Cast
: Esther Yu, He
Yu, Fei Qiming, Mike Angelo
❤
Beberapa
bulan lalu, saya sedang men-scrolling timeline akun Twitter saya ketika
potongan video behind the scene proses syuting Speed and Love muncul beranda. Saya baca-baca
komentarnya. Drama ini merupakan adaptasi sebuah novel berjudul Shuang Gui (双轨)
yang ditulis oleh Shi Jiu Yuan (时玖远). Sebagai seseorang yang demen baca
novel romance mainland, iseng lah
saya ke MDL, nge-cek kali aja ada link novelnya. Penasaran, pengen baca. Eh ada
dong. Nggak pake babibu langsung aja dibaca. Pas banget saya lagi nggak ada mood nonton drama, kalau lagi ada waktu
luang saya gunakan untuk membaca dengan maksud agar saya bisa mengimbangi
ketergantungan saya scrolling TikTok. Tahun 2025 ini, trafik nonton saya memang
menurun. Bisa dihitung ada berapa drama yang berhasil saya tamatkan. Sejak
memasuki rutinitas baru awal tahun ini, mood
nonton saya juga ikut kena efek. Pulang ke rumah bawaannya capek, maunya
rebahan aja sambil scroll TikTok. Hhhh. Kebiasaan
yang harus diubah ini.
Saya
baca 78 chapter dalam beberapa hari saja. Suka. Saya dibikin jatuh hati pada
karakter Jin Zhao.
Seusai menamatkan novel Speed and Love, saya nggak sabaran menunggu jadwal tayang adaptasi drama ini. Saya pernah membaca sepotong-sepotong informasi yang lewat di lini masa mengenai proses selama syuting bahwa dramanya mengalami banyak problem. Speed and Love disutradarai Yu Chung Chung, director sejumlah drama popular seperti Love is Sweet dan Everyone Loves Me, sedangkan naskahnya ditulis Zhao Xiao Lei. Lumayan deg-degan sih nunggu kapan tayang.
Pertengahan Desember ini, kabar baik itu datang. IQIYI akhirnya mengeluarkan jadwal rilis resmi untuk Speed and Love. Seolah nggak cukup dengan hal-hal tidak mengenakkan semasa proses syuting, ketika drama ini tayang pun, aneka macam yang tidak enak itu turut bermunculan, yang paling saya ingat adalah komentar-komentar negative menyakitkan yang menyerang Speed and Love, dan Esther Yu. Saya akan membahas soal ini di bagian akhir review ini.
Disclaimer : I’m not fan of
the two main characters of this drama. Saya bukan fans Esther Yu dan He Yu. Saya hanya penikmat
casual drama China, yang nonton kalau dramanya cocok dengan mood dan selera
saya. Saya nggak condong ke genre tertentu. Nggak menolak drama retjeh. Prinsip
saya sebagai penonton suka-suka wkwk. Review berikut saya tulis berdasarkan
sudut pandang saya yang tentu saja sifatnya tidak obyektif.
This is just me and my own opinions.
@ Sinopsis
Jin
Zhao (He Yu) diadopsi Jin Qiang (ayah kandung Jiang Mu) saat berusia 2 tahun,
sebelum Jiang Mu lahir. Setelah kelahiran Jiang Mu, Jin Zhao tumbuh menjadi
kakak yang sangat menyayangi Mumu—nama panggilan Jiang Mu. Saat Mumu berusia 9
tahun, kedua orangtuanya memutuskan bercerai. Jin Zhao dan Jin Qiang terbang ke
Thailand, sedangkan Mumu mengikut ibunya. Ia juga mengganti nama depannya
menggunakan marga ibunya. Dan seperti itulah kebersamaan masa kecil Mumu dan
Jin Zhao berakhir. Perpisahan yang diikuti janji Jin Zhao kepada Mumu, bahwa
suatu saat ia akan kembali.
Beberapa
tahun kemudian, ibu Mumu yang sudah menikah lagi, memutuskan pindah ke Canada
bersama Christ, suami barunya. Mumu menolak. Ia terbang ke Thailand, menemui
ayahnya, menemui Jin Zhao. Berusaha menemukan
janji masa kecil yang pernah dibuat Jin Zhao.
Bagaimanakah
pertemuan kembali dua manusia yang
pernah tumbuh bersama, berpisah lalu menjadi asing setelahnya?
Speed
and Love mengusung genre aksi dan romance, berjumlah 29 episode.
@ Plot & Storyline
Lagi-lagi
saya jatuh cinta pada drama yang diadaptasi dari novel, dan masih dengan modern
drama.
Adaptasi
novel Speed and Love ke drama tidak mengecewakan saya. Meskipun ada beberapa
perubahan dan penyesuaian, tetapi itu tidak merusak jiwa cerita. Garis ceritanya masih tetap utuh mengikuti novel. Saya
merasa sejumlah perubahan tersebut justru membuat Speed and Love makin bagus.
Saya suka khawatir kalau adaptasi drama dari novel yang saya sukai tidak mampu menerjemahkan nyawa cerita dan
karakter novelnya dengan baik. Rasanya akan tawar dan monoton. Karena sebagai
pembaca, saya sudah bisa nebak garis ceritanya bakal seperti apa, jadi paling
nggak visualisasinya harus cocok dengan ekspektasi pembaca.
6
episode pertama, saya masih waswas. Tapi setelahnya, saya tidak bisa
menyembunyikan perasaan senang dan haru karena penulis skenarionya
mempertahankan dialog-dialog penting di novel. Saya sangat bersyukur untuk ini.
Di
novel ada ucapan Jin Zhao yang bikin saya guling-guling di kasur karena gemes.
Salah satunya ini, “If you take this kind of path again, no one will hold you.” Jin Zhao mengucapkan ini kepada Mumu,
yang langsung dibalas gadis itu dengan mengatakan bahwa ia tidak akan mengambil
rute jalan itu dengan orang lain. Saya inget banget reaksi saya waktu itu.
Senyam-senyum nggak jelas. Mereka nih nggak sadar udah flirting tipis-tipis.
Trus
ada lagi adegan Mumu lagi rebahan di kasur dan Jin Chae nemenin dia sambil
bahas situasi pernikahan orang tua Mumu di masa lalu. Suka banget ucapan Jin Zhao
ke Mumu.
“There’s
no such thing as unhappy marriage, but there are indeed unhappy couples. It’s
not marriage that brings disaster upon them—it’s that they themselves are not
steadfast enough. As long as two people truly love each other, they can
overcome all difficulties. Where there’s a will, there’s a way.”
Saya
segera teringat ucapan ibunya Lee Ho-soo di drama Unwritten Seoul. Esensi
pesannya sama. Bahwa pernikahan hidup karena ada dua manusia yang
sama-sama berusaha mengusahakan, tetap bertahan dengan keyakinan yang sama.
Tidak ada pernikahan yang tidak punya masalah. Demikian pula narasi saling
mencintai. Asal masih sama-sama paham apa makna saling dalam sebuah relasi kasih sayang, semua masalah rasa-rasanya
bisa diatasi.
Tidak
ada momen dramatis pada plot dan garis cerita Speed and Love. Pace-nya lumayan
cepat. Setiap adegan di-eksekusi dengan baik terutama adegan balapan. Adegan
balapan yang terlihat meyakinkan, ritme ketegangannya bagus. Intens. He Yu
bilang kalau dia belajar nge drift dari professional, dia juga melakukan
observasi langsung ke orang-orang yang bersinggungan dengan dunia permobilan.
Saya acungi jempol untuk adegan berantemnya, alus dan rapi take adegannya. Jin Zhao
dan He Yu punya banyak kemiripan khususnya di bagian keahlian Jin Zhao di
drama. Ternyata petantang petentengnya juga ga jauh berbeda di real life nya He
Yu wkwk. Cara jalannya itu loh, laki banget. Pantes penonton langsung kesirep
di pertemuan perdana. He Yu
memerankan dirinya sendiri.
Speed
and Love tidak memiliki konflik yang berat dan rumit. Ceritanya hanya berputar pada kisah pertemuan
kembali Mumu dan Jin Zhao, lalu berpisah dan bertemu kembali. Plot dan garis
cerita yang biasa ini nyatanya mampu menarik minat penonton global, berbekal
promosi mulut ke mulut. Organic. Ini hanya asusmi saya saja,
bahwa yang menjadi daya tarik utama drama ini adalah penampilan Jin Zhao
sebagai tukang bengkel yang suka
balapan dan juga seorang street fighter. Banyak yang bilang Jin Zhao
mengingatkan mereka pada cerita-cerita di Wattpad—saya nggak bisa mengomentari
ini karena saya bukan pembaca Wattpad.
Ini
tidak terlepas dari He Yu yang mampu membaca secara utuh seperti apa karakter
Jin Zhao ini harus dihidupkan.
Penampilan He Yu sebagai Jin Zhao nggak overrated. Saya harus mengatakan ini.
Keputusan
penulis scenario memasukkan adegan pertemuan Jin Zhao dan Jiang Ying Han (ibunya
Mumu) sangat tepat. Adegan dari extra chapter sangat penting keberadaannya. Siapa
yang nangis pas adegan ini? Sini. Apalagi waktu Jin Zhao bilang dia nggak punya
orang tua yang bisa ngajarin adat pelamaran seperti apa, jadi dia belajar
kepada temannya. Pecah banget di sini. Emosi yang ingin disampaikan adegan ini
terasa tulus dipenuhi haru. Akhirnya Jin Zhao menemukan closure dari perasaan luka yang dibawa dari masa kecilnya. Demi apa
pun pengen banget meluk Jin Zhao. Anak baik yang dihantam banyak tragedy dan
dia tetap memilih hidup waras.
Salah
satu detail yang terlewatkan terletak pada minor cast yang nggak dibahas lagi
di part pertengahan hingga akhir, kayak hilang begitu saja. Sebut saja Nana dan
Shandian—si anak pinter yang sudah berjasa mempertemukan orangtuanya kembali.
Perubahan
minor dari novel namun berimbas besar pada nuansa cerita drama adalah kalo di
novel, ayahnya Mumu yang membuat Jin Zhao menahan diri untuk nggak menghubungi
Mumu lagi. Di drama, ayah Mumu diam-diam udah tau hubungan dua orang ini dan
memberikan restunya. Perubahan ini turut membantu penyelesaian cerita. Perubahan
lain juga dialami Mumu, di novel Mumu nggak bisa nyetir, nanti setelah rujuk
kembali dengan Jin Zhao barulah ia kursus nyetir. Sedangkan di drama, Mumu
belajar nyetir biar bisa confess ke Jin Zhao.
Saya
menduga, perubahan/penyesuaian karakter dan cerita dilakukan agar adaptasi
novel sesuai dengan konsumsi public,
mengingat ketatnya aturan dan sensor pemerintah di sana. Selain itu, penting
juga menjaga keselarasan cerita. Nggak mudah memang mengadaptasi cerita novel
ke drama.
Jadi,
terima kasih kepada Zhao Xiao Lei, penulis scenario Speed and Love yang telah
melengkapi kisah Jin Zhao-Mumu dari novel menjadi drama. Di mata saya, secara
keseluruhan adaptasi novel Speed and Love berhasil. Memang ada
ketidaksempurnaan di beberapa bagian, tetapi skalanya minor, tidak terlalu
menganggu keutuhan cerita. Seperti yang saya bilang sebelumnya, soul ceritanya nggak berubah. Ini sudah
cukup.
@ Cast and Characters
|—Esther Yu sebagai Jiang
Mu
Jiang
Mu terlihat seperti anak perempuan manja yang suka berbuat seenaknya, keras
kepala. Kalau kamu menonton 2 episode pilot Speed and Love dan buru-buru
menghakimi karakter ini dengan kesimpulan semacam itu, sayang sekali, kamu
sudah melewatkan satu tokoh perempuan fiksi dengan perkembangan karakter yang
lumayan bagus dan konsisten untuk ukuran idol
drama.
Jiang
Mu sangat menyayangi Jin Zhao, sebagai kakak laki-lakinya satu-satunya. Jin Zhao
terbiasa memanjakan Mumu. Tapi itu
cerita saat mereka kecil. Memori bahagia itulah yang membuat Jiang Mu nekat
menemui Jin Zhao, ia masih berharap bisa menemukan sosok Jin Zhao yang hangat
itu. Di ingatan Mumu, Jin Zhao adalah kakaknya yang suka belajar, berprestasi
dan punya cita-cita tinggi. Kakak laki-laki yang bersedia melakukan apapun itu
asal itu bisa membuat Mumu senang.
Sebuah
fakta mengejutkan menamparnya. Sebelum berangkat ke Thailand, Mumu diberitahu
ibunya bahwa Jin Zhao bukanlah kakak
kandungnya. Ia hanya anak yang diadopsi ayahnya. Tapi Mumu tetap kukuh menemui
Jin Zhao.
Ada
setidaknya, 3 garis waktu untuk melihat perkembangan karakter Jiang Mu, Mumu
versi anak-anak, Mumu versi remaja akhir (di novel ia berusia sekira 18 tahun,
di drama Mumu berusia sekira 19 menuju 20 tahun), dan Mumu versi dewasa. Yang
paling menonjol yakni Mumu versi remaja dan dewasa. Terdapat perbedaan yang
sangat jelas pada dua timeline ini. Dan karena alasan ini saya tidak bisa
melihat Jiang Mu—Mumu, seperti tipikal tokoh utama perempuan di idol drama yang diposisikan hanya sebagai objek pemanis
atau menjadi bagian dari cerita yang didominasi tokoh utama pria. She is not like that.
Sebagai
penonton, saya melihat transformasi emosi Mumu sangat jelas. Dia sebagai adik
perempuan Jin Zhao (adopsi), lalu menjadi satu-satunya perempuan yang mencintai
dan dicintai Jin Zhao dengan utuh bukan lagi sebagai adik perempuan.
Di
awal pertemuan mereka pertama kali setelah terpisah sekian tahun, Mumu sangat
terkejut mendapati kakak laki-lakinya bukan lagi serupa kakak laki-laki yang
selama ini hidup di kepalanya. Jin Zhao seolah telah menukar jiwanya dengan
sosok yang tidak pernah dikenal Mumu. Seseorang dingin, tak terbaca dan terjangkau. Tatapan Jin Zhao terasa
berjarak dan sedikit menakutkan. Shock? Sudah barang tentu. Ada ruang yang dalam di hati Mumu yang tidak bisa
menerima hal tersebut. Di matanya, kehidupan baru yang dijalani Jin Zhao begitu
dekat dengan sesuatu yang berbahaya. Semula ia ingin menarik pulang Jin Zhao kepada kenangan masa
kecil mereka. Perlahan Mumu mulai bisa melihat betapa tidak mudah hidup yang
dijalani Jin Zhao setelah perpisahan orangtua mereka. Dan bahwa Jin Zhao tidak
pernah memiliki hidup yang mudah bahkan sejak ia kecil. Betapa jauh arus hidup
telah membawa mereka pada dua sisi lain kehidupan yang begitu berbeda.
Mumu
bersedia belajar mengenal Jin Zhao
bukan sebagai kakak laki-laki yang hidup di
ingatan masa kecilnya. Tetapi sebagai Jin Zhao yang memiliki kuasa atas
hidupnya sendiri. Jin Zhao adalah seorang pria dewasa yang membawa rasa
familiar namun terasa asing di kehidupan Mumu. Di bagian ini, Mumu mulai
merasakan ketertarikan yang lain terhadap Jin Zhao. Iya, saya merasa, eskalasi
rasa suka Mumu ke Jin Zhao tidak tumbuh begitu saja hanya karena mereka
memiliki ikatan persaudaraan di masa kecil. Hanya setelah Mumu akhirnya
menyadari dan menerima jika Jin Zhao yang ia temui bukan lagi anak laki-laki
dari masa kecilnya. Di titik ini, sesuatu yang berbeda tumbuh di hati Mumu.
Sebab
ia melihat Jin Zhao menggunakan sudut pandang yang sudah berbeda.
Banyak
hal mungkin telah berubah dari Jin Zhao—sorot
mata itu berubah, tapi kasih sayang dan kebiasaannya mengusahakan yang terbaik
untuk Mumu tidak pernah berubah. Ini detail
yang membuat penonton jatuh cinta.
Saya
melihat Jiang Mu sebagai karakter yang bertumbuh. She has
her own journey. Sebagai Jiang Mu,
dan sebagai Mumu yang mencintai Jin Zhao. I
don’t see her as annoying character. She’s
lovable. A highly observant and quick-witted woman. Sosok perempuan yang
tau apa yang diinginkannya dan mau berjuang untuk itu. Sikap manjanya hanya
ditujukkan pada Jin Zhao saja, itu pun nggak yang sampe bikin eneg penonton.
Sempat baca komen katanya Mumu menye-menye. Ini menye-menye-nya bagian mana ya?
Kalau yang pas dia remaja—di bawah usia 20 tahun, menurut saya masih wajar sih
tingkahnya begitu, nggak tepat disebut menye-menye juga kali. Mumu di usia
19-20 tahun itu udah punya pengertian yang cukup luas loh untuk Jin Zhao. Prinsip
Mumu asal Jin Zhao selalu datang
kepadanya dalam keadaan utuh dan selamat, ia menganggap itu sudah cukup. Karena
Mumu tau apa yang ingin dicapai Jin Zhao.
Jiang
Mu tuh asal udah dikasih tau apa yang terjadi, pokoknya diceritain ke dia inti
masalahnya apa, dia bisa dengan cepat memberikan ruang pengertian yang luas.
Apa ya, berpikirnya logis aja gitu. Enggak yang ribet dan bikin kita pengen
nampol karena frustasi wkwk. Pengalaman menonton idol drama saya sudah lumayan
cukup untuk menilai Mumu ini menye-menye atau frustasi karakter atau bukan. And I can guarantee she wasn’t like that.
“But she was easy to comfort.
Just distract her and talk about something else, and she’d smile.” –Jin Zhou
Ini
narasi Jin Zhao tentang Mumu. Siapa coba yang nggak jatuh suka sama anak se
pure ini? Yang nggak neko-neko. Huhuhu. Liat aja gimana kemunculan Mumu di
bengkel Jin Zhou seketika bisa mengubah atmosfer di tempat yang menjadi wilayah
dominan laki-laki itu.
Saya
memberikan apresiasi pada Esther Yu (XinXin) karena telah memerankan karakter
Jiang Mu dengan baik. Dengan kapastitas dan kemampuannya, Xinxin memberikan
detail pada karakter Jiang Mu yang membuat saya sebagai penonton bisa menangkap
perbedaan Mumu versi remaja dan Mumu versi dewasa. Nggak hanya dari segi
pembawaan karakter, style penampilan dan make up Mumu juga turut mengalami
metamorfosa. Intonasi suaranya berubah. Saya bisa merasakan effort-nya XinXin.
Dia memperlakukan Mumu dengan adil.
Di
awal penayangan Speed and Love, beranda Twitter saya dipenuhi komentar kebencian
yang terang-terangan mengarah pada XinXin. Ada upaya menjatuhkan Speed and Love
dengan mengkritik acting XinXin secara brutal dan membabi buta. Membacanya
membuat saya kehilangan kata-kata. Why
are people so mean to her? What crime did she commit? What did she do to
deserve this? Saya mulai mendeteksi mood saya mulai terpengaruh gara-gara
membaca komentar-komentar jahat tersebut—lebih ke sedih dan ga terima, kok bisa
ya ada orang yang tega mengetik sejahat itu? Saya mutusin untuk tidak mau
membaca dan secepat kilat menggulirkan jari jika twit semacam itu muncul di
beranda, ada juga akun-akun yang saya blokir karena berpotensi menggiring
opini. Saya hanya ingin menonton dengan tenang.
In my humble opinion,
akting XinXin tidak seburuk itu. Speed and Love adalah drama ketiga atau
keempatnya XinXin yang saya nonton. Kalo ngomongin acting, saya nggak merasa
aktingnya kaku atau monoton. Udah lumayan luwes. Orang-orang bilang, dia kerap
mengambil peran yang sama—sebagai karakter sok imut. Iya kah? Bagaimana jika
yang datang kepadanya memang dominan project yang sekian persennya mengharuskan
dia menampilkan sisi manisnya? Boleh jadi, tawaran yang datang kepada XinXin
belum cukup variatif untuk bisa memberikannya keleluasaan memilih peran. Salah
satu karakter memorable XinXin adalah
saat ia bermain di My Journey to You. Saya tidak akan lupa betapa
kerennya XinXin memerankan Yun Weishan. Kalau saya perhatiin karakter XinXin di
drama-dramanya yang sudah saya tamatkan (XinXin sebagai pemeran utama
perempuan), karakter-karakter tersebut memiliki detail bukan sebagai perempuan
lemah dan menye-menye seperti yang orang-orang tuduhkan. Yang nggak pernah
ketinggalan tuh layer karakter sebagai cewek yang punya power. Seringnya, belum
apa-apa, orang-orang udah nge-judge duluan hanya berdasarkan suara XinXin,
bukan dengan mengenal karakter yang ia perankan. Tapi kalau dasarnya emang
nggak suka ya bakal sulit nonton dramanya dengan nuansa hati yang netral, kayak
bakal ada aja kekurangan yang (berusaha mati-matian) untuk ditemukan. Karena
fokusnya bukan ke storyline tapi apa-apa aja nih yang bisa dijadikan bahan
kritik. Belum lagi kalau di kepala udah ada nama-nama yang siap dijadikan objek
perbandingan dengan XinXin. Sebagai penonton yang mudah terdistraksi dan ilang
feeling ke karakter tokoh di drama mainland, saya berani bilang acting Esther
Yu nggak buruk. Tapi balik lagi ke preferensi masing-masing sih. Kalau nggak
cocok dengan cara Esther Yu berakting, ya udah. Asal jangan menggunakan itu
untuk menjatuhkan atau melempar komentar jahat yang ujung-ujungnya keluar dari
narasi awal soal aktingnya. Apakah nggak boleh mengkritik acting aktris/actor?
Boleh banget. Tapi ingat, ada batasan-batasan yang sebaiknya tidak dilompati
agar kegaduhan-kegaduhan tidak penting tidak terjadi. Ada hal-hal yang
semestinya memang hanya menjadi konsumsi pribadi, tidak untuk dilempar ke
public.
Saya
nggak sabar melihat perkembangan acting XinXin di masa depan. Saya berharap dia
akan mendapatkan peran-peran yang lebih variatif lagi yang memberinya kesempatan
untuk meluaskan spectrum aktingnya. Yang kayak Weishan tuh keren banget. Asli.
Oya,
saya seneng banget melihat perbedaan Mumu remaja dan Mumu dewasa. Dari cara
berpakaian, cara berbicara, make up nya—perbedaannya terlihat jelas. Ini juga
mematahkan tuduhan orang-orang yang bilang acting XinXin terlihat
kekanakkan—Mumu di episode awal kan emang masih bocil banget tingkahnya. Dia
tuh sejak kecil udah dapet princess treatment dari orang-orang di sekitarnya
termasuk Jin Zhao makanya manja banget dan lumayan keras kepala. Menurut saya,
XinXin berakting menyesuaikan karakter yang diperankannya. Cuman emang ada saja
orang-orang yang nggak cocok dengan caranya berakting. Menganggapnya cringe,
menggelikan atau apalah itu. Saya teringat salah satu adegan di drama A Romance
of The Little Forest yang bikin saya ngakak. Alih-alih menyebutnya cringe, saya
malah ngerasa gemes banget liat XinXin. Nggak semua aktris bisa berperan kiyut
secara natural, Xin Xin bisa. Adegan yang absurd tapi lucu. Nggak ada
geli-gelinya sama sekali.
Satu
hal yang saya yakini, sorot mata XinXin udah punya power. I can see that she’s growing up as an actress.
6—He Yu sebagai Jin Zhao
Let’s Meet Now (2020) menandai
perkenalan pertama saya dengan acting He Yu,
drama ini merupakan besutan director Mao De Shu/Cat Tree (When I Fly
Towards You). Setelah itu, saya tidak pernah lagi mengikuti drama-drama He Yu.
Lima tahun terakhir He Yu membintangi banyak drama popular seperti Dashing youth (saya tertarik dan
mempertimbangkan untuk menonton. Tapi katanya sad ending ya untuk karakter He
Yu?).
Saya
pangling melihat penampilannya di Speed and Love. Anak laki petakilan bin lawak
di Let’s Meet Now lima tahun lalu sekarang telah berubah menjadi pria matang
dan dewasa. Aktingnya juga sangat
meningkat. Memikat.
Di
Speed and Love He Yu memerankan Jin Zhao, laki-laki di pertengahan usia 20-an
yang diadopsi oleh keluarga Jiang Mu. Setelah orangtua Jiang Mu berpisah, Jin Zhao
dibawa Jin Qiang ke Thailand. Di Thailand, selain membantu Jiang Qian mengelola
rumah makan, ia membuka bengkel reparasi mobil. Ia juga terlibat kegiatan balap
liar yang melibatkan organisasi gelap.
Saat
membaca novel Speed and Love, empati saya tumbuh dengan cepat untuk Jin Zhao.
Pada momen tertentu, pengen banget meluk dan bilang ke dia kalau dia sudah
melakukan yang terbaik. Jin Zhao terlihat kuat, tangguh, tapi sesungguhnya ia
sosok yang rentan. Sebelum bertemu kembali dengan Jiang Mu, Jin Zhao tidak
pernah berpikir ulang tentang bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Kayak dia
tuh nggak pernah sungguh-sungguh bisa menjalani hidup untuk dirinya sendiri.
Sejak kecil, Jin Zhao menjalani hidup dengan mode bertahan. He lives in
survival mode. How hard it must be,
carrying it alone. Jin Zhao pernah memiliki mimpi dan harapan tentang
sebuah hidup yang lebih baik, namun berkali-kali hidupnya dibuat babak belur.
He
Yu berhasil menghidupkan karakter Jin
Zhao dengan sangat akurat. Aura dingin Jin Zhao di novel divisualisasikan He Yu
tanpa membuatnya terlihat berlebihan. Menurut hemat saya, Jin Zhao bukan
karakter yang mudah diperankan. Jin Zhao memiliki layer emosi yang tidak
sederhana. Petantang petenteng-nya Jin Zhao bukan tipikal laki dengan aura
dominasi kuat. Bad boy-nya bukan
jenis yang bikin saya menyeringai geli. Semua serba pas. Jin Zhao versi He Yu
mengingatkan saya pada sosok Ling (Vic
Zhou) dari drama Taiwan “Mars”.
Ling pernah menjadi ikon bad boy pada
masanya. Saya, si remaja tanggung kala itu ikut kena peletnya juga wkwk. Saya lagi mikir keras kata atau kalimat
seperti apa yang tepat untuk mendefinisikan visualisasi Jin Zhao di drama. Dia
tuh down to earth (?), saya nggak
tega mau nyebut dia bad boy. Dia
dingin tapi nggak kasar ke orang-orang kecuali orang tertentu aja. Karakter yang nginjek tanah, sisi rapuhnya kuat tersirat dari sorot matanya. Aura
charming-nya memancar kuat. Saya nggak suka peran laki di drama yang dibawakan
dengan mode trying so hard karena jatohnya
lebay. He Yu dengan Jin Zhao-nya nggak seperti itu. Karakter yang
manusiawi. Postur tubuh, garis wajah dan sorot mata mendukung banget He Yu menjadi Jin Zhao yang sempurna. He is the perfect fit for this character.
You can’t tell me otherwise.
Menyoal
perkembangan karakter Jin Zhao before and
after kecelakaan, banyak banget komentar yang menyalahkan Jin Chou. Nggak
mau komunikasi lah, jahat ke Mumu lah, banyak banget. Dan ini bikin saya mikir,
orang-orang nontonnya pada paham karakter
Jin Chou nggak sih? Atau orang-orang hanya focus pada romance dan melupakan
akar kehidupan Jin Chou? Orang-orang melupakan aspek paling penting dari sebuah
karakter, tentang sebab-akibat yang membuatnya bisa memiliki perkembangan
karakter masuk akal dan logis?
Saya
justru bersyukur banget penulis scenario tidak merusak karakter Jin Zhao di
drama. Nyawa karakter-nya di novel
tetap dipertahankan di drama. Visualisasi He Yu menambah kecintaan saya pada
Jin Zhao.
Kenapa
Jin Zhao nggak jujur ke Mumu soal kondisinya? Komunikasi, Jin Zhao. Komunikasi!
Itu
yang orang-orang bilang. Gara-gara ini, imej Jin Zhao yang di episode-episode
sebelum kecelakaan bagus banget komunikasinya ke Mumu, mendadak terlihat cacat dan jelek karakternya di mata
sebagian orang. Yang dilupakan orang adalah, perkembangan psikologis Jin Zhao
setelah mengalami kecelakaan. Ditambah situasi pelik yang sedang dihadapi
Mumu—ibunya sakit. Jin Zhao bukan orang yang egois dan nggak punya hati.
Terlepas dari semuanya, ia hanya ingin Mumu bahagia. Mumu masih muda, bersama
Jin Zhao hanya akan menyulitkan keadaaan Mumu. Mumu anaknya keras kepala dan
nekat. Lihat saja dia yang tanpa ragu memilih ke Thailand daripada mengikuti
ibunya ke Kanada. Saya bisa memahami dengan logis mengapa Jin Zhao memilih menyembunyikan
keadaannya. Waktu baca novelnya juga saya nggak marah ke Jin Zhao, karena di
antara pilihan sulit, melepaskan Mumu adalah tindakan yang dinilainya bijak
pada situasi pelik yang sedang mereka hadapi. Ini benar noble idiocy. I hate
noble idiocy but not for this one. Alasannya? Saya bisa memahami ‘mengapa’ nya
Jin Zhao. Orang-orang lupa, pasca kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya,
Jin Zhao sedang berada dalam trauma dan survival mode, oleh sebab itu,
keputusan yang diambil tidak sepenuhnya rasional. Meminta orang berkomunikasi
dengan realistis di saat seperti itu rasanya terlalu kejam. Secara moral, Jin Zhao
tidak jahat kepada Mumu. Keputusannya melepas Mumu bisa dipahami dari sisi
psikologis meski tetap keliru secara relasional. Di sinilah letak
tragedinya—setelahnya, titik ini justru menjadi titik balik perkembangan
karakter ini.
Jin
Zhao melihat dan menemani Mumu bertumbuh. Si bayi premature sakit-sakitan yang
bolak-balik rumah sakit. Kebayang nggak besarnya rasa sayang Jin Zhao ke Mumu?
Dengan rasa sayang sebesar itu, apakah Jin Zhao akan tega menahan Mumu di
sisinya? Beban psikologisnya terlalu berat. Kok orang-orang bisa tega ya
menuduh Jin Zhao jahat? Minimal bersimpati dikit aja.
Dengan
Jin Zhao tidak memberitahu Mumu mengenai kondisinya, sebenarnya itu adalah
bentuk komunikasi itu sendiri. Menilik latar belakang kehidupan Jin Zhao dengan
survival mode nya itu, yang sejak kecil selalu merasa sebagai outsider,
tertolak, saya tidak heran jika pada akhirnya ia memilih menyingkir dari hidup Mumu.
Ada bagian di novel yang bikin nyesek, yakni saat diceritakan bagaimana
hubungan Jin Zhao dan ibunya Mumu. Sampai usia 5-6 tahun, Jin Zhao tidak pernah
memanggil ibu kepada ibunya Mumu. Setelah Mumu lahir, Jin Zhao berusaha sebaik
mungkin untuk menyayangi Mumu Jin Zhao menyaksikan Mumu menjadi pusat kehidupan
ibunya. Ia berpikir jika ia melakukan itu dengan baik, maka ibunya Mumu akan
menyayanginya juga. Potek banget ini hati. Keliatannya aja Jin Zhao garang,
tapi hatinya berkali-kali retak oleh banyak hal.
Ada
juga yang komentar yang lebih suka Jin Zhao versi anak bengkel daripada versi
pekerja kantoran—nggak apa-apa sih, tapi kalau sampai menyebut ceritanya jadi
nggak menarik lagi hanya karena karakter ini menjalani perkembangan karakter
dengan semestinya. Duh.
Saya
menyukai dua-duanya. Karena dua timeline ini menunjukkan adanya perkembangan
karakter yang konsisten dari Jin Zhao. Ini menunjukkan ketidaksempurnaan
karakter Jin Zhao, he is human, after
all. Saya suka banget penampilan dan
acting He Yu yang juga sangat mendukung
perbedaan detail Jin Zhao. Jin Zhao versi bengkel dan Jin Zhao versi
pekerja kantoran seperti berasal dari dunia yang berbeda. Yang satu terlihat
fearless—khas anak muda berdarah ‘panas’,
sedang yang satunya terlihat begitu rapuh. Sorot mata Jin Zhao setelah
kecelakaan seperti dipenuhi kesedihan mendalam. Baru setelah bertemu Mumu,
berinteraksi kembali dan akhirnya memutuskan rujuk, sorot mata itu berubah. Matanya kembali dipenuhi semangat
dan pendar-pendar bahagia. Fragmen-fragmen Jin Zhou muda yang pernah hilang,
muncul kembali.
He
Yu berhasil melakukannya. Aktingnya bagus banget. Saya ngerasa amaze melihat
perbedaan Jin Zhao sebelum dan setelah kecelakaan. Semuanya berubah. Jempol
banget divisi make up nya. Jin Zhao dibuat beneran kayak orang sakit. Akting He
Yu keren. Cara dia memisahkan dua time line hidup Jin Zhao sangat akurat. Dia
nih termasuk aktor yang bisa nangis dan tetap bisa terlihat tampan. Aktingnya
kian terlihat mature. Ini juga turut
memastikan bahwa He Yu mengenal dengan baik karakter yang diperankannya.
Mau
tau bagian terbaik dari perkembangan karakter Jin Zhao? Dia berhenti minum
alcohol dan berhenti ngerokok! KEREN BANGET NIH LAKI. MAU SATU YA ALLAAAAAH
TOLONG….
Untuk
ukuran idol drama, XinXin dan He Yu sudah melakukan pekerjaan yang bagus banget
sebagai actor. Happy banget tim produksi menggunakan suara asli He Yu, ini
ngebantu penonton supaya nggak terdistraksi oleh dubbing yang cocok.
*
Selain
mendapuk Esther Yu dan He Yu sebagai pemeran utamanya, Speed and Love juga
diramaikan oleh kehadiran actor pendukung lainnya seperti Fei Qi Ming yang memerankan San Lai, salah satu tokoh penting yang
menjadi jembatan hubungan Mumu dan
Jin Zhao. Keberadaan San Lai di drama sesuai dengan cerita di novelnya. Lalu
ada Mike Angelo sebagai Lin Sui,
tokoh ini tidak ada di novel namun hadir di drama.
Character development tokoh-tokoh
di Speed and Love menurut saya sangat bagus, terutama tokoh utamanya. Mereka
bertumbuh dan berproses. Jin Zhao dan Mumu bukan tokoh cerita yang flawless.
Mereka memiliki rupa-rupa emosi yang membentuk karakter mereka. Bagian paling
menyenangkan dari dua karakter ini adalah mereka menunjukkan sisi manusiawi.
Mumu yang straightforward, selalu mengutarakan apa yang ada di pikirannya,
pro-aktif dalam hubungan, mampu memberi batasan pada dirinya sendiri. Saya
melihat Mumu sebagai tipikal perempuan yang akan berjuang pantang menyerah demi
apa pun yang dipercayainya hingga ia tiba di titik akhir yang membuatnya sadar
bahwa ia sudah cukup melakukannya. Ini yang bikin saya menyukai Mumu.
Begitu
pula dengan Jin Zhao. Jin Zhao menunjukkan perkembangan karakter yang solid.
“All
these years, I thought silence and absence were protection and sacrifice. But,
year after year, day after day, in every day of my absence, you stubbornly
waited. Thank you for staying with me all along, helping mi understand that
true love isn’t self-righteous sacrifice, but two hearts, defying wind and rain
together, resisting a broken life. I understand now. True courage isn’t
charging into battle alone. It’s allowing oneself to become a wound that’s
tenderly guarded.” –Jin
Zhao
Jin
Zhao menyadari kesalahannya pada Mumu, melakukan refleksi dan berusaha menjadi
versi terbaik dirinya. Bahwa cinta sejati bukan pengorbanan sepihak, tetapi
tentang dua hati yang memilih bersama dan bertahan menghadapi semua kesulitan.
Indeed, this drama feautures
beautiful characters.
Point
penting lainnya, Speed and Love benar-benar hanya
focus pada kisah Jin Zhao dan Mumu. Nggak ada penambahan side story atau
side couple yang biasa ditemukan pada idol
drama. Jarang loh nonton romance drama mainland
yang couple-nya cuma satu. Biasanya segambreng wkwk. Karena couple Speed and
Love cuma satu aja, penonton bisa focus dan nggak kena distraksi.
Menyoal
karakter, saya bisa mengatakan Speed and Love memiliki kedalaman karakterisasi
pada tokoh-tokohnya yang konsisten. Sesuatu yang tidak banyak saya temukan pada
drama dengan genre yang sama. Mungkin, ini juga yang menjadi alasan mengapa
drama ini mudah saja membuat orang jatuh suka. Saya merujuk ke orang-orang yang
bukan fans main lead—XinXin dan He Yu.
Ya.
Itu saya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hanya penikmat cdrama.
Just a passerby.
@ Cast & Chemistry
I
want to express my gratitude to Esther Yu and He Yu for their hard work. Thanks
to their undeniable chemistry, Speed and Love has been warmly received
worldwide.
Sebelum
drama ini tayang, saya beberapa kali membaca twit yang menyiratkan bahwa
hubungan He Yu dan XinXin nggak bagus. Saya inget banget pernah ada videonya
XinXin yang lagi syuting Thai Sweet di Thailand, trus yang punya twit mengindikasikan
(dari bunyi twitnya) He Yu melarikan diri
dari proses syuting. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya kok bisa dia
ngasih pernyataan seperti itu, jadi kesannya He Yu nggak suka XinXin, dan
mereka punya hubungan yang nggak baik.
Begitu
Speed and Love tayang. Promosi dimulai. Video belakang layar dirilis
menunjukkan keakraban XinXin dan He Yu. Di situlah saya mulai curiga. Ada
sesuatu yang tidak benar. Mana ada itu hubungan tidak baik. Yang terlihat
justru sebaliknya. He Yu sangat amat menghargai XinXin. He plays off her very well. He can keep up with her. He matches her
energy perfectly. Dan itu nggak keliatan kayak terpaksa. He Yu menikmati
waktunya bersama XinXin. Begitu pula sebaliknya. Makin yakin statement sebelumnya
nggak benar setelah saya menonton He Yu dan XinXin beberapa kali live bersama.
Asik bener tuh anak berdua. Udah kayak bestie, akrab banget. Selera humornya
cocok. Nggak bohong, chemistry dua orang ini bagus banget on dan off screen.
Selayaknya temen akrab. Nggak ada jaim-jaimnya.
Baru
kali ini saya nonton dramanya XinXin sampe ikutan nonton video-video promo.
Sayang banget untuk dilewati. Lucu dan menggemaskan banget XinXin dan He Yu.
Interaksi yang bikin nangih. Saya nggak nge ship mereka ya, tapi dukung penuh
sebagai kawan ikrib yang moga-moga aja nanti bisa reunion lagi. Plis banget
fans He Yu dan XinXin, mohon kerjasamanya.
Oke,
cukup untuk omongin off screen-nya. Sekarang kita bahas chemistry mereka di
drama sebagai Jiang Mu dan Jin Zhao.
Adalah
tatapan Jin Zhao ke Mumu pertama kali yang membuat saya menetap dengan yakin di drama ini. Ketika membaca novel Speed and
Love, saya membayangkan adegan demi adegan Jin Zhao dan Mumu. Yang awalnya
awkward, kikuk—maklum baru pertama kali ketemu semenjak mereka terlepas dari
dunia kanak-kanak. Masa-masa cegil-nya
Mumu di novel bikin deg-degan, ini anak nggak ada takut-takutnya sama Jin Zhao.
Respon Jin Zhao yang ikut plays along bikin saya menggila. Nah, bayangan saya terhadap adegan-adegan tersebut
divisualisasikan dengan sempurna oleh
XinXin dan He Yu di drama. Apa nggak tambah nge reog saya tiap kali melihat Jin
Zhao menatap Mumu? Melihat setiap gestur Jin Zhao ke Mumu yang gentle dan full
of tenderness—ME WHEN???????? /korban tatapan Jin Zhao yang masih single yuk
kita nangis berjamaah/
Jin
Zhao kalau natap Mumu tuh berasa banget sayangnya. Terlalu intens, bikin yang
nonton ikutan salting. Trus pas udah pacaran, tiap natap Mumu, takut banget dia
nerkam Mumu. Merinding ih. He Yu gilak, penonton ikutan gilak. ARRRGGGHHHHH.
Di
mata He Yu eh maap—Jin Zhao, dunianya hanya berputar mengelilingi Mumu. Mau se
cegil appun, se absurd gimana pun Mumu, diturutin semua. Di awal-awal pertemuan
mereka di novel, Jin Zhao lebih berasa dinginnya ke Mumu. Di drama lebih soft
dia tuh.
Dari
semua drama XinXin yang saya pernah nonton, chemistry dengan He Yu ini yang
paling bikin hati saya gonjang ganjing nggak karuan.
Membicarakan
chemistry di drama, kita nggak bisa
memungkiri, chemistry memikat dua
tokoh tercipta karena adanya kerjasama yang baik dari dua actor yang
bersangkutan. Dan chemistry yang oke,
menurut hemat saya, adalah yang bisa bikin penonton percaya kalau mereka lagi
nggak acting saking naturalnya. Yang modelan kayak gini di mainland buanyak
banget. Makin bikin baper ngeliat mode promosinya yang pake metode fry
couple—WAH. Yang belum terbiasa bakalan babak belur itu hati wkwk. Level
professional mereka tuh luar biasa.
Saya
suka banget chemistry XinXin dan He Yu di Speed and Love. Nggak ada promosi di
acara-acara tapi sanggup menarik perhatian hanya berbekal materi yang banyak
disponsori XinXin sendiri. Dengan kekuatan acting masing-masing, keduanya
bertransformasi dan beresonansi satu sama lain sebagai Jiang Mu dan Jin Zhao.
Ini kalo nggak ada sikap kooperatif dan kemauan bekerja sama, enggak akan
se-gacor itu chemistry-nya. Setelah
menonton video belakang layar, nggak heran chemistry
nya bisa bagus begitu. Ternyata XinXin dan He Yu se-frekuensi—retjeh-nya.
XinXin nggak dibiarkan berusaha sendirian. He Yu bisa mengimbangi. Energy
mereka cocok banget. Yang satu cewek banget tingkahnya (MENOLAK KALAU ADA YANG
NYEBUT XINXIN PICK ME GIRL, GW TABOK LO), yang satu laki banget (he is not trying so hard) dan ketika
mereka ketemu lalu berinteraksi malah cocok. Di mata He Yu, tingkah XinXin
nggak aneh, dia bisa mengimbangi. He Yu bahkan nggak canggung atau enggan
bertingkah kiyut atau manis—asal XinXin yang minta atau nyuruh HAHAHAHAHA. He
is effortlessly funny. Asbun-nya asbun banget. Celetukannya lucu. Tek tok-an
dua orang ini bikin suasana hidup. Nggak heran di acara live XinXin bilang pada
pertemuan pertama mereka, ia merasa seperti sudah mengenal He Yu sepuluh tahun
lamanya. He Yu yang ngaku mereka nggak ada jaim-jaimnya. Begitu ketemu,
ngobrol, saling tukar kontak. Nggak ada canggung-canggungnya. Asik banget
kaaan?
Nggak
ada chemistry yang bisa dibangun sendirian.
Storytelling
naskah yang oke, diperankan actor
yang punya kemampuan acting dan mampu membangun kerjasama yang baik—itulah apa
yang kita lihat dan rasakan di Speed and Love. Nggak cuma main lead-nya aja.
Dengan supporting cast pun demikian. He Yu dan XinXin sebagai Jin Zhao dan Mumu
mampu menjalin chemistry yang bagus
dengan pemeran lainnya. Dramanya bikin penonton enjoy.
Interaksi
antarkarakter juga bagus. Dinamis. Speed and Love memiliki selera humor yang
nggak garing. Bisa-bisanya ada parody Goblin ikutan nyempil HAHAHAHA.
@ OST & Sinematografi
Sinematografi
membantu penyampaian storytelling di drama. Ketepatan sudut dan pergerakan
kamera, pencahayaan hingga pemilihan color dan tone bisa sangat membantu
visualisasi cerita.
Warm and nostalgic.
Color
dan tone Speed and Love menyiratkan kesan hangat yang dipenuhi nuansa
nostalgia, sepadan dengan tema yang dibawa drama ini. Ketika sudut kamera focus
pada Jin Zhao—di paruh pertama—pemilihan tone warna gelap begitu mencolok. Ada
kesan muram sekaligus tajam. Director-nya pinter banget menangkap rupa-rupa
emosi di wajah Jin Zhao. Acting He Yu dan angle kamera berhasil dikawinkan dengan baik sehingga meski
tanpa dialog bertele-tele, penonton mampu membaca
apa yang sedang dirasakan Jin Zhao, konflik batin apa yang sedang
bergejolak di bilik dadanya.
Sudut
pengambilan kamera sangat banyak membantu menjaga mood setiap adegan khususnya adegan yang menuntut kepekatan emosi
yang dalam, misalnya adegan melankolik. Hayo ngaku, siapa di sini yang panas
dingin setiap kali Jin Zhao dan Mumu terlibat interaksi intens dan intim?
Fokus kamera nggak mengecewakan ya HAHAHAHA. Sayang sekali banyak banget yang
kena cut karena nggak lulus sensor.
Sinematografi
Speed and Love mendukung narasi cerita drama ini.
Pemilihan
OST sebagai latar belakang adegan juga sudah cukup baik, melodi dan liriknya
sesuai dengan adegan yang ditampilkan. OST-nya enak-enak di kuping. Favorit
saya Away-nya R.E.D. Kayaknya yang lumayan bikin kesel adalah tampilan
terjemahan lirik lagu di layar yang seperti berkejaran dengan subtitle drama.
Ini salah satu angle favorit saya :
@ Ending
Pada
banyak menuntut episode 30 ya?
Jadi
begini, drama ini seharusnya memang berjumlah 30 episode, andai tidak banyak
adegan yang di-cut. Alasan kenapa di-cut bisa bermacam-macam tetapi yang paling
sering terjadi adalah adegan tersebut tidak lulus sensor.
Ending
novelnya romantic banget. Jin Zhao melamar Mumu di atas balon
udara—terinspirasi dari film Up.
Narasi
penutup novelnya di chapter 78 :
On the first day of the New Year, Jiang Mu gained a new
identity, taking her husband’s surname—Jin Mu.
Heartwarming
banget.
Tapi
di drama, adegan itu tidak ada. Adegan pernikahan Jin Zhao-Mumu malah tidak
diperlihatkan, padahal reuters nya sudah banyak bertebaran. Ini sih yang bikin
kesal. Warga Mischievous Trackers kan
pengen hadir di nikahannya orangtua mereka.
Drama
China khususnya yang romance emang suka gitu deh. Episode terakhirnya bikin
kecewa. Berasa antiklimaks. Kita yang nonton langsung melongo dan bergumam, hah gitu doing? Udahan? PRET. Build up
ekspektasi kita nggak memenuhi klimaksnya.
Tapi,
sudahlah. Jin Zhao dan Mumu sudah menemui akhir yang bahagia. Itu cukup.
@ Cerita Tentang Matahari dan
Bulan
Zhao/Zhao—dawn,
the sun.
Mu—dusk,
the moon.
*
“Zhao as the sun, Mu as
the moon—sun and moon alternating, never to meet again.” –Jin Zhao, chapter 71
“Zhao
adalah matahari, Mu adalah bulan—matahari dan bulan silih berganti, ditakdirkan
tak pernah berjumpa kembali.”
Jawaban
Mumu atas perasaan Jin Zhao di chapter 72 :
“At this time every year, the orbital cycles of Earth shift,
allowing both the sun and the moon around to appear simultaneously on the
horizon. This creates the natural phenomenon known as ‘sun and moon shining
together.’
Even the alternation of the sun and moon—a law of nature—is not
absolute, let alone human beings.
Do you know what this is called?
Zhao is the sun, Mu is the Moon. Sun and moon shining
together—day after day, night after night.”
Trans :
“Pada
saat seperti ini, setiap tahun, orbit Bumi bergeser perlahan, sehingga matahari
dan bulan dapat hadir bersamaan di ufuk langit. Dari sanalah lahir sebuah
peristiwa alam yang disebut ‘matahari dan bulan bersinar bersama’. Bahkan
pergiliran matahari dan bulan—hukum alam yang abadi—ternyata tak sepenuhnya
mutlak, apatah lagi nasib manusia.
Apakah
kamu tahu nama peristiwa ini?
Zhao
adalah matahari, Mu adalah bulan. Matahari dan bulan bersinar bersama—hari demi
hari, malam demi malam.”
*
Suka
banget percakapan Mumu dan Jin Zhao di bagian ini. Maknanya dalam. Dialog ini memiliki benang merah
dengan dialog Jin Zhao-Mumu yang membahas kehidupan pernikahan Jin Qiang dan
Jiang Yinghan. Jin Zhao bilang nggak ada pernikahan yang nggak bahagia—yang ada
adalah pasangan yang tidak bahagia. Bukan pernikahan yang mendatangkan
malapetaka. Selama dua orang bersungguh-sungguh saling mencintai, semua
kesulitan bisa di atasi. Asal ada kemauan, akan selalu ada jalan.
Nah,
setelah kecelakaan, Jin Zhao kehilangan kepercayaan diri untuk mencintai Mumu,
maka ia memilih melepaskan. Seperti matahari dan bulan yang tidak bisa muncul
secara bersamaan, mereka ditakdirkan berpisah. Mumu berhasil mematahkan itu.
Secara teori matahari dan bulan memang mungkin
muncul bersamaan. Namun, ada fenomena langka yang memungkinkan kemunculan
mereka secara bersamaan yakni di sekitar fase bulan baru atau selama gerhana,
terutama pada saat terbit fajar atau senja hari. Kemungkinan selalu ada.
Selama dua orang bersungguh-sungguh saling mencintai—
Jin
Zhao beruntung memiliki Jiang Mu.
Karena
Jin Zhao mampu mencintai diam-diam,
dari kejauhan. Sedang Mumu, tidak. Mumu nggak bisa mencintai diam-diam.
Perempuan model straightforward begini…
ya bakal dipepetin terus. Dan yakin saya, Mumu paham batasan-batasan yang mampu
melindungi dirinya sendiri. Dia tau kapan harus berjuang, kapan harus berhenti.
I love her so much. My confident girl.
Giliran
udah bareng aja, malah Jin Zhao yang gragas, mode rem blong. Dasar laki, dih.
Mana cemburuan lagi. HAHAHAHA.
Siapa
yang nggak jatuh suka pada kisah cinta Jiang Mu dan Jin Zhao?
Kita
menyaksikan mereka saling menemukan satu sama lain pada kedalaman perasaan
masing-masing. Kalau nggak ada Mumu, kebayang Jin Zhao akan seperti apa
menjalani kehidupannya. Suram, dingin, sulit
didekati, monoton. Pasca kecelakaan, berbekal harapan bertemu Mumu kembali
menjadi satu-satunya penyemangat Jin Zhao merumuskan dan menata kembali
hidupnya dari nol besar. Sayang Jin Zhao dan Mumu banyak-banyak. Jeda
perpisahan tidak membuat mereka hancur, sebaliknya, keinginan menjadi versi
terbaik diri sendiri memenuhi hari-hari mereka.
Saya
menyukai bagaimana mereka nggak denial terhadap perasaan masing-masing setelah
bertemu kembali. Jin Zhao tidak lagi melihat Mumu sebagai anak kecil yang
selalu butuh princess treatment-nya, karena alasan inilah ia berani
memperlihatkan rekam medis kesehatannya kepada Mumu. Akhirnya ada mutual
understanding dari kedua belah pihak. Jin Zhao percaya Mumu akan menerima
dirinya apa adanya, Mumu percaya sepenuh hati Jin Zhao masih sangat amat
mencintainya.
Jin
Zhao menjadi salah satu karakter pria fiksi favorit saya ya karena dia
terang-terangan menampakkan sisi nggak berdayanya tanpa niat meromantisasi
apa-apa yang dialaminya. Untung di drama, Jin Zhao ditampilkan sedikit lebih lembut, di novel angst-nya lebih nyiksa
lagi.
Karena
ini hanya drama, hubungan Jin Zhao
dan Mumu terasa romantic dan manis. Tapi coba dibayangkan di dunia nyata.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Fei Qi Ming saat live bersama He Yu, XinXin
dan Mike beberapa hari lalu. Mumu dan Jin Zhao beruntung masih bisa bersama
kembali setelah ditimpa masalah berat, di kehidupan nyata, kehilangan timing dalam sebuah hubungan bisa
berakhir dengan penyesalan yang dibawa seumur hidup—dua orang yang saling
menyayangi bisa saling melewatkan.
Betapa
saya ingin mencintai dengan berani seperti Mumu kepada Jin Zhao. Dan mungkin
suatu saat, kita pun akan dipertemukan dengan seseorang yang bisa mencintai
kita seperti Jin Zhao mencintai Mumu.
Speed
and Love termasuk drama China yang paling buanyaaak adegan ki**ing-nya, dan itu
nggak bikin ilang feeling. Eksekusinya nggak terlihat vulgar. Udah diusahakan
semampunya agar bisa lulus sensor kali ya, di novel beugh… takut. Saya nggak
bilang chemistry XinXin dan He Yu bagus karena didukung adegan itunya yang
banyak, nggak ya. Tanpa itu juga chemistry mereka udah bagus banget.
*
Membandingkan Speed and Love dengan drama-drama berbeda genre, sangatlah tidak tepat. Sebagai penonton, bagus atau tidak satu drama tergantung pada selera masing-masing. Drama ini, bagi beberapa penonton, mungkin tidak sesuai dengan standar drama bagus versi mereka, tetapi tidak bisa dipungkiri, bagi sebagian lainnya, drama ini mampu menarik keluar mereka drama slump—iya, itu saya.
Pada
akhirnya, sebagai penonton, saya hanya akan menonton drama yang saat itu cocok
dengan mood. Persoalan bagus atau
tidak, itu tidak akan memengaruhi saya untuk terus menyukai drama tersebut.
Hari-hari belakangan ini, orang-orang begitu sibuk memberi label pada sesuatu
hingga lupa menikmati kesederhanaan dari nikmatnya rasa bahagia yang muncul
karena hal-hal kecil. Menemukan
tontonan yang membikin semangat menunggu pergantian hari, misalnya. Kita
seringkali terlalu focus pada sesuatu yang artifisial.
Jika
saya ditanya apa yang membuat saya menyukai Speed and Love? Ini jawaban singkat
saya, “chemistry Esther Yu dan He Yu yang
berhasil menghidupkan cerita Jiang Mu dan Jin Zhao.”
Speed
and Love merupakan idol drama yang
memiliki kedalaman karakter tokoh dengan cerita yang cukup solid serta
perkembangan karakter yang hidup. Speed and Love worth it kok ditonton.
Special
thanks to Esther Yu. Her commitment and
hard work deserve sincere appreciation. Banyak materi promosi Speed and
Love berasal dari kamera pribadi XinXin. Mengingat apa yang dialaminya pada
periode syuting drama ini membuat dada nyeri. He Yu sendiri memuji XinXin dengan
terang-terangan. Work ethic XinXin sangat baik. Ia layak mendapatkan kredit
atas popularitas Speed and Love.
{{{
Dan
tibalah saya di bagian akhir. Saya sengaja menulis ini paling terakhir. Apa
yang saya tulis berikut ini merupakan uneg-uneg yang sudah menumpuk dan
akhirnya mencapai puncaknya selama menonton Speed and Love. Bisa dibilang ini
akumulasi emosi yang bersumber dari hal-hal tidak menyenangkan yang saya temui dan rasakan selama mengikuti drama
mainland, yang memunculkan ketidaknyamanan dan berakhir membuat saya melakukan
refleksi.
Bear with me while I explain.
Online
harrasment, cyberbullying.
Lama
berkecimpung di kdramaland, lalu mencicipi konten drama dari mainland hingga
akhirnya saya lebih nyaman menonton drama-drama produksi tirai bamboo tersebut,
sedikit banyaknya telah membuat saya mengenal kultur dunia entertainment di
sana.
Saya
tidak pernah benar-benar masuk dan
melibatkan diri, nggak ikut gabung fandom ini-itu. Cuman sebatas nonton drama
yang saya suka, suka aktris/actor yang main di drama itu. Saya berlaku
seawajarnya aja. Nggak berbeda jauh ketika saya focus di kdrama—I’m just a regular viewer. Belajar
sedikit-sedikit bagaimana C-ent berjalan.
Saya
menyadari K-ent dan C-ent sangat berbeda. Kamu yang baru nyemplung di C-ent
setelah sebelumnya akrab dengan K-ent, jangan sekali-sekali menganggapnya tidak
berbeda dan membawa kebiasaanmu di K-ent ke C-ent. No. Kultur C-ent itu memiliki
ciri khasnya sendiri.
Sebelum
Speed and Love tayang, saya nggak begitu memedulikan online harassment dan cyberbullying
terhadap artis tertentu. Respon saya cenderung biasa aja, nggak mau ikut
campur, sekadar tau fans artis siapa yang membully dan di-bully. Dan berlalu
begitu saja. Saya cukup tau artis mana aja yang kerap menjadi bulan-bulanan.
Saya tidak mau menjadi bagian dari kegaduhan tersebut. Sayang energy.
Lalu
Speed and Love tayang, saya membaca ketikan-ketikan jahat menyasar Esther Yu. It hit me hard. At that time, I realized
that online harassment and cyberbullying are a serious problem. Bagian tersedihnya,
pada banyak kejadian, yang paling banyak menjadi korban adalah artis perempuan,
dan pembuli-nya adalah kebanyakan
kaum perempuan juga. JUST WHY?? How could
someone behave like this?
Pertanyaan
yang muncul kemudian, bagaimana ini bisa terjadi?
Kultur. Itu.
Kultur
C-ent dan fans.
Dua
hal ini saling saling berkaitan. Kultur C-ent memiliki andil pada pembentukan
kultur fans/fandom. Begitu juga sebaliknya. Pengaruhnya berjalan dua arah.
Strategi industry dan media memiliki kemampuan membentuk fandom. Di saat
bersamaan, fandom juga memberikan pengaruh pada perubahan trend. Industri
hiburan bisa mengubah konsep demi mengikuti selera fandom. Pada banyak kasus,
tekanan fans bisa menjatuhkan atau mengangkat figure tertentu. Ini situasi yang
rentan. Fans China terkenal sangat militant, kompetitif dan terorganisir.
Loyalitasnya luar biasa. Fandom yang menganut paham idola sebagai role-model, dipicu ketatnya persaingan antar idola
bisa melahirkan fanwar. Online harassment dan cyberbullying menjadi dua hal
yang biasa terjadi pada artis
tertentu.
Kesadaran
mengumpul cepat di kepala saya.
Fanwar
bukan bukan sekadar konflik antar penggemar, melainkan fenomena social yang
dibentuk oleh kultur entertainment dan ekosistemn digital. Nyadar nggak sih
kalau emosi kita sedang dimainkan? Sistem popularitas (chart, voting,
trending), industry yang mendorong kompetisi antar artis, media dan algortma
yang memperbesar konflik—itu semua digerakkan oleh perasaan sayang dan cinta
fans kepada artis. Dunia entertainment tidak pernah netral, ia ikut membentuk
perilaku fans.
Perkara
first billing aja bisa fans berantem
parah. 一番
(yī fān) →
first billing / top billing merupakam urutan nama paling atas dalam kredit
drama/film yang menandakan status, popularitas, dan posisi paling dominan dalam
sebuah project. Di C-ent, first billing bukan sekadar urutan nama tetapi symbol
kekuatan komersial yang menentukan bayaran, porsi screen itme dan posisi dalam
promosi. Status ini berkaitan langsung dengan reputasi dan karier. Pendeknya,
siapa yang menjadi first billing dianggap
sebagai bintang utama di pryek tersebut. Posisi first billing kerap menimbulkan
konflik karena ada fans yang berpikir jika idolanya bukan first billing berarti
dia diremehkan. Belum lagi soal traffic siapa yang paling tinggi. Emang gila
banget sih persaingan di sana. Bisa survive di kultur yang sedemikian
mendewakan popularitas aja udah Alhamdulillah.
Esther
Yu, Zhao Lusi, Dilraba, dan masih banyak nama lainnya yang kerap menjadi objek
bullying. I can see the pattern.
Untuk tujuan popularitas, menjatuhkan artis lain dengan berbagai cara sudah
menjadi sesuatu yang biasa terjadi.
Sedih.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apakah yang beredar di dunia maya itu adalah
kebenaran yang mutlak.
Pasca
kejadian bullying terhadap XinXin selama penayangan Speed and Love, saya
melakukan refleksi diri yang runut. Setelah ini, saya akan lebih berhati-hati
lagi berselancar di dunia maya. Apa yang saya baca tidak selalu berarti kebenaran.
Boleh jadi itu hanya opini yang berjalan dari
satu kepala ke kepala lain hingga terdengar benar dan dianggap kebenaran. Apa yang
saya lihat pada secuil video sekian menit/detik, yang menangkap kejadian
tertentu, tidak boleh saya jadikan bahan untuk dianalisis sedemikian rupa agar
cocok dengan isi kepala saya.
Dunia
entertainment itu punya banyak layer. Orang-orang yang muncul di layar itu,
tidak berbeda dengan saya. Mereka juga manusia biasa yang sedang menjalani
hidup, bekerja, berproses menjadi apa yang mereka anggap layak, cocok untuk
hidup mereka.
Maka
saya, sebagai penikmat dunia ent, harus mampu menentukan batasan-batasan bagi
diri saya untuk menjaga agar saya tidak berubah menjadi manusia toxic, yang dengan
mudah menggunakan jari-jarinya membunuh karakter seseorang demi memuaskan diri.
Pembelaan sedemikian rupa itu
untuk apa sih? At the end of the day, we are just ordinary people trying to
survive.
Shipper vs Solo stan
That
never ending saga…
Fanwar
yang terjadi antara shipper dan solo stan mengakibatkan menjauhnya dua figure artis.
Memupuskan harapan suatu saat bisa melihat mereka di satu project lain. Ini
yang saya kuatirkan menimpa XinXin dan He Yu. Udah mulai keliatan sih, orang
yang belum move on—menuju toxic behavior, solo stan, shipper terseret ke mode
saling sikut di media social.
Padahal
seru loh melihat interaksi XinXin dan He Yu di belakang layar. Saya nggak nge
ship mereka ya. Sebatas suka tek tokan mereka yang asik. Masa sih temen seakrab
ini harus jadi tumbal fans toxic? Sayang banget. Masih pengen liat mereka main
drama lagi.
Yang
baru nyemplung di C-ent saya kasih tau ya, gonta-ganti pasangan dalam project
drama pada waktu dekat udah biasa di C-ent. Drama baru kelar tayang, tiba-tiba
udah syuting drama baru dengan artis lain, ITU UDAH BIASA. Bahkan masih ada
bejibun drama mereka yang belum tayang. Kalau kamu serius mau ngikutin C-ent,
coba mulai belajar menguatkan hati. Arusnya deras banget di sini. Hati-hati hanyut. Kurang-kurangin deh kebiasaan
over analyzing-nya.
Dan
overprotecting behavior bisa sangat sangat sangat berbahaya dan merusak.
Yang paling ter—
Paling
green flag, paling ini lah itu lah.
CAPEEEEEEEEEK.
Saya
menarik napas panjang membaca twit yang membandingkan Sang Yan dan Jin Zhao.
Serius nih? Ada juga yang memandingkan siapa yang paling ijo antar karakter ini
dan itu. Rasa-rasa ingin jedotin pala ke bantal. Orang-orang pada sibuk banget
ya….
Penting
banget ya? Apa nggak bisa kita nonton aja, jatuh cinta pada banyak karakter
yang membuat hati bahagia berbunga-bunga, menyimpan mereka pada kotak memori
baik tanpa membandingkan satu sama lain? Saya suka Sang Yan, suka Jin Zhao, He
Suye, saya suka laki-laki fiksi yang tau cara memperlakukan perempuan dengan
baik. Saya mudah jatuh hati pada karakter perempuan hebat yang memilih diri
sebelum orang lain. Bukannya bagus ya kalau makin banyak karakter kayak gini di
tanah fiksi? Bukan untuk menggiring kita menjadi delusional, tetapi kian
meluaskan sudut padang kita melihat manusia dan ruang-ruang emosinya?
Apakah
beban hidup kian hari berat, hingga orang-orang mudah tersulut hal-hal kecil?
—jika
sesuatu yang semula menjadi sumber bahagia kita membuat kita berubah menjadi
manusia yang kehilangan moral, menjadi seseorang yang mudah saja melempar
kebencian kepada orang lain (atas nama cinta), maka itu adalah isyarat agar
kita berhenti sejenak dan memikir ulang, layak kah diri kita dipenuhi
emosi-emosi negative semacam itu?
Sehat-sehat
ya semuanya. Saling jaga dan saling menghargai.
Kamu nggak cocok dengan satu tontonan, bukan berarti tontonan tersebut jelek. Kamu bukan satu-satunya penonton. Ada banyak pasang mata yang menemukan senyumnya kembali, menemukan cara bahagia yang sederhana karena menonton drama yang kamu cap jelek itu. Be wise as you live. Sometimes, it feels like we are barely breathing.
Cast
: Esther Yu, He
Yu, Fei Qiming, Mike Angelo
❤
Beberapa
bulan lalu, saya sedang men-scrolling timeline akun Twitter saya ketika
potongan video behind the scene proses syuting Speed and Love muncul beranda. Saya baca-baca
komentarnya. Drama ini merupakan adaptasi sebuah novel berjudul Shuang Gui (双轨)
yang ditulis oleh Shi Jiu Yuan (时玖远). Sebagai seseorang yang demen baca
novel romance mainland, iseng lah
saya ke MDL, nge-cek kali aja ada link novelnya. Penasaran, pengen baca. Eh ada
dong. Nggak pake babibu langsung aja dibaca. Pas banget saya lagi nggak ada mood nonton drama, kalau lagi ada waktu
luang saya gunakan untuk membaca dengan maksud agar saya bisa mengimbangi
ketergantungan saya scrolling TikTok. Tahun 2025 ini, trafik nonton saya memang
menurun. Bisa dihitung ada berapa drama yang berhasil saya tamatkan. Sejak
memasuki rutinitas baru awal tahun ini, mood
nonton saya juga ikut kena efek. Pulang ke rumah bawaannya capek, maunya
rebahan aja sambil scroll TikTok. Hhhh. Kebiasaan
yang harus diubah ini.
Saya
baca 78 chapter dalam beberapa hari saja. Suka. Saya dibikin jatuh hati pada
karakter Jin Zhao.
Seusai menamatkan novel Speed and Love, saya nggak sabaran menunggu jadwal tayang adaptasi drama ini. Saya pernah membaca sepotong-sepotong informasi yang lewat di lini masa mengenai proses selama syuting bahwa dramanya mengalami banyak problem. Speed and Love disutradarai Yu Chung Chung, director sejumlah drama popular seperti Love is Sweet dan Everyone Loves Me, sedangkan naskahnya ditulis Zhao Xiao Lei. Lumayan deg-degan sih nunggu kapan tayang.
Pertengahan Desember ini, kabar baik itu datang. IQIYI akhirnya mengeluarkan jadwal rilis resmi untuk Speed and Love. Seolah nggak cukup dengan hal-hal tidak mengenakkan semasa proses syuting, ketika drama ini tayang pun, aneka macam yang tidak enak itu turut bermunculan, yang paling saya ingat adalah komentar-komentar negative menyakitkan yang menyerang Speed and Love, dan Esther Yu. Saya akan membahas soal ini di bagian akhir review ini.
Disclaimer : I’m not fan of
the two main characters of this drama. Saya bukan fans Esther Yu dan He Yu. Saya hanya penikmat
casual drama China, yang nonton kalau dramanya cocok dengan mood dan selera
saya. Saya nggak condong ke genre tertentu. Nggak menolak drama retjeh. Prinsip
saya sebagai penonton suka-suka wkwk. Review berikut saya tulis berdasarkan
sudut pandang saya yang tentu saja sifatnya tidak obyektif.
This is just me and my own opinions.
@ Sinopsis
Jin
Zhao (He Yu) diadopsi Jin Qiang (ayah kandung Jiang Mu) saat berusia 2 tahun,
sebelum Jiang Mu lahir. Setelah kelahiran Jiang Mu, Jin Zhao tumbuh menjadi
kakak yang sangat menyayangi Mumu—nama panggilan Jiang Mu. Saat Mumu berusia 9
tahun, kedua orangtuanya memutuskan bercerai. Jin Zhao dan Jin Qiang terbang ke
Thailand, sedangkan Mumu mengikut ibunya. Ia juga mengganti nama depannya
menggunakan marga ibunya. Dan seperti itulah kebersamaan masa kecil Mumu dan
Jin Zhao berakhir. Perpisahan yang diikuti janji Jin Zhao kepada Mumu, bahwa
suatu saat ia akan kembali.
Beberapa
tahun kemudian, ibu Mumu yang sudah menikah lagi, memutuskan pindah ke Canada
bersama Christ, suami barunya. Mumu menolak. Ia terbang ke Thailand, menemui
ayahnya, menemui Jin Zhao. Berusaha menemukan
janji masa kecil yang pernah dibuat Jin Zhao.
Bagaimanakah
pertemuan kembali dua manusia yang
pernah tumbuh bersama, berpisah lalu menjadi asing setelahnya?
Speed
and Love mengusung genre aksi dan romance, berjumlah 29 episode.
@ Plot & Storyline
Lagi-lagi
saya jatuh cinta pada drama yang diadaptasi dari novel, dan masih dengan modern
drama.
Adaptasi
novel Speed and Love ke drama tidak mengecewakan saya. Meskipun ada beberapa
perubahan dan penyesuaian, tetapi itu tidak merusak jiwa cerita. Garis ceritanya masih tetap utuh mengikuti novel. Saya
merasa sejumlah perubahan tersebut justru membuat Speed and Love makin bagus.
Saya suka khawatir kalau adaptasi drama dari novel yang saya sukai tidak mampu menerjemahkan nyawa cerita dan
karakter novelnya dengan baik. Rasanya akan tawar dan monoton. Karena sebagai
pembaca, saya sudah bisa nebak garis ceritanya bakal seperti apa, jadi paling
nggak visualisasinya harus cocok dengan ekspektasi pembaca.
6
episode pertama, saya masih waswas. Tapi setelahnya, saya tidak bisa
menyembunyikan perasaan senang dan haru karena penulis skenarionya
mempertahankan dialog-dialog penting di novel. Saya sangat bersyukur untuk ini.
Di
novel ada ucapan Jin Zhao yang bikin saya guling-guling di kasur karena gemes.
Salah satunya ini, “If you take this kind of path again, no one will hold you.” Jin Zhao mengucapkan ini kepada Mumu,
yang langsung dibalas gadis itu dengan mengatakan bahwa ia tidak akan mengambil
rute jalan itu dengan orang lain. Saya inget banget reaksi saya waktu itu.
Senyam-senyum nggak jelas. Mereka nih nggak sadar udah flirting tipis-tipis.
Trus
ada lagi adegan Mumu lagi rebahan di kasur dan Jin Chae nemenin dia sambil
bahas situasi pernikahan orang tua Mumu di masa lalu. Suka banget ucapan Jin Zhao
ke Mumu.
“There’s
no such thing as unhappy marriage, but there are indeed unhappy couples. It’s
not marriage that brings disaster upon them—it’s that they themselves are not
steadfast enough. As long as two people truly love each other, they can
overcome all difficulties. Where there’s a will, there’s a way.”
Saya
segera teringat ucapan ibunya Lee Ho-soo di drama Unwritten Seoul. Esensi
pesannya sama. Bahwa pernikahan hidup karena ada dua manusia yang
sama-sama berusaha mengusahakan, tetap bertahan dengan keyakinan yang sama.
Tidak ada pernikahan yang tidak punya masalah. Demikian pula narasi saling
mencintai. Asal masih sama-sama paham apa makna saling dalam sebuah relasi kasih sayang, semua masalah rasa-rasanya
bisa diatasi.
Tidak
ada momen dramatis pada plot dan garis cerita Speed and Love. Pace-nya lumayan
cepat. Setiap adegan di-eksekusi dengan baik terutama adegan balapan. Adegan
balapan yang terlihat meyakinkan, ritme ketegangannya bagus. Intens. He Yu
bilang kalau dia belajar nge drift dari professional, dia juga melakukan
observasi langsung ke orang-orang yang bersinggungan dengan dunia permobilan.
Saya acungi jempol untuk adegan berantemnya, alus dan rapi take adegannya. Jin Zhao
dan He Yu punya banyak kemiripan khususnya di bagian keahlian Jin Zhao di
drama. Ternyata petantang petentengnya juga ga jauh berbeda di real life nya He
Yu wkwk. Cara jalannya itu loh, laki banget. Pantes penonton langsung kesirep
di pertemuan perdana. He Yu
memerankan dirinya sendiri.
Speed
and Love tidak memiliki konflik yang berat dan rumit. Ceritanya hanya berputar pada kisah pertemuan
kembali Mumu dan Jin Zhao, lalu berpisah dan bertemu kembali. Plot dan garis
cerita yang biasa ini nyatanya mampu menarik minat penonton global, berbekal
promosi mulut ke mulut. Organic. Ini hanya asusmi saya saja,
bahwa yang menjadi daya tarik utama drama ini adalah penampilan Jin Zhao
sebagai tukang bengkel yang suka
balapan dan juga seorang street fighter. Banyak yang bilang Jin Zhao
mengingatkan mereka pada cerita-cerita di Wattpad—saya nggak bisa mengomentari
ini karena saya bukan pembaca Wattpad.
Ini
tidak terlepas dari He Yu yang mampu membaca secara utuh seperti apa karakter
Jin Zhao ini harus dihidupkan.
Penampilan He Yu sebagai Jin Zhao nggak overrated. Saya harus mengatakan ini.
Keputusan
penulis scenario memasukkan adegan pertemuan Jin Zhao dan Jiang Ying Han (ibunya
Mumu) sangat tepat. Adegan dari extra chapter sangat penting keberadaannya. Siapa
yang nangis pas adegan ini? Sini. Apalagi waktu Jin Zhao bilang dia nggak punya
orang tua yang bisa ngajarin adat pelamaran seperti apa, jadi dia belajar
kepada temannya. Pecah banget di sini. Emosi yang ingin disampaikan adegan ini
terasa tulus dipenuhi haru. Akhirnya Jin Zhao menemukan closure dari perasaan luka yang dibawa dari masa kecilnya. Demi apa
pun pengen banget meluk Jin Zhao. Anak baik yang dihantam banyak tragedy dan
dia tetap memilih hidup waras.
Salah
satu detail yang terlewatkan terletak pada minor cast yang nggak dibahas lagi
di part pertengahan hingga akhir, kayak hilang begitu saja. Sebut saja Nana dan
Shandian—si anak pinter yang sudah berjasa mempertemukan orangtuanya kembali.
Perubahan
minor dari novel namun berimbas besar pada nuansa cerita drama adalah kalo di
novel, ayahnya Mumu yang membuat Jin Zhao menahan diri untuk nggak menghubungi
Mumu lagi. Di drama, ayah Mumu diam-diam udah tau hubungan dua orang ini dan
memberikan restunya. Perubahan ini turut membantu penyelesaian cerita. Perubahan
lain juga dialami Mumu, di novel Mumu nggak bisa nyetir, nanti setelah rujuk
kembali dengan Jin Zhao barulah ia kursus nyetir. Sedangkan di drama, Mumu
belajar nyetir biar bisa confess ke Jin Zhao.
Saya
menduga, perubahan/penyesuaian karakter dan cerita dilakukan agar adaptasi
novel sesuai dengan konsumsi public,
mengingat ketatnya aturan dan sensor pemerintah di sana. Selain itu, penting
juga menjaga keselarasan cerita. Nggak mudah memang mengadaptasi cerita novel
ke drama.
Jadi,
terima kasih kepada Zhao Xiao Lei, penulis scenario Speed and Love yang telah
melengkapi kisah Jin Zhao-Mumu dari novel menjadi drama. Di mata saya, secara
keseluruhan adaptasi novel Speed and Love berhasil. Memang ada
ketidaksempurnaan di beberapa bagian, tetapi skalanya minor, tidak terlalu
menganggu keutuhan cerita. Seperti yang saya bilang sebelumnya, soul ceritanya nggak berubah. Ini sudah
cukup.
@ Cast and Characters
|—Esther Yu sebagai Jiang
Mu
Jiang
Mu terlihat seperti anak perempuan manja yang suka berbuat seenaknya, keras
kepala. Kalau kamu menonton 2 episode pilot Speed and Love dan buru-buru
menghakimi karakter ini dengan kesimpulan semacam itu, sayang sekali, kamu
sudah melewatkan satu tokoh perempuan fiksi dengan perkembangan karakter yang
lumayan bagus dan konsisten untuk ukuran idol
drama.
Jiang
Mu sangat menyayangi Jin Zhao, sebagai kakak laki-lakinya satu-satunya. Jin Zhao
terbiasa memanjakan Mumu. Tapi itu
cerita saat mereka kecil. Memori bahagia itulah yang membuat Jiang Mu nekat
menemui Jin Zhao, ia masih berharap bisa menemukan sosok Jin Zhao yang hangat
itu. Di ingatan Mumu, Jin Zhao adalah kakaknya yang suka belajar, berprestasi
dan punya cita-cita tinggi. Kakak laki-laki yang bersedia melakukan apapun itu
asal itu bisa membuat Mumu senang.
Sebuah
fakta mengejutkan menamparnya. Sebelum berangkat ke Thailand, Mumu diberitahu
ibunya bahwa Jin Zhao bukanlah kakak
kandungnya. Ia hanya anak yang diadopsi ayahnya. Tapi Mumu tetap kukuh menemui
Jin Zhao.
Ada
setidaknya, 3 garis waktu untuk melihat perkembangan karakter Jiang Mu, Mumu
versi anak-anak, Mumu versi remaja akhir (di novel ia berusia sekira 18 tahun,
di drama Mumu berusia sekira 19 menuju 20 tahun), dan Mumu versi dewasa. Yang
paling menonjol yakni Mumu versi remaja dan dewasa. Terdapat perbedaan yang
sangat jelas pada dua timeline ini. Dan karena alasan ini saya tidak bisa
melihat Jiang Mu—Mumu, seperti tipikal tokoh utama perempuan di idol drama yang diposisikan hanya sebagai objek pemanis
atau menjadi bagian dari cerita yang didominasi tokoh utama pria. She is not like that.
Sebagai
penonton, saya melihat transformasi emosi Mumu sangat jelas. Dia sebagai adik
perempuan Jin Zhao (adopsi), lalu menjadi satu-satunya perempuan yang mencintai
dan dicintai Jin Zhao dengan utuh bukan lagi sebagai adik perempuan.
Di
awal pertemuan mereka pertama kali setelah terpisah sekian tahun, Mumu sangat
terkejut mendapati kakak laki-lakinya bukan lagi serupa kakak laki-laki yang
selama ini hidup di kepalanya. Jin Zhao seolah telah menukar jiwanya dengan
sosok yang tidak pernah dikenal Mumu. Seseorang dingin, tak terbaca dan terjangkau. Tatapan Jin Zhao terasa
berjarak dan sedikit menakutkan. Shock? Sudah barang tentu. Ada ruang yang dalam di hati Mumu yang tidak bisa
menerima hal tersebut. Di matanya, kehidupan baru yang dijalani Jin Zhao begitu
dekat dengan sesuatu yang berbahaya. Semula ia ingin menarik pulang Jin Zhao kepada kenangan masa
kecil mereka. Perlahan Mumu mulai bisa melihat betapa tidak mudah hidup yang
dijalani Jin Zhao setelah perpisahan orangtua mereka. Dan bahwa Jin Zhao tidak
pernah memiliki hidup yang mudah bahkan sejak ia kecil. Betapa jauh arus hidup
telah membawa mereka pada dua sisi lain kehidupan yang begitu berbeda.
Mumu
bersedia belajar mengenal Jin Zhao
bukan sebagai kakak laki-laki yang hidup di
ingatan masa kecilnya. Tetapi sebagai Jin Zhao yang memiliki kuasa atas
hidupnya sendiri. Jin Zhao adalah seorang pria dewasa yang membawa rasa
familiar namun terasa asing di kehidupan Mumu. Di bagian ini, Mumu mulai
merasakan ketertarikan yang lain terhadap Jin Zhao. Iya, saya merasa, eskalasi
rasa suka Mumu ke Jin Zhao tidak tumbuh begitu saja hanya karena mereka
memiliki ikatan persaudaraan di masa kecil. Hanya setelah Mumu akhirnya
menyadari dan menerima jika Jin Zhao yang ia temui bukan lagi anak laki-laki
dari masa kecilnya. Di titik ini, sesuatu yang berbeda tumbuh di hati Mumu.
Sebab
ia melihat Jin Zhao menggunakan sudut pandang yang sudah berbeda.
Banyak
hal mungkin telah berubah dari Jin Zhao—sorot
mata itu berubah, tapi kasih sayang dan kebiasaannya mengusahakan yang terbaik
untuk Mumu tidak pernah berubah. Ini detail
yang membuat penonton jatuh cinta.
Saya
melihat Jiang Mu sebagai karakter yang bertumbuh. She has
her own journey. Sebagai Jiang Mu,
dan sebagai Mumu yang mencintai Jin Zhao. I
don’t see her as annoying character. She’s
lovable. A highly observant and quick-witted woman. Sosok perempuan yang
tau apa yang diinginkannya dan mau berjuang untuk itu. Sikap manjanya hanya
ditujukkan pada Jin Zhao saja, itu pun nggak yang sampe bikin eneg penonton.
Sempat baca komen katanya Mumu menye-menye. Ini menye-menye-nya bagian mana ya?
Kalau yang pas dia remaja—di bawah usia 20 tahun, menurut saya masih wajar sih
tingkahnya begitu, nggak tepat disebut menye-menye juga kali. Mumu di usia
19-20 tahun itu udah punya pengertian yang cukup luas loh untuk Jin Zhao. Prinsip
Mumu asal Jin Zhao selalu datang
kepadanya dalam keadaan utuh dan selamat, ia menganggap itu sudah cukup. Karena
Mumu tau apa yang ingin dicapai Jin Zhao.
Jiang
Mu tuh asal udah dikasih tau apa yang terjadi, pokoknya diceritain ke dia inti
masalahnya apa, dia bisa dengan cepat memberikan ruang pengertian yang luas.
Apa ya, berpikirnya logis aja gitu. Enggak yang ribet dan bikin kita pengen
nampol karena frustasi wkwk. Pengalaman menonton idol drama saya sudah lumayan
cukup untuk menilai Mumu ini menye-menye atau frustasi karakter atau bukan. And I can guarantee she wasn’t like that.
“But she was easy to comfort.
Just distract her and talk about something else, and she’d smile.” –Jin Zhou
Ini
narasi Jin Zhao tentang Mumu. Siapa coba yang nggak jatuh suka sama anak se
pure ini? Yang nggak neko-neko. Huhuhu. Liat aja gimana kemunculan Mumu di
bengkel Jin Zhou seketika bisa mengubah atmosfer di tempat yang menjadi wilayah
dominan laki-laki itu.
Saya
memberikan apresiasi pada Esther Yu (XinXin) karena telah memerankan karakter
Jiang Mu dengan baik. Dengan kapastitas dan kemampuannya, Xinxin memberikan
detail pada karakter Jiang Mu yang membuat saya sebagai penonton bisa menangkap
perbedaan Mumu versi remaja dan Mumu versi dewasa. Nggak hanya dari segi
pembawaan karakter, style penampilan dan make up Mumu juga turut mengalami
metamorfosa. Intonasi suaranya berubah. Saya bisa merasakan effort-nya XinXin.
Dia memperlakukan Mumu dengan adil.
Di
awal penayangan Speed and Love, beranda Twitter saya dipenuhi komentar kebencian
yang terang-terangan mengarah pada XinXin. Ada upaya menjatuhkan Speed and Love
dengan mengkritik acting XinXin secara brutal dan membabi buta. Membacanya
membuat saya kehilangan kata-kata. Why
are people so mean to her? What crime did she commit? What did she do to
deserve this? Saya mulai mendeteksi mood saya mulai terpengaruh gara-gara
membaca komentar-komentar jahat tersebut—lebih ke sedih dan ga terima, kok bisa
ya ada orang yang tega mengetik sejahat itu? Saya mutusin untuk tidak mau
membaca dan secepat kilat menggulirkan jari jika twit semacam itu muncul di
beranda, ada juga akun-akun yang saya blokir karena berpotensi menggiring
opini. Saya hanya ingin menonton dengan tenang.
In my humble opinion,
akting XinXin tidak seburuk itu. Speed and Love adalah drama ketiga atau
keempatnya XinXin yang saya nonton. Kalo ngomongin acting, saya nggak merasa
aktingnya kaku atau monoton. Udah lumayan luwes. Orang-orang bilang, dia kerap
mengambil peran yang sama—sebagai karakter sok imut. Iya kah? Bagaimana jika
yang datang kepadanya memang dominan project yang sekian persennya mengharuskan
dia menampilkan sisi manisnya? Boleh jadi, tawaran yang datang kepada XinXin
belum cukup variatif untuk bisa memberikannya keleluasaan memilih peran. Salah
satu karakter memorable XinXin adalah
saat ia bermain di My Journey to You. Saya tidak akan lupa betapa
kerennya XinXin memerankan Yun Weishan. Kalau saya perhatiin karakter XinXin di
drama-dramanya yang sudah saya tamatkan (XinXin sebagai pemeran utama
perempuan), karakter-karakter tersebut memiliki detail bukan sebagai perempuan
lemah dan menye-menye seperti yang orang-orang tuduhkan. Yang nggak pernah
ketinggalan tuh layer karakter sebagai cewek yang punya power. Seringnya, belum
apa-apa, orang-orang udah nge-judge duluan hanya berdasarkan suara XinXin,
bukan dengan mengenal karakter yang ia perankan. Tapi kalau dasarnya emang
nggak suka ya bakal sulit nonton dramanya dengan nuansa hati yang netral, kayak
bakal ada aja kekurangan yang (berusaha mati-matian) untuk ditemukan. Karena
fokusnya bukan ke storyline tapi apa-apa aja nih yang bisa dijadikan bahan
kritik. Belum lagi kalau di kepala udah ada nama-nama yang siap dijadikan objek
perbandingan dengan XinXin. Sebagai penonton yang mudah terdistraksi dan ilang
feeling ke karakter tokoh di drama mainland, saya berani bilang acting Esther
Yu nggak buruk. Tapi balik lagi ke preferensi masing-masing sih. Kalau nggak
cocok dengan cara Esther Yu berakting, ya udah. Asal jangan menggunakan itu
untuk menjatuhkan atau melempar komentar jahat yang ujung-ujungnya keluar dari
narasi awal soal aktingnya. Apakah nggak boleh mengkritik acting aktris/actor?
Boleh banget. Tapi ingat, ada batasan-batasan yang sebaiknya tidak dilompati
agar kegaduhan-kegaduhan tidak penting tidak terjadi. Ada hal-hal yang
semestinya memang hanya menjadi konsumsi pribadi, tidak untuk dilempar ke
public.
Saya
nggak sabar melihat perkembangan acting XinXin di masa depan. Saya berharap dia
akan mendapatkan peran-peran yang lebih variatif lagi yang memberinya kesempatan
untuk meluaskan spectrum aktingnya. Yang kayak Weishan tuh keren banget. Asli.
Oya,
saya seneng banget melihat perbedaan Mumu remaja dan Mumu dewasa. Dari cara
berpakaian, cara berbicara, make up nya—perbedaannya terlihat jelas. Ini juga
mematahkan tuduhan orang-orang yang bilang acting XinXin terlihat
kekanakkan—Mumu di episode awal kan emang masih bocil banget tingkahnya. Dia
tuh sejak kecil udah dapet princess treatment dari orang-orang di sekitarnya
termasuk Jin Zhao makanya manja banget dan lumayan keras kepala. Menurut saya,
XinXin berakting menyesuaikan karakter yang diperankannya. Cuman emang ada saja
orang-orang yang nggak cocok dengan caranya berakting. Menganggapnya cringe,
menggelikan atau apalah itu. Saya teringat salah satu adegan di drama A Romance
of The Little Forest yang bikin saya ngakak. Alih-alih menyebutnya cringe, saya
malah ngerasa gemes banget liat XinXin. Nggak semua aktris bisa berperan kiyut
secara natural, Xin Xin bisa. Adegan yang absurd tapi lucu. Nggak ada
geli-gelinya sama sekali.
Satu
hal yang saya yakini, sorot mata XinXin udah punya power. I can see that she’s growing up as an actress.
6—He Yu sebagai Jin Zhao
Let’s Meet Now (2020) menandai
perkenalan pertama saya dengan acting He Yu,
drama ini merupakan besutan director Mao De Shu/Cat Tree (When I Fly
Towards You). Setelah itu, saya tidak pernah lagi mengikuti drama-drama He Yu.
Lima tahun terakhir He Yu membintangi banyak drama popular seperti Dashing youth (saya tertarik dan
mempertimbangkan untuk menonton. Tapi katanya sad ending ya untuk karakter He
Yu?).
Saya
pangling melihat penampilannya di Speed and Love. Anak laki petakilan bin lawak
di Let’s Meet Now lima tahun lalu sekarang telah berubah menjadi pria matang
dan dewasa. Aktingnya juga sangat
meningkat. Memikat.
Di
Speed and Love He Yu memerankan Jin Zhao, laki-laki di pertengahan usia 20-an
yang diadopsi oleh keluarga Jiang Mu. Setelah orangtua Jiang Mu berpisah, Jin Zhao
dibawa Jin Qiang ke Thailand. Di Thailand, selain membantu Jiang Qian mengelola
rumah makan, ia membuka bengkel reparasi mobil. Ia juga terlibat kegiatan balap
liar yang melibatkan organisasi gelap.
Saat
membaca novel Speed and Love, empati saya tumbuh dengan cepat untuk Jin Zhao.
Pada momen tertentu, pengen banget meluk dan bilang ke dia kalau dia sudah
melakukan yang terbaik. Jin Zhao terlihat kuat, tangguh, tapi sesungguhnya ia
sosok yang rentan. Sebelum bertemu kembali dengan Jiang Mu, Jin Zhao tidak
pernah berpikir ulang tentang bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Kayak dia
tuh nggak pernah sungguh-sungguh bisa menjalani hidup untuk dirinya sendiri.
Sejak kecil, Jin Zhao menjalani hidup dengan mode bertahan. He lives in
survival mode. How hard it must be,
carrying it alone. Jin Zhao pernah memiliki mimpi dan harapan tentang
sebuah hidup yang lebih baik, namun berkali-kali hidupnya dibuat babak belur.
He
Yu berhasil menghidupkan karakter Jin
Zhao dengan sangat akurat. Aura dingin Jin Zhao di novel divisualisasikan He Yu
tanpa membuatnya terlihat berlebihan. Menurut hemat saya, Jin Zhao bukan
karakter yang mudah diperankan. Jin Zhao memiliki layer emosi yang tidak
sederhana. Petantang petenteng-nya Jin Zhao bukan tipikal laki dengan aura
dominasi kuat. Bad boy-nya bukan
jenis yang bikin saya menyeringai geli. Semua serba pas. Jin Zhao versi He Yu
mengingatkan saya pada sosok Ling (Vic
Zhou) dari drama Taiwan “Mars”.
Ling pernah menjadi ikon bad boy pada
masanya. Saya, si remaja tanggung kala itu ikut kena peletnya juga wkwk. Saya lagi mikir keras kata atau kalimat
seperti apa yang tepat untuk mendefinisikan visualisasi Jin Zhao di drama. Dia
tuh down to earth (?), saya nggak
tega mau nyebut dia bad boy. Dia
dingin tapi nggak kasar ke orang-orang kecuali orang tertentu aja. Karakter yang nginjek tanah, sisi rapuhnya kuat tersirat dari sorot matanya. Aura
charming-nya memancar kuat. Saya nggak suka peran laki di drama yang dibawakan
dengan mode trying so hard karena jatohnya
lebay. He Yu dengan Jin Zhao-nya nggak seperti itu. Karakter yang
manusiawi. Postur tubuh, garis wajah dan sorot mata mendukung banget He Yu menjadi Jin Zhao yang sempurna. He is the perfect fit for this character.
You can’t tell me otherwise.
Menyoal
perkembangan karakter Jin Zhao before and
after kecelakaan, banyak banget komentar yang menyalahkan Jin Chou. Nggak
mau komunikasi lah, jahat ke Mumu lah, banyak banget. Dan ini bikin saya mikir,
orang-orang nontonnya pada paham karakter
Jin Chou nggak sih? Atau orang-orang hanya focus pada romance dan melupakan
akar kehidupan Jin Chou? Orang-orang melupakan aspek paling penting dari sebuah
karakter, tentang sebab-akibat yang membuatnya bisa memiliki perkembangan
karakter masuk akal dan logis?
Saya
justru bersyukur banget penulis scenario tidak merusak karakter Jin Zhao di
drama. Nyawa karakter-nya di novel
tetap dipertahankan di drama. Visualisasi He Yu menambah kecintaan saya pada
Jin Zhao.
Kenapa
Jin Zhao nggak jujur ke Mumu soal kondisinya? Komunikasi, Jin Zhao. Komunikasi!
Itu
yang orang-orang bilang. Gara-gara ini, imej Jin Zhao yang di episode-episode
sebelum kecelakaan bagus banget komunikasinya ke Mumu, mendadak terlihat cacat dan jelek karakternya di mata
sebagian orang. Yang dilupakan orang adalah, perkembangan psikologis Jin Zhao
setelah mengalami kecelakaan. Ditambah situasi pelik yang sedang dihadapi
Mumu—ibunya sakit. Jin Zhao bukan orang yang egois dan nggak punya hati.
Terlepas dari semuanya, ia hanya ingin Mumu bahagia. Mumu masih muda, bersama
Jin Zhao hanya akan menyulitkan keadaaan Mumu. Mumu anaknya keras kepala dan
nekat. Lihat saja dia yang tanpa ragu memilih ke Thailand daripada mengikuti
ibunya ke Kanada. Saya bisa memahami dengan logis mengapa Jin Zhao memilih menyembunyikan
keadaannya. Waktu baca novelnya juga saya nggak marah ke Jin Zhao, karena di
antara pilihan sulit, melepaskan Mumu adalah tindakan yang dinilainya bijak
pada situasi pelik yang sedang mereka hadapi. Ini benar noble idiocy. I hate
noble idiocy but not for this one. Alasannya? Saya bisa memahami ‘mengapa’ nya
Jin Zhao. Orang-orang lupa, pasca kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya,
Jin Zhao sedang berada dalam trauma dan survival mode, oleh sebab itu,
keputusan yang diambil tidak sepenuhnya rasional. Meminta orang berkomunikasi
dengan realistis di saat seperti itu rasanya terlalu kejam. Secara moral, Jin Zhao
tidak jahat kepada Mumu. Keputusannya melepas Mumu bisa dipahami dari sisi
psikologis meski tetap keliru secara relasional. Di sinilah letak
tragedinya—setelahnya, titik ini justru menjadi titik balik perkembangan
karakter ini.
Jin
Zhao melihat dan menemani Mumu bertumbuh. Si bayi premature sakit-sakitan yang
bolak-balik rumah sakit. Kebayang nggak besarnya rasa sayang Jin Zhao ke Mumu?
Dengan rasa sayang sebesar itu, apakah Jin Zhao akan tega menahan Mumu di
sisinya? Beban psikologisnya terlalu berat. Kok orang-orang bisa tega ya
menuduh Jin Zhao jahat? Minimal bersimpati dikit aja.
Dengan
Jin Zhao tidak memberitahu Mumu mengenai kondisinya, sebenarnya itu adalah
bentuk komunikasi itu sendiri. Menilik latar belakang kehidupan Jin Zhao dengan
survival mode nya itu, yang sejak kecil selalu merasa sebagai outsider,
tertolak, saya tidak heran jika pada akhirnya ia memilih menyingkir dari hidup Mumu.
Ada bagian di novel yang bikin nyesek, yakni saat diceritakan bagaimana
hubungan Jin Zhao dan ibunya Mumu. Sampai usia 5-6 tahun, Jin Zhao tidak pernah
memanggil ibu kepada ibunya Mumu. Setelah Mumu lahir, Jin Zhao berusaha sebaik
mungkin untuk menyayangi Mumu Jin Zhao menyaksikan Mumu menjadi pusat kehidupan
ibunya. Ia berpikir jika ia melakukan itu dengan baik, maka ibunya Mumu akan
menyayanginya juga. Potek banget ini hati. Keliatannya aja Jin Zhao garang,
tapi hatinya berkali-kali retak oleh banyak hal.
Ada
juga yang komentar yang lebih suka Jin Zhao versi anak bengkel daripada versi
pekerja kantoran—nggak apa-apa sih, tapi kalau sampai menyebut ceritanya jadi
nggak menarik lagi hanya karena karakter ini menjalani perkembangan karakter
dengan semestinya. Duh.
Saya
menyukai dua-duanya. Karena dua timeline ini menunjukkan adanya perkembangan
karakter yang konsisten dari Jin Zhao. Ini menunjukkan ketidaksempurnaan
karakter Jin Zhao, he is human, after
all. Saya suka banget penampilan dan
acting He Yu yang juga sangat mendukung
perbedaan detail Jin Zhao. Jin Zhao versi bengkel dan Jin Zhao versi
pekerja kantoran seperti berasal dari dunia yang berbeda. Yang satu terlihat
fearless—khas anak muda berdarah ‘panas’,
sedang yang satunya terlihat begitu rapuh. Sorot mata Jin Zhao setelah
kecelakaan seperti dipenuhi kesedihan mendalam. Baru setelah bertemu Mumu,
berinteraksi kembali dan akhirnya memutuskan rujuk, sorot mata itu berubah. Matanya kembali dipenuhi semangat
dan pendar-pendar bahagia. Fragmen-fragmen Jin Zhou muda yang pernah hilang,
muncul kembali.
He
Yu berhasil melakukannya. Aktingnya bagus banget. Saya ngerasa amaze melihat
perbedaan Jin Zhao sebelum dan setelah kecelakaan. Semuanya berubah. Jempol
banget divisi make up nya. Jin Zhao dibuat beneran kayak orang sakit. Akting He
Yu keren. Cara dia memisahkan dua time line hidup Jin Zhao sangat akurat. Dia
nih termasuk aktor yang bisa nangis dan tetap bisa terlihat tampan. Aktingnya
kian terlihat mature. Ini juga turut
memastikan bahwa He Yu mengenal dengan baik karakter yang diperankannya.
Mau
tau bagian terbaik dari perkembangan karakter Jin Zhao? Dia berhenti minum
alcohol dan berhenti ngerokok! KEREN BANGET NIH LAKI. MAU SATU YA ALLAAAAAH
TOLONG….
Untuk
ukuran idol drama, XinXin dan He Yu sudah melakukan pekerjaan yang bagus banget
sebagai actor. Happy banget tim produksi menggunakan suara asli He Yu, ini
ngebantu penonton supaya nggak terdistraksi oleh dubbing yang cocok.
*
Selain
mendapuk Esther Yu dan He Yu sebagai pemeran utamanya, Speed and Love juga
diramaikan oleh kehadiran actor pendukung lainnya seperti Fei Qi Ming yang memerankan San Lai, salah satu tokoh penting yang
menjadi jembatan hubungan Mumu dan
Jin Zhao. Keberadaan San Lai di drama sesuai dengan cerita di novelnya. Lalu
ada Mike Angelo sebagai Lin Sui,
tokoh ini tidak ada di novel namun hadir di drama.
Character development tokoh-tokoh
di Speed and Love menurut saya sangat bagus, terutama tokoh utamanya. Mereka
bertumbuh dan berproses. Jin Zhao dan Mumu bukan tokoh cerita yang flawless.
Mereka memiliki rupa-rupa emosi yang membentuk karakter mereka. Bagian paling
menyenangkan dari dua karakter ini adalah mereka menunjukkan sisi manusiawi.
Mumu yang straightforward, selalu mengutarakan apa yang ada di pikirannya,
pro-aktif dalam hubungan, mampu memberi batasan pada dirinya sendiri. Saya
melihat Mumu sebagai tipikal perempuan yang akan berjuang pantang menyerah demi
apa pun yang dipercayainya hingga ia tiba di titik akhir yang membuatnya sadar
bahwa ia sudah cukup melakukannya. Ini yang bikin saya menyukai Mumu.
Begitu
pula dengan Jin Zhao. Jin Zhao menunjukkan perkembangan karakter yang solid.
“All
these years, I thought silence and absence were protection and sacrifice. But,
year after year, day after day, in every day of my absence, you stubbornly
waited. Thank you for staying with me all along, helping mi understand that
true love isn’t self-righteous sacrifice, but two hearts, defying wind and rain
together, resisting a broken life. I understand now. True courage isn’t
charging into battle alone. It’s allowing oneself to become a wound that’s
tenderly guarded.” –Jin
Zhao
Jin
Zhao menyadari kesalahannya pada Mumu, melakukan refleksi dan berusaha menjadi
versi terbaik dirinya. Bahwa cinta sejati bukan pengorbanan sepihak, tetapi
tentang dua hati yang memilih bersama dan bertahan menghadapi semua kesulitan.
Indeed, this drama feautures
beautiful characters.
Point
penting lainnya, Speed and Love benar-benar hanya
focus pada kisah Jin Zhao dan Mumu. Nggak ada penambahan side story atau
side couple yang biasa ditemukan pada idol
drama. Jarang loh nonton romance drama mainland
yang couple-nya cuma satu. Biasanya segambreng wkwk. Karena couple Speed and
Love cuma satu aja, penonton bisa focus dan nggak kena distraksi.
Menyoal
karakter, saya bisa mengatakan Speed and Love memiliki kedalaman karakterisasi
pada tokoh-tokohnya yang konsisten. Sesuatu yang tidak banyak saya temukan pada
drama dengan genre yang sama. Mungkin, ini juga yang menjadi alasan mengapa
drama ini mudah saja membuat orang jatuh suka. Saya merujuk ke orang-orang yang
bukan fans main lead—XinXin dan He Yu.
Ya.
Itu saya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hanya penikmat cdrama.
Just a passerby.
@ Cast & Chemistry
I
want to express my gratitude to Esther Yu and He Yu for their hard work. Thanks
to their undeniable chemistry, Speed and Love has been warmly received
worldwide.
Sebelum
drama ini tayang, saya beberapa kali membaca twit yang menyiratkan bahwa
hubungan He Yu dan XinXin nggak bagus. Saya inget banget pernah ada videonya
XinXin yang lagi syuting Thai Sweet di Thailand, trus yang punya twit mengindikasikan
(dari bunyi twitnya) He Yu melarikan diri
dari proses syuting. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya kok bisa dia
ngasih pernyataan seperti itu, jadi kesannya He Yu nggak suka XinXin, dan
mereka punya hubungan yang nggak baik.
Begitu
Speed and Love tayang. Promosi dimulai. Video belakang layar dirilis
menunjukkan keakraban XinXin dan He Yu. Di situlah saya mulai curiga. Ada
sesuatu yang tidak benar. Mana ada itu hubungan tidak baik. Yang terlihat
justru sebaliknya. He Yu sangat amat menghargai XinXin. He plays off her very well. He can keep up with her. He matches her
energy perfectly. Dan itu nggak keliatan kayak terpaksa. He Yu menikmati
waktunya bersama XinXin. Begitu pula sebaliknya. Makin yakin statement sebelumnya
nggak benar setelah saya menonton He Yu dan XinXin beberapa kali live bersama.
Asik bener tuh anak berdua. Udah kayak bestie, akrab banget. Selera humornya
cocok. Nggak bohong, chemistry dua orang ini bagus banget on dan off screen.
Selayaknya temen akrab. Nggak ada jaim-jaimnya.
Baru
kali ini saya nonton dramanya XinXin sampe ikutan nonton video-video promo.
Sayang banget untuk dilewati. Lucu dan menggemaskan banget XinXin dan He Yu.
Interaksi yang bikin nangih. Saya nggak nge ship mereka ya, tapi dukung penuh
sebagai kawan ikrib yang moga-moga aja nanti bisa reunion lagi. Plis banget
fans He Yu dan XinXin, mohon kerjasamanya.
Oke,
cukup untuk omongin off screen-nya. Sekarang kita bahas chemistry mereka di
drama sebagai Jiang Mu dan Jin Zhao.
Adalah
tatapan Jin Zhao ke Mumu pertama kali yang membuat saya menetap dengan yakin di drama ini. Ketika membaca novel Speed and
Love, saya membayangkan adegan demi adegan Jin Zhao dan Mumu. Yang awalnya
awkward, kikuk—maklum baru pertama kali ketemu semenjak mereka terlepas dari
dunia kanak-kanak. Masa-masa cegil-nya
Mumu di novel bikin deg-degan, ini anak nggak ada takut-takutnya sama Jin Zhao.
Respon Jin Zhao yang ikut plays along bikin saya menggila. Nah, bayangan saya terhadap adegan-adegan tersebut
divisualisasikan dengan sempurna oleh
XinXin dan He Yu di drama. Apa nggak tambah nge reog saya tiap kali melihat Jin
Zhao menatap Mumu? Melihat setiap gestur Jin Zhao ke Mumu yang gentle dan full
of tenderness—ME WHEN???????? /korban tatapan Jin Zhao yang masih single yuk
kita nangis berjamaah/
Jin
Zhao kalau natap Mumu tuh berasa banget sayangnya. Terlalu intens, bikin yang
nonton ikutan salting. Trus pas udah pacaran, tiap natap Mumu, takut banget dia
nerkam Mumu. Merinding ih. He Yu gilak, penonton ikutan gilak. ARRRGGGHHHHH.
Di
mata He Yu eh maap—Jin Zhao, dunianya hanya berputar mengelilingi Mumu. Mau se
cegil appun, se absurd gimana pun Mumu, diturutin semua. Di awal-awal pertemuan
mereka di novel, Jin Zhao lebih berasa dinginnya ke Mumu. Di drama lebih soft
dia tuh.
Dari
semua drama XinXin yang saya pernah nonton, chemistry dengan He Yu ini yang
paling bikin hati saya gonjang ganjing nggak karuan.
Membicarakan
chemistry di drama, kita nggak bisa
memungkiri, chemistry memikat dua
tokoh tercipta karena adanya kerjasama yang baik dari dua actor yang
bersangkutan. Dan chemistry yang oke,
menurut hemat saya, adalah yang bisa bikin penonton percaya kalau mereka lagi
nggak acting saking naturalnya. Yang modelan kayak gini di mainland buanyak
banget. Makin bikin baper ngeliat mode promosinya yang pake metode fry
couple—WAH. Yang belum terbiasa bakalan babak belur itu hati wkwk. Level
professional mereka tuh luar biasa.
Saya
suka banget chemistry XinXin dan He Yu di Speed and Love. Nggak ada promosi di
acara-acara tapi sanggup menarik perhatian hanya berbekal materi yang banyak
disponsori XinXin sendiri. Dengan kekuatan acting masing-masing, keduanya
bertransformasi dan beresonansi satu sama lain sebagai Jiang Mu dan Jin Zhao.
Ini kalo nggak ada sikap kooperatif dan kemauan bekerja sama, enggak akan
se-gacor itu chemistry-nya. Setelah
menonton video belakang layar, nggak heran chemistry
nya bisa bagus begitu. Ternyata XinXin dan He Yu se-frekuensi—retjeh-nya.
XinXin nggak dibiarkan berusaha sendirian. He Yu bisa mengimbangi. Energy
mereka cocok banget. Yang satu cewek banget tingkahnya (MENOLAK KALAU ADA YANG
NYEBUT XINXIN PICK ME GIRL, GW TABOK LO), yang satu laki banget (he is not trying so hard) dan ketika
mereka ketemu lalu berinteraksi malah cocok. Di mata He Yu, tingkah XinXin
nggak aneh, dia bisa mengimbangi. He Yu bahkan nggak canggung atau enggan
bertingkah kiyut atau manis—asal XinXin yang minta atau nyuruh HAHAHAHAHA. He
is effortlessly funny. Asbun-nya asbun banget. Celetukannya lucu. Tek tok-an
dua orang ini bikin suasana hidup. Nggak heran di acara live XinXin bilang pada
pertemuan pertama mereka, ia merasa seperti sudah mengenal He Yu sepuluh tahun
lamanya. He Yu yang ngaku mereka nggak ada jaim-jaimnya. Begitu ketemu,
ngobrol, saling tukar kontak. Nggak ada canggung-canggungnya. Asik banget
kaaan?
Nggak
ada chemistry yang bisa dibangun sendirian.
Storytelling
naskah yang oke, diperankan actor
yang punya kemampuan acting dan mampu membangun kerjasama yang baik—itulah apa
yang kita lihat dan rasakan di Speed and Love. Nggak cuma main lead-nya aja.
Dengan supporting cast pun demikian. He Yu dan XinXin sebagai Jin Zhao dan Mumu
mampu menjalin chemistry yang bagus
dengan pemeran lainnya. Dramanya bikin penonton enjoy.
Interaksi
antarkarakter juga bagus. Dinamis. Speed and Love memiliki selera humor yang
nggak garing. Bisa-bisanya ada parody Goblin ikutan nyempil HAHAHAHA.
@ OST & Sinematografi
Sinematografi
membantu penyampaian storytelling di drama. Ketepatan sudut dan pergerakan
kamera, pencahayaan hingga pemilihan color dan tone bisa sangat membantu
visualisasi cerita.
Warm and nostalgic.
Color
dan tone Speed and Love menyiratkan kesan hangat yang dipenuhi nuansa
nostalgia, sepadan dengan tema yang dibawa drama ini. Ketika sudut kamera focus
pada Jin Zhao—di paruh pertama—pemilihan tone warna gelap begitu mencolok. Ada
kesan muram sekaligus tajam. Director-nya pinter banget menangkap rupa-rupa
emosi di wajah Jin Zhao. Acting He Yu dan angle kamera berhasil dikawinkan dengan baik sehingga meski
tanpa dialog bertele-tele, penonton mampu membaca
apa yang sedang dirasakan Jin Zhao, konflik batin apa yang sedang
bergejolak di bilik dadanya.
Sudut
pengambilan kamera sangat banyak membantu menjaga mood setiap adegan khususnya adegan yang menuntut kepekatan emosi
yang dalam, misalnya adegan melankolik. Hayo ngaku, siapa di sini yang panas
dingin setiap kali Jin Zhao dan Mumu terlibat interaksi intens dan intim?
Fokus kamera nggak mengecewakan ya HAHAHAHA. Sayang sekali banyak banget yang
kena cut karena nggak lulus sensor.
Sinematografi
Speed and Love mendukung narasi cerita drama ini.
Pemilihan
OST sebagai latar belakang adegan juga sudah cukup baik, melodi dan liriknya
sesuai dengan adegan yang ditampilkan. OST-nya enak-enak di kuping. Favorit
saya Away-nya R.E.D. Kayaknya yang lumayan bikin kesel adalah tampilan
terjemahan lirik lagu di layar yang seperti berkejaran dengan subtitle drama.
Ini salah satu angle favorit saya :
@ Ending
Pada
banyak menuntut episode 30 ya?
Jadi
begini, drama ini seharusnya memang berjumlah 30 episode, andai tidak banyak
adegan yang di-cut. Alasan kenapa di-cut bisa bermacam-macam tetapi yang paling
sering terjadi adalah adegan tersebut tidak lulus sensor.
Ending
novelnya romantic banget. Jin Zhao melamar Mumu di atas balon
udara—terinspirasi dari film Up.
Narasi
penutup novelnya di chapter 78 :
On the first day of the New Year, Jiang Mu gained a new
identity, taking her husband’s surname—Jin Mu.
Heartwarming
banget.
Tapi
di drama, adegan itu tidak ada. Adegan pernikahan Jin Zhao-Mumu malah tidak
diperlihatkan, padahal reuters nya sudah banyak bertebaran. Ini sih yang bikin
kesal. Warga Mischievous Trackers kan
pengen hadir di nikahannya orangtua mereka.
Drama
China khususnya yang romance emang suka gitu deh. Episode terakhirnya bikin
kecewa. Berasa antiklimaks. Kita yang nonton langsung melongo dan bergumam, hah gitu doing? Udahan? PRET. Build up
ekspektasi kita nggak memenuhi klimaksnya.
Tapi,
sudahlah. Jin Zhao dan Mumu sudah menemui akhir yang bahagia. Itu cukup.
@ Cerita Tentang Matahari dan
Bulan
Zhao/Zhao—dawn,
the sun.
Mu—dusk,
the moon.
*
“Zhao as the sun, Mu as
the moon—sun and moon alternating, never to meet again.” –Jin Zhao, chapter 71
“Zhao
adalah matahari, Mu adalah bulan—matahari dan bulan silih berganti, ditakdirkan
tak pernah berjumpa kembali.”
Jawaban
Mumu atas perasaan Jin Zhao di chapter 72 :
“At this time every year, the orbital cycles of Earth shift,
allowing both the sun and the moon around to appear simultaneously on the
horizon. This creates the natural phenomenon known as ‘sun and moon shining
together.’
Even the alternation of the sun and moon—a law of nature—is not
absolute, let alone human beings.
Do you know what this is called?
Zhao is the sun, Mu is the Moon. Sun and moon shining
together—day after day, night after night.”
Trans :
“Pada
saat seperti ini, setiap tahun, orbit Bumi bergeser perlahan, sehingga matahari
dan bulan dapat hadir bersamaan di ufuk langit. Dari sanalah lahir sebuah
peristiwa alam yang disebut ‘matahari dan bulan bersinar bersama’. Bahkan
pergiliran matahari dan bulan—hukum alam yang abadi—ternyata tak sepenuhnya
mutlak, apatah lagi nasib manusia.
Apakah
kamu tahu nama peristiwa ini?
Zhao
adalah matahari, Mu adalah bulan. Matahari dan bulan bersinar bersama—hari demi
hari, malam demi malam.”
*
Suka
banget percakapan Mumu dan Jin Zhao di bagian ini. Maknanya dalam. Dialog ini memiliki benang merah
dengan dialog Jin Zhao-Mumu yang membahas kehidupan pernikahan Jin Qiang dan
Jiang Yinghan. Jin Zhao bilang nggak ada pernikahan yang nggak bahagia—yang ada
adalah pasangan yang tidak bahagia. Bukan pernikahan yang mendatangkan
malapetaka. Selama dua orang bersungguh-sungguh saling mencintai, semua
kesulitan bisa di atasi. Asal ada kemauan, akan selalu ada jalan.
Nah,
setelah kecelakaan, Jin Zhao kehilangan kepercayaan diri untuk mencintai Mumu,
maka ia memilih melepaskan. Seperti matahari dan bulan yang tidak bisa muncul
secara bersamaan, mereka ditakdirkan berpisah. Mumu berhasil mematahkan itu.
Secara teori matahari dan bulan memang mungkin
muncul bersamaan. Namun, ada fenomena langka yang memungkinkan kemunculan
mereka secara bersamaan yakni di sekitar fase bulan baru atau selama gerhana,
terutama pada saat terbit fajar atau senja hari. Kemungkinan selalu ada.
Selama dua orang bersungguh-sungguh saling mencintai—
Jin
Zhao beruntung memiliki Jiang Mu.
Karena
Jin Zhao mampu mencintai diam-diam,
dari kejauhan. Sedang Mumu, tidak. Mumu nggak bisa mencintai diam-diam.
Perempuan model straightforward begini…
ya bakal dipepetin terus. Dan yakin saya, Mumu paham batasan-batasan yang mampu
melindungi dirinya sendiri. Dia tau kapan harus berjuang, kapan harus berhenti.
I love her so much. My confident girl.
Giliran
udah bareng aja, malah Jin Zhao yang gragas, mode rem blong. Dasar laki, dih.
Mana cemburuan lagi. HAHAHAHA.
Siapa
yang nggak jatuh suka pada kisah cinta Jiang Mu dan Jin Zhao?
Kita
menyaksikan mereka saling menemukan satu sama lain pada kedalaman perasaan
masing-masing. Kalau nggak ada Mumu, kebayang Jin Zhao akan seperti apa
menjalani kehidupannya. Suram, dingin, sulit
didekati, monoton. Pasca kecelakaan, berbekal harapan bertemu Mumu kembali
menjadi satu-satunya penyemangat Jin Zhao merumuskan dan menata kembali
hidupnya dari nol besar. Sayang Jin Zhao dan Mumu banyak-banyak. Jeda
perpisahan tidak membuat mereka hancur, sebaliknya, keinginan menjadi versi
terbaik diri sendiri memenuhi hari-hari mereka.
Saya
menyukai bagaimana mereka nggak denial terhadap perasaan masing-masing setelah
bertemu kembali. Jin Zhao tidak lagi melihat Mumu sebagai anak kecil yang
selalu butuh princess treatment-nya, karena alasan inilah ia berani
memperlihatkan rekam medis kesehatannya kepada Mumu. Akhirnya ada mutual
understanding dari kedua belah pihak. Jin Zhao percaya Mumu akan menerima
dirinya apa adanya, Mumu percaya sepenuh hati Jin Zhao masih sangat amat
mencintainya.
Jin
Zhao menjadi salah satu karakter pria fiksi favorit saya ya karena dia
terang-terangan menampakkan sisi nggak berdayanya tanpa niat meromantisasi
apa-apa yang dialaminya. Untung di drama, Jin Zhao ditampilkan sedikit lebih lembut, di novel angst-nya lebih nyiksa
lagi.
Karena
ini hanya drama, hubungan Jin Zhao
dan Mumu terasa romantic dan manis. Tapi coba dibayangkan di dunia nyata.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Fei Qi Ming saat live bersama He Yu, XinXin
dan Mike beberapa hari lalu. Mumu dan Jin Zhao beruntung masih bisa bersama
kembali setelah ditimpa masalah berat, di kehidupan nyata, kehilangan timing dalam sebuah hubungan bisa
berakhir dengan penyesalan yang dibawa seumur hidup—dua orang yang saling
menyayangi bisa saling melewatkan.
Betapa
saya ingin mencintai dengan berani seperti Mumu kepada Jin Zhao. Dan mungkin
suatu saat, kita pun akan dipertemukan dengan seseorang yang bisa mencintai
kita seperti Jin Zhao mencintai Mumu.
Speed
and Love termasuk drama China yang paling buanyaaak adegan ki**ing-nya, dan itu
nggak bikin ilang feeling. Eksekusinya nggak terlihat vulgar. Udah diusahakan
semampunya agar bisa lulus sensor kali ya, di novel beugh… takut. Saya nggak
bilang chemistry XinXin dan He Yu bagus karena didukung adegan itunya yang
banyak, nggak ya. Tanpa itu juga chemistry mereka udah bagus banget.
*
Membandingkan Speed and Love dengan drama-drama berbeda genre, sangatlah tidak tepat. Sebagai penonton, bagus atau tidak satu drama tergantung pada selera masing-masing. Drama ini, bagi beberapa penonton, mungkin tidak sesuai dengan standar drama bagus versi mereka, tetapi tidak bisa dipungkiri, bagi sebagian lainnya, drama ini mampu menarik keluar mereka drama slump—iya, itu saya.
Pada
akhirnya, sebagai penonton, saya hanya akan menonton drama yang saat itu cocok
dengan mood. Persoalan bagus atau
tidak, itu tidak akan memengaruhi saya untuk terus menyukai drama tersebut.
Hari-hari belakangan ini, orang-orang begitu sibuk memberi label pada sesuatu
hingga lupa menikmati kesederhanaan dari nikmatnya rasa bahagia yang muncul
karena hal-hal kecil. Menemukan
tontonan yang membikin semangat menunggu pergantian hari, misalnya. Kita
seringkali terlalu focus pada sesuatu yang artifisial.
Jika
saya ditanya apa yang membuat saya menyukai Speed and Love? Ini jawaban singkat
saya, “chemistry Esther Yu dan He Yu yang
berhasil menghidupkan cerita Jiang Mu dan Jin Zhao.”
Speed
and Love merupakan idol drama yang
memiliki kedalaman karakter tokoh dengan cerita yang cukup solid serta
perkembangan karakter yang hidup. Speed and Love worth it kok ditonton.
Special
thanks to Esther Yu. Her commitment and
hard work deserve sincere appreciation. Banyak materi promosi Speed and
Love berasal dari kamera pribadi XinXin. Mengingat apa yang dialaminya pada
periode syuting drama ini membuat dada nyeri. He Yu sendiri memuji XinXin dengan
terang-terangan. Work ethic XinXin sangat baik. Ia layak mendapatkan kredit
atas popularitas Speed and Love.
{{{
Dan
tibalah saya di bagian akhir. Saya sengaja menulis ini paling terakhir. Apa
yang saya tulis berikut ini merupakan uneg-uneg yang sudah menumpuk dan
akhirnya mencapai puncaknya selama menonton Speed and Love. Bisa dibilang ini
akumulasi emosi yang bersumber dari hal-hal tidak menyenangkan yang saya temui dan rasakan selama mengikuti drama
mainland, yang memunculkan ketidaknyamanan dan berakhir membuat saya melakukan
refleksi.
Bear with me while I explain.
Online
harrasment, cyberbullying.
Lama
berkecimpung di kdramaland, lalu mencicipi konten drama dari mainland hingga
akhirnya saya lebih nyaman menonton drama-drama produksi tirai bamboo tersebut,
sedikit banyaknya telah membuat saya mengenal kultur dunia entertainment di
sana.
Saya
tidak pernah benar-benar masuk dan
melibatkan diri, nggak ikut gabung fandom ini-itu. Cuman sebatas nonton drama
yang saya suka, suka aktris/actor yang main di drama itu. Saya berlaku
seawajarnya aja. Nggak berbeda jauh ketika saya focus di kdrama—I’m just a regular viewer. Belajar
sedikit-sedikit bagaimana C-ent berjalan.
Saya
menyadari K-ent dan C-ent sangat berbeda. Kamu yang baru nyemplung di C-ent
setelah sebelumnya akrab dengan K-ent, jangan sekali-sekali menganggapnya tidak
berbeda dan membawa kebiasaanmu di K-ent ke C-ent. No. Kultur C-ent itu memiliki
ciri khasnya sendiri.
Sebelum
Speed and Love tayang, saya nggak begitu memedulikan online harassment dan cyberbullying
terhadap artis tertentu. Respon saya cenderung biasa aja, nggak mau ikut
campur, sekadar tau fans artis siapa yang membully dan di-bully. Dan berlalu
begitu saja. Saya cukup tau artis mana aja yang kerap menjadi bulan-bulanan.
Saya tidak mau menjadi bagian dari kegaduhan tersebut. Sayang energy.
Lalu
Speed and Love tayang, saya membaca ketikan-ketikan jahat menyasar Esther Yu. It hit me hard. At that time, I realized
that online harassment and cyberbullying are a serious problem. Bagian tersedihnya,
pada banyak kejadian, yang paling banyak menjadi korban adalah artis perempuan,
dan pembuli-nya adalah kebanyakan
kaum perempuan juga. JUST WHY?? How could
someone behave like this?
Pertanyaan
yang muncul kemudian, bagaimana ini bisa terjadi?
Kultur. Itu.
Kultur
C-ent dan fans.
Dua
hal ini saling saling berkaitan. Kultur C-ent memiliki andil pada pembentukan
kultur fans/fandom. Begitu juga sebaliknya. Pengaruhnya berjalan dua arah.
Strategi industry dan media memiliki kemampuan membentuk fandom. Di saat
bersamaan, fandom juga memberikan pengaruh pada perubahan trend. Industri
hiburan bisa mengubah konsep demi mengikuti selera fandom. Pada banyak kasus,
tekanan fans bisa menjatuhkan atau mengangkat figure tertentu. Ini situasi yang
rentan. Fans China terkenal sangat militant, kompetitif dan terorganisir.
Loyalitasnya luar biasa. Fandom yang menganut paham idola sebagai role-model, dipicu ketatnya persaingan antar idola
bisa melahirkan fanwar. Online harassment dan cyberbullying menjadi dua hal
yang biasa terjadi pada artis
tertentu.
Kesadaran
mengumpul cepat di kepala saya.
Fanwar
bukan bukan sekadar konflik antar penggemar, melainkan fenomena social yang
dibentuk oleh kultur entertainment dan ekosistemn digital. Nyadar nggak sih
kalau emosi kita sedang dimainkan? Sistem popularitas (chart, voting,
trending), industry yang mendorong kompetisi antar artis, media dan algortma
yang memperbesar konflik—itu semua digerakkan oleh perasaan sayang dan cinta
fans kepada artis. Dunia entertainment tidak pernah netral, ia ikut membentuk
perilaku fans.
Perkara
first billing aja bisa fans berantem
parah. 一番
(yī fān) →
first billing / top billing merupakam urutan nama paling atas dalam kredit
drama/film yang menandakan status, popularitas, dan posisi paling dominan dalam
sebuah project. Di C-ent, first billing bukan sekadar urutan nama tetapi symbol
kekuatan komersial yang menentukan bayaran, porsi screen itme dan posisi dalam
promosi. Status ini berkaitan langsung dengan reputasi dan karier. Pendeknya,
siapa yang menjadi first billing dianggap
sebagai bintang utama di pryek tersebut. Posisi first billing kerap menimbulkan
konflik karena ada fans yang berpikir jika idolanya bukan first billing berarti
dia diremehkan. Belum lagi soal traffic siapa yang paling tinggi. Emang gila
banget sih persaingan di sana. Bisa survive di kultur yang sedemikian
mendewakan popularitas aja udah Alhamdulillah.
Esther
Yu, Zhao Lusi, Dilraba, dan masih banyak nama lainnya yang kerap menjadi objek
bullying. I can see the pattern.
Untuk tujuan popularitas, menjatuhkan artis lain dengan berbagai cara sudah
menjadi sesuatu yang biasa terjadi.
Sedih.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apakah yang beredar di dunia maya itu adalah
kebenaran yang mutlak.
Pasca
kejadian bullying terhadap XinXin selama penayangan Speed and Love, saya
melakukan refleksi diri yang runut. Setelah ini, saya akan lebih berhati-hati
lagi berselancar di dunia maya. Apa yang saya baca tidak selalu berarti kebenaran.
Boleh jadi itu hanya opini yang berjalan dari
satu kepala ke kepala lain hingga terdengar benar dan dianggap kebenaran. Apa yang
saya lihat pada secuil video sekian menit/detik, yang menangkap kejadian
tertentu, tidak boleh saya jadikan bahan untuk dianalisis sedemikian rupa agar
cocok dengan isi kepala saya.
Dunia
entertainment itu punya banyak layer. Orang-orang yang muncul di layar itu,
tidak berbeda dengan saya. Mereka juga manusia biasa yang sedang menjalani
hidup, bekerja, berproses menjadi apa yang mereka anggap layak, cocok untuk
hidup mereka.
Maka
saya, sebagai penikmat dunia ent, harus mampu menentukan batasan-batasan bagi
diri saya untuk menjaga agar saya tidak berubah menjadi manusia toxic, yang dengan
mudah menggunakan jari-jarinya membunuh karakter seseorang demi memuaskan diri.
Pembelaan sedemikian rupa itu
untuk apa sih? At the end of the day, we are just ordinary people trying to
survive.
Shipper vs Solo stan
That
never ending saga…
Fanwar
yang terjadi antara shipper dan solo stan mengakibatkan menjauhnya dua figure artis.
Memupuskan harapan suatu saat bisa melihat mereka di satu project lain. Ini
yang saya kuatirkan menimpa XinXin dan He Yu. Udah mulai keliatan sih, orang
yang belum move on—menuju toxic behavior, solo stan, shipper terseret ke mode
saling sikut di media social.
Padahal
seru loh melihat interaksi XinXin dan He Yu di belakang layar. Saya nggak nge
ship mereka ya. Sebatas suka tek tokan mereka yang asik. Masa sih temen seakrab
ini harus jadi tumbal fans toxic? Sayang banget. Masih pengen liat mereka main
drama lagi.
Yang
baru nyemplung di C-ent saya kasih tau ya, gonta-ganti pasangan dalam project
drama pada waktu dekat udah biasa di C-ent. Drama baru kelar tayang, tiba-tiba
udah syuting drama baru dengan artis lain, ITU UDAH BIASA. Bahkan masih ada
bejibun drama mereka yang belum tayang. Kalau kamu serius mau ngikutin C-ent,
coba mulai belajar menguatkan hati. Arusnya deras banget di sini. Hati-hati hanyut. Kurang-kurangin deh kebiasaan
over analyzing-nya.
Dan
overprotecting behavior bisa sangat sangat sangat berbahaya dan merusak.
Yang paling ter—
Paling
green flag, paling ini lah itu lah.
CAPEEEEEEEEEK.
Saya
menarik napas panjang membaca twit yang membandingkan Sang Yan dan Jin Zhao.
Serius nih? Ada juga yang memandingkan siapa yang paling ijo antar karakter ini
dan itu. Rasa-rasa ingin jedotin pala ke bantal. Orang-orang pada sibuk banget
ya….
Penting
banget ya? Apa nggak bisa kita nonton aja, jatuh cinta pada banyak karakter
yang membuat hati bahagia berbunga-bunga, menyimpan mereka pada kotak memori
baik tanpa membandingkan satu sama lain? Saya suka Sang Yan, suka Jin Zhao, He
Suye, saya suka laki-laki fiksi yang tau cara memperlakukan perempuan dengan
baik. Saya mudah jatuh hati pada karakter perempuan hebat yang memilih diri
sebelum orang lain. Bukannya bagus ya kalau makin banyak karakter kayak gini di
tanah fiksi? Bukan untuk menggiring kita menjadi delusional, tetapi kian
meluaskan sudut padang kita melihat manusia dan ruang-ruang emosinya?
Apakah
beban hidup kian hari berat, hingga orang-orang mudah tersulut hal-hal kecil?
—jika
sesuatu yang semula menjadi sumber bahagia kita membuat kita berubah menjadi
manusia yang kehilangan moral, menjadi seseorang yang mudah saja melempar
kebencian kepada orang lain (atas nama cinta), maka itu adalah isyarat agar
kita berhenti sejenak dan memikir ulang, layak kah diri kita dipenuhi
emosi-emosi negative semacam itu?
Sehat-sehat
ya semuanya. Saling jaga dan saling menghargai.
Kamu nggak cocok dengan satu tontonan, bukan berarti tontonan tersebut jelek. Kamu bukan satu-satunya penonton. Ada banyak pasang mata yang menemukan senyumnya kembali, menemukan cara bahagia yang sederhana karena menonton drama yang kamu cap jelek itu. Be wise as you live. Sometimes, it feels like we are barely breathing.
















