see the autumn leaves in fall, and go
snowboarding on winter. Will you share every season of life with me from now
on?” –Sunwoo Chan
Setiap
tahapan hubungan Chan dan Ran terasa special dan memorable. Mereka berhasil
membuatnya seperti itu.
Akhirnya
musim dingin Chan dan Ran berakhir. Musim semi yang hangat datang.
Btw, empat
laki-laki di In Your Radiant Season memang ijo neon semua ya. Bertanggung jawab
dan selalu mengupayakan ngasih ruang aman ke pasangan. Mereka tau cara
memperlakukan perempuan. Tau kapan harus maju, kapan harus memerhatikan dari
jauh. Bahkan si Yeon Tae-suk yang pemalu, jarang senyum itu confess ke Ha-young
pake kalimat sopan dan manis banget. “… but if you’re really okay with someone
like me, would be all right for me to like you?” –Yeon Tae-suk
Senada dengan ucapan Chan kan? Considerate, mengutamakan perasaan pasangan.
Selain
dialognya yang puitis dan bermakna, saya juga menyukai setiap adegan hug-nya Chan dan Ran.
Terasa penuh, hangat dan nyaman. Rasa sayang-nya dapet banget. Sependek ingatan
saya, drama Korea terakhir kali yang memberikan perasaan ini ketika melihat
kapelnya pelukan adalah A Piece of Your Mind.
In
Your Radiant Season memiliki semua bahasa cinta. Sebab itulah tak akan ada habisnya
membicarakan drama ini. Romantisnya nggak krik krik, nggak too much. Takarannya pas.
Gara-gara Chan, orang-orang
banyak yang tau awan iridescent. Awan yang terbentuk karena adanya difraksi
cahaya.
Epilog
Drama
yang bagus, drama yang berhasil adalah ketika episode penutup sudah
menyelesaikan menit terakhirnya, menyisakkan penonton yang ditinggalkan dengan
perasaan tidak karuan. Belum apa-apa sudah merasa kehilangan. Seperti itulah yang saya rasakan usai anjing jenius
kita mengucapkan selamat berpisah kepada penonton yang menyayanginya di bagian epilog.
In
Your Radiant Season adalah drama yang datang seperti musim semi. Drama ini
seolah ingin mengingatkan kita, hidup serupa musim yang silih berganti.
Jika
saat ini kamu sedang menghadapi musim dingin yang panjang. Chan punya pesan
untukmu.
“It will pass one day. Even if
winter feels endless, a spring breeze might blow someday. Once you keep
fighting through it.
… I hope when you’re going
through winter, a warm spring breeze blows by eventually and ends the painful
season before it gets too long. And I hope whatever season you’re going
through, they’re all radiant.
Suatu
hari, semua ini akan berlalu. Bahkan jika musim dingin terasa tak berujung, percayalah—angin
hangat musim semi akan menemukan jalannya padamu, selama kamu tetap bertahan.
… Aku
berharap saat kamu sedang melewati musim dinginmu, hembusan angin musim semi
yang hangat akhirnya datang dan mengakhiri musim yang menyakitkan itu sebelum
terlalu lama. Dan aku berharap musim apa pun yang sedang kamu lalui, semuanya
akan tetap terasa indah dan penuh cahaya.
{
Saya
ingin menutup postingan ini dengan sebuah pelukan
hangat untuk siapa pun yang datang membaca tulisan ini.
Dalam
seni tradisional Jepang untuk memperbaiki keramik yang pecah, dikenal sebuah teknik
bernama Kintsugi (金継ぎ). Pada prosesnya, keramik yang pecah diperbaiki
menggunakan pernis (urushi) lalu ditaburi emas, perak, atau platinum. Teknik
ini terasa special karena filosofi kehidupan yang berusaha diceritakannya melalui setiap retakan keramik yang pecah—retakan itu
tidak disembunyikan melainkan ditonjolkan.
Seperti
halnya hidup, kita semua memiliki retakan. Banyak sekali. Yang perlu kita
lakukan adalah mengakuinya—ya, kita penuh dengan luka dan tidak apa-apa. Sebab
kita ini manusia. Setiap retakan itu adalah bukti bahwa kita hidup; kita telah
berjuang dengan sebaik-baiknya dan bertahan hidup.
Saya ingin kamu mengingat ini, bahwa kebahagiaan yang utuh akan selalu dimulai dari dirimu. Selalu dirimu. In Your Radiant Season ingin kamu memercayai itu. Jadi, tetaplah hidup. Kamu akan baik-baik saja, akhirnya. 😊💪
⭐⭐⭐⭐⭐
5/5
Salam hangat,
Azz 💚
Ada
yang tau ga, OST Instrumen drama ini? Saya udah stop Spotify, dan beralih ke
Youtube Music. Belum nemu juga.
P.s : Mohon maaf kalau tiba-tiba kamu nemu kata 'Days' bukannya 'Season', sepanjang menulis review ini, saya suka nggak nyadar nulis In Your Radiant Days. Nggak tau kenapa. Refleks aja gitu.









.jpg)













No comments:
Post a Comment
Haiii, salam kenal ya. 😊