Translate

Review Suka-suka Against The Current

/ 10/11/2026 09:25:00 PM

Disclaimer : tulisan di bawah ini sangat subyektif, ditulis hanya mewakili sudut pandang saya sebagai penonton ATC.

Sejak meniatkan hati menulis review Against The Current (ATC), saya sudah berkali-kali duduk bengong di depan laptop—nggak tau bagaimana memulai tulisan. Selama berhari-hari, layar laptop hanya menampilkan Ms. Word yang kosong. Blank. Ini biasa terjadi setiap kali saya menyukai satu drama. Perasaan saya terlalu penuh hingga membuat saya kesulitan menemukan paragraph pembuka.

Saya terlalu menyukai Against The Current.

Saya pertama kali tau keberadaan Against The Current saat nggak sengaja menonton trailernya di aplikasi WeTV. Jatuh cinta pada pandangan pertama—anggaplah seperti itu yang terjadi pada saya—Ada sesuatu pada cuplikan trailer ATC yang bikin saya penasaran dan berharap agar drama tersebut segera ditayangkan. Begitu ATC tayang, saya langsung nge-gas nonton episode perdananya. Saya yakin banget ini akan menjadi salah satu drama kostum terbaik yang pernah saya nonton. Beneran deh, saya ga pernah seyakin ini nonton episode pilot drama China.

Dan itulah yang terjadi. Against The Current membuktikan, kali ini saya nggak salah menaruh ekspektasi. Biasanya, untuk drama China, saya butuh 3-6 episode untuk bisa masuk ke dalam ceritanya. Tapi dengan drama ini, saya hanya butuh satu episode untuk yakin ini bakal bagus banget seterusnya. Hook di episode pertama berhasil.

Episode pertama, brutal-nya bukan yang bikin ngeri  tapi nyesek, pilu. Intens-nya nagih. Penggambaran adegan-adegan kematiannya juga eksplisit dan cenderung sangat berani. Bagi sebagian orang ini mungkin butuh trigger warning. Di sisi lain, gaya penceritaannya luwes, ga dikesankan menghakimi—penonton diberi kebebasan melakukan apa pun kepada cerita dan tokoh-tokohnya.

Saya punya banyak sekali alasan mengapa saya memasukkan Against The Current ke daftar drama kostum terbaik yang pernah saya nonton. Di sini, saya akan menuliskannya satu-persatu—alasan-alasan itu. Bagi sebagian orang, ini mungkin akan terdengar bias—sangat bias, sebab sejak awal saya melihat drama ini menggunakan sudut pandang saya yang subyektif, berangkat dari rasa suka yang dalam. Jadi, bila dalam penulisan review suka-suka ini kamu menemukan sesuatu yang nggak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan mengenai Against The Current, that’s okay. Bukankah kita memiliki suara di dalam kepala masing-masing? Yang meski nadanya nggak selalu selaras dengan suara-suara di luar sana, itu tetaplah suara kita. Malah, kita boleh kok saling mendengarkan dengan baik tanpa harus merasa salah satu di antara kita lah yang paling tepat nadanya.

So, here we go.

It’s me. Azz and her POV.

Storyline, Plot dan Konflik

Shen Jialan, cucu dari Cendekiawan Agung Shen Qihan—Sekretaris Agung Kekaisaran, ditunangkan dengan Lin Jinqi, cucu dari Menteri Urusan Kepegawaian. Dua keluarga terpandang itu sepakat menyambung hubungan kekerabatan melalui pernikahan.

Shen Jialan semata bahagia menerimanya. Ia adalah anak yang patuh dan berbakti.

Namun, ketika pergolakan politik melanda istana kekaisaran, sang kakek dituduh melakukan pengkhianatan dan seluruh keluarganya ikut dihukum.

Beruntung, Jialan diam-diam diselamatkan oleh Xu Wan Quan dan istrinya—sepasang budak yang sebelumnya pernah ditolong ibunya Jialan saat keduanya pontang-panting mencari bantuan untuk anak perempuannya yang sakit parah. Untuk menyelamatkan Jialan, mereka kemudian menggunakan identitas—Xu Lanxiang, nama putri mereka yang baru saja meninggal. Kini hidup dengan nama Xu Lanxiang, Shen Jialan menjadi seorang pelayan rendahan di kediaman keluarga Lin, tempat keluarga angkatnya bekerja.

Sebenarnya, saat huru-hara terjadi, keluarga Lin ikut terseret, namun kakek Lin Jinqi memilih menyelamatkan keluarganya dan menerima tawaran damai Kaisar. Itulah yang terjadi. Akibat kekuasaan, satu generasi dipaksa hilang, sedang satu generasi lainnya tetap bertahan.

Meski harus menghadapi kerasnya kehidupan barunya, Lan Xiang menolak tunduk pada takdir. Berbekal kecerdasan, ia berhasil bertahan di tengah intrik keluarga Lin sembari berusaha menjaga identitas aslinya tetap tersembunyi. Lanxiang menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Ia hadir melampaui batas-batas kelas social. Sesungguhnya, Lanxiang sedang belajar mengamini pesan terakhir mendiang ibunya yang memintanya agar tetap hidup. Permintaan itu ditulis pada selembar kertas doa yang kemudian selalu dibawa Lanxiang ke manapun ia pergi.

Lanxiang berjuang keras agar ia dan keluarga angkatnya bisa terbebas dari status budak.

Suatu hari kesempatan itu akhirnya datang. Namun hanya sebentar. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Lin Jinqi nekat meminta dekrit Kaisar untuk menikahi Lanxiang. Rupanya, selama Lanxiang bekerja sebagai pelayan di kediaman Lin, Lin Jinqi diam-diam menaruh perasaan sayang kepadanya. Jinqi tidak melihat kemungkinan yang bisa menyatukan mereka berdua. Perbedaan derajat keduanya terlalu jauh. Ia berpikir, satu-satunya jalan adalah dekrit kaisar.

Lalu, bagaimanakah Lanxiang menjalani hidupnya? Tidakkah takdir sedang bermain-main dengan hidupnya? Ia dipaksa menikah dengan seseorang yang dulu dengan mudahnya memutuskan hubungan pertunangan demi perkara politik.

47 episode Against The Current menceritakan bagaimana Shen Jialan hidup sebagai Xu Lanxiang dengan tetap menjadi dirinya sendiri, ia mampu menjaga martabat dan prinsip-prinsip yang diyakininya.

Ketika saya mengatakan ada sesuatu pada drama ini yang membuat saya tertarik bahkan hanya dengan menonton cuplikan trailernya, saya benar-benar kesulitan mendeskripsikan apa yang saya rasakan. Saya mencoba mencari kata atau kalimat untuk mengartikulasikan itu tetapi saya tetap nggak menemukannya. Saya jatuh suka dengan sorot matanya Tan Songyun yang terlihat sendu—seperti menyimpan banyak cerita. Sewaktu menonton trailer ACT, saya nggak tau sama sekali drama ini menceritakan apa, saya juga nggak tau nama tokoh yang diperankan Songyun. Aneh kan? Jarang-jarang loh saya begini. Saya lah orang yang sulit dibikin jatuh cinta itu, tapi begitu jatuh cinta… ga usah dibahas. Ketebak menggilanya seperti apa. It’s pure magic.

Selain sorot mata Songyun, saya juga menyukai nuansa yang dibangun potongan-potongan adegan di trailer, pada tone dan gradasi warna gambarnya, sinematografinya. Ada nuansa atmospheric yang sangat kental. Di trailer tersebut, saya melihat perempuan-perempuan muncul dengan ekspresi wajah bermacam-macam, yang berbicara tentang mimpi dan harapan. Barangkali, itulah yang membuat saya nggak sabaran untuk segera mendapatkan jadwal tayang Against The Current.

ATC merupakan drama female-centric yang mengusung kehidupan perempuan sebagai pusat gravitasi cerita. Mengenai female-centric, saya perlu menekankan bahwa drama ini nggak memotret kehidupan perempuan menggunakan lensa romansa dengan tokoh utama pria. Female centric yang digunakan bukan berkisar pada bagaimana kehadiran tokoh utama pria memengaruhi kehidupan tokoh utama perempuan. Porsi romance tidak pernah diniatkan akan menjadi plot utama.

Menurut pemahaman saya setelah menonton 47 episode drama ini, female-centric drama yang diusung Against The Current artinya menempatkan pengalaman hidup perempuan dalam cerita yang meliputi perkembangan karakternya di tengah konflik, bagaimana ia menentukan pilihan-pilihan hidupnya, bagaimana relasi-relasi yang berkembang turut mempengaruhi sudut pandangnya sendiri.

Sejumlah pertanyaan menarik bisa menggambarkan pondasi female-centric yang digunakan Against The Current.

Siapa aku sebenarnya?

Bagaimana aku bertahan dalam system yang tidak berpihak kepadaku?

Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Bagaimana aku menentukan hidupku sendiri?

Bagaimana hubunganku dengan keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan perempuan lain bisa membentuk diriku?

Yang menarik, saat menonton drama ini, saya sama sekali tidak merasakan bentuk perlawanan yang frontal (keras) terhadap system kehidupan yang kental aroma patriarkinya. Bentuk perlawanan ditunjukkan dengan cara halus dan cerdik. Lanxiang gak ditampilkan bak pahlawan wanita yang penuh retorika, tajam, dan keras kepala. Dari sorot matanya yang penuh kesigapan, Lanxiang tumbuh menjadi perempuan yang pandai membaca situasi, lihai menemukan cara untuk bertahan hidup dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkannya.

Ya. Garis cerita Against The Current ditarik dari sudut pandang Lanxiang. Arus cerita berawal dan berakhir dari dan kepada dirinya. Ia menjadi premis utama dan pion yang menggerakkan konflik, tetapi ia tidak menjadi satu-satunya pusat cerita. Berangkat dari dirinya, rangkaian kisah membentuk plot dan konflik yang berkembang dengan sangat rapi, tidak tumpang tindih, tidak merusak cerita utama, konsisten berpegang teguh pada premis awal. Jika sedari awal kamu sudah melewatkan  ini, kemungkinan kamu nyasar di dalam memahami cerita sangat besar potensinya.

Against The Current mengingatkan saya sewaktu membaca Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer belasan tahun lalu, saya dibuat merenung untuk waktu yang sangat lama. Tetralogi Buru itu mengambil latar waktu sekira antara 1898-1918, namun muatan fenomena social yang terjadi masih banyak dirasakan di era modern saat saya membaca novel tersebut. Saya melihat ini terjadi di Against The Current. Meskipun drama yang naskahnya ditulis oleh Tong Hua dan Xiao Lou ini mengambil latar waktu masa lampau, di era kekaisaran Tiongkok—ada yang bilang Dinasti Ming—namun muatan konflik dan isu yang meliputi dunia perempuan di drama itu masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Hebatnya, cara bercerita drama ini nggak terkesan menggurui. Kritik disampaikan dengan cara yang santun dan menyentuh. Drama ini tidak terlihat seperti berusaha memperjuangkan emansipasi perempuan secara brutal. Ia memilih jalur reflektif dan jujur. Seperti ingin mengatakan, beginilah kenyataan hidup yang dijalani para perempuan di dunia ini.  Sebagai perempuan, apa yang bisa kita lakukan agar tetap mampu menjalani hidup sebaik-baiknya, sehidup-hidupnya? Alih-alih terperangkap dalam ketidakberdayaan dan kekalahan yang menyakitkan, Against The Current memberikan sudut pandang baru tentang bentuk perlawanan yang lain.

Di tengah arus patriarki yang kuat, Against The Current ingin mengingatkan kembali betapa besar dan kuat peran perempuan di tatanan kehidupan bermasyarakat—bukan sebagai pelengkap atau pesuruh, tapi ia menjadi bagian penting yang turut menyusun suatu peradaban. Lihatlah Qin Shuhua yang dikenal sebagai Madam Lin, ibunya Lin Jinqi. Akan jadi apa keluarga Lin kalau urusan rumah tangga nggak dipegang orang se-cakap beliau?

Against The Current menjadi drama female centric yang bisa diterima seluruh lapisan karena tokoh-tokoh perempuan yang diangkatnya tidak hanya tertuju pada satu kalangan saja. Ia memotret dari berbagai sudut kehidupan—bangsawan dan budak. Tak hanya perempuan-perempuan yang memiliki hak istimewa pada tatanan social, tetapi juga perempuan-perempuan yang kehilangan banyak hak atas hidupnya hanya karena ia tak lahir dari garis keturunan biru. Drama ini seolah ingin menegaskan bahwa patriarki tidak memilih warna. Ia hanya memilih perempuan.

Sudah sangat jelas di episode perdana, Lanxiang tidak pernah diarahkan untuk menjalankan plot balas dendam. Bukan itu tujuan drama ini dibuat. Against The Current juga tidak menjadikan identitas Lanxiang sebagai bagian cerita yang akan memberikan perubahan arah konflik, bahwa itu menjadi bagian dari plot, ya, tapi tidak menjadi konflik utama. Ini penting sekali karena titik inilah yang memberikan perbedaan besar antara Against The Current dan drama kostum lain yang kerap disebut-sebut sebagai female centric.

Di mata Against The Current, sebaik-baiknya perlawanan adalah dengan tetap memilih hidup. Seperti yang dilakukan Ji’er. Ia menolak kalah oleh keadaan. Meski tahu pilihan hidupnya akan dipenuhi kesulitan, tapi dia nggak mau menyerah.

Ada lagi satu hal yang menurut saya sangat brilliant, Against The Current tidak semena-mena menyoroti posisi kaum lelaki hanya karena drama ini membawa isu emansipasi dan feminism. Porsinya realistis. Drama ini tidak berupaya menarasikan ketidakberpihakan system pada perempuan adalah karena semata kesalahan para lelaki. Artinya, drama ini menghargai kecerdasan penonton. Ia percaya, penonton mampu menangkap pesan yang ingin ia sampaikan tanpa harus menjelaskannya dengan retorika.

Unsur politik yang kerap menjadi pusaran utama drama kolosal tidak berlaku di sini. Against The Current memilih jalan yang tak biasa—irisan politik tidak dibiarkan mengganggu focus cerita utama tetapi ia tetap menjadi bagian penting yang membentuk keutuhan cerita. Bahwasanya politik di masa itu (dan masa sekarang) sangatlah berpengaruh bagi seluruh aspek kehidupan. Siapa yang pemimpin, seperti apa dia memimpin, dan seperti apa keputusan-keputusan politiknya bisa secara langsung memberikan efek kepada masyarakat di bawah.

Ada satu adegan yang belum pernah saya lihat di drama kostum yang saya pernah saya tonton dan ini ngasih saya pengetahuan baru. Adegan pemberontakan di ibukota. Seluruh daerah kekaisaran terkena imbasnya. Di drama ini, reaksi dari para pelayan/budak diberi sorotan. Saya tidak akan melupakan reaksi Yu Chan saat pertama kali mendengar adanya perebutan kekuasaan antar saudara. Perang tidak hanya soal pergeseran kekuasaan yang melibatkan orang-orang di atas. Yang akan kena dampak pertama adalah kalangan bawah. ATC ingin menunjukkan peran para pelayan/budak pada masa-masa rentan tersebut. Selama nonton drama kostum Tiongkok, ini pertama kali saya melihat kehidupan para budak/pelayan mendapatkan porsi yang besar. Ini menambah pemahaman baru buat saya.

Inilah beberapa alasan inilah yang bikin saya betah menonton Against The Current sampai episode terakhir. Garis ceritanya sudah selesai dirumuskan sebelum ditulis dan divisualisasikan—penulisnya tahu betul apa yang sedang ingin ia sampaikan kepada penontonnya. Kenapa saya berpikir demikian? Drama ini memilih setia pada premis. Ia tidak menjanjikan hal lain. Yang berusaha dilakukan adalah menjawab apakah Lanxiang akhirnya bisa hidup sesuai permintaan ibunya. Dan kita tahu jawabannya usai menamatkan 47 episodenya.

Ucapan Xue Gui Hua, ibu angkat Lanxiang berikut membantu kita menemukan jawaban itu.

“I hoped you’d live like wild grass. Not only did you do that, but you’ve also done far more and far better than I’ve ever imagine. You’re like wild grass, but also like a flower. Like a great tree. Not only have you made a good life for yourself, but you’ve helped others live well too and helped them make a place for themselves in this world.”

Lanxiang tak hanya hidup tanpa kehilangan kesejatian dirinya. Ia juga menjadi pohon besar yang memberikan keteduhan kepada orang lain.

Saya jatuh cinta pada cara bercerita Against The Current. Butuh keberanian, idealisme, kepekaan, intelektualitas dan pengetahuan mendalam untuk menulis cerita se-lugas ini. Saya menemukan banyak unsur yang turut membentuk identitas drama ini, salah satunya filosofi kehidupan yang mengakar pada budaya dan kepercayaan yang dihadirkan berupa symbol pada benda, nyanyian, dan lain-lainnya.

Saya menyukai bagaimana drama ini konsisten menjaga nilai-nilai adat tradisional, misalnya aturan pergaulan laki-laki dan perempuan. Tak banyak drama kostum memerhatikan detail satu ini. Jadi, rasa tradisional Against The Current terasa kental. Kuat.

Against The Current memiliki cara bertutur yang sangat indah, puitis, hangat, manis, terkadang menyisakan getir dan sedih yang melekat lama pada. Seperti halnya hidup, nano-nano, ramai rasanya—yang baca pake nada ketahuan umurnya. Lapisan konflik drama ini tidak tumpang-tindih, penyelesaiannya tuntas. Pergerakan plotnya tidak monoton, luwes. Tak terasa satu episode selesai.

Ini adalah cerita tentang kehidupan perempuan yang hidup di satu era di masa lalu, dengan isu-isu keperempuanan yang masih terus bernapas hingga di detik ini.  berdiri kokoh sebagai drama female centric yang realistis dan memikat. Ia merangkul dan menguatkan.

Selama menonton, saya kerap bergumam, yeah, that’s how things are in real life.

Penokohan dan Perkembangan Karakter

Saya masih inget ada satu komentar di bawah poster karakter Against The Current yang bilang kurang lebih begini, “buset, sekampung banget ini?”

HAHAHAHAH karena sebanyak itu tokoh-tokohnya. 47 episode dengan tokoh segambreng, ini gimana cara ngapalinnya?

Pada banyak drama yang saya tonton, khususnya drama kostum, fokus saya sering kali hanya tertuju pada tokoh utama dan tokoh jahatnya—karena hanya mereka yang dibiarkan menonjol. Karakter-karakter pendukung tidak selalu mendapatkan detail karakter yang cukup kuat untuk membuat mereka berkesan.

Against The Current memperlakukan tokoh-tokohnya dengan adil. Mereka diberi ruang untuk tumbuh, termasuk karakter yang dinilai jahat oleh penonton. Mereka ada untuk diingat, bukan sebagaitempelan, melainkan sebagai manusia yang memiliki cerita kehidupannya sendiri. Identitas mereka jelas, perkembangan karakternya terasa organic dan orisinil.

Banyak irisan cerita dalam drama ini yang membuat saya percaya bahwa mereka bukan sekadar kisah yang hidup di dalam fiksi. Seolah-olah mereka benar-benar pernah hidup di suatu masa. Mungkin saja, rupa kisah mereka adalah orang-orang yang saya kenal.

Saya tidak perlu memaksakan diri untuk memahami situasi dan perasaan tokoh di drama ini sebab dramanya sendiri sudah ngebantu banget saya untuk bersimpati. Jadi, sebelum kelepasan nge-judge, saya sudah lebih dulu paham kenapa si tokoh melakukan tindakan tertentu. Drama ini bukan soal siapa yang jahat siapa yang baik. Seperti halnya di kehidupan nyata, kita nggak akan selalu menjadi protagonist. Boleh jadi, di kehidupan orang lain kita lah antagonisnya.

Tokoh-tokoh di drama ini memiliki kompleksitas karakter.

Zhao Xingtang, misalnya. Kita bisa dengan mudah menyebut dia jahat berdasarkan apa yang ia lakukan. Tapi, benarkah dia jahat? Kalau sedari awal kita sudah memahami konflik utama drama ini adalah perempuan vs system, maka kita harus melihat kembali keputusan yang menilai Xingtang jahat.

All she wants is to embrace her freedom and live her life as an independent woman, but the world she lives in simply won’t let her.

System di mana ia hidup tidak memberinya pilihan lain. Maka ia melawan dengan cara yang dimaknainya benar. Saya tidak mengatakan bahwa yang ia lakukan benar. Tetapi, saya mencoba memahami bagaimana ia menjadi demikian.

Sebagai penonton Against The Current, memahami POV tokoh sangat penting bagi saya agar tetap berada di track yang tepat. Menurut saya, ini bisa terjadi bila dramanya mampu meyakinkan penonton bahwa orang-orang yang ia ceritakan adalah manusia nyata. Dan jika ini berhasil, penonton akan dengan mudah membangun relasi emosi dengan mereka, para tokoh tersebut.

Saya teringat, reaksi saya saat menonton episode pertama ATC—saya nangis jelek. ATC membuat saya bersimpati pada Shen Jialan—relasi emosi itu berhasil terjalin tanpa proses panjang. Alih-alih memikirkan bagaimana cara Shen Jialan membalas dendam, sepanjang menonton episode-episode ATC, saya hanya berharap Shen Jialan hidup bahagia. Itu saja.

Saya nggak akan capek bilang, betapa rapi penokohan di drama ini. Setiap tokoh membawa pesan tanpa terkesan menceramahi penonton.

Drama ini berhasil merangkul begitu banyak isu perempuan dalam tatanan kehidupan sosial tradisional, yang sebagian di antaranya masih relevan dengan kehidupan modern. Semuanya dibawakan dengan rendah hati, reflektif, dan menggugah.

Saya melihat Against The Current sebagai sebuah miniatur kehidupan. Di dalamnya, kita bisa melihat sistem sosial yang tidak selalu ramah kepada perempuan, beserta bagaimana sistem itu membentuk kehidupan dan pengalaman para tokoh perempuannya.

Pada akhirnya, boleh dikatakan, tokoh utama drama ini adalah perempuan. Ia punya banyak wajah, nama, dan kisah. Di kehidupan kita, mereka bisa menjelma siapa saja.

Membicarakan perkembangan karakter tokoh-tokoh Against The Current, yang muncul di kepala saya adalah Lin Xiuwan—adik sepupu perempuan Lin Jinqi. Di awal kemunculannya, trouble maker kecil ini bikin penonton menahan kesal gara-gara kelakuannya yang manja dan kekanakkan. Ia melewati turbulensi emosi yang cukup ekstrim setelah terlibat peristiwa buruk. Ini kemudian menjadi titik balik Xiuwan untuk menata kembali hidupnya.

Xiuwan hanyalah satu dari banyaknya tokoh yang mengalami perkembangan karakter di Against The Current. Perkembangan karakter yang saya maksud adalah terjadinya perubahan-perubahan pada tokoh semula dan kemudian, ini bukan hanya soal pergantian status tapi juga tentang bagaimana mereka berpikir dan bertindak. Ada yang berubah pada bagaimana mereka menjalani dan memaknai hidup.

Cara Against The Current memperlakukan tokoh-tokohnya menunjukkan penghargaan dan dedikasi. Ia tidak menafikan perasaan dan emosi yang mereka miliki. Sebaliknya validasi diberikan, bukan untuk membenarkan tetapi mengakui demikianlah sisi paradoksial manusia.

Menurut saya, inilah cara bercerita paling jujur.

Kita tidak akan lupa betapa tragisnya kematian Marquis Yuan. Sebagian penonton mungkin merasa ia layak menerimanya setelah apa yang ia lakukan pada Lin Xiuru. Lalu kita bertanya kembali, apakah yang dilakukan Yuan pada Xiuru itu salah? Apakah itu memberikan kita hak mutlak untuk membencinya? Bagaimana dengan reaksi Lin Jinqi yang berubah menggila usai mendengar kematian sahabatnya itu? Di mata Jinqi, Yuan tetaplah orang yang pernah menyelamatkannya dulu.

Kontradiksi ini seharusnya menjadi pengingat kepada kita agar berhati-hati memberi label pada tokoh-tokoh Against The Current. Mereka bukan hanya tokoh hitam dan putih.

Drama ini tegas menampik ide yang mengatakan hanya tokoh-tokoh utama saja yang berhak tumbuh. Tak hanya Lanxiang dan Jinqi, tokoh-tokoh minor seperti Jinlan yang porsi kemunculannya tidak banyak tapi meninggalkan kesan yang sulit dilupakan penonton.

Perkembangan karakter tak selalu harus mengarah pada nilai positif, ia bisa berlangsung sebaliknya.Jika itu tak seketika terjadi dan menjadi melainkan melalui proses yang masuk akal, maka bisa dikatakan perkembangan karakternya jalan. Berhasil. Apakah Against The Current berhasil? Saya tidak ragu-ragu mengatakan ya.

Ini dilakukan Cui Que. Against The Current gak bikin karakternya semata jahat aja, penonton paham kenapa dia kayak gitu tapi nggak bisa ngasih simpati. Terdapat perbedaan yang besar antara Cui Que dan Xingtang. Terletak pada motivasi yang mendasari tindakan mereka. 

Akting & Chemistry

Di episode pilot, adalah adegan saat ibu kandung Shen Jialan dan ibu angkat bersimbah air mata sebelum melakukan perpisahan yang bikin saya bengong sejenak—lupa kalo mereka lagi acting. Saya inget persis reaksi saya, “wah, gilak. Keren banget actingnya. Gak mungkin aktris biasa ini.”

Saya baca Guo Ke Yu (ibu angkat Lanxiang) dan Ke Lan (ibu kandung Lanxiang) adalah aktris teater yang sudah malang melintang di dunia acting mainland. Guo Ke Yu sudah masuk ke dunia akting sejak usia 17 tahun. Waw.

Kamu bisa langsung tau kalau mereka aktris veteran, melihat betapa hebatnya nuansa emosi yang muncul di adegan tersebut. Aktingnya rapi dan mendetail. Itu tipe adegan yang akan selalu kamu ingat saking powerful-nya. Perpaduan sentuhan directing yang dingin dan kekuatan acting mumpuni.

Membicarakan acting di Against The Current, ga ada alasan untuk bilang nggak bagus. Nggak ada satu pun yang kurang bagus aktingnya. Semuanya bagus, ciamik, kawin dengan perannya masing-masing.

Tapi kayak nggak sah ya kalau nggak ngomongin acting dan chemistry Liu Xueyi dan Tan Songyun?

Bentar. Tarik napas dulu.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.

Edyaaaaaaan ya.

Saya mulai dari Tan Songyun dulu.

Sebelum Against The Current, saya udah nonton beberapa project Songyun. Ada yang saya tamatkan, ada yang saya lepas. Bukan karena aktingnya jelek, tapi nggak cocok aja dengan dramanya. Saya tau aktingnya Songyun bagus. Jam terbangnya tinggi. Variasi pilihan perannya juga ga monoton.

Tapi, setelah Go Ahead, barulah di Against The Current ini saya kembali bisa merasakan pesona skill Songyun yang kece super duper itu. Saya tekankan, ini adalah preferensi pribadi yang didasarkan pada pengalaman nonton saya. Jangan sampai ada yang keliru menerjemahkan maksud saya. Karakter Xu Lanxiang ngasih kesempatan ke Songyun untuk mengekplor acting dengan sangat maksimal. Sering kejadian pada aktor/aktris, problemnya bukan terletak pada skill acting, tapi karena miskinnya kedalaman karakter yang diperankan—writing problems. Jatohnya ya kayak biasa aja perannya, delivered emosi ke penontonnya ga menawan. Perannya nggak menantang.

Nah, mengikuti kisah Shen Jialan lalu Xu Lanxiang, bagaimana tokoh ini dibangun dan dihidupkan, kekayaan emosi yang dimilikinya ngasih kesempatan Songyun untuk mengeluarkan skill aktingnya. Ini peran yang sulit. Kamu perlu memahami karakter Lanxiang seutuhnya untuk bisa merasakan detail acting Songyun.

Lanxiang punya banyak sekali lapisan emosi. Perhatikan saja, Lanxiang sebelum tragedy dan setelahnya. Nuansa wajahnya berbeda kontras. Lanxiang setelah tragedy membawa luka trauma yang turut mengubah caranya melihat dan menjalani hidup. Sekilas, ia terlihat dingin. Sering ekspresinya sulit dibaca. Lanxiang bukan tipikal perempuan ekspresif. Inilah yang membuat saya melihat tokoh satu ini menyedihkan. Sebelum tragedy, saat masih bernama Shen Jialan, ia adalah anak perempuan pemalu yang santun. Lalu setelah melewati peristiwa hidup yang kejam kamu berharap Lanxiang berubah ceria dan banyak tertawa? Kamu menginginkan agar dia lebih ekspresif saat jatuh cinta? Jika itu yang terjadi, Lanxiang keluar dari pondasi dasar karakternya.

Tan Songyun, dengan kekuatan aktingnya berhasil menghidupkan karakter Lanxiang. Dia memberikan detail pada rupa-rupa emosi Lanxiang yang digambarkan lewat mikro-ekspresinya. Misalnya, adegan Jinqi mengikatkan benang takdir di tubuh mereka. Adegan ini mengalami banyak sekali interpretasi berbeda dari penonton. Di mata saya, ini adegan yang sarat emosi dan menjadi klimaks perasaan Lanxiang kepada Jinqi.

“If I’d known I would marry you, I would’ve taken better care of myeself…” Jinqi mengatakan ini pada menit ke 25-26 episode 47, di sini ekspresi Lanxiang masih merasa Jinqi sedang bercanda. Kalau ngeliat senyumnya Lanxiang, sepertinya dia sudah terbiasa digombalin Jinqi. Vibes pasangan yang sudah belasan tahun menikah terasa banget di sini. Tapi, coba perhatikan perubahan ekspresinya saat Jinqi mengatakan dengan nada getir pada bagian—“… back in Jinzhou.”

Lanxiang menangkap firasat itu. Cepat sekali kejadiannya, transisi dari raut wajah yang terbiasa menerima candaan Jinqi ke wajah yang menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi. Lanxiang tuh kayak mau bilang—no. Tidak. Tolong, jangan lakukan ini. Asli, pas bagian ini saya udah mulai nangis jelek.

“One lifetime is enough.”

Ada yang bilang kalimat Lanxiang ini membuktikan dia nggak mencintai Jinqi. Duh Gusti… Adegan yang nggak eksplisit begini memang sulit dipahami karena area mainnya ada di ruang emosi yang dalam yang jauh dari kesan vulgar. Ini justru cocok dengan narasi bahwa mereka sudah belasan tahun menikah.

Aku membaca ini sebagai ekspresi denial-nya Lanxiang terhadap apa yang akan terjadi berikutnya—kematian Jinqi. Lanxiang antara sedih dan takut kehilangan. Mana air muka Jinqi udah mulai serius.

“You’re such a fool—“ 

Such a romantic thing to say. Tone playful-nya Lanxiang makin menguatkan kalau mereka adalah pasangan yang sudah lama bersama dan terbiasa saling bertukar canda.

Siapa yang nangisnya makin menjadi-jadi di sini? IYA. SAYA.

Detik-detik Jinqi mulai kehilangan kesadaran, di situ mikro-ekspresi Songyun makin gilak sih. Itu klimaks banget cara nangisnya. Sangat cocok dengan karakter Lanxiang. Bukan dengan tangis yang meledak-ledak, tapi yang tanpa suara tapi luka kehilangannya terbaca.

Kalau setelah adegan ini, ada yang merasa Lanxiang ga mencintai suaminya. Maybe you never truly understood Lanxiang’s character to begin with.

Itu hanya satu dari banyak adegan penting yang menunjukkan kematangan akting Tan Songyun selama memerankan Lanxiang—karakter kompleks dengan lapisan emosi yang tidak sederhana. Karakter seperti ini sangat sering disalahpahami. Di dunia fiksi, juga dunia nyata.

Good job, Seven! Truly impressive! Hats off!

Coba sini bilang, kapan akting Liu Xueyi jelek? Nggak pernah kan? Dikasih peran apa pun, dijabanin dengan sangat professional dan nggak pernah gagal pendalaman karakternya. Berdasarkan testimoni orang-orang yang ngikutin project beliau, yang sering kejadian adalah dia kena prank naskah—ceritanya nyawit di tengah jalan wkwk. Keinget pengalaman nonton Love at Night. Premis ceritanya bagus, menarik minat nonton. Begitu mulai masuk pertengahan—ceritanya kehilangan arah.

Pengalaman saya menonton project Xueyi nggak banyak. Kabar burung bilang aktingnya bagus. Saya percaya. Terbukti di Against The Current, saya kena pelet Lin Jinqi. Akhirnya ya…

Liu Xueyi memiliki kemampuan akting lewat mata—ini bukan perkara mudah. Butuh jam terbang tinggi dengan variasi peran yang beragam. Pengalaman hidup juga punya andil besar. Dan saya percaya nggak semua aktor bisa delivered emosi karakter yang mendetail melalui sorot mata.  

Saya happy banget dong, akhirnya Liu Xueyi ketemu cerita yang ngasih dia kesempatan untuk bersinar. Meskipun saya statusnya hanya fans ‘Senin-Kamis’, but I’m rooting for him. Dengan kualitas se-kece itu, dia layak dan berhak mendapatkan sorotan utama. Sayang aja aktor model begini dianggurin.

Saya menemukan nuansa yang tidak familiar pada karakter Lin Jinqi, sama seperti Lanxiang, karakter ini tidak sederhana. Ia juga memiliki kompleksitasnya sendiri. Saya sudah terbiasa melihat tokoh utama pria di drama kostum dengan karakter yang warna utamanya cuma dua—digambarkan sebagai sosok yang dingin, keras, lalu berubah saat jatuh cinta.

Lin Jinqi tidak datang dengan pattern semacam itu. Saya bilang ini karakter ditulis dengan manusiawi dan rasional. Dia punya banyak sisi yang membuatnya bisa dicintai dan dibenci.  Karakter seperti ini menuntut kualitas akting yang no kaleng-kaleng.

Lin Jinqi is perfect in his imperfections.

Perubahan pembawaan Lin Jinqi muda ke dewasa membuat saya bertanya-tanya apa kiranya yang terjadi sehingga anak lelaki penurut dan polos itu berubah menjadi tegas, kuat dan berani menentukan sendiri pilihan-pilihan hidupnya? Awal kemunculan Jinqi dewasa, saya sempat merasakan sisi bengis dan licik pada dirinya, tapi di waktu lain, dia bisa sangat sopan, lembut dan penuh kasih sayang kepada ibu dan adik-adiknya.

Misalnya, adegan Jinqi mulai tertarik dan akhirnya jatuh cinta pada Lanxiang. Ini kan adegannya ga digambarkan secara blak-blakkan ya, tapi melalui detail kecil seperti gesture samar yang disampaikan melalui tatapan atau lirikan mata, senyum kecil, itu semua harus bisa meyakinkan penonton bahwa Lin Jinqi benar-benar jatuh cinta full full gas ke Lanxiang. Dengan spectrum akting yang luas, Liu Xueyi bukan hanya berhasil membuat yang nonton percaya Lin Jinqi jatuh cinta pada Lanxiang, tapi dia juga sekalian menyeret penonton jatuh cinta ke dia. Iya. Penonton itu saya.

Adegan yang menurut saya powerful adalah ketika Lin Jinqi akhirnya mengetahui identitas asli Lanxiang. Badai emosi Jinqi keliatan di situ—terkejutnya, sedihnya, seperti tidak percaya… bagaimana bisa Xueyi menggambarkan itu semua dalam satu tarikan dan dia bisa menampilkan detailnya sekaligus. Sebagai penonton saya sangat yakin dia nggak marah ke Lanxiang. Ini wow banget loh. Kemampuan memilah emosi tokoh, lalu memutuskan emosi apa saja yang tepat ditampilkan… he is amazing. There’s such maturity and nuance in Liu Xueyi’s performance.

BTW, LIN JINQI KOK TAMPAN AMAT YA? MAAP. PENONTON SATU INI SUKA SALFOK.

Pesona pria ini matang, gaes. Kharismatik. Ehm. Apakah doi sudah ada yang punya? Kalau belum, boleh lah—udah, stop, Azz. Fokus. Fokus…

Huft.

Oiya, saya perhatikan, tone suara Lin Jinqi turut berubah seiring transisi yang terjadi pada karakternya. Jinqi sebelum menikah dengan Lanxiang, setelah menikah, lalu punya anak, hingga anak-anaknya dewasa—jelas banget perubahan itu. Makin tambah umur, makin berat dan ini sangat masuk akal. Keren banget loh observasi dan interpretasi Liu Xueyi terhadap karakter Lin Jinqi. Makanya nggak heran, dia bisa ngebawain peran ini dengan maksimal. Dia tau orang seperti apa yang sedang dia hidupkan.

Hampir lupa, untuk adegan aksi, Liu Xueyi keren banget. No debat mah soal ini. Inget adegan berantem di kapal? Lin Jinqi di adegan itu mengingatkan saya dengan Lin Jinqi dewasa di awal-awal episode—garang, dingin dan kejam. Karakter ini di-tone down oleh pernikahan. Cuma Lanxiang dan anak-anaknya yang bisa. Jinqi nih potret laki-laki yang beda pembawaan di tempat kerja dan di rumah deh. Di rumah hangat banget banget… Terharu lihat interaksi dia dengan anak-anaknya. Bapak-able banget. Sayang episode Jinqi sebagai suami dan bapak nggak dibanyakin ya, padahal pengen liat. Pasti hangatnya menjalar-jalar masuk ke dalam hati penonton.

Siapa pun yang mengambil keputusan memasangkan Tan Songyun dan Liu Xueyi di drama ini, saya doakan rejekinya lancar, tidurnya nyenyak. Ini jenis pairing yang nggak selalu berhasil bukan karena aktingnya jelek, tapi naskahnya yang nggak berhasil. Akting bagus nggak selalu menjadi jaminan sebuah drama akan berhasil. Harus ditopang banyak hal. Mungkin yang benar untuk Tan Songyun, Liu Xueyi  dan Against The Current adalah mereka bertemu di naskah dan director yang tepat dan lahirlah chemistry yang fenomenal (di mata saya) itu. Boleh nggak sih ngarep mereka reunion lagi di drama?

Ini bukan tipe chemistry yang menyala lewat adegan-adegan intimate dan skinship yang intens, yang bikin penonton panas dingin melainkan chemistry  yang berhasil dibangun melalui dialog-dialog bermakna, gesture sederhana tapi mengandung romansa yang  menggetarkan. Slow burn-nya bikin gemes, gregetan. Percayalah, lebih sulit memainkan peran pada tipe chemistry seperti ini—nggak hanya butuh kemampuan akting yang bagus, tapi kerjasama yang cocok antar-aktor/aktris. Karena nunjukin emosinya ga secara langsung, frontal gitu, tapi lewat ekspresi-ekspresi bermakna. Ga heran banyak yang bilang Lanxiang nggak cinta Jinqi, afeksinya kurang. Ternyata, ga semua orang siap menonton orang-orang yang jatuh cinta dengan cara yang santun dan beradab.

Saya pernah bilang di salah satu cuitan saya di Twitter, semakin dewasa pemikiran, apalagi sebagai perempuan, yang kita cari adalah cinta seperti yang dimiliki Lanxiang dan Jinqi. Bukan cinta yang menggebu-gebu, tapi yang bikin tenang, hangat, dan bikin kita terlihat. Sebuah cinta yang memeluk.

Ngomong-ngomong soal cinta—masih berhubungan dengan chemistry, saya ngerasa amazing melihat Against The Current menceritakan kisah cinta tokoh-tokohnya. Meskipun nggak pake banyak adegan, esensi dari cerita cintanya dapet banget. Chemistry-nya, manisnya, jatuh cintanya. Kok bisa efektif ya? Saya punya keyakinan, ini terletak pada teknik bercerita yang matang, kemudian di-sah kan oleh akting natural para aktor/aktris yang berperan lalu di-direct dengan angle yang tepat.

Contohnya, kisah Xiuwan dan Xie Zhao. Hayooo, siapa yang senyum-senyum nonton adegan mereka? Manis banget kan? Dua orang ini adalah definisi sesungguhnya dari orang-orang yang bertemu di waktu yang tepat saat mereka telah menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Nggak usah ngejar cinta orang lain, capek. Jangan sampai, saking sibuknya ngejar, kita lupa sudah terlalu lama menelantarkan diri sendiri. Ouch.

Excellent performance ditampilkan juga oleh Li Meng (Zhao Xingtang). Li Meng memerankan Zhao Xingtang dengan sangat keren. Karakter ini menjadi identic karena Li Meng ngasih detail yang kemudian menjadi ciri khas Xingtang. Xingtang ini karakter yang paling ingin saya peluk kedua setelah Lanxiang. Punya privilege nggak menjamin kehidupannya sebagai perempuan akan bahagia.

Ini kali kedua saya terpesona dengan aktingnya Li Meng.

Divisi akting Against The Current tuh nggak ada yang gagal. Bahkan yang durasi kemunculannya singkat pun tetap bisa bersinar dan meninggalkan kesan di hati dan ingatan penonton.

Directing & Sinematografi

What does directing mean?

Sebagai penonton, saya selalu kagum dengan penyutradaraan sebuah film atau drama. Sebagus apa pun cerita dan akting para pemerannya, keduanya tetap membutuhkan bahasa audiovisual yang tepat agar bisa diterjemahkan menjadi pengalaman menonton yang utuh.

Directing dan sinematografi nggak harus selalu tampil spektakuler. Sentuhan sederhana pun bisa terasa specia jika mampu menjadi jembatan antara naskah, aktor, dan penonton. Penonton tak hanya terpikat pada gambar yang cantik, tetapi juga jatuh cinta pada keseluruhan adegan. Tak hanya memahami mengapa sebuah adegan perlu ada, penonton juga ikut masuk ke dalam pusaran rasa dan emosi yang dibawanya.

Jika penulis bercerita melalui kata-kata, sutradara menerjemahkan cerita itu ke dalam tindakan, ruang, waktu, suara, dan gambar bergerak.

Saya nggak tahu apakah Against The Current memiliki sinematografer yang berbeda dari sutradaranya—tentu saja keduanya memang bisa merupakan tanggung jawab orang yang berbeda—jadi saya akan membahas directing dan sinematografinya sekaligus.

Directing dan sinematografi Against The Current bekerja bersama menciptakan adegan-adegan yang punya nyawa. Saya nggak tahu istilah teknis yang paling tepat untuk semua gambar ini, tetapi sutradara kerap mengarahkan perhatian kita pada tempat, ruang, atau benda-benda yang sekilas tampak biasa. Bagi saya, gambar-gambar tersebut bukan sekadar sisipan untuk mempercantik visual. Ada atmosfer yang dibangun dan pengalaman emosional yang ditawarkan kepada penonton.

Misalnya, adegan perpisahan Jinqi dan Lanxiang di episode 47. Setelah Jinqi meninggal, kamera mengarahkan perhatian pada bunga rumput favorit Lanxiang. Detail itu memberi jeda sekaligus membawa makna emosional. Bunga rumput tersebut bukan lagi sekadar objek di dalam frame, ia terhubung dengan ingatan, perasaan, dan hubungan antarkarakter yang telah dibangun sepanjang cerita.

Di Against The Current, sebuah kue bisa membuatmu menangis. Itu bukan kue biasa, melainkan simbol trauma Lanxiang. Tanpa harus mengulang seluruh tragedi yang pernah menimpanya melalui banyak adegan, kemunculan kue itu saja sudah bisa membangkitkan kembali ingatan kita tentang masa lalunya. Kita mengingat tragedi menyakitkan yang dialami Lanxiang, lalu ikut merasakan kesedihannya. Sebuah objek sederhana menjadi begitu bermakna karena cerita telah membangun ikatan emosional antara objek tersebut dan karakter. Juga penonton.

Contoh lainnya adalah adegan Zhao Xingtang yang diambil dari atas, melalui atap yang berlubang, ketika wajahnya yang babak belur terlihat beberapa saat sebelum kematiannya.

Kalau ingat adegan ini, bawaannya pengin nangis aja.

Bagi saya, itu bukan sekadar pilihan sudut kamera yang menarik. Komposisi gambarnya membawa beban emosional yang terasa begitu berat, seolah-olah merangkum kehidupan Xingtang. Seukuran itu saja. Bahkan hingga akhir hidupnya, ia tetap terperangkap.

Seumur hidupnya, Zhao Xingtang bertarung mati-matian demi kebebasan yang ia cintai, hanya untuk mendapati kenyataan, bahwa hidup tidak pernah ramah kepadanya. Satu-satunya yang mau melihatnya sebagai Zhao Xingtang, manusia yang memiliki suara adalah Lanxiang. Dan Xingtang tahu itu.

Kamu mungkin memiliki interpretasi yang berbeda. Namun, bagi saya, begitulah keberhasilan directing dan sinematografi drama ini bekerja. Bukan hanya memperlihatkan sebuah peristiwa, tetapi juga membuat sebuah gambar terasa begitu dekat dengan nasib karakter yang ada di dalamnya.

Sutradara Huang Ying Xiang, bagi saya, memiliki kepekaan dan kreativitas dalam mengarahkan adegan. Ia tidak hanya membuat gambar terlihat bagus, tetapi juga menghadirkan nuansa emosional yang membuat adegan-adegannya terasa hidup. Adegan sederhana bisa menjadi berarti dan melekat kuat dalam ingatan penonton.

Saya juga ingin menyoroti sutradara aksi, Guo Ya Sha. Adegan perang dan perkelahian di drama ini bagus banget. Intens, mendetail, dan mampu menyeret penonton ke dalam ketegangan yang dibangun. Totalitasnya terasa sekali. Jadi, meskipun adegan berantemnya nggak banyak, setiap kali muncul, adegan-adegan itu terasa digarap dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan aksi dalam cerita.

OST & BGM

Siapa yang auto pengen nangis tiap denger "大梦归" (Return From A Great Dream) – Zhou Shen (周深)? Lirik dan melodinya memiliki semacam kekuatan yang bisa membangkitkan kesedihan, apalagi bagian reff-nya. Suaranya Zhou Shen kayak ada sihirnya deh. Spesialis nyanyi lagu menyayat hati dan jiwa raga.

Kalau ngomongin OST, saya nggak cuma bilang lagu-lagunya enak aja. Tapi pertanyaan paling penting adalah apakah Original soundtrack sebuah drama turut memberikan kontribusi pada drama yang bersangkutan.

Seluruh lagu yang tergabung dalam Original soundtrack Against The Current nggak ada yang jelek. Semuanya cocok dan enak di kuping saya. Beberapa lagu terasa membekas di ingatan saya sebagai penonton karena penempatannya pada adegan-adegan penting. Nah, ini yang saya maksud. Nggak sekadar enak didengerin, OST Against The Current memberikan cita rasa yang kuat pada dramanya. Liriknya yang puitis nyambung dengan adegan dan situasi yang dihadapi tokoh, sedangkan melodinya secara aktif terlibat mengacak-acak perasaan penonton. Mantap jiwa.

Tak berbeda jauh dengan OST, BGM (Background music) yang digunakan di drama ini ikut berpartisipasi membangun suasana yang diinginkan sebuah adegan. BGM-nya kaya akan melodi tradisional yang khas. Indah.

Kehadiran OST dan BGM sangat mempengaruhi nuansa emosional yang dibangun suatu adegan di Against The Current. Nggak semua adegan bisa diiringi OST, ada juga adegan yang terasa lebih kuat sisi emosionalnya jika hanya dibalut instrument. Itu yang dilakukan BGM Against The Current.

Jempol sebanyak-banyaknya kepada composer musiknya, Dong DongDong.

Ending

Bagaimana, sih, ending drama yang baik itu?

Soal ini tentu saja punya jawaban berbeda-beda bagi setiap orang. Namun, jika merujuk pada premis utama Against The Current, ending yang diberikan kepada drama ini adalah akhir yang bahagia bagi Lanxiang.

Lanxiang menjalani hidup sebaik-baiknya, seperti harapan dan doa mendiang ibunya.

Jika kita bersepakat bahwa Against The Current adalah tentang bagaimana Lanxiang bangkit dan berjuang untuk hidup, maka rumusan ending-nya sudah tepat.

Tapi Jinqi meninggal duluan, gimana dong?

Itulah definisi hidup yang ingin diceritakanAgainst The Current, realistis. Bahwa kematian dan kehilangan adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Jika kamu jeli, kamu akan melihat bagaimana drama ini memperlakukan kematian dan kehilangan dari sudut pandang yang berbeda.

Kita menjumpai banyak sekali kematian di sini. Bahkan, semuanya sudah dimulai sejak episode pertama. Yang saya tangkap, Against The Current tidak memperlakukan kematian semata-mata sebagai sesuatu yang buruk. Benar, kematian membawa kehilangan dan kesedihan. Namun, drama ini menceritakannya dengan cara yang indah tanpa harus mendramatisasi kepergian seseorang secara berlebihan.

Saya tanya, siapa yang nggak menangis untuk setiap adegan kematian di drama ini?

Bagaimana bisa menahan tangis kalau dialog, BGM, dan ekspresi wajah para tokohnya kompak mengajak kita menangis?

Lanxiang beruntung. Ia diberi umur panjang untuk menyaksikan orang-orang yang dicintainya menemukan kehidupan yang mereka inginkan.

Sebagai penonton, ada satu pertanyaan yang ingin sekali saya ketahui jawabannya: Apakah Lanxiang bahagia?

Saya ingin sekali memeluknya dan mengatakan, terima kasih sudah bertahan dan memilih untuk terus hidup.

It's a bittersweet ending for me as a viewer.

My Two Cents on Against The Current

Against The Current merupakan drama yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul Lan Xiang Yuan (兰香缘) karya He Yanshan (禾晏山).

Saya nggak baca novelnya. Berdasarkan komentar orang-orang yang baca novelnya, adaptasi drama ini dibikin berbeda. Sebagai penonton yang ga baca novelnya, saya menganggap cerita Against The Current sangat bagus. Cerita dan penokohan terstruktur dengan sangat baik, mendetail. Pengolahan konflik tidak terburu-buru. Namun, ada sejumlah membaca novel yang merasa kurang sreg dengan perubahan yang terjadi dan berakhir membandingkan kedua-duanya.

Pertanyaannya, bagian mana dari novel yang perubahannya bikin nggak suka?

Kalau saya baca deskripsi karakter Jinqi di novel, saya malah bersyukur versi dramanya dibikin seperti yang kita nonton. Nggak kebayang aja. Oke, Saya nggak ragu pada skill akting Liu Xueyi. Saya yakin dia bisa meranin karakter modelan begitu. Masalahnya, Against The Current yang harus ganti genre—slice of life ke thriller, suami sikopet. Nggak banget.

Apakah adaptasinya berhasil?

Saya nggak punya jawabannya, karena drama ini tidak mengikuti format dasar novelnya sebagai cerita tentang tokoh utama yang terlahir kembali dengan membawa ingatan masa lalu.

Saya juga membaca komentar sejumlah komentar yang menyoroti porsi romance Against The Current. Sayangnya, ketidakpuasan tersebut diarahkan langsung kepada Lanxiang. Disebut istri nggak berbakti lah, apalah itu. Katanya Jinqi udah berkorban segimana besarnya, Lanxiang-nya lempeng aja. Ya Allah Ya Rabb, orang-orang beneran nonton drama ini nggak sih? Beneran paham karakter tokohnya? Atau sambil nonton sambil nyusun scenario sendiri di dalam kepala, kemudian menaruh ekspektasi itu kepada cerita dan Lanxiang?

Trus dijawab—apa susahnya sih menyisipkan romance ke dalam cerita? Saya nggak suka nonton drama yang menuntut penonton harus mikir. Mau nonton yang ringan aja.

GANTI TONTONAN!

DRAMA INI BUKAN UNTUK KAMU.

Gampang kan?

Trus masih ngeyel sampa lebaran kuda.

Yang menarik dari perdebatan Against The Current, bagaimana kita terperangkap dalam ide yang mengatakan setiap orang berhak punya POV berbeda terhadap drama ini. Sampai di sini saya sepakat. Yang bikin kesal adalah ketika orang-orang mencampur-adukkan masalah selera dengan kebebasan interpretasi sebuah karya.

Ada perbedaan antara tidak menyukai sesuatu, tidak memahami sesuatu, dan menganggap sesuatu itu buruk. Ketiganya tidak selalu sama.

Saya nggak mempermasalahkan orang punya penilaian berbeda terhadap ATC. Silakan saja kalau memang nggak suka. Yang saya soroti adalah ketika ketidakcocokan personal itu kemudian diterjemahkan menjadi kekurangan karya, seolah-olah sebuah cerita harus mengikuti selera kita agar bisa dianggap bagus.

Tampaknya sebagai penonton, kita masih kesulitan menetapkan batasan-batasan yang jelas untuk diri kita sendiri.

Jinqi adalah red flag.

Buanyak banget komentar seperti ini di temlen medsos saya.

Saya sempat menyenangi pelabelan red flag vs green flag pada tokoh fiksi, hingga akhirnya saya merasa muak. Seolah-olah karakter yang diberi tanda red flag nggak layak disukai. Red flag adalah identitas yang akrab dengan karakter buruk.

Saya nggak terima Jinqi disebut red flag.

Jujur, saya mulai alergi dengan pelabelan ini. Bukan karena saya menganggap Jinqi sempurna atau semua tindakannya bisa dibenarkan, melainkan karena saya merasa label semacam ini kerap menyederhanakan karakter yang seharusnya bisa dibaca dengan lebih kompleks.

Seolah-olah kita sudah tahu siapa dia hanya dengan memberinya satu label.

Padahal, karakter fiksi tidak selalu sesederhana itu. Ada latar belakang, motivasi, kontradiksi, dan perkembangan yang perlu kita ikuti sebelum memutuskan bagaimana kita memandangnya.

Oleh sebab itu, hal pertama yang saya lakukan untuk memahami karakter adalah dengan melihat ia dari jauh—saya memilih berjarak. Ini membantu saya memahami satu karakter lebih dalam agar saya tidak terburu-buru menghakimi. Nggak hanya berlaku pada tokoh protagonist, tapi antagonisnya juga.

Tapi kan kita nonton untuk nyari hiburan?

Ya. Saya ga menampik itu. Kadang, saya butuh nonton drama ringan yang ga pake mikir. Saya cuman butuh haha-hihi liat orang jatuh cinta, contohnya.

Saya termasuk penonton yang punya tombol on/off, kapan harus menghidupkan logika fiksi, kapan harus mematikkannya—tergantung apa yang sedang ingin saya nonton. Saya berusaha menempatkan diri sesuai apa yang saya putuskan untuk ditonton. Kan nggak lucu, misalnya saya nonton drama idol ringan, trus saya komentarin ketidaklogisan karakter atau ceritanya—saya mati-matian komentar ceritanya nggak masuk akal. Lah, kalau memang sedari awal dramanya dibuat nggak masuk akal, berarti nggak ada yang salah dong? Yang salah adalah saya yang keliru memilih tontonan. Kalau mau nonton yang logis ya jangan nonton drama idol. Sesederhana itu tapi nggak semua penonton sanggup dan mampu.

Menurut pemahaman saya, red flag bukan merujuk pada identitas mutlak seseorang tapi tanda peringatan atau gejala yang berpotensi mengarahkannya menjadi manusia problematic.

Jinqi bukan red flag. Benar, dia memiliki kekurangan yang jika dilihat di mana dan bagaimana ia tumbuh, itu bisa dimaklumi tanpa membenarkan. Tapi apakah Jinqi problematic? No. Saya tidak melihat itu. Saya nggak melihat Jinqi sebagai manusia manipulative. Di mata saya, Jinqi adalah tokoh utama pria yang sangat realistis di drama kostum. Dia nggak datang sebagai manusia yang sudah selesai dengan dirinya, tapi yang mau terus belajar dan memahami. Jinqi memberi ruang yang luas kepada dirinya untuk tumbuh, dan itu dimulai ketika ia mengenal dan menikahi Lanxiang.

Dari sekian banyaknya kritik yang ditujukan kepada ATC, adalah unsur romance yang paling banyak mendapatkan suara.

Sewaktu menonton The First Jasmine, saya suka banget dengan relasi suami-istri tokoh utamanya. Rasanya saya kayak dapat angin segar. Nggak banyak drama kostum yang pernah saya nonton mau menceritakan kehidupan suami istri seperti yang TFJ lakukan. Biasanya abis nikah, punya anak, kelar. TFJ memilih menceritakan dinamika pada relasi tersebut dengan berusaha realistis.

Itu pula yang dilakukan Against The Current. Saya tidak sedang membandingkan atau menyamakan dua drama tersebut. Saya butuh drama yang sejenis mereka. Beberapa judul sudah masuk list. Semoga cocok.

Against The Current memilih menceritakan romance dengan santun. Dan ini cocok-cocok saja dengan premis dan karakter tokohnya. Udah sesuai alur dan jalurnya.

Ini preferensi pribadi ya. Saya suka lihat Lanxiang dan Jinqi ngobrol santai berdua. Itu domestic behavior nya pasutri yang udah belasan tahun menikah. Sayang, adegan mereka nggak banyak ya. Huhuhu.

Saya juga sukaaaa banget kostum dan penataan make up di Against The Current. Ini juga nggak kalah detailnya. Saya ambil contoh tokoh Jinqi dan Lanxiang. Perubahan penampilan mereka nyata terlihat berdasarkan timeline kehidupan dan status. Saya nggak ngerti ornament atau symbol yang melekat di penampilan mereka. Saya melihat perubahan Jinqi tuh tetep keliatan natural dan pas aja. Nggak aneh, nggak kaku. Se-nyata itu. Jinqi sebelum menikah dan Jinqi versi bapak dua anak vibes-nya nggak bohong. Jadi nggak cuma terasa dari perubahan tone suaranya, tapi juga penampilan fisiknya. Keren deh, yang megang divisi ini. Totalitas tanpa batas.

Saya keliru tentang satu hal. Saya pernah berpikir bahwa Jinqi-lah yang akan menjadi pintu damai untuk trauma di hati Lanxiang. Bahwa pernikahan akan mengubah sudut pandang Lanxiang terhadap duka atas kehilangannya. Sempit sekali pemikiran saya.

Lanxiang merumuskan jalannya sendiri. Ia menulis.

Menulis yang semua menjadi katarsis bagi Lanxiang, ternyata kelak menjadi jalan bagi terbukanya kebenaran peristiwa masa lalu yang berhubungan dengan keluarga Shen.

Jadi, apa makna dari judul Against The Current?

Perempuan yang melawan.

Eh, saya udah ngomong panjang lebar begini, tetap berasa masih kurang masih ada yang pengen diomongin. Tapi ini aja udah 17 halaman Ms. Word. Udah panjang bangettt ini mah. Udahan aja yuk?

Maafin ya kalau suara kita nggak sama.…

Rating :

 ⭐⭐⭐⭐⭐

Fiksi yang baik ga selalu meminta kita menyetujui manusia.  Adakalanya, fiksi 'meminta' kita melihat manusia dengan lebih utuh.

Dan saya selalu jatuh cinta pada drama yang 'memiliki' kemampuan bercerita mendetail, konsisten, dan menawarkan pengalaman emosi yang kaya—itulah Against The Current di mata saya.

Against The Current layak dicintai banyak orang.

Drama ini membawa pesan kepada para perempuan, satu pohon tidak akan sanggup menjelma hutan. Sebuah lampu saja, nyalanya tidak akan mempunyai langkah yang panjang. Maka menjadi peduli kepada sesama perempuan seperti yang dilakukan Lanxiang kepada perempuan-perempuan di Against The Current adalah kekuatan yang harus dihidupkan.

Ingat, drama ini adalah sebuah pelajaran untuk terus hidup dan berjuang.

Tabik,

Azz.

Disclaimer : tulisan di bawah ini sangat subyektif, ditulis hanya mewakili sudut pandang saya sebagai penonton ATC.

Sejak meniatkan hati menulis review Against The Current (ATC), saya sudah berkali-kali duduk bengong di depan laptop—nggak tau bagaimana memulai tulisan. Selama berhari-hari, layar laptop hanya menampilkan Ms. Word yang kosong. Blank. Ini biasa terjadi setiap kali saya menyukai satu drama. Perasaan saya terlalu penuh hingga membuat saya kesulitan menemukan paragraph pembuka.

Saya terlalu menyukai Against The Current.

Saya pertama kali tau keberadaan Against The Current saat nggak sengaja menonton trailernya di aplikasi WeTV. Jatuh cinta pada pandangan pertama—anggaplah seperti itu yang terjadi pada saya—Ada sesuatu pada cuplikan trailer ATC yang bikin saya penasaran dan berharap agar drama tersebut segera ditayangkan. Begitu ATC tayang, saya langsung nge-gas nonton episode perdananya. Saya yakin banget ini akan menjadi salah satu drama kostum terbaik yang pernah saya nonton. Beneran deh, saya ga pernah seyakin ini nonton episode pilot drama China.

Dan itulah yang terjadi. Against The Current membuktikan, kali ini saya nggak salah menaruh ekspektasi. Biasanya, untuk drama China, saya butuh 3-6 episode untuk bisa masuk ke dalam ceritanya. Tapi dengan drama ini, saya hanya butuh satu episode untuk yakin ini bakal bagus banget seterusnya. Hook di episode pertama berhasil.

Episode pertama, brutal-nya bukan yang bikin ngeri  tapi nyesek, pilu. Intens-nya nagih. Penggambaran adegan-adegan kematiannya juga eksplisit dan cenderung sangat berani. Bagi sebagian orang ini mungkin butuh trigger warning. Di sisi lain, gaya penceritaannya luwes, ga dikesankan menghakimi—penonton diberi kebebasan melakukan apa pun kepada cerita dan tokoh-tokohnya.

Saya punya banyak sekali alasan mengapa saya memasukkan Against The Current ke daftar drama kostum terbaik yang pernah saya nonton. Di sini, saya akan menuliskannya satu-persatu—alasan-alasan itu. Bagi sebagian orang, ini mungkin akan terdengar bias—sangat bias, sebab sejak awal saya melihat drama ini menggunakan sudut pandang saya yang subyektif, berangkat dari rasa suka yang dalam. Jadi, bila dalam penulisan review suka-suka ini kamu menemukan sesuatu yang nggak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan mengenai Against The Current, that’s okay. Bukankah kita memiliki suara di dalam kepala masing-masing? Yang meski nadanya nggak selalu selaras dengan suara-suara di luar sana, itu tetaplah suara kita. Malah, kita boleh kok saling mendengarkan dengan baik tanpa harus merasa salah satu di antara kita lah yang paling tepat nadanya.

So, here we go.

It’s me. Azz and her POV.

Storyline, Plot dan Konflik

Shen Jialan, cucu dari Cendekiawan Agung Shen Qihan—Sekretaris Agung Kekaisaran, ditunangkan dengan Lin Jinqi, cucu dari Menteri Urusan Kepegawaian. Dua keluarga terpandang itu sepakat menyambung hubungan kekerabatan melalui pernikahan.

Shen Jialan semata bahagia menerimanya. Ia adalah anak yang patuh dan berbakti.

Namun, ketika pergolakan politik melanda istana kekaisaran, sang kakek dituduh melakukan pengkhianatan dan seluruh keluarganya ikut dihukum.

Beruntung, Jialan diam-diam diselamatkan oleh Xu Wan Quan dan istrinya—sepasang budak yang sebelumnya pernah ditolong ibunya Jialan saat keduanya pontang-panting mencari bantuan untuk anak perempuannya yang sakit parah. Untuk menyelamatkan Jialan, mereka kemudian menggunakan identitas—Xu Lanxiang, nama putri mereka yang baru saja meninggal. Kini hidup dengan nama Xu Lanxiang, Shen Jialan menjadi seorang pelayan rendahan di kediaman keluarga Lin, tempat keluarga angkatnya bekerja.

Sebenarnya, saat huru-hara terjadi, keluarga Lin ikut terseret, namun kakek Lin Jinqi memilih menyelamatkan keluarganya dan menerima tawaran damai Kaisar. Itulah yang terjadi. Akibat kekuasaan, satu generasi dipaksa hilang, sedang satu generasi lainnya tetap bertahan.

Meski harus menghadapi kerasnya kehidupan barunya, Lan Xiang menolak tunduk pada takdir. Berbekal kecerdasan, ia berhasil bertahan di tengah intrik keluarga Lin sembari berusaha menjaga identitas aslinya tetap tersembunyi. Lanxiang menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Ia hadir melampaui batas-batas kelas social. Sesungguhnya, Lanxiang sedang belajar mengamini pesan terakhir mendiang ibunya yang memintanya agar tetap hidup. Permintaan itu ditulis pada selembar kertas doa yang kemudian selalu dibawa Lanxiang ke manapun ia pergi.

Lanxiang berjuang keras agar ia dan keluarga angkatnya bisa terbebas dari status budak.

Suatu hari kesempatan itu akhirnya datang. Namun hanya sebentar. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Lin Jinqi nekat meminta dekrit Kaisar untuk menikahi Lanxiang. Rupanya, selama Lanxiang bekerja sebagai pelayan di kediaman Lin, Lin Jinqi diam-diam menaruh perasaan sayang kepadanya. Jinqi tidak melihat kemungkinan yang bisa menyatukan mereka berdua. Perbedaan derajat keduanya terlalu jauh. Ia berpikir, satu-satunya jalan adalah dekrit kaisar.

Lalu, bagaimanakah Lanxiang menjalani hidupnya? Tidakkah takdir sedang bermain-main dengan hidupnya? Ia dipaksa menikah dengan seseorang yang dulu dengan mudahnya memutuskan hubungan pertunangan demi perkara politik.

47 episode Against The Current menceritakan bagaimana Shen Jialan hidup sebagai Xu Lanxiang dengan tetap menjadi dirinya sendiri, ia mampu menjaga martabat dan prinsip-prinsip yang diyakininya.

Ketika saya mengatakan ada sesuatu pada drama ini yang membuat saya tertarik bahkan hanya dengan menonton cuplikan trailernya, saya benar-benar kesulitan mendeskripsikan apa yang saya rasakan. Saya mencoba mencari kata atau kalimat untuk mengartikulasikan itu tetapi saya tetap nggak menemukannya. Saya jatuh suka dengan sorot matanya Tan Songyun yang terlihat sendu—seperti menyimpan banyak cerita. Sewaktu menonton trailer ACT, saya nggak tau sama sekali drama ini menceritakan apa, saya juga nggak tau nama tokoh yang diperankan Songyun. Aneh kan? Jarang-jarang loh saya begini. Saya lah orang yang sulit dibikin jatuh cinta itu, tapi begitu jatuh cinta… ga usah dibahas. Ketebak menggilanya seperti apa. It’s pure magic.

Selain sorot mata Songyun, saya juga menyukai nuansa yang dibangun potongan-potongan adegan di trailer, pada tone dan gradasi warna gambarnya, sinematografinya. Ada nuansa atmospheric yang sangat kental. Di trailer tersebut, saya melihat perempuan-perempuan muncul dengan ekspresi wajah bermacam-macam, yang berbicara tentang mimpi dan harapan. Barangkali, itulah yang membuat saya nggak sabaran untuk segera mendapatkan jadwal tayang Against The Current.

ATC merupakan drama female-centric yang mengusung kehidupan perempuan sebagai pusat gravitasi cerita. Mengenai female-centric, saya perlu menekankan bahwa drama ini nggak memotret kehidupan perempuan menggunakan lensa romansa dengan tokoh utama pria. Female centric yang digunakan bukan berkisar pada bagaimana kehadiran tokoh utama pria memengaruhi kehidupan tokoh utama perempuan. Porsi romance tidak pernah diniatkan akan menjadi plot utama.

Menurut pemahaman saya setelah menonton 47 episode drama ini, female-centric drama yang diusung Against The Current artinya menempatkan pengalaman hidup perempuan dalam cerita yang meliputi perkembangan karakternya di tengah konflik, bagaimana ia menentukan pilihan-pilihan hidupnya, bagaimana relasi-relasi yang berkembang turut mempengaruhi sudut pandangnya sendiri.

Sejumlah pertanyaan menarik bisa menggambarkan pondasi female-centric yang digunakan Against The Current.

Siapa aku sebenarnya?

Bagaimana aku bertahan dalam system yang tidak berpihak kepadaku?

Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Bagaimana aku menentukan hidupku sendiri?

Bagaimana hubunganku dengan keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan perempuan lain bisa membentuk diriku?

Yang menarik, saat menonton drama ini, saya sama sekali tidak merasakan bentuk perlawanan yang frontal (keras) terhadap system kehidupan yang kental aroma patriarkinya. Bentuk perlawanan ditunjukkan dengan cara halus dan cerdik. Lanxiang gak ditampilkan bak pahlawan wanita yang penuh retorika, tajam, dan keras kepala. Dari sorot matanya yang penuh kesigapan, Lanxiang tumbuh menjadi perempuan yang pandai membaca situasi, lihai menemukan cara untuk bertahan hidup dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkannya.

Ya. Garis cerita Against The Current ditarik dari sudut pandang Lanxiang. Arus cerita berawal dan berakhir dari dan kepada dirinya. Ia menjadi premis utama dan pion yang menggerakkan konflik, tetapi ia tidak menjadi satu-satunya pusat cerita. Berangkat dari dirinya, rangkaian kisah membentuk plot dan konflik yang berkembang dengan sangat rapi, tidak tumpang tindih, tidak merusak cerita utama, konsisten berpegang teguh pada premis awal. Jika sedari awal kamu sudah melewatkan  ini, kemungkinan kamu nyasar di dalam memahami cerita sangat besar potensinya.

Against The Current mengingatkan saya sewaktu membaca Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer belasan tahun lalu, saya dibuat merenung untuk waktu yang sangat lama. Tetralogi Buru itu mengambil latar waktu sekira antara 1898-1918, namun muatan fenomena social yang terjadi masih banyak dirasakan di era modern saat saya membaca novel tersebut. Saya melihat ini terjadi di Against The Current. Meskipun drama yang naskahnya ditulis oleh Tong Hua dan Xiao Lou ini mengambil latar waktu masa lampau, di era kekaisaran Tiongkok—ada yang bilang Dinasti Ming—namun muatan konflik dan isu yang meliputi dunia perempuan di drama itu masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Hebatnya, cara bercerita drama ini nggak terkesan menggurui. Kritik disampaikan dengan cara yang santun dan menyentuh. Drama ini tidak terlihat seperti berusaha memperjuangkan emansipasi perempuan secara brutal. Ia memilih jalur reflektif dan jujur. Seperti ingin mengatakan, beginilah kenyataan hidup yang dijalani para perempuan di dunia ini.  Sebagai perempuan, apa yang bisa kita lakukan agar tetap mampu menjalani hidup sebaik-baiknya, sehidup-hidupnya? Alih-alih terperangkap dalam ketidakberdayaan dan kekalahan yang menyakitkan, Against The Current memberikan sudut pandang baru tentang bentuk perlawanan yang lain.

Di tengah arus patriarki yang kuat, Against The Current ingin mengingatkan kembali betapa besar dan kuat peran perempuan di tatanan kehidupan bermasyarakat—bukan sebagai pelengkap atau pesuruh, tapi ia menjadi bagian penting yang turut menyusun suatu peradaban. Lihatlah Qin Shuhua yang dikenal sebagai Madam Lin, ibunya Lin Jinqi. Akan jadi apa keluarga Lin kalau urusan rumah tangga nggak dipegang orang se-cakap beliau?

Against The Current menjadi drama female centric yang bisa diterima seluruh lapisan karena tokoh-tokoh perempuan yang diangkatnya tidak hanya tertuju pada satu kalangan saja. Ia memotret dari berbagai sudut kehidupan—bangsawan dan budak. Tak hanya perempuan-perempuan yang memiliki hak istimewa pada tatanan social, tetapi juga perempuan-perempuan yang kehilangan banyak hak atas hidupnya hanya karena ia tak lahir dari garis keturunan biru. Drama ini seolah ingin menegaskan bahwa patriarki tidak memilih warna. Ia hanya memilih perempuan.

Sudah sangat jelas di episode perdana, Lanxiang tidak pernah diarahkan untuk menjalankan plot balas dendam. Bukan itu tujuan drama ini dibuat. Against The Current juga tidak menjadikan identitas Lanxiang sebagai bagian cerita yang akan memberikan perubahan arah konflik, bahwa itu menjadi bagian dari plot, ya, tapi tidak menjadi konflik utama. Ini penting sekali karena titik inilah yang memberikan perbedaan besar antara Against The Current dan drama kostum lain yang kerap disebut-sebut sebagai female centric.

Di mata Against The Current, sebaik-baiknya perlawanan adalah dengan tetap memilih hidup. Seperti yang dilakukan Ji’er. Ia menolak kalah oleh keadaan. Meski tahu pilihan hidupnya akan dipenuhi kesulitan, tapi dia nggak mau menyerah.

Ada lagi satu hal yang menurut saya sangat brilliant, Against The Current tidak semena-mena menyoroti posisi kaum lelaki hanya karena drama ini membawa isu emansipasi dan feminism. Porsinya realistis. Drama ini tidak berupaya menarasikan ketidakberpihakan system pada perempuan adalah karena semata kesalahan para lelaki. Artinya, drama ini menghargai kecerdasan penonton. Ia percaya, penonton mampu menangkap pesan yang ingin ia sampaikan tanpa harus menjelaskannya dengan retorika.

Unsur politik yang kerap menjadi pusaran utama drama kolosal tidak berlaku di sini. Against The Current memilih jalan yang tak biasa—irisan politik tidak dibiarkan mengganggu focus cerita utama tetapi ia tetap menjadi bagian penting yang membentuk keutuhan cerita. Bahwasanya politik di masa itu (dan masa sekarang) sangatlah berpengaruh bagi seluruh aspek kehidupan. Siapa yang pemimpin, seperti apa dia memimpin, dan seperti apa keputusan-keputusan politiknya bisa secara langsung memberikan efek kepada masyarakat di bawah.

Ada satu adegan yang belum pernah saya lihat di drama kostum yang saya pernah saya tonton dan ini ngasih saya pengetahuan baru. Adegan pemberontakan di ibukota. Seluruh daerah kekaisaran terkena imbasnya. Di drama ini, reaksi dari para pelayan/budak diberi sorotan. Saya tidak akan melupakan reaksi Yu Chan saat pertama kali mendengar adanya perebutan kekuasaan antar saudara. Perang tidak hanya soal pergeseran kekuasaan yang melibatkan orang-orang di atas. Yang akan kena dampak pertama adalah kalangan bawah. ATC ingin menunjukkan peran para pelayan/budak pada masa-masa rentan tersebut. Selama nonton drama kostum Tiongkok, ini pertama kali saya melihat kehidupan para budak/pelayan mendapatkan porsi yang besar. Ini menambah pemahaman baru buat saya.

Inilah beberapa alasan inilah yang bikin saya betah menonton Against The Current sampai episode terakhir. Garis ceritanya sudah selesai dirumuskan sebelum ditulis dan divisualisasikan—penulisnya tahu betul apa yang sedang ingin ia sampaikan kepada penontonnya. Kenapa saya berpikir demikian? Drama ini memilih setia pada premis. Ia tidak menjanjikan hal lain. Yang berusaha dilakukan adalah menjawab apakah Lanxiang akhirnya bisa hidup sesuai permintaan ibunya. Dan kita tahu jawabannya usai menamatkan 47 episodenya.

Ucapan Xue Gui Hua, ibu angkat Lanxiang berikut membantu kita menemukan jawaban itu.

“I hoped you’d live like wild grass. Not only did you do that, but you’ve also done far more and far better than I’ve ever imagine. You’re like wild grass, but also like a flower. Like a great tree. Not only have you made a good life for yourself, but you’ve helped others live well too and helped them make a place for themselves in this world.”

Lanxiang tak hanya hidup tanpa kehilangan kesejatian dirinya. Ia juga menjadi pohon besar yang memberikan keteduhan kepada orang lain.

Saya jatuh cinta pada cara bercerita Against The Current. Butuh keberanian, idealisme, kepekaan, intelektualitas dan pengetahuan mendalam untuk menulis cerita se-lugas ini. Saya menemukan banyak unsur yang turut membentuk identitas drama ini, salah satunya filosofi kehidupan yang mengakar pada budaya dan kepercayaan yang dihadirkan berupa symbol pada benda, nyanyian, dan lain-lainnya.

Saya menyukai bagaimana drama ini konsisten menjaga nilai-nilai adat tradisional, misalnya aturan pergaulan laki-laki dan perempuan. Tak banyak drama kostum memerhatikan detail satu ini. Jadi, rasa tradisional Against The Current terasa kental. Kuat.

Against The Current memiliki cara bertutur yang sangat indah, puitis, hangat, manis, terkadang menyisakan getir dan sedih yang melekat lama pada. Seperti halnya hidup, nano-nano, ramai rasanya—yang baca pake nada ketahuan umurnya. Lapisan konflik drama ini tidak tumpang-tindih, penyelesaiannya tuntas. Pergerakan plotnya tidak monoton, luwes. Tak terasa satu episode selesai.

Ini adalah cerita tentang kehidupan perempuan yang hidup di satu era di masa lalu, dengan isu-isu keperempuanan yang masih terus bernapas hingga di detik ini.  berdiri kokoh sebagai drama female centric yang realistis dan memikat. Ia merangkul dan menguatkan.

Selama menonton, saya kerap bergumam, yeah, that’s how things are in real life.

Penokohan dan Perkembangan Karakter

Saya masih inget ada satu komentar di bawah poster karakter Against The Current yang bilang kurang lebih begini, “buset, sekampung banget ini?”

HAHAHAHAH karena sebanyak itu tokoh-tokohnya. 47 episode dengan tokoh segambreng, ini gimana cara ngapalinnya?

Pada banyak drama yang saya tonton, khususnya drama kostum, fokus saya sering kali hanya tertuju pada tokoh utama dan tokoh jahatnya—karena hanya mereka yang dibiarkan menonjol. Karakter-karakter pendukung tidak selalu mendapatkan detail karakter yang cukup kuat untuk membuat mereka berkesan.

Against The Current memperlakukan tokoh-tokohnya dengan adil. Mereka diberi ruang untuk tumbuh, termasuk karakter yang dinilai jahat oleh penonton. Mereka ada untuk diingat, bukan sebagaitempelan, melainkan sebagai manusia yang memiliki cerita kehidupannya sendiri. Identitas mereka jelas, perkembangan karakternya terasa organic dan orisinil.

Banyak irisan cerita dalam drama ini yang membuat saya percaya bahwa mereka bukan sekadar kisah yang hidup di dalam fiksi. Seolah-olah mereka benar-benar pernah hidup di suatu masa. Mungkin saja, rupa kisah mereka adalah orang-orang yang saya kenal.

Saya tidak perlu memaksakan diri untuk memahami situasi dan perasaan tokoh di drama ini sebab dramanya sendiri sudah ngebantu banget saya untuk bersimpati. Jadi, sebelum kelepasan nge-judge, saya sudah lebih dulu paham kenapa si tokoh melakukan tindakan tertentu. Drama ini bukan soal siapa yang jahat siapa yang baik. Seperti halnya di kehidupan nyata, kita nggak akan selalu menjadi protagonist. Boleh jadi, di kehidupan orang lain kita lah antagonisnya.

Tokoh-tokoh di drama ini memiliki kompleksitas karakter.

Zhao Xingtang, misalnya. Kita bisa dengan mudah menyebut dia jahat berdasarkan apa yang ia lakukan. Tapi, benarkah dia jahat? Kalau sedari awal kita sudah memahami konflik utama drama ini adalah perempuan vs system, maka kita harus melihat kembali keputusan yang menilai Xingtang jahat.

All she wants is to embrace her freedom and live her life as an independent woman, but the world she lives in simply won’t let her.

System di mana ia hidup tidak memberinya pilihan lain. Maka ia melawan dengan cara yang dimaknainya benar. Saya tidak mengatakan bahwa yang ia lakukan benar. Tetapi, saya mencoba memahami bagaimana ia menjadi demikian.

Sebagai penonton Against The Current, memahami POV tokoh sangat penting bagi saya agar tetap berada di track yang tepat. Menurut saya, ini bisa terjadi bila dramanya mampu meyakinkan penonton bahwa orang-orang yang ia ceritakan adalah manusia nyata. Dan jika ini berhasil, penonton akan dengan mudah membangun relasi emosi dengan mereka, para tokoh tersebut.

Saya teringat, reaksi saya saat menonton episode pertama ATC—saya nangis jelek. ATC membuat saya bersimpati pada Shen Jialan—relasi emosi itu berhasil terjalin tanpa proses panjang. Alih-alih memikirkan bagaimana cara Shen Jialan membalas dendam, sepanjang menonton episode-episode ATC, saya hanya berharap Shen Jialan hidup bahagia. Itu saja.

Saya nggak akan capek bilang, betapa rapi penokohan di drama ini. Setiap tokoh membawa pesan tanpa terkesan menceramahi penonton.

Drama ini berhasil merangkul begitu banyak isu perempuan dalam tatanan kehidupan sosial tradisional, yang sebagian di antaranya masih relevan dengan kehidupan modern. Semuanya dibawakan dengan rendah hati, reflektif, dan menggugah.

Saya melihat Against The Current sebagai sebuah miniatur kehidupan. Di dalamnya, kita bisa melihat sistem sosial yang tidak selalu ramah kepada perempuan, beserta bagaimana sistem itu membentuk kehidupan dan pengalaman para tokoh perempuannya.

Pada akhirnya, boleh dikatakan, tokoh utama drama ini adalah perempuan. Ia punya banyak wajah, nama, dan kisah. Di kehidupan kita, mereka bisa menjelma siapa saja.

Membicarakan perkembangan karakter tokoh-tokoh Against The Current, yang muncul di kepala saya adalah Lin Xiuwan—adik sepupu perempuan Lin Jinqi. Di awal kemunculannya, trouble maker kecil ini bikin penonton menahan kesal gara-gara kelakuannya yang manja dan kekanakkan. Ia melewati turbulensi emosi yang cukup ekstrim setelah terlibat peristiwa buruk. Ini kemudian menjadi titik balik Xiuwan untuk menata kembali hidupnya.

Xiuwan hanyalah satu dari banyaknya tokoh yang mengalami perkembangan karakter di Against The Current. Perkembangan karakter yang saya maksud adalah terjadinya perubahan-perubahan pada tokoh semula dan kemudian, ini bukan hanya soal pergantian status tapi juga tentang bagaimana mereka berpikir dan bertindak. Ada yang berubah pada bagaimana mereka menjalani dan memaknai hidup.

Cara Against The Current memperlakukan tokoh-tokohnya menunjukkan penghargaan dan dedikasi. Ia tidak menafikan perasaan dan emosi yang mereka miliki. Sebaliknya validasi diberikan, bukan untuk membenarkan tetapi mengakui demikianlah sisi paradoksial manusia.

Menurut saya, inilah cara bercerita paling jujur.

Kita tidak akan lupa betapa tragisnya kematian Marquis Yuan. Sebagian penonton mungkin merasa ia layak menerimanya setelah apa yang ia lakukan pada Lin Xiuru. Lalu kita bertanya kembali, apakah yang dilakukan Yuan pada Xiuru itu salah? Apakah itu memberikan kita hak mutlak untuk membencinya? Bagaimana dengan reaksi Lin Jinqi yang berubah menggila usai mendengar kematian sahabatnya itu? Di mata Jinqi, Yuan tetaplah orang yang pernah menyelamatkannya dulu.

Kontradiksi ini seharusnya menjadi pengingat kepada kita agar berhati-hati memberi label pada tokoh-tokoh Against The Current. Mereka bukan hanya tokoh hitam dan putih.

Drama ini tegas menampik ide yang mengatakan hanya tokoh-tokoh utama saja yang berhak tumbuh. Tak hanya Lanxiang dan Jinqi, tokoh-tokoh minor seperti Jinlan yang porsi kemunculannya tidak banyak tapi meninggalkan kesan yang sulit dilupakan penonton.

Perkembangan karakter tak selalu harus mengarah pada nilai positif, ia bisa berlangsung sebaliknya.Jika itu tak seketika terjadi dan menjadi melainkan melalui proses yang masuk akal, maka bisa dikatakan perkembangan karakternya jalan. Berhasil. Apakah Against The Current berhasil? Saya tidak ragu-ragu mengatakan ya.

Ini dilakukan Cui Que. Against The Current gak bikin karakternya semata jahat aja, penonton paham kenapa dia kayak gitu tapi nggak bisa ngasih simpati. Terdapat perbedaan yang besar antara Cui Que dan Xingtang. Terletak pada motivasi yang mendasari tindakan mereka. 

Akting & Chemistry

Di episode pilot, adalah adegan saat ibu kandung Shen Jialan dan ibu angkat bersimbah air mata sebelum melakukan perpisahan yang bikin saya bengong sejenak—lupa kalo mereka lagi acting. Saya inget persis reaksi saya, “wah, gilak. Keren banget actingnya. Gak mungkin aktris biasa ini.”

Saya baca Guo Ke Yu (ibu angkat Lanxiang) dan Ke Lan (ibu kandung Lanxiang) adalah aktris teater yang sudah malang melintang di dunia acting mainland. Guo Ke Yu sudah masuk ke dunia akting sejak usia 17 tahun. Waw.

Kamu bisa langsung tau kalau mereka aktris veteran, melihat betapa hebatnya nuansa emosi yang muncul di adegan tersebut. Aktingnya rapi dan mendetail. Itu tipe adegan yang akan selalu kamu ingat saking powerful-nya. Perpaduan sentuhan directing yang dingin dan kekuatan acting mumpuni.

Membicarakan acting di Against The Current, ga ada alasan untuk bilang nggak bagus. Nggak ada satu pun yang kurang bagus aktingnya. Semuanya bagus, ciamik, kawin dengan perannya masing-masing.

Tapi kayak nggak sah ya kalau nggak ngomongin acting dan chemistry Liu Xueyi dan Tan Songyun?

Bentar. Tarik napas dulu.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.

Edyaaaaaaan ya.

Saya mulai dari Tan Songyun dulu.

Sebelum Against The Current, saya udah nonton beberapa project Songyun. Ada yang saya tamatkan, ada yang saya lepas. Bukan karena aktingnya jelek, tapi nggak cocok aja dengan dramanya. Saya tau aktingnya Songyun bagus. Jam terbangnya tinggi. Variasi pilihan perannya juga ga monoton.

Tapi, setelah Go Ahead, barulah di Against The Current ini saya kembali bisa merasakan pesona skill Songyun yang kece super duper itu. Saya tekankan, ini adalah preferensi pribadi yang didasarkan pada pengalaman nonton saya. Jangan sampai ada yang keliru menerjemahkan maksud saya. Karakter Xu Lanxiang ngasih kesempatan ke Songyun untuk mengekplor acting dengan sangat maksimal. Sering kejadian pada aktor/aktris, problemnya bukan terletak pada skill acting, tapi karena miskinnya kedalaman karakter yang diperankan—writing problems. Jatohnya ya kayak biasa aja perannya, delivered emosi ke penontonnya ga menawan. Perannya nggak menantang.

Nah, mengikuti kisah Shen Jialan lalu Xu Lanxiang, bagaimana tokoh ini dibangun dan dihidupkan, kekayaan emosi yang dimilikinya ngasih kesempatan Songyun untuk mengeluarkan skill aktingnya. Ini peran yang sulit. Kamu perlu memahami karakter Lanxiang seutuhnya untuk bisa merasakan detail acting Songyun.

Lanxiang punya banyak sekali lapisan emosi. Perhatikan saja, Lanxiang sebelum tragedy dan setelahnya. Nuansa wajahnya berbeda kontras. Lanxiang setelah tragedy membawa luka trauma yang turut mengubah caranya melihat dan menjalani hidup. Sekilas, ia terlihat dingin. Sering ekspresinya sulit dibaca. Lanxiang bukan tipikal perempuan ekspresif. Inilah yang membuat saya melihat tokoh satu ini menyedihkan. Sebelum tragedy, saat masih bernama Shen Jialan, ia adalah anak perempuan pemalu yang santun. Lalu setelah melewati peristiwa hidup yang kejam kamu berharap Lanxiang berubah ceria dan banyak tertawa? Kamu menginginkan agar dia lebih ekspresif saat jatuh cinta? Jika itu yang terjadi, Lanxiang keluar dari pondasi dasar karakternya.

Tan Songyun, dengan kekuatan aktingnya berhasil menghidupkan karakter Lanxiang. Dia memberikan detail pada rupa-rupa emosi Lanxiang yang digambarkan lewat mikro-ekspresinya. Misalnya, adegan Jinqi mengikatkan benang takdir di tubuh mereka. Adegan ini mengalami banyak sekali interpretasi berbeda dari penonton. Di mata saya, ini adegan yang sarat emosi dan menjadi klimaks perasaan Lanxiang kepada Jinqi.

“If I’d known I would marry you, I would’ve taken better care of myeself…” Jinqi mengatakan ini pada menit ke 25-26 episode 47, di sini ekspresi Lanxiang masih merasa Jinqi sedang bercanda. Kalau ngeliat senyumnya Lanxiang, sepertinya dia sudah terbiasa digombalin Jinqi. Vibes pasangan yang sudah belasan tahun menikah terasa banget di sini. Tapi, coba perhatikan perubahan ekspresinya saat Jinqi mengatakan dengan nada getir pada bagian—“… back in Jinzhou.”

Lanxiang menangkap firasat itu. Cepat sekali kejadiannya, transisi dari raut wajah yang terbiasa menerima candaan Jinqi ke wajah yang menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi. Lanxiang tuh kayak mau bilang—no. Tidak. Tolong, jangan lakukan ini. Asli, pas bagian ini saya udah mulai nangis jelek.

“One lifetime is enough.”

Ada yang bilang kalimat Lanxiang ini membuktikan dia nggak mencintai Jinqi. Duh Gusti… Adegan yang nggak eksplisit begini memang sulit dipahami karena area mainnya ada di ruang emosi yang dalam yang jauh dari kesan vulgar. Ini justru cocok dengan narasi bahwa mereka sudah belasan tahun menikah.

Aku membaca ini sebagai ekspresi denial-nya Lanxiang terhadap apa yang akan terjadi berikutnya—kematian Jinqi. Lanxiang antara sedih dan takut kehilangan. Mana air muka Jinqi udah mulai serius.

“You’re such a fool—“ 

Such a romantic thing to say. Tone playful-nya Lanxiang makin menguatkan kalau mereka adalah pasangan yang sudah lama bersama dan terbiasa saling bertukar canda.

Siapa yang nangisnya makin menjadi-jadi di sini? IYA. SAYA.

Detik-detik Jinqi mulai kehilangan kesadaran, di situ mikro-ekspresi Songyun makin gilak sih. Itu klimaks banget cara nangisnya. Sangat cocok dengan karakter Lanxiang. Bukan dengan tangis yang meledak-ledak, tapi yang tanpa suara tapi luka kehilangannya terbaca.

Kalau setelah adegan ini, ada yang merasa Lanxiang ga mencintai suaminya. Maybe you never truly understood Lanxiang’s character to begin with.

Itu hanya satu dari banyak adegan penting yang menunjukkan kematangan akting Tan Songyun selama memerankan Lanxiang—karakter kompleks dengan lapisan emosi yang tidak sederhana. Karakter seperti ini sangat sering disalahpahami. Di dunia fiksi, juga dunia nyata.

Good job, Seven! Truly impressive! Hats off!

Coba sini bilang, kapan akting Liu Xueyi jelek? Nggak pernah kan? Dikasih peran apa pun, dijabanin dengan sangat professional dan nggak pernah gagal pendalaman karakternya. Berdasarkan testimoni orang-orang yang ngikutin project beliau, yang sering kejadian adalah dia kena prank naskah—ceritanya nyawit di tengah jalan wkwk. Keinget pengalaman nonton Love at Night. Premis ceritanya bagus, menarik minat nonton. Begitu mulai masuk pertengahan—ceritanya kehilangan arah.

Pengalaman saya menonton project Xueyi nggak banyak. Kabar burung bilang aktingnya bagus. Saya percaya. Terbukti di Against The Current, saya kena pelet Lin Jinqi. Akhirnya ya…

Liu Xueyi memiliki kemampuan akting lewat mata—ini bukan perkara mudah. Butuh jam terbang tinggi dengan variasi peran yang beragam. Pengalaman hidup juga punya andil besar. Dan saya percaya nggak semua aktor bisa delivered emosi karakter yang mendetail melalui sorot mata.  

Saya happy banget dong, akhirnya Liu Xueyi ketemu cerita yang ngasih dia kesempatan untuk bersinar. Meskipun saya statusnya hanya fans ‘Senin-Kamis’, but I’m rooting for him. Dengan kualitas se-kece itu, dia layak dan berhak mendapatkan sorotan utama. Sayang aja aktor model begini dianggurin.

Saya menemukan nuansa yang tidak familiar pada karakter Lin Jinqi, sama seperti Lanxiang, karakter ini tidak sederhana. Ia juga memiliki kompleksitasnya sendiri. Saya sudah terbiasa melihat tokoh utama pria di drama kostum dengan karakter yang warna utamanya cuma dua—digambarkan sebagai sosok yang dingin, keras, lalu berubah saat jatuh cinta.

Lin Jinqi tidak datang dengan pattern semacam itu. Saya bilang ini karakter ditulis dengan manusiawi dan rasional. Dia punya banyak sisi yang membuatnya bisa dicintai dan dibenci.  Karakter seperti ini menuntut kualitas akting yang no kaleng-kaleng.

Lin Jinqi is perfect in his imperfections.

Perubahan pembawaan Lin Jinqi muda ke dewasa membuat saya bertanya-tanya apa kiranya yang terjadi sehingga anak lelaki penurut dan polos itu berubah menjadi tegas, kuat dan berani menentukan sendiri pilihan-pilihan hidupnya? Awal kemunculan Jinqi dewasa, saya sempat merasakan sisi bengis dan licik pada dirinya, tapi di waktu lain, dia bisa sangat sopan, lembut dan penuh kasih sayang kepada ibu dan adik-adiknya.

Misalnya, adegan Jinqi mulai tertarik dan akhirnya jatuh cinta pada Lanxiang. Ini kan adegannya ga digambarkan secara blak-blakkan ya, tapi melalui detail kecil seperti gesture samar yang disampaikan melalui tatapan atau lirikan mata, senyum kecil, itu semua harus bisa meyakinkan penonton bahwa Lin Jinqi benar-benar jatuh cinta full full gas ke Lanxiang. Dengan spectrum akting yang luas, Liu Xueyi bukan hanya berhasil membuat yang nonton percaya Lin Jinqi jatuh cinta pada Lanxiang, tapi dia juga sekalian menyeret penonton jatuh cinta ke dia. Iya. Penonton itu saya.

Adegan yang menurut saya powerful adalah ketika Lin Jinqi akhirnya mengetahui identitas asli Lanxiang. Badai emosi Jinqi keliatan di situ—terkejutnya, sedihnya, seperti tidak percaya… bagaimana bisa Xueyi menggambarkan itu semua dalam satu tarikan dan dia bisa menampilkan detailnya sekaligus. Sebagai penonton saya sangat yakin dia nggak marah ke Lanxiang. Ini wow banget loh. Kemampuan memilah emosi tokoh, lalu memutuskan emosi apa saja yang tepat ditampilkan… he is amazing. There’s such maturity and nuance in Liu Xueyi’s performance.

BTW, LIN JINQI KOK TAMPAN AMAT YA? MAAP. PENONTON SATU INI SUKA SALFOK.

Pesona pria ini matang, gaes. Kharismatik. Ehm. Apakah doi sudah ada yang punya? Kalau belum, boleh lah—udah, stop, Azz. Fokus. Fokus…

Huft.

Oiya, saya perhatikan, tone suara Lin Jinqi turut berubah seiring transisi yang terjadi pada karakternya. Jinqi sebelum menikah dengan Lanxiang, setelah menikah, lalu punya anak, hingga anak-anaknya dewasa—jelas banget perubahan itu. Makin tambah umur, makin berat dan ini sangat masuk akal. Keren banget loh observasi dan interpretasi Liu Xueyi terhadap karakter Lin Jinqi. Makanya nggak heran, dia bisa ngebawain peran ini dengan maksimal. Dia tau orang seperti apa yang sedang dia hidupkan.

Hampir lupa, untuk adegan aksi, Liu Xueyi keren banget. No debat mah soal ini. Inget adegan berantem di kapal? Lin Jinqi di adegan itu mengingatkan saya dengan Lin Jinqi dewasa di awal-awal episode—garang, dingin dan kejam. Karakter ini di-tone down oleh pernikahan. Cuma Lanxiang dan anak-anaknya yang bisa. Jinqi nih potret laki-laki yang beda pembawaan di tempat kerja dan di rumah deh. Di rumah hangat banget banget… Terharu lihat interaksi dia dengan anak-anaknya. Bapak-able banget. Sayang episode Jinqi sebagai suami dan bapak nggak dibanyakin ya, padahal pengen liat. Pasti hangatnya menjalar-jalar masuk ke dalam hati penonton.

Siapa pun yang mengambil keputusan memasangkan Tan Songyun dan Liu Xueyi di drama ini, saya doakan rejekinya lancar, tidurnya nyenyak. Ini jenis pairing yang nggak selalu berhasil bukan karena aktingnya jelek, tapi naskahnya yang nggak berhasil. Akting bagus nggak selalu menjadi jaminan sebuah drama akan berhasil. Harus ditopang banyak hal. Mungkin yang benar untuk Tan Songyun, Liu Xueyi  dan Against The Current adalah mereka bertemu di naskah dan director yang tepat dan lahirlah chemistry yang fenomenal (di mata saya) itu. Boleh nggak sih ngarep mereka reunion lagi di drama?

Ini bukan tipe chemistry yang menyala lewat adegan-adegan intimate dan skinship yang intens, yang bikin penonton panas dingin melainkan chemistry  yang berhasil dibangun melalui dialog-dialog bermakna, gesture sederhana tapi mengandung romansa yang  menggetarkan. Slow burn-nya bikin gemes, gregetan. Percayalah, lebih sulit memainkan peran pada tipe chemistry seperti ini—nggak hanya butuh kemampuan akting yang bagus, tapi kerjasama yang cocok antar-aktor/aktris. Karena nunjukin emosinya ga secara langsung, frontal gitu, tapi lewat ekspresi-ekspresi bermakna. Ga heran banyak yang bilang Lanxiang nggak cinta Jinqi, afeksinya kurang. Ternyata, ga semua orang siap menonton orang-orang yang jatuh cinta dengan cara yang santun dan beradab.

Saya pernah bilang di salah satu cuitan saya di Twitter, semakin dewasa pemikiran, apalagi sebagai perempuan, yang kita cari adalah cinta seperti yang dimiliki Lanxiang dan Jinqi. Bukan cinta yang menggebu-gebu, tapi yang bikin tenang, hangat, dan bikin kita terlihat. Sebuah cinta yang memeluk.

Ngomong-ngomong soal cinta—masih berhubungan dengan chemistry, saya ngerasa amazing melihat Against The Current menceritakan kisah cinta tokoh-tokohnya. Meskipun nggak pake banyak adegan, esensi dari cerita cintanya dapet banget. Chemistry-nya, manisnya, jatuh cintanya. Kok bisa efektif ya? Saya punya keyakinan, ini terletak pada teknik bercerita yang matang, kemudian di-sah kan oleh akting natural para aktor/aktris yang berperan lalu di-direct dengan angle yang tepat.

Contohnya, kisah Xiuwan dan Xie Zhao. Hayooo, siapa yang senyum-senyum nonton adegan mereka? Manis banget kan? Dua orang ini adalah definisi sesungguhnya dari orang-orang yang bertemu di waktu yang tepat saat mereka telah menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Nggak usah ngejar cinta orang lain, capek. Jangan sampai, saking sibuknya ngejar, kita lupa sudah terlalu lama menelantarkan diri sendiri. Ouch.

Excellent performance ditampilkan juga oleh Li Meng (Zhao Xingtang). Li Meng memerankan Zhao Xingtang dengan sangat keren. Karakter ini menjadi identic karena Li Meng ngasih detail yang kemudian menjadi ciri khas Xingtang. Xingtang ini karakter yang paling ingin saya peluk kedua setelah Lanxiang. Punya privilege nggak menjamin kehidupannya sebagai perempuan akan bahagia.

Ini kali kedua saya terpesona dengan aktingnya Li Meng.

Divisi akting Against The Current tuh nggak ada yang gagal. Bahkan yang durasi kemunculannya singkat pun tetap bisa bersinar dan meninggalkan kesan di hati dan ingatan penonton.

Directing & Sinematografi

What does directing mean?

Sebagai penonton, saya selalu kagum dengan penyutradaraan sebuah film atau drama. Sebagus apa pun cerita dan akting para pemerannya, keduanya tetap membutuhkan bahasa audiovisual yang tepat agar bisa diterjemahkan menjadi pengalaman menonton yang utuh.

Directing dan sinematografi nggak harus selalu tampil spektakuler. Sentuhan sederhana pun bisa terasa specia jika mampu menjadi jembatan antara naskah, aktor, dan penonton. Penonton tak hanya terpikat pada gambar yang cantik, tetapi juga jatuh cinta pada keseluruhan adegan. Tak hanya memahami mengapa sebuah adegan perlu ada, penonton juga ikut masuk ke dalam pusaran rasa dan emosi yang dibawanya.

Jika penulis bercerita melalui kata-kata, sutradara menerjemahkan cerita itu ke dalam tindakan, ruang, waktu, suara, dan gambar bergerak.

Saya nggak tahu apakah Against The Current memiliki sinematografer yang berbeda dari sutradaranya—tentu saja keduanya memang bisa merupakan tanggung jawab orang yang berbeda—jadi saya akan membahas directing dan sinematografinya sekaligus.

Directing dan sinematografi Against The Current bekerja bersama menciptakan adegan-adegan yang punya nyawa. Saya nggak tahu istilah teknis yang paling tepat untuk semua gambar ini, tetapi sutradara kerap mengarahkan perhatian kita pada tempat, ruang, atau benda-benda yang sekilas tampak biasa. Bagi saya, gambar-gambar tersebut bukan sekadar sisipan untuk mempercantik visual. Ada atmosfer yang dibangun dan pengalaman emosional yang ditawarkan kepada penonton.

Misalnya, adegan perpisahan Jinqi dan Lanxiang di episode 47. Setelah Jinqi meninggal, kamera mengarahkan perhatian pada bunga rumput favorit Lanxiang. Detail itu memberi jeda sekaligus membawa makna emosional. Bunga rumput tersebut bukan lagi sekadar objek di dalam frame, ia terhubung dengan ingatan, perasaan, dan hubungan antarkarakter yang telah dibangun sepanjang cerita.

Di Against The Current, sebuah kue bisa membuatmu menangis. Itu bukan kue biasa, melainkan simbol trauma Lanxiang. Tanpa harus mengulang seluruh tragedi yang pernah menimpanya melalui banyak adegan, kemunculan kue itu saja sudah bisa membangkitkan kembali ingatan kita tentang masa lalunya. Kita mengingat tragedi menyakitkan yang dialami Lanxiang, lalu ikut merasakan kesedihannya. Sebuah objek sederhana menjadi begitu bermakna karena cerita telah membangun ikatan emosional antara objek tersebut dan karakter. Juga penonton.

Contoh lainnya adalah adegan Zhao Xingtang yang diambil dari atas, melalui atap yang berlubang, ketika wajahnya yang babak belur terlihat beberapa saat sebelum kematiannya.

Kalau ingat adegan ini, bawaannya pengin nangis aja.

Bagi saya, itu bukan sekadar pilihan sudut kamera yang menarik. Komposisi gambarnya membawa beban emosional yang terasa begitu berat, seolah-olah merangkum kehidupan Xingtang. Seukuran itu saja. Bahkan hingga akhir hidupnya, ia tetap terperangkap.

Seumur hidupnya, Zhao Xingtang bertarung mati-matian demi kebebasan yang ia cintai, hanya untuk mendapati kenyataan, bahwa hidup tidak pernah ramah kepadanya. Satu-satunya yang mau melihatnya sebagai Zhao Xingtang, manusia yang memiliki suara adalah Lanxiang. Dan Xingtang tahu itu.

Kamu mungkin memiliki interpretasi yang berbeda. Namun, bagi saya, begitulah keberhasilan directing dan sinematografi drama ini bekerja. Bukan hanya memperlihatkan sebuah peristiwa, tetapi juga membuat sebuah gambar terasa begitu dekat dengan nasib karakter yang ada di dalamnya.

Sutradara Huang Ying Xiang, bagi saya, memiliki kepekaan dan kreativitas dalam mengarahkan adegan. Ia tidak hanya membuat gambar terlihat bagus, tetapi juga menghadirkan nuansa emosional yang membuat adegan-adegannya terasa hidup. Adegan sederhana bisa menjadi berarti dan melekat kuat dalam ingatan penonton.

Saya juga ingin menyoroti sutradara aksi, Guo Ya Sha. Adegan perang dan perkelahian di drama ini bagus banget. Intens, mendetail, dan mampu menyeret penonton ke dalam ketegangan yang dibangun. Totalitasnya terasa sekali. Jadi, meskipun adegan berantemnya nggak banyak, setiap kali muncul, adegan-adegan itu terasa digarap dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan aksi dalam cerita.

OST & BGM

Siapa yang auto pengen nangis tiap denger "大梦归" (Return From A Great Dream) – Zhou Shen (周深)? Lirik dan melodinya memiliki semacam kekuatan yang bisa membangkitkan kesedihan, apalagi bagian reff-nya. Suaranya Zhou Shen kayak ada sihirnya deh. Spesialis nyanyi lagu menyayat hati dan jiwa raga.

Kalau ngomongin OST, saya nggak cuma bilang lagu-lagunya enak aja. Tapi pertanyaan paling penting adalah apakah Original soundtrack sebuah drama turut memberikan kontribusi pada drama yang bersangkutan.

Seluruh lagu yang tergabung dalam Original soundtrack Against The Current nggak ada yang jelek. Semuanya cocok dan enak di kuping saya. Beberapa lagu terasa membekas di ingatan saya sebagai penonton karena penempatannya pada adegan-adegan penting. Nah, ini yang saya maksud. Nggak sekadar enak didengerin, OST Against The Current memberikan cita rasa yang kuat pada dramanya. Liriknya yang puitis nyambung dengan adegan dan situasi yang dihadapi tokoh, sedangkan melodinya secara aktif terlibat mengacak-acak perasaan penonton. Mantap jiwa.

Tak berbeda jauh dengan OST, BGM (Background music) yang digunakan di drama ini ikut berpartisipasi membangun suasana yang diinginkan sebuah adegan. BGM-nya kaya akan melodi tradisional yang khas. Indah.

Kehadiran OST dan BGM sangat mempengaruhi nuansa emosional yang dibangun suatu adegan di Against The Current. Nggak semua adegan bisa diiringi OST, ada juga adegan yang terasa lebih kuat sisi emosionalnya jika hanya dibalut instrument. Itu yang dilakukan BGM Against The Current.

Jempol sebanyak-banyaknya kepada composer musiknya, Dong DongDong.

Ending

Bagaimana, sih, ending drama yang baik itu?

Soal ini tentu saja punya jawaban berbeda-beda bagi setiap orang. Namun, jika merujuk pada premis utama Against The Current, ending yang diberikan kepada drama ini adalah akhir yang bahagia bagi Lanxiang.

Lanxiang menjalani hidup sebaik-baiknya, seperti harapan dan doa mendiang ibunya.

Jika kita bersepakat bahwa Against The Current adalah tentang bagaimana Lanxiang bangkit dan berjuang untuk hidup, maka rumusan ending-nya sudah tepat.

Tapi Jinqi meninggal duluan, gimana dong?

Itulah definisi hidup yang ingin diceritakanAgainst The Current, realistis. Bahwa kematian dan kehilangan adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Jika kamu jeli, kamu akan melihat bagaimana drama ini memperlakukan kematian dan kehilangan dari sudut pandang yang berbeda.

Kita menjumpai banyak sekali kematian di sini. Bahkan, semuanya sudah dimulai sejak episode pertama. Yang saya tangkap, Against The Current tidak memperlakukan kematian semata-mata sebagai sesuatu yang buruk. Benar, kematian membawa kehilangan dan kesedihan. Namun, drama ini menceritakannya dengan cara yang indah tanpa harus mendramatisasi kepergian seseorang secara berlebihan.

Saya tanya, siapa yang nggak menangis untuk setiap adegan kematian di drama ini?

Bagaimana bisa menahan tangis kalau dialog, BGM, dan ekspresi wajah para tokohnya kompak mengajak kita menangis?

Lanxiang beruntung. Ia diberi umur panjang untuk menyaksikan orang-orang yang dicintainya menemukan kehidupan yang mereka inginkan.

Sebagai penonton, ada satu pertanyaan yang ingin sekali saya ketahui jawabannya: Apakah Lanxiang bahagia?

Saya ingin sekali memeluknya dan mengatakan, terima kasih sudah bertahan dan memilih untuk terus hidup.

It's a bittersweet ending for me as a viewer.

My Two Cents on Against The Current

Against The Current merupakan drama yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul Lan Xiang Yuan (兰香缘) karya He Yanshan (禾晏山).

Saya nggak baca novelnya. Berdasarkan komentar orang-orang yang baca novelnya, adaptasi drama ini dibikin berbeda. Sebagai penonton yang ga baca novelnya, saya menganggap cerita Against The Current sangat bagus. Cerita dan penokohan terstruktur dengan sangat baik, mendetail. Pengolahan konflik tidak terburu-buru. Namun, ada sejumlah membaca novel yang merasa kurang sreg dengan perubahan yang terjadi dan berakhir membandingkan kedua-duanya.

Pertanyaannya, bagian mana dari novel yang perubahannya bikin nggak suka?

Kalau saya baca deskripsi karakter Jinqi di novel, saya malah bersyukur versi dramanya dibikin seperti yang kita nonton. Nggak kebayang aja. Oke, Saya nggak ragu pada skill akting Liu Xueyi. Saya yakin dia bisa meranin karakter modelan begitu. Masalahnya, Against The Current yang harus ganti genre—slice of life ke thriller, suami sikopet. Nggak banget.

Apakah adaptasinya berhasil?

Saya nggak punya jawabannya, karena drama ini tidak mengikuti format dasar novelnya sebagai cerita tentang tokoh utama yang terlahir kembali dengan membawa ingatan masa lalu.

Saya juga membaca komentar sejumlah komentar yang menyoroti porsi romance Against The Current. Sayangnya, ketidakpuasan tersebut diarahkan langsung kepada Lanxiang. Disebut istri nggak berbakti lah, apalah itu. Katanya Jinqi udah berkorban segimana besarnya, Lanxiang-nya lempeng aja. Ya Allah Ya Rabb, orang-orang beneran nonton drama ini nggak sih? Beneran paham karakter tokohnya? Atau sambil nonton sambil nyusun scenario sendiri di dalam kepala, kemudian menaruh ekspektasi itu kepada cerita dan Lanxiang?

Trus dijawab—apa susahnya sih menyisipkan romance ke dalam cerita? Saya nggak suka nonton drama yang menuntut penonton harus mikir. Mau nonton yang ringan aja.

GANTI TONTONAN!

DRAMA INI BUKAN UNTUK KAMU.

Gampang kan?

Trus masih ngeyel sampa lebaran kuda.

Yang menarik dari perdebatan Against The Current, bagaimana kita terperangkap dalam ide yang mengatakan setiap orang berhak punya POV berbeda terhadap drama ini. Sampai di sini saya sepakat. Yang bikin kesal adalah ketika orang-orang mencampur-adukkan masalah selera dengan kebebasan interpretasi sebuah karya.

Ada perbedaan antara tidak menyukai sesuatu, tidak memahami sesuatu, dan menganggap sesuatu itu buruk. Ketiganya tidak selalu sama.

Saya nggak mempermasalahkan orang punya penilaian berbeda terhadap ATC. Silakan saja kalau memang nggak suka. Yang saya soroti adalah ketika ketidakcocokan personal itu kemudian diterjemahkan menjadi kekurangan karya, seolah-olah sebuah cerita harus mengikuti selera kita agar bisa dianggap bagus.

Tampaknya sebagai penonton, kita masih kesulitan menetapkan batasan-batasan yang jelas untuk diri kita sendiri.

Jinqi adalah red flag.

Buanyak banget komentar seperti ini di temlen medsos saya.

Saya sempat menyenangi pelabelan red flag vs green flag pada tokoh fiksi, hingga akhirnya saya merasa muak. Seolah-olah karakter yang diberi tanda red flag nggak layak disukai. Red flag adalah identitas yang akrab dengan karakter buruk.

Saya nggak terima Jinqi disebut red flag.

Jujur, saya mulai alergi dengan pelabelan ini. Bukan karena saya menganggap Jinqi sempurna atau semua tindakannya bisa dibenarkan, melainkan karena saya merasa label semacam ini kerap menyederhanakan karakter yang seharusnya bisa dibaca dengan lebih kompleks.

Seolah-olah kita sudah tahu siapa dia hanya dengan memberinya satu label.

Padahal, karakter fiksi tidak selalu sesederhana itu. Ada latar belakang, motivasi, kontradiksi, dan perkembangan yang perlu kita ikuti sebelum memutuskan bagaimana kita memandangnya.

Oleh sebab itu, hal pertama yang saya lakukan untuk memahami karakter adalah dengan melihat ia dari jauh—saya memilih berjarak. Ini membantu saya memahami satu karakter lebih dalam agar saya tidak terburu-buru menghakimi. Nggak hanya berlaku pada tokoh protagonist, tapi antagonisnya juga.

Tapi kan kita nonton untuk nyari hiburan?

Ya. Saya ga menampik itu. Kadang, saya butuh nonton drama ringan yang ga pake mikir. Saya cuman butuh haha-hihi liat orang jatuh cinta, contohnya.

Saya termasuk penonton yang punya tombol on/off, kapan harus menghidupkan logika fiksi, kapan harus mematikkannya—tergantung apa yang sedang ingin saya nonton. Saya berusaha menempatkan diri sesuai apa yang saya putuskan untuk ditonton. Kan nggak lucu, misalnya saya nonton drama idol ringan, trus saya komentarin ketidaklogisan karakter atau ceritanya—saya mati-matian komentar ceritanya nggak masuk akal. Lah, kalau memang sedari awal dramanya dibuat nggak masuk akal, berarti nggak ada yang salah dong? Yang salah adalah saya yang keliru memilih tontonan. Kalau mau nonton yang logis ya jangan nonton drama idol. Sesederhana itu tapi nggak semua penonton sanggup dan mampu.

Menurut pemahaman saya, red flag bukan merujuk pada identitas mutlak seseorang tapi tanda peringatan atau gejala yang berpotensi mengarahkannya menjadi manusia problematic.

Jinqi bukan red flag. Benar, dia memiliki kekurangan yang jika dilihat di mana dan bagaimana ia tumbuh, itu bisa dimaklumi tanpa membenarkan. Tapi apakah Jinqi problematic? No. Saya tidak melihat itu. Saya nggak melihat Jinqi sebagai manusia manipulative. Di mata saya, Jinqi adalah tokoh utama pria yang sangat realistis di drama kostum. Dia nggak datang sebagai manusia yang sudah selesai dengan dirinya, tapi yang mau terus belajar dan memahami. Jinqi memberi ruang yang luas kepada dirinya untuk tumbuh, dan itu dimulai ketika ia mengenal dan menikahi Lanxiang.

Dari sekian banyaknya kritik yang ditujukan kepada ATC, adalah unsur romance yang paling banyak mendapatkan suara.

Sewaktu menonton The First Jasmine, saya suka banget dengan relasi suami-istri tokoh utamanya. Rasanya saya kayak dapat angin segar. Nggak banyak drama kostum yang pernah saya nonton mau menceritakan kehidupan suami istri seperti yang TFJ lakukan. Biasanya abis nikah, punya anak, kelar. TFJ memilih menceritakan dinamika pada relasi tersebut dengan berusaha realistis.

Itu pula yang dilakukan Against The Current. Saya tidak sedang membandingkan atau menyamakan dua drama tersebut. Saya butuh drama yang sejenis mereka. Beberapa judul sudah masuk list. Semoga cocok.

Against The Current memilih menceritakan romance dengan santun. Dan ini cocok-cocok saja dengan premis dan karakter tokohnya. Udah sesuai alur dan jalurnya.

Ini preferensi pribadi ya. Saya suka lihat Lanxiang dan Jinqi ngobrol santai berdua. Itu domestic behavior nya pasutri yang udah belasan tahun menikah. Sayang, adegan mereka nggak banyak ya. Huhuhu.

Saya juga sukaaaa banget kostum dan penataan make up di Against The Current. Ini juga nggak kalah detailnya. Saya ambil contoh tokoh Jinqi dan Lanxiang. Perubahan penampilan mereka nyata terlihat berdasarkan timeline kehidupan dan status. Saya nggak ngerti ornament atau symbol yang melekat di penampilan mereka. Saya melihat perubahan Jinqi tuh tetep keliatan natural dan pas aja. Nggak aneh, nggak kaku. Se-nyata itu. Jinqi sebelum menikah dan Jinqi versi bapak dua anak vibes-nya nggak bohong. Jadi nggak cuma terasa dari perubahan tone suaranya, tapi juga penampilan fisiknya. Keren deh, yang megang divisi ini. Totalitas tanpa batas.

Saya keliru tentang satu hal. Saya pernah berpikir bahwa Jinqi-lah yang akan menjadi pintu damai untuk trauma di hati Lanxiang. Bahwa pernikahan akan mengubah sudut pandang Lanxiang terhadap duka atas kehilangannya. Sempit sekali pemikiran saya.

Lanxiang merumuskan jalannya sendiri. Ia menulis.

Menulis yang semua menjadi katarsis bagi Lanxiang, ternyata kelak menjadi jalan bagi terbukanya kebenaran peristiwa masa lalu yang berhubungan dengan keluarga Shen.

Jadi, apa makna dari judul Against The Current?

Perempuan yang melawan.

Eh, saya udah ngomong panjang lebar begini, tetap berasa masih kurang masih ada yang pengen diomongin. Tapi ini aja udah 17 halaman Ms. Word. Udah panjang bangettt ini mah. Udahan aja yuk?

Maafin ya kalau suara kita nggak sama.…

Rating :

 ⭐⭐⭐⭐⭐

Fiksi yang baik ga selalu meminta kita menyetujui manusia.  Adakalanya, fiksi 'meminta' kita melihat manusia dengan lebih utuh.

Dan saya selalu jatuh cinta pada drama yang 'memiliki' kemampuan bercerita mendetail, konsisten, dan menawarkan pengalaman emosi yang kaya—itulah Against The Current di mata saya.

Against The Current layak dicintai banyak orang.

Drama ini membawa pesan kepada para perempuan, satu pohon tidak akan sanggup menjelma hutan. Sebuah lampu saja, nyalanya tidak akan mempunyai langkah yang panjang. Maka menjadi peduli kepada sesama perempuan seperti yang dilakukan Lanxiang kepada perempuan-perempuan di Against The Current adalah kekuatan yang harus dihidupkan.

Ingat, drama ini adalah sebuah pelajaran untuk terus hidup dan berjuang.

Tabik,

Azz.

Continue Reading