Showing posts with label Moonlight Drawn by Clouds. Show all posts
Showing posts with label Moonlight Drawn by Clouds. Show all posts
bgm : DIA Eun Chae-Remember ♪
Helloow epribadeeeh, Miss Lebay in d’ house!
Postingan di bawah ini beraroma melankolik bin serius, gak usah dibaca kalau gak suka yang melo-melo!
Ngomongin inspirasi, datangnya bisa dari arah mana saja. Bisa dari quote novel, potongan lirik lagu, celetukan teman, dari rintik hujan—aduhaiiii—bisa juga dari artis, penyanyi, omelan panjang-pendek ibumu, bahkan inspirasi briliant bisa datang dari rumput tetangga yang menghijau! Ehm.
Kali ini inspirasi itu datang dari seorang Park Bogum. Salah satu aktor paling bersinar sepanjang tahun 2016. Dua tahun lalu, saya belum tahu apa-apa tentang Park Bogum, saya bahkan tidak tahu jika ada aktor Korea Selatan bernama Park Bogum #serius. Kenapa? Karena sebelum tahun 2015, ia kerap kebagian peran pembantu saja. Peran-peran kecil yang tidak begitu cermat diketahui keberadaannya, tidak begitu lekat untuk diingat karakternya dalam satu scene. Barulah setelah ia akhirnya mendapatkan peran utama—ia pelan-pelan mencuri sorotan.
Saya adalah salah satu dari sekian banyak penikmat drama yang menyukai Park Bogum. Akan tetap, mirip Sungjae, saya gak begitu lincah dan pintar mengekspresikan apa yang saya rasakan secara terang-terangan, terhadap apa dan siapa pun. Termasuk kepada Park Bogum. Entahlah—semakin ramai orang-orang ngefans pada Bogum, saya semakin jarang membicarakan dia. Di akun twitter saya, utamanya. Untuk apa saya membicarakan sesuatu yang sudah diketahui oleh hampir seluruh fansnya? Hemat saya demikian. Kalau ditanya apakah saya fan-nya Bogum? YEAH, I’M HIS BIG FAN FROM INDONESIA. Meminjam kata-katanya Lia, kita punya cara masing-masing mengekspresikan rasa sayang ke Bogum.
Berbeda saat saya masih menjadi seorang fan newbie-nya Bogum, saya senang  dan hepi sekali ngetwit apa saja tentang Bogum di akun twitter yang sudah ditutup. Setiap hari, setiap saat. Persis orang lagi kasmaran. Sampai-sampai ada salah satu teman yang saya kenal nyeletuk—masa sih masih ada orang kayak Bogum di dunia yang carut marut ini? Apalagi ini dunia showbiz, dunia yang dipenuhi atraksi-atraksi gelap. On/Off kamera banyak yang gak sama tingkah lakunya. Yang dikira innocent eh kelakuan aslinya ternyata melebihi gangster. Banyak contoh kasus lainnya. So, yakin frame ‘anak baik-baik’nya Bogum bukan sekadar ajang promosi sesaat? Nada miring yang amat sangat gak enak itu... *tarik napas sambil menerawang*
Ya. Saya gak mau munafik. Pertanyaan yang sama juga pernah singgah di benak saya. Keraguan itu pernah saya rasakan semasa masih di step awal ngefans Bogum.. Apa iya masih ada orang sebaik Bogum? Seiring berjalannya waktu, Bogum berhasil membuktikan dirinya bukan plastik. Hebatnya lagi, ia tidak berkoar-koar atau berusaha keras menampakkan dirinya orang baik. Gak menyengajakan diri menjadi attention seeker. Orang-orang yang pernah berinterkasi langsung dengan Bogum-lah yang membuka cerita perihal kepribadian pemeran Choi Taek di Reply 1988 itu. Kalau di dunia MC dan Variety ada Yoo Jae Suk, maka di bidang akting ada Park Bogum. Mbak Gummy yang bilang looooh.
Bahwa masih ada orang sebaik dan setulus Park Bogum di dunia ini—kita sepantasnya bersyukur. Masih ada harapan. Lupakan dia sebagai aktor dari Korea—pinggirkaan seluruh rangkaian perbedaan yang memanjangkan jarak, sejenak posisikan dia sebagai manusia biasa, tidakkah kita seharusnya merasa malu?
Saya tuh suka ngerasa malu sendiri, Bogum itu lebih muda dari saya—tapi kedewasaannya dalam berpikir dan bertingkah laku jauuuh melebihi kematangan usia saya. Tak separo pun sifat saya yang mendekati sifat Park Bogum. Sigh. .
He is too good to be true. Maknae rasa Oppa~ng
Kadangkala sikap skeptis kita muncul tanpa diundang karena kita sudah terlampau lelah lahir batin menyaksikan hal/kejadian di luar ekspektasi. Misalnya, seseorang yang tak terhitung sudah berapa kali dikhianati orang-orang yang dipercayainya—pada satu hari yang ingin ia lewati sendirian, ia dipertemukan dengan seseorang yang tidak menyerupai orang kebanyakan yang ia kenal. Orang itu menawarkan sesuatu untuk dipercayai—ketika ia telah kehilangan hampir seluruh rasa percaya. Benarkah masih ada orang seperti itu? Itulah pertanyaan pertama yang terbit di hatinya. Ragu yang mengental. Pada akhirnya kita cuma punya dua pilihan; percaya atau tidak percaya. Resiko yang mengikutinya memiliki porsi yang setara. Taruhannya hatimu.
Park Bogum itu nyata. Saya percaya sepenuh hati—silakan sebut saya lebay silakan bilang “padahal cuma aktor Korea ini”, saya tidak (ingin) peduli. Catat ini, saya tidak membutuhkan referensi orang lain untuk menentukan selera saya sendiri. Ngefans sama Bogum mendatangkan influence positif kepada saya, bukankah itu sesuatu yang membahagiakan? Ngapain ngefans dengan sesuatu/seseorang yang bukannya menolongmu menjadi pribadi yang lebih baik—tapi malah semakin menjerumuskanmu ke sisi negatif? Jadi makin seneng ngebully orang? Seneng ngata-ngatain orang pake kata kasar? Kekerasan verbal... HIIIIIIIIIIIIIIIIIII ZEREEMMM ga? Kadang bukan objek-nya yang merusak. Bukan si barang atau tokoh yang disukai. Melainkan subyek atau oknum yang menyalah artikan predikatnya. Mencintai dengan cara yang keliru.
Hujan, angkot, senja, mie goreng, buku, dini hari, hening, nasi goreng... beberapa yang saya sukai dan sejak 2015 lalu ditambah satu ini; Park Bogum. Ia hadir menambah daftar favorit saya.
Ia tidak hadir begitu saja. Ada sebab, ada awalnya. Jika ditanya kenapa saya menyukai Park Bogum; apa yang saya tulis berikut barangkali bisa merangkum seluruh jawaban yang kamu cari. Semoga saja. ♥
Park Bogum vs Akting; The Beginning
Min.
Karakter Lee Min di I Remember You mengantarkan saya kepada Park Bogum. Waktu nonton Park Bogum di I remember You, saya gak sempat mikir dia ganteng apa kagak—perhatian saya sudah terbeli oleh aktingnya sendiri, dan itu yang lebih penting dari apa pun. Jatuh cinta pada kualitas bukan pada fisik atau kuantitas. Seorang teman pernah mengatakan secara blak-blakkan kepada saya bahwa dia belum bisa move on dari belah tengahnya Bogum sebagai Min—move on dalam arti yang tidak menyenangkan. Belah tengah Min meninggalkan kesan gak tampan di mata dia. Ouch. Pada saat itu saya sedang mati-matian mempromosikan Reply 1988 dan Moonlight Drawn by Clouds ke dia. Well. Setiap orang punya standar masing-masing ketika memutuskan menyukai seseorang. Bila itu menyangkut aktor/idol, urusan wajah bisa saya tempatkan ke nomor sekian. Talenta yang utama. Sekali lagi, kualitas. Akting Park Bogum sebagai Min sukses mencuri perhatian saya. Saya ngomong ke diri sendiri, villain itu biasanya dibenci, bukan dicintai—Min adalah sebuah anomali. Menyusul Mishil dari Queen Seon Deok yang begitu dicintai banyak orang meski dia adalah sosok antagonis.
Lalu sebuah kabar bagus datang beberapa waktu kemudian; rupanya ia mendapat peran di Reply 1988. Saya tidak butuh jeda terlalu lama untuk menikmati aktingnya. Beruntungnya saya. ♥
Begitulah awal mula saya mengenal Bogum. Bukan dari promosi orang per orang, tetapi melalui drama yang tidak pernah saya rencanakan jauh hari untuk ditonton. Jodoh emang gak ke mana-mana. Kalau ke mana-mana namanya bukan jodoh, tapi nyari alamat palsu. Oke, lo garing Azz. .
Tak terelakkan, pada takaran tertentu, saya bisa sangat bias pada sesuatu yang saya sukai. Seperti ini, semula semangat saya menonton Reply 1988 bersumber pada Park Bogum—mengingat sebelumnya Reply 1994 meninggalkan kenangan kurang mengenakkan, saya tak begitu antusias menyambut rencana tvN membuat next Reply. Tapi, setelah menonton I Remember You—perjumpaan saya dengan karakter Min, dan akhirnya saya tahu dia dikasting untuk salah satu peran di Reply 1988, level ketidaksabaran saya menanti drama yang ditulis Lee Woo Jung itu meningkat pada titik yang menyenangkan. Tentu saja rasa insecure kalau-kalau kekecewaan saya terulang kembali—tetap ada. Syukurlah paket komplit Reply 1988 sukses membetahkan saya hingga pada menit terakhir penayangannya, dan saya tidak perlu melewati fase drop drama gara-gara ceritanya gak cocok sama selera meski salah satu pemainnya kesayangannya saya. Park Bogum dan Reply 1988—AMAAAAANNN.
Meski mengaku fans, saya tidak menonton seluruh drama dan film yang ada Bogum-nya. Hanya tiga ini; I Remember You, Reply 1988, dan Moonlight Drawn by Cloud. Saya hanya akan menggunakan tiga drama ini sebagai referensi kendati untuk Moonlight Drawn by Cloud, saya tidak pernah menamatkannya, foldernya bahkan sudah saya hapus dari laptop tanpa meninggalkan back up di HDD. Seleksi alam. Drama yang tidak terlalu saya sukai biasanya tidak bisa saya pertahankan lama-lama. Mian.
Jika tidak salah ingat, saya pernah menulis di salah satu postingan Majimak Sarang mengenai ini—kekuatan akting Park Bogum terletak di matanya. Satu potensi besar yang tidak semua aktor miliki. Dengan kekuatan jenis ini saya yakin, Park Bogum bisa memerankan karakter apa pun. Saya ulangi, apa pun. Coba bayangkan perbedaan besar karakter Lee Min dan Choi Taek, bukan sesuatu yang sederhana bukan? Dari Lee Min ke Choi Taek, dari psikopat lalu berbalik arah menjadi Choi Taek yang polos dan memiliki banyak layer. Sorot mata Min dan Taek sangat berbeda. Untuk memainkan peran Min dan Taek, saya tidak bisa membayangkan aktor selain Park Bogum. Artinya apa? Bogum berhasil memberikan ruh kepada kedua karakter tersebut. Bukan wajah tampannya, tapi sesuatu yang hidup, yang akan diingat oleh viewers. Kita sulit membicarakan I Remember You tanpa menyeret tokoh Min, begitu pula dengan Reply 1988 dan Choi Taek—si pemain baduk legendaris. Hal yang sama untuk Crown Prince Lee dari Moonlight Drawn by Cloud. Bogum punya ciri khasnya sendiri, mikro-ekpresinya mengatakan seluruhnya. Detail itu ada. Fakta bahwa saya masih bisa mengingat scene-scene Min dan Taek membuktikan itu. Pada fase ini, saya bisa bilang Bogum sudah sukses melewati label aktor kelas B. Terlalu berlebihan? Ini penilaian saya loh, kalau kamu punya penilaian berbeda, monggo.
Apa yang ingin saya sampaikan adalah, keberanian Park Bogum mengeksplor akting melalui peran-peran berbeda—mulai dari kelas figuran hingga pemeran utama menunjukkan ia memiliki sesuatu. Dan saya suka tipe jenis aktor begini, yang berani menantang dirinya sendiri, menguji sejauh mana ia bisa berbuat berdasarkan apa yang ada pada dirinya. Saya berharap dia terus mempertahankan ini selagi kesempatan masih ada. Banyak aktor/aktris potensial, tapi tak semua diberikan kesempatan memerankan karakter/karakter menarik. Atau ada juga yang sering terjadi—aktor/aktris bersangkutan tidak pandai memilih peran yang datang kepadanya. Salah satu contoh lain aktor yang sukses dengan pilihan-pilihan perannya adalah Seo In Guk. Kakaknya Min! ㅋㅋㅋ
Park Bogum and His Personal Life
Salah satu konsekuensi tidak menyenangkan menjadi populer adalah orang-orang akan sibuk mengintervensi, meneliti, mencari tahu kehidupan pribadimu hingga ke hal-hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya akan tersebar keluar. Sedihnya, Park Bogum harus bereksperimen dengan konsekuensi ini. Mau gimana lagi... Sukses besar menuntut tumbal yang sama besarnya. Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus merelakkan ada yang tercerabut dari diri kita, dari kebiasan-kebiasaan kita.
Setelah jatuh cinta dengan akting Park Bogum, kejutan lain menunggu saya di depan. Sesuatu yang membuat rasa suka saya pada cowok berpostur menjulang ini semakin dalam saja. Satu sisi kehidupan pribadi Park Bogum terekspos. Ia harus berurusan dengan pengadilan terkait hutang ayahnya ketika usianya belum menginjak dewasa. Thank God, perkaranya selesai sebelum popularitasnya melesat jauh. Saya tidak ingin menceritakan detailnya—saya yakin jika kamu fans Bogum setidaknya pernah mendengar soal ini.
Kita gak punya hak men-judge siapa-siapa. Saat beritanya keluar saya sedang di rumah pacar adik saya—melayat ibunya yang meninggal. Entah karena sisi melankolik saya sedang on, habis baca artikel yang memuat berita Park Bogum dan hutang ayahnya, saya gak bisa nahan diri .. Ya ampuuun, Bogum... Gak kebayang kalau saya berada di posisi dia, dan harus memikul beban se-berat itu... gak, saya gak berani ngebayangin .
Sebelum newsnya keluar, semua mengira sosok Park Bogum itu tanpa cela. Perfect. Bahkan ada yang mengira ia anak orang kaya. Hidupnya udah enak dari sononya. Begitu. Mungkin karena Bogum selalu mengekpresikan diri sebagai sosok yang bahagia. Taunya... .Untuk bisa berada di mana ia berpijak sekarang, Bogum sudah melewati banyak hal, banyak kejadian yang tidak sepele. Ia tidak datang kepada kita layaknya bintang jatuh. Melihat ia sekarang, tak jarang pertanyaan itu datang memantul kembali di benak saya,
Bagaimana bisa seseorang dengan pengalaman masa lalu serumit itu bisa menjelma menjadi sosok se-cemerlang ini?
Saya ingin tahu. Saya ingin belajar... saya cemburu .
Park Bogum and His Family Picture
Siapa yang tidak ikut menitikkan air mata melihat scene menjelang ending Reply 1988 episode 02? Waktu itu Taek dan Sung Appa terlibat obrolan pendek. Tepat di malam ulang tahun Taeki. Berikut potongan dialognya.
Sung Dong Il : ... mothers tend to be the one you miss the most, whether they are alive or dead. I miss my mom. *smile*
Setelah beberapa detik berselang, Sung Appa bertanya kepada Taek, “When do you miss your mom the most?
Taek tidak segera menjawab. Diambilnya jeda sekian detik, seraya mengontrol emosi, dengan mata berkaca-kaca ia menjawab lirih, everyday... I miss my mom every single day.” Setitik-dua titik air matanya menyusul jatuh.
Ketika pertama kali menonton adegan di atas, saya masih menggunakan sudut pandang Taek sebagai anak yang kehilangan ibunya saat masih kecil. Cerita berubah total setelah Youth Over Flower Afrika tayang. Semua tercengang mendapati fakta bahwa Bogum sudah kehilangan ibunya di usia belianya. Gak ada satu pun yang menyangka! SAYA KAGET SEPENUH HATI. Abis itu saya sedih gak kira-kira. Demi apa, Lee Woo Jung mengawinkan fiksi dan real life dengan begitu tepat, begitu menyentuh dan begitu tak tertebak? Kali kesekian saya menonton dialog Sung Appa dan Bogum, rasanya tak pernah sama lagi dengan sebelumnya. Bagi saya yang berbicara itu bukan sosok Taek, tapi Bogum sendiri.
Di Youth Over Flower Afrika, Bogum sedih gak punya family picture, ini bukan soal uang, bukan soal dia gak bisa atau gakbisa bayar tukang fotohello logic!—tapi karena anggota keluarganya tidak se-lengkap dulu. Ada yang telah pergi. Ibunya... . *HADOOOOHHHH SIAPA YANG NGIRIS BAWANG DI BAWAH MATA GUEEEEH*
Tanpa kehadiran ibunya, Bogum bisa tumbuh dengan baik menjadi seperti sekarang. Saya sungguh-sungguh penasaran dengan pola pengasuhan di keluarga Park Bogum .
My precious love, my precious maknae...
Iya—kamu boleh bilang saya lebay. Bagi saya Bogum bukan sekadar aktor Korea, sosoknya penuh inspirasi, penuh aura positif, dia bisa jadi kaca—mengajakmu bercermin. Melihat seberapa tahu diri-nya kamu menjalani hidupmu. Dalam segala hal, kita mungkin berbeda—entah itu agama, ras, suku, negara—jika menyangkut manusia seutuhnya tanpa embel-embel pembeda, banyak sekali kebaikan yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari sosok satu ini. Ada alasan masuk akal mengapa ia begitu dicintai tidak hanya dari kalangan Korea—melainkan di banyak negara. Bahkan oleh mereka yang baru pertama kali bekerja sama dengan dia.
Tahu kenapa? Karena Bogum menjadi dirinya sendiri—bukan Park Bogum si aktor. Ia datang kepada kita sudah dengan pondasi dasar yang kokoh. Ketika ketenaran berhasil ia rengkuh, itu tidak lantas menjadikannya sosok asing yang tak tersentuh. Sebaliknya, ia tetap menjadi Park Bogum yang dipenuhi ungkapan terima kasih yang tidak pernah mengenal kata habis itu.
Bagian mana dari sosok Bogum yang layak ditempeli kebencian? Jika kamu berpikir—ada. Think again with all your heart and soul. Jangan biarkan hatimu dibutakan benci.
Park Bogum Itu....
Yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain sebelum dirinya...
Yang melarang fans memberinya hadiah berupa-rupa...
Yang meminta fans menggunakan uang bukan untuk dirinya, tapi keluarga—ibu, bapak, adek...
Yang tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih kepada siapa saja...
Yang menghargai orang tak peduli se-sepele apa pun pekerjaan orang tersebut...
Yang doyan makan—gak pilah-pilih makanan << Gaes, kamu yang ikut fan meet komporin gih bilang Indonesia kaya makanan-makanan enak.
Yang mudah terharu...
Yang gak pelit senyum (asal) gak dipepetin kayak kejadian di mana tuh? Bogum kayak ketakutan gitu. GUE JUGA! KUATIR BOGUM PARANOID AMA KERAMAIAN. KAN YANG RUGI KITA-KITA JUGA SEBAGAI FANS? TRUS NAPA LO PAKE CAPSLOCK SEMUA AZZZZZ? MAAP_
Yang gak lupa rekan kerja walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, walaupun sekarang dia sudah populer—idolanya anak-anak sampe emak-emak... sampe lintas negara pulak! Bogum tetap rendah hati... ♥
... silakan ditambahin sendiri
Extra
Saya berharap, sebagai fans kita pandai menempatkan diri. Tidak semua yang ada pada Bogum bisa menjadi konsumsi publik. Akan lebih baik bila kita semua—saya dan kamu, dengan segenap hati memberikan penghargaan pada privacy Bogum—tidak menerabas batas-batas yang memang tidak diperuntukkan bagi fans. Cinta itu melindungi, bukan merusak. Bogum sudah melakukan yang terbaik untuk kita, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama?
Sebelum mengatakan sesuatu, sebelum melakukan sesuatu yang menyangkut Park Bogum, sempatkan diri memikirkan efek yang akan ditimbulkan setelahnya.
“Gak jadi ah ngefans sama Bogum, fansnya serem—“
Kita gak mau kan ada calon fans yang melontarkan kalimat di atas? Jangan biarkan urusan shipper  mencederai kekaleman #TeamBogum. Dan kamu, iya—yang ngefans Bogum karena dia bermain di drama bareng aktor/aktris favoritmu... jika kamu ingin kamu dan aktor/aktris favoritmu diperlakukan sebaik-baiknya perlakuan—perhatikan bagaimana caramu memperlakukan orang lain. Simpel, bukan? Orang egois gak punya tempat di mana-mana.
Sebelum kita terlanjur lupa dan sibuk dengan urusan hidup masing-masing, saya ingin mengingatkan tentang Aleppo yang menangis. Ini bukan lagi soal agama, tetapi menyangkut urgensi kemanusiaan. Silakan luangkan diri membaca berita mengenai konflik di Syiria, ada di mana-mana. Peliknya perang di sana sudah berlangsung selama bertahun-tahun, anak-anak dibunuh menggunakan gas beracun, perempuan, laki-laki, orang tua—mereka ditembaki, dibunuhi tanpa perasaan .
Ada dua cara yang bisa kita lakukan—mengirimi doa dan donasi kemanusiaan. Sekecil apa pun, itu sangat berharga bagi saudara kita di sana...
Banyak organisasi kemanusiaan yang berinteraksi langsung dengan situasi di Syria khususnya Aleppo. Selama ini saya memercayakan titipan saya kepada Aksi Cepat Tanggap, @ACTforhumanity.

Semoga Allah melapangkan dan meringankan hati untuk menolong saudara kita di Aleppo. Percayalah, bahwa ketulusan dan keikhlasan selalu punya teman. Tidak ada kesia-siaan bagimu.

P.s : Apakah baik-baik saja menggunakan beberapa foto fansite-nya Park Bogum di sini? Saya tidak mengubah atau meng-crop apa pun. Jika ya—saya bersedia mengganti dengan foto lain.
With love,
Raha Azzhura
Majimaksarang.blogspot.co.id
*saya belum nonton episode 7-10*
Episode 3
Jika dua episode plot sebelumnya lebih memfokuskan kehidupan Ra On, bagaimana ia bertemu Lee Yeong hingga akhirnya menjadi seorang kasim, maka di episode 3 dan 4, fokus cerita mulai menyoroti kehidupan Lee Yeong. Bagaimana ia kehilangan ibunya—permaisuri, rasa tidak sukanya pada Raja—ayahnya sendiri yang selalu tampak rapuh dan kehilangan wibawa di depan para mentri khususnya Perdana Mentri Kim dan bagaimana Lee Yeong menjalani hidupnya sebagai Putera Mahkota yang senantiasa diintai musuh dari dalam istana.
Berikut best moment di episode 3, ini menurut saya loooh... bisa saja menurut kamu berbeda ^^
Selir Seok Hui akhirnya bertemu Raja Soonjo berkat kelihaian Kasim Ra On
Ini adalah langkah awal Ra On memasuki kehidupan Lee Yeong. Ketika melihat scene ini feeling saya segera saja muncul bahwa kelak di masa depan akan banyak sekali pengorbanan Ra On untuk kebaikan Lee Yeong.
Mau berapa kali pun saya menonton scene pertemuan Selir Seok Hui dan Raja Soonjo, saya tetap bisa menangis. Perfect. Latar belakang musiknya, ekspresi Selir Seok Hui dan Raja Soonjo lalu keberadaan Lee Yeong dan Ra On di seberang istana, spot on. Betapa besar jasa Ra On di sini. Karena keberanian dan kecerdasan gadis ini, tiga kesalah-pahaman segera terselesaikan. Tanpa disadarinya, ia telah menyambungkan kembali kasih sayang yang tulus seorang ayah kepada anaknya, membantu memulihkan rasa percaya seorang anak kepada ayahnya, dan karena Ra On pula, Selir Seok Hui akhirnya tahu, sejatinya Raja tidak pernah mengabaikannya. Tak secuil pun perasaan Raja berubah padanya.
Sebagai viewer, saya sepatutnya harus berterimakasih pada Ra On. Ia memberikan keberanian kepada saya agar memercayai, Raja Soonjo barangkali memang tidak se-heroik keinginan saya, tetapi ia—seperti monolog yang diucapkan Lee Yeong—tetaplah seorang ayah dan suami yang baik. Sejak kemunculan Raja Soonjo pertama kali, saya terlanjur men-cap sebagai pemimpin yang tidak bisa diandalkan meski saya tahu dengan sangat jelas, menjadi raja Joseon tak serta merta memberikan legitimasi sepenuhnya kepada Raja Soonjo untuk mengendalikan roda pemerintahannya. Bahkan dengan pemahaman seperti itu, saya tidak bisa menabah-nabahkan hati untuk menaruh respek pada ayah Lee Yeong ini. Jika kita berpikir menjadi penguasa berarti segalanya, saya rasa ada baiknya kita memikir ulang. Menjadi penguasa adalah posisi paling tidak aman dan paling sunyi di dunia pada masa itu—bahkan mungkin saja di masa modern saat ini, Yang pernah nonton Three Days pasti tahu maksud saya. Menjadi Raja, berarti mau tak mau rasa tidak aman menjulang setinggi langit. Harap-harap cemas kalau-kalau di saat lengah, seseorang akan muncul dan mencuri tahta melalui pemberontakan. Belum lagi keharusan untuk melindungi orang-orang yang dicintainya. Tidak ada yang tahu, orang terdekat bisa saja adalah orang yang paling berbahaya itu... 
Raja Soonjo menunjuk Putera Mhkota sebagai walinya
Beberapa menit menjelang ending episode 3 adalah detik-detik paling terbaik. Kita melihat rekonsiliasi serta kerja sama yang apik antara Raja Soonjo dan Putera Mahkota. Modal utamanya hanya satu, saling percaya. Hayati terharuuuuuuuu _
Puas banget ngeliat Perdana Mentri serta antek-anteknya tergagap kaget menyaksikan Lee Yeong tampil tak seperti harapan mereka. Ingin rasanya menabuh drum band di depan istana sambil nari hula-hula #yakalibisaAzz HAHAHAHA. Jreeeng bum jreeeng bum taaaaaaakkkkkkkkkk! Skor 1-0 untuk kemenangan Lee Yeong. Perdana Mentri Kim skakmat. #tumpengan
Lee Yeong-ida, nae ireum.
Jangan bohong, pasti sekali saja kalian pernah mencoba menerka atau membuat skenario sendiri bagaimana caranya supaya Ra On tahu jati diri Lee Yeong sebenarnya. Bisa saja melalui alur yang klise. Tak dinyana screen writer mengejutkan kita dengan caranya yang tak tertebak—setidaknya oleh saya. Bukan melalui scene epik, atau melalui momen dramatis. Proses Lee Yeong mengenalkan dirinya kepada Ra On sangat sederhana, yang membuatnya terasa bombastis dan memorable adalah bagaimana director mengemas scene tersebut. Sekali lagi pemilihan musik latar berhasil membangun mood viewers, diiringi gerakan lambat yang tidak terasa membosankan dan too much. Tidak ada kalimat berlebihan. Lee Yeong tampil selayaknya dia sebagai pangeran dan seluruh kharisma yang melekat di dirinya. Ekspresi kaget yang terlukis di wajah Ra On mengakhiri episode 3 dengan sempurna. Pakaian kebesaran Lee Yeong sebagai Putera Mahkota sudah cukup mewakili seluruh penjelasan Lee Yeong. Skor 1-0 untuk screen writer Moonlight Drawn by Clouds! Penonton dapet skor 0. Biar kata dapet 0 tapi penonton seneng gak terkira. Saya tidak sempat mikir atau mengkhawatirkan bakalan seperti apa reaksi Ra On di episode selanjutnya karena sibuk melakukan selebrasi. Tepuk tangan sendiri, heboh sendiri, senyum-senyum sendiri. Yang terngiang-ngiang adalah suara Lee Yeong yang penuh percaya diri.
Lee Yeong-ida, nae ireum...
Yeong-ah, nae ireumeun, Azz-imnida! Take me to your palace, juseyoooo~ng HAHAHAHAHA Azz sarap.
Episode 04
Apa antisipasi pertamamu menjelang episode 4 tayang? Pasti ngarep yang muncul di menit awal adalah lanjutan ending episode 3, ye kaaaaaaaaan? ㅋㅋㅋㅋ
Episode 4 dibuka dengan lanjutan pertemuan di balai istana. Demi restu dari Raja Qing, Lee Yeong menerima tantangan yang dilemparkan Perdana Mentri Kim dan antek-anteknya untuk menjamu utusan dari Qing.
Setelah pengakuan blak-blakan Lee Yeong, Ra On tidak punya pilihan lain. Andai ini bukan drama sageuk dan Lee Yeong bukan seorang yang memiliki kekuasaan setingkat raja, kita mungkin akan melihat Ra On marah-marah, ambekan atau eksyen yang paling dekat yang bisa saya bayangkan adalah gadis itu melakukan aksi diam pada Lee Yeong (baca; melarikan diri).
Nope. Ra On berada di istana, dan dia adalah seorang Kasim. No way out HAHAHA. Satu-satunya yang bisa ia lakukan cuma  satu, terima nasib. #PukpukBerjamaahRaOn
Sebelum masuk ke best moment episode 4, saya ingin terlebih dulu memuji Kim Byeong dan selera humornya yang garing tapi bisa bikin saya ketawa. Setelah Ra On mengetahui kalau Lee Yeong adalah Putera Mahkota, Ra On menemui Kim Byeong lalu curhat—teringat pula seluruh kekasaran yang ia lakukan pada Lee Yeong. Ra On membentur-benturkan kepalanya ke pilar/tiang dan tahukah apa komentar Kim Byeong?
“Hentikan. Pilarnya bisa rusak.”
Gak lucu kan? Emberrrrrrrrrr. Tapi saya ketawa looh. Ucapan pendek Kim Byeong mengingatkan  saya pada kakaknya sahabat saya. Saya sudah lupa siapa yang dia komentari, tapi apa yang dia ucapkan kurang lebih mirip dengan Kim Byeong.
“Jangan suka balapan. Kalau jatuh gimana? Kan kasian aspalnya...”
You get it? Jadi, sebenarnya yang tsundere bukan Lee Yeong, tapi Kim Byeong. Ia menunjukan perhatian dengan cara yang cool ㅋㅋㅋㅋ
Oke, momen paling tak terlupakan dari episode 4 yakni tarian solo yang dipertunjukan oleh Ra On di acara penyambutan utusan dari Qing. Bagaimana bisa sebuah tarian membuat hati saya sakit dengan merasakan sedih dalam waktu bersamaan? Saya nangis nonton scene ini .
Tarian solo Ra On mengandung unsur cerita mengenai pengharapan, pengorbanan, dan kerinduan mendalam terhadap seseorang. Apakah ini adalah semacam firasat akan seperti apa hubungan Ra On dan Lee Yeong di masa depan? Saya mencium aroma kesedihan yang kental. Lantas haruskah saya meyiapkan hati sedini mungkin untuk mengantisipasi ini? Tidak mengherankan bila Lee Yeong seketika teringat mendiang ibunya di detik pertama tarian Ra On dimulai. Ra On menarikan setiap gerakannya dengan penuh penghayatan.
Siapakah yang harus saya puji atas scene spektakuler ini? Director? Music Director? Koreografer? Park Bogum dan Kim Yoojung untuk mikro-ekpresi mereka? Jujur, Ra On menyelamatkan episode ini.
Lee Yeong semakin unggul selangkah lebih maju dari Perdana Mentri Kim di ending episode 4 setelah menjebak kakek Kim Yoon Sung secara halus di hadapan Raja dan utusan Qing. Dari sekian banyak orang di istana, Perdana Mentri Kim adalah orang paling berpengaruh kedua setelah Raja. Untuk menaklukan Perdana Menteri Kim, Lee Yeong menemukan cara jitu tanpa harus melewati aksi-aksi fisik yang melelahkan. Karena Lee Yeong jenius. Selama ini orang-orang sudah keliru menilainnya. Lucunya, Lee Yeong seperti manut-manut saja. Mengaminkan apa saja yang dipikirkan orang-orang tentangnya. Lee Yeong-nya enggak sombong. His action speaks loudly. It’s enough. ㅋㅋㅋㅋㅋ
Skor 2-0. Tambahan poin untuk Lee Yeong.
Episode 05
Jika disuruh memilih antara hubungan sebagai abdi dan sahabat, manakah yang akan dipilih?
Dengan cerdas dan penuh resiko, Yoon Sung memilih kedua-duanya. Baginya menjadi abdi dan sahabat tetaplah sama. Jika Pangeran melalui jalur yang salah, ia harus membawanya kembali ke jalan yang benar. Maka agar Pangeran bertindak benar layaknya pemimpin dan sahabat, Yoon Sung akan mendukung Lee Yeong seumur hidupnya.
Ah. Menonton scene ini kenapa lagi-lagi saya mengkhawatirkan Yoon Sung di episode-episode mendatang? Saya tak henti-hentinya memikirkan apa kiranya yang menyebabkan hubungan baik Yoon Sung dan Lee Yeong di masa lalu tidak berlanjut setelah mereka tumbuh remaja? Bisakah Yoon Sung memenuhi janjinya untuk tetap berada di sisi Lee Yeong seumur hidupnya? Sebagian besar hati saya yakin, Yoon Sung tidak akan mengkhianati janji yang sudah diucapkan didepan guru dan kedua sahabatnya. Saya ingin percaya itu .
Ra On yang sedang sakit memimpikan ibunya. Lee Yeong duduk di sisinya. Menungguinya. Sedih sekali. Aktingnya Kim Yoojung superb! Jjang-ida! .
Nae saram-imnida
Gak sah kali ya dramanya kalau gak ada scene narik tangan di mana si cewek berada di tengah antara 1st lead male dan 2nd lead male? Syukurlah line-nya Lee Yeong menjadikan scene ini spesial. Yoon Sung tak menyangka akan mendapatkan perlawanan seperti itu dari Lee Yeong.
Episode 06
Bentar, mau ngakak dulu. HAHAHAHA.
HAHAHAHA. Aduh. Gak bisa gak ngakak tiap keinget penjelasan tabib istana perihal sakitnya Lee Yeong. Menurut tabib, Lee Yeong menderita sakit yang dialami janda dan biarawati HAHAHAHA. Makin gokil saat si tabib menambahkan soal yin dan yang... mencintai orang yang tidak pantas... Kasim Jang yang cegukan... tabibnya ikutan kaget... demi menutupi kegugupannya, Lee Yeong menyuruh tabib itu pergi HAHAHAHA. Kasian Lee Yeong HAHAHAHA aduh ini gimana caranya sih supaya gak ngetawain orang yang jatuh cinta? HAHAHAHA lucu tauuuuuk. Bahagianya melihat Lee Yeong kebingungan mengatasi perasaannya sendirian. Cute.
Siapa yang menahan napas gugup ketika Lee Yeong datang menyelamatkan Ra On dari aksi bejat utusan dari Qing? Sayaaaaa! Beugh, saya berdoa Lee Yeong tidak kelepasan dan menebas habis si bapak-bapak gak tahu malu itu. Untunglah kontrol emosi Lee Yeong masih berfungsi.
Kau siapa sampai... Kenapa kau membuatku sangat marah? -Lee Yeong
Di waktu lain, giliran Yoon Sung bertindak menghukum Kasim Ma. Go Yoon Sung go! ㅋㅋㅋㅋ
ROMAAAAANTIIIIIIIIIISSSSSSSS ABISSSSSSS. COBA AJA YANG ADA DI POSISI RA ON ITU SAYAAAAA, BOGUM GAK AKAN PULANG KE KEDIAMANNYA DENGAN SELAMAT! HAHAHAHA. AAAARGGGHHH. Tatapannya Bogum eh Lee Yeong sadiiisss, full of love. Yang ditatap sedemikian rupa akan merasa tidak ada yang tidak baik-baik saja, sepanjang masih ada Lee Yeong, it’s ok. .
Scene ini! Heol! Daebak! Heol! Saya mewek gara-gara musiknya, gara-gara Ra On, gara-gara Lee Yeong .
Sly Lee Yeong kkkk. Kemunculannya bersama Kim Byeong tak terduga sebelumnya. Jika tanpa campur tangan dua sahabatnya—Kim Byeong dan Yoon Sung, Ra On tidak akan selamat. Benar, Lee Yeong cerdas dan jago mengatur strategi, tapi seringnya itu tidak cukup bila tanpa sokongan sektor lain. 
Lee Yeong tidak bisa melakukannya sendiri.

5 menit menuju ending episode 6 adalah moment  terbaik. Sinematografinya badaaiii. Beautiful scenery.
Ra On : Aku kira kau tidak bisa menahan amarahmu jika melihatku
Lee Yeong : Sekarang juga begitu. Melihatmu membuatku marah. Tapi bagaimana lagi, kalau tidak melihatmu, aku lebih marah sampai rasanya bisa gila.
... jadi tetaplah di sisiku.
Pemandangannya... speechless....
Em, kasian Kim Byeong ㅋㅋㅋㅋㅋ
Saya hampir lupa kalau kelima karakter utama Moonlight Drawn by Clouds dikisahkan masih berusia 18 tahun. Barulah ketika saya mencoba mengambil jarak dari drama yang sudah menayangkan 10 episode ini, saya bisa menangkap ciri khas anak muda pada diri mereka kecuali Ra On dan Kim Byeong.
Di usia segitu, masih rawan terjadinya pemberontakan sebagai dalih pencarian jati diri—walau memang benar demikian halnya.
Coba perhatikan apa yang dilakukan Lee Yeong terhadap ayahnya? Sebuah konfrontasi langsung. Lihatlah reaksi Kim Yoon Sung pada intimdasi halus kakeknya, Perdana Mentri Kim. Diam-nya bukan berarti selalu bermakna persetujuan. Dan Jo Ha Yeon, kata adek saya yang sudah menonton episode 7 dan 8 dengan tega memberikan spoiler kalau gadis itu menolak perjodohan yang diatur ayahnya.
Apakah kelima remaja Joseon ini akan membiarkan diri mereka menjadi pion orang-orang dewasa atau sebaliknya, mereka akan meretas jalan hidup berbeda seperti yang mereka kehendaki? Kita harus menunggu untuk melihat pertanyaan ini menemukan jawabannya. 
Menurut saya, salah satu yang menyebabkan drama Moonlight populer di berbagai tingkatan usia karena ceritanya yang dinamis. Menghibur. Juga menyentuh. Saya sepertinya harus mengingat kesimpulan ini di masa yang akan datang bahwasanya, tidak peduli seklise apa pun suatu cerita, namun bila dikemas dengan cara yang tidak biasa maka hasilnya pun akan berbeda.
Saya masih berharap karakter Kim Yoon Sung akan muncul mengejutkan saya dengan rahasia-nya. Semua karakter di drama ini menyimpan rahasia-nya masing-masing. Bagi saya, Kim Yoon Sung masih ambigu. Belum bisa saya baca hingga episode 6 ini.
Untuk karakter Ra On, semoga saja SW-nim tidak lupa kalau lebih dari siapa pun karakter Ra On adalah kunci cerita—bukan Lee Yeong. Saya tidak siap bila akhirnya ia hanya menjadi objek tarik ulur di antara Lee Yeong dan Kim Yoon Sung. Ra On sudah melakukan perannya dengan baik di episode-episode sebelum sadar telah jatuh cinta pada Lee Yeong. Yang membuat saya jatuh cinta pada Ra On adalah dia yang muncul di awal episode...
Btw, bukan salah Park Bogum karena karakter Lee Yeong jauh lebih bersinar dibandingkan  karakter lain. Ia hanya bertugas memerankan Lee Yeong se-perfect yang ia bisa lakukan. Terima saja bahwa Lee Yeong memang ditakdirkan untuk Park Bogum. Perlukah mendebat hal-hal yang tidak esensial? ☺

P.s : Di langit hanya boleh ada satu rembulan, tidak bisa dua ^^
Tabik,
= Azz =

Remember, that great love and great achievements involve great riskDalai Lama