Showing posts with label Signal. Show all posts
Showing posts with label Signal. Show all posts
Di antara beberapa drama yang saya ikuti di paruh pertama tahun 2016 hanya Signal yang mampu saya tonton tuntas—saya kecualikan Reply 1988 karena drama ini tayang menjelang akhir 2015.
Signal merupakan drama yang ditayangkan tvN hasil kerjasama antara Screen Writer Kim Eun Hee (Sign, Ghost, Three Days) dan Director Kim Won Suk (Misaeng : Incomplete Life). Sejak pertama kali mendengar berita kalau Kim Eun Hee hengkang dari SBS yang telah menayangkan tiga drama besutannya, dan memilih tvN sebagai pihak yang akan menayangkan Signal, saya sedikit pun tidak menyimpan keraguan—Signal akan menjadi salah satu drama yang saya tunggu meski tidak se-antusias ketika saya menunggu Remember-nya Yoo Seung Ho. Saya percaya tvN akan memberikan dukungan sepenuhnya pada Kim Eun Hee dan tidak akan melakukan intervensi pada penulisan naskah. Setidaknya saya selalu merasa puas dan menyukai drama-drama Tante Kim Eun Hee sebelumnya—Sign, Ghost dan Three Days.
Dan Signal berhasil membuktikan bahwa Kim Eun Hee adalah screen writer handal yang bisa kamu percayai karyanya. Dua episode plot meninggalkan kesan yang menjanjikan pada saya. Di saat saya sedang galau gara-gara Reply 1988 tamat, Signal sedikit demi sedikit membantu saya move on. Lucunya, tak ada satu pun pemeran utamanya yang saya merasa familiar dengannya. Sebenarnya bagus sih, jadi saya tidak harus bersikap bias ke salah satu karakter dan hanya perlu fokus pada storyline—hal yang sama saya alami ketika menonton Sign, Ghost dan Three Days.
Di tahun 2015 Profiler Park Hae Young dikejutkan oleh sebuah transmisi melalui walkie-talkie jadul yang tak sengaja ditemukannya di dalam karung berisi sampah sekeluarnya ia dari kantor polisi—sebuah mobil pengangkut barang terparkir tanpa sopir di sana. Transimisi tersebut berhasil menyambungkan Park Hae Young ke tahun 2000, menemui Lee Jae Han, seorang detektif yang sedang bertugas mengusut sebuah kasus anak hilang. Transmisi melalui walke-talkie terus terjadi di antara Park  Hae Young dan Lee Jae Han seiring dengan penyelesaian cold case yang ditangani Tim khusus yang dikepalai Cha Soo Hyun—Park Hae Young masuk dalam tim ini.
Di drama ini, diceritakan—andai tak ada pembatasan kasus kriminal di Korea Selatan, apa yang akan terjadi? Para korban dan keluarga korban masih memiliki harapan untuk mendapatkan keadilan dan para pelaku kriminal yang selama ini hidup tenang tanpa diadili kini seolah terbangun dari tidur panjang.
Cold case terjadi karena para polisi dan detektif menyerah pada satu kasus entah karena kurangnya bukti, saksi mata dan lain-lain—juga bisa karena faktor X, campur tangan orang atas. Di tahun 80-an dan 90-an itu banyak terjadi penutupan kasus karena alasan-alasan yang saya sebutkan di atas, tapi memasuki era modern di mana dunia forensik dan kepolisian semakin maju dan dilengkapi peralatan canggih, cold case bisa dibuka dan dilakukan pengusutan kembali.
Signal dibuka dengan kasus penculikan seorang gadis kecil kecil di tahun 2000 yang mengakibatkan hilangnya detektif Lee Jae Han secara mendadak—ia kemudian dituduh telah meneerima suap dan melarikan diri, lalu berlanjut ke kasus-kasus lainnya, yakni Pembunuhan berantai di Gyeonggi Nambu di tahun 1988, kasus pencurian perumahan mewah yang melibatkan sejumlah petinggi pemerintah di tahun 1995, pembunuhan berantai Hongwon-dong di tahun 1997 dan terakhir kasus pemerkosaan terhadap seorang remaja SMA di Injoo di tahun 1999.
Sedari awal, saya sudah bertanya-tanya kenapa Park Hae Young yang menerima transmisi dari Lee Jae Han? Ada hubungan apa di antara kedua orang ini? Saya pernah beramsumsi bahwa kematian Park Sun Woo—kakak Park Hae Young di tahun 1999 ada kaitannya dengan Lee Jae Han. Dan belakangan perkiraan saya itu terbukti benar. Lee Jae Han termasuk salah satu detektif yang bertanggung jawab pada kasus pemerkosaan siswi di Injoo di tahun 1999. Tak hanya sampai di situ, akibat kesalahan yang sengaja dilakukan kepolisian saat itu, Park Sun Woo harus merelakan dirinya mendekam di penjara anak selama 6 bulan dan pada akhirnya ia ditemukan bunuh diri tak lama setelah keluar dari tahanan. Park Sun Woo adalah benang takdir yang menghubungkan adik tersayangnya, Park Hae Young dan Lee Jae Han.
Tak ada satu pun yang kejadian di dunia ini yang terjadi karena kebetulan. Everything happens for reason. Tahu butterfly effect kan? Mengutip salah satu blurb novel favorit saya, “Kepak sayap kupu-kupu di Kirgiztan bisa menyebabkan badai di Pantura”. Bahwa seluruh penghuni semesta saling berikatan satu sama lain—besar kecil, bergerak dan yang tidak bergerak. Satu kesalahan kecil yang dilakukan Pak Polisi terhormat, bisa menghancurkan hidup seorang anak lelaki kecil yang belum mengerti apa-apa. Ada sebab, ada akibat.
Bagi saya, Signal adalah sebuah kritik menggelitik, tegas tanpa tedeng aling-aling. Untuk kepolisian, untuk pemerintah dan khususnya kita sebagai manusia dalam hidup bersosial. Kim Eun Hee masih menggunakan pattern yang sama seperti drama-drama beliau sebelumnya. Ada pak polisi korup, ada pak polisi yang hatinya lurus, ada oknum-oknum pemerintah yang lupa untuk apa ia sebenarnya dipilih oleh rakyat—yang mestinya bukannya memerintah melainkan mengurus rakyat, lalu ada pula orang-orang kaya yang berlagak bisa membeli seluruh sendi dunia dengan uangnya yang banyak itu, serta tak lupa akan selalu ada masyarat yang sakit entah karena ketakutan terhadap tekanan dari orang-orang di atas atau akibat tuntutan hidup yang kian hari kian bikin napas sesak sehingga rasa-rasanya tak ada pilihan selain menjual diri di hadapan uang. Yang membedakan di Signal dan drama Kim Eun Hee sebelumnya, sebut saja Ghost, tidak ada pengkhianat di Tim khsusus cold case. Lega. Mianhae, Gye Chul Sunbaenim, saya sempat mencurigai Anda.
Ada beberapa wajah yang saya kenal di sini karena sudah pernah melihat mereka bermain di drama Kim Eun Hee lainnya, ada  Pak Presiden baik hati di Three Days tapi di Signal jadi Anggota Kongres Jang yang jahatnya bikin berdecak ngeri, ada juga Ketua Pengawal Presiden di Three Days yang jadi jahat gara-gara kena hasut, kini di Signal si Bapak ini memerankan Kim Beom Joo, Kepala Kepolisian Seoul yang licik, ambisius dan rela melakukan apa saja demi memuluskan langkahnya—termasuk membunuh seorang remaja tak bersalah. Wajah si bapak yang kalau gak salah inget pernah ikut Appa Eodiga MBC ini sudah kadung nempel di benak saya sebagai spesialis pemeran karakter jahat, jadinya bila nanti beliau main drama lagi tanpa dikomando alam bawah sadar saya pasti langsung nyeletuk, “duh, nih orang pasti jahat...”
Signal telah sukses menampar pusat sadar dan titik emosional saya secara telak. Padahal ini bukan drama melankolik, apalagi drama romance. Tapi saya berkali-kali menyusut mata saya yang tanpa saya sadari basah—beberapa kali saya terisak bahkan setelah satu episode selesai saya tonton. Signal adalah drama yang menggunakan dunia kepolisian dan kriminal sebagai latar kisah. Hubungan sebab-akibat yang mengungkungi cerita setiap episodenya bisa membikin kamu terpekur lama dan berpikir soal banyak hal—tentang hidup itu sendiri.
Episode pertama mengenai penculikan seorang gadis kecil, bila saja Park Hae Young kanak-kanak mau membagi payungnya pada gadis kecil di teras depan sekolah di tahun 2000 itu—maka penculikan itu tidak akan pernah terjadi. Dan andaikan ada satu saja dari sekian banyak orang di Hongwon-dong yang menolong Kim Jin Woo kecil dari siksaan ibunya yang mengalami gangguan mental—mungkin, ia bisa tumbuh seperti anak-anak normal seusianya dan tidak menjadi pembunuh berdarah dingin akibat depresi berat yang dialaminya sejak kecil—ketika seorang gadis diam-diam menyukainya, itu sudah sangat terlambat bagi Kim Jin Woo. Tak ada yang pernah mengajarinya tentang perasaan semacam itu. Sesungguhnya dibutuhkan kepedulian terhadap sekitar kita. Jika empati masih terasa berat dilakukan, maka cobalah bersimpati sedikiiit saja. Tak ada yang salah dengan sekadar bertanya, “ada apa?”, “ada yang bisa saya bantu?” atau paling tidak berikan senyum pada orang yang berpapasan dengan kita di jalan—tapi jangan nyengir tar dikira orang baru keluar RSJ. Saya sering ngajak orang yang saya temui di jalan, di angkot, di pasar, di ruang tunggu sebuah rumah sakit, di mana saja. Kadang-kadang saya bahkan sampai menanyakan nama mereka xD
Scene-scene yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya antara lain,
-   Lee Jae Han menonton di bioskop sendirian, di saat orang-orang sekelilingnya tertawa karena film yang mereka tonton, ia malah menangis hebat. Film yang seharusnya ia tonton bersama gadis yang sudah lama ditaksirnya kini pupus karena gadis tersebut termasuk salah satu korban pembunuh berantai Gyeonggi, Nambu 1989. Suer, sedihnya gak ketulungan .
-  Ketika pembunuh berantai Hongwon-dong akhirnya ditangkap, Kepala polisi Kim Beom Joo, menyebut Kim Jin Woo sebagai sampah. Di lain pihak, Park Hae Young merasa terusik. Benarkah Kim Jin Woo yang telah membunuh sebelas perempuan memang pantas disebut sampah? “Ada orang-orang yang memang terlahir sebagai monster, tapi ada juga yang dijadikan monster oleh orang lain.” Ucapan Park Hae Young serta merta mengingatkan saya pada Hello Monster. Jika saja ada seseorang yang mau mengulurkan tangan pada Min, pada Kim Jin Woo.... Kasus Hongwon-dong merupakan salah satu sindiran halus tentang kehidupan sosial masyarakat yang sedang ‘sakit’ .
-  Saat Lee Jae Han diseret keluar dari ruangan Kim Beom Joo, lontaran kalimat berupa sindiran kritis untuk Kim Beom Joo bikin mata saya berair. Saya turut merasakan kesedihan dan rasa frustasi yang dialami Lee Jae Han. Ia hanya ingin menolong Park Sun Woo, remaja belasan tahun yang sudah diperlakukan tidak adil oleh hukum dan perangkatnya hanya karena ia miskin, tak punya orang-orang kuat di belakangnya. Park Sun Woo adalah korban keserakahan orang-orang besar di atas sana. Episode Injoo ini benar-benar menyedihkan. Sungguh. .
-  Menjelang ending episode 12, saat Park Hae Young dan Cha Soo Hyun akhirnya menemukan Lee Jae Han. Saya Speechless dan ikutan nangis . Penantian 15 tahun Cha Soo Hyun akhirnya menemui akhir.
-  Dan tak lupa juga kedekatan Park Hae Young kecil dan kakaknya, Park Sun Woo benar-benar menyentuh. Credit untuk pemeran Park Sun Woo, saya melihat ada potensi bagus pada aktingnya. Wajahnya mengingatkan saya pada Do Kyung Soo.
Seringkali terjadi, sebuah drama bagus, kekurangannya terletak di ending. Bagaimana dengan Signal sendiri? Saya tidak ada masalah dengan ending drama ini—setidaknya saya tidak perlu menyiapkan monolog panjang  untuk melepas Lee Jae Han—pahlawan tanpa tanda jasa di drama ini. Kegigihannya dalam mengusut satu kasus ibarat utopia yang membuat saya bertanya-tanya masih adakah Lee Jae Han lain di dunia nyata? Saya berharap, ada.
Open ending yang dpilih Kim Eun Hee dan Kim Won Suk sama sekali tak mengganggu, menurut saya itu adalah pilihan terbaik dan cukup memuaskan bagi penonton. Lagipula Kim Eun Hee menjanjikan kemungkinan ada Signal Season 2. Saya akan setia menunggu kok—seperti kesetiaan saya menunggu Min Geomsa di Vampire Prosecutor Season 3 . Dan semoga para pemeran di Signal Season 2 nantinya masih memakai komposisi yang sama. Aamiin.
 “Hanya satu yang pasti. Transmisi ini dimulai karena rasa putus asa seseorang. Satu hal yang diajarkan oleh walkie-talkie ini adalah segalanya akan berhasil selama aku berusaha.” –Park Hae Young
Kalimat apa yang paling saya ingat dari Signal?
Jangan menyerah.
Epilog
Apa yang paling memusingkan dari film/drama bertema time traveler? Pertukaran current time dan masa lalu. Jika kamu tidak jeli dan kurang konsentrasi kamu akan kecele dan kebingungan sendiri. Untungnya Signal, pola pengambilan dan penayangan gambarnya bisa terlihat jelas mana masa sekarang dan mana lalu. Pertanyaan lainnya, apa yang paling tidak ingin kamu lakukan setelah menonton drama habis drama/film dengan genre semacam ini? Menonton ulang, re-watch. Itu apa yang saya lakukan pada Nine. Tak peduli betapa sukanya pada drama ini, saya gak punya keberanian untuk menonton ulang. Kenapa? Kepala saya puyeng. Makin ditonton makin kusut rasanya HAHAHAHA.
Vibe yang sama saya dapatkan ketika membaca novel Supernova-nya Dee. Waktu itu usia saya sekitar tujuhbelas atau delapanbelas, bagi otak lemot saya karya Dee tidak cocok dibaca dibawah penerangan lampu 5 watt. Akibatnya pertama kali baca, saya pusing dan mual—selain karena pengaruh penerangan juga karena tingkatan intelegensia saya masih termasuk di bawah rata-rata untuk ukuran novel keren macam Supernova. Benang merah antara Nine dan Supernova adalah kedua-duanya bikin saya pusing ㅋㅋㅋㅋ
Nah, rupanya Signal datang kepada saya dalam paket yang berbeda dari Nine. Ditilik segi kualitasnya, bagi saya tak ada yang lebih baik satu sama lain. Dua-duanya termasuk drama yang ditulis dan divisualisasikan dengan cemerlang dan cerdas. Susah looooh nulis cerita menggunakan tema time traveler. Tapi khusus Signal, saya tidak mengalami pusing saat mencoba mencari titik temu antara Lee Jae Han dan Park Hae Young di masa depan (2015-2016). Saya mencoba menjabarkan bagaimana Signal dibangun dalam satu gambar yang utuh.
Di tahun 2015, Park Hae Young menerima transmisi dari Lee Jae Han tahun 2000. 15 tahun ke belakang. Tahun itu, merupakan tahun lenyapnya detektif itu secara misterius. Namun rupanya, transmisi tersebut bukan yang pertama kalinya bagi Lee Jae Han. Ia menerima transmisi pertama kali dari Park Hae Young di tahun 1988. Artinya, waktu Lee Jae Han terus bergerak dari 1988 hingga 2000 tapi waktu di masa Park Hae Young tak bergerak secepat itu. Apakah ini termasuk kekurangan Signal? Mengingat ini merupakan fiksi fantasi thriller, rasanya bisa dimaafkan. Toh, fokus cerita tak berpusat pada keanehan pergerakan waktunya melainkan cold case-nya. Ini menurut pendapat pribadi saya. Lalu ke mana Lee Jae Han menghilang selama kurun waktu 2000-2015? Hanya satu kemungkinan ia mengalami koma akibat penganiayaan berat. Ayahnya sengaja menyembunyikannya selama itu. Karena kalau sampai ketahuan Anggota Kongres Jang, sudah bisa dipastikan Lee Jae Han akan berusaha dihabisi.
Pada akhirnya, Signal bisa dijadikan sebagai pengingat bagi kita khususnya para aparat hukum dan pemerintah, amanah diberikan bukan untuk diselewengkan. Bukan pula hukum disusun untuk ditajamkan ke bawah dan ditumpulkan ke atas—sayang sekali drama seperti Signal ini terasa sangat mustahil untuk dibikin versi Indonesia-nya xD
Maaf jika saya harus mengatakan ini, barangkali terdengar sangat pesimis tapi memang demikian apa yang membenak di kepala saya bahwa, Lee Jae Han adalah simbol keadilan dan kejujuran yang kini menyepi entah ke sudut mana. Keadilan itu—ia ada, tapi oleh banyak orang dianggap terlalu usang untuk digunakan lagi. Lee Jae Han, sebagai sosok yang kukuh memegang prinsipnya sebagai polisi yang lurus hatinya meski demi itu ia selalu menerima tekanan dari berbagai pihak yang tak menyetujui tindakan-tindakannya. Satu-satunya (yang dianggap) kesalahan karena ia berdiri tegak di sisi kebenaran. Sedih sekali. Ironis.
Script yang bagus di tangan director hebat lalu diisi aktor/aktris dengan akting mumpuni hasilnya adalah satu paket drama yang keren. Signal merupakan salah satu drama terbaik yang pernah saya tonton. Terimakasih Tante Kim Eun Hee, selamat telah menebus kesedihan karena Three Days yang menerima banyak sekali kritikan tahun kemarin.
Jangan menyerah ^^

[Review] Signal (tvN, 2016)

by on 3/21/2016 08:04:00 AM
Di antara beberapa drama yang saya ikuti di paruh pertama tahun 2016 hanya Signal yang mampu saya tonton tuntas—saya kecualikan Reply 19...
Hayo loooo, yang belum bisa move on dari Geng Ssangmun-Dong angkat kaakiiii eh angkat tangan ding! Hihihi... Samaaa, saya juga masih belum bisa move on niiih. Yang udah bisa move on, kasih tips dong buat kita-kita...
Selama mengikuti drama ongoing Reply 1988, saya juga masih mengikuti drama lain— dan beberapa variety show seperti King of Mask Singer, We Got Married, IN2D. Tapi gak bisa bohong tontonan ini cuman jadi pengalih ketidaksabaran menunggu kapan hari Jumat datang dari pekan per pekan. Bisa kebayang kaan begitu Reply 1988 tamat, saya jadi kelimpungan sendiri karena sehari-hari hanya fokus di satu drama itu.
Yuk, intip drama-drama apa saja yang saya ikuti di paruh pertama tahun 2016 ini. Capcusss!
1.    Cheese In Trap
Drama hasil adaptasi dari Webtoon ini ditayangkan di stasiun kebanggaan kita, tvN (Contents Trend Leader... apal banget jargon ini T.T). Pekan ini Cheese in Trap akan memasuki episode-nya yang ke tujuh. Drama ini mengisahkan kehidupan dunia kampus yang sangat jaraaang diangkat dalam dunia per-drama-an Korea, memakai sudut pandang Hong Seol. Saya lupa gitu Hong Seol ini udah masuk tingkat berapa. Dia punya dua orang teman kuliah—Eun Taek yang imut-imut dan Bora yang cerewet. Duh, namanya makin bikin susah mup on. Kehidupan kampus Seol mulai terusik setelah terjadi kesalahpahaman antara dia dan seorang seniornya.
Adalah Yoo Jung Sunbae, kakak senior ganteng, tajir, baik, pinter tapi nyeremin. Doi semacam seneng banget nge-stalking Seol. Biasanya di drama Korea itu Lead Male dan Lead Female-nya jadian di separuh total episode dan benar-benar bahagia di lima menit menjelang ending—bikin yang nonton pengen smash-in leptop. Bedanya, di Cheese In Trap Seol dan Yoo Jung resmi pacaran di episode-episode awal setelah melewati buanyak salah paham. Ya iyalah, siapa juga yang gak salah paham kalau ikutin ke mana-mana. Bahkan sampai ikut campur segala urusan administrasi kampus. Kalau saya yang jadi Seol, udah ta’ laporin si Yoo Jung ke Pak Pulisi wkwk.
Saya tidak mengikuti versi Webtoon-nya jadi gak ada gambaran sama sekali akan seperti apa jalan cerita Cheese In Trap ke depan. Salah satu yang menjadi daya tarik utama drama ini terletak pada sosok Yoo Jung yang sulit terbaca. Sejak pertama menonton saya sibuk menerka-nerka apa kira-kira apa ya yang sedang dipikirkan pria ini? Sisi misteriusnya ini loh yang bikin saya suka khawatir melihat kebersamaannya dengan Seol.
Selain Yoo Jung, ada pula sepasang kakak-adik yang punya hubungan di masa lalu dengan Yoo Jung. Baek In Ho dan Baek In Ha. Saya gak ada masalah sama sekali dengan Baek In Ho. Kalau scene Seol dan Yoo Jung kadang-kadang bawa kesan mistis—lu kate ini pelem horor T.T—maka scene antara Seol dan Baek In Ho paling sering bikin senyam-senyum. Baek In Ho-nya lucuuu sih. Sok-sok cuek tapi beneran perhatian dan penyayang. Tolong jangan samakan dengan mas-mas dari drama sebelah yang barusan tamat—no mensyeeeen, kakaaaak. Karakter si mas dan Baek In Ho beda jauh.
Pertemuannya In Ho dan Seol terjadi secara tidak sengaja. Dunia emang cuma selebar daun semanggi, yah. Siapa sangka Yoo Jung dan In Ho yang berkonflik di masa lalu bertemu kembali gara-gara Seol.
Satu-satunya yang bikin saya rada-rada pengen men-skip adalah kemunculan Baek In Ha, kakak In Ho. Gimana yah, menurut saya aktingnya overdosis bikin ilang feeling. Tapi demi Yoo Jung Sunbae, saya tabah-tabahin hati nonton gak pake skip.
Sambil nonton, saya mengingat kembali jaman masih jadi anak kuliahan dulu. Kangen temen-temen se-geng. Almamater apa kabar? Kehidupan kampus saya beda jauh dari Hong Seol. Boro-boro ngelirik senior kayak Yoo Jung Sunbae, yang ada tiap hari saya harus berkutat dengan laporan praktikum yang Masyaa Allah buanyaknya itu. Lagian kampus saya gak ada yang modelnya seperti Yoo Jung. Kalo kayak Peter Parker dan kacamatanya lumayan ada beberapa. Tapi ya itu tadi, tugas kuliah mengalihkan perhatian. Intinya saya gak pernah pacaran selama kuliah—sampe detik ini. Situ kenapa malah jadi curhat colongaaaan pwahahaha. Sorry, kebawa perasaan sih *tiupin poni lemparnya Choi Taek* Hmmpffttt...
Untuk teman-teman yang juga menonton Cheese In Trap, saya punya pertanyaan nih. Tolong kasih saya pencerahan. Setelah menonton sampe episode 6, saya belum bisa menangkap secara utuh apa konflik yang ingin dibangun penulisnya di drama ini. Entah saya yang lemot karena masih nginget Reply 1988, atau memang perkiraan saya tepat bahwa sejauh ini temanya hanya berkisar di antara Seol, kisah cintanya dengan Yoo Jung dan kehidupan kampusnya? Itu saja?
Give me the light! ^^
2.    Signal
Masih dari stasiun tivi yang sama, Contents Trend Leader, tvN. Signal baru menayangkan dua episode pilot-nya mengisi time slot yang ditinggalkan Choi Taek, ng... Reply 1988 maksudnya. Drama ini merupakan hasil kolaborasi antara Kim Eun Hee dan Kim Won Suk, Director Misaeng.
Saya adalah salah satu penggemar karya Tante Kim Eun Hee. Sign merupakan drama pertama beliau yang saya tonton. Lalu Ghost dan yang terakhir Three Days. Setelah tiga dramanya ditayangkan SBS, kali ini Kim Eun Hee memilih keluar dari zona nyamannya dan bergabung dengan tvN. Sebagai penonton, saya senang-senang saja mengingat kualifikasi tvN yang selalu total ketika memproduksi drama. Pun saat pengumuman cast-nya keluar, meski saya tidak terlalu familiar dengan para aktor dan aktris-nya, saya tetap setia menunggu.
Signal mengisahkan tentang satu team khusus di bawah pimpinan Cha Soo Hyun yang ditugaskan menangani cold case, yaitu kasus-kasus yang telah habis jangka waktu penangannya. Di Korea Selatan jangka waktu penanganan sebuah kasus pembunuhan—saya tidak tahu kasus lain—adalah 15 tahun. Jika dalam rentang waktu tersebut polisi tidak berhasil menyelesaikannya maka dianggap kadaluarsa dan pelakunya terbebas dari hukuman. Nah, di Signal ini masa kadaluarsa sebuah kasus pembunuhan dihapuskan setelah kepolisian berhasil menuntaskan kasus penculikan dan pembunuhan anak perempuan di tahun 2000 yang dilakukan oleh seorang suster Rumah Sakit Jiwa. Akibat kasus ini, masyarakat berspekulasi mengenai perlunya peninjauan kembali pasal yang mengatur masa kadaluarsa kasus pembunuhan demi keluarga korban. Menyeruaknya tuntunan ini memaksa pemerintah di bawah kepolisian akhirnya membentuk satu team khusus yang menangani kasus-kasus pembunuhan tak terselesaikan selama puluhan tahun.
Uniknya Signal memakai dua plot waktu. Keduanya saling berkaitan. Lee Jae Ha di tahun 1988 dan Park Hae Young—seorang profiler—di tahun 2015. Semuanya berawal dari sebuah handy-talkie yang tak sengaja ditemukan Park Hae Young di sebuah mobil yang terparkir di depan kantor polisi. Agak menyerepet ke fantasy-thriller sih, Lee Jae Ha dan Park Hae Young terkoneksi satu sama lain melalui handy-talkie ini. Kasus penculikan dan pembunuhan berhasil diselesaikan berkat panggilan misterius Lee Jae Ha yang dilakukannya di tahun 2000 pada Park Hae Young di tahun 2015. Lee Jae Ha berada di lokasi kejadian ditemukannya mayat pria yang dituduh telah menculik dan membunuh anak perempuan itu. Nahasnya, di tahun 2000 Lee Jae Ha menghilang dan kasus penculikan serta penculikan tersebut baru tuntas lima belas tahun kemudian. Apakah Detektif Lee Jae Ha tewas dibunuh seseorang di tahun 2000? Jawabannya masih misterius.
Pembunuhan berantai Gyeonggi Nambu di tahun 1989 menjadi kasus pertama yang ditangani Cha Soo Hyun dan team-nya. Seeet deh, kalau di Reply 1988 kita bertemu dengan geng Ssangmun-dong yang bikin hati hangat, di Signal kita dipertemukan dengan kasus pembunuhan berantai yang tidak pernah tuntas diselesaikan. Suram, ciiiiiin T.T
Kesan pertama saya menonton Signal, wuaaaoooow! Excited. Kim Eun Hee masih memakai pattern yang mirip dengan drama-dramanya sebelumnya. Pembunuhan, konflik internal di kepolisian hingga kaitan yang terjalin antar tokoh yang tanpa mereka sadari. Lee Jae Ha dan Cha Soo Hyun pernah memiliki hubungan—sebagai kekasih atau apalah belum dijelaskan secara rinci di tahun 2000, kala itu Cha Soo Hyun masih menjadi polisi yunior. Park Hae Young di tahun 2000 masih berusia belasan juga pernah bertemu Lee Jae Ha saat detektif itu menangani kasus penculikan dan pembunuhan. Saya mencium vibe Ghost dan Nine secara bersamaan di Signal.
Di kamus saya seperti sudah ada satu aturan tertulis, di drama ber-genre semacam Signal ini yang harus kamu curigai adalah orang-orang tampak-nya tidak perlu dicurigai. Jenis seperti ini yang biasanya yang paling berbahaya. Saya mencurigai ada konspirasi busuk dibalik menghilangnya Lee Jae Ha di tahun 2000 yang melibatkan beberapa orang di kepolisian.
Satu yang membenak di kepala saya, kenapa Park Hae Young yang terkoneksi dengan Lee Jae Ha? Jangan-jangan Park Hae Young ada kaitannya dengan pembunuh berantai di tahun 1989? Di tahun 1989, Lee Jae Ha masih bertugas sebagai polisi yunior. Ia turut terlibat dalam penanganan pembunuhan berantai Gyeonggi Nambu.
Oiya, Signal merupakan drama berdasarkan kisah nyata yang juga pernah diadaptasi ke dalam film Memories of Murdered dan drama tvN lainnya, Gapdong.
Setidaknya, drama ini sedikit demi sedikit membantu saya move on dari Reply 1988 ^^
3.    Remember (War of Son)
Pertama kali mendengar kabar kambeknya Yoo Seung Ho ke dunia drama, saya sangat antusias. Di Remember ia dipasangkan dengan Park Min Young. Nuna-Dongsaeng dooong. Setelah Healer, saya antisipasi banget drama Park Min Young selanjutnya. Pokoknya udah nancepin niat bakal nonton Remember pas tayang nanti.
Dan terjadilah apa yang sering saya alami. Drama yang biasanya betul-betul diniatkan untuk ditonton malah saya drop di tengah jalan. Sebaliknya, drama yang saya coba-coba malah bikin betah.
Remember bagus kok, barangkali selera saya saja yang tidak cocok dengan naskah yang ditulis writer The Attorney ini. Drama ini sudah tayang hingga 12 episode di SBS, sedangkan saya baru menonton sekitar 4 episode. Saya gak bilang gak akan melanjutkan menonton, hanya saja sekarang minat nonton saya sedang melanglang buana entah ke mana. Saya masih tetap setia mendonlot-nya setiap pekan.
Mengisahkan tentang perjuangan seorang anak untuk membebaskan ayahnya dari tuduhan palsu. Membunuh seorang gadis. Saya gak ada masalah dengan divisi akting, tapi kepada storyline-nya. Kayaknya karakter Yoo Seung Ho bakal dibikin menderita sampe episode terakhir deh. Kasian amat nasibmu, Nak. Setelah kematian ayahnya, giliran dia yang kenal Alzheimer. Pengacara kena Alzheimer? The end. Belum lagi lawan yang dihadapi Yoo Seung Ho itu psikopat macam Nam Gong Min. Suer, peran Nam Gong Min di sini super duper ngeselin bikin saya pengen nampol pake papan Baduknya Choi Taek! Karakternya sebagai psikopat detail banget sampe-sampe gerakan dia ngegaruk alis aja bikin baper ga ketulungan!
Saya gak bisa komentar banyak sih, soalnya saya baru nyampe di episode 4 T.T
Dedek Seung Ho, maapin Nuna yee...
4.    One More Happy Ending
MBC paling jago deh bikin drama genre Romcom. One Happy Ending, contohnya. Pairing Jung Kyung Ho dan Jang Nara ternyata cocok.
One More Happy Ending bercerita tentang kehidupan mantan Girlband Angels setelah bubar. Saya belum menghapal masing-masing karakternya. Jang Nara memerankan tokoh Mimo, seorang perempuan di usia tiga puluhan, setelah bercerai dari suaminya, ia berpacaran dengan seorang koki dan berakhir mengenaskan karena ternyata koki tersebut berselingkuh dengan seorang aktris yang merupakan mantan member Angels juga. Insiden itu membawa Jang Nara bertemu Jung Kyung Ho, temannya semasa kecil—lagi-lagi dunia hanya selebar daun semanggi, bruh. Jung Kyung Ho berperan sebagai duda yang hidup berdua dengan putranya. Ia punya teman, Kwon Yool. Seorang dokter dan single.
Berlanjut ke mantan anggota Angels lainnya, ada You Da In yang menjalankan bisnis konsultasi pernikahan bagi orang-orang yang pernah gagal bersama Jang Nara. Ia menikah dengan seorang pria kaya namun tidak bahagia. Kehidupan pernikahannya di ambang perceraian. Yoo In Na, berprofesi sebagai guru yang galau nyari jodoh dan terakhir ada Seo In Young, ragu-ragu menikah. Ia membatalkan pernikahan menjelang beberapa hari acara berlangsung. Kompleks bener ya?
Aku masih belum lanjut ke episode dua. Nanti aja pas mood bagus xD
Gimana yah, gara-gara pernah ada gosip Bogum sama Jang Nara saya agak gak sreg nih sama si Tante. Padahal sebelum keluar gosipnya saya biasa aja. Dasar penonton gak profesional sayaaah xD

P.s : setelah Reply 1988 saya semakin selektif milih drama. Biar kata orang bagus tapi storyline-nya gak beda jauh sama drama kebanyakan, dilewatin....

[Trivia] Currently Watching

by on 1/25/2016 12:32:00 AM
Hayo loooo, yang belum bisa move on dari Geng Ssangmun-Dong angkat kaakiiii eh angkat tangan ding! Hihihi... Samaaa, saya juga masih b...