Review In Your Radiant Season (2026)

Selamat datang di review suka-suka Azz. Kalau kamu nggak suka tulisan yang panjaaang, kamu mendingan skip postingan ini. 😄

Sinopsis

Song Ha-ran (Lee Sung-kyung) merupakan Chief designer sebuah rumah mode kelas atas terkemuka di Korea Selatan, Nana Atelier. Tidak seperti penampilannya yang tampak sempurna tanpa cela, Song Ha-ran menyimpan luka dan trauma mendalam setelah kehilangan kedua orang tua dan kekasihnya di waktu yang berbeda. Pertemuan tak terduganya dengan Sunwoo-chan (Chae Jong-hyeop) membawa perubahan tak terduga pada hidup Ha-ran.


Sunwoo-chan, seorang pemuda berpostur tinggi menjulang tidak bisa menyembunyikan sukacitanya menempuh penerbangan jauh dari Amerika ke Korea Selatan demi pekerjaannya sebagai Animator, desainer karakter di bawah sebuah studio animasi ternama dunia. Kepribadiannya yang ceria, punya semangat tinggi, dan selalu punya stok senyum cerah untuk siapa saja membuatnya mudah menarik perhatian serta kedekatan dengan manusia lain. Ia tidak pernah mengira, hubungan kerjasama perusahaannya dan Nana Atelier akan mempertemukannya dengan Song Ha-ran.

Pertemuan tersebut membangkitkan kembali ingatannya pada satu kenangan traumatisnya di masa lalu.


Apa yang akan terjadi bila dua orang yang hidup bersama luka traumatis bertemu? Kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi di antara kedua orang ini? Akankah mereka bisa saling menemukan di ruang yang sama? Mampukah Ha-ran dan Chan berlepas dari kenangan menyakitkan masa lalu itu? Mampukah mereka memeluk musim dingin yang telah lama memerangkap hidup mereka, lalu mengucapkan selamat berpisah kepadanya?

… dan musim semi yang sudah begitu lama dinantikan akhirnya datang membawa kehangatan?

Atau, bom masa lalu akhirnya meledak, meleburkan kebahagiaan yang sedang coba mereka bangun bersama?


Storyline & Plot

“The seasons of life don’t always come in order. Sometimes, the moment you feel like it’s spring, a harsh winter suddenly arrives.” –Sunwoo Chan, Ep 1


Hidup bisa tampak tidak berarti di mata seseorang, dan di mata seseorang lainnya, hidup adalah semacam cerita yang dipenuhi plot twist dengan tikungan-tikungan tajam yang membuatnya kesulitan mengatur napas dan ritme langkah. Tentang hidup, kadangkala ia hanya sebatas seperti apa kita memandangnya. Ia—hidup itu, bisa mewujud warna lain, warna baru saat kita memutuskan mengganti sudut pandang. Dan itu sangat dipengaruhi oleh lintasan-lintasan peristiwa yang datang silih berganti di kehidupan kita. Barangkali itulah yang terjadi pada dua tokoh utama In Your Radiant Season—Song Ha-ran dan Sunwoo Chan. Sekali waktu, Sunwoo Chan pernah tenggelam dalam hidup yang gelap, sesak, dan melelahkan untuk waktu yang lama, hingga membuatnya ingin menghentikan kehidupannya sendiri. Lalu datanglah satu momen yang berhasil menariknya keluar dari lingkaran gelap tak terujung itu; Song Ha-ran. Seperti katanya Chan di ep 1, andai hidup ini adalah serangkaian musim, pergantiannya nggak ngikutin alur semestinya. Kadang kala, di saat kita berpikir musim semi sudah di depan mata, ternyata yang menyapa adalah musim dingin yang kejam. Sekonyong-konyong saja terjadinya. Chan-nya sudah hepi, sudah bisa menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya, giliran Ha-ran yang terperangkap musim dingin panjang dan membekukan.


Kalau musim dinginnya Ran dan Chan nggak datang bersamaan, bagaimana mereka bisa menjumpai musim semi bersama-sama?


In Your Radiant Season tidak sesederhana yang terlihat pada setiap episodenya. Pacing romance-nya yang cenderung slow-burn bisa memicu kebosanan bagi penonton yang sukanya drama sat set (fast-paced). Tapi memang demikianlah drama yang mengangkat pergulatan dan pergolakan emosi-emosi tokoh-tokohnya sebagai pusat cerita. Ia berusaha mengurainya dengan hati-hati. Membicarakan trauma yang lahir dari pengalaman traumatis tidak pernah terasa mudah. Drama ini tak hanya mengisahkan bagaimana seseorang memroses duka traumatis atas kehilangan dari sudut pandang Ha-ran dan adik-adiknya, tetapi juga dari sudut pandang Sunwoo Chan—tentang keberaniannya berjalan melawan arah pengalaman traumatis dan luka pengabaian yang dialaminya selama bertahun-tahun.


Di mata saya, drama ini bukan sekadar drama romantic biasa. Setidaknya, itulah yang saya rasakan saat memutuskan menonton episode demi episode drama yang naskahnya ditulis Jo Sung-hee (Still 17, She Was Pretty). Premisnya sudah kuat dan memikat pada dua episode pilotnya, semakin bertambah episode, arah ceritanya tetap konsisten. Hook di setiap akhir episode-nya dapet banget. Bikin saya berani berekspektasi, menebak-neba (agak takut, deg-degan) bahwa beberapa menit sebelum episode berakhir khususnya episode genap pasti ada sesuatu yang akan membuat penonton pengen besoknya udah hari Jum’at lagi alias ENDING-NYA BIKIN PENASARAN GA BISA TIDUR! Jago banget mempermainkan emosi penonton. Director dan penulis skenario-nya tau apa yang mereka lakukan. Mereka bisa membaca apa saja yang bisa membuat penonton terjaga sampai Jum’at berikutnya tiba.


Plot In Your Radiant Season menggunakan model puzzle dari sepotong demi sepotong ingatan Chan. Ini seperti membuka satu demi satu lapisan bawang. Seperti halnya tokoh-tokoh di drama, penonton pun tak sepenuhnya memiliki pengetahuan yang dalam mengenai keseluruhan cerita—hanya spekulasi yang berkembang tentang apa dan bagaimana. Kita turut masuk ke dalam dan merasakan emosi-emosi yang dibawa tokoh drama ini. Tidak ada satu pun saya temukan dull moment pada adegan-adegannya. Semuanya penting dan bikin excited, on point, bahkan sudut pandang tokoh pendukung juga sama pentingnya. Kayak pas aja gitu. Melo-nya dapet, hepinya dapet, humornya pas, hangatnya dapet. Jatuh cintanya? Nggak usah ditanyain, udah jelas itu wkwk.


Mengapa plot In Your Radiant Season mampu membuat penonton betah? Salah satunya karena perkembangan cerita dan karakter tokohnya berjalan sebagaimana mestinya. Ceritanya hidup, alurnya rapi, fokusnya terjaga. Plot In Your Radiant Season menganut pola Character-Driven. Caranya bertutur tidak dibuat dramatis. Dialognya berisi, puitis. Perkembangan alur cerita focus pada bagaimana karakter berubah atau bereaksi terhadap situasi yang datang kepadanya. Cabang-cabang konflik juga lahir dari sini. Tapi nggak mengganggu cerita utama. Maka tidak heran penonton ikut terseret arus emosi. Kita melihat bagaimana mereka hidup dari satu kejadian ke kejadian lainnya. Mengapa kita berharap ada perubahan karakter (Character Arc) terjadi pada mereka? Karena tanpa sadar, kita sudah jatuh cinta pada tokoh-tokoh ini, we are rooting for their happiness. Why? Because we know they deserve all the good things in this world.


Pengenalan karakter tokoh-tokohnya juga berjalan baik. Drama yang menggunakan plot Character-Driven biasanya memiliki dialog yang bermakna, mendalam dan emosional yang melahirkan interaksi yang kuat antartokoh, di situlah chemistry yang memikat tercipta. Dan itu terlihat di In Your Radiant Season. Hanya dari interaksi dan dialog Sunwo Chan dan Song Ha-ran, atau Song Ha-young dan Yeon Tae-suk, bisa banget bikin penonton mleyot meleleh, senyam-senyum enggak jelas, udah kayak yang paling kecintaan aja (TAPI EMANG).


Tak hanya itu, ada dialog Na-na halmeoni dan Cha Yoo-gyeom yang bikin penonton yang sudah menginjak usia matang ini ikutan manggut-manggut setuju, pengen ikut campur bilang ke Yoo-gyeom—dengeriiiin kata Nenek! Cinta bukanlah segalanya. Makan lebih penting! Wkwk.


Asli deh, drama ini ngasih pengalaman menyenangkan pada saya sebagai penontonnya. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak saya rasakan terhadap drama Korea. Sebagai seseorang yang sekian tahun terakhir ini semakin jauh dari drama Korea, bisa menemukan satu aja drama yang bikin betah tuh rasanya hepi banget. Berasa banget ya kangennya.


Storyline dan plot yang solid—ini sudah bisa menjadi alasan untuk saya nggak boleh melewatkan satu drama ini. One in a million deh. Candu. Nagih tiap episodenya. Taste drakornya berasa banget. Gimana ya ngomongnya… Pokoknya gitulah. Tau-tau udah mau tamat aja. Btw, saya nge-dratf postingan ini saat In Your Radiant Season masih ongoing.


Ada satu lagi yang hampir saja saya lewatkan pembahasannya di bagian plot dan storyline ini—teknik mirroring! Jo Sung-hee menggunakan teknik mirroring saat menuturkan cerita In Your Radiant Season. Menariknya, pola hubungan satu adegan ke adegan atau dialog satu ke dialog lain menandai adanya informasi baru (mengenai tokoh atau sub-plot cerita) yang secara blak-blakkan menunjukkan kepada penonton adanya perkembangan karakter si tokoh. Pemahaman kita tentang karakter tokoh-tokohnya jadi ikut berkembang juga. Ini semakin membuktikan kepada saya betapa solid dan utuh garis cerita dan plot drama ini. Konsepnya emang udah dipikirin matang-matang sih. Menurut saya nih, mirroring  atau yang lebih sering disebut paralelisme pada visualisasi cerita drama secara nggak langsung bikin penontonnya hidup, enggak berasa monoton—kita diajak ikut mikir, actively connecting the dots—aktif menghubungkan puzzle cerita. Dan udah pasti ketebak lah reaksi penonton seperti apa. SANGAT EKSPRESIF! We are very excited.


Salah satu adegan mirroring yang paling saya ingat adalah ketika Chan berusaha menarik keluar Ha-ran dari lingkaran musim dinginnya. Jo Sung-hee menggunakan symbol bunga untuk menggambarkan situasi sulit yang sedang dihadapi Ha-ran—bicara tentang beradaptasi dengan situasi atau lingkungan baru. Ha-ran dan bunga yang dibawa Chan ke kafe Park Man-jae berada di posisi yang sama. Bunga itu dikeluarkan dari wadah berisi air untuk ditanam di wadah berisi tanah. Pada mulanya, bunga itu seperti tidak akan hidup karena menghadapi stress pergantian lingkungan. Proses adaptasi berlangsung. Kemudian bunganya hidup. Kira-kira begitulah yang dihadapi Ran. Dan bagi siapa pun yang pernah berada pada suasana trauma ekstrim, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah kadung dianggap sebagai zona aman dan nyaman bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan terasa mengancam tenang. Ini cara bercerita yang cerdas dan logis, enggak berusaha meromantisasi karakter Ha-ran. Tentang bagaimana menjadi-nya begitu dekat dengan kejadian-kejadian di kehidupan nyata kita.


Mirroring juga terbaca dari pemilihan kalimat-kalimat dialog drama ini.


Sebenarnya mirroring paling nyata sudah tampak nyata pada pemilihan judul drama ini, 찬란한 너의 계절에—versi Bahasa Inggrisnya : In Your Radiant Season. Di Musimmu Yang Cemerlang. Coba hubungkan dengan situasi masing-masing tokoh yang terlibat atau terkoneksi dengan gambar besar ceritanya? Yes, we will get our happy ending. Saya berani bertauruh atas nama cinta saya untuk Sunwoo Chan. Hihi.


Dahlah. Makin bahas detail In Your Radiant Season, semakin yakin lah saya kalau drama yang masa penayangannya akan berakhir pada 3 April mendatang bukan drama yang dibuat asal jadi, tapi bener-bener disusun secara matang. Tidak tergesa. Penulisnya tahu betul apa yang ingin diceritakannya. Still 17 yang dibintangi Shin Hae-sun dan Yang Se-jong serta turut  melejitkan nama Ahn Hye-seop dan LeeDo-hyun merupakan karya terakhir Jo Sung-hee, dirilis 2018 silam. Sudah 9 tahun berlalu. Entah apa yang terjadi di rentang waktu yang tidak singkat itu. Mungkinkah ini refleksi kehidupan Jo Sung-hee?


Cast dan Penokohan

“It’s the same with people. We have to empty ourselves out from time to time to clear our heads and soften our hearts.” – Kim Sun Halmeoni


Tokoh drama yang karakternya mengalami perkembangan, yang bertumbuh bersama konflik akan selalu menjadi favorit saya, dan pada banyak kejadian, tokoh-tokoh ini menjadi alasan utama saya menyukai sebuah drama. Sebut saja Han Seo-woo dari A Piece of Your Mind. Gara-gara Isseojeo-nya di episode 2, saya putuskan lanjut nonton padahal sebelumnya saya merasa bosan. Saya menemukan situasi yang lumayan mirip di In Your Radiant Season. Itu adalah adegan yang memperlihatkan Sunwoo Chan yang hendak melompat dari jendela, namun gagal hanya karena bunyi beruntun notifikasi chat yang dikirim Ha-ran.


Because she was a grateful disruption that made me live again.” –Chan


Dia adalah gangguan yang kusyukuri yang membuatku hidup kembali.

Indah banget, Chan. Sungguh. Saya menemukan alasan untuk melanjutkan In Your Radiant Season; untuk melihat musim semi di wajah Chan-ie dan Ran-ie.

Dan ya, benar, terjadi lagi. Saya dibikin jatuh cinta pada tokoh drama.

Tokoh-tokoh In Your Radiant Season membuat saya jatuh suka pada drama ini.


Lee Sung-kyung sebagai Song Ha-ran

Pertama, Lee Sung-Kyung cantik banget. Demi apa pun, cantik banget. Definisi sesungguhnya dari bersinar. Kita udah tau ya dia emang cantik. Tapi di drama ini, cantiknya meluap-luap. Make up, outfit, keseluruhannya sempurna. Pas. Aura elegan memancar kuat. Ngeklik dengan latar belakang pekerjaannya sebagai chief designer.


“I thought I’d only have sad memories about it forever, but I realized I could smile there. Perhaps I can overwrite those sad memories, too.”


Karena takut kehilangan lagi, Song Ha-ran membatasi relasinya setipis mungkin dengan manusia lain. Di mata orang lain, ia adalah perempuan yang dingin, tak acuh, antisosial. Ia menolak terlibat terlalu dalam dengan emosi manusia lain. Kesan avoidant nya kenceng banget.


Ini karakter yang kompleks. Perilaku Song Ha-ran menunjukkan sedalam apa trauma kehilangan membentuk pola kebiasaannya sehari-hari. Ha-ran mengalami PTSD (Post-traumatic stress disorder) . Ia tidak hanya berduka atas apa yang sudah hilang, ia juga terus-menerus mencemaskan apa yang akan hilang berikutnya. Kedekatan emosi serupa ancaman baginya. Itulah alasan mengapa ia memilih berjarak dengan siapa pun. Tidak menjalin hubungan asmara dengan siapa pun.


“I feel like I’m surrounded by walls today.” Song Ha-ran


Saya menduga Jo Sung-hee menyimbolkan trauma Ha-ran dengan ruangan sempit di dalam kamarnya. Kamar dalam kamar. Lapisan dan lapisan emosi yang berusaha dihindari Ha-ran. Perempuan itu selalu tidur dan beraktivitas di ruangan itu. Menurut saya, ruangan kecil itu adalah representasi hati Ha-ran dan ketakutan-ketakutannya. Ia menemukan rasa aman di ruang sempit. Mungkinkah Ha-ran mengalami hypervigilance? Sebuah kondisi yang membuat seseorang selalu berada pada mode waspada. Space yang luas kerap membuatnya cemas. Ha-ran menghindari keramaian juga kan?


PTSD-nya Ha-ran menjadi kompleks dan berat karena kejadian traumatisnya berulang. Kehilangan pertama (orang tua) dan kedua (kekasihnya)—dua kejadian yang mengubah total bagaimana Ha-ran melihat dunia dan manusia lain.


Melihat kompleksitas karakter ini, saya tidak pernah sedikit pun mengkritik setiap tindakan yang diambil Ha-ran—meskipun jika dilihat dari sisi garis romance itu terlihat kejam dan bikin pedih hati. Reaksi Ha-ran sudah bisa diduga. Ia belum sempurna pulih. Syukurlah Jo Sung-hee memilih jalur logis saja wkwk. Akan aneh rasanya bila Ha-ran tidak bereaksi sekeras itu pada Chan.


Tokoh Song Ha-ran memiliki perkembangan karakter yang padat, rapi dan kuat. Momentum itu terjadi saat Ha-ran menerima tawaran Chan untuk terlibat kontrak uji coba menjadi teman tiga bulan. Ha-ran nggak langsung menerima, di sini, refleksi trauma-nya menguat. Tapi begitu melihat kegigihan Chan, Ha-ran mulai mempertimbangkannya hingga akhirnya setuju.


Melihat kondisi psikis Ha-ran, PTSD nya bisa dipulihkan. Tapi butuh waktu lama dan tidak sesederhana yang kita pikir. Kalau mau lebih logis lagi, Ha-ran sebaiknya berkonsultasi ke ahlinya, cuman di drama nggak diperlihatkan, yakin deh pasti ada fase itu, seperti yang dilakukan Chan. Yang berusaha di-highlight adalah bawah Ha-ran bisa pulih apabila ia bertemu dengan orang yang konsisten, sabar dan tidak memaksa.

Ya. Itu Chan.


Sayang sekali, sebagian penonton keburu reaktif setelah ep 9 dan 10 tayang. Efek trauma berat Ha-ran dianggap kecil. Sering terjadi, memang, lagi-lagi demi romance, karakter tokoh yang sudah lebih dahulu hadir daripada romance itu sendiri justru diabaikan. Padahal, menilik jejak kehidupan Ha-ran, wajar ia bereaksi demikian. Malah apa yang ditampakkan di drama masih terhitung tidak terlalu keras. Alur logika konflik dan perkembangan karakter Ha-ran sudah berjalan semestinya. Ini pendapat saya. Untuk ukuran 12 ep, ini udah mendingan loh. Prosesnya ada. Meski terkesan terlalu padat disimpan di satu satu episode, seenggaknya nggak lompat-lompat, minim plot-hole juga.


Karakter Song Ha-ran bertolak belakang dengan karakter real life Lee Sung-kyung. Song Ha-ran introvert, Lee Sung-lyung extrovert, bagai bumi dan langit kan? Dan Lee Sung-kyung bisa menghadirkan Song Ha-ran yang dingin, berjarak, kaku, traumatis. Suka!


Saya nggak banyak ngukutin semua project drama Sung-kyung, tapi saya akui, sejak nonton drama terakhirnya kalo ngga salah Shooting Stars (2022) dan Call It (2023) tapi nggak berhasil namatin, dari satu peran ke peran lain aktingnya selalu meningkat. Ngikutinnya enak. Enjoyable. Good job, Mbak Bibel.

Chae Jong-hyeop sebagai Sunwoo Chan

Waktu pertama kali liat cuplikan video-video pendek In Your Radiant Season yang muncul di fyp Tiktok saya, saya sempat mengira Chan adalah tokoh yang suram. Imej itu memengaruhi kesan pertama saya terhadap Chan pada awal episode pilot—saya sempat bingung. Kok beda ya?

Wait.


Barulah setelah menyelesaikan dua episode pertama, saya mulai mendapatkan pencerahan.

Mustahil banget nggak jatuh cinta pada tokoh satu ini. Setuju nggak? Saya jarang nemu tokoh utama cowo yang pembawaannya kayak Chan ini. Yang kayak Chan ini lebih seringnya jadi sekenlit. He is like a ball of sunshine. Sangat menyenangkan. Terlepas dari fakta bahwa ia adalah penyintas trauma juga. Chan nggak menolak rasa sakit akibat trauma itu. Ia akui keberadaannya dan berusaha hidup berdampingan dengannya. Ia berusaha menjalani dan menikmati hidupnya dengan usaha terbaik yang ia miliki. Seperti katanya kepada Ha-ran, Let’s live so I won’t have any regrets when they close my coffin.”


Mungkin karena Chan sudah pernah mengalami kejadian berat yang hampir merenggut nyawanya, itulah sebabnya ia belajar menikmati hidupnya sebaik-baiknya.


Karakter Chan hangat, senyumnya bikin nagih—yang liat dia senyum ikutan senyum juga. Sebenarnya, karakter Chan nggak kalah kompleksnya dari Ha-ran. Bedanya, kalau Ha-ran memilih menutup diri, Chan sebaliknya. Chan membiarkan dirinya terpapar segala kemungkinan bahkan meski itu akan membuatnya hancur. Karakter yang berani.


Apa yang diperlihatkan Chan kepada kita pasca kecelakaan di laboratorium itu, bukanlah bukti bahwa ia telah pulih. Chan masih berada di fase PTSD-nya. Masih ada potongan memori yang hilang, yang sering datang kepadanya hanya dalam bentuk lintasan-lintasan kejadian yang tidak utuh. Psikiater yang menangani Chan juga bilang kalau Chan yang sekarang bukanlah Chan yang asli. Kuatirnya, Chan akan mengalami shock hebat apabila titik-titik memorinya itu akhirnya saling terhubung.

Chan memilih Memento Mori.


Saya menyukai Chan karena pembawaannya yang otentik. Setelah mengikuti ep 1 sampai ep 8, berasa banget grateful-nya Chan ke hidup yang ia miliki. Itu terlihat dari caranya memperlakukan hidupnya sendiri dan orang lain. Energi inilah yang berhasil memengaruhi musim dingin-nya Ha-ran. Chan ngasih rasa aman yang dibutuhkan Ha-ran. Validasi yang membuat Ha-ran berani keluar dari ruangan kecil di dalam hatinya.


Saya juga mendapatkan rasa aman selama menonton Chan. Saya yakin Chan tidak akan mengambil tindakan atau keputusan tolol semacam noble idiocy kecuali ada factor logis yang bikin dia milih jalur itu. He is strong, yet vulnerable. Chan tau kelemahannya dan dia nggak nyerah.


Jika Chan bisa menjadi matahari bagi orang lain, lalu siapa yang akan menjadi matahari-nya Chan saat semua tidak baik-baik saja? Tau ga bagian paling sedihnya? Sejak awal, Chan berjuang sendiri. Ia tidak pernah memiliki siapa-siapa. Ia hanya punya if-nya. Ha-ran. Andai saja ia dan Ha-ran lebih dulu bertemu. Dia bertahan hidup dengan itu. Sedih.


Saya menangisi Chan sejak ep 9. Kentara banget transisi ceria ke mendung-nya. Yang bikin nyesek tuh dia nggak mau nyerah. Semua diusahakan demi Ha-ran. Bukan karena Ha-ran pernah nyelametin dia, tapi karena dia emang se-sayang itu sama Ha-ran. Dia nggak ingin melihat Ha-ran balik lagi mengunci diri di balik tembok dinginnya musim dingin.


He is such a pure soul. 


Aktingnya Chae Jong-hyeop gilak ya. Saya nggak pernah benar-benar merhatiin actor Korea Selatan satu ini. Sebelum In Your Radiant Season, saya belum pernah nonton project-nya sebagai pemeran utama. Saya baru tau dia pernah berperan sebagai figuran di beberapa drama yang pernah saya nonton seperti Come and Hug Me. Saya tau beberapa drama popular yang dibintangi cowo kelahiran 1993 ini, hanya tau karena sering lewat di temlen X saya, tapi nggak pernah nonton. Nah, saya kan nonton In Your Radiant Season belakangan banget pas udah tayang 7 episode. Kejar setoran banget nontonnya. Sambil nunggu episode berikutnya saya iseng nyicip Serendipity’s Embrace, project drama 8 episode bareng Kim So Hyun. Di situ saya dibikin takjub. Detail aktingnya beda banget dengan perannya sebagai Sunwoo Chan. Dia meyakinkan saya bahwa dua tokoh dari dua drama yang berbeda ini emang beda orang meski pemerannya orang yang sama! Mikro ekspresinya keren banget ini.


Balik lagi ke perannya sebagai Sunwoo Chan. Ada satu adegan yang bagi saya membekas banget karena aktingnya Chae Jong-hyeop bikin saya bengong bentar. Bengong karena kaget, HAH KOK BISA BANGET DIA KAYAK GITU. DETAIL EKSPRESINYA BAGUS BANGET. Ending ep7, ada sepersekian detik ekspresi dia kayak yang nyesek banget tapi udah ga bisa nahan perasaannya ke Ha-ran. Adegan itu saya ulang-ulang. Galaunya pake ngajak berjamaah ih.


Mata Chae Jong-hyeop sangat sangat ekspresif. Saya pikir cuma senyumnya aja yang bikin candu, ternyata mode nangis, nyesek, nelangsa, patah hati ga kalah nagih juga. Bisalah ini maen drama melo, yang naskahnya bagus tapiiiiiiii, bukan melo abal-abal. Hati moengil ini sepertinya akan kuat melihat Jong-hyeop mode melo. Senyum ganteng, pas adegan nangis gantengnya berkali-kali lipat. Detail acting juara. Duh. Saya kudu harus lanjut nonton drama dia yang lain nih.

Han Ji Hyun sebagai Song Ha-young

Katanya anak kedua atau anak tengah kerap dianggap anak yang terlupakan ya? Forgotten middle child. Dalam cerita ini, Song Ha-young bukanlah anak tengah yang terlupakan. Ia anak yang dipenuhi cinta kasih dan kepedulian. Namun bukan berarti kehilangan kedua orang tuanya tidak menimbulkan efek berupa trauma pada kehidupannya. Bentuk pertahanan diri atau self-mechanism nya Ha-young berbeda dari Song Ha-ran. Di hari pemakaman orang tuanya, Ha-young berjanji pada dirinya bahwa dia akan baik-baik saja, akan selalu baik-baik saja agar keluarganya tidak hancur. Ha-young memilih menjadi penopang emosi keluarga. Di sisi lain, Ha-young memiliki ketahanan mental yang luar biasa kuat. Ia juga memiliki empati mendalam terhadap orang lain dan kemandirian emosi. Kita nggak tau lebih mendalam seberapa jauh trauma mengubah hidup Ha-young. Kita hanya tau, ia telah menjadi observer ulung di hari kematian kedua orang tuanya. Ia selalu memastikan nenek, kakak dan adik bungsunya selalu berada pada kondisi yang baik-baik saja. Seolah-olah itu adalah tugas utamanya hidup di dunia.


Saya ikut menangis bersama ha-young saat Yeon Tae-suk menolak cintanya. Saya persis seperti Ha-young. Kalau udah yakin suka sama seseorang, pasti saya ungkapin. Nggak mau saya simpan-simpan. Bikin nggak nyaman hati. Tapi emang sih resikonya ditolaknya gede. Tau ga, saya udah antisipasi itu. Jadi udah nyiapin patah hatinya dulu. Prinsipnya, perasaan saya adalah tanggung jawab saya bukan orang lain. Perkara patah hati dan gimana caranya move on biar menjadi urusan saya. Ha-young gitu juga kan? Dia memberikan closure kepada dirinya sendiri.


Ini satu-satunya adegan yang memperlihatkan sisi terlemahnya Ha-young. Abis itu dia bisa berfungsi dengan normal. Kepekaan dan kemandirian emosinya bagus banget ya? Mungkinkah masih ada hubungannya dengan kehilangan kedua orang tuanya yang terlalu mendadak saat usia belia turut membantunya membentuk kebiasaan tersebut?


Suka banget acting naturalnya Han Ji-hyun. Curiga nih dia banyak adlib-nya. Detail aktingnya—di bagian gesture tubuh sangat sangat oke, seperti gerakan reflex yang muncul begitu saja. Jadi nge-blend dengan karakter Song Ha-young si anak kedua yang aktif.

Oh Ye-ju sebagai Song Ha-dam

Si bungsu yang paling sedikit terpapar trauma kehilangan kedua orang tuanya.

Baru-baru ini saya menonton podcast di Youtube-nya Rory Asyari dan Vina Nugroho, seorang psikolog. Mereka banyak membahas tentang trauma pada anak. Vina Nugroho bilang kalau trauma itu bukan pada kejadiannya, tapi luka yang tertinggal di dalam diri karena tidak disembuhkan. Setelah kejadian traumatis dialami, apalah setelah itu kita dibiarkan sendirian dan tidak ada siapa-siapa yang mendampingi pemulihan luka, di situlah letak masalah-nya.


Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Song Ha-dam tidak pernah kekurangan kasih sayang. Ia memiliki seorang nenek dan dua kakak perempuan yang menyayanginya sepenuh hati.


Kita diberi sedikit cerita mengenai efek dari kepergian kedua orangtuanya dan ini menyentuh sekali. Itu adalah aroma ibu yang melekat pada selimut pemberian mendiang ibunya. Selimut itu selalu menjadi penenang bagi Ha-dam. Udah dicari-cari ke rak-rak pewangi pakaian, ia tak kunjung menemukan aroma yang sama. Barulah setelah dipeluk ibunya Cha Yoo-gyum, Ha-dam menemukan apa yang selama ini dicarinya.


Ha-dam juga sempat diliputi rasa bersalah, sedih dan sedikit perasaan marah kepada kakak-kakaknya. Di saat kakak-kakaknya selalu mengulang cerita sembari bertukar tawa nostalgia mengenai kebiasaan mendiang kedua orangtua mereka, Ha-dam tidak memiliki ingatan-ingatan itu. Ia masih kecil saat kejadian menyakitkan itu terjadi. Tampaknya, seiring berjalan waktu, memorinya tentang ayah-ibunya perlahan memudar. Makanya satu-satunya yang dimilikinya adalah selimut dan aroma ibunya yang tertinggal di situ.


Kenapa efek kehilangan ayah-ibunya tidak begitu keras kepada Ha-dam? Saat guncangan itu datang, Ha-dam memiliki tiga lapisan utama yang menjadi pelindungnya. Neneknya, dan kedua kakak perempuannya. Ha-dam tumbuh dengan sangat baik, penuh kasih sayang dan peka. Manjanya sebagai anak bungsu tetap ada dong.


Saya nggak inget penampilan Oh Ye-ju di Hometown Cha-Cha (2021), debut dramanya. Ia juga tampil sebagai cameo di From Now On Showtime (2022), Under The Queen’s Umbrella (2022)—demi apa saya baru inget dia yang jadi putri mahkota yang menggemaskan dan charming ituuu AAAAAAAAAAAAA!! Banyak juga yang gemes dengan pairing Oh Ye-ju-Hong Min-gi dari drama Love Your Enemy (2024). Oh Ye-ju juga muncul di drama SBS yang sedang tayang, Phantom Lawyer.


Akting Oh Ye-ju menjanjikan. Bagusnya lagi, dia nggak langsung masuk ke peran utama, tapi sebagai pemeran pembantu dulu. Masih muda. Jadi itung-itung sambil belajar sama senior-senior. Nambahin jam terbang.

Lee Mi-sook

Aktris veteran kelahiran 1960 ini memulai debut di era 80-an melalui film An Innocent Collage Student. Saya mengenal beliau lewat drama makjang MBC tentang pembalasan dendam yang bikin kepala pusing, East of Eden. Lee Mi-sook banyak dikenal warga Kdramaland melalui perannya sebagai ibu di drama-drama popular seperti Queen of Tears dan Perfect Marriage Revenge.


Lee Mi-sook memerankan Nana Kim—Kim Nabong di In Your Radiant Season. Seorang nenek tiga cucu yang menjadi pilar utama agar keluarga kecilnya tetap utuh dan kuat. Memulai karir designer pakaian sejak usia belia membuat Nana Kim tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri dan tegar. Karirnya sukses.


Awalnya saya pikir halmeoni satu ini galak dan jutek. Abis kemunculannya dramatis amat sih di episode 1. Dan momen kocak soal angle foto bareng Chan yang membuatnya terlihat cantik memecahkan imej tersebut. Halmeoni-nya lucu ternyata. Profesional dan tegas di kerjaan, bijak di kehidupan. Nenek idaman!

{{{

Di deretan cast, ada juga Kwon Hyuk yang berhasil mencuri perhatian penonton melalui perannya sebagai Yeon Tae-suk, tangan kanan Halmeoni yang kaku, irit senyum, yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga Halmeoni. Yakin nih, gara-gara In Your Radiant Season, fansnya naik. Dan semoga doi dapet tawaran peran bagus di project-project yang akan datang ya. TMI, saya dan Kwon Hyuk seumuran wkwk. Baek-baek lu, bang. Jaga sikap. Semoga masa lalu aman-aman aja. Pada taulah pattern-nya di Sokor. Suka ada aja ujiannya pas karir lagi gacor. Matanya Kwon Hyuk cocok bener jadi villain. Maap.

Kemudian ada Kim Tae-young, pemeran Cha Yoo-gyum—si soft boi bucin kita. Mengutip AsianWiki, In Your Radiant Days merupakan drama debut-nya Tae-young. Sudah beberapa bulan ini saya nggak aktif di X, nggak banyak informasi yang saya ketahui tentang perkembangan artis-artis Korsel. Untuk ukuran debutan pertama kali, acting Tae-young udah bagus loh.

Berikutnya pemeran Park Man-jae ahjussi, pemiliki kafe SHIM—Kang Seok-woo, aktor berusia 69 tahun ini merupakan veteran di atas veteran di dunia entertainment Korsel. Debutnya dimulai saat beliau masih berumur 12 tahun melalui film Thy Name is Woman pada tahun 1969.


Yang menarik dari In Your Radiant Season adalah meskipun peran aktor/aktrisnya masuk hitungan pemeran pendukung atau muncul sebagai cameo, kemunculan mereka turut memberi warna pada perkembangan cerita. Sebut saja neneknya Chan, Kim Sun yang diperankan aktris senior yang wajahnya sudah sangat akrab dengan penonton drama Korea—Kang Ae-shim. Trus siapa yang nggak ingat Jeremy dengan segala tingkahnya itu? Saat membaca profile nya, saya agak tidak percaya, Jang Yong-won memerankan Jeremy yang gemulai itu. Tapi itulah kekuatan acting. DAN NGGAK BOLEH DILUPAIN—THE ONE AND ONLY, ANAK BAIK KITA. 천재 (Cheon-jae). Anabul pinter yang juga berhasil nyuri perhatian penonton.


Drama yang bisa bikin penontonnya jatuh hati dan mengingat sampai ke pemeran pendukungnya adalah drama yang sukses bercerita. In Your Radiant Season masuk list!

Chemistry

Yeay, my favorite part! Hehe.

Storyline yang bagus, diperankan aktor/aktris yang tepat mampu melahirkan chemistry yang bekerja seperti mantra ajaib, menyihir penonton dari satu episode ke episode berikutnya.


Membicarakan chemistry di In Your Radiant Season, saya tidak mau hanya focus pada sisi romance-nya saja, saya sudah bilang di awal tulisan ini bahwa ceritanya bukan sekadar tentang drama romantic biasa. Ada satu kekuatan utama ceritanya yang mengingatkan saya pada satu drama favorit saya dari penulis scenario Park Hae-ryun, While You’re Sleeping. Drama yang ditayangkan di SBS 2017 silam. Saya tidak akan melupakan kehangatan yang mengaliri hati saya begitu drama ini menayangkan menit-menit penghabisan episode terakhirnya. Indah sekali. Terkesan terlalu banyak kebetulan bagi sebagian orang yang melihatnya. Namun adegan-adegan ini justru menjadi pengingat untuk saya bahwa relasi sesama manusia bisa sangat se-menyenangkan dan sehangat itu.


Dan kali ini saya menemukannya lagi di In Your Radiant Season. Nuansanya. Saya menyukai hubungan yang hidup di antara tokoh drama ini. Ada koneksi, build-up yang konsisten dan mengalir natural, juga bonding yang kuat. Keterkaitan inilah yang menggerakan plot cerita. Kita jadi tau isi kepala tokoh-tokohnya, tentang mengapa dan bagaimana-nya mereka menjalani dan memutuskan sesuatu. Area reasonable-nya jelas. Walau kadang apa yang dilakukan tokoh-tokohnya nggak cocok menurut alur berpikir sebagian penonton, tapi kalau dipikir pake sudut pandang situasi dan kondisi yang dijalani tokohnya, kita ngerti kenapa ceritanya harus dibikin seperti itu. Begitulah hidup ini bekerja, bukan begitu? Dunia, ya kadang, memang hanya selebar daun kelor.


Koneksi inilah yang mengalirkan kehangatan yang menjalar jauh sampai tiba di hati penonton. Interaksi antartokohnya hidup. Tidak salah juga menyebut In Your Radiant Season sebagai healing romance drama.


Kesan hangatnya kental banget, misalnya di adegan-adegan Nana Halmeoni ngobrol bareng tiga calon cucu mantunya. Kebijakan hatinya yang turut membantu Chan, Tae-suk, dan Yoo-gyeom meneguhkan hati untuk mencintai dengan berani. Adegan Chan dan Man-jae ahjussi juga. Percaya nggak percaya sih, tapi udah sering kejadian, vibrasi baik/positif yang memancar dari seseorang akan mengenali vibrasi yang sama dari manusia lain. Dahlah, ini drama isinya emang orang-orang baik terlepas dari situasi kehidupan yang mereka hadapi.


Berikut ini adalah relasi-relasi yang bisa diceritakan kembali dari drama ini;


Satu Nenek, 3 Cucu Perempuan; selalu ada tempat untuk memulangkan diri

Sebagai anak perempuan pertama yang punya dua adik perempuan, saya seperti melihat cerminan diri pada Song Ha-ran. Bagaimana dia berusaha menarik dan menutup diri demi melindungi kewarasan yang tersisa. Sibuk melindungi dan menyelamatkan diri, saya luput menangkap jejak-jejak luka trauma yang ternyata juga dialami adik-adik saya khususnya adik pertama saya, si anak tengah yang selalu menjadi yang paling pengertian setiap kali saya memasuki fase shutting down. Familiar? Ya. Kita nggak pernah benar-benar tahu seperti apa Song Ha-young melewati fase-fase terberat hidupnya setelah kehilangan. Ia sibuk menjadi pilar penopang emosi kakak dan adiknya. Dan itu terlihat sewaktu Song Ha-dam marah-marah usai memecahkan piring kramat peninggalan ibu mereka. Ha-young lah yang mengejar dan mengurai emosi adiknya. Lalu setiap kali Ha-ran mengalami masa-masa sulit, lagi-lagi Ha-young yang panik pontang-panting demi memastikan kakaknya baik-baik saja. Ha-young ah. Saya teringat di drama lain, ada sosok anak kedua perempuan yang juga selalu menjadi yang paling peka sampai ia sendiri tak sadar bahwa perilakunya turut dipengaruhi trauma yang muncul dari rumah. Namanya Kim Eun-hee dari My Unfamiliar Family.


Saya suka hubungan kakak-adik di In Your Radiant Season. Dinamika (gesekan dan proses tumbuh) dan harmoni (bond dan support system) yang terjalin persis seperti yang sering diulang-ulang nenek saya kepada anak dan cucunya—baik-baik ke saudara kalian, karena kalau ada apa-apa, kamu hanya punya saudaramu. Habis berantem gede, ujung-ujungnya haha-hihi bareng lagi. Nggak ada yang saling nyimpen emosi diam-diam. Nggak ada yang sungkan minta maaf kalau salah. Hubungan persaudaraan yang baik bukannya kayak gini ya? Aslinya saling sayang, tapi bukan berarti nggak pernah berantem. Yang saling menyimpan emosi dalam diam justru berpotensi membakar habis kasih sayang.


Tiga anak perempuan yang ditinggal meninggal ayah dan ibunya ini memiliki cara berbeda memroses duka kehilangan. Kehadiran nenek mereka, Nana Kim, berperan besar menemani proses tersebut. Nyatanya, saat peristiwa menyakitkan terjadi, kehadiran orang dewasa di sekitar anak-anak memang sangat mempengaruhi cara mereka melewati fase itu.


Tentang duka dan trauma, tokoh-tokoh yang dominan hadir, selain dua pemeran utamanya, masing-masing memiliki itu. Meski porsinya kecil, tetapi turut memengaruhi pola komunikasi yang mereka pilih. Ngerasa nggak sih kalau manusia tuh rumit banget? Yang kita anggap sepele, bagi orang lain bisa saja itu perkara antara hidup dan matinya. Maka memiliki seseorang yang bisa memahami situasi kita dengan sabar tanpa tapi adalah sesuatu yang sangat mahal, dan sayangnya tidak semua orang bisa seberuntung itu.


Tokoh-tokoh di drama ini beruntung karena mereka saling memiliki satu sama lain. Yang memilih tetap tinggal saat badai menerjang.

| Kisah Cinta Empat Musim |

Sesuai judulnya, ada empat musim di drama ini yang direfleksikan pada 4 relasi kasih sayang tokoh-tokohnya. Udah ketebak ya siapa musim dinginnya. Musim lain, saya menebaknya; Musim gugur (Kim Nana-Park Man Jae), musim panas (Song Ha Young-Yeon Tae Suk), musim semi (Song Ha Dam-Cha Yoo Gyeom). Gemeshh amat sih. Kamu bisa memilih musim favoritmu. Tapi satu yang pasti, cinta yang utuh tidak akan pernah datang terlambat. Jalani saja hidup dengan sebaik-baiknya. Belajarlah menjadi dirimu yang utuh dulu.


In Your Radiant Season hanya memiliki 12 episode tapi kerennya mampu menghadirkan 4 kisah cinta yang membekas di hati penonton. Nggak ada yang dikesankan sekadar filler aja. Orang-orang tuh sampe lupa kalau kisah lain porsinya nggak boleh melebihi porsi waktu cerita cinta utama. Keburu invest perasaan terdalam wkwk. 4 kisah cinta yang ditampilkan punya warnanya masing-masing mewakili semua generasi. Kamu masuk di generasi mana nih?

Relasi Sunwoo Chan dan Ayahnya; trauma antargenerasi

Trauma Chan salah satunya bersumber dari kematian ibunya dan luka pengabaian dari ayahnya. Chan menjadi sasaran projected fear, ketakutan yang diproyeksikan ayahnya kepadanya. Kematian istrinya saat mengejar mimpinya sebagai pelukis membuat Sunwoo Seok berusaha menjauhkan Chan dari jejak yang dipilih ibunya. Niatnya melindungi Chan justru membuka jalan yang gelap dan tak berujung bagi Chan. Itulah musim dingin terpanjang Chan.


Saya menyukai bagaimana tokoh-tokoh ini melakukan refleksi terhadap pilihan-pilihan hidup mereka. Terlihat sangat manusiawi. Hubungan Chan dan ayahnya, bagaimana mereka akhirnya melakukan rekonsiliasi—caranya khas banget. Anak laki-laki dan ayahnya yang terpisah jarak yang jauh dan mencoba perlahan berjalan di tengah. Nggak ada drama berlebihan. Akting Chae Jong-hyeop pas marah-marah, kemudian dalam sepersekian detik beralih ke rasa tidak berdaya dan rasa bersalah melihat Ha-ran terluka—beugh. Emosinya nyampe sedalam-dalamnya ke lubuk hati terdalam penonton.

Ending

“Traditional knot each have a specific meaning. A new life, change. Sometimes, you have to free something instead of clutching it tightly. To open up a new beginning. That’s what this butterfly knot means.” –Nana Kim


Mau tau nggak apa yang bisa merusak mood nonton saya di tengah jalan? Ketika saya nggak sengaja membaca komentar orang-orang yang kadang-kadang terlalu berlebihan menganalisa. Ini terjadi jelang In Your Radiant Season memasuki 3 episode terakhir. Saya baca-baca komentar orang-orang Tiktok. Komentar-komentar ini bikin saya mikir, “kita lagi nonton drama yang sama nggak sih?”


Masa yang nyamain karakter Chan bakal berakhir sama dengan karakter Hae-jo dari Mr. Plankton hanya karena dua-duanya sama-sama punya penyakit? Maksud saya, dari nuansa ceritanya aja udah beda banget, trus plot-line dan storyline juga ga ada miripnya sama sekali. Ada juga yang komen bakal SE karena foto posternya Ha-ran dan Chan nggak saling menatap satu sama lain, kata orang-orang di drama-drama terdahulu biasanya ini firasat bakal SE. ARRGGGGHHHHH. Pengen nabok orang.


Tentang ending, ketimbang mikirin HE atau SE (saya udah yakin banget bakal HE), saya lebih kepikiran gimana caranya Joo Sung-hee ngebungkus cerita In Your Radiant Season dengan sempurna tanpa meninggalkan lubang di plot-nya. Saya nggak pengen drama favorit saya ini berakhir antiklimaks.


Saya sudah kadung menaruh ekspektasi tinggi banget, nggak bisa diturunin lagi. Syukurlah, investasi perasaan saya tidak sia-sia. Ending In Your Radiant Season sesuai ekspektasi, sangat memuaskan. Selain tidak ada yang jadi ubi, drama ini berhasil mempertahankan konsistensi cerita, tidak keluar dari premis. Ini aja udah juara sih sebagai salah satu drama Korea terbaik di pembukaan 2026 ini. Kita tau, premis yang kuat mampu menjaga konsistensi cerita, bisa menjadi dasar pengembangan konflik dan karakter, dan  menciptakan kesatuan cerita. Premis juga membantu penonton mengatur eskpektasi—jujur deh, kamu melihat ini semua terjadi di drama ini kan?


Ucapan neneknya Chan kepada Ha-ran usai menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki piring ibunya Ha-ran menggambarkan salah satu pesan utama yang dibawa drama ini, yang juga menjadi refleksi cerita dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, dan sebagai pengingat kepada penonton yang menyukai drama ini bahwa—

“Restoration begins the moment you decide to put it back together. It may take a while, but as long as you don’t give up, the pieces will come together in the end, and those pieces will contain a deeper story compared to before.”


Jiwa sering kali menjadi jauh lebih indah setelah mengalami luka—kutipan dari novel Serenade-nya Morra Quatro. Itulah yang terjadi pada tokoh-tokoh di drama ini. Akhir yang bahagia bukan hanya ketika Chan dan Ha-ran menikah. Saya sudah bilang di awal tulisan ini, In Your Radiant Season bukanlah drama romantic biasa. Drama ini datang membawa kisah manusia-manusia dengan lukanya masing-masing. Kita melihat mereka bertumbuh dan berproses, mengenali dan memeluk luka. Melewati musim-musim yang silih berganti. Tahu-tahu kita melihat refleksi hidup kita pada mereka, pada rasa dan emosi yang dibawa oleh setiap tokohnya.


Akhir yang bahagia adalah ketika semua tokohnya menemukan closure-nya masing-masing. Waktu untuk pulih memang tidak ringkas, ada jarak jauh yang mesti ditempuh dengan berani. Harus babak belur dulu. Harus banyak retaknya dulu. Barulah setelahnya kita menemukan jawaban tentang mengapa harus kita yang kebagian itu semua. Saya tidak ingin disebut meromantisasi kesulitan atau trauma—sebagai seseorang yang menghabiskan sebagian besar usia saya untuk pulih dari luka-luka, drama ini telah memberikan saya pelukan yang hangat.


Saya nangis sewaktu neneknya Chan bilang, “I learned through this job that miracles begin by not giving up.”

Keajaiban dimulai saat kita menolak menyerah.

Karena itulah yang terjadi pada saya. Andai saya menyerah belasan tahun lalu, saya tidak akan bisa menikmati bagaimana rasanya bernapas lega, bagaimana rasanya tidur dengan tentang, tidak ada lagi insomnia. Saya menjalani hidup dengan terus menerus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan diri saya—terima kasih karena tidak menyerah. Saat saya memutuskan bertahan dan melanjutkan perjalanan meskipun saya tidak tahu apakah saya akan benar-benar tiba di tujuan yang saya doakan. Asal nggak nyerah, pokoknya. Dengan tidak menyerah, saya sudah berada di jalan yang tepat.


Saya tidak akan membahas apa yang terjadi di sepanjang episode terakhir In Your Radiant Season. Saya ingin menyoroti bagaimana Jo Sung-hee begitu sempurna menutup cerita dengan kepingan terakhir yang membuat saya sebagai penonton melihat rupa pulih seutuhnya seperti apa. Jo Sung-hee tidak memperlakukan trauma-trauma  tokohnya sebagai alat penggerak cerita atau untuk menarik simpati penonton.


Bahwa luka dan trauma itu ada dan hidup. Untuk berdamai, hal pertama yang dilakukan adalah mengakuinya, lalu belajar memeluk luka-luka itu. Untuk menuju pulih, banyak sakit-nya. Jo Sung-hee bersedia memberi ruang dan jeda kepada tokoh-tokohnya untuk menatap luka dan traumanya. Sebab sesungguhnya, Keberanian untuk melangkah maju tidak datang begitu saja. Itu diusahakan.

Ini terlihat pada episode-episode ketika Ha-ran masih memilih berjarak dari Chan. Lalu Chan mencoba melakukan sesuatu yang membuat Ha-ran tidak lagi merasa beberapa tempat di Seoul sebagai tempat yang merekam luka dan traumanya. Dengan caranya, Chan memberikan kenangan baru tanpa membuat Ha-ran merasa tidak nyaman.

Akhir In Your Radiant Season sangat berkesan bagi saya.


Ada yang komentar, 12 episode nggak cukup mengurai cerita, tiga episode terakhir terkesan diburu-buru, terlalu padat. Tapi menurut saya, ini adalah 12 episode terbaik. Saya merasa kurang panjang episodenya karena saya masih ingin menonton cerita kehidupan warga IYRS, menyimak interaksi mereka yang hangat dan menyenangkan itu, ingin mengintip masa pacarannya couple musim semi yang canggung bin gregetan itu, masih kepengen ngintilin pacarannya Chan dan Ran—masih banyak maunya saya mah. Tapi kalau melihat dari segi garis cerita dan plot, ending IYRS udah komplit.


Ini drama nggak ada tokoh jahatnya. Ini drama yang penulis skenarionya dituduh sebagai villain oleh beberapa orang hanya karena ada satu episode yang berhasil bikin patah hati. Bikin penonton berasa masuk ke musim dingin juga.

Ini drama yang berhasil menarik saya keluar dari drama slump.

Terima kasih, In Your Radiant Season. Berkat kamu, musim semi saya di drama Korea sudah datang kembali.

Special mention :

Saya jatuh cinta banget dengan kapel musim dingin di drama ini. Song Ha-ran dan Sunwoo Chan. Saya yakin banyak yang ngerasain kayak saya. Mereka emang selayak itu dijatuhi cinta sebanyak-banyaknya dari penonton.


Ha-ran dan Chan ngebuktiin, hubungan yang berhasil adalah ketika dua orang mau saling mengusahakan, bukan hanya ketika keadaan baik-baik aja, tapi juga saat semua serba tidak baik-baik saja dan berpisah menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Saat situasi sedang sulit, harus ada satu pihak yang pasang mode bertahan. Karena kita nggak akan pernah benar-benar tahu arti (nilai) sebuah hubungan kalau nggak pernah ancur-ancuran bareng.


Sampai kapan bertahan? I don’t know, mungkin sampai kita sudah yakin, kita sudah melakukan seutuhnya secukupnya usaha yang bisa kita sanggupi. Mungkin sampai kita berhasil meyakinkan diri bahwa setelahnya tidak akan ada penyesalan yang tersisa.


Coba aja Ran nyerah dan berhenti ngejar Chan, mana ada itu happy ending. Di real life, dua orang yang saling menyayangi aja nggak akan pernah cukup untuk bisa membuat sebuah hubungan berhasil.


Cara Chan mencintai Ha-ran tuh utuh banget. Semua bahasa cinta diberikan kepada Ha-ran. Dan sebagai anak perempuan pertama, saya juga berharap cinta yang seperti ini akan menemukan saya. Selain karena saya bisa relate dengan situasi emosinya Ran, saya persis seperti Chan—bahasa cintanya sama utuhnya.

"Every eldest daughter was the first lamb to the slaughter,

So we all dressed up as wolves and we looked fire." (Eldest Daughter, Taylor Swift)


Saya nggak bisa menolong diri saya untuk nggak masang ekspresi meleleh terharu ketika Chan nembak Ran pake kata-kata yang nggak biasa. Cerdas. Yang ditanya udah pasti ada di posisi sulit untuk nolak. Nggak nyangka bakal ditanyain kayak gitu.

Is it ok if I start being really nice to you from now on?

Mulai sekarang, nggak apa-apa kan kalau aku mulai bersikap baik banget ke kamu?


Pertama, Chan tau setebal apa dinding musim dinginnya Ran. Makanya dia nggak pake mode dobrak—bakal makin kenceng lah penolakannya Ran, udah kebukti kan pas Chan ngajak temenan tiga bulan? Pake cara alus lebih cocok. Kedua, Chan nanyain consent-nya Ran, dalam hal ini, emosi Ran lebih utama bagi Chan.


Boleh nggak aku baik sama kamu? YA SIAPA JUGA YANG BISA NOLAK, CHAN-AAAAHHHH MANIS BANGET ITU MULUT. Kita tau Chan nggak lagi nge gombal. Dia sopan banget, Tuhan.

ADEGAN PROPOSAL DI PANTAI!!!

AAARRRGGHHHH. Sunwoo Chan, laki-laki yang selalu menepati janji.

“Let’s go see cherry blossoms in spring, eat shaved ice in summer, see the autumn leaves in fall, and go snowboarding on winter. Will you share every season of life with me from now on?” –Sunwoo Chan


Setiap tahapan hubungan Chan dan Ran terasa special dan memorable. Mereka berhasil membuatnya seperti itu.

Akhirnya musim dingin Chan dan Ran berakhir. Musim semi yang hangat datang.

Btw, empat laki-laki di In Your Radiant Season memang ijo neon semua ya. Bertanggung jawab dan selalu mengupayakan ngasih ruang aman ke pasangan. Mereka tau cara memperlakukan perempuan. Tau kapan harus maju, kapan harus memerhatikan dari jauh. Bahkan si Yeon Tae-suk yang pemalu, jarang senyum itu confess ke Ha-young pake kalimat sopan dan manis banget. “… but if you’re really okay with someone like me, would be all right for me to like you?” –Yeon Tae-suk



Senada dengan ucapan Chan kan? Considerate, mengutamakan perasaan pasangan.

Selain dialognya yang puitis dan bermakna, saya juga menyukai setiap adegan hug-nya Chan dan Ran. Terasa penuh, hangat dan nyaman. Rasa sayang-nya dapet banget. Sependek ingatan saya, drama Korea terakhir kali yang memberikan perasaan ini ketika melihat kapelnya pelukan adalah A Piece of Your Mind.

In Your Radiant Season memiliki semua bahasa cinta. Sebab itulah tak akan ada habisnya membicarakan drama ini. Romantisnya nggak krik krik, nggak too much. Takarannya pas.

Gara-gara Chan, orang-orang banyak yang tau awan iridescent. Awan yang terbentuk karena adanya difraksi cahaya.

Epilog


Drama yang bagus, drama yang berhasil adalah ketika episode penutup sudah menyelesaikan menit terakhirnya, menyisakkan penonton yang ditinggalkan dengan perasaan tidak karuan. Belum apa-apa sudah merasa kehilangan. Seperti itulah yang saya rasakan usai anjing jenius kita mengucapkan selamat berpisah kepada penonton yang menyayanginya di bagian epilog.


In Your Radiant Season adalah drama yang datang seperti musim semi. Drama ini seolah ingin mengingatkan kita, hidup serupa musim yang silih berganti.


Jika saat ini kamu sedang menghadapi musim dingin yang panjang. Chan punya pesan untukmu.

“It will pass one day. Even if winter feels endless, a spring breeze might blow someday. Once you keep fighting through it.

… I hope when you’re going through winter, a warm spring breeze blows by eventually and ends the painful season before it gets too long. And I hope whatever season you’re going through, they’re all radiant.  


Suatu hari, semua ini akan berlalu. Bahkan jika musim dingin terasa tak berujung, percayalah—angin hangat musim semi akan menemukan jalannya padamu, selama kamu tetap bertahan.

… Aku berharap saat kamu sedang melewati musim dinginmu, hembusan angin musim semi yang hangat akhirnya datang dan mengakhiri musim yang menyakitkan itu sebelum terlalu lama. Dan aku berharap musim apa pun yang sedang kamu lalui, semuanya akan tetap terasa indah dan penuh cahaya.

{

Saya ingin menutup postingan ini dengan sebuah pelukan hangat untuk siapa pun yang datang membaca tulisan ini.

Dalam seni tradisional Jepang untuk memperbaiki keramik yang pecah, dikenal sebuah teknik bernama Kintsugi (金継ぎ). Pada prosesnya, keramik yang pecah diperbaiki menggunakan pernis (urushi) lalu ditaburi emas, perak, atau platinum. Teknik ini terasa special karena filosofi kehidupan yang berusaha diceritakannya melalui setiap retakan keramik yang pecah—retakan itu tidak disembunyikan melainkan ditonjolkan.


Seperti halnya hidup, kita semua memiliki retakan. Banyak sekali. Yang perlu kita lakukan adalah mengakuinya—ya, kita penuh dengan luka dan tidak apa-apa. Sebab kita ini manusia. Setiap retakan itu adalah bukti bahwa kita hidup; kita telah berjuang dengan sebaik-baiknya dan bertahan hidup.


Saya ingin kamu mengingat ini, bahwa kebahagiaan yang utuh akan selalu dimulai dari dirimu. Selalu dirimu. In Your Radiant Season ingin kamu memercayai itu. Jadi, tetaplah hidup. Kamu akan baik-baik saja, akhirnya. 😊💪

⭐⭐⭐⭐⭐

5/5

Salam hangat,

Azz 💚

Ada yang tau ga, OST Instrumen drama ini? Saya udah stop Spotify, dan beralih ke Youtube Music. Belum nemu juga.

P.s : Mohon maaf kalau tiba-tiba kamu nemu kata 'Days' bukannya 'Season', sepanjang menulis review ini, saya suka nggak nyadar nulis In Your Radiant Days. Nggak tau kenapa. Refleks aja gitu.

No comments:

Post a Comment

Haiii, salam kenal ya. 😊