Showing posts with label Kwak Dong Yeon. Show all posts
Showing posts with label Kwak Dong Yeon. Show all posts

*saya belum menonton episode 5-6*
Majimaksarang.blogspot.co.id
***
Saya berhasil menepati janji pada diri saya sendiri untuk menonton plot episode Moonlight Drawn by Clouds tanpa ekspektasi apa-apa. Tidak ada ketakutan dramanya akan gagal, atau sebaliknya, memperoleh rating bagus pada penayangan perdananya. perasaan saya datar saja. Bahkan ketika rating episode 1-4 satu-persatu keluar, saya masih kalem saja. Senang, ya. Namun tak lantas menjungkirbalikan hati saya ㅋㅋㅋㅋ
Berbanding terbalik dengan teman-teman lain. Lantas apakah saya sudah berubah menjadi antis-nya Park Bogum? Oh wait, jangan terburu-buru melemparkan telunjuk bernada menuduh ke arah saya. Saya tidak akan pernah bisa setega  itu pada Bogum. He’s too good to be hated.
.... tapi ada sebagian fans Park Bogum yang tanpa sengaja memengaruhi antusiasme saya terhadap Moonlight. Keinginan saya menonton dengan damai sedikit terusik. Saya jujur mengatakan ini, ketika menonton plot episode , saya tak henti-hentinya terbayang komentar-komentar dari beberapa fans Bogum yang akhirnya berimbas ke mood saya dan berlanjut selama penulisan sinopsis Moonlight episode 1 dan 2.
Sebelum membeberkan kesan pertama saya saat menonton 4 episode awal Moonlight, saya ingin sekali menulis ini. Mungkin masih ada yang ingat bagaimana konflik yang terurai panjang dan melelahkan gara-gara husband game Reply 1988. Walau kontennya berbeda tapi saya menemukan kemiripan dalam urusan drama K dan drama S—no mention—yang sedang ramai-ramainya menjadi topik bahasan ini. Saya tidak melihat adanya urgensi atau keharusan sebagai viewers untuk membandingkan bahkan menjelek-jelekkan, mana yang lebih bagus, mana yang lebih pantas mendapatkan rating tinggi antara drama S dan K. Pertanyaan paling sederhana, tak bisakah kita menikmati satu drama, membicarakan kesuksesan/kegagalannya tanpa membwa-bawa drama lain yang kebetulan jadwal slot airingnya bersamaan? Tapi pihak sebelah yang mancing duluan—ada yang melontarkan alasan seperti ini. Sebagai tanggapan, saya coba kasih analogi seperti ini : dua rumah—hijau dan biru bertetangga, di belakang rumah tersebut terdapat sungai yang masih terawat. Suatu hari pemilik rumah Hijau membuang sampahnya ke sungai tersebut. Terinspirasi hal itu, beberapa hari kemudian pemilik rumah Biru pun melakukan pekerjaan yang sama persis. Lama kelamaan sampah-sampah itu membentuk gundukan dan tercemarlah si sungai. Hujan besar datang, disusul banjir. Kalau sudah begitu, yang terjadi kemudian adalah saling tuduh. Rumah Hijau duluan, ah bukan, Rumah Biru. Begitu terus sampai kiamat datang. Tidak ada pihak yang mau berinisiatif introskpeksi diri.
Tidak bisakah penonton drama S dan penonton drama K menonton tanpa perlu saling sindir, saling menjatuhkan, saling mengutuk, saling mengejek—saya merindukan #TeamTaek yang kalem, yang meski akhirnya Taek-lah yang menjadi suami Deokseon, #TeamTaek tetap stay cool, tetap bisa menikmati kemenangan dengan wajah sumringah tanpa menyiramkan cuka ke luka hati tetangga.
Pasca insiden W vs UF, ada dua kesyukuran saya karena berani mengambil keputusan ini—menutup akun twitter lalu membuat akun baru. Meninggalkan sekian banyak teman yang sangat saya akrabi sebelumnya. Bukannya saya tidak sayang pada akun lama, tetapi meminggirkan diri dari unsur-unsur yang bisa memancing emosi jauh lebih baik ketimbang bertahan lalu pada akhirnya saya akan keseringan nyinyirin temen sendiri karena twit-twitnya berseberangan dengan saya. Mudah sekali mengajak orang saling menghargai namun, mengaplikasikannya ke diri sendiri tak pernah segampang buang kentut. Bagi saya tak ada yang lebih sulit daripada menaklukan gelombang amarah diri saya sendiri. Hal lainnya—saya berhasil membatasi interaksi saya di LINE. Kata almarhum kakek, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Saya mengamininya dengan patuh.
Saya nge-fans Bogum setelah menonton akting-nya sebagai Min di Hello Monster, saya cukup yakin saya akan selalu menjadi fans si dedek baik hati ini. Yang sulit saya jamin adalah bahwa suatu hari nanti saya sebagai fans-nya Bogum yang mungkin karena saking sayang dan loyal-nya ke Bogum menyebabkan orang lain melontarkan kalimat ini tanpa minat—
“Gak jadi ah, nge-fans sama Park Bogum. Saya sih gak ada masalah sama artisnya—wong akting dan personalitinya bagus. Tapi fans-nya itu loh. Nyeremin.”
Kasian Bogum-nya kalau sampai kejadian. Dia gak ngelakuin apa-apa tapi ikut terseret arus. Tak hanya sekali pikiran semacam ini menghampiri saya, spazzing mandiri tuh lebih terasa excited-nya ketimbang rame-rame, apalagi kalau kepopuleran artis yang di-spazzing sudah meroket menyentuh pelangi. ㅜ.ㅜ
Teringat ucapan paling kece dari Seungho—leader MBLAQ. 1st manner, 2nd manner, 3rd manner. 
Cobalah berbahagia tanpa menyeret atau menyoroti ketidakberuntungan orang lain, Azz....
***
Dan saya baru bisa benar-benar menikmati Moonlight di episode 3 dan 4 setelah sukses menghindari sekian macam bad influence. Usai menonton episode 4, saya akhirnya mengerti sepenuhnya kenapa rating drama ini terus naik setiap pekannya—episode 5 nyaris menembus 20%. Tak hanya karena Park Bogum semata, seluruh team Moonlight Drawn by Clouds turut berperan. Saya pernah mengungkapkan melalui postingan tentang Moonlight sebelumnya, satu-satunya yang menjadi kekhawatiran saya sebagai fans Bogum yakni bila duo Screen writer Moonlight tidak memanfaatkan kompisisi casting sebaik-baiknya dengan menulis script yang bagus—karena saya tidak akan ragu men-drop drama yang ceritanya meh tak peduli yang main aktor/aktris favorit saya. Mirisnya, ada orang-orang yang menuding saya menulis negative comment di postingan tersebut. Ini saya yang gagal membedakan mana yang namanya negative comment dan mana #lowexpectation atau gimana sih? Aduh Mak... Hayati gagal paham.
Andaikan saya mengikuti emosi ketika menulis sinopsis Moonlight episode 1 dan 2, barangkali postingan tersebut hanya akan diisi ‘HAHAHAHAHAHA’ dari awal hingga akhir. Kesan pertama Moonlight terasa memikat. It’s fun! Plot episodenya sukses memengaruhi saya untuk menonton episode selanjutnya. Serba balance. Perkenalan karakternya tidak dibebani basa-basi yang tidak perlu, plot yang rapi, storyline-nya jelas akan ke mana juntrungannya, pace yang tidak lambat atau monoton, dan paling penting bagi saya, episode 1 dan 2 sebagai pembuka kisah dengan cerdasnya telah menciptakan serangkaian pertanyaan-pertanyaan misterius super penting yang menyangkut karakter utama di drama ini. Tentang Hong Ra On dan mengapa ia sedari kecil telah dipaksa menjadi laki-laki, tentang Kim Yoon Sung dan hubungan pertemanan yang terkesan dingin dengan Crown Prince—Lee Yeong beserta pengawal pribadinya yang setia, Kim—Satgat—Byeong Yeon. Tentang cinta segi-banyak yang kemungkinan besar akan menghiasi Moonlight dan diselingi konflik internal kerajaan. Keklisea-an ceritanya tidak lantas menjadikan drama ini boring. Two thumbs up untuk duo screen writer-nya. Formula yang digunakan sejauh ini kece banget. Magic. Terimakasih telah mematahkan kekhawatiran saya.
Karakter-karakter utama di Moonlight diselubungi layer. Selagi kita berpikir mereka cukup transparan untuk dibaca, kenyataannya tidak segamblang itu. Bond yang dibangun di awal episode semakin kuat di setiap episodenya. Saya rasa ini termasuk poin penting untuk mem-betahkan viewers.
Kembali ke masa-masa promosi sebelum Moonlight, kembali ke pertanyaan remeh saya mengenai hubungan dance Boombastis-nya Park Bogum, kacamata item, dan era Joseon, kesimpulan akhir yang saya dapatkan kemudian setelah 4 episode bikin saya geleng-geleng kepala, tanpa sadar ketawa, untung gak sampe tepuk tangan tanpa sadar. WOW. Cara promosi yang menurut saya unik untuk genre teen drama Fusion-sageuk. Lupakan sejenak mengenai para pemeran utamanya yang masih muda-muda. Abaikan viewers yang tidak mempermasalahkan entah itu drama modern atau Sageuk hayuk ajah nonton karena yang main aktor/aktris favorit. Bayangkan bila tim promosi Moonlight mengeluarkan jurus promosi dengan cara dan aksen ala kerajaan yang berat, terkesan monoton dan sedikit sentuhan dark (baca; berdarah-darah), kira-kira remaja nge-pop—non fans main leads—pada tertarik nonton gak? Saya sih ragu ya...
Satu lagi yang saya sadari belakangan ini, sedari awal memulai promosi KBS dan tim produksi Moonlight sepenuhnya percaya diri dengan apa yang akan mereka sajikan kepada vieweres. Kenapa saya mengatakan demikian? Promosi besar-besaran yang mereka lakukan dengan menggunakan Park Bogum sebagai jaminan utama. Itu. Keyakinan besar tidak akan muncul begitu saja. Harus saya akui, KBS memperlakukan rising star ini dengan istimewa. Tidak masalah, toh Bogum memiliki kualitas di atas rata-rata untuk diperlakukan istimewa. Kabar gembiranya adalah viewers mencintai Bogum—termasuk saya. Semua sayang Bogum. My precious lil bro ㅠㅠ Umpan yang dilemparkan KBS disambut dengan hangat. Namun sekali lagi, terlepas dari ini semoga tidak ada yang keceplosan nyerocos sok jumawa seolah-olah Moonlight hanya tentang Park Bogum. Tolong jangan membuat Bogum tampak buruk di mata non-fans dan fans aktor/aktris lain.
Tak ada cacat pada divisi akting. Yang jahat, yang baik, yang lawak, yang numpang lewat, semuanya memerankan karakternya dengan pas, tidak timpang.
Saya ini tipe penonton yang sangat memerhatikan detail. BGM, sinematografi, akting, properti lah, segala macem diperhatiin. Emang deh, gak sia-sia saya saya percaya pada Director Kim yang juga pernah menyutradarai Discovery Of Love-nya Om Eric Mun. Angle pengambilan gambar dan pemandangannya cakeeeeep cin, perpaduan warna yang dipilih sangat colorful sehingga terkesan ramah, adem, dan aura teen-nya nempel banget. Beautiful. ㅜㅜ
Saya ingin menyinggung mengenai pemilihan bgm berupa efek bunyi-bunyian yang banyak muncul di episode 1-2 dan mulai berkurang di episode 3-4 seiring makin intense-nya jalan cerita Moonlight. Bagi saya itu sudah tepat, selain turut membantu menstimulasi sisi humor yang coba dilemparkan penulis di episode 1-2—dan bikin saya ngakak gak kira-kira—juga menegaskan bahwa ide memadukan humor dan sageuk tidak akan merusak esensi sageuk itu sendiri. Banyak yang mengira sageuk adalah tentang kehidupan kerajaan/istana beserta isu-isu yang melingkupinya (perebutan kekuasaan, peperangan, pertumpahan darah), yang sepanjang jalannya episode lebih banyak membuat kening penonton berkerut, dan wajah menjadi muram. Di Moonlight, saya dibikin mengharu biru. Dua episode awal, saya banyak tertawa lepas, lalu dua episode selanjutnya, beberapa scene tanpa sadar saya menangis. Tau-tau ngalir aja air matanya. Moonlight berhasil memainkan emosi saya ㅜㅜ
Memasuki episode 5, saya sangat yakin tensi cerita Moonlight akan semakin berkembang, kurvanya menanjak seiring masuknya Chae Soo Bin ke dalam lingkaran cerita. Saya berharap porsi ceritanya akan tetap seimbang, makin mengerucutnya konflik antara Lee Yeong dan Perdana Menteri Kim hingga masuknya perkembangan cinta segi-banyak di sekitar Hong Ra On tidak akan menghilangkan sisi humor drama ini. Sageuk bercita rasa remaja. Semoga Moonlight tetap menyenangkan hingga menit terakhir akhir penayangannya nanti. Seperti halnya Moon That Embrace The Sun yang begitu lekat diingatan para penonton.
Btw, bener gak sih jumlah episode Moonlight hanya 18 episode? Kalau iya, jago bener penulisnya bikin twist—ceritanya kan usia karakter-karakter utama di sini masih pada 18 tahun ㅅ.ㅅ
***
Sekarang saya mau ngomongin per karakternya. Bagaimana mereka ini muncul dan menginvasi hati saya dengan semena-mena HAHAHAHA.
Lee Yeong. Lee Yeong. Lee Yeong. Si Pangeran berhati hangat, cerdas, pintar menganalisa situasi, jago memasang taktik, tahu kapan harus diam tahu kapan harus bertindak, tahu kapan harus bikin ngakak—tapi sedikit pemarah kkkk. Saya belum sepenuhnya bisa bersimpati pada Lee Yeong di dua episode pertama, barulah ketika menonton episode 3-4, saya jatuh cinta dan dengan sukarela ikut bersedih bersamanya. Park Bogum did a great job to potraying Lee Yeong. Take a look into his eyes, you can feel his pain, his loneliness, his fears, everyting about him so raw that makes my heart happy and sad at the same time ㅜ.ㅜ
Hong Ra On/Hong Sam Nom. He’s too beautiful. Nope, it's 'she'. Kim Yoo Jung. Ya, saya tak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi dan memuji kecantikan Yoo Jung. Saya aja yang perempuan bisa se-terpana ini melihat kecantikan si adek... Saya menyukai Hong Ra On. Ia—dengan segala kehati-hatiannya bisa menjalin chemistry dengan siapa saja. Mengenai pink romance-nya dengan Lee Yeong, saya yakin bisa menikmatinya (saya tidak berniat men-ship Bogum-Yoo Jung sebagus apa pun chemistry mereka). 
It’s too early. Saya semakin pandai saja menahan diri dari yang namanya ship-ship an. Apa yang terjadi di drama tidak akan saya bawa ke real life aktor/aktris tersebut ㅋㅋㅋㅋ
Kim Yoon Sung. Ada sesuatu pada karakter ini yang kerap membuat saya merasa sedih jika melihat scene-nya. Saya belum tahu apa yang menyebabkan Lee Yeong membelakangi dan bersikap dingin pada Yoon Sung—pasti ada kaitannya dengan ramalan di episode 2—namun dilihat dari cara Yoon Sung bereaksi terhadap Lee Yeong, ia tetap menganggap Putera Mahkota sebagai temannya, jarak itu... yang memisahkannya dengan Lee Yeong, bukan ia yang menciptakan, melainkan Lee Yeong sendiri. Apakah Yoon Sung punya potensi menjadi jahat setelah kelak terlibat cinta segi-banyak? Sepertinya tidak, paling nggak itulah yang saya harapkan. Saya tak menangkap adanya ambisi berlebih pada diri Yoon Sung. Ia tak bisa berbuat banyak mengingat kakeknya adalah Perdana Menteri dan di sisi lain, ia (pernah) bersahabat dengan Putera Mahkota.
Dan bila Yoon Sung harus memilih, saya takut ia akan berakhir tragis. No, please... ㅠ.ㅠ
Oya, saya ingin screen writer menampilkan bagian lain dari Yoon Sung terkait deskripsi karakternya—melukis gisaeng belum cukup memenuhi keingintahuan saya apakah karakter Yoon Sung ini memang pantas diramalkan memiliki kualifikasi sebagai pewaris mahkota. Jangan menjadikannya hanya sekadar Guardian Angel untuk Hong Ra On. Untuk beberapa alasan karakter Kim Yoon Sung ini mengingatkan saya pada Jung Il Woo di Moon That Embrace The Sun.
—credit untuk perkembangan akting Jinyoung. Gomawo, Jinyoung-ah. This Nuna will support you. 파이팅! ^^
Kim Byeong Yeon. Cooooooooool! Chemistry-nya dengan Ra On dan Lee Yeong ㅋㅋㅋㅋㅋ apa cuman saya yang merasa Kwang Dong Yeon kelihatan lebih tua dari Bogum? HAHAHAHA, mian. Saya ingin tahu lebih banyak lagi tentang karakter ini di episode-episode mendatang. Seperti celetukannya Ra On—Byeong Yeon pasti punya rahasia juga.   
***
Saya mengambil keputusan untuk menghentikan penulisan sinopsis Moonlight, lagian kan sudah ada Mbak Dee Kutudrama yang membuat sinopsisnya. Mbak Dee lebih berpengalaman dan sangat terstruktur (rapi) dalam penulisannya. Bacanya juga lebih enak dan nyaman ketimbang hasil kerja Majimak Sarang—maaf, saya tidak bisa menuntaskan janji.
Tak seperti yang sudah-sudah, kendati saya menyukai Moonlight, saya belum berniat mengunjungi thread-nya di Soompi. Adakalanya menonton tanpa spoiler lebih menyenangkan.
Yeokshi! Choose to be a #TeamLowExpectation never get you hurt. I’m enjoying my long-story with Moonlight ㅋㅋㅋㅋㅋ
Azz

Be happy, you ^^
Majimaksarang.blogspot.co.id
Pangeran Hyomyeong : Apa kau pikir kau bisa menanggung akibatnya?
Ra On : Ya. Aku akan melakukan apapun yang kauinginkan bila kita bertemu lagi suatu saat. Bahkan jika kau ingin aku menjadi aningmu, aku akan melakukannya!
***
Majimaksarang.blogspot.co.id
Dan waktu terlalu cepat mengabulkan janji Ra On, di malam ketika ia hendak melarikan diri dari ujian masuk menjadi Kasim istana, ia bertemu Pangeran Hyomyeong—Lee Young. Yeah, lagi. Untuk kedua kali. Ra On mencoba berkelit, namun Lee Young dengan cepat menahan dagunya.
“Senang bertemu denganmu, mongmong-ah~” kata Lee Young. Sorot matanya menajam.
Ra On cepat-cepat memeluk Lee Young, mengatakan betapa menyesalnya ia telah meninggalkan Lee Young di lubang itu. Well, Ra On pura-pura. Memuji-muji Lee Young. Disangkanya pria yang sudah dituduhnya sebagai sendok perak itu adalah Byeolgam. Penjaga istana.
Sayangnya, Lee Young tahu maksud Ra On. Gadis itu berusaha memperlebar jarak mereka dengan terus berjalan mundur ke belakang HAHAHA. Ra On menelan ludah putus asa. You can’t go anywhere girl ㅋㅋㅋㅋ. Crown Prince is watching you.
Ra On masih mencoba peruntungannya. Ia mengatakan telah mengirim seseorang untuk menolong Lee Young.
“Benarkah? Dia pasti sangat cepat tapi tuli dan buta. Aku berteriak sampai suaraku hilang sebelum dia menemukanku,” sindir Lee Young tak percaya.
Ia bertanya mengapa Ra On bisa berakhir  di tempat itu menjadi seorang kasim? Ra On mengaku itu sudah menjadi mimpinya sejak dulu—menjadi kasim. Lalu mengapa ia keluar malam-malam sambil membawa tas? Lagi, Lee Young bertanya. Ra On tidak punya cara selain berbohong bahwa ia sedang menjalankan tugas. Ia bahkan menjual nama Guru Sang Sun.
Waktu benar-benar sedang tidak berpihak pada Ra On. Kasim Sung tiba-tiba muncul. Belum sempat Kasim Sung mengatakan apa-apa, Lee Young lebih dulu menyapanya. Kepala Lee—ia menggunakan nama itu. Meski penasaran mengapa pangeran bisa berada di sana di tengah malam itu, Kasim Sung menunduk hormat. Lee Young memberikan isyarat—jangan mengatakan sesuatu yang mencurigakan, semacam itulah. Kebohongan Ra On berbuntut panjang. Lee Young secara sarkas menyinggung Kantor Petugas Kasim sangat bisa dipercaya. Hal itu terang saja membuat Kasim Sung kesal. Ia menyuruh Ra On mengikutinya. Ekspresinya tak enak dipandang.
Ra On berbalik. Ia memohon agar Lee Young menampar dirinya, dengan begitu ia berharap Lee Young akan melupakan kejadian di hari itu. Lee Young mengangkat tangan, alih-alih menampar Ra On seperti yang diminta gadis itu, ia malah mengelus belakang topi kasim yang dikenakkan Ra On. “Tidak baik memukul anak anjing. Kau harus bersikap baik dan bermain dengannya. Aku akan sering menemuimu, mongmong-ah~.”
Ra On meringis. Hampir-hampir menangis. #Pukpuk.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Ra On dibawa Kasim Sung ke ruangan—seperti gudang? Ra On sudah melakukan tiga kesalahan sekaligus. Pertama, melarikan diri. Kedua, berbohong. Ketiga, tertangkap oleh... Kasim Sung urung melanjutkan kalimatnya. Tertangkap Putra Mahkota—itu yang ingin dikatakannya.
Karena Ra On berdalih ia melarikan diri karena takut berada di istana maka Kasim Sung akan membantunya menyingkirkan rasa takutnya dengan cara menghukum Ra On tidur di tempat itu. Gadis malang itu terkulai lemas. Benar-benar hari yang melelahkan.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Jalan Menuju Dirimu
Hari-hari ujian pun datang. Di kantor Pendisiplinan Kasim, Kasim Han memberikan sepatah dua katanya sebelum ujian berlangsung. Bahwa kasim memiliki peranan penting dalam mengelola urusan rumah tangga keluarga kerajaan. Sebab itu mereka—para kasim—harus bersatu untuk menjadi kaki tangan Raja, menjadi lampu yang menerangi jalan Raja, dan menjadi perisai Raja di saat-saat berbahaya. Para kasim berbagi nasib yang sama untuk melindungi keluarga kerajaan. Bilamana mereka melakukan sesuatu yang mempermalukan reputasi dan tradisi para kasim, maka hidup adalah bayarannya.
Sepanjang Kasim Han berbicara, Ra On tercekat ketakutan. Bisakah kamu membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya bila identitasnya ketahuan? Ia melihat seorang peserta calon kasim menangis hingga terkencing di celana—aigooo. ㅠ.ㅠ
Kasim Jang, Kasim Sung dan Ma Jong Ja ngegosip-in Kasim Han HHAHAHA. Trio itu berdiri di sisi bagian samping bangunan di mana para peserta berkumpul. Apa dia harus melakukan itu setiap kali? Kata Kasim Jang saat melihat seorang peserta yang ketakutan. Kau harus mempersiapkan mereka lebih awal agar lebih mudah nantinya, demikian Ma Jong Ja mencoba membela. Apa itu benar? Tetap saja, jangan terlalu keras kepada mereka. Kau tahu dengan baik bahwa kau tergoda untuk cukup lama jika kau tidak siap mental, beber Kasim Sung sambil melirik memberikan sedikit dorongan bahunya ke bahu Ma Jong Ja.
“.. dan merendah di depan semua orang,” tutupnya. Kasim Jang dan Ma Jong Ja kompak menoleh pada Kasim Sung.
“Siapa yang melakukan itu?” Kasim Jang kepo.
Ma Jong Ja memasang ekspresi aneh sebelum pergi.
“Itu bukan urusanmu,” sela Kasim Sung lalu menyusul Ma Jong Ja.
“Sepertinya aku sudah tahu,” simpul Kasim Jang tertawa. Yeah, saya juga tahu siapa HAHAHAHA.
Kasim Sung dan Ma Jong Ja berdiri di hadapan peserta menggantikan Kasim Han. Kasim Sung mulai berbicara. Ada tiga kriteria yang akan menjadi dasar penilaian bagi para peserta ujian yakni kebugaran fisik, ujian tertulis, dan tes karakter. Jika ada peserta yang gagal—ia akan ditendang keluar dari istana. Ma Jong Ja yang akan bertugas untuk urusan kebugaran fisik. Ra On panik. Satu persatu nama peserta dipanggil.
Lulus. Lulus. Lulus. Ra On harap-harap cemas menunggu giliran. Ketika ia hendak memutar badan, ia menabrak salah satu peserta. Do Gi. Ra On mau melarikan diri lagi? Seorang lagi datang menghampiri Ra On dan Do Gi. Sung Yeol namanya. Mereka bertiga berusia 18 tahun. Ra On, Do Gi dan Sung Yeol HAHAHAHA. 18 tahun sih, tapi mukanya....
Sung Yeol mengolok-olok Ra On yang berkeringat. Apa kau takut dengan pemeriksaan fisik? Tanyanya. Dengan gaya komikalnya ia menunjuk bagian itu-nya Ra On. Ra On sudah gugup sepenuh hati eh—gak taunya maksudnya Sung Yeol adalah istana. Apakah Ra On tak menyukai istana? Ok, trio yang lain telah terbentuk.
Tiba giliran Ra On, Do Gi dan Sung Yeol. Nama yang terdaftar adalah Hong Sam Nom, bukan Hong Ra On. Saking gugupnya kalau-kalau ia bakal ketahuan, Ra On mengkhayal ia kena hukum tombak. Do Gi dan Sung Yeol, lulus. Dan hanya menyisakan Ra On. Ia belum membuka pakaiannya. Ia diminta melepaskan tapi gadis itu ragu-ragu. Ketegangan itu terurai bersamaan dengan datangnya seseorang yang mengatakan seluruh tabib istana agar segera menuju kediaman Ratu—beliau pingsan. Bergegas, kedua tabib yang menjadi juri  ujian segera berlari meninggalkan ruang ujian. 
Masalahnya, kertas ujian Ra On secara tak sengaja ter-stampel. Setengah lulus-setengah gagal. Karena lebih dari separuh, stempelnya menyentuh lulus, maka ia pun dinyatakan lulus. Dramatis! ㅋㅋㅋ
Majimaksarang.blogspot.co.id
Perdana Mentri Kim dan dua kaki tangannya—Kim Ui Gyo dan Kim Geun Gyo sedang berkumpul. Meereka tampak bahagia. Keceriaan itu bersumber pada berita gembira yang menyebutkan bahwa Ratu sedang hamil. Itu berarti akan lahir calon pemegang tahta selain Lee Young. Apalagi bila anak Ratu kelak ternyata adalah laki-laki.
“Ada pepatah dalam catur, apa masalahnya kalau itu babi atau sapi?” ucap Perdana Mentri Kim.
“... tanganlah yang menggerakannya,” lanjut Ui Gyo. Dengan lihai—gaya penjilatnya, ia menyentuh tangan Perdana Mentri Kim. “Tangan ini yang terpenting.”
“Tapi bagaimana kalau bayi dalam rahimnya bukan anak laik-laki?”
“Tetap saja ini adalah waktu kita yang terbaik untuk melatih Putera Mahkota sampai bayinya lahir.”
Perdana Mentri Kim menatap lurus ke depan. Sepertinya pria tua ini sudah memiliki rencana di dalam batok kepalanya.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Para peserta ujian kasim diajak berkeliling istana. Dimulai dari Dongungjeon—kediaman Pangeran Mahkota.
“Pernahkah kau mendengar rumor?” bisik Do Gi.
“Rumor apa?”
Belum sempat Do Gi menjawab terdengar keributan dari arah dalam kediaman pangeran, disusul terpentalnya Kasim Sung keluar. 
Sialnya, maksud hati hendak menolong Kasim Sung, Ra On malah menginjak jemari kasim itu. HAHAHAHA. Terdengar suara penuh kemarahan Lee Young dari dalam—ia menyuruh Kasim Sung enyah dari sana.

Do Gi dan Sung Yeol membantu Ra On berdiri. Do Gi semakin yakin saja kalau rumor yang ia dengar benar adanya. Bahwa Dongungjeon—kediaman putera mahkota itu penuh dengan kotoran—kiasan tentunya. Ra On ngeri. Bahkan Kasim Sung diperlakukan demikian buruk, bagaimanalah dengan mereka yang masih baru? Jika mereka melakukan kesalahan, mereka bisa kehilangan hidup mereka. Tadinya saya berpikir Sung Yeol mengucapkan sesuatu yang serius dan masuk akal, ternyata dia hanya melemparkan lelucon garing. Iya benar-benar tidak lucum, heran saja mengapa Do Gi selalu tertawa dibuatnya ㅋㅋㅋ
Bad timing. Ra On dan teman-temannya telah berbalik meninggalkan kediaman pangeran saat Lee Young keluar melangkah cepat ke arah lain disusul Kasim Jang yang tergopoh-gopoh. Lee Young menendang Kasim Sung keluar kediamannya hanya karena ia datang memberitahu perihal kehamilan Ratu. Apa sulitnya mengucapkan selamat pada Ratu? Lee Young menyuruh Kasim Jang diam.
Dalam perjalanan menuju kediaman Ratu, Lee Young melewati sebuah tempat yang membuatnya teringat kenangan manisnya bersama ibunya 8 tahun silam—mendiang permaisuri kah? Mereka bermain alat musik tradisional. Gayageum?
Perdana Mentri Kim muncul menginterupsi Lee Young dan kenangannya tsk tsk tsk. Sekejap saja wajah sendu Lee Young beralih ceria—akting. Ia menyapa Perana Mentri Kim. Ia datang ke sana untuk mengucapkan selamat kepada Ratu. Tensi ketegangan sudah langsung bisa terasa.
Kalau ada yang berpikir Permaisuri senang dengan kedatangan Lee Young di kediamannya. Salah besar. Yang terjadi adalah saling sindir. Ternyata Lee Young lima tahun lebih mudah dari ratu. Tentang perebutan tahta, jarang ada yang berakhir manis tanpa ada pertumpahan darah. Dongyi aja yang menurut saya sedikit lebih tenang tetap juga diwarnai hal-hal seperti ini.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Selepas dari kediaman ratu, Lee Young dan rombongannya melewati lokasi ujian tertulis para peserta calon kasim. Ia tersenyum melihat sosok Ra On di antara barisan peserta lainnya.
“Apa yang akan terjadi bila mereka gagal tes?” tanyanya pada Kasim Jung.
“Mereka akan dipaksa keluar dari istana tanpa sempat menjadi seorang kasim.”
Setelah memergoki Ra On yang hendak melarikan diri beberapa malam sebelumnya, Lee Young yakin Ra On tak pernah berniat atau ingin menjadi kasim. Ia memikirkan sebuah ide brilian yang akan membuat Ra On menyesal telah mengerjainya di lubang tempo hari.
“Kasim Jang...” panggil Lee Young.
“Ya Yang Mulia...”
Lee Young memberikan sorot mata ke arah baju Kasim Jang. Dan kalau ada orang yang  melihat reaksi yang diberikan Kasim Jang, saya sangat yakin orang itu akan mikir macam-macam. Belum lagi aksi Lee Young selanjutnya yang merangkul Kasim Jang. Padahal intinya kan cuma mau minjem baju.... aya-aya wae nih orang berdua ㅋㅋㅋ
Majimaksarang.blogspot.co.id
Setelah melucuti seragam Kasim Jang, lalu ke manakah Lee Young? Yep. Pewaris tahta itu menuju ruangan di mana ujian tertulis tengah berlangsung. Kasim Sung dan Ma Jong Ja bertugas sebagai pengawas. 
Alangkah terkejutnya Kasim Sung mendapati Lee Young mengendap-endap memasuki ruangan. Lee Young memberikan isyarat agar Kasim Sung dan Ma Jong Ja lekas meninggalkan ruangan tersebut.
... Dan dengan senyum jahil tersungging di bibirnya, Lee Young pun segera beraksi. Mengerjai Ra On tentunya.
Pernah gak saat kesulitan menjawab soal ujian, kamu ngitungin kancing seragam atau pake cara tutup mata sambil mainin dua jari telunjuk—mempertemukannya di depan dada? Kalau Ra On, dia menggunakan pensil-nya. Dia gulirkan ke arah pilihan jawaban—multiple choice—di mana pensil itu berhenti bergulir maka itulah jawabannya ㅋㅋㅋ
Pada percobaan pertama, ia sukses. Namun memasuki percobaan kedua, gangguan itu akhirnya datang. Lee Young menginterupsi guliran pensil Ra On. Yang semula Ra On memilih empat, Lee Young memberikan angka tiga dengan jarinya tepat di depan wajah Ra On.
“Ini adalah tiga,” ucap Lee Young, ekspresi wajahnya jenaka sekali.
Kemunculan Lee Young jelas mengagetkan Ra On. Ia bertanya apa yang dilakukan Lee Young di tempat itu? Lee Young meletakkan ujung telunjuknya di bibir. Tanpa mengindahkan pertanyaan Ra On, ia malah menyindir jawaban di lembaran milik Ra On. “Bagaimana kau akan lulus tes kalau terus seperti ini? Kau tahu bahwa bila kau gagal, kau akan ditendang keluar dari istana.” Begitu katanya.
Ra On panik. Dikitarkannya pandangannya ke depan—tak ada kasim lain di sana. Ia lantas bertanya apakah Lee Young seorang kasim juga? Sebab ia yakin sekali, sebelumnya ia melihat Lee Young berseragam pengawal istana. Lee Young berkilah kalau Ra On yang tidak bisa membedakan karena saat itu gelap. Ia menyuruh Ra On melanjutkan ujiannya sambil tidak lupa mengangkat tiga jarinya.
Lee Young tahu Ra On berharap gagal dalam ujian itu makanya ia sengaja membantu Ra On agar lulus ujian HAHAHAHA. Ra On speechless HAHAHAHA. Peserta lain sudah mulai contek-contekkan, Lee Young berdehem keras dan suasana kembali stabil. /Kalau ada senior ngawas ujiannya modelnya kayak Lee Young gini, weeeeew udah abis jadi bahan gosip dan makian mahasiswa-mahasiswa yang malem sebelum ujian bukannya belajar malah ngelayap HAHAHAHA. Oh bukaaan. Itu bukan sayaaaaaaa!/
Ra On nyoba cara mengundi jawaban seperti tadi tapi Lee Young keburu datang dan mengacungkan dua jarinya di depannya HAHAHAHA. Trus Ra On mau menandai jawaban yang salah (sengaja dia), Lee Young dengan paksa memegang bagian atas pensil dalam genggaman Ra On dan mengarahkannya ke pilihan jawaban yang benar. Habis itu Lee Young-nya ketawa maniiissss banget gak pake gula #PukpukRaOn
Kali lain, Ra On serampangan memilih jawaban secara mendatar. Tiba-tiba Lee Young nongol (lagi), merampas lembar jawaban milik Ra On dan menggantinya dengan yang baru. “Tandai lagi,” katanya.
Akhirnya—setelah segala macam usaha dilancarkan Ra On—kertas jawabannya terisi penuh. Lee Young menyuruhnya mengumpulkannya. Putus asa, Ra On meremas lembar jawaban itu lalu dimasukannya ke dalam mulutnya.
Plak! Lee Young memukul belakang kepala Ra On. Lee Young mengambil lembar jawaban yang keluar setengah dari mulut Ra On. HAHAHAHA. Ra On memasang ekspresi orang menangis. Ih cute!
Hong Sam Nom, lulus!
Baru kali ini ngeliat orang lulus ujian tapi mukanya ditekuk macam gak ikhlas. Pengawas aja sampe heran.
Ujian ketiga adalah tahapan terakhir yang harus dilalui Ra On dan kawan-kawan. Disediakan pertanyaan dengan juri penilai masing-masing adalah Raja, Ratu dan Puteri Mahkota. Aturannya tetap sama, barang siapa yang tidak lolos tahapan ketiga maka ia tetap akan ditendang keluar dari istana. Ra On sudah punya rencana di kepala. Ia hanya perlu menyerahkan lembaran kosong untuk bisa gagal.
Do Gi membaca isi tugas yang ia pilih, lumayan membingungkan. Ra On juga ikut membaca, sambil tersenyum ia berkata bisa membantu Gi menyelesaikan itu.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Sementara itu, ketika malam tiba, Kim Yoon Sung bersama seorang gisaeng. Ia mencoba menggambar wanita penghibur itu. Rupanya Yoon Sung sedang mencari seorang gadis.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Ra On dihukum Kasim Sung menempati sebuah rumah tak terawat sementara waktu.teman-temannya heran apa yang sudah dilakukan Ra On hingga bisa tidak disukai kasim tertinggi? Memasuki rumah yang dimaksud, Ra On sudah merasa tak enak. Rumah itu tampak tak terurus. Ada seseorang di sana. Orang itu secepat kilat melompat ke atas bangunan. Sebuah pisau melayang dan tertancap tak jauh dari kaki Ra On. Gadis itu menjatuhkan lampu yang dipegangnya karena kaget. 
Belum habis kekagetannya, tiba-tiba sebuah kepala dengan posisi menggantung muncul dari atas. Ra On memekik keras sebelum ambruk tak sadarkan diri.
Bukan setan, bukan kolor ijo, bukan dedemit, pria berpakaian hitam itu adalah Kim Byeong Yeon.
Terdengar suara Lee Young dari luar memanggil Byeong Yeon. Byeong Yeon segera memberikan hormatnya melihat Lee Young memasuki ruangan. Menyadari ada seseorang tergeletak di lantai, Lee Young mendekati tubuh tersebut. Diamatinya seksama.
“Mongmongie~?” cetusnya.
Byeong Yeon bertanya apakah Lee Young mengenal orang itu. Sebagai jawabannya Lee Young menyeringai lucu.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Yoon Sung sudah selesai menggambar gisaeng yang menemaninya malam itu. Wanita itu berniat melakukan sesuatu yang lebih jauh, tapi Yoon Sung menyuruhnya pergi. Intinya Yoon Sung tak akan melakukan sesuatu pada wanita yang tak bisa membuat hatinya bergetar. #tsaaaah. Ia meniup lilin dan bangkit meninggalkan sang gisaeng. Mbak Gisaeng-nya pedoko kkkk.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Selagi Ra On ngorok melanjutkan acara pingsannya, Lee Young dan Byeong Yeon duduk minum-minum. Terkait kehamilan Ratu, Byeong Yeon menganjurkan agar Lee Young sementara waktu jangan dulu datang menemuinya ke tempat itu. Lee Young meminum gelasnya, ketika ia menoleh sedikit ke samping, Ra On sudah duduk di sana. Teng!
Byeong Yeon menyuruh Ra On kembali ke pondoknya. Tempat itu bukanlah untuk peserta pelatihan kasim. Ra On menolak, berkat seseorang tak ada ruangan untuknya bila ia kembali ke pondok pelatihan. Ia berkata sambil melirik tajam Lee Young.
“Kau lulus ujian berkat orang itu,” Lee Young menyindir balik. Byeong Yeon tak lepas mengamati.
Ra On bertanya siapa sebenarnya Lee Young? Seorang penjaga istana atau kasim? Kenapa dia terus muncul di mana-mana? Lee Young memberikan isyarat rahasia pada Byeong Yeon. Pada Byeong Yeon, Ra On juga bertanya jati dirinya. Apa kau seorang hantu yang tinggal di sini? Mukanya Byeong Yeon HAHAHA. Lee Young hanya tertawa mendengar itu.
Ada kotoran di atas kepalanya. Ra On mencoba membersihkannya. Byeong Yeon lebih dulu menangkap tangan Ra On sebelum menyentuh kepala Lee Young. Itu kepala Putra Mahkota, Neneeeeeeeeeeeeeeeng! Sentuh berarti metong lo! Ra On kaget alang kepalang.
Adegan itu malah memunculkan kesimpulan baru di kepala gadis itu. Ia menyangka Lee Young dan Byeong Yeon adalah sepasang kekasih HAHAHAHA. Ra On sudah benar-benar mabuk sekarang. Ia bicara sembarangan. Lee Young mendekatkan wajahnya pada Byeong Yeong. “Apa hukuman terbaik untuk anak anjing yang tidak patuh?”
Byeong Yeon ikut mendekat, “pelatihan yang ketat?”
“Tepat sekali. Seperti ini...” Lee Young menarik dagu Ra On. Digerakkannya tangannya tepat di depan wajah Ra On. Kiri-kanan, atas-bawah. Masih ada sisa-sisa kesadaran di kepala Ra On. Telunjuk Lee Young masih berada di depan wajahnya. Ia pun teringat ucapan Kasim Sung tentang siapa pun yang gagal dalam tes—orang itu akan ditendang dari istana. Ra On sudah sangat yakin ia akan gagal pada ujian ketiga.

Dan inilah yang dilakukan sebelum ia keluar istana; menggigit jari telunjuk Lee Young. HAHAHAHAHA.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Kediamannya dalam keadaan berantakan ketika Yoong Sung tiba. Perdana Mentri Kim—kakeknya sudah ada di sana. Perdana Menteri Kim sempat melihat bekas cat lukis di ujung lengan baju cucunya. Ia bertanya apakah posisi Yoon Sung terlalu rendah dan menganggap hidup membosankan?
Tidak, jawab Yoon Sung. Seorang pria yang puas dengan posisi rendah tidak akan menjadi besar. Itulah yang diajarkan kakeknya kepadanya. Kakeknya membenarkan, itu memang ajarannya. Yoon Sung harus meraihnya sedikit demi sedikit agar ia tak goyah saat sudah berada di atas. Perdana Mentri Kim memiliki gambaran besar mengenai masa depan Yoon Sung di kepalanya. Namun mengapa Yoon Sung melukis gambar-gambar seperti itu? Karena ketenaran dan harga diri? Atau demi keluarga untuk mendapatkan kekuasaan? Untuk masa depan bangsa? Wajah Yoon Sung berubah diliputi kesedihan.
“Semua itu dilukis hanya untuk menjadi lukisan,” ucapnya lirih.
Perdana Mentri Kim terus mendesak cucunya. “Apakah melukis gisaeng memberimu kenyamanan? Ataukah karena kesenangan dalam hidupmu yang membosankan dan kosong?”
Yoon Sung terdiam. Perdana Menteri Kim tertawa. “Lupakan,” sergahnya kemudian sambil memukul pahanya sendiri. “Bagaimana mungkin seorang anak harimau tanpa cakar tumbuh menjadi raja? Beritahu aku kalau kau ingin melukis lagi. Aku akan mengisi ruangan ini dengan giaseng.”
Wajah Yoon Sung tak berubah mendengar ucapan kakeknya. Ya, apa yang diucapkan Perdana Mentri Kim sambil tertawa itu, itu bukan pujian atau berisi ketulusan. Itu sindiran paling pahit bagi Yoon Sung. Sama saja kakeknya merendahkan dirinya. Merendahkan hobi/bakatnya.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Malam menjelang jam tidur. Lee Young tak henti-hentinya memerhatikan jari telunjuknya yang terkena gigitan Ra On. Kasim Jang geragapan melihat bekas luka itu. Lee Young mengaku habis digigit anak anjing. Dimana dan bagaimana pangeran bisa bertemu anjing gila yang berani menyakiti jarinya? Kasim Jang heran. Lee Young marah saat Kasim Jang mencoba menyentuh lukanya. Dia senyum-senyum bahagia memandangi jarinya. Ckckck segitunya.... baru juga bekas luka belum lainnya.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Ra On bertanya kepada Byeong Yeon ke mana perginya si sendok perak alias Lee Young?  Byeong Yeon memperingatkan agar Ra On sebaiknya tak perlu mencari tahu siapa atau ke mana Lee Young pergi. Memangnya kenapa? Byeong Yeon tak menjawab. Ia melompat, naik ke atas di mana ia pertama kali muncul di hadapan Ra On.
Keesokan paginya di kantor pengawasan kasim. Hanya Ra On satu-satunya yang tidak mengisi lembar jawabannya. Ia membiarkannya kosong. Ma Jong Ja menegur kenapa Hong Sam Nom (Ra On) tidak mengisi jawabannya? Itu berartiia akan diusir dari istana. Sung Yeol membelalak tak percaya. Setelah susah payah melewati dua sesi ujian dan di tahap akhir menyerah begitu saja? Ra On pasti sudah kehilangan akal sehatnya.
Kasim Sung muncul di belakang Do Gi, Ra On dan Sung Yeol. Ia menyuruh  ketiganya mengikutinya ke pesta yang akan diadakan Perdana Menteri Kim.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Di istananya, Raja Soonjo dengan wajah murung bertanya kepada Kasim Han apakah Menteri Peperangan tidak datang ke istana hari itu. Kasim Han melaporkan bahwa Menteri Peperangan meminta penundaan karena dia sedang tidak sehat. Raja Soonjo tahu—ia bertanya hanya sekadar saja. Istana terasa sangat sunyi hingga ia seolah bisa mendengar musik dari pesta Perdana Menteri Kim.
Lee Young ada di balik salah satu dinding tak jauh dari Raja dan Kasim Han berdiri. Ia mendengar itu semua. Raja menyuruh Kasim Han mengirimkan banyak makanan dan anggur kepada Perdana Menteri Kim, biar bagaimana pun pesta itu diadakan untuk merayakan kehamilan Ratu—anak Perdana Menteri.
Lee Young kemudian mengajak Byeong Yun ke pesta.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Jika Do Gi dan Sung Yeol disuruh membantu memasak, Kasim Sung memberikan tugas special untuk Ra On. Apa itu? Menangkap ayam. HAHAHAHA. Dia disuruh menangkap 20 ekor ayam. Kasim Sung hanya ingin memberi Ra On pelajaran karena dia kasar—yakin nih Ra On gak bisa nangkep 20 ekor ayam? Let’s wait and see wkwkwk.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Taraaaaaaaaa! Welcome to peternakan ayahm, Ra On-aaah HAHAHAHA. Ayam-ayam cokelat binti gemuk ini mengingatkan saya pada Matilda, Gloria dkk dari Three Meals A Day-nya Taecyeon ㅋㅋㅋㅋ
Ra On menguatkan tekad sebelum melakukan penggempuran ayam-ayam itu. Nah kalau cara Ra On nangkep ayam ini serta merta membawa ingatan saya pada Running Man episodenya Kim Soo Hyun (You Who Came From The Star) koplak. Ra On asal ngejar aja gak pake teknik. Ayam sebanyak itu masa gak bisa nangkep satuuuu aja wkwk boong ding—saya juga kalau disuruh nangkap ayam sama emak, bakal kepayahan. Eh, btw kenapa Ra On gak make umpan makanan aja? /bahas aja terus acara tangkap ayamnya HAHAHA/
Yoon Sung datang ke kediaman kakeknya—Perdana Menteri. Ia disambut hangat oleh pembantu-pembantu kakeknya. Dari ekspresi wajahnya, kita tahu Yoon Sung tak nyaman dengan itu.
Oke, kembali ke acara tangkap ayam, Ra On berhasil menumbangkan tiga ekor ayam wkwk. Masih ada 17 ekor tersisa. Fighting, Ra On-aah! Demi menangkap seekor ayam, Ra On rela kejar-kejaran dengan ayam itu hingga memasuki pekarangan rumah. Ayamnya lompat ke atas atap. Udah mirip kejar daku kau ku-kasih harapan palsu belum nih? Makin dikejar makin bertingkah aja nih ayam.
Selagi Ra On dan ayam bertempur di atas atap, nun di bawah sana, ada Yoon Sung dengan wajah galaunya. Ia mendesah, hidup terasa membosankan. Ia berharap saat itu ada petir menyambarnya. *(tentang ini saya agak ragu, saya bisa mendengar Yoon Sung menyebut byeol, setahu saya itu artinya bintang. Bener gak sih? Biar lebih enak, kita anggap saja Yoon Sung berharap kejatuhan bintang. Sip?

Byeol-nya lagi di atas atap, lagi ngejar ayam PHP wkwk. Tepat saat Ra On sudah hampir berhasil menjangkau pundak si ayam rese, ayam itu terbang dengan eloknya. Alhasil pegangan Ra On terlepas dan ia pun meluncur ke bawah.
Yoon Sung memiliki gerak refleks yang sempurna karena ia bisa dengan sigap, tepat, tanpa cacat menangkap tubuh Ra On.  /bgm-nya romantissyyyy pisaaaaan, gerak slowmo-nya ciiiiiin, drama abissss wkwkwk/

Kaget-saling tatap sekian detik-dan tersadar. Itulah yang terjadi pada Ra On. Lepas dari keterpukauannya, ia hendak melepaskan diri, turun dari gendongan Yoon Sung. Tapi Yoon Sung menanahannya lebih lama. Cie cieee cieeee yang bentar lagi bakal garuk-garuk tembok gara-gara liat senyumnya Yoon Sung cieee. Iyaaaaaaa itu sayaaaaaaaaaaaa, mau apa lo ㅜ.ㅜ
Ayam cupid itu melenggang manis.
“Kau benar-benar jatuh, byeol-ah,” ucap Yoon Sang. Aaaaccckkk suaranya Yoon Suuuuung! Biasanya kan cuman denger Jinyoung nyanyi-nyanyi sengau ㅜ.ㅜ /garuk-garuk tembok tetangga/
Majimaksarang.blogspot.co.id
Gongjung-Mama alias Puteri Myungeun duduk bertopang daku, masih terbawa arus patah hati. Aigooo. Ma Jong Ja datang menghadap membawa kertas ujian paserta pelatihan. Soalnya berasal dari para kasim dari setiap kediaman untuk membuat pertanyaan. Myungeun tak tertarik. Ia meminta Ma Jong Ja membaca dan meluruskan kertas jawaban itu.
Pelayan Myungeun bertanya apa Myungeun benar-benar tak tertarik membacanya? Myungeun menggerutu. Ditariknya sehelai kertas jawaban yang dipegang pelayannya. Lembar jawaban itu milik Do Gi—yang jawabannya dituliskan Ra On. Myungeun  terhenyak. Gemetar membaca tulisan di kertas berwarna merah itu. Kemarahannya muntab. Tulisan itu persis sama dengan tulisan tangan di surat-surat cinta yang dikirimkan Jung Do Ryong. Ya iyalaaah sama! Wong yang nulis juga sama orangnya.
Yoon Sung dan Ra On berjalan bersisian sehabis menangkap ayam. –wait, bukannya lokasi tangkap ayam dan kediaman Perdana Menteri berada di satu areal yang sama? Trus hendak ke mana Yoon Sung dan Ra On? Background di belakang mereka seperti jalanan masuk hutan dengan pemandangan batang-batang pohon bambu—
Yoon Sung tak lepas memandangi Ra On. Sebelum Yoon Sung menebak, Ra On lebih dahulu mengaku bahwa dirinya adalah orang yang sama yang pernah menyamar supaya bisa lepas dari petugas kerajaan tempo hari.
“Aku tidak berbicara tentang itu,” sela Yoon Sung.
Ra On berdehem, “apa lagi yang perlu dibicarakan?”
Yoon Sung terbayang lagi saat ia menyentuh dan menarik bahu Ra On hingga merapat padanya di malam ketika Ra On nyaris ketahuan oleh petugas kerajaan. Lalu kejadian sebelumnya saat ia menangkap tubuh Ra On yang jatuh melayang dari atas atap nyaris menimpanya.
“... apa kau benar-benar seorang kasim?” tanyanya.
Ra On berdehem lagi, berusaha menyembunyikan kegugupannya. “Tentu saja,” katanya. “Apa ada sesuatu seperti kasim palsu?”
“Apa kau benar-benar ingin menjadi kasim?”
“Sepertinya kau merendahkan kasim hanya karena kami memiliki cacat? Apa kau mencoba untuk mengatakan kasim itu bukan seorang pria sejati?”
“Bukan itu yang aku maksud...”
“Kalau begitu maksudmu aku tidak layak menjadi seorang kasim karena aku pernah dikejar petugas kerajaan?”
“Bukan.”
“Lantas kenapa kau terus menatapku?” tantang Ra On.
Yoon Sung memajukan wajahnya mendekat ke Ra On. “Tidak ada kasim secantik dirimu.” Ia kemudian tersenyum penuh arti. “Lagipula tidak ada yang salah dengan seorang pria yang terlihat cantik.” Yoon Sung menepuk santai pundak Ra On. Hanya itu yang ingin ia katakan.
Ra On menghamburkan helaan napas lega. Ditinggalkannya Yoon Sung.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Kasim Sung menyangka Ra On  pasti sudah lelah sekarang setelah bertempur melawan ayam wkwk. Belum tahu dia... Kasim Sung belum jauh melangkah, tatapan matanya menubruk setumpuk ayam betina yang sudah tak sadarkan di sebuah bangku panjang. HAHAHAHA, makin dramatis saat seekor ayam gemuk gedebukan ke tanah. Masih setengah sadar kalik ya? Rada-rada fuyeng ya, Yam? Kasian.
Kasim Sung mengomel, Ra On benar-benar menangkap 20 ekor. Kim Ui Gyo datang marah-marah gara-gara ayam-ayam itu. Secepatnya, Kasim Sung putar badan, melarikan diri wkwk.
Pesta di kediaman Perdana Menteri berlangsung meriah. Perdana Menteri Kim menyebut dirinya pohon yang indah, lalu siapakah pohon yang sakit? Raja atau Putera Mahkota Hyomyeong (Lee Young)? Perdana Menteri mengajak bersulang para hadirin yang datang memenuhi undangan. Sebuah panah melesat cepat mengenai gelas berisi arak yang diangkat Perdana Menteri. Para hadirin kocar kacir seketika. Dasar pengecut, digertak dikit aja pada maburrr. Perdana Menteri melihat sosok berbaju hitam bertopeng yang telah menembakkan anak panah tersebut. Ia memerintahkan anak buahnya agar segera menangkap orang itu. 
Langkah anak buah Perdana Menteri tertahan di gerbang. Ada sesuatu yang menahan mereka di sana. Siapa? Ialah Lee Young and his left hand, Byeong Yeon! Rigth hand-nya Lee Young itu Kasim Jang kkkk. Proses munculnya Lee Young yang perlahan keren banget. Susah deeeh yang udah tampan dan berkharisma dari sono-nya. Dipakai efek apa pun, hasilnya pasti cakep. “Simpan pedangmu, ini adalah Putra Mahkota.” Byeong Yeon menghalau para anak buah Perdana Menteri yang mencoba mendekati Lee Young. And for a moment let me fangirl-ing over Kim Byeong Yeong! Argh, he was so cool during that scene.
Perdana Menteri memerintahkan mereka menyingkirkan pedang dan menyapa Putra Mahkota dengan baik. Lee Young tersenyum ke arah Perdana Menteri sambil mengangkat sesuatu dalam bungkusan di tangannya—arak kah?
Setibanya di hadapan Perdana Menteri, Perdana Menteri bertanya ada hal apakah kiranya yang membawa Pangeran Hyomyeong keluat istana?
“Aku tidak bisa melewatkan pesta dengan minuman dan musik. Anak yang dikandung Ratu adalah adikku. Apakah aneh kalau aku ingin merayakannya bersamamu?” tanya Lee Young. Ia kembali menjadi Putra Mahkota yang slenge’an. Mau tak mau, Perdana Menteri menerima arak pemberian Lee Young.
“Tapi kenapa kalian semua terlihat begitu serius saat sedang berpesta?”
“Kami mendapatkan pengunjung yang tidak diharapkan dan menyebabkan keributan.”
Byeong Yeon melihat surat yang tertancap bersama anak panah di dinding. Begitu juga dengan Lee Young. Ia mengambil surat itu dan membacanya. “Ada makhluk-makhluk berbudi luhur. Para pejabat adalah mak.hluk berbudi luhur. Semua orang tidak bersalah. Kemiskinan ini satu-satunya dosa mereka. Para pejabat diperas oleh orang-orang. Orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, karena pejabat.”
Lee Young mengulum senyum—entah maknanya apa. “Benarkah?” katanya pada Perdana Menteri Kim. Juga pada pejabat lain yang hadir di sana. Tak ada yang menimpali ucapannya. Ia lantas melanjutkan bahwa bagaimana mungkin para pejabat disalahkan atas kemiskinan yang menimpa para rakyat, Raja yang tidak bisa mengendalikan para pejabat yang harus disalahkan. Kalimatnya ini membuat wajah-wajah di depannya kaget. “Itu hanya lelucon,” tingkahnya.
“Sekarang, mari kita rayakan kehamilan Ratu. Maukah kau menuangkan satu gelas untukku?” pinta Lee Young pada Ui Gyo. Karena Ui Gyo tak bereaksi, ia beralih pada Geun Gyo. Sama saja. Terakhir ia mengarahkan gelasnya pada Perdana Menteri. Byeong Yeon memanggilnya saat itu. Lee Young membalikkan tubuh dan mendapati kehadiran Yoon Sung.
“Bolehkan aku menuangkan segelas anggur untukmu?” tanya Yoon Sung. Kening Lee Young berkerut.
Trio Ra On, Do Gi dan Sung Yeol muncul dari lain setelah keributan kecil itu usai. Tak ada pesta. Hanya menyisakan Lee Young, Yoon Sung yang duduk semeja, sedangkan Byeong Yeon berdiri di sisi kursi pangeran. Ra On hanya sempat menikmati pemandangan sosok Lee Young dari belakang ㅋㅋㅋ
Lee Young tak seinci pun menampakkan wajah senangnya dengan kehadiran Yoon Sung, berbanding terbalik dengan Yoon Sung. Yoon Sung menyesal tak segera mengunjungi pangeran sekembalinya ia dari Qing (China). Lee Young menyambut dingin, Yoon Sung tak perlu menemuinya.
“Kau dan aku tak sedekat itu. Kau masih tetap pembohong yang buruk,” sindir Lee Young.
“Dan kau masih tetap dingin padaku,” sela Yoon Sung tersenyum. /wae nae gaseumi appasso ㅜ.ㅜ/
“Apa itu mengganggumu?”
“Aku tidak bisa mengatakan tidak. Kau adalah...”
“Aku adalah temanmu.” Datar sekali wajah Lee Young. Sekilas kemurungan tampak di wajah Yoon Sung. Auch. Sebuah penolakan yang menyakitkan atas keramahannya. Saya mungkin bisa salah, tapi di scene ini saya merasa Yoon Sung tulus terhadap Lee Young. Yoon Sung menawarkan diri menuangkan minuman untuk Byeong Yeon, tapi pria berbaju hitam itu bergeming.
“Kenapa? Kau tidak mau karena aku bukan temanmu lagi?”
“Aku tidak pernah minum saat aku sedang menjaga Putera Mahkota,” tampik Byeong Yeon.
“Kau masih tetap seorang hamba setia dari Yang Mulia, dan juga teman dekatnya.” Kata Yoon Sung.
Byeong Yeon melirik Lee Young. Tanpa mengatakan apa-apa Lee Young meminum araknya. /Saya sudah bisa menebak apa yang kira-kira telah terjadi pada persahabatan tiga orang ini, dan penyebabnya pasti tak jauh dari urusan tahta/
Di kejauhan, Perdana Menteri Kim dan Ui Gyo mengamati ketiga orang itu. Kata Ui Gyo, Yoon Sung lebih baik dan cocok dari Lee Young untuk menduduki posisi Putera Mahkota. Satu-satunya hal buruk yang menghalangi jalan Yoon Sung adalah karena ia terlahir dari keluarga Kim. Waeyo? Apa mungkin karena Yoon Sung bukan keturunan langsung Raja Soonjo?
Perdana Menteri Kim teringat kejadian 8 tahun silam sewaktu peramal wajah yang telah mengamati wajah Putera Mahkota datang melaporkan hasilnya padanya. Menurut peramal wajah itu, Putera Mahkota mungkin terlihat lemah hati karena penampilannya yang lemah lembut, tapi sebenarnya dia sangat kompetitif dan berani. Ia bisa melihat kharisma dari anggota keluarga kerajaan di wajahnya. Berita buruknya, menurut ramalannya putera mahkota ditakdirkan berumur pendek. Ia juga bisa merasakan energi yang jarang ada dimiliki salah satu temannya. Temannya itu terlihat berhati hangat dan berani seperti orang yang hebat. Anak tersebut memiliki wajah dari seseorang yang bisa menjadi Raja yang hebat. Dia mengenakan tutup kepala dengan bordir bangau.
Perdana Menteri Kim menghardik si peramal. Itu benar-benar tak masuk akal. Ia akan berpura-pura tak mendengar apapun tentang hal itu. Ia melarang peramal itu tak mengatakan kepada siapapun apa yang baru saja peramal itu sampaikan padanya.
Perdana Menteri Kim menemui Yoon Sung dan rombongan Putera Mahkota yang sedang bermain bersama di salah satu halaman istana. Tutup kepala dengan bordir bangau itu adalah apa yang dikenakan Yoon Sung.
Lee Young dan Byeong Yeon meninggalkan Yoon Sung. Perdana Menteri Kim menoleh pada Ui Gyo, “bukankah waktunya tepat? Putera Mahkota muncul ketika panah ditembakkan?”
Jadi kecurigaan itu diarahkan pada Lee Young?
Sementara Lee Young sendiri turut bertanya-tanya siapa pelaku penembakan itu.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Ra On menjamu Lee Young ayam masak dari kediaman Perdana Menteri. Mendengar itu, Lee Young menolak makan.
“Aigooo, kau masih tak tahu bagaimana menghargai sebuah hadiah?” Ra On memanyunkan bibirnya. “Padahal ini adalah hadiah terakhir yang bisa aku berikan kepadamu,” kata Ra On setengah berbisik.
“Apa?” kaget Lee Young.
Ra On tersenyum. “Sepertinya kau marah tentang sesuatu.” Disodorkannya piring berisi ayam kepada Lee Young. “Kalau kau marah dalam keadaan lapar, kau akan sengsara.”
“Apa kau merasa sengsara saat kau lapar? Tidak semua orang merasakan hal yang sama sepertimu. Jangan berpikir orang lain akan sepertimu. Aku belum pernah kelaparan sebelumnya.”
Lee Young berniat meninggalkan Ra On dan ayamnya.
“Mungkin kau belum pernah merasakan kelaparan sebelumnya. Tapi kau pasti sudah berkali-kali merasakan patah hati,” ucap Ra On.
“Apa?” Lee Young terpancing.
“Sangat mudah untuk membantu orang-orang yang lapar. Tapi sulit untuk menghibur orang-orang yang patah hati karena mereka—orang-orang yang patah hati itu cenderung untuk berbohong bahwa mereka baik-baik saja.”
Lee Young menyuruh Ra On berhenti mengoceh.
“Bagaimana tentang ide berbagi kasih sayang dengan seseorang yang kaya hatinya?” Dengan wajah tersenyumnya, Ra On memberikan tawaran pada Lee Young. Dan bagi Raon, orang paling kaya hatinya di seluruh Joeseon adalah dirinya. Wkwkwk. Ia memberikan sepotong paha ayam paling besar pada Lee Young.
Majimaksarang.blogspot.co.id

Myungeun membaca nasihat yang tertulis di lembaran kertas berwarna merah.
Kau tidak memiliki nafsu makan, tapi itu bukan karena makanan. Kau merasa lemah, tapi itu bukan karena suatu penyakit. Tidak ada obat untuk penyakit cinta. Ini bukan waktunya untuk mengatasi perasaan itu. Kau harus menahan rasa sakitnya. Daripada berpikir kau mencintai seseorang yang tidak bisa kau miliki, mencoba beroikir bahwa kau membuat kenangan yang baik, yang bisa kau hargai untuk waktu yang lama.
Waaah. Advice-nya Ra On spot on bener. Ini bukan hanya untuk Puteri Myungeun—tapi juga untuk para brokenhearts di luar sana. Sesuatu yang tidak bisa membunuhmu (seharusnya) akan membuatmu semakin kuat. Tidak ada pilihan selain terus melangkah ke depan. Patah hati hanya satu dari sekian banyak luka yang ditawarkan kehidupan. Kelak, di suatu hari yang teduh, kita bisa mengenang hari-hari gelap itu dengan wajah sumringah. Karena kita berhasil membuktikan bahwa kita kuat.
Myungeun memeluk kertas merah itu sambil menangis. Tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu. Dikeluarkannya surat dari laci mejanya. Ia membandingkan surat yang diterimanya dari Jung Do Ryong dan kertas berwarna merah lainnya. Persis sama. Tak ada bedanya. Kan yang nulis Ra Ooooooon. Myungeun berteriak marah.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Byeong Yeon sudah ikut bergabung makan ayam bersama Ra On dan Lee Young. Ra On berkata ia melihat Putera Mahkota beberapa saat lalu di kediaman Perdana Menteri Kim. Sontak Lee Young melirik ke arah Byeong Yeon.
“Kau melihat Putera Mahkota?”  ulang Byeong Yeon.
“Bukan wajahnya. Hanya bagian belakang kepalanya,” tukas Ra On
Doeeeeeng! Lee Young bernapas lega. Gantian Byeong Yeon yang melirik Lee Young HAHAHAHA.
Ra On bertanya kepada pria di hadapannya apakah mereka tahu apa julukan untuk Putera Mahkota? Lee Young sok tertawa cool. Percaya diri benerrrr julukannya bakalan bagus.
“Apa itu? Pangeran Cantik?” tanyanya.
“Pangeran Kotoran.” Yang menjawab Byeong Yeon. Wajahnya tertuju pada makanan. Tanpa ekspresi. Lee Young menghadiahi tatapan tajam Byeong Yeon.
“Lihat! Semua orang tahu!” cetus Ra On bahagia. Coba kalau dia tahu siapa putera mahkota itu... Hukuman gantung barangkali tidak akan cukup.
“Bagaimana  dengan yang lain?”
“Darah Campuran.” Err. Voldemort? Half-Blood Prince. HAHAHAHAHA. Toloong deh Byeong Yeon cerdas bingit.
Siuuung! *efek suara pedang terhunus* Lee Young menancapkan sendoknya ke meja. Ekspresinya menyiratkan kalau ia siap menelan mentah-mentah Byeong Yeon.
“Itu benar!” sambut Ra On. “Mereka mengatakan setengah dari darah Putera Mahkota adalah dari binatang dan setengah lainnya dari manusia. Dan dia tidak tahu kapan dia boleh atau tidak boleh menggonggong seperti anjing gila—“
Lee Young memutus celotehan menjengkelkan Ra On dengan memasukan sepotong daging ayam ke mulut gadis itu. HAHAHA. Sedangkan Byeong Yeon berhenti makan sejenak. Sadar ia sudah salah bicara wkwk.
“Ngomong-ngomong apa dia benar-benar pemarah?” tanya Ra On lagi.
Lee Young membanting sendoknya “Sudah kukatakan untuk berhenti!”
Byeong Yeon tak bisa menahan tawa. Ra On takjub melihatnya. Ia menyangka Byeong Yeon memiliki masalah dengan ekspresi wajahnya. Ditatap sedemikian oleh Lee Young membuat Byeong Yeon terbatuk, salah tingkah.
“Aku tidak tertawa,” katanya berbohong.
“Aku melihatnya,” balas Lee Young.
Byeong Yeon memucat.
“Kau pasti menganggap julukan untuk Pangeran Mahkota ini lucu.”
Byeong Yeon skakmat, tak bisa menemukan kata-kata untuk membela diri. Ia terbatuk keras. Lee Young menepuk punggungnya. “Pasti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.”
Chemistry trio ini benar-benar bagus. Lucunya, tak ada satu pun dari mereka yang sudah saling mengenalkan diri masing-masing. Alamiah saja.
Majimaksarang.blogspot.co.id
Pagi hari, para peserta pelatihan kasim sedang membersihkan halaman istana. Sam Nom sudah kelewat bahagia membayangkan dirinya gagal mengikuti ujian ketiga.
“Apa kau yang bernama Hong Sam Nom?” Seseorang muncul di belakangnya. Ra On belum sempat mengatakan apa-apa ketika mulutnya dibekap. Ia diseret dari sana.
... dan ia berakhir di penjara. Di sampingnya sudah ada Do Gi.
Puteri Myungeun juga berada di sana bersama rombongannya. Ia bertanya apakah benar kalau Ra On yang menulis kalimat di lembaran kertas berwarna merah itu? Ra On mengakuinya. Myungeun menjatuhkan sehelai kertas lagi—surat Jung Do Ryong.  Ra On terbata-bata.
Myungeun marah besar. “Beraninya kau mengejekku dengan menulis surat cinta atas nama orang lain? Beraninya seseorang seperti kau—“
“... beraninya kau mengejek aku, Sang Tuan Puteri?!”
“Tuan Puteri?” Ra On tersentak. Saat itu ia segera menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia menunduk, air matanya berhamburan. “Aku sudah melakukan dosa besar!”
“Baguslah kau menyadarinya.” Usai berkata demikian, Myungeun menarik gagang pedang milik salah seorang pengawalnya. “Aku akan membunuhmu sesuai permintaanmu!” Myungeun mengangkat pedang itu.
Ra On dan Do Gi menutup matanya rapat-rapat.
“Berhenti.”
Suara yang muncul dari belakang menghentikan gerakan Myungeun. Desah napas lega dihembuskan Ra On. Myungeun membalikkan badan. Terdengar tapak-tapak langkah kaki menyentuh anak tangga. Salah satu pelayan Myungeun memanggil nama Seja (Putera Mahkota) lalu menundukkan kepala hormat.
Ra On yang ikut menatap ke arah yang sama tak bisa menyembunyikkan kekagetannya.
—well,  Ra On-ah, dialah sosok Putera Mahkota yang kamu hina habis-habisan malam sebelumnya. Chukkae.... ㅋㅋㅋ
Bersambung ke episode 3