Disclaimer : tulisan di bawah ini sangat subyektif, ditulis hanya mewakili sudut pandang saya sebagai penonton ATC.
Sejak
meniatkan hati menulis review Against The Current (ATC), saya sudah berkali-kali
duduk bengong di depan laptop—nggak tau bagaimana memulai tulisan. Selama
berhari-hari, layar laptop hanya menampilkan Ms. Word yang kosong. Blank.
Ini biasa terjadi setiap kali saya menyukai satu drama. Perasaan saya terlalu
penuh hingga membuat saya kesulitan menemukan paragraph pembuka.
Saya terlalu menyukai Against
The Current.
Saya
pertama kali tau keberadaan Against
The Current saat nggak sengaja menonton trailernya di aplikasi WeTV. Jatuh
cinta pada pandangan pertama—anggaplah seperti itu yang terjadi pada saya—Ada sesuatu
pada cuplikan trailer ATC yang bikin saya penasaran dan berharap agar drama
tersebut segera ditayangkan. Begitu ATC tayang, saya langsung nge-gas nonton
episode perdananya. Saya yakin banget ini akan menjadi salah satu drama kostum
terbaik yang pernah saya nonton. Beneran deh, saya ga pernah seyakin ini nonton
episode pilot drama China.
Dan
itulah yang terjadi. Against The Current membuktikan, kali ini saya nggak salah
menaruh ekspektasi. Biasanya, untuk drama China, saya butuh 3-6 episode untuk
bisa masuk ke dalam ceritanya. Tapi
dengan drama ini, saya hanya butuh satu episode untuk yakin ini bakal bagus
banget seterusnya. Hook di episode
pertama berhasil.
Episode
pertama, brutal-nya bukan yang bikin ngeri
tapi nyesek, pilu. Intens-nya nagih. Penggambaran adegan-adegan
kematiannya juga eksplisit dan cenderung sangat berani. Bagi sebagian orang ini
mungkin butuh trigger warning. Di sisi lain, gaya penceritaannya luwes, ga
dikesankan menghakimi—penonton diberi kebebasan melakukan apa pun kepada cerita dan tokoh-tokohnya.
Saya
punya banyak sekali alasan mengapa saya memasukkan Against The Current ke
daftar drama kostum terbaik yang pernah saya nonton. Di sini, saya akan
menuliskannya satu-persatu—alasan-alasan itu. Bagi sebagian orang, ini mungkin
akan terdengar bias—sangat bias, sebab sejak awal saya melihat drama ini
menggunakan sudut pandang saya yang subyektif, berangkat dari rasa suka yang dalam. Jadi, bila dalam penulisan review suka-suka ini kamu menemukan
sesuatu yang nggak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan mengenai Against The
Current, that’s okay. Bukankah kita
memiliki suara di dalam kepala masing-masing? Yang meski nadanya nggak selalu
selaras dengan suara-suara di luar sana, itu tetaplah suara kita. Malah, kita
boleh kok saling mendengarkan dengan baik tanpa harus merasa salah satu di
antara kita lah yang paling tepat nadanya.
So, here we go.
It’s me. Azz and her POV.
Storyline, Plot dan Konflik
Shen
Jialan, cucu dari Cendekiawan Agung Shen Qihan—Sekretaris Agung Kekaisaran,
ditunangkan dengan Lin Jinqi, cucu dari Menteri Urusan Kepegawaian. Dua
keluarga terpandang itu sepakat menyambung hubungan kekerabatan melalui pernikahan.
Shen
Jialan semata bahagia menerimanya. Ia adalah anak yang patuh dan berbakti.
Namun,
ketika pergolakan politik melanda istana kekaisaran, sang kakek dituduh
melakukan pengkhianatan dan seluruh keluarganya ikut dihukum.
Beruntung,
Jialan diam-diam diselamatkan oleh Xu Wan Quan dan istrinya—sepasang budak yang
sebelumnya pernah ditolong ibunya Jialan saat keduanya pontang-panting mencari
bantuan untuk anak perempuannya yang sakit parah. Untuk menyelamatkan Jialan, mereka
kemudian menggunakan identitas—Xu Lanxiang, nama putri mereka yang baru saja
meninggal. Kini hidup dengan nama Xu Lanxiang, Shen Jialan menjadi seorang
pelayan rendahan di kediaman keluarga Lin, tempat keluarga angkatnya bekerja.
Sebenarnya,
saat huru-hara terjadi, keluarga Lin ikut terseret, namun kakek Lin Jinqi
memilih menyelamatkan keluarganya dan menerima tawaran damai Kaisar. Itulah yang terjadi. Akibat kekuasaan, satu generasi
dipaksa hilang, sedang satu generasi lainnya tetap bertahan.
Meski
harus menghadapi kerasnya kehidupan barunya, Lan Xiang menolak tunduk pada
takdir. Berbekal kecerdasan, ia berhasil bertahan di tengah intrik keluarga Lin
sembari berusaha menjaga identitas aslinya tetap tersembunyi. Lanxiang
menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Ia hadir melampaui batas-batas kelas social. Sesungguhnya, Lanxiang sedang
belajar mengamini pesan terakhir mendiang ibunya yang memintanya agar tetap
hidup. Permintaan itu ditulis pada selembar kertas doa yang kemudian selalu
dibawa Lanxiang ke manapun ia pergi.
Lanxiang
berjuang keras agar ia dan keluarga angkatnya bisa terbebas dari status budak.
Suatu
hari kesempatan itu akhirnya datang. Namun hanya sebentar. Tanpa sepengetahuan
siapa pun, Lin Jinqi nekat meminta dekrit Kaisar untuk menikahi Lanxiang.
Rupanya, selama Lanxiang bekerja sebagai pelayan di kediaman Lin, Lin Jinqi
diam-diam menaruh perasaan sayang kepadanya. Jinqi tidak melihat kemungkinan
yang bisa menyatukan mereka berdua. Perbedaan derajat keduanya terlalu jauh. Ia
berpikir, satu-satunya jalan adalah dekrit kaisar.
Lalu,
bagaimanakah Lanxiang menjalani hidupnya? Tidakkah takdir sedang bermain-main dengan hidupnya? Ia dipaksa
menikah dengan seseorang yang dulu dengan mudahnya memutuskan hubungan
pertunangan demi perkara politik.
47
episode Against The Current menceritakan bagaimana Shen Jialan hidup sebagai Xu Lanxiang dengan tetap
menjadi dirinya sendiri, ia mampu menjaga martabat dan prinsip-prinsip yang
diyakininya.
Ketika
saya mengatakan ada sesuatu pada drama ini yang membuat saya tertarik bahkan
hanya dengan menonton cuplikan trailernya, saya benar-benar kesulitan
mendeskripsikan apa yang saya rasakan. Saya mencoba mencari kata atau kalimat
untuk mengartikulasikan itu tetapi saya tetap nggak menemukannya. Saya jatuh
suka dengan sorot matanya Tan Songyun yang terlihat sendu—seperti menyimpan
banyak cerita. Sewaktu menonton trailer ACT, saya nggak tau sama sekali drama
ini menceritakan apa, saya juga nggak tau nama tokoh yang diperankan Songyun.
Aneh kan? Jarang-jarang loh saya begini. Saya lah orang yang sulit dibikin
jatuh cinta itu, tapi begitu jatuh cinta… ga usah dibahas. Ketebak menggilanya
seperti apa. It’s pure magic.
Selain
sorot mata Songyun, saya juga menyukai nuansa yang dibangun potongan-potongan
adegan di trailer, pada tone dan
gradasi warna gambarnya, sinematografinya. Ada nuansa atmospheric yang sangat kental. Di trailer tersebut, saya melihat
perempuan-perempuan muncul dengan ekspresi wajah bermacam-macam, yang berbicara
tentang mimpi dan harapan. Barangkali, itulah yang membuat saya nggak sabaran
untuk segera mendapatkan jadwal tayang Against The Current.
ATC
merupakan drama female-centric yang mengusung kehidupan perempuan sebagai pusat
gravitasi cerita. Mengenai female-centric,
saya perlu menekankan bahwa drama ini nggak memotret kehidupan perempuan
menggunakan lensa romansa dengan tokoh utama pria. Female centric yang digunakan bukan berkisar pada bagaimana kehadiran tokoh utama pria
memengaruhi kehidupan tokoh utama perempuan. Porsi romance tidak pernah
diniatkan akan menjadi plot utama.
Menurut
pemahaman saya setelah menonton 47 episode drama ini, female-centric drama yang
diusung Against The Current artinya
menempatkan pengalaman hidup perempuan dalam cerita yang meliputi perkembangan
karakternya di tengah konflik, bagaimana ia menentukan pilihan-pilihan hidupnya,
bagaimana relasi-relasi yang berkembang turut mempengaruhi sudut pandangnya
sendiri.
Sejumlah
pertanyaan menarik bisa menggambarkan pondasi female-centric yang digunakan Against The Current.
Siapa aku sebenarnya?
Bagaimana aku bertahan dalam
system yang tidak berpihak kepadaku?
Apa yang sebenarnya aku
inginkan?
Bagaimana aku menentukan
hidupku sendiri?
Bagaimana hubunganku dengan
keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan perempuan lain bisa membentuk diriku?
Yang
menarik, saat menonton drama ini, saya sama sekali tidak merasakan bentuk
perlawanan yang frontal (keras) terhadap system kehidupan yang kental aroma
patriarkinya. Bentuk perlawanan ditunjukkan dengan cara halus dan cerdik.
Lanxiang gak ditampilkan bak pahlawan wanita yang penuh retorika, tajam, dan
keras kepala. Dari sorot matanya yang penuh kesigapan, Lanxiang tumbuh menjadi
perempuan yang pandai membaca situasi, lihai menemukan cara untuk bertahan
hidup dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkannya.
Ya.
Garis cerita Against The Current ditarik dari
sudut pandang Lanxiang. Arus cerita berawal dan berakhir dari dan kepada
dirinya. Ia menjadi premis utama dan pion yang menggerakkan konflik, tetapi ia
tidak menjadi satu-satunya pusat cerita. Berangkat dari dirinya, rangkaian
kisah membentuk plot dan konflik yang berkembang dengan sangat rapi, tidak
tumpang tindih, tidak merusak cerita utama, konsisten berpegang teguh pada
premis awal. Jika sedari awal kamu sudah melewatkan ini, kemungkinan kamu nyasar di dalam memahami cerita sangat besar potensinya.
Against
The Current mengingatkan saya sewaktu membaca Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta
Toer belasan tahun lalu, saya dibuat merenung untuk waktu yang sangat lama.
Tetralogi Buru itu mengambil latar waktu sekira antara 1898-1918, namun muatan
fenomena social yang terjadi masih banyak dirasakan di era modern saat saya
membaca novel tersebut. Saya melihat ini terjadi di Against The Current. Meskipun
drama yang naskahnya ditulis oleh Tong Hua dan Xiao Lou ini mengambil latar
waktu masa lampau, di era kekaisaran Tiongkok—ada yang bilang Dinasti
Ming—namun muatan konflik dan isu yang meliputi dunia perempuan di drama itu
masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Hebatnya, cara bercerita drama
ini nggak terkesan menggurui. Kritik disampaikan dengan cara yang santun dan
menyentuh. Drama ini tidak terlihat seperti berusaha memperjuangkan emansipasi
perempuan secara brutal. Ia memilih
jalur reflektif dan jujur. Seperti ingin mengatakan, beginilah kenyataan hidup
yang dijalani para perempuan di dunia ini. Sebagai perempuan, apa yang bisa kita lakukan
agar tetap mampu menjalani hidup sebaik-baiknya, sehidup-hidupnya? Alih-alih
terperangkap dalam ketidakberdayaan dan kekalahan yang menyakitkan, Against The
Current memberikan sudut pandang baru tentang bentuk perlawanan yang lain.
Di
tengah arus patriarki yang kuat, Against The Current ingin mengingatkan kembali
betapa besar dan kuat peran perempuan di tatanan kehidupan bermasyarakat—bukan
sebagai pelengkap atau pesuruh, tapi ia menjadi bagian penting
yang turut menyusun suatu peradaban. Lihatlah Qin Shuhua yang dikenal sebagai
Madam Lin, ibunya Lin Jinqi. Akan jadi apa keluarga Lin kalau urusan rumah
tangga nggak dipegang orang se-cakap beliau?
Against
The Current menjadi drama female centric
yang bisa diterima seluruh lapisan karena tokoh-tokoh perempuan yang
diangkatnya tidak hanya tertuju pada satu kalangan saja. Ia memotret dari berbagai sudut kehidupan—bangsawan dan budak. Tak
hanya perempuan-perempuan yang memiliki hak
istimewa pada tatanan social, tetapi juga perempuan-perempuan yang
kehilangan banyak hak atas hidupnya hanya karena ia tak lahir dari garis
keturunan biru. Drama ini seolah
ingin menegaskan bahwa patriarki tidak memilih warna. Ia hanya memilih perempuan.
Sudah
sangat jelas di episode perdana, Lanxiang tidak pernah diarahkan untuk
menjalankan plot balas dendam. Bukan itu tujuan drama ini dibuat. Against The
Current juga tidak menjadikan identitas Lanxiang sebagai bagian cerita yang
akan memberikan perubahan arah konflik, bahwa itu menjadi bagian dari plot, ya,
tapi tidak menjadi konflik utama. Ini penting sekali karena titik inilah yang
memberikan perbedaan besar antara Against The Current dan drama kostum lain
yang kerap disebut-sebut sebagai female centric.
Di
mata Against The Current, sebaik-baiknya perlawanan adalah dengan tetap memilih
hidup. Seperti yang dilakukan Ji’er. Ia menolak kalah oleh keadaan. Meski tahu
pilihan hidupnya akan dipenuhi kesulitan, tapi dia nggak mau menyerah.
Ada
lagi satu hal yang menurut saya sangat brilliant, Against The Current tidak semena-mena menyoroti posisi kaum
lelaki hanya karena drama ini membawa isu emansipasi dan feminism. Porsinya realistis. Drama ini tidak berupaya menarasikan
ketidakberpihakan system pada perempuan adalah karena semata kesalahan para
lelaki. Artinya, drama ini menghargai kecerdasan penonton. Ia percaya, penonton mampu menangkap pesan yang ingin ia sampaikan
tanpa harus menjelaskannya dengan retorika.
Unsur
politik yang kerap menjadi pusaran utama drama kolosal tidak berlaku di sini. Against
The Current memilih jalan yang tak
biasa—irisan politik tidak dibiarkan mengganggu focus cerita utama tetapi ia
tetap menjadi bagian penting yang membentuk keutuhan cerita. Bahwasanya politik
di masa itu (dan masa sekarang) sangatlah berpengaruh bagi seluruh aspek
kehidupan. Siapa yang pemimpin, seperti apa dia memimpin, dan seperti apa keputusan-keputusan
politiknya bisa secara langsung memberikan efek kepada masyarakat di bawah.
Ada
satu adegan yang belum pernah saya lihat di drama kostum yang saya pernah saya
tonton dan ini ngasih saya pengetahuan baru. Adegan pemberontakan di ibukota.
Seluruh daerah kekaisaran terkena imbasnya. Di drama ini, reaksi dari para
pelayan/budak diberi sorotan. Saya tidak akan melupakan reaksi Yu Chan saat
pertama kali mendengar adanya perebutan kekuasaan antar saudara. Perang tidak
hanya soal pergeseran kekuasaan yang melibatkan orang-orang di atas. Yang akan
kena dampak pertama adalah kalangan bawah. ATC ingin menunjukkan peran para
pelayan/budak pada masa-masa rentan tersebut. Selama nonton drama kostum Tiongkok,
ini pertama kali saya melihat kehidupan para budak/pelayan mendapatkan porsi
yang besar. Ini menambah pemahaman baru buat saya.
Inilah
beberapa alasan inilah yang bikin saya betah menonton Against The Current
sampai episode terakhir. Garis ceritanya sudah selesai dirumuskan sebelum
ditulis dan divisualisasikan—penulisnya tahu betul apa yang sedang ingin ia
sampaikan kepada penontonnya. Kenapa saya berpikir demikian? Drama ini memilih setia
pada premis. Ia tidak menjanjikan hal
lain. Yang berusaha dilakukan adalah
menjawab apakah Lanxiang akhirnya bisa hidup sesuai permintaan ibunya. Dan kita
tahu jawabannya usai menamatkan 47 episodenya.
Ucapan
Xue Gui Hua, ibu angkat Lanxiang berikut membantu kita menemukan jawaban itu.
“I hoped you’d
live like wild grass. Not only did you do that, but you’ve also done far more
and far better than I’ve ever imagine. You’re like wild grass, but also like a
flower. Like a great tree. Not only have you made a good life for yourself, but
you’ve helped others live well too and helped them make a place for themselves
in this world.”
Lanxiang
tak hanya hidup tanpa kehilangan kesejatian dirinya. Ia juga menjadi pohon besar yang memberikan keteduhan kepada orang lain.
Saya
jatuh cinta pada cara bercerita Against The Current. Butuh keberanian,
idealisme, kepekaan, intelektualitas dan pengetahuan mendalam untuk menulis
cerita se-lugas ini. Saya menemukan banyak unsur yang turut membentuk identitas
drama ini, salah satunya filosofi kehidupan yang mengakar pada budaya dan
kepercayaan yang dihadirkan berupa symbol pada benda, nyanyian, dan
lain-lainnya.
Saya
menyukai bagaimana drama ini konsisten menjaga nilai-nilai adat tradisional,
misalnya aturan pergaulan laki-laki dan perempuan. Tak banyak drama kostum memerhatikan
detail satu ini. Jadi, rasa tradisional Against The Current terasa kental.
Kuat.
Against
The Current memiliki cara bertutur yang sangat indah, puitis, hangat, manis,
terkadang menyisakan getir dan sedih yang melekat lama pada. Seperti halnya
hidup, nano-nano, ramai rasanya—yang baca pake nada ketahuan umurnya. Lapisan
konflik drama ini tidak tumpang-tindih, penyelesaiannya tuntas. Pergerakan
plotnya tidak monoton, luwes. Tak terasa satu episode selesai.
Ini
adalah cerita tentang kehidupan perempuan yang hidup di satu era di masa lalu,
dengan isu-isu keperempuanan yang masih terus bernapas hingga di detik ini. berdiri kokoh sebagai drama female centric
yang realistis dan memikat. Ia merangkul
dan menguatkan.
Selama
menonton, saya kerap bergumam, yeah,
that’s how things are in real life.
Penokohan dan Perkembangan
Karakter
Saya masih inget ada satu komentar di bawah
poster karakter Against The Current yang bilang kurang lebih begini, “buset, sekampung banget ini?”
HAHAHAHAH karena sebanyak itu tokoh-tokohnya.
47 episode dengan tokoh segambreng, ini gimana cara ngapalinnya?
Pada banyak drama yang saya tonton, khususnya
drama kostum, fokus saya sering kali hanya tertuju pada tokoh utama dan tokoh
jahatnya—karena hanya mereka yang dibiarkan menonjol. Karakter-karakter
pendukung tidak selalu mendapatkan detail karakter yang cukup kuat untuk
membuat mereka berkesan.
Against The Current memperlakukan
tokoh-tokohnya dengan adil. Mereka diberi ruang untuk tumbuh, termasuk karakter yang dinilai jahat oleh penonton. Mereka ada untuk diingat, bukan sebagaitempelan, melainkan sebagai manusia yang
memiliki cerita kehidupannya sendiri. Identitas mereka jelas, perkembangan
karakternya terasa organic dan orisinil.
Banyak irisan cerita dalam drama ini yang
membuat saya percaya bahwa mereka bukan sekadar kisah yang hidup di dalam
fiksi. Seolah-olah mereka benar-benar pernah hidup di suatu masa. Mungkin saja,
rupa kisah mereka adalah orang-orang yang saya kenal.
Saya tidak perlu memaksakan diri untuk
memahami situasi dan perasaan tokoh di drama ini sebab dramanya sendiri sudah
ngebantu banget saya untuk bersimpati. Jadi, sebelum kelepasan nge-judge, saya
sudah lebih dulu paham kenapa si tokoh melakukan tindakan tertentu. Drama ini
bukan soal siapa yang jahat siapa yang baik. Seperti halnya di kehidupan nyata,
kita nggak akan selalu menjadi protagonist. Boleh jadi, di kehidupan orang lain
kita lah antagonisnya.
Tokoh-tokoh di drama ini memiliki
kompleksitas karakter.
Zhao Xingtang, misalnya. Kita bisa dengan
mudah menyebut dia jahat berdasarkan apa yang ia lakukan. Tapi, benarkah dia
jahat? Kalau sedari awal kita sudah memahami konflik utama drama ini adalah
perempuan vs system, maka kita harus melihat kembali keputusan yang menilai
Xingtang jahat.
All she wants is to embrace her freedom and live her life as an
independent woman, but the world she lives in simply won’t let her.
System di mana ia hidup tidak memberinya
pilihan lain. Maka ia melawan dengan cara yang dimaknainya benar. Saya tidak mengatakan bahwa yang ia lakukan
benar. Tetapi, saya mencoba memahami bagaimana ia menjadi demikian.
Sebagai penonton Against The Current, memahami
POV tokoh sangat penting bagi saya agar tetap berada di track yang tepat. Menurut saya, ini bisa terjadi bila dramanya
mampu meyakinkan penonton bahwa orang-orang yang ia ceritakan adalah manusia nyata.
Dan jika ini berhasil, penonton akan dengan mudah membangun relasi emosi dengan
mereka, para tokoh tersebut.
Saya teringat, reaksi saya saat menonton
episode pertama ATC—saya nangis jelek. ATC membuat saya bersimpati pada Shen
Jialan—relasi emosi itu berhasil terjalin tanpa proses panjang. Alih-alih
memikirkan bagaimana cara Shen Jialan membalas dendam, sepanjang menonton
episode-episode ATC, saya hanya berharap
Shen Jialan hidup bahagia. Itu saja.
Saya nggak akan capek bilang, betapa rapi
penokohan di drama ini. Setiap tokoh membawa pesan tanpa terkesan menceramahi penonton.
Drama ini berhasil merangkul begitu banyak isu perempuan dalam tatanan kehidupan sosial
tradisional, yang sebagian di antaranya masih relevan dengan kehidupan modern.
Semuanya dibawakan dengan rendah hati,
reflektif, dan menggugah.
Saya melihat Against The Current sebagai
sebuah miniatur kehidupan. Di dalamnya, kita bisa melihat sistem sosial yang
tidak selalu ramah kepada perempuan, beserta bagaimana sistem itu membentuk
kehidupan dan pengalaman para tokoh perempuannya.
Pada akhirnya, boleh dikatakan, tokoh utama
drama ini adalah perempuan. Ia punya banyak wajah, nama, dan kisah. Di
kehidupan kita, mereka bisa menjelma siapa saja.
Membicarakan perkembangan karakter
tokoh-tokoh Against The Current, yang muncul di kepala saya adalah Lin
Xiuwan—adik sepupu perempuan Lin Jinqi. Di awal kemunculannya, trouble maker kecil ini bikin penonton
menahan kesal gara-gara kelakuannya yang manja dan kekanakkan. Ia melewati
turbulensi emosi yang cukup ekstrim setelah terlibat peristiwa buruk. Ini
kemudian menjadi titik balik Xiuwan untuk menata kembali hidupnya.
Xiuwan hanyalah satu dari banyaknya tokoh
yang mengalami perkembangan karakter di Against The Current. Perkembangan
karakter yang saya maksud adalah terjadinya perubahan-perubahan pada tokoh
semula dan kemudian, ini bukan hanya soal pergantian status tapi juga tentang
bagaimana mereka berpikir dan bertindak. Ada yang berubah pada bagaimana mereka
menjalani dan memaknai hidup.
Cara Against The Current memperlakukan
tokoh-tokohnya menunjukkan penghargaan dan dedikasi. Ia tidak menafikan perasaan dan emosi yang mereka miliki.
Sebaliknya validasi diberikan, bukan untuk membenarkan tetapi mengakui demikianlah
sisi paradoksial manusia.
Menurut saya, inilah cara bercerita paling
jujur.
Kita tidak akan lupa betapa tragisnya kematian
Marquis Yuan. Sebagian penonton mungkin merasa ia layak menerimanya setelah apa
yang ia lakukan pada Lin Xiuru. Lalu kita bertanya kembali, apakah yang
dilakukan Yuan pada Xiuru itu salah?
Apakah itu memberikan kita hak mutlak untuk membencinya? Bagaimana dengan
reaksi Lin Jinqi yang berubah menggila usai
mendengar kematian sahabatnya itu? Di mata Jinqi, Yuan tetaplah orang yang
pernah menyelamatkannya dulu.
Kontradiksi ini seharusnya menjadi pengingat
kepada kita agar berhati-hati memberi label pada tokoh-tokoh Against The
Current. Mereka bukan hanya tokoh hitam dan putih.
Drama ini tegas menampik ide yang mengatakan
hanya tokoh-tokoh utama saja yang berhak
tumbuh. Tak hanya Lanxiang dan Jinqi, tokoh-tokoh minor seperti Jinlan yang
porsi kemunculannya tidak banyak tapi meninggalkan kesan yang sulit dilupakan
penonton.
Perkembangan karakter tak selalu harus mengarah pada nilai positif, ia bisa berlangsung sebaliknya.Jika itu tak seketika terjadi dan menjadi melainkan melalui proses yang masuk akal, maka bisa dikatakan perkembangan karakternya jalan. Berhasil. Apakah Against The Current berhasil? Saya tidak ragu-ragu mengatakan ya.
Ini dilakukan Cui Que. Against The Current gak bikin karakternya semata jahat aja, penonton paham kenapa dia kayak gitu tapi nggak bisa ngasih simpati. Terdapat perbedaan yang besar antara Cui Que dan Xingtang. Terletak pada motivasi yang mendasari tindakan mereka.
Akting & Chemistry
Di episode pilot, adalah
adegan saat ibu kandung Shen Jialan dan ibu angkat bersimbah air mata sebelum
melakukan perpisahan yang bikin saya bengong sejenak—lupa kalo mereka lagi
acting. Saya inget persis reaksi saya, “wah,
gilak. Keren banget actingnya. Gak mungkin aktris biasa ini.”
Saya
baca Guo Ke Yu (ibu angkat Lanxiang) dan Ke Lan (ibu kandung Lanxiang) adalah
aktris teater yang sudah malang melintang di dunia acting mainland. Guo Ke Yu
sudah masuk ke dunia akting sejak usia 17 tahun. Waw.
Kamu
bisa langsung tau kalau mereka aktris veteran, melihat betapa hebatnya nuansa
emosi yang muncul di adegan tersebut. Aktingnya rapi dan mendetail. Itu tipe
adegan yang akan selalu kamu ingat saking powerful-nya. Perpaduan sentuhan
directing yang dingin dan kekuatan
acting mumpuni.
Membicarakan
acting di Against The Current, ga ada alasan untuk bilang nggak bagus. Nggak
ada satu pun yang kurang bagus aktingnya. Semuanya bagus, ciamik, kawin dengan perannya masing-masing.
Tapi
kayak nggak sah ya kalau nggak ngomongin acting dan chemistry Liu Xueyi dan Tan
Songyun?
Bentar.
Tarik napas dulu.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
Edyaaaaaaan
ya.
Saya
mulai dari Tan Songyun dulu.
Sebelum
Against The Current, saya udah nonton beberapa project Songyun. Ada yang saya
tamatkan, ada yang saya lepas. Bukan karena aktingnya jelek, tapi nggak cocok
aja dengan dramanya. Saya tau aktingnya Songyun bagus. Jam terbangnya tinggi.
Variasi pilihan perannya juga ga monoton.
Tapi,
setelah Go Ahead, barulah di Against The Current ini saya kembali bisa
merasakan pesona skill Songyun yang
kece super duper itu. Saya tekankan, ini adalah preferensi pribadi yang
didasarkan pada pengalaman nonton saya. Jangan sampai ada yang keliru
menerjemahkan maksud saya. Karakter Xu Lanxiang ngasih kesempatan ke Songyun
untuk mengekplor acting dengan sangat maksimal. Sering kejadian pada
aktor/aktris, problemnya bukan terletak pada skill acting, tapi karena miskinnya kedalaman karakter yang
diperankan—writing problems. Jatohnya
ya kayak biasa aja perannya, delivered emosi ke penontonnya ga menawan.
Perannya nggak menantang.
Nah,
mengikuti kisah Shen Jialan lalu Xu Lanxiang, bagaimana tokoh ini dibangun dan
dihidupkan, kekayaan emosi yang dimilikinya ngasih kesempatan Songyun untuk
mengeluarkan skill aktingnya. Ini peran yang sulit. Kamu perlu memahami
karakter Lanxiang seutuhnya untuk bisa merasakan detail acting Songyun.
Lanxiang
punya banyak sekali lapisan emosi. Perhatikan saja, Lanxiang sebelum tragedy
dan setelahnya. Nuansa wajahnya berbeda kontras. Lanxiang setelah tragedy
membawa luka trauma yang turut mengubah caranya melihat dan menjalani hidup.
Sekilas, ia terlihat dingin. Sering ekspresinya
sulit dibaca. Lanxiang bukan tipikal perempuan ekspresif. Inilah yang membuat
saya melihat tokoh satu ini menyedihkan. Sebelum tragedy, saat masih bernama
Shen Jialan, ia adalah anak perempuan pemalu yang santun. Lalu setelah melewati
peristiwa hidup yang kejam kamu berharap Lanxiang berubah ceria dan banyak
tertawa? Kamu menginginkan agar dia lebih ekspresif saat jatuh cinta? Jika itu
yang terjadi, Lanxiang keluar dari pondasi dasar karakternya.
Tan
Songyun, dengan kekuatan aktingnya berhasil menghidupkan karakter Lanxiang. Dia
memberikan detail pada rupa-rupa emosi Lanxiang yang digambarkan lewat
mikro-ekspresinya. Misalnya, adegan Jinqi mengikatkan benang takdir di tubuh
mereka. Adegan ini mengalami banyak sekali interpretasi berbeda dari penonton.
Di mata saya, ini adegan yang sarat emosi dan menjadi klimaks perasaan Lanxiang
kepada Jinqi.
“If I’d known I would marry
you, I would’ve taken better care of myeself…” Jinqi mengatakan ini pada
menit ke 25-26 episode 47, di sini ekspresi Lanxiang masih merasa Jinqi sedang
bercanda. Kalau ngeliat senyumnya Lanxiang, sepertinya dia sudah terbiasa
digombalin Jinqi. Vibes pasangan yang sudah belasan tahun menikah terasa banget
di sini. Tapi, coba perhatikan perubahan ekspresinya saat Jinqi mengatakan
dengan nada getir pada bagian—“… back in
Jinzhou.”
Lanxiang
menangkap firasat itu. Cepat sekali kejadiannya, transisi dari raut wajah yang
terbiasa menerima candaan Jinqi ke wajah yang menyadari sesuatu yang buruk akan
terjadi. Lanxiang tuh kayak mau bilang—no.
Tidak. Tolong, jangan lakukan ini. Asli, pas bagian ini saya udah mulai
nangis jelek.
“One lifetime is enough.”
Ada
yang bilang kalimat Lanxiang ini membuktikan dia nggak mencintai Jinqi. Duh
Gusti… Adegan yang nggak eksplisit begini memang sulit dipahami karena area
mainnya ada di ruang emosi yang dalam yang jauh dari kesan vulgar. Ini justru cocok dengan narasi bahwa mereka sudah belasan
tahun menikah.
Aku
membaca ini sebagai ekspresi denial-nya
Lanxiang terhadap apa yang akan terjadi berikutnya—kematian Jinqi. Lanxiang
antara sedih dan takut kehilangan. Mana air muka Jinqi udah mulai serius.
“You’re such a fool—“
Such a romantic thing to say. Tone playful-nya Lanxiang
makin menguatkan kalau mereka adalah pasangan yang sudah lama bersama dan
terbiasa saling bertukar canda.
Siapa
yang nangisnya makin menjadi-jadi di sini? IYA. SAYA.
Detik-detik
Jinqi mulai kehilangan kesadaran, di situ mikro-ekspresi Songyun makin gilak
sih. Itu klimaks banget cara nangisnya. Sangat cocok dengan karakter Lanxiang.
Bukan dengan tangis yang meledak-ledak, tapi yang tanpa suara tapi luka
kehilangannya terbaca.
Kalau
setelah adegan ini, ada yang merasa Lanxiang ga mencintai suaminya. Maybe you never truly understood
Lanxiang’s character to begin with.
Itu
hanya satu dari banyak adegan penting yang menunjukkan kematangan akting Tan
Songyun selama memerankan Lanxiang—karakter kompleks dengan lapisan emosi yang
tidak sederhana. Karakter seperti ini sangat sering disalahpahami. Di dunia
fiksi, juga dunia nyata.
Good
job, Seven! Truly impressive! Hats off!
Coba
sini bilang, kapan akting Liu Xueyi jelek? Nggak pernah kan? Dikasih peran apa
pun, dijabanin dengan sangat professional dan nggak pernah gagal pendalaman
karakternya. Berdasarkan testimoni orang-orang yang ngikutin project beliau, yang sering kejadian adalah dia kena prank
naskah—ceritanya nyawit di tengah jalan wkwk. Keinget pengalaman nonton Love at
Night. Premis ceritanya bagus, menarik minat nonton. Begitu mulai masuk
pertengahan—ceritanya kehilangan arah.
Pengalaman
saya menonton project Xueyi nggak banyak. Kabar
burung bilang aktingnya bagus. Saya percaya. Terbukti di Against The
Current, saya kena pelet Lin Jinqi. Akhirnya
ya…
Liu
Xueyi memiliki kemampuan akting lewat mata—ini bukan perkara mudah. Butuh jam
terbang tinggi dengan variasi peran yang beragam. Pengalaman hidup juga punya
andil besar. Dan saya percaya nggak semua aktor bisa delivered emosi karakter
yang mendetail melalui sorot mata.
Saya
happy banget dong, akhirnya Liu Xueyi ketemu
cerita yang ngasih dia kesempatan untuk bersinar. Meskipun saya statusnya hanya
fans ‘Senin-Kamis’, but I’m rooting for
him. Dengan kualitas se-kece itu, dia layak dan berhak mendapatkan sorotan utama. Sayang aja aktor model
begini dianggurin.
Saya
menemukan nuansa yang tidak familiar pada karakter Lin Jinqi, sama seperti
Lanxiang, karakter ini tidak sederhana. Ia juga memiliki kompleksitasnya
sendiri. Saya sudah terbiasa melihat tokoh utama pria di drama kostum dengan
karakter yang warna utamanya cuma dua—digambarkan sebagai sosok yang dingin, keras, lalu berubah saat jatuh
cinta.
Lin
Jinqi tidak datang dengan pattern semacam
itu. Saya bilang ini karakter ditulis dengan manusiawi dan rasional. Dia punya
banyak sisi yang membuatnya bisa dicintai dan dibenci. Karakter seperti ini menuntut kualitas akting
yang no kaleng-kaleng.
Lin Jinqi is perfect in his
imperfections.
Perubahan
pembawaan Lin Jinqi muda ke dewasa membuat saya bertanya-tanya apa kiranya yang
terjadi sehingga anak lelaki penurut dan polos itu berubah menjadi tegas, kuat
dan berani menentukan sendiri pilihan-pilihan hidupnya? Awal kemunculan Jinqi
dewasa, saya sempat merasakan sisi bengis
dan licik pada dirinya, tapi di
waktu lain, dia bisa sangat sopan, lembut dan penuh kasih sayang kepada ibu dan
adik-adiknya.
Misalnya,
adegan Jinqi mulai tertarik dan akhirnya jatuh cinta pada Lanxiang. Ini kan
adegannya ga digambarkan secara blak-blakkan ya, tapi melalui detail kecil
seperti gesture samar yang disampaikan melalui tatapan atau lirikan mata,
senyum kecil, itu semua harus bisa meyakinkan penonton bahwa Lin Jinqi
benar-benar jatuh cinta full full gas ke Lanxiang. Dengan spectrum akting yang
luas, Liu Xueyi bukan hanya berhasil membuat yang nonton percaya Lin Jinqi
jatuh cinta pada Lanxiang, tapi dia juga sekalian menyeret penonton jatuh cinta ke dia. Iya. Penonton itu saya.
Adegan
yang menurut saya powerful adalah ketika Lin Jinqi akhirnya mengetahui
identitas asli Lanxiang. Badai emosi Jinqi keliatan di situ—terkejutnya,
sedihnya, seperti tidak percaya… bagaimana bisa Xueyi menggambarkan itu semua
dalam satu tarikan dan dia bisa menampilkan
detailnya sekaligus. Sebagai penonton saya sangat yakin dia nggak marah ke
Lanxiang. Ini wow banget loh. Kemampuan memilah emosi tokoh, lalu memutuskan
emosi apa saja yang tepat ditampilkan… he
is amazing. There’s such maturity and nuance in Liu Xueyi’s performance.
BTW,
LIN JINQI KOK TAMPAN AMAT YA? MAAP. PENONTON SATU INI SUKA SALFOK.
Pesona
pria ini matang, gaes. Kharismatik. Ehm. Apakah doi sudah ada yang punya? Kalau
belum, boleh lah—udah, stop, Azz. Fokus. Fokus…
Huft.
Oiya,
saya perhatikan, tone suara Lin Jinqi turut berubah seiring transisi yang
terjadi pada karakternya. Jinqi sebelum menikah dengan Lanxiang, setelah
menikah, lalu punya anak, hingga anak-anaknya dewasa—jelas banget perubahan
itu. Makin tambah umur, makin berat dan ini sangat masuk akal. Keren banget loh
observasi dan interpretasi Liu Xueyi terhadap karakter Lin Jinqi. Makanya nggak
heran, dia bisa ngebawain peran ini dengan maksimal. Dia tau orang seperti apa
yang sedang dia hidupkan.
Hampir
lupa, untuk adegan aksi, Liu Xueyi keren banget. No debat mah soal ini. Inget
adegan berantem di kapal? Lin Jinqi di adegan itu mengingatkan saya dengan Lin
Jinqi dewasa di awal-awal episode—garang, dingin
dan kejam. Karakter ini di-tone down oleh
pernikahan. Cuma Lanxiang dan anak-anaknya yang bisa. Jinqi nih potret
laki-laki yang beda pembawaan di tempat
kerja dan di rumah deh. Di rumah hangat banget banget… Terharu lihat
interaksi dia dengan anak-anaknya. Bapak-able banget. Sayang episode Jinqi sebagai
suami dan bapak nggak dibanyakin ya, padahal pengen liat. Pasti hangatnya
menjalar-jalar masuk ke dalam hati penonton.
Siapa
pun yang mengambil keputusan memasangkan Tan Songyun dan Liu Xueyi di drama
ini, saya doakan rejekinya lancar, tidurnya nyenyak. Ini jenis pairing yang
nggak selalu berhasil bukan karena aktingnya jelek, tapi naskahnya yang nggak
berhasil. Akting bagus nggak selalu menjadi jaminan sebuah drama akan berhasil.
Harus ditopang banyak hal. Mungkin yang benar untuk Tan Songyun, Liu Xueyi dan Against The Current adalah mereka bertemu di naskah dan director yang
tepat dan lahirlah chemistry yang
fenomenal (di mata saya) itu. Boleh nggak sih ngarep mereka reunion lagi di
drama?
Ini
bukan tipe chemistry yang menyala lewat adegan-adegan intimate dan skinship yang intens, yang bikin penonton panas dingin
melainkan chemistry yang berhasil dibangun melalui dialog-dialog
bermakna, gesture sederhana tapi mengandung romansa yang menggetarkan. Slow burn-nya bikin gemes,
gregetan. Percayalah, lebih sulit memainkan peran pada tipe chemistry seperti
ini—nggak hanya butuh kemampuan akting yang bagus, tapi kerjasama yang cocok antar-aktor/aktris.
Karena nunjukin emosinya ga secara langsung, frontal gitu, tapi lewat
ekspresi-ekspresi bermakna. Ga heran banyak yang bilang Lanxiang nggak cinta
Jinqi, afeksinya kurang. Ternyata, ga semua orang siap menonton orang-orang
yang jatuh cinta dengan cara yang santun dan beradab.
Saya
pernah bilang di salah satu cuitan saya di Twitter, semakin dewasa pemikiran,
apalagi sebagai perempuan, yang kita cari adalah cinta seperti yang dimiliki
Lanxiang dan Jinqi. Bukan cinta yang menggebu-gebu, tapi yang bikin tenang,
hangat, dan bikin kita terlihat.
Sebuah cinta yang memeluk.
Ngomong-ngomong
soal cinta—masih berhubungan dengan chemistry, saya ngerasa amazing melihat
Against The Current menceritakan kisah cinta tokoh-tokohnya. Meskipun nggak
pake banyak adegan, esensi dari cerita cintanya dapet banget. Chemistry-nya, manisnya, jatuh cintanya.
Kok bisa efektif ya? Saya punya keyakinan, ini terletak pada teknik bercerita
yang matang, kemudian di-sah kan oleh
akting natural para aktor/aktris yang berperan lalu di-direct dengan angle yang
tepat.
Contohnya,
kisah Xiuwan dan Xie Zhao. Hayooo, siapa yang senyum-senyum nonton adegan
mereka? Manis banget kan? Dua orang ini adalah definisi sesungguhnya dari
orang-orang yang bertemu di waktu yang tepat saat mereka telah menjadi versi
terbaik dari diri mereka sendiri. Nggak usah ngejar cinta orang lain, capek.
Jangan sampai, saking sibuknya ngejar, kita lupa sudah terlalu lama
menelantarkan diri sendiri. Ouch.
Excellent
performance ditampilkan juga oleh Li Meng (Zhao Xingtang). Li Meng memerankan
Zhao Xingtang dengan sangat keren. Karakter ini menjadi identic karena Li Meng
ngasih detail yang kemudian menjadi ciri khas Xingtang. Xingtang ini karakter
yang paling ingin saya peluk kedua setelah Lanxiang. Punya privilege nggak
menjamin kehidupannya sebagai perempuan akan bahagia.
Ini
kali kedua saya terpesona dengan aktingnya Li Meng.
Divisi
akting Against The Current tuh nggak ada yang gagal. Bahkan yang durasi
kemunculannya singkat pun tetap bisa bersinar dan meninggalkan kesan di hati dan
ingatan penonton.
Directing & Sinematografi
What does directing mean?
Sebagai
penonton, saya selalu kagum dengan penyutradaraan sebuah film atau drama.
Sebagus apa pun cerita dan akting para pemerannya, keduanya tetap membutuhkan
bahasa audiovisual yang tepat agar bisa diterjemahkan menjadi pengalaman
menonton yang utuh.
Directing
dan sinematografi nggak harus selalu tampil spektakuler. Sentuhan sederhana pun
bisa terasa specia jika mampu menjadi jembatan antara naskah, aktor, dan
penonton. Penonton tak hanya terpikat pada gambar yang cantik, tetapi juga
jatuh cinta pada keseluruhan adegan. Tak hanya memahami mengapa sebuah adegan
perlu ada, penonton juga ikut masuk ke dalam pusaran rasa dan emosi yang
dibawanya.
Jika
penulis bercerita melalui kata-kata, sutradara menerjemahkan cerita itu ke
dalam tindakan, ruang, waktu, suara, dan gambar bergerak.
Saya
nggak tahu apakah Against The Current memiliki sinematografer yang berbeda dari
sutradaranya—tentu saja keduanya memang bisa merupakan tanggung jawab orang
yang berbeda—jadi saya akan membahas directing dan sinematografinya sekaligus.
Directing
dan sinematografi Against The Current bekerja bersama menciptakan adegan-adegan
yang punya nyawa. Saya nggak tahu istilah teknis yang paling tepat untuk semua
gambar ini, tetapi sutradara kerap mengarahkan perhatian kita pada tempat,
ruang, atau benda-benda yang sekilas tampak biasa. Bagi saya, gambar-gambar
tersebut bukan sekadar sisipan untuk mempercantik visual. Ada atmosfer yang
dibangun dan pengalaman emosional yang ditawarkan kepada penonton.
Misalnya,
adegan perpisahan Jinqi dan Lanxiang di episode 47. Setelah Jinqi meninggal,
kamera mengarahkan perhatian pada bunga rumput favorit Lanxiang. Detail itu
memberi jeda sekaligus membawa makna emosional. Bunga rumput tersebut bukan lagi
sekadar objek di dalam frame, ia terhubung dengan ingatan, perasaan, dan
hubungan antarkarakter yang telah dibangun sepanjang cerita.
Di
Against The Current, sebuah kue bisa membuatmu menangis. Itu bukan kue biasa,
melainkan simbol trauma Lanxiang. Tanpa harus mengulang seluruh tragedi yang
pernah menimpanya melalui banyak adegan, kemunculan kue itu saja sudah bisa
membangkitkan kembali ingatan kita tentang masa lalunya. Kita mengingat tragedi
menyakitkan yang dialami Lanxiang, lalu ikut merasakan kesedihannya. Sebuah
objek sederhana menjadi begitu bermakna karena cerita telah membangun ikatan
emosional antara objek tersebut dan karakter. Juga penonton.
Contoh
lainnya adalah adegan Zhao Xingtang yang diambil dari atas, melalui atap yang
berlubang, ketika wajahnya yang babak belur terlihat beberapa saat sebelum
kematiannya.
Kalau
ingat adegan ini, bawaannya pengin nangis aja.
Bagi
saya, itu bukan sekadar pilihan sudut kamera yang menarik. Komposisi gambarnya
membawa beban emosional yang terasa begitu berat, seolah-olah merangkum
kehidupan Xingtang. Seukuran itu saja. Bahkan hingga akhir hidupnya, ia tetap terperangkap.
Seumur hidupnya, Zhao Xingtang bertarung mati-matian demi kebebasan yang ia cintai, hanya untuk mendapati kenyataan, bahwa hidup tidak pernah ramah kepadanya. Satu-satunya yang mau melihatnya sebagai Zhao Xingtang, manusia yang memiliki suara adalah Lanxiang. Dan Xingtang tahu itu.
Kamu
mungkin memiliki interpretasi yang berbeda. Namun, bagi saya, begitulah
keberhasilan directing dan sinematografi drama ini bekerja. Bukan hanya
memperlihatkan sebuah peristiwa, tetapi juga membuat sebuah gambar terasa
begitu dekat dengan nasib karakter yang ada di dalamnya.
Sutradara
Huang Ying Xiang, bagi saya, memiliki kepekaan dan kreativitas dalam
mengarahkan adegan. Ia tidak hanya membuat gambar terlihat bagus, tetapi juga
menghadirkan nuansa emosional yang membuat adegan-adegannya terasa hidup.
Adegan sederhana bisa menjadi berarti dan melekat kuat dalam ingatan penonton.
Saya
juga ingin menyoroti sutradara aksi, Guo Ya Sha. Adegan perang dan perkelahian
di drama ini bagus banget. Intens, mendetail, dan mampu menyeret penonton ke
dalam ketegangan yang dibangun. Totalitasnya terasa sekali. Jadi, meskipun
adegan berantemnya nggak banyak, setiap kali muncul, adegan-adegan itu terasa
digarap dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan aksi
dalam cerita.
OST & BGM
Siapa yang auto pengen nangis tiap denger "大梦归" (Return From A Great Dream) – Zhou Shen (周深)? Lirik dan melodinya memiliki semacam kekuatan yang bisa membangkitkan
kesedihan, apalagi bagian reff-nya. Suaranya Zhou Shen kayak ada sihirnya deh.
Spesialis nyanyi lagu menyayat hati dan jiwa raga.
Kalau ngomongin OST, saya nggak cuma bilang
lagu-lagunya enak aja. Tapi pertanyaan paling penting adalah apakah Original
soundtrack sebuah drama turut memberikan kontribusi pada drama yang
bersangkutan.
Seluruh lagu yang tergabung dalam Original
soundtrack Against The Current nggak ada yang jelek. Semuanya cocok dan enak di
kuping saya. Beberapa lagu terasa membekas di ingatan saya sebagai penonton
karena penempatannya pada adegan-adegan penting. Nah, ini yang saya maksud.
Nggak sekadar enak didengerin, OST Against The Current memberikan cita rasa yang kuat pada dramanya. Liriknya
yang puitis nyambung dengan adegan
dan situasi yang dihadapi tokoh, sedangkan melodinya secara aktif terlibat mengacak-acak perasaan penonton. Mantap
jiwa.
Tak berbeda jauh dengan OST, BGM (Background
music) yang digunakan di drama ini ikut berpartisipasi membangun suasana yang
diinginkan sebuah adegan. BGM-nya kaya akan melodi tradisional yang khas.
Indah.
Kehadiran OST dan BGM sangat mempengaruhi
nuansa emosional yang dibangun suatu adegan di Against The Current. Nggak semua
adegan bisa diiringi OST, ada juga adegan yang terasa lebih kuat sisi emosionalnya
jika hanya dibalut instrument. Itu yang dilakukan
BGM Against The Current.
Jempol sebanyak-banyaknya kepada composer musiknya,
Dong DongDong.
Ending
Bagaimana, sih, ending drama yang baik itu?
Soal ini tentu saja punya jawaban
berbeda-beda bagi setiap orang. Namun, jika merujuk pada premis utama Against
The Current, ending yang diberikan kepada drama ini adalah akhir yang bahagia
bagi Lanxiang.
Lanxiang menjalani hidup sebaik-baiknya,
seperti harapan dan doa mendiang ibunya.
Jika kita bersepakat bahwa Against The
Current adalah tentang bagaimana Lanxiang bangkit dan berjuang untuk hidup,
maka rumusan ending-nya sudah tepat.
Tapi Jinqi meninggal duluan, gimana dong?
Itulah definisi hidup yang ingin diceritakanAgainst
The Current, realistis. Bahwa kematian dan kehilangan adalah keniscayaan yang
tidak bisa dihindari. Jika kamu jeli, kamu akan melihat bagaimana drama ini
memperlakukan kematian dan kehilangan dari sudut pandang yang berbeda.
Kita menjumpai banyak sekali kematian di
sini. Bahkan, semuanya sudah dimulai sejak episode pertama. Yang saya tangkap, Against
The Current tidak memperlakukan kematian semata-mata sebagai sesuatu yang
buruk. Benar, kematian membawa kehilangan dan kesedihan. Namun, drama ini
menceritakannya dengan cara yang indah tanpa harus mendramatisasi kepergian
seseorang secara berlebihan.
Saya tanya, siapa yang nggak menangis untuk
setiap adegan kematian di drama ini?
Bagaimana bisa menahan tangis kalau dialog,
BGM, dan ekspresi wajah para tokohnya kompak mengajak kita menangis?
Lanxiang beruntung.
Ia diberi umur panjang untuk menyaksikan orang-orang yang dicintainya menemukan
kehidupan yang mereka inginkan.
Sebagai penonton, ada satu pertanyaan yang
ingin sekali saya ketahui jawabannya: Apakah
Lanxiang bahagia?
Saya ingin sekali memeluknya dan mengatakan,
terima kasih sudah bertahan dan memilih untuk terus hidup.
It's a bittersweet ending for me as a viewer.
My
Two Cents on Against The Current
Against
The Current merupakan drama yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul Lan
Xiang Yuan (兰香缘)
karya He Yanshan (禾晏山).
Saya
nggak baca novelnya. Berdasarkan komentar orang-orang yang baca novelnya, adaptasi
drama ini dibikin berbeda. Sebagai penonton yang ga baca novelnya, saya
menganggap cerita Against The Current sangat bagus. Cerita dan penokohan
terstruktur dengan sangat baik, mendetail. Pengolahan konflik tidak
terburu-buru. Namun, ada sejumlah membaca novel yang merasa kurang sreg dengan
perubahan yang terjadi dan berakhir membandingkan kedua-duanya.
Pertanyaannya,
bagian mana dari novel yang perubahannya bikin nggak suka?
Kalau
saya baca deskripsi karakter Jinqi di novel, saya malah bersyukur versi dramanya
dibikin seperti yang kita nonton. Nggak kebayang aja. Oke, Saya nggak ragu pada
skill akting Liu Xueyi. Saya yakin dia bisa meranin karakter modelan begitu.
Masalahnya, Against The Current yang harus ganti genre—slice of life ke thriller,
suami sikopet. Nggak banget.
Apakah adaptasinya berhasil?
Saya nggak punya jawabannya, karena drama ini tidak mengikuti format dasar novelnya sebagai cerita tentang tokoh utama yang terlahir kembali dengan membawa ingatan masa lalu.
Saya
juga membaca komentar sejumlah komentar yang menyoroti porsi romance Against
The Current. Sayangnya, ketidakpuasan tersebut diarahkan langsung kepada
Lanxiang. Disebut istri nggak berbakti lah, apalah itu. Katanya Jinqi udah
berkorban segimana besarnya, Lanxiang-nya lempeng aja. Ya Allah Ya Rabb, orang-orang
beneran nonton drama ini nggak sih? Beneran paham karakter tokohnya? Atau sambil
nonton sambil nyusun scenario sendiri di dalam kepala, kemudian menaruh ekspektasi
itu kepada cerita dan Lanxiang?
Trus
dijawab—apa susahnya sih menyisipkan romance ke dalam cerita? Saya nggak suka
nonton drama yang menuntut penonton harus mikir. Mau nonton yang ringan aja.
GANTI
TONTONAN!
DRAMA
INI BUKAN UNTUK KAMU.
Gampang
kan?
Trus
masih ngeyel sampa lebaran kuda.
Yang
menarik dari perdebatan Against The Current, bagaimana kita terperangkap dalam
ide yang mengatakan setiap orang berhak punya POV berbeda terhadap drama ini.
Sampai di sini saya sepakat. Yang bikin kesal adalah ketika orang-orang mencampur-adukkan
masalah selera dengan kebebasan interpretasi sebuah karya.
Ada
perbedaan antara tidak menyukai sesuatu, tidak memahami sesuatu, dan menganggap
sesuatu itu buruk. Ketiganya tidak selalu sama.
Saya
nggak mempermasalahkan orang punya penilaian berbeda terhadap ATC. Silakan saja
kalau memang nggak suka. Yang saya soroti adalah ketika ketidakcocokan personal
itu kemudian diterjemahkan menjadi kekurangan karya, seolah-olah sebuah cerita
harus mengikuti selera kita agar bisa
dianggap bagus.
Tampaknya
sebagai penonton, kita masih kesulitan menetapkan batasan-batasan yang jelas
untuk diri kita sendiri.
Jinqi
adalah red flag.
Buanyak
banget komentar seperti ini di temlen medsos saya.
Saya
sempat menyenangi pelabelan red flag vs green flag pada tokoh fiksi, hingga
akhirnya saya merasa muak. Seolah-olah karakter yang diberi tanda red flag
nggak layak disukai. Red flag adalah identitas yang akrab dengan karakter
buruk.
Saya
nggak terima Jinqi disebut red flag.
Jujur,
saya mulai alergi dengan pelabelan ini. Bukan karena saya menganggap Jinqi
sempurna atau semua tindakannya bisa dibenarkan, melainkan karena saya merasa
label semacam ini kerap menyederhanakan karakter yang seharusnya bisa dibaca
dengan lebih kompleks.
Seolah-olah
kita sudah tahu siapa dia hanya dengan memberinya satu label.
Padahal,
karakter fiksi tidak selalu sesederhana itu. Ada latar belakang, motivasi,
kontradiksi, dan perkembangan yang perlu kita ikuti sebelum memutuskan
bagaimana kita memandangnya.
Oleh
sebab itu, hal pertama yang saya lakukan untuk memahami karakter adalah dengan
melihat ia dari jauh—saya memilih berjarak. Ini membantu saya memahami satu
karakter lebih dalam agar saya tidak terburu-buru menghakimi. Nggak hanya
berlaku pada tokoh protagonist, tapi antagonisnya juga.
Tapi
kan kita nonton untuk nyari hiburan?
Ya.
Saya ga menampik itu. Kadang, saya butuh nonton drama ringan yang ga pake
mikir. Saya cuman butuh haha-hihi liat orang jatuh cinta, contohnya.
Saya
termasuk penonton yang punya tombol on/off, kapan harus menghidupkan logika fiksi,
kapan harus mematikkannya—tergantung apa yang sedang ingin saya nonton. Saya
berusaha menempatkan diri sesuai apa yang saya putuskan untuk ditonton. Kan nggak
lucu, misalnya saya nonton drama idol ringan, trus saya komentarin ketidaklogisan
karakter atau ceritanya—saya mati-matian komentar ceritanya nggak masuk akal.
Lah, kalau memang sedari awal dramanya dibuat nggak masuk akal, berarti nggak
ada yang salah dong? Yang salah adalah saya yang keliru memilih tontonan. Kalau
mau nonton yang logis ya jangan nonton drama idol. Sesederhana itu tapi nggak
semua penonton sanggup dan mampu.
Menurut
pemahaman saya, red flag bukan merujuk pada identitas mutlak seseorang tapi
tanda peringatan atau gejala yang berpotensi mengarahkannya menjadi manusia problematic.
Jinqi
bukan red flag. Benar, dia memiliki kekurangan yang jika dilihat di mana dan bagaimana
ia tumbuh, itu bisa dimaklumi tanpa membenarkan. Tapi apakah Jinqi problematic?
No. Saya tidak melihat itu. Saya nggak melihat Jinqi sebagai manusia manipulative.
Di mata saya, Jinqi adalah tokoh utama pria yang sangat realistis di drama
kostum. Dia nggak datang sebagai manusia yang sudah selesai dengan dirinya,
tapi yang mau terus belajar dan memahami. Jinqi memberi ruang yang luas kepada
dirinya untuk tumbuh, dan itu dimulai ketika ia mengenal dan menikahi Lanxiang.
Dari
sekian banyaknya kritik yang ditujukan kepada ATC, adalah unsur romance yang
paling banyak mendapatkan suara.
Sewaktu
menonton The First Jasmine, saya suka banget dengan relasi suami-istri tokoh
utamanya. Rasanya saya kayak dapat angin segar. Nggak banyak drama kostum yang
pernah saya nonton mau menceritakan
kehidupan suami istri seperti yang TFJ lakukan. Biasanya abis nikah, punya
anak, kelar. TFJ memilih menceritakan dinamika pada relasi tersebut dengan
berusaha realistis.
Itu
pula yang dilakukan Against The Current. Saya tidak sedang membandingkan atau
menyamakan dua drama tersebut. Saya butuh drama yang sejenis mereka. Beberapa judul sudah masuk list.
Semoga cocok.
Against
The Current memilih menceritakan romance dengan santun. Dan ini cocok-cocok saja dengan premis dan karakter
tokohnya. Udah sesuai alur dan jalurnya.
Ini
preferensi pribadi ya. Saya suka lihat Lanxiang dan Jinqi ngobrol santai berdua.
Itu domestic behavior nya pasutri yang udah belasan tahun menikah. Sayang, adegan
mereka nggak banyak ya. Huhuhu.
Saya
juga sukaaaa banget kostum dan penataan make up di Against The Current. Ini
juga nggak kalah detailnya. Saya ambil contoh tokoh Jinqi dan Lanxiang.
Perubahan penampilan mereka nyata terlihat berdasarkan timeline kehidupan dan
status. Saya nggak ngerti ornament atau symbol yang melekat di penampilan
mereka. Saya melihat perubahan Jinqi tuh tetep keliatan natural dan pas aja. Nggak aneh, nggak kaku.
Se-nyata itu. Jinqi sebelum menikah dan Jinqi versi bapak dua anak vibes-nya nggak
bohong. Jadi nggak cuma terasa dari perubahan tone suaranya, tapi juga
penampilan fisiknya. Keren deh, yang megang divisi ini. Totalitas tanpa batas.
Saya keliru tentang satu hal. Saya pernah berpikir bahwa Jinqi-lah yang akan menjadi pintu damai untuk trauma di hati Lanxiang. Bahwa pernikahan akan mengubah sudut pandang Lanxiang terhadap duka atas kehilangannya. Sempit sekali pemikiran saya.
Lanxiang
merumuskan jalannya sendiri. Ia menulis.
Menulis
yang semua menjadi katarsis bagi Lanxiang, ternyata kelak menjadi jalan bagi terbukanya
kebenaran peristiwa masa lalu yang berhubungan dengan keluarga Shen.
Jadi, apa makna dari judul Against The Current?
Perempuan yang melawan.
Eh,
saya udah ngomong panjang lebar begini, tetap berasa masih kurang masih ada yang
pengen diomongin. Tapi ini aja udah 17 halaman Ms. Word. Udah panjang bangettt
ini mah. Udahan aja yuk?
Maafin
ya kalau suara kita nggak sama.…
Rating
:
Fiksi
yang baik ga selalu meminta kita menyetujui manusia. Adakalanya, fiksi 'meminta' kita melihat
manusia dengan lebih utuh.
Dan saya
selalu jatuh cinta pada drama yang 'memiliki' kemampuan bercerita mendetail,
konsisten, dan menawarkan pengalaman emosi yang kaya—itulah Against The Current
di mata saya.
Against
The Current layak dicintai banyak orang.
Drama
ini membawa pesan kepada para perempuan, satu pohon tidak akan sanggup menjelma
hutan. Sebuah lampu saja, nyalanya tidak akan mempunyai langkah yang panjang.
Maka menjadi peduli kepada sesama perempuan seperti yang dilakukan Lanxiang kepada
perempuan-perempuan di Against The Current adalah kekuatan yang harus
dihidupkan.
Ingat,
drama ini adalah sebuah pelajaran untuk terus hidup dan berjuang.
Tabik,
Azz.
Disclaimer : tulisan di bawah ini sangat subyektif, ditulis hanya mewakili sudut pandang saya sebagai penonton ATC.
Sejak
meniatkan hati menulis review Against The Current (ATC), saya sudah berkali-kali
duduk bengong di depan laptop—nggak tau bagaimana memulai tulisan. Selama
berhari-hari, layar laptop hanya menampilkan Ms. Word yang kosong. Blank.
Ini biasa terjadi setiap kali saya menyukai satu drama. Perasaan saya terlalu
penuh hingga membuat saya kesulitan menemukan paragraph pembuka.
Saya terlalu menyukai Against
The Current.
Saya
pertama kali tau keberadaan Against
The Current saat nggak sengaja menonton trailernya di aplikasi WeTV. Jatuh
cinta pada pandangan pertama—anggaplah seperti itu yang terjadi pada saya—Ada sesuatu
pada cuplikan trailer ATC yang bikin saya penasaran dan berharap agar drama
tersebut segera ditayangkan. Begitu ATC tayang, saya langsung nge-gas nonton
episode perdananya. Saya yakin banget ini akan menjadi salah satu drama kostum
terbaik yang pernah saya nonton. Beneran deh, saya ga pernah seyakin ini nonton
episode pilot drama China.
Dan
itulah yang terjadi. Against The Current membuktikan, kali ini saya nggak salah
menaruh ekspektasi. Biasanya, untuk drama China, saya butuh 3-6 episode untuk
bisa masuk ke dalam ceritanya. Tapi
dengan drama ini, saya hanya butuh satu episode untuk yakin ini bakal bagus
banget seterusnya. Hook di episode
pertama berhasil.
Episode
pertama, brutal-nya bukan yang bikin ngeri
tapi nyesek, pilu. Intens-nya nagih. Penggambaran adegan-adegan
kematiannya juga eksplisit dan cenderung sangat berani. Bagi sebagian orang ini
mungkin butuh trigger warning. Di sisi lain, gaya penceritaannya luwes, ga
dikesankan menghakimi—penonton diberi kebebasan melakukan apa pun kepada cerita dan tokoh-tokohnya.
Saya
punya banyak sekali alasan mengapa saya memasukkan Against The Current ke
daftar drama kostum terbaik yang pernah saya nonton. Di sini, saya akan
menuliskannya satu-persatu—alasan-alasan itu. Bagi sebagian orang, ini mungkin
akan terdengar bias—sangat bias, sebab sejak awal saya melihat drama ini
menggunakan sudut pandang saya yang subyektif, berangkat dari rasa suka yang dalam. Jadi, bila dalam penulisan review suka-suka ini kamu menemukan
sesuatu yang nggak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan mengenai Against The
Current, that’s okay. Bukankah kita
memiliki suara di dalam kepala masing-masing? Yang meski nadanya nggak selalu
selaras dengan suara-suara di luar sana, itu tetaplah suara kita. Malah, kita
boleh kok saling mendengarkan dengan baik tanpa harus merasa salah satu di
antara kita lah yang paling tepat nadanya.
So, here we go.
It’s me. Azz and her POV.
Storyline, Plot dan Konflik
Shen
Jialan, cucu dari Cendekiawan Agung Shen Qihan—Sekretaris Agung Kekaisaran,
ditunangkan dengan Lin Jinqi, cucu dari Menteri Urusan Kepegawaian. Dua
keluarga terpandang itu sepakat menyambung hubungan kekerabatan melalui pernikahan.
Shen
Jialan semata bahagia menerimanya. Ia adalah anak yang patuh dan berbakti.
Namun,
ketika pergolakan politik melanda istana kekaisaran, sang kakek dituduh
melakukan pengkhianatan dan seluruh keluarganya ikut dihukum.
Beruntung,
Jialan diam-diam diselamatkan oleh Xu Wan Quan dan istrinya—sepasang budak yang
sebelumnya pernah ditolong ibunya Jialan saat keduanya pontang-panting mencari
bantuan untuk anak perempuannya yang sakit parah. Untuk menyelamatkan Jialan, mereka
kemudian menggunakan identitas—Xu Lanxiang, nama putri mereka yang baru saja
meninggal. Kini hidup dengan nama Xu Lanxiang, Shen Jialan menjadi seorang
pelayan rendahan di kediaman keluarga Lin, tempat keluarga angkatnya bekerja.
Sebenarnya,
saat huru-hara terjadi, keluarga Lin ikut terseret, namun kakek Lin Jinqi
memilih menyelamatkan keluarganya dan menerima tawaran damai Kaisar. Itulah yang terjadi. Akibat kekuasaan, satu generasi
dipaksa hilang, sedang satu generasi lainnya tetap bertahan.
Meski
harus menghadapi kerasnya kehidupan barunya, Lan Xiang menolak tunduk pada
takdir. Berbekal kecerdasan, ia berhasil bertahan di tengah intrik keluarga Lin
sembari berusaha menjaga identitas aslinya tetap tersembunyi. Lanxiang
menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Ia hadir melampaui batas-batas kelas social. Sesungguhnya, Lanxiang sedang
belajar mengamini pesan terakhir mendiang ibunya yang memintanya agar tetap
hidup. Permintaan itu ditulis pada selembar kertas doa yang kemudian selalu
dibawa Lanxiang ke manapun ia pergi.
Lanxiang
berjuang keras agar ia dan keluarga angkatnya bisa terbebas dari status budak.
Suatu
hari kesempatan itu akhirnya datang. Namun hanya sebentar. Tanpa sepengetahuan
siapa pun, Lin Jinqi nekat meminta dekrit Kaisar untuk menikahi Lanxiang.
Rupanya, selama Lanxiang bekerja sebagai pelayan di kediaman Lin, Lin Jinqi
diam-diam menaruh perasaan sayang kepadanya. Jinqi tidak melihat kemungkinan
yang bisa menyatukan mereka berdua. Perbedaan derajat keduanya terlalu jauh. Ia
berpikir, satu-satunya jalan adalah dekrit kaisar.
Lalu,
bagaimanakah Lanxiang menjalani hidupnya? Tidakkah takdir sedang bermain-main dengan hidupnya? Ia dipaksa
menikah dengan seseorang yang dulu dengan mudahnya memutuskan hubungan
pertunangan demi perkara politik.
47
episode Against The Current menceritakan bagaimana Shen Jialan hidup sebagai Xu Lanxiang dengan tetap
menjadi dirinya sendiri, ia mampu menjaga martabat dan prinsip-prinsip yang
diyakininya.
Ketika
saya mengatakan ada sesuatu pada drama ini yang membuat saya tertarik bahkan
hanya dengan menonton cuplikan trailernya, saya benar-benar kesulitan
mendeskripsikan apa yang saya rasakan. Saya mencoba mencari kata atau kalimat
untuk mengartikulasikan itu tetapi saya tetap nggak menemukannya. Saya jatuh
suka dengan sorot matanya Tan Songyun yang terlihat sendu—seperti menyimpan
banyak cerita. Sewaktu menonton trailer ACT, saya nggak tau sama sekali drama
ini menceritakan apa, saya juga nggak tau nama tokoh yang diperankan Songyun.
Aneh kan? Jarang-jarang loh saya begini. Saya lah orang yang sulit dibikin
jatuh cinta itu, tapi begitu jatuh cinta… ga usah dibahas. Ketebak menggilanya
seperti apa. It’s pure magic.
Selain
sorot mata Songyun, saya juga menyukai nuansa yang dibangun potongan-potongan
adegan di trailer, pada tone dan
gradasi warna gambarnya, sinematografinya. Ada nuansa atmospheric yang sangat kental. Di trailer tersebut, saya melihat
perempuan-perempuan muncul dengan ekspresi wajah bermacam-macam, yang berbicara
tentang mimpi dan harapan. Barangkali, itulah yang membuat saya nggak sabaran
untuk segera mendapatkan jadwal tayang Against The Current.
ATC
merupakan drama female-centric yang mengusung kehidupan perempuan sebagai pusat
gravitasi cerita. Mengenai female-centric,
saya perlu menekankan bahwa drama ini nggak memotret kehidupan perempuan
menggunakan lensa romansa dengan tokoh utama pria. Female centric yang digunakan bukan berkisar pada bagaimana kehadiran tokoh utama pria
memengaruhi kehidupan tokoh utama perempuan. Porsi romance tidak pernah
diniatkan akan menjadi plot utama.
Menurut
pemahaman saya setelah menonton 47 episode drama ini, female-centric drama yang
diusung Against The Current artinya
menempatkan pengalaman hidup perempuan dalam cerita yang meliputi perkembangan
karakternya di tengah konflik, bagaimana ia menentukan pilihan-pilihan hidupnya,
bagaimana relasi-relasi yang berkembang turut mempengaruhi sudut pandangnya
sendiri.
Sejumlah
pertanyaan menarik bisa menggambarkan pondasi female-centric yang digunakan Against The Current.
Siapa aku sebenarnya?
Bagaimana aku bertahan dalam
system yang tidak berpihak kepadaku?
Apa yang sebenarnya aku
inginkan?
Bagaimana aku menentukan
hidupku sendiri?
Bagaimana hubunganku dengan
keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan perempuan lain bisa membentuk diriku?
Yang
menarik, saat menonton drama ini, saya sama sekali tidak merasakan bentuk
perlawanan yang frontal (keras) terhadap system kehidupan yang kental aroma
patriarkinya. Bentuk perlawanan ditunjukkan dengan cara halus dan cerdik.
Lanxiang gak ditampilkan bak pahlawan wanita yang penuh retorika, tajam, dan
keras kepala. Dari sorot matanya yang penuh kesigapan, Lanxiang tumbuh menjadi
perempuan yang pandai membaca situasi, lihai menemukan cara untuk bertahan
hidup dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkannya.
Ya.
Garis cerita Against The Current ditarik dari
sudut pandang Lanxiang. Arus cerita berawal dan berakhir dari dan kepada
dirinya. Ia menjadi premis utama dan pion yang menggerakkan konflik, tetapi ia
tidak menjadi satu-satunya pusat cerita. Berangkat dari dirinya, rangkaian
kisah membentuk plot dan konflik yang berkembang dengan sangat rapi, tidak
tumpang tindih, tidak merusak cerita utama, konsisten berpegang teguh pada
premis awal. Jika sedari awal kamu sudah melewatkan ini, kemungkinan kamu nyasar di dalam memahami cerita sangat besar potensinya.
Against
The Current mengingatkan saya sewaktu membaca Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta
Toer belasan tahun lalu, saya dibuat merenung untuk waktu yang sangat lama.
Tetralogi Buru itu mengambil latar waktu sekira antara 1898-1918, namun muatan
fenomena social yang terjadi masih banyak dirasakan di era modern saat saya
membaca novel tersebut. Saya melihat ini terjadi di Against The Current. Meskipun
drama yang naskahnya ditulis oleh Tong Hua dan Xiao Lou ini mengambil latar
waktu masa lampau, di era kekaisaran Tiongkok—ada yang bilang Dinasti
Ming—namun muatan konflik dan isu yang meliputi dunia perempuan di drama itu
masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Hebatnya, cara bercerita drama
ini nggak terkesan menggurui. Kritik disampaikan dengan cara yang santun dan
menyentuh. Drama ini tidak terlihat seperti berusaha memperjuangkan emansipasi
perempuan secara brutal. Ia memilih
jalur reflektif dan jujur. Seperti ingin mengatakan, beginilah kenyataan hidup
yang dijalani para perempuan di dunia ini. Sebagai perempuan, apa yang bisa kita lakukan
agar tetap mampu menjalani hidup sebaik-baiknya, sehidup-hidupnya? Alih-alih
terperangkap dalam ketidakberdayaan dan kekalahan yang menyakitkan, Against The
Current memberikan sudut pandang baru tentang bentuk perlawanan yang lain.
Di
tengah arus patriarki yang kuat, Against The Current ingin mengingatkan kembali
betapa besar dan kuat peran perempuan di tatanan kehidupan bermasyarakat—bukan
sebagai pelengkap atau pesuruh, tapi ia menjadi bagian penting
yang turut menyusun suatu peradaban. Lihatlah Qin Shuhua yang dikenal sebagai
Madam Lin, ibunya Lin Jinqi. Akan jadi apa keluarga Lin kalau urusan rumah
tangga nggak dipegang orang se-cakap beliau?
Against
The Current menjadi drama female centric
yang bisa diterima seluruh lapisan karena tokoh-tokoh perempuan yang
diangkatnya tidak hanya tertuju pada satu kalangan saja. Ia memotret dari berbagai sudut kehidupan—bangsawan dan budak. Tak
hanya perempuan-perempuan yang memiliki hak
istimewa pada tatanan social, tetapi juga perempuan-perempuan yang
kehilangan banyak hak atas hidupnya hanya karena ia tak lahir dari garis
keturunan biru. Drama ini seolah
ingin menegaskan bahwa patriarki tidak memilih warna. Ia hanya memilih perempuan.
Sudah
sangat jelas di episode perdana, Lanxiang tidak pernah diarahkan untuk
menjalankan plot balas dendam. Bukan itu tujuan drama ini dibuat. Against The
Current juga tidak menjadikan identitas Lanxiang sebagai bagian cerita yang
akan memberikan perubahan arah konflik, bahwa itu menjadi bagian dari plot, ya,
tapi tidak menjadi konflik utama. Ini penting sekali karena titik inilah yang
memberikan perbedaan besar antara Against The Current dan drama kostum lain
yang kerap disebut-sebut sebagai female centric.
Di
mata Against The Current, sebaik-baiknya perlawanan adalah dengan tetap memilih
hidup. Seperti yang dilakukan Ji’er. Ia menolak kalah oleh keadaan. Meski tahu
pilihan hidupnya akan dipenuhi kesulitan, tapi dia nggak mau menyerah.
Ada
lagi satu hal yang menurut saya sangat brilliant, Against The Current tidak semena-mena menyoroti posisi kaum
lelaki hanya karena drama ini membawa isu emansipasi dan feminism. Porsinya realistis. Drama ini tidak berupaya menarasikan
ketidakberpihakan system pada perempuan adalah karena semata kesalahan para
lelaki. Artinya, drama ini menghargai kecerdasan penonton. Ia percaya, penonton mampu menangkap pesan yang ingin ia sampaikan
tanpa harus menjelaskannya dengan retorika.
Unsur
politik yang kerap menjadi pusaran utama drama kolosal tidak berlaku di sini. Against
The Current memilih jalan yang tak
biasa—irisan politik tidak dibiarkan mengganggu focus cerita utama tetapi ia
tetap menjadi bagian penting yang membentuk keutuhan cerita. Bahwasanya politik
di masa itu (dan masa sekarang) sangatlah berpengaruh bagi seluruh aspek
kehidupan. Siapa yang pemimpin, seperti apa dia memimpin, dan seperti apa keputusan-keputusan
politiknya bisa secara langsung memberikan efek kepada masyarakat di bawah.
Ada
satu adegan yang belum pernah saya lihat di drama kostum yang saya pernah saya
tonton dan ini ngasih saya pengetahuan baru. Adegan pemberontakan di ibukota.
Seluruh daerah kekaisaran terkena imbasnya. Di drama ini, reaksi dari para
pelayan/budak diberi sorotan. Saya tidak akan melupakan reaksi Yu Chan saat
pertama kali mendengar adanya perebutan kekuasaan antar saudara. Perang tidak
hanya soal pergeseran kekuasaan yang melibatkan orang-orang di atas. Yang akan
kena dampak pertama adalah kalangan bawah. ATC ingin menunjukkan peran para
pelayan/budak pada masa-masa rentan tersebut. Selama nonton drama kostum Tiongkok,
ini pertama kali saya melihat kehidupan para budak/pelayan mendapatkan porsi
yang besar. Ini menambah pemahaman baru buat saya.
Inilah
beberapa alasan inilah yang bikin saya betah menonton Against The Current
sampai episode terakhir. Garis ceritanya sudah selesai dirumuskan sebelum
ditulis dan divisualisasikan—penulisnya tahu betul apa yang sedang ingin ia
sampaikan kepada penontonnya. Kenapa saya berpikir demikian? Drama ini memilih setia
pada premis. Ia tidak menjanjikan hal
lain. Yang berusaha dilakukan adalah
menjawab apakah Lanxiang akhirnya bisa hidup sesuai permintaan ibunya. Dan kita
tahu jawabannya usai menamatkan 47 episodenya.
Ucapan
Xue Gui Hua, ibu angkat Lanxiang berikut membantu kita menemukan jawaban itu.
“I hoped you’d
live like wild grass. Not only did you do that, but you’ve also done far more
and far better than I’ve ever imagine. You’re like wild grass, but also like a
flower. Like a great tree. Not only have you made a good life for yourself, but
you’ve helped others live well too and helped them make a place for themselves
in this world.”
Lanxiang
tak hanya hidup tanpa kehilangan kesejatian dirinya. Ia juga menjadi pohon besar yang memberikan keteduhan kepada orang lain.
Saya
jatuh cinta pada cara bercerita Against The Current. Butuh keberanian,
idealisme, kepekaan, intelektualitas dan pengetahuan mendalam untuk menulis
cerita se-lugas ini. Saya menemukan banyak unsur yang turut membentuk identitas
drama ini, salah satunya filosofi kehidupan yang mengakar pada budaya dan
kepercayaan yang dihadirkan berupa symbol pada benda, nyanyian, dan
lain-lainnya.
Saya
menyukai bagaimana drama ini konsisten menjaga nilai-nilai adat tradisional,
misalnya aturan pergaulan laki-laki dan perempuan. Tak banyak drama kostum memerhatikan
detail satu ini. Jadi, rasa tradisional Against The Current terasa kental.
Kuat.
Against
The Current memiliki cara bertutur yang sangat indah, puitis, hangat, manis,
terkadang menyisakan getir dan sedih yang melekat lama pada. Seperti halnya
hidup, nano-nano, ramai rasanya—yang baca pake nada ketahuan umurnya. Lapisan
konflik drama ini tidak tumpang-tindih, penyelesaiannya tuntas. Pergerakan
plotnya tidak monoton, luwes. Tak terasa satu episode selesai.
Ini
adalah cerita tentang kehidupan perempuan yang hidup di satu era di masa lalu,
dengan isu-isu keperempuanan yang masih terus bernapas hingga di detik ini. berdiri kokoh sebagai drama female centric
yang realistis dan memikat. Ia merangkul
dan menguatkan.
Selama
menonton, saya kerap bergumam, yeah,
that’s how things are in real life.
Penokohan dan Perkembangan
Karakter
Saya masih inget ada satu komentar di bawah
poster karakter Against The Current yang bilang kurang lebih begini, “buset, sekampung banget ini?”
HAHAHAHAH karena sebanyak itu tokoh-tokohnya.
47 episode dengan tokoh segambreng, ini gimana cara ngapalinnya?
Pada banyak drama yang saya tonton, khususnya
drama kostum, fokus saya sering kali hanya tertuju pada tokoh utama dan tokoh
jahatnya—karena hanya mereka yang dibiarkan menonjol. Karakter-karakter
pendukung tidak selalu mendapatkan detail karakter yang cukup kuat untuk
membuat mereka berkesan.
Against The Current memperlakukan
tokoh-tokohnya dengan adil. Mereka diberi ruang untuk tumbuh, termasuk karakter yang dinilai jahat oleh penonton. Mereka ada untuk diingat, bukan sebagaitempelan, melainkan sebagai manusia yang
memiliki cerita kehidupannya sendiri. Identitas mereka jelas, perkembangan
karakternya terasa organic dan orisinil.
Banyak irisan cerita dalam drama ini yang
membuat saya percaya bahwa mereka bukan sekadar kisah yang hidup di dalam
fiksi. Seolah-olah mereka benar-benar pernah hidup di suatu masa. Mungkin saja,
rupa kisah mereka adalah orang-orang yang saya kenal.
Saya tidak perlu memaksakan diri untuk
memahami situasi dan perasaan tokoh di drama ini sebab dramanya sendiri sudah
ngebantu banget saya untuk bersimpati. Jadi, sebelum kelepasan nge-judge, saya
sudah lebih dulu paham kenapa si tokoh melakukan tindakan tertentu. Drama ini
bukan soal siapa yang jahat siapa yang baik. Seperti halnya di kehidupan nyata,
kita nggak akan selalu menjadi protagonist. Boleh jadi, di kehidupan orang lain
kita lah antagonisnya.
Tokoh-tokoh di drama ini memiliki
kompleksitas karakter.
Zhao Xingtang, misalnya. Kita bisa dengan
mudah menyebut dia jahat berdasarkan apa yang ia lakukan. Tapi, benarkah dia
jahat? Kalau sedari awal kita sudah memahami konflik utama drama ini adalah
perempuan vs system, maka kita harus melihat kembali keputusan yang menilai
Xingtang jahat.
All she wants is to embrace her freedom and live her life as an
independent woman, but the world she lives in simply won’t let her.
System di mana ia hidup tidak memberinya
pilihan lain. Maka ia melawan dengan cara yang dimaknainya benar. Saya tidak mengatakan bahwa yang ia lakukan
benar. Tetapi, saya mencoba memahami bagaimana ia menjadi demikian.
Sebagai penonton Against The Current, memahami
POV tokoh sangat penting bagi saya agar tetap berada di track yang tepat. Menurut saya, ini bisa terjadi bila dramanya
mampu meyakinkan penonton bahwa orang-orang yang ia ceritakan adalah manusia nyata.
Dan jika ini berhasil, penonton akan dengan mudah membangun relasi emosi dengan
mereka, para tokoh tersebut.
Saya teringat, reaksi saya saat menonton
episode pertama ATC—saya nangis jelek. ATC membuat saya bersimpati pada Shen
Jialan—relasi emosi itu berhasil terjalin tanpa proses panjang. Alih-alih
memikirkan bagaimana cara Shen Jialan membalas dendam, sepanjang menonton
episode-episode ATC, saya hanya berharap
Shen Jialan hidup bahagia. Itu saja.
Saya nggak akan capek bilang, betapa rapi
penokohan di drama ini. Setiap tokoh membawa pesan tanpa terkesan menceramahi penonton.
Drama ini berhasil merangkul begitu banyak isu perempuan dalam tatanan kehidupan sosial
tradisional, yang sebagian di antaranya masih relevan dengan kehidupan modern.
Semuanya dibawakan dengan rendah hati,
reflektif, dan menggugah.
Saya melihat Against The Current sebagai
sebuah miniatur kehidupan. Di dalamnya, kita bisa melihat sistem sosial yang
tidak selalu ramah kepada perempuan, beserta bagaimana sistem itu membentuk
kehidupan dan pengalaman para tokoh perempuannya.
Pada akhirnya, boleh dikatakan, tokoh utama
drama ini adalah perempuan. Ia punya banyak wajah, nama, dan kisah. Di
kehidupan kita, mereka bisa menjelma siapa saja.
Membicarakan perkembangan karakter
tokoh-tokoh Against The Current, yang muncul di kepala saya adalah Lin
Xiuwan—adik sepupu perempuan Lin Jinqi. Di awal kemunculannya, trouble maker kecil ini bikin penonton
menahan kesal gara-gara kelakuannya yang manja dan kekanakkan. Ia melewati
turbulensi emosi yang cukup ekstrim setelah terlibat peristiwa buruk. Ini
kemudian menjadi titik balik Xiuwan untuk menata kembali hidupnya.
Xiuwan hanyalah satu dari banyaknya tokoh
yang mengalami perkembangan karakter di Against The Current. Perkembangan
karakter yang saya maksud adalah terjadinya perubahan-perubahan pada tokoh
semula dan kemudian, ini bukan hanya soal pergantian status tapi juga tentang
bagaimana mereka berpikir dan bertindak. Ada yang berubah pada bagaimana mereka
menjalani dan memaknai hidup.
Cara Against The Current memperlakukan
tokoh-tokohnya menunjukkan penghargaan dan dedikasi. Ia tidak menafikan perasaan dan emosi yang mereka miliki.
Sebaliknya validasi diberikan, bukan untuk membenarkan tetapi mengakui demikianlah
sisi paradoksial manusia.
Menurut saya, inilah cara bercerita paling
jujur.
Kita tidak akan lupa betapa tragisnya kematian
Marquis Yuan. Sebagian penonton mungkin merasa ia layak menerimanya setelah apa
yang ia lakukan pada Lin Xiuru. Lalu kita bertanya kembali, apakah yang
dilakukan Yuan pada Xiuru itu salah?
Apakah itu memberikan kita hak mutlak untuk membencinya? Bagaimana dengan
reaksi Lin Jinqi yang berubah menggila usai
mendengar kematian sahabatnya itu? Di mata Jinqi, Yuan tetaplah orang yang
pernah menyelamatkannya dulu.
Kontradiksi ini seharusnya menjadi pengingat
kepada kita agar berhati-hati memberi label pada tokoh-tokoh Against The
Current. Mereka bukan hanya tokoh hitam dan putih.
Drama ini tegas menampik ide yang mengatakan
hanya tokoh-tokoh utama saja yang berhak
tumbuh. Tak hanya Lanxiang dan Jinqi, tokoh-tokoh minor seperti Jinlan yang
porsi kemunculannya tidak banyak tapi meninggalkan kesan yang sulit dilupakan
penonton.
Perkembangan karakter tak selalu harus mengarah pada nilai positif, ia bisa berlangsung sebaliknya.Jika itu tak seketika terjadi dan menjadi melainkan melalui proses yang masuk akal, maka bisa dikatakan perkembangan karakternya jalan. Berhasil. Apakah Against The Current berhasil? Saya tidak ragu-ragu mengatakan ya.
Ini dilakukan Cui Que. Against The Current gak bikin karakternya semata jahat aja, penonton paham kenapa dia kayak gitu tapi nggak bisa ngasih simpati. Terdapat perbedaan yang besar antara Cui Que dan Xingtang. Terletak pada motivasi yang mendasari tindakan mereka.
Akting & Chemistry
Di episode pilot, adalah
adegan saat ibu kandung Shen Jialan dan ibu angkat bersimbah air mata sebelum
melakukan perpisahan yang bikin saya bengong sejenak—lupa kalo mereka lagi
acting. Saya inget persis reaksi saya, “wah,
gilak. Keren banget actingnya. Gak mungkin aktris biasa ini.”
Saya
baca Guo Ke Yu (ibu angkat Lanxiang) dan Ke Lan (ibu kandung Lanxiang) adalah
aktris teater yang sudah malang melintang di dunia acting mainland. Guo Ke Yu
sudah masuk ke dunia akting sejak usia 17 tahun. Waw.
Kamu
bisa langsung tau kalau mereka aktris veteran, melihat betapa hebatnya nuansa
emosi yang muncul di adegan tersebut. Aktingnya rapi dan mendetail. Itu tipe
adegan yang akan selalu kamu ingat saking powerful-nya. Perpaduan sentuhan
directing yang dingin dan kekuatan
acting mumpuni.
Membicarakan
acting di Against The Current, ga ada alasan untuk bilang nggak bagus. Nggak
ada satu pun yang kurang bagus aktingnya. Semuanya bagus, ciamik, kawin dengan perannya masing-masing.
Tapi
kayak nggak sah ya kalau nggak ngomongin acting dan chemistry Liu Xueyi dan Tan
Songyun?
Bentar.
Tarik napas dulu.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
Edyaaaaaaan
ya.
Saya
mulai dari Tan Songyun dulu.
Sebelum
Against The Current, saya udah nonton beberapa project Songyun. Ada yang saya
tamatkan, ada yang saya lepas. Bukan karena aktingnya jelek, tapi nggak cocok
aja dengan dramanya. Saya tau aktingnya Songyun bagus. Jam terbangnya tinggi.
Variasi pilihan perannya juga ga monoton.
Tapi,
setelah Go Ahead, barulah di Against The Current ini saya kembali bisa
merasakan pesona skill Songyun yang
kece super duper itu. Saya tekankan, ini adalah preferensi pribadi yang
didasarkan pada pengalaman nonton saya. Jangan sampai ada yang keliru
menerjemahkan maksud saya. Karakter Xu Lanxiang ngasih kesempatan ke Songyun
untuk mengekplor acting dengan sangat maksimal. Sering kejadian pada
aktor/aktris, problemnya bukan terletak pada skill acting, tapi karena miskinnya kedalaman karakter yang
diperankan—writing problems. Jatohnya
ya kayak biasa aja perannya, delivered emosi ke penontonnya ga menawan.
Perannya nggak menantang.
Nah,
mengikuti kisah Shen Jialan lalu Xu Lanxiang, bagaimana tokoh ini dibangun dan
dihidupkan, kekayaan emosi yang dimilikinya ngasih kesempatan Songyun untuk
mengeluarkan skill aktingnya. Ini peran yang sulit. Kamu perlu memahami
karakter Lanxiang seutuhnya untuk bisa merasakan detail acting Songyun.
Lanxiang
punya banyak sekali lapisan emosi. Perhatikan saja, Lanxiang sebelum tragedy
dan setelahnya. Nuansa wajahnya berbeda kontras. Lanxiang setelah tragedy
membawa luka trauma yang turut mengubah caranya melihat dan menjalani hidup.
Sekilas, ia terlihat dingin. Sering ekspresinya
sulit dibaca. Lanxiang bukan tipikal perempuan ekspresif. Inilah yang membuat
saya melihat tokoh satu ini menyedihkan. Sebelum tragedy, saat masih bernama
Shen Jialan, ia adalah anak perempuan pemalu yang santun. Lalu setelah melewati
peristiwa hidup yang kejam kamu berharap Lanxiang berubah ceria dan banyak
tertawa? Kamu menginginkan agar dia lebih ekspresif saat jatuh cinta? Jika itu
yang terjadi, Lanxiang keluar dari pondasi dasar karakternya.
Tan
Songyun, dengan kekuatan aktingnya berhasil menghidupkan karakter Lanxiang. Dia
memberikan detail pada rupa-rupa emosi Lanxiang yang digambarkan lewat
mikro-ekspresinya. Misalnya, adegan Jinqi mengikatkan benang takdir di tubuh
mereka. Adegan ini mengalami banyak sekali interpretasi berbeda dari penonton.
Di mata saya, ini adegan yang sarat emosi dan menjadi klimaks perasaan Lanxiang
kepada Jinqi.
“If I’d known I would marry
you, I would’ve taken better care of myeself…” Jinqi mengatakan ini pada
menit ke 25-26 episode 47, di sini ekspresi Lanxiang masih merasa Jinqi sedang
bercanda. Kalau ngeliat senyumnya Lanxiang, sepertinya dia sudah terbiasa
digombalin Jinqi. Vibes pasangan yang sudah belasan tahun menikah terasa banget
di sini. Tapi, coba perhatikan perubahan ekspresinya saat Jinqi mengatakan
dengan nada getir pada bagian—“… back in
Jinzhou.”
Lanxiang
menangkap firasat itu. Cepat sekali kejadiannya, transisi dari raut wajah yang
terbiasa menerima candaan Jinqi ke wajah yang menyadari sesuatu yang buruk akan
terjadi. Lanxiang tuh kayak mau bilang—no.
Tidak. Tolong, jangan lakukan ini. Asli, pas bagian ini saya udah mulai
nangis jelek.
“One lifetime is enough.”
Ada
yang bilang kalimat Lanxiang ini membuktikan dia nggak mencintai Jinqi. Duh
Gusti… Adegan yang nggak eksplisit begini memang sulit dipahami karena area
mainnya ada di ruang emosi yang dalam yang jauh dari kesan vulgar. Ini justru cocok dengan narasi bahwa mereka sudah belasan
tahun menikah.
Aku
membaca ini sebagai ekspresi denial-nya
Lanxiang terhadap apa yang akan terjadi berikutnya—kematian Jinqi. Lanxiang
antara sedih dan takut kehilangan. Mana air muka Jinqi udah mulai serius.
“You’re such a fool—“
Such a romantic thing to say. Tone playful-nya Lanxiang
makin menguatkan kalau mereka adalah pasangan yang sudah lama bersama dan
terbiasa saling bertukar canda.
Siapa
yang nangisnya makin menjadi-jadi di sini? IYA. SAYA.
Detik-detik
Jinqi mulai kehilangan kesadaran, di situ mikro-ekspresi Songyun makin gilak
sih. Itu klimaks banget cara nangisnya. Sangat cocok dengan karakter Lanxiang.
Bukan dengan tangis yang meledak-ledak, tapi yang tanpa suara tapi luka
kehilangannya terbaca.
Kalau
setelah adegan ini, ada yang merasa Lanxiang ga mencintai suaminya. Maybe you never truly understood
Lanxiang’s character to begin with.
Itu
hanya satu dari banyak adegan penting yang menunjukkan kematangan akting Tan
Songyun selama memerankan Lanxiang—karakter kompleks dengan lapisan emosi yang
tidak sederhana. Karakter seperti ini sangat sering disalahpahami. Di dunia
fiksi, juga dunia nyata.
Good
job, Seven! Truly impressive! Hats off!
Coba
sini bilang, kapan akting Liu Xueyi jelek? Nggak pernah kan? Dikasih peran apa
pun, dijabanin dengan sangat professional dan nggak pernah gagal pendalaman
karakternya. Berdasarkan testimoni orang-orang yang ngikutin project beliau, yang sering kejadian adalah dia kena prank
naskah—ceritanya nyawit di tengah jalan wkwk. Keinget pengalaman nonton Love at
Night. Premis ceritanya bagus, menarik minat nonton. Begitu mulai masuk
pertengahan—ceritanya kehilangan arah.
Pengalaman
saya menonton project Xueyi nggak banyak. Kabar
burung bilang aktingnya bagus. Saya percaya. Terbukti di Against The
Current, saya kena pelet Lin Jinqi. Akhirnya
ya…
Liu
Xueyi memiliki kemampuan akting lewat mata—ini bukan perkara mudah. Butuh jam
terbang tinggi dengan variasi peran yang beragam. Pengalaman hidup juga punya
andil besar. Dan saya percaya nggak semua aktor bisa delivered emosi karakter
yang mendetail melalui sorot mata.
Saya
happy banget dong, akhirnya Liu Xueyi ketemu
cerita yang ngasih dia kesempatan untuk bersinar. Meskipun saya statusnya hanya
fans ‘Senin-Kamis’, but I’m rooting for
him. Dengan kualitas se-kece itu, dia layak dan berhak mendapatkan sorotan utama. Sayang aja aktor model
begini dianggurin.
Saya
menemukan nuansa yang tidak familiar pada karakter Lin Jinqi, sama seperti
Lanxiang, karakter ini tidak sederhana. Ia juga memiliki kompleksitasnya
sendiri. Saya sudah terbiasa melihat tokoh utama pria di drama kostum dengan
karakter yang warna utamanya cuma dua—digambarkan sebagai sosok yang dingin, keras, lalu berubah saat jatuh
cinta.
Lin
Jinqi tidak datang dengan pattern semacam
itu. Saya bilang ini karakter ditulis dengan manusiawi dan rasional. Dia punya
banyak sisi yang membuatnya bisa dicintai dan dibenci. Karakter seperti ini menuntut kualitas akting
yang no kaleng-kaleng.
Lin Jinqi is perfect in his
imperfections.
Perubahan
pembawaan Lin Jinqi muda ke dewasa membuat saya bertanya-tanya apa kiranya yang
terjadi sehingga anak lelaki penurut dan polos itu berubah menjadi tegas, kuat
dan berani menentukan sendiri pilihan-pilihan hidupnya? Awal kemunculan Jinqi
dewasa, saya sempat merasakan sisi bengis
dan licik pada dirinya, tapi di
waktu lain, dia bisa sangat sopan, lembut dan penuh kasih sayang kepada ibu dan
adik-adiknya.
Misalnya,
adegan Jinqi mulai tertarik dan akhirnya jatuh cinta pada Lanxiang. Ini kan
adegannya ga digambarkan secara blak-blakkan ya, tapi melalui detail kecil
seperti gesture samar yang disampaikan melalui tatapan atau lirikan mata,
senyum kecil, itu semua harus bisa meyakinkan penonton bahwa Lin Jinqi
benar-benar jatuh cinta full full gas ke Lanxiang. Dengan spectrum akting yang
luas, Liu Xueyi bukan hanya berhasil membuat yang nonton percaya Lin Jinqi
jatuh cinta pada Lanxiang, tapi dia juga sekalian menyeret penonton jatuh cinta ke dia. Iya. Penonton itu saya.
Adegan
yang menurut saya powerful adalah ketika Lin Jinqi akhirnya mengetahui
identitas asli Lanxiang. Badai emosi Jinqi keliatan di situ—terkejutnya,
sedihnya, seperti tidak percaya… bagaimana bisa Xueyi menggambarkan itu semua
dalam satu tarikan dan dia bisa menampilkan
detailnya sekaligus. Sebagai penonton saya sangat yakin dia nggak marah ke
Lanxiang. Ini wow banget loh. Kemampuan memilah emosi tokoh, lalu memutuskan
emosi apa saja yang tepat ditampilkan… he
is amazing. There’s such maturity and nuance in Liu Xueyi’s performance.
BTW,
LIN JINQI KOK TAMPAN AMAT YA? MAAP. PENONTON SATU INI SUKA SALFOK.
Pesona
pria ini matang, gaes. Kharismatik. Ehm. Apakah doi sudah ada yang punya? Kalau
belum, boleh lah—udah, stop, Azz. Fokus. Fokus…
Huft.
Oiya,
saya perhatikan, tone suara Lin Jinqi turut berubah seiring transisi yang
terjadi pada karakternya. Jinqi sebelum menikah dengan Lanxiang, setelah
menikah, lalu punya anak, hingga anak-anaknya dewasa—jelas banget perubahan
itu. Makin tambah umur, makin berat dan ini sangat masuk akal. Keren banget loh
observasi dan interpretasi Liu Xueyi terhadap karakter Lin Jinqi. Makanya nggak
heran, dia bisa ngebawain peran ini dengan maksimal. Dia tau orang seperti apa
yang sedang dia hidupkan.
Hampir
lupa, untuk adegan aksi, Liu Xueyi keren banget. No debat mah soal ini. Inget
adegan berantem di kapal? Lin Jinqi di adegan itu mengingatkan saya dengan Lin
Jinqi dewasa di awal-awal episode—garang, dingin
dan kejam. Karakter ini di-tone down oleh
pernikahan. Cuma Lanxiang dan anak-anaknya yang bisa. Jinqi nih potret
laki-laki yang beda pembawaan di tempat
kerja dan di rumah deh. Di rumah hangat banget banget… Terharu lihat
interaksi dia dengan anak-anaknya. Bapak-able banget. Sayang episode Jinqi sebagai
suami dan bapak nggak dibanyakin ya, padahal pengen liat. Pasti hangatnya
menjalar-jalar masuk ke dalam hati penonton.
Siapa
pun yang mengambil keputusan memasangkan Tan Songyun dan Liu Xueyi di drama
ini, saya doakan rejekinya lancar, tidurnya nyenyak. Ini jenis pairing yang
nggak selalu berhasil bukan karena aktingnya jelek, tapi naskahnya yang nggak
berhasil. Akting bagus nggak selalu menjadi jaminan sebuah drama akan berhasil.
Harus ditopang banyak hal. Mungkin yang benar untuk Tan Songyun, Liu Xueyi dan Against The Current adalah mereka bertemu di naskah dan director yang
tepat dan lahirlah chemistry yang
fenomenal (di mata saya) itu. Boleh nggak sih ngarep mereka reunion lagi di
drama?
Ini
bukan tipe chemistry yang menyala lewat adegan-adegan intimate dan skinship yang intens, yang bikin penonton panas dingin
melainkan chemistry yang berhasil dibangun melalui dialog-dialog
bermakna, gesture sederhana tapi mengandung romansa yang menggetarkan. Slow burn-nya bikin gemes,
gregetan. Percayalah, lebih sulit memainkan peran pada tipe chemistry seperti
ini—nggak hanya butuh kemampuan akting yang bagus, tapi kerjasama yang cocok antar-aktor/aktris.
Karena nunjukin emosinya ga secara langsung, frontal gitu, tapi lewat
ekspresi-ekspresi bermakna. Ga heran banyak yang bilang Lanxiang nggak cinta
Jinqi, afeksinya kurang. Ternyata, ga semua orang siap menonton orang-orang
yang jatuh cinta dengan cara yang santun dan beradab.
Saya
pernah bilang di salah satu cuitan saya di Twitter, semakin dewasa pemikiran,
apalagi sebagai perempuan, yang kita cari adalah cinta seperti yang dimiliki
Lanxiang dan Jinqi. Bukan cinta yang menggebu-gebu, tapi yang bikin tenang,
hangat, dan bikin kita terlihat.
Sebuah cinta yang memeluk.
Ngomong-ngomong
soal cinta—masih berhubungan dengan chemistry, saya ngerasa amazing melihat
Against The Current menceritakan kisah cinta tokoh-tokohnya. Meskipun nggak
pake banyak adegan, esensi dari cerita cintanya dapet banget. Chemistry-nya, manisnya, jatuh cintanya.
Kok bisa efektif ya? Saya punya keyakinan, ini terletak pada teknik bercerita
yang matang, kemudian di-sah kan oleh
akting natural para aktor/aktris yang berperan lalu di-direct dengan angle yang
tepat.
Contohnya,
kisah Xiuwan dan Xie Zhao. Hayooo, siapa yang senyum-senyum nonton adegan
mereka? Manis banget kan? Dua orang ini adalah definisi sesungguhnya dari
orang-orang yang bertemu di waktu yang tepat saat mereka telah menjadi versi
terbaik dari diri mereka sendiri. Nggak usah ngejar cinta orang lain, capek.
Jangan sampai, saking sibuknya ngejar, kita lupa sudah terlalu lama
menelantarkan diri sendiri. Ouch.
Excellent
performance ditampilkan juga oleh Li Meng (Zhao Xingtang). Li Meng memerankan
Zhao Xingtang dengan sangat keren. Karakter ini menjadi identic karena Li Meng
ngasih detail yang kemudian menjadi ciri khas Xingtang. Xingtang ini karakter
yang paling ingin saya peluk kedua setelah Lanxiang. Punya privilege nggak
menjamin kehidupannya sebagai perempuan akan bahagia.
Ini
kali kedua saya terpesona dengan aktingnya Li Meng.
Divisi
akting Against The Current tuh nggak ada yang gagal. Bahkan yang durasi
kemunculannya singkat pun tetap bisa bersinar dan meninggalkan kesan di hati dan
ingatan penonton.
Directing & Sinematografi
What does directing mean?
Sebagai
penonton, saya selalu kagum dengan penyutradaraan sebuah film atau drama.
Sebagus apa pun cerita dan akting para pemerannya, keduanya tetap membutuhkan
bahasa audiovisual yang tepat agar bisa diterjemahkan menjadi pengalaman
menonton yang utuh.
Directing
dan sinematografi nggak harus selalu tampil spektakuler. Sentuhan sederhana pun
bisa terasa specia jika mampu menjadi jembatan antara naskah, aktor, dan
penonton. Penonton tak hanya terpikat pada gambar yang cantik, tetapi juga
jatuh cinta pada keseluruhan adegan. Tak hanya memahami mengapa sebuah adegan
perlu ada, penonton juga ikut masuk ke dalam pusaran rasa dan emosi yang
dibawanya.
Jika
penulis bercerita melalui kata-kata, sutradara menerjemahkan cerita itu ke
dalam tindakan, ruang, waktu, suara, dan gambar bergerak.
Saya
nggak tahu apakah Against The Current memiliki sinematografer yang berbeda dari
sutradaranya—tentu saja keduanya memang bisa merupakan tanggung jawab orang
yang berbeda—jadi saya akan membahas directing dan sinematografinya sekaligus.
Directing
dan sinematografi Against The Current bekerja bersama menciptakan adegan-adegan
yang punya nyawa. Saya nggak tahu istilah teknis yang paling tepat untuk semua
gambar ini, tetapi sutradara kerap mengarahkan perhatian kita pada tempat,
ruang, atau benda-benda yang sekilas tampak biasa. Bagi saya, gambar-gambar
tersebut bukan sekadar sisipan untuk mempercantik visual. Ada atmosfer yang
dibangun dan pengalaman emosional yang ditawarkan kepada penonton.
Misalnya,
adegan perpisahan Jinqi dan Lanxiang di episode 47. Setelah Jinqi meninggal,
kamera mengarahkan perhatian pada bunga rumput favorit Lanxiang. Detail itu
memberi jeda sekaligus membawa makna emosional. Bunga rumput tersebut bukan lagi
sekadar objek di dalam frame, ia terhubung dengan ingatan, perasaan, dan
hubungan antarkarakter yang telah dibangun sepanjang cerita.
Di
Against The Current, sebuah kue bisa membuatmu menangis. Itu bukan kue biasa,
melainkan simbol trauma Lanxiang. Tanpa harus mengulang seluruh tragedi yang
pernah menimpanya melalui banyak adegan, kemunculan kue itu saja sudah bisa
membangkitkan kembali ingatan kita tentang masa lalunya. Kita mengingat tragedi
menyakitkan yang dialami Lanxiang, lalu ikut merasakan kesedihannya. Sebuah
objek sederhana menjadi begitu bermakna karena cerita telah membangun ikatan
emosional antara objek tersebut dan karakter. Juga penonton.
Contoh
lainnya adalah adegan Zhao Xingtang yang diambil dari atas, melalui atap yang
berlubang, ketika wajahnya yang babak belur terlihat beberapa saat sebelum
kematiannya.
Kalau
ingat adegan ini, bawaannya pengin nangis aja.
Bagi
saya, itu bukan sekadar pilihan sudut kamera yang menarik. Komposisi gambarnya
membawa beban emosional yang terasa begitu berat, seolah-olah merangkum
kehidupan Xingtang. Seukuran itu saja. Bahkan hingga akhir hidupnya, ia tetap terperangkap.
Seumur hidupnya, Zhao Xingtang bertarung mati-matian demi kebebasan yang ia cintai, hanya untuk mendapati kenyataan, bahwa hidup tidak pernah ramah kepadanya. Satu-satunya yang mau melihatnya sebagai Zhao Xingtang, manusia yang memiliki suara adalah Lanxiang. Dan Xingtang tahu itu.
Kamu
mungkin memiliki interpretasi yang berbeda. Namun, bagi saya, begitulah
keberhasilan directing dan sinematografi drama ini bekerja. Bukan hanya
memperlihatkan sebuah peristiwa, tetapi juga membuat sebuah gambar terasa
begitu dekat dengan nasib karakter yang ada di dalamnya.
Sutradara
Huang Ying Xiang, bagi saya, memiliki kepekaan dan kreativitas dalam
mengarahkan adegan. Ia tidak hanya membuat gambar terlihat bagus, tetapi juga
menghadirkan nuansa emosional yang membuat adegan-adegannya terasa hidup.
Adegan sederhana bisa menjadi berarti dan melekat kuat dalam ingatan penonton.
Saya
juga ingin menyoroti sutradara aksi, Guo Ya Sha. Adegan perang dan perkelahian
di drama ini bagus banget. Intens, mendetail, dan mampu menyeret penonton ke
dalam ketegangan yang dibangun. Totalitasnya terasa sekali. Jadi, meskipun
adegan berantemnya nggak banyak, setiap kali muncul, adegan-adegan itu terasa
digarap dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan aksi
dalam cerita.
OST & BGM
Siapa yang auto pengen nangis tiap denger "大梦归" (Return From A Great Dream) – Zhou Shen (周深)? Lirik dan melodinya memiliki semacam kekuatan yang bisa membangkitkan
kesedihan, apalagi bagian reff-nya. Suaranya Zhou Shen kayak ada sihirnya deh.
Spesialis nyanyi lagu menyayat hati dan jiwa raga.
Kalau ngomongin OST, saya nggak cuma bilang
lagu-lagunya enak aja. Tapi pertanyaan paling penting adalah apakah Original
soundtrack sebuah drama turut memberikan kontribusi pada drama yang
bersangkutan.
Seluruh lagu yang tergabung dalam Original
soundtrack Against The Current nggak ada yang jelek. Semuanya cocok dan enak di
kuping saya. Beberapa lagu terasa membekas di ingatan saya sebagai penonton
karena penempatannya pada adegan-adegan penting. Nah, ini yang saya maksud.
Nggak sekadar enak didengerin, OST Against The Current memberikan cita rasa yang kuat pada dramanya. Liriknya
yang puitis nyambung dengan adegan
dan situasi yang dihadapi tokoh, sedangkan melodinya secara aktif terlibat mengacak-acak perasaan penonton. Mantap
jiwa.
Tak berbeda jauh dengan OST, BGM (Background
music) yang digunakan di drama ini ikut berpartisipasi membangun suasana yang
diinginkan sebuah adegan. BGM-nya kaya akan melodi tradisional yang khas.
Indah.
Kehadiran OST dan BGM sangat mempengaruhi
nuansa emosional yang dibangun suatu adegan di Against The Current. Nggak semua
adegan bisa diiringi OST, ada juga adegan yang terasa lebih kuat sisi emosionalnya
jika hanya dibalut instrument. Itu yang dilakukan
BGM Against The Current.
Jempol sebanyak-banyaknya kepada composer musiknya,
Dong DongDong.
Ending
Bagaimana, sih, ending drama yang baik itu?
Soal ini tentu saja punya jawaban
berbeda-beda bagi setiap orang. Namun, jika merujuk pada premis utama Against
The Current, ending yang diberikan kepada drama ini adalah akhir yang bahagia
bagi Lanxiang.
Lanxiang menjalani hidup sebaik-baiknya,
seperti harapan dan doa mendiang ibunya.
Jika kita bersepakat bahwa Against The
Current adalah tentang bagaimana Lanxiang bangkit dan berjuang untuk hidup,
maka rumusan ending-nya sudah tepat.
Tapi Jinqi meninggal duluan, gimana dong?
Itulah definisi hidup yang ingin diceritakanAgainst
The Current, realistis. Bahwa kematian dan kehilangan adalah keniscayaan yang
tidak bisa dihindari. Jika kamu jeli, kamu akan melihat bagaimana drama ini
memperlakukan kematian dan kehilangan dari sudut pandang yang berbeda.
Kita menjumpai banyak sekali kematian di
sini. Bahkan, semuanya sudah dimulai sejak episode pertama. Yang saya tangkap, Against
The Current tidak memperlakukan kematian semata-mata sebagai sesuatu yang
buruk. Benar, kematian membawa kehilangan dan kesedihan. Namun, drama ini
menceritakannya dengan cara yang indah tanpa harus mendramatisasi kepergian
seseorang secara berlebihan.
Saya tanya, siapa yang nggak menangis untuk
setiap adegan kematian di drama ini?
Bagaimana bisa menahan tangis kalau dialog,
BGM, dan ekspresi wajah para tokohnya kompak mengajak kita menangis?
Lanxiang beruntung.
Ia diberi umur panjang untuk menyaksikan orang-orang yang dicintainya menemukan
kehidupan yang mereka inginkan.
Sebagai penonton, ada satu pertanyaan yang
ingin sekali saya ketahui jawabannya: Apakah
Lanxiang bahagia?
Saya ingin sekali memeluknya dan mengatakan,
terima kasih sudah bertahan dan memilih untuk terus hidup.
It's a bittersweet ending for me as a viewer.
My
Two Cents on Against The Current
Against
The Current merupakan drama yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul Lan
Xiang Yuan (兰香缘)
karya He Yanshan (禾晏山).
Saya
nggak baca novelnya. Berdasarkan komentar orang-orang yang baca novelnya, adaptasi
drama ini dibikin berbeda. Sebagai penonton yang ga baca novelnya, saya
menganggap cerita Against The Current sangat bagus. Cerita dan penokohan
terstruktur dengan sangat baik, mendetail. Pengolahan konflik tidak
terburu-buru. Namun, ada sejumlah membaca novel yang merasa kurang sreg dengan
perubahan yang terjadi dan berakhir membandingkan kedua-duanya.
Pertanyaannya,
bagian mana dari novel yang perubahannya bikin nggak suka?
Kalau
saya baca deskripsi karakter Jinqi di novel, saya malah bersyukur versi dramanya
dibikin seperti yang kita nonton. Nggak kebayang aja. Oke, Saya nggak ragu pada
skill akting Liu Xueyi. Saya yakin dia bisa meranin karakter modelan begitu.
Masalahnya, Against The Current yang harus ganti genre—slice of life ke thriller,
suami sikopet. Nggak banget.
Apakah adaptasinya berhasil?
Saya nggak punya jawabannya, karena drama ini tidak mengikuti format dasar novelnya sebagai cerita tentang tokoh utama yang terlahir kembali dengan membawa ingatan masa lalu.
Saya
juga membaca komentar sejumlah komentar yang menyoroti porsi romance Against
The Current. Sayangnya, ketidakpuasan tersebut diarahkan langsung kepada
Lanxiang. Disebut istri nggak berbakti lah, apalah itu. Katanya Jinqi udah
berkorban segimana besarnya, Lanxiang-nya lempeng aja. Ya Allah Ya Rabb, orang-orang
beneran nonton drama ini nggak sih? Beneran paham karakter tokohnya? Atau sambil
nonton sambil nyusun scenario sendiri di dalam kepala, kemudian menaruh ekspektasi
itu kepada cerita dan Lanxiang?
Trus
dijawab—apa susahnya sih menyisipkan romance ke dalam cerita? Saya nggak suka
nonton drama yang menuntut penonton harus mikir. Mau nonton yang ringan aja.
GANTI
TONTONAN!
DRAMA
INI BUKAN UNTUK KAMU.
Gampang
kan?
Trus
masih ngeyel sampa lebaran kuda.
Yang
menarik dari perdebatan Against The Current, bagaimana kita terperangkap dalam
ide yang mengatakan setiap orang berhak punya POV berbeda terhadap drama ini.
Sampai di sini saya sepakat. Yang bikin kesal adalah ketika orang-orang mencampur-adukkan
masalah selera dengan kebebasan interpretasi sebuah karya.
Ada
perbedaan antara tidak menyukai sesuatu, tidak memahami sesuatu, dan menganggap
sesuatu itu buruk. Ketiganya tidak selalu sama.
Saya
nggak mempermasalahkan orang punya penilaian berbeda terhadap ATC. Silakan saja
kalau memang nggak suka. Yang saya soroti adalah ketika ketidakcocokan personal
itu kemudian diterjemahkan menjadi kekurangan karya, seolah-olah sebuah cerita
harus mengikuti selera kita agar bisa
dianggap bagus.
Tampaknya
sebagai penonton, kita masih kesulitan menetapkan batasan-batasan yang jelas
untuk diri kita sendiri.
Jinqi
adalah red flag.
Buanyak
banget komentar seperti ini di temlen medsos saya.
Saya
sempat menyenangi pelabelan red flag vs green flag pada tokoh fiksi, hingga
akhirnya saya merasa muak. Seolah-olah karakter yang diberi tanda red flag
nggak layak disukai. Red flag adalah identitas yang akrab dengan karakter
buruk.
Saya
nggak terima Jinqi disebut red flag.
Jujur,
saya mulai alergi dengan pelabelan ini. Bukan karena saya menganggap Jinqi
sempurna atau semua tindakannya bisa dibenarkan, melainkan karena saya merasa
label semacam ini kerap menyederhanakan karakter yang seharusnya bisa dibaca
dengan lebih kompleks.
Seolah-olah
kita sudah tahu siapa dia hanya dengan memberinya satu label.
Padahal,
karakter fiksi tidak selalu sesederhana itu. Ada latar belakang, motivasi,
kontradiksi, dan perkembangan yang perlu kita ikuti sebelum memutuskan
bagaimana kita memandangnya.
Oleh
sebab itu, hal pertama yang saya lakukan untuk memahami karakter adalah dengan
melihat ia dari jauh—saya memilih berjarak. Ini membantu saya memahami satu
karakter lebih dalam agar saya tidak terburu-buru menghakimi. Nggak hanya
berlaku pada tokoh protagonist, tapi antagonisnya juga.
Tapi
kan kita nonton untuk nyari hiburan?
Ya.
Saya ga menampik itu. Kadang, saya butuh nonton drama ringan yang ga pake
mikir. Saya cuman butuh haha-hihi liat orang jatuh cinta, contohnya.
Saya
termasuk penonton yang punya tombol on/off, kapan harus menghidupkan logika fiksi,
kapan harus mematikkannya—tergantung apa yang sedang ingin saya nonton. Saya
berusaha menempatkan diri sesuai apa yang saya putuskan untuk ditonton. Kan nggak
lucu, misalnya saya nonton drama idol ringan, trus saya komentarin ketidaklogisan
karakter atau ceritanya—saya mati-matian komentar ceritanya nggak masuk akal.
Lah, kalau memang sedari awal dramanya dibuat nggak masuk akal, berarti nggak
ada yang salah dong? Yang salah adalah saya yang keliru memilih tontonan. Kalau
mau nonton yang logis ya jangan nonton drama idol. Sesederhana itu tapi nggak
semua penonton sanggup dan mampu.
Menurut
pemahaman saya, red flag bukan merujuk pada identitas mutlak seseorang tapi
tanda peringatan atau gejala yang berpotensi mengarahkannya menjadi manusia problematic.
Jinqi
bukan red flag. Benar, dia memiliki kekurangan yang jika dilihat di mana dan bagaimana
ia tumbuh, itu bisa dimaklumi tanpa membenarkan. Tapi apakah Jinqi problematic?
No. Saya tidak melihat itu. Saya nggak melihat Jinqi sebagai manusia manipulative.
Di mata saya, Jinqi adalah tokoh utama pria yang sangat realistis di drama
kostum. Dia nggak datang sebagai manusia yang sudah selesai dengan dirinya,
tapi yang mau terus belajar dan memahami. Jinqi memberi ruang yang luas kepada
dirinya untuk tumbuh, dan itu dimulai ketika ia mengenal dan menikahi Lanxiang.
Dari
sekian banyaknya kritik yang ditujukan kepada ATC, adalah unsur romance yang
paling banyak mendapatkan suara.
Sewaktu
menonton The First Jasmine, saya suka banget dengan relasi suami-istri tokoh
utamanya. Rasanya saya kayak dapat angin segar. Nggak banyak drama kostum yang
pernah saya nonton mau menceritakan
kehidupan suami istri seperti yang TFJ lakukan. Biasanya abis nikah, punya
anak, kelar. TFJ memilih menceritakan dinamika pada relasi tersebut dengan
berusaha realistis.
Itu
pula yang dilakukan Against The Current. Saya tidak sedang membandingkan atau
menyamakan dua drama tersebut. Saya butuh drama yang sejenis mereka. Beberapa judul sudah masuk list.
Semoga cocok.
Against
The Current memilih menceritakan romance dengan santun. Dan ini cocok-cocok saja dengan premis dan karakter
tokohnya. Udah sesuai alur dan jalurnya.
Ini
preferensi pribadi ya. Saya suka lihat Lanxiang dan Jinqi ngobrol santai berdua.
Itu domestic behavior nya pasutri yang udah belasan tahun menikah. Sayang, adegan
mereka nggak banyak ya. Huhuhu.
Saya
juga sukaaaa banget kostum dan penataan make up di Against The Current. Ini
juga nggak kalah detailnya. Saya ambil contoh tokoh Jinqi dan Lanxiang.
Perubahan penampilan mereka nyata terlihat berdasarkan timeline kehidupan dan
status. Saya nggak ngerti ornament atau symbol yang melekat di penampilan
mereka. Saya melihat perubahan Jinqi tuh tetep keliatan natural dan pas aja. Nggak aneh, nggak kaku.
Se-nyata itu. Jinqi sebelum menikah dan Jinqi versi bapak dua anak vibes-nya nggak
bohong. Jadi nggak cuma terasa dari perubahan tone suaranya, tapi juga
penampilan fisiknya. Keren deh, yang megang divisi ini. Totalitas tanpa batas.
Saya keliru tentang satu hal. Saya pernah berpikir bahwa Jinqi-lah yang akan menjadi pintu damai untuk trauma di hati Lanxiang. Bahwa pernikahan akan mengubah sudut pandang Lanxiang terhadap duka atas kehilangannya. Sempit sekali pemikiran saya.
Lanxiang
merumuskan jalannya sendiri. Ia menulis.
Menulis
yang semua menjadi katarsis bagi Lanxiang, ternyata kelak menjadi jalan bagi terbukanya
kebenaran peristiwa masa lalu yang berhubungan dengan keluarga Shen.
Jadi, apa makna dari judul Against The Current?
Perempuan yang melawan.
Eh,
saya udah ngomong panjang lebar begini, tetap berasa masih kurang masih ada yang
pengen diomongin. Tapi ini aja udah 17 halaman Ms. Word. Udah panjang bangettt
ini mah. Udahan aja yuk?
Maafin
ya kalau suara kita nggak sama.…
Rating
:
Fiksi
yang baik ga selalu meminta kita menyetujui manusia. Adakalanya, fiksi 'meminta' kita melihat
manusia dengan lebih utuh.
Dan saya
selalu jatuh cinta pada drama yang 'memiliki' kemampuan bercerita mendetail,
konsisten, dan menawarkan pengalaman emosi yang kaya—itulah Against The Current
di mata saya.
Against
The Current layak dicintai banyak orang.
Drama
ini membawa pesan kepada para perempuan, satu pohon tidak akan sanggup menjelma
hutan. Sebuah lampu saja, nyalanya tidak akan mempunyai langkah yang panjang.
Maka menjadi peduli kepada sesama perempuan seperti yang dilakukan Lanxiang kepada
perempuan-perempuan di Against The Current adalah kekuatan yang harus
dihidupkan.
Ingat,
drama ini adalah sebuah pelajaran untuk terus hidup dan berjuang.
Tabik,
Azz.


















