Saya patah hati. Jenis patah hati yang tidak bisa disembuhkan dalam waktu dekat.

Semula, tidak ada yang menyangka The Red Sleeve akan berhasil menarik perhatian penonton domestik dan internasional. Terlebih bila melihat drama pesaing di slot waktu (akhir pekan) yang bersamaan dari stasiun tivi lainnya yang diisi nama-nama besar.

Saya juga tidak menaruh ekspektasi besar terhadap drama sageuk MBC ini. Mulai menonton gara-gara melihat reaksi teman-teman yang sudah menonton duluan episode pilotnya, banyak yang bilang bagus.

Dan drama yang tidak terlalu diperhitungkan ini nyatanya menjadi kuda hitam di akhir tahun 2021. Memulai episode perdananya di kisaran rating 5%, The Red Sleeve berakhir dengan tone yang sangat memuaskan, raihan rating dua episode terakhirnya menembus 17%, pencapaian tertinggi drama MBC selama beberapa tahun terakhir. Melihat prestasi The Red Sleeve, muncul pertanyaan menggelitik di benak sayaㅡapakah MBC tidak menyesal hanya memberikan 16 episode + 1 untuk drama yang mendapuk Lee Se-young dan Lee Jun-ho sebagai pemeran utamanya? Episode 15, 16, 17 mendapatkan waktu tambahan, yang kalau dihitung-hitung lagi, dengan menggunakan waktu normal The Red Sleeve berakhir di episode 18-19 (?). nanggung sekali. Dan memang, 16 episode untuk sageuk agak kurang, minimal 20 episode-lah. Tapi, ya sudahlah… The Red Sleeve sudah menyelesaikan masa penayangannya. Meninggalkan saya yang masih saja terus menangis dilatarbelakangi OST I’ll Leave You yang dinyanyikan penyanyi senior Korea Selatan, Lee Sun Hee. Akhirnya saya paham mengapa Lee Sun Hee disimpan di urutan paling akhir pengisi OST The Red Sleeve. I’ll Leave You menjadi OST pamungkas, OST penutup yang menjadi klimaks kesedihan kisah Deok-im dan Yisan, yang akan terus terngiang di telinga penonton. I’ll Leave You membawa kesedihan yang begitu dalam dan setia yang membuat saya tanpa sadar menarik napas panjangㅡpanjang sekali dan menahannya beberapa detik saat mendengarkannya. Saya berakhir menangis sedih. Saya tidak bohong. Oh iya, saya menulis draft ini dengan mata bengkak.

Geudae… geudaega… geuriwoyo…



Sampai di episode 15 pekan lalu, saya masih fokus mengamati perkembangan kisah cinta Yisan dan Deok-im. Berempati pada Yisan yang sudah berkali-kali ditolak Deok-im, namun tetap setia dengan perasaannya. Padahal di posisinya sebagai penguasa Joseon, ia memiliki kuasa untuk memaksa Deok-im yang hanya seorang dayang istana menjadi selirnya, namun itu tidak dilakukannya. Yisan menghormati Deok-im. Dalam catatan sejarah juga tertulis demikian. Yisan bahkan rela menunggu selama 15 tahun. 15 tahun bukan waktu yang ringkas untuk menahan perasaan cinta. Tapi Yisan bisa.

Saya tidak menangis menonton episode 13-15. Kesedihan yang saya rasakan membentuk nyesek dan rame-rame ngumpul di dada—ya bayangin aja gimana rasanya sedih ga ketulungan tapi ga bisa nangis. Air matanya nggak mau keluar tapi bengep di rongga dada. Rupanya tabungan nyesek saya memang disimpan untuk meledak sempurna di episode penutup. Episode 16-17. Saya menonton dua episode terakhir The Red Sleeve dengan hati yang berat sekali. Sungguh episode penutup yang keterlaluan sedihnya. Belum juga memasuki pertengahan episode 16, air mata saya sudah menyerah pada gravitasi. Tumpah ruah. Saya tidak kuat. KENAPA BISA SE SEDIH INI SIIIIH KENAPAAAAA? ARRRGGHHHHH.

Saya mulai menangis di adegan Deok-im yang dititahkan agar memenuhi undangan Jeongjo ke kediaman pribadinya. Titah Raja tidak bisa ditolak. Pertahanan Deok-im terhempas. Sumpah ya, saya nangis sediiiih banget liat raut wajahnya Deok-im. Matanya kehilangan cahaya. Dia terlihat seperti seseorang yang sudah kehilangan seluruh apa yang ada padanya,. Seseorang yang dipaksa menyerah dan dia tidak punya pilihan lain. Deok-im tidak berdaya. Mana adegan itu diiringi suara menyayat Lee Sun Hee. Manalah bisa saya pura-pura strong.  KEREN GILAK AKTINGNYA LEE SE YOUNG. Saya tersihir. ㅜ.ㅜ

Saya pikir, sebelum menonton episode 16-17, yang akan membuat saya ambyar, patah sepatah-patahnya hati adalah bagaimana kisah Yisan-Deok Im diakhiri. Bagaimanapun sedihnya, saya sudah berusaha semampunya menyiapkan diri. Toh sejarah aslinya memang Yisan ditinggal mati Deok-im kan?—ini kisah yang sudah berulang kali saya khatamkan merujuk pada banyak sumber. Di Twitter, di website sejarah dll. Saya rasa-rasanya sudah membaca semuanya, sudah biasa terpotek berulang kali sebelum dibikin K.O di episode terakhir.

…. Ternyata derita kekalahan, kehilangan, dan kesedihan yang meng-ada dan bernapas di mata Deok-im lah yang membuat saya menangis hingga terisak lama sekali. Episode 16-17 menyadarkan saya kembali mengapa drama ini diberi judul The Red Sleeve. Drama ini, meskipun mengambil latar sejarah Raja Jeongjo, namun pov yang digunakan sejak awal adalah pov Sung Deok-im sebagai dayang istana. Sedangkan kisah cintanya dengan Raja Jeongjo adalah salah satu bagian dari tuturan hidup dan pikiran-pikirannya yang di-capture dan dikisahkan dengan sangat baik oleh The Red Sleeve. Ini adalah drama fiksi berbasis sejarah, apa yang ditampilkan didasarkan pada apa yang sudah terjadi dan tercatat sejarah dengan sedikit penambahan namun tidak melenceng jauh dari kisah aslinya. Walaupun Deok-im tidak meninggalkan satu pun tulisan atau bukti mengenai kehidupannya (dari yang saya baca ya, tolong dikoreksi jika saya keliru), The Red Sleeve berupaya menuturkan apa saja yang mungkin terjadi dan berkelindan di benak Deok-im pada masa-masa 15 tahun penolakannya terhadap cinta Jeongjo.

Jika menilik sejarah, keberadaan Sung Deok-im sebagai selir Jeongjo, kehidupan berikut kisah cinta dan kematiannya, hampir semuanya diceritakan atau bersumber dari King Jeongjo. Maka tidak mengherankan bila yang banyak dibicarakan ratusan tahun kemudian adalah betapa besar kasih sayang dan cinta yang telah diberikan Jeongjo kepada Deok-im. Jeongjo hidup di era di mana perempuan berada jauh di bawah laki-laki dalam segala hal, ditambah posisinya sebagai raja Joseon—semakin seuperior lah Jeongjo. Namun terlepas dari keuntungan dan kelebihan yang dimilikinya, Jeongjo bisa memperlakukan Deok-im setulusnya perlakuan bahkan setelah Deok-im meninggal. Setidaknya itulah yang tersirat dari tulisan-tulisan yang ditinggalkannya untuk mengenang Selir Uibin.



Lalu, bagaimanakah perasaan Sung Deok-im kepada Jeongjo? Sayang sekali, jawaban untuk pertanyaan itu tidak ditemukan di lembar sejarah. Melalui The Red Sleeve jawaban itu coba dihadirkan se-wise mungkin. The Red Sleeve adalah tentang Sung Deok-im, dayang istana yang berakhir di posisi selir dengan gelar Ui-bin.

Seperti Deok-im, saya mencoba membayangkan akan seperti apa jadinya bila saja Yisan bukanlah raja Joseon, bila saja ia hanya seorang pria Joseon biasa, dengan segenap cinta yang ia miliki untuk Deok-im, betapa bahagianya kehidupan mereka…. dan Deok-im bisa memeluk hangat kehidupan biasa yang diimpikannya tanpa perlu kehilangan dirinya sendiri.

Sedih sekali. Karena based on kisah nyata, himpitan nyeseknya The Red Sleeve nggak bisa dikalkulasikan. Drama ini dengan segala yang ada padanya berhasil menyakiti banyak hati penontonnya. Datang dengan komikal, lalu pergi meninggalkan tangis yang tidak tahu mesti diapakan supaya membikin lega. Kesedihan yang akan terus diingat untuk waktu yang lama.

Mengapa The Red Sleeve terasa spesial di hati saya? Saya mencoba merangkumnya berikut ini, melalui hal-hal yang menjadi alasan saya tidak bisa melepaskan diri darinya.

ㅡDeok-im’s pov


Melalui The Red Sleeve saya belajar banyak tentang kehidupan istana pada masa Joseon. Aturan-aturan kerajaan yang mengikat seluruh manusia yang hidup di dalamnya. Saya pernah bilang di postingan sebelumnya kalo saya ini bukan fans drama sageuk. List tontonan sageuk saya nggak banyak. Seingat saya, selagi menonton, saya tidak begitu memperhatikan detail yang berhubungan dengan tradisi dan budaya yang dibawa oleh drama sageuk yang saya nonton itu. Kebanyakan drama sageuk tersebut memfokuskan pada raja dan konflik politik yang menjadi latar utama penceritaannya. Emosinya sudah tersita habis untuk itu. Berbeda dengan The Red Sleeve, ada begitu banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari drama ini, tentu saja dengan bantuan informasi tambahan dari penonton lain yang memang tahu dan mengerti aspek-aspek tradisional Joseon baik yang berbentuk symbol pada makanan, aksesoris, dll juga aturan-aturan.

The Red Sleeve bermula dari sudut pandang Sung Deok-im sebagai dayang istana. Adegan Dayang Jo dan Deok-im kecil menatap iring-iringan yang mengantar jenazah mendiang neneknya Yisan, Royal Consort Yeong. Mungkin dari situlah Deok-im mulai menumbuhkan jarak dengan kehidupan istana. Meneguhkan niatnya bahwa ia hanya sekadar pelayan raja. Ia tidak menginginkan lebih dari itu.

Kalau saya tidak salah mengingat, ini pertama kalinya saya menonton sageuk berlatar istana jaman Joseon yang tampak tidak mau terlalu repot membahas konflik politik kerajaan yang sudah pasti akan membuat naik darah. Saya tidak menganggap pemberontakan Dayang Jo sebagai sesuatu yang berat. Pernah ada yang lebih kejam dan tragis dari itu.

Menjadi dayang istana artinya bersedia kehilangan kebebasan dan hanya mendedikasikan hidup sebagai Wanitanya Raja. Sekira 700-an dayang hidup di bawah payung istana, mereka tidak diperbolehkan jatuh cinta dan menikah dengan pria lain. Jika nekat melanggar, hukumannya berat. Hukuman mati.

Deok-im sebagai salah satu dayang istana memimpikan kehidupan yang bebas. Statusnya sebagai wanitanya Raja tidak lantas membuatnya mau begitu dilamar Jeongjo. Ia tahu resikonya bila bersedia menyambut tangan Jeongjo. Cinta Jeongjo tidak cukup kuat menopang kebebasannya. Sebaliknya, cinta yang luar biasa besarnya itu mengurung Deok-im dalam perangkap kasatmata. Seperti memiliki tetapi tidak. Seperti berbahagia tetapi semu.

Episode 16-17 didedikasikan untuk Deok-im dan kehilangan-kehilangannya atas haknya sebagai manusia merdeka, juga sebagai perempuan. Di sini saya dibikin mengerti mengapa Deok-im mati-matian menampik Jeongjo. 15 tahun masa penolakannya.



Begitu Deok-im mendapatkan kepastian mengenai kehamilannya, ia berharap Jeongjo segera menemuinya. Di satu sisi, Jeongjo memang suaminya, namun statusnya sebagai raja, Jeongjo bukanlah milik Deok-im secara legal. Dan Jeongjo selalu menempatkan prioritasnya sebagai raja pada urutan paling utama. Jeongjo tidak bisa segera menemui Deok-im betapapun inginnya ia melihat Deok-im. Jeongjo belok ke kediaman Ratu untuk menghiburnya. Kehamilan Deok-im sudah barang tentu membawa kesedihan untuk Ratu.

Kematian Putra Mahkota Munhyo ibarat kematian kecil bagi Deok-im. Statusnya sebagai selir tidak memberikannya hak melihat anaknya di kala sakit dan untuk terakhir kalinya di hari kematiannya. Terlalu kejam. Ironisnya, Jeongjo memaksa Deok-im harus bersikap tegar dan kuat. Deok-im tergeletak tak berdaya bak orang yang tidak lagi memiliki semangat hidup, membuat siapa saja yang melihatnya ikut bersedih. Nyeri hati mendengar ucapannya kepada Jeongjo.

“Do I have to endure everything just because I got something I have never wanted?” –Sung Deok-im

Deok-im tidak pernah menginginkan posisi selir. Yang ia inginkan adalah kehidupan normal tanpa aturan-aturan kerajaan yang memisahkan manusia dari haknya.

Iconic scene yang powerful sekaligus menyempurnakan pov Deok-im sebagai wanita yang pernah menjadi dayang lalu menjadi selir diperlihatkan jelang akhir episode 16. Selir Uibin mengucapkan selamat tinggal kepada Sung Deok-im, dirinya yang dulu begitu bebas, berani, dan boleh tertawa lepas. Nangis banget bagian ini. Mencelos hati. Deok-im ah…. Sung Deok-im… Sedih sekali. ㅠㅠ

“Every time I am alone, I keep calculating. What have I earned here? What have I lost?”

Monolog Deok-im sembari berbaring sendirian di kamarnya semakin mematahkan hati.

Seperti kata Ratu Jeongsoon kepada Lady Hyegyeong di episode 17,

“The palace is such a dazzling prison.”

Episode 16-17 berkesan sekali bagi saya. Saya yakin, kelak setiap kali saya teringat drama ini maka yang muncul pertama kali di ingatan saya adalah wajah Deok-im diiringi lagu I’ll Leave You. Deok-im yang mengucapkan salam perpisahan kepada dirinya sendiri. Nyesek, nyesek dah. ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

ㅡDrama vs realitas sejarah



Kalo saya bilang bu penulis scenario dan bu sutradara, mengemas The Red Sleeve dengan jenius, lebay nggak? Whatever. Saya mau ngasih apreasiasi tertinggi kepada mereka berdua. Saya menonton The Red Sleeve sambil membaca sejarah kehidupan Jengjo termasuk keberadaan Deok-im di dalamnya. Bagaimana penulis scenario dan sutradara menghidupkan ruh cerita sejarah ke dalam drama, membawa spirit kisah Jeongjo dan Uibin masuk ke dalam visual drama bener-bener bikin saya apa ya… rasanya luar biasa. Perasaan sedih dan amaze sewaktu membaca kisah Jeongjo dan Uibin, seperti bertemu pawang-nya di drama. Ada perasaan yang digenapi. Di drama tidak serta merta diceritakan persis seperti sejarah aslinya, dan memang cerita kehidupan Selir Uibin tidak banyak ditemukan. Bahkan tentang mengapa kemudian ia menerima lamaran Jeongjo setelah 15 tahun menolak, tidak diketahui jelas alasannya. Ada sumber yang mengatakan bawah Lady Hyegyeong, ibunya Jeongjo-lah yang berperan besar atas luluhnya hati Deok-im. Di drama, bagian ini diceritakan. Secara tidak langsung, Lady Hyegyeong menjembatani hubungan Jeongjo dan Deok-im.

The Red Sleeve berhasil memvisualisasikan sejarah tanpa merusak, namun turut membantu menghidupkan semangat yang sudah terkubur dalam-dalam pada bilangan tahun yang jauh itu; cinta Jeongjo kepada satu-satunya wanita yang dipilih oleh hatinya.

“It’s too small. I did not know you were this small. And I loved you who was this small.” –King Jeongjo

Di episode 17, Jeongjo menangisi seragam dayang milik Deok-im. Heartbreaking moment untuk Jeongjo. Mungkinkah pada saat itu Jengjo (akhirnya) menyadari cintanya terlalu besar untuk Deok-im? Terlalu besar untuk diterima Deok-im. Ah. Lagi-lagi sebuah metafora. The Red Sleeve jago sekali menggunakan metafora.


Salah satu poster promosi The Red Sleeve sebenarnya sudah memberikan hint plot utamanya. Simbolik. Di drama, porsi pengaruh Deok-im begitu besar terhadap kehidupan Yisan/Jeongjo. Besar sekali hingga kehilangannya membuat Jeongjo linglung dan seperti kehilangan separuh hidupnya. Poster ini, setelah dilihat-lihat lagi usai menyelesaikan 17 episode The Red Sleeve rupanya membawa firasatnya sendiri tentang apa yang (akan) terjadi pada dramanya. Deok-im di belakang Jeongjo, tatapan tegas dan ambisius Jeongjo, serta ekspresi sedih Deok-im. ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

Bagi yang sudah membaca sejarahnya sebelum The Red Sleeve diubah bentuk menjadi drama, mungkin akan bertanya-tanya, kira-kira seperti apakah rupa kepribadian wanita yang dicintai Jeongjo? Lalu hadirlah The Red Sleeve mencoba menjawab.

Berkat The Red Sleeve, kisah cinta Raja Jeongjo dan Sung Deok-im yang bittersweet akan selalu diingat. Tidak hanya itu, kita pun bisa paham mengapa Jeongjo se-cinta mati itu kepada Deok-im, selir Uibin. Titel selir Ui yang melekati nama Deok-im juga dipilih sendiri oleh Jeongjo. Ui yang artinya beauty, harmony, precious, appropriate, mild and gentle (1). Bahasa cintanya Jeongjo ini ya… luar biasa sekali, sayang sekali cinta mereka terhalang kasta, tahta dan jaman. ㅠ.ㅠ

Tapi kasihan juga sama Uibin, ntah gara-gara kepending 15 tahun apa gimana, setelah resmi jadi selir, Jeongjo rajin banget mengunjungi Uibin. Selama kurun waktu berapa tahun itu, sejak menjadi selir, Uibin mengandung dalam jarak waktu yang dekat. Semacam siklus hamil-melahirkan-hamil-melahirkan, dan Uibin wafat dalam keadaan hamil besar. Another heartbreaking fact. ㅠ.ㅠ

Sepeninggal Uibin, Jeongjo masih sering mengunjungi makamnya, hingga akhir hayatnya tetap menempati bangunan yang rencananya akan dijadikan kediaman mendiang Pangeran Munhyo sebagai tempatnya bekerja. Sebesar itu cintanya. Hidup bersama kenangan orang yang meninggalkan. Karena cintanya yang besar pula, Jeongjo meninggalkan kenangan berupa tulisan-tulisan yang memuat perasaannya agar generasi berikutnya dan seterusnya lagi tidak akan melupakan satu nama, satu-satunya wanita yang ia cintai sepenuh hati; selir Uibin. Sung Deok-im namanya. Kalo ga diabadikan Jeongjo dalam tulisan, mungkin dunia tidak akan mengenal Deok-im. Yang dikenal hanya Uibin, selir yang pernah melahirkan putra mahkota dan tidak berumur panjang, sebatas itu. Jeongjo memahami betul pentingnya mengabadikan sejarah dalam tulisan. Bukan hal yang biasa pada saat itu bagi seorang raja menunjukkan afeksinya kepada perempuan tertentu. Tampaknya Jeongjo tidak peduli. Membaca riwayat hubungan Jeongjo-Uibin nih makin bikin nangis. Saya nyimpulinnya, Jeongjo menganggap Uibin sebagai rumahnya, tempat ia selalu kembali. Rumah yang selalu menerimanya tanpa pretensi apa-apa. Jeongjo dan Selir Uibin disiratkan sebagai pasangan yang harmonis. Kecerdasan yang dimiliki Selir Uibin bisa mengimbangi Jeongjo. Makin dibaca sejarahnya, makin paham kenapa Jeongjo sebucin itu. ㅠ.ㅠ

Jadi, sebenarnya nih ada dua cerita utama yang coba diangkat The Red Sleeve yang saling beririsan satu sama lain. Cinta Yisan/Jengjo kepada Deok-im dan kehilangan yang dirasakan Deok-im atas hidup yang diinginkannya. Fokusnya di dua hal ini. Disayangkan sekali kisah kehilangan-nya Deok-im dirangkum hanya dua episode saja. Yang nonton berasa dihantam kesedihan beruntun nggak putus-putus. Tapi kalo dibanyakin juga yhaaaa apa kabar mata dan hati penonton? Bisa bengep tiap minggu. Nangisin Deok-im.

ㅡcharacter and acting wise 


Phenomenal.

Ketika detail karakter bertemu akting yang punya detail bagus hasilnya sudah bisa ditebak. Edan. Gila. Awesome. Sebut apa saja. Itulah yang terjadi pada The Red Sleeve. Setiap aktor/aktris tahu apa maunya karakter yang diperankan, ini tidak terlepas dari arahan bu sutradara juga sih. Mayor dan minor cast semuanya oke banget.

Respek sama semua pemeran di The Red Sleeve. Semuanya tanpa terkecuali.

Pengen bahas satu-satu tapi takut kepanjangan huhuhu. Ini aja udah masuk halaman kedelapan Ms Word.


Tanpa mengecilkan cast lain, selain Junho dan Se Young, ada dua cast yang meninggalkan kesan kuat sekali bagi saya. Pertama Lee Deokhwa sebagai King Yeongjo. Semenyebalkan gimana pun karakternya saya dibuat nyaman menonton setiap scene beliau. Power aktingnya bagus sekali. Diksi dan intonasi pengucapan dialog-dialognya enak betul kedengarannya. Udah gak mengherankan sih, senior banget beliau ini. 



Kedua, Kang Mal-geum sebagai Hyebin Hong atau Lady Hyegyeong, ibunya Yisan/Jeongjo. Alasan mengapa saya terkesan dengan beliau kurang lebih sama dengan alasan saya menyukai acting Lee DeokHwa. Pertama kali menonton acting Kang Mal-geum di Missing The Other Side. Kesan pertama saya terhadap beliau tertinggal kuat di ingatan, makanya saya senang sekali mengetahui beliau muncul di The Red Sleeve.

Kalo karakter yang selalu menyelamatkan ketegangan di hati penonton udah pasti Kang Tae-oh si pengawal utama Jeongjo yang diperankan Oh Dae-hwan. Suka ada aja kelakuannya yang bikin saya ngakak. Comic relief-nya The Red Sleeve duet sama Kasim-nya Jeongjo ㅋㅋㅋ.

Dayang Seo (Jang Hye-jin) juga, beliau nih udah kayak ibunya Deok-im. Dayang Seo yang menjadi saksi bagaimana Deok-im mati-matian mempertahankan (harga) dirinya di saat ia telah sebenar-benarnya jatuh cinta pada Jeongjo. Dayang Seo juga yang paling tahu, seperti apa hancurnya hati Jeongjo sepeninggal Deok-im.



Lalu kuartet empat dayang kesayangan yang bersahabat sejak kecilㅡDeo Im, Bok Yeon, Young Hee an Kyeong Hee. Erat sekali persahabatan mereka. Deok Im di akhir hidupnya mengatakan kepada Jeongjo bahwa ia sedih meninggalkan teman-temannya di belakang, bahwa teman-temannya hanya memiliki dirinya, part ini menunjukkan bond yang terjalin kuat di antara mereka. Deok Im ingin setia hingga akhir.

Izinkan saya menyediakan satu ruang untuk mengapresiasi akting dan karakter Lee Se-young dan Lee Jun-ho sebagai tokoh utama The Red Sleeve.

ㅡLee Se-young sebagai Sung Deok-im




Saya tidak tahu kapan tepatnya saya telah dibuat jatuh cinta sedalam-dalamnya dengan acting Lee Se-young di The Red Sleeve. Saya ingetnya, setiap kali Deok-im muncul di layar, saya mengalami apa yang namanya kena lovestruck hanya dengan melihat matanya. Lee Se-young memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengirimkan emosi Sung Deok-im melalui ekspresi matanya. Marah, kecewa, sedih, panik, senang, bahagia, kesalㅡsemuanya, semua detail emosi yang dimiliki Deok-im, Lee Se-young selalu bisa menampakkannya dengan sempurna. Tidak ada satu pun yang gagal. Dan tidak hanya itu, Lee Se-young juga mengucapkan dialog-dialognya dengan penjiwaan yang luar biasa bagusnya. Kata per katanya, sehingga saya yang menonton seperti kena sihir. Menonton acting Lee Se-young sebagai Sung Deok-im memberikan saya pengalaman yang tidak akan terlupakan sebagai penonton The Red Sleeve. Saya jatuh cinta dengan aktinya Lee Se-young.

Berikutnya—ini yang paling, paliiiing membuat saya speechless kehilangan kata-kata. Transisi Sung Deok-im sebagai dayang dan selir Uibin. Saya bertanya-tanya bagaimana Lee Se-young bisa melakukan itu dengan sempurna? Saking sempurnanya, sehingga setiap kali saya mengingat Deok-im dengan red sleeve-nya, lalu beranjak pada Selir Uibin, hati saya terasa sakit sekali. Perubahan itu begitu jelas terlihat. Bandingkan saja ekspresinya Deok-im dan Selir Uibin, tone dan power suara, sorot mata, garis senyum, tidak ada lagi yang sama—seperti ada kekuatan besar tak terlihat menyerap habis energi Deok-im. Deok-im sebagai Selir Uibin diisi kepasrahan, luka, juga kekosongan menyakitkan.

Saya merindukan Deok-im yang senang berlari-lari kencang sambil tersenyum bahagia. Kangen dengan suara lantangnya yang tak kenal takut itu. Sorot matanya yang penuh determinasi dan optimisme…. ㅠ.ㅠ

ㅡLee Junho sebagai Yisan (King Jeongjo)


Seperti yang dilontarkan teman-teman di paguyuban, saya juga lebih menyukai Yisan semasa masih menjadi Putra Mahkota. Vibes-nya menyenangkan, gradasi warna emosinya tidak segelap setelah berganti title menjadi Raja Jeongjo. Yisan setelah jadi raja keliatan banget kayak nanggung beban berat. Kalo ngeliat latar belakangnya Yisan bisa dipahami sih kenapa dia seperti itu. Nggak lentur, tegas. Nggak tebang pilih. Ia sejak kecil akrab dengan sebutan anak criminal, riwayat kehidupan ayahnya, Pangeran Sado sudah menjadi legenda menyakitkan dan menjadi pengalaman traumatis baginya. Yisan tidak ingin mengulangi kesalahan ayah dan kakeknya. Ia tidak ingin melewati jalur yang sama. Makanya satu-satunya cara ya membuktikan tudingan orang-orang kepadanya itu salah dan tidak berdasar. Ia berbeda dari ayah dan kakeknya.

Sejak masih jadi Putra Mahkota pun, Yisan sudah menunjukkan karakter kuatnya sebagai seorang pemimpin yang baik. Memperjuangkan apa yang dianggap benar dan tepat, tidak menolerir hal-hal yang sifatnya abuse power.

Aktingnya Junho sebagai Yisan/King Jeongjo luar biasa bagusnya. No debat. Saya terkesan dan terkesima. Sama seperti karakter Sung Deok-im-selir Uibin, transisi Yisan ke Jeongjo juga memiliki detail yang sempurna di mata saya. Lonely nya Jeongjo menjelang akhir episode 17 kayak mimpi buruk. Sorot mata yang kehilangan api-nya. Beda banget sewaktu ia ditolak Deok-im. Ditolak Deok-im masih jauh lebih baik, masih keliatan warna emosinya. Ini sepeninggal Deok-im, blasssss kosong. ㅠ.ㅠ

Yang nge-cast Se Young-Junho nih patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Kok bisa ya punya ide memadukan dua orang ini? Kok bisa? Hasilnya luar biasa sekaliii. Nggak yakin bakal sebagus ini visualisasi kisah Jeongjo-Uibin kalo yang meranin nggak punya kekuatan acting sebagus mereka. Perfect casting membuat dramanya sempurna.

Kelar The Red Sleeve saya resmi nge-fans dengan aktingnya Se Young-Junho.

ㅡSinematografi dan musik

Sinematografinya detail sekali. Beginilah jadinya kalau sutradara paham apa maunya scenario. Storytelling lewat detail angle gambar dan sinematografi berjalan sukses bikin penonton speechless. Filter yang digunakan sesuai dengan mood cerita adegan yang ditampilkan. Makin bangga setelah tahu sutradara dan penulis skenarionya perempuan.

Detail on set-nya juga keren. Saya takjub. Saya bukan tipe penonton yang bisa memperhatikan sampe ke detail property/set setiap adegan. Saya fokusnya ke plot dan acting saja. Hebatlah penonton yang bisa menangkap detail yang berhubungan dengan property/set. Salut saya. Yang paling hebat udah tentu sutradara dan timnya yang niat dan total banget menghadirkan adegan se-perfect mungkin.

Saya mau ngasih jempol banyak-banyak ke music director-nya The Red Sleeve. OST dan BGM-nya bagus banget, penempatannya juga.

ㅡmake up  dan costum team


JUARAAAAKKKKK!

Orang-orang di belakang team ini harus banget dikasih apresiasi. Saya kasih satu contoh aja ya. Se Young sebagai Deok-im sebelum terlibat perang perasaan dengan Yisan, kemudian setelah Yisan naik tahta di mana ia semakin gigih memenangkan hati Deok-im, raut wajah Deok-im berubah drastis, make up team nya membuat wajah Se Young yang sebelumnya cerah ceria menjadi gloomy dan lelah, berasa keliatan beban hidupnya lewat wajahnya itu. Pas jadi Uibin juga, ini sih makin daebak transisi make up nya. Yang nonton ikut tertelan kepedihan liat wajah Uibin.

Hampir nggak ngenalin Junho dengan kumis dan cambangnya. Bikin pangling. Parah nih. Keren.

Kostumnya juga pada bagus-bagus. Perpaduan warnanya enak dilihat. Saya suka kostumnya Selir Uibin dan Yisan semasa muda. 

ㅡending

Pain. Pain. Pain is everywhere.

The Red Sleeve ternyata benar-benar memberikan hanya satu episode Deok-im dan Yisan bahagia. Tapi kok ya saya enggak merasa bahagia ya? Episode 16 tidak membuat saya bahagia. Alih-alih bahagia, yang menyeruak keluar dari rongga dada saja justru pedih perih yang nggak ada ujungnya. Mungkinkah ini yang dirasakan Deok-im kepada Jeongjo? Harusnya bahagia tapi nggak bisa dinikmati bahagianya.  Sedih sekali. Demi apapun. INI CARA RECOVERY NYA GIMANAAA COBA. I’m emotionally drained. It hurts so bad. ㅠㅠㅠㅠㅠ

Mengapa Deok-im meminta Jeongjo agar berpura-pura tidak mengenalnya dan melewatinya saja bila kelak di kehidupan berikutnya mereka bertemu? Karena Deok-im, sekali lagi, akan memilih bersama Jeongjo jika Jeongjo menghampirinya. Jeongjo tidak pernah sekalipun mencoba membayangkan ia menjalani hidup sebagai orang biasa. Jadi bisa saja Deok-im menyimpulkan entah di kehidupan berapa pun Jeongjo ya tetap Jeongjo. Sedangkan Deok-im ingin menjalani hidup seperti yang ia inginkan. Pada titik ini, Jeongjo sama sekali tidak memahami isi hati terdalam Deok-im.

“Have you ever loved me even a little? Have you ever had any feelings for me?” –Jeongjo

Bahkan hingga di detik-detik terakhir Deok-im, Jeongjo masih juga menyimpan keraguan Deok-im tidak pernah benar-benar mencintainya. Ia masih mempercayai pikirannya sendiri bahwa satu-satunya yang punya perasaan mencintai paling besar di antara mereka berdua adalah dirinya. Dan itu tidak apa-apa baginya, selama Deok-im selalu berada di sisinya.

“Do you still not see it? If I did not like you, I would have done anything to run away. I decided to stay with you in the end. It was my choice.” –Deok-im

Jeongjo tidak pernah mengetahui sebesar apa pengorbanan yang telah diberikan Deok-im saat memutuskan menahan tangan Jeongjo. Tampaknya Jeongjo tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan jati diri yang telah mati-matian dipertahankan.


Kepergian Deok-im membawa kesedihan bagi orang-orang yang mengenalnya. Saya nangis parah banget di sini (kebayang nggak model saya nonton ep 16-17? Nangis nggak kelar-kelar sambung menyambung menjadi satu itulah wujud patah hati terdalam), Jeongjo yang menangisi Deok-im, meminta maaf telah membawanya pergi jauh dari kehidupan yang diinginkannya, Ratu Jeongsoon yang terpaku dengan kesedihan yang mengambang di matanya. Teman-temannya yang tersisa, Bae Kyung Hee dan Kim Bok Yeon saling menangisi kepergiannya... Eksistensi Deok-im di istana begitu kuat.

Scene penutup The Red Sleeve ibarat semacam doa dan harapan yang diberikan oleh siapa saja yang mengetahui betapa haru birunya kisah Selir Uibin dan Jeongjo, bahwa (semoga saja) mereka akhirnya bertemu, saling mengasihi tanpa rasa sakit, dan tidak perlu ada lagi kehilangan-kehilangan yang membuat hati mereka saling menjauh satu sama lain.

“The north wind blows cold, and the snow falls heavily.

Together with my dear beloved, while shall leave while holding hands.

Why are you hesitating? We are already pressing on time.

The north wind blows violently, and the rain and snow fall furiously

Together with my dear beloved, we shall return while holding hands.

It is still a fox even if not red, and a crow even if not black.

Together with my dear beloved, we shall get on the carriage while holding hands.

 

ㅡextra part



Menurut saya 4 episode pertama The Red Sleeve memegang peran penting dalam menangkap perhatian penonton. Saya berasa kayak dimantrai dengan kegemasan Yisan-Deok Im (nggak terlepas dari aktingnya Se Young dan Junho), lalu saya pun tanpa ragu menginvestasikan perasaan sayang sebanyak-banyaknya kepada mereka. Udah terlanjur masuk, nggak bisa keluar. Nggak mau pusing-pusing nyari jalan keluarnya. Padahal jelas-jelas udah tahu ending seperti apa yang menunggu di depan sana. Sok setronggg.

Minjem kalimatnya Mr. Oh dari Misaeng, “in life, there are many things you start even if you know the end.”

Kira-kira seperti menonton The Red Sleeve lah. Udah tau endingnya, tetap aja maju tak gentar karena udah terlanjur kena sihirnya Yisan-Deok Im. Nasib.

Oiya, saya lupa membahas akhir yang diberikan The Red Sleeve kepada karakter-karakter antagonisnya: Lady Jo, Wol-Hye, Hong Deokro (yang jadi public enemy), dan Hong Jung Yeo. Drama ini memilih tidak menghakimi karakter antagonisnya dengan kejam. Mereka diberikan akhir yang tragis tapi tidak memilukan. Apa ya namanya? Wise sekali jalan yang dipilih The Red Sleeve dalam menceritakan tokoh-tokohnya.

Korea Selatan sudah banyak memproduksi drama sageuk dengan mengambil berbagai macam periode pemerintahan atau kerajaan. Melalui cara ini pula budaya dan seni yang menjadi identitas Negara ginseng tersebut dipromosikan ke pelosok dunia. Bisa dibilang saya cemburu sekaligus ngasih apresiasi. Dari sudut pandang saya yang sok tau, ada upaya untuk terus melestarikan sejarah yang memuat kebudayaan mereka. Penghargaan itu ada. Melihat betapa sensitifnya masyarakat terhadap konten yang mengacaukan sejarah membuktikan itu. Sumber sejarah dipelihara dengan baik dan terus diceritakan secara berulang. Jika terus berlangsung maka bangsa Korea tidak perlu khawatir generasi di masa depan akan melupakan sejarah dan budayanya sendiri. 

Dan dari Raja Jeongjo kita diingatkan kembali pentingnya mengabadikan memori ke dalam tulisan.

♥

The Red Sleeve ini cocok sekali dengan salah satu judul lagu BTOB, Beautiful Pain. Indah tapi luka. Dan mari menutup pastingan ini dengan monolog terakhir Jeongjo dan Selir Uibin.

“If this is a past memory, it is fine. If it is a dream, it is fine. It does not matter if I am dead. I will always choose this moment with you and hope this moment to not change. For this moment to be forever.” –Jeongjo

“So the moment become forever.” –Selir Uibin.

ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

Menonton episode 1-15 The Red Sleeve tidak akan sama lagi rasanya setelah menuntaskan episode 16-17.


Tabik,

Yang sedang patah hatinya,

Azz


[Review] The Red Sleeve

by on 1/05/2022 04:19:00 AM
  Saya patah hati. Jenis patah hati yang tidak bisa disembuhkan dalam waktu dekat. Semula, t idak ada yang menyangka The Red Sleeve akan ber...

 


Paragraf seperti apakah yang cocok untuk membuka postingan ini? Ini bukan semacam first impressions, mengingat saat saya menulis entri baru ini saya sudah menonton 8 episode Our Beloved Summer. Lalu mau saya isi apa dong? Let it flow aja ya? Hehe.

Ketika Our Beloved Summer tayang perdana, keesokan harinya, sebenarnya saya sudah mencoba dua episode pilotnya. Bukan menonton full, tetapi mengintip saja. Dari hasil intipan saya, saya tahu premis drama ini sudah menggoda saya. Namun sayangnya, hingga memasuki pekan ketiga penayangannya, saya belum juga ketemu mood yang bagus untuk benar-benar menikmati Our Beloved Summer, tidak peduli seberapa kencang teriakan fans Our Beloved Summer di temlen twitter. Dramanya saya simpen dulu. Sayang banget kan drama bagus begini jadi korban mood jelek saya?



Melewati pekan keempat penayangan, say berjanji akan memulai OBS begitu urusan pekerjaan berhasil saya kelarkan sebelum akhir pekan. OBS saya masukan ke list tontonan prioritas—The One and Only, Uncle, dan drama ongoing yang belum saya sentuh bisa menunggu. Saya harus memulai OBS sebelum episode 16-17 The Red Sleeves tayang—Iyess, soalnya saya sudah mencium mood nonton yang bakalan ambyar bablas begitu TRS menayangkan episode terakhirnya, yang jadi korban udah pasti drama ongoing-an. Suka gitu deh setiap kali drama kesayangan kelar tayang. ㅠ.ㅠ

Usai menyelesaikan 8 episode Our Beloved Summer tanpa jurus skip, akhirnya saya paham mengapa banyak sekali penonton yang dibuat baper sama drama yang tayang di SBS ini. Worth it jadi bahan baper. Ini bukan drama kaleng-kaleng.

Ngobrolin OBS enaknya saya mulai dari mana ya? Nah, bingung lagi kan wkwk. Perlu diingat ya, apa yang saya tulis setelah ini semata hanya menggunakan POV saya sebagai penonton OBS. Pengalaman apa saja yang saya rasakan saat menonton satu demi satu episode yang sudah ditayangkan. Kalo enggak setuju bukan salah saya HAHAHAHA.



—Storyline

Kisahnya bermula dari sebuah rekaman acara dokumenter 10 tahun lalu di tahun 2011 yang tiba-tiba memuncaki trending topic, isinya tentang bagaimana interaksi sepasang siswa, peringkat pertama dan terakhir di sebuah SMA. Kook Yeon-su, si peringkat satu, dan Choi Ung, si penutup peringkat. Dari segi karakter aja, dua orang ini udah bertolak belakang bagai bagai kutub Utara dan Selatan yang jauhnya mencapai separuh bagian bumi. Apa yang akan terjadi bila disatuin dalam satu program dokumenter? Banyak berantemnya udah pasti sih ya. Yang satu disiplin, yang satunya lagi banyakan ngantuknya, mana matanya si Ung-ie bentukannya kayak orang yang ngantuk mulu.

10 tahun silam, di tahun 2011, pada syuting terakhir dokumenter tersebut, Ung dan Yeon-su memutuskan berpacaran dan hubungan berlanjut hingga masa-masa kuliah. Lalu tibalah tahun kesedihan Yeon-su dan Ung, 2016. Yeon-su memutuskan Ung sepihak. Pengalaman patah hati itu terus mengikuti Ung, mempengaruhi seluruh bagian dirinya.

Lima tahun kemudian, takdir membawa kembali Yeon-su dan Ung melalui serangkaian pertemuan tak terduga. Seperti deja vu, Yeon-su dan Ung lagi-lagi terlibat dalam pembuatan acara dokumenter. Kali ini, dokumenter itu bertujuan menyandingkan masa10 tahun lalu dua anak muda itu dan masa sekarang. Adakah yang berubah? Sejauh mana pengalaman hidup telah membawa keduanya? Perasaan yang dipaksa mati tiba-tiba itu, masih adakah?

OBS mengejutkan saya dengan... well, semua yang ada pada drama ini mengejutkan saya. Sejauh 8 episode, belum saya temukan satu pun scene yang membuat saya bosan. Saya dibikin penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Setiap episodenya mengajak saya membuka selapis demi selapis isi pikiran Yeon-su dan Ung. Saya yang tidak tahu apa-apa dan dipenuhi pikiran yang sifatnya menghakimi (tanpa sadar) di episode pilot, perlahan—benar-benar perlahan mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Yeon-su dan Ung. Saya menyesal sudah sok tahu terhadap Kook Yeon-su. Saya hampir-hampir saya seperti orang kebanyakan di sekitar Yeon-su, yang menganggapnya sebagai sosok menyebalkan dan angkuh.


—directing & BGM (Background Music)

Cerita yang sekilas terbaca membosankan nyatanya enggak sama sekali. OBS bisa saja berakhir membosankan, memang, tapi cara drama ini bercerita (bagaimana ia dikemas) membuatnya terasa renyah, fresh, fun, dan perasaan yang disajikan oleh karakter utamanya terlalu blak-blakan sedihnya. Saya berani bilang sentuhan directing dan penempatan background music yang tepat berperan besar dalam membangun mood OBS. Kalo saya bilang sih cara kerjanya mempengaruhi mood penonton tuh magic banget. Saya enggak tau apakah ini tepat apa enggak, directing OBS mengingatkan saya pada MV lagu-lagu indie, juga pada drama-drama tvn sebelum tvn menjadi sebesar sekarang. Periode tvn masih mencari-cari pasar. Tema dan kemasan dramanya unik-unik.

Kerasa banget feel nostalgianya OBS ini. Saya jatuh cinta dengan setiap sudut pengambilan gambarnya. Pernah denger kan soal gambar yang bisa bercerita, OBS kayak gitu. Setiap sudut pengambilan gambar memiliki warna emosinya sendiri, ada napasnya. Ketemu BGM yang tepat, sudahlah. Kelar urusan. Mustahil bagi saya untuk gak suka sama drama ini.


ㅡmonolog

Satu lagi kekuatan yang dimiliki OBS, yang membuat emosi ceritanya tiba dengan baik di hati penontonnya—monolog tokoh-tokohnya, khususnya Ung dan Yeon-su. Tanpa monolog yang mewakili suara hati terdalam Ung dan Yeon-su, barangkali rasa simpati dan empati yang saya miliki untuk mereka tidak akan sedalam ini, atau bahkan mungkin saja saya masih akan setia menghakimi setiap pilihan atau tidakan Yeon-su. Acapkali monolog Ung dan Yeon-su membuat saya terhenyak, menarik napas panjang, dan bikin sedih. Sometimes, its too realistic.

Saya ikut larut dalam setiap potongan pikiran mereka. Ikut ter potek-potek hatinya. ㅠ.ㅠ


ㅡrealistic character

Bicara tentang kesan pertama pada karakter, Kook Yeon-su lah yang pertama kali menarik perhatian saya. Kook Yeon-su 10 tahun lalu dan Kook Yeon-su 10 tahun kemudian—terlihat perbedaan yang cukup kontras dan apa ya… terlalu realistis. Saya seperti melihat diri saya yang sedang mengkilas balik saya sepuluh tahun lalu. Melihat kembali mimpi dan harapan saya yang sedikitpun tidak mendekati kenyataan sepuluh tahun kemudian. It hurts. But life must go on.

Ya. Saya segera dibuat penasaran dengan backstory kehidupan Yeon-su.

Menonton Our Beloved Summer memberikan kita banyak pilihan untuk berada di sudut pandang mana atau siapa. Ung kah? Yeon-su kah? Atau sudut pandang penonton yang merasa paling tahu dan menganggap segalanya terasa mudah untuk dilakukan?

Pada banyak jalinan hubungan kasih sayang, mencari siapa yang salah atas gagalnya hubungan adalah sesuatu yang mudah dilakukan. Mengapa? Karena satu-satunya yang kita anggap paling bisa diandalkan adalah sudut pandang kita sendiri. Sudut pandang jenis ini sifatnya sangat subyektif, satu arah, seringnya nyasar entah menyasar apa. Yang mampu kita lihat hanya bagian belakang orang yang lain. Rentan sekali terjadinya penyalahgunaan memori atau kenangan.

Sebagai penonton, kita dengan mudahnya segera nyeletuk problem terbesar yang kemudian menyulitkan hubungan What If couple adalah kurangnya komunikasi dua arah, Yeon-su yang kurang membuka diri terhadap Ung, cenderung menyembunyikan bagian dirinya yang kerap kepayahan menjalani hidup atau Ung yang selalunya terima-terima aja Yeon-su memberi jarak kasat padanya. Jika saja Yeon-su mau membuka diri, yakin deh Ung pasti ngerti, Ung nggak akan seperti yang Yeon-su bayangin. Karena Ung baik banget dan serius sayangnya sama Yeon-su.



Apakah masalahnya sesederhana itu? Sebatas kurangnya keterbukaan dan komunikasi?

Coba deh pake pov-nya Yeon-su. Lihat dari mana ia berasal. Susuri kembali bagaimana ia berproses. Jelaslah kemudian, perkara ini tidak sederhana. Yang mengakar kuat pada diri Yeon-su, yang membuatnya selalu berjarak dengan hal-hal di luar dirinya. Yeon-su sangat menyayangi Ung, tapi Yeon-su lebih menyayangi dirinya. Masih ada yang belum selesai di dalam sana.

Ung dan Yeon-su memimpikan masa depan yang nggak muluk-muluk. Tapi sederhana versi Ung berbeda dengan sederhana versi Yeon-su. Hidup Yeon-su sudah keras sejak awal. Untuk bisa survive, ia harus mati-matian menjaga dirinya, menjaga harga dirinya—satu-satunya kemewahan yang ia miliki. Apa yang ditampakkan Yeon-su ke permukaan bukan karena ia ingin seperti itu, ia tampil seperti orang yang tak tersentuh, sombong, selfish bla bla bla... semata-mata ia lakukan untuk melindungi dirinya. Yeon-su tidak punya pilihan. Hari-harinya ibarat medan tempur yang harus selalu ia menangkan, sebab jika tidak maka hidupnya yang akan berakhir. Saya menangis melihat Yeon-su menangis sendirian di kamar mandi sembari membiarkan air keran mengalir. Saya sering seperti itu. Mengunci diri di kamar dan menangis sendirian tanpa suara meski bukan untuk urusan patah hati. Di luar? Tidak ada tempat yang bisa menerima kesedihanmu apa adanya. Begitulah hidup.

Sedangkan Choi Ung? Ung nggak demen menjalani hidup yang ribet dan berat. Simpel banget. Nggak suka riak. Ya... bayangin aja perasaannya Yeon-su denger Ung ngomong enteng banget soal impian masa depannya. Alurnya udah sama, tapi beda jalan. Jalan yang ingin dipilih Ung yang mulus-mulus aja. Sementara Yeon-su, dia nggak ada pilihan lain. Satu-satunya jalan yang ia miliki adalah jalanan rusak penuh lubang sana-sini, yang bikin kendaraan terantuk-antuk, oleng kanan oleng kiri. Meleng dikit ya udah. Ga ada itu santai-santai kayak di pantai.

Saya nggak berani mengomentari pilihan-pilihan hidup Yeon-su dan Ung. Nggak berani juga nyalah-nyalahin Ung atau Yeon-su perihal berakhir hubungan mereka lima tahun lalu. Karena menurut saya masalahnya nggak sesimpel cuman kurang komunkasi aja. Tapiiii, jika Yeon-su dan Ung berani membereskan persoalan komunikasi ini, maka di situlah akan menjadi awal mula perbaikan hubungan mereka. Jika Ung dan Yeon-su mulai melihat satu-sama lain dengan sungguh-sungguh. Nggak ada penghakiman. Menghargai setiap perubahan-perubahan dengan tone positif, Yeon-su dan Ung mungkin akan menjadi pasangan dengan hubungan kaasih sayang yang sehat. Masalah terletak di dalam diri masing-masing.

Saya lega syuting dokumenter di tahun 2021 membawa banyak refleksi bagi Yeon-su dan Ung. Keliatan banget Yeon-su dan Ung sudah mulai menemukan satu demi satu masalah yang membuat mereka dekat namun berjarak di masa lalu. Bahwa Ada yang keliru pada bagaimana Ung membentuk imej Yeon-su di mata dan ingatannya berdasarkan pengalaman-pengalaman yang mereka lewati. Pun sebaliknya, bagaimana Yeon-su membaca karakter Ung.

 


Seperti Ung di episode 7 yang menyadari bahwa Yeon-su masih menjadi Yeon-su yang dulu, yang tidak bersedia membagi kesulitan atau kesedihan. Ung keliatan banget kecewanya. Nyes ini hati liat matanya Ung yang sedih, hampir nangis. Padahal dia sudah berharap Yeon-su mau bercerita tentang dirinya. Di sini bukan Ung yang melarikan diri, bukan pilihannya untuk menghindar, melainkan Yeon-su.

Lima tahun setelah putus, Yeon-su dibuat kaget dengan hal-hal baru yang dilihatnya pada sosok Ung, yang terasa asing dan belum pernah dilihatnya selama berpacaran dulu. Pertanyaannya, apakah hal-hal baru tersebut memang baru terbentuk setelah Ung dan dirinya putus, ataukah di masa lalu Yeon-su sudah sedemikan setia-nya pada imej polos bin pabo-nya Ung? Ung yang mager-an, Ung yang—tau sendirilah gimana anaknya wkwk—saking setia­nya, Yeon-su gagal mendeteksi potensi Ung menjadi orang yang bisa ia andalkan. Sesungguhnya jiwa insekyurnya Yeon-su membentuk lubang yang besar sekali, yang sanggup menelan semua harapannya untuk bahagia. The saddest part-nya ini.

Karakter Ung dan Yeon-su nih relatable banget. Manusiawi. Bisa dialami siapa aja. Dan bagaimana setiap orang bereaksi terhadap persoalan-persoalan yang datang kepadanya pun sudah pasti berbeda. Nggak ada rumus pastinya.

Saya tidak tahu apakah di akhir drama ini Ung dan Yeon-su akan kembali bersama atau tidak. Tetapi sepertinya saya bisa memastikan posisi saya sebagai penonton, bahwa saya termasuk golongan penonton yang tidak akan terlalu kecewa bila nantinya Yeon-su dan Ung memilih berpisah. Karena seiring berjalannya cerita saya mendukung perkembangan dua karakter ini. Saya berhadap di episode terakhir Yeon-su bisa menemukan kelegaan, berharap ia mampu mengatasi luka dan perasaan insekyur yang membuatnya tidak berani terbuka pada orang lain. Saya ingin sekali memeluk Yeon-su. Mengatakan padanya bahwa ia sudah bekerja dengan sangat keras, bahwa ada saatnya ia boleh memilih mengambil jeda dan boleh tidak bersikap terlalu keras pada dirinya sendiri. Bahwa ia boleh memilih untuk tidak berlari sepanjang hidupnya… Tidak apa-apa… Yeon-su ya… Saya benar-benar ingin memeluk Yeon-su.

Dan Ung.... kalo memang Ung masih sayang banget sama Yeon-su, Ung harus mulai membaca Yeon-su bukan dari perspektif orang yang jadi korban patah hati. Sepanjang episode 1-8, saya belum menemukan scene atau monolog di mana Ung mengetahui bagaimana Yeon-su menjalani hidupnya. Bagaimana Ung memvisualisasikan sifat-sifat Yeon-su masih berdasarkan efek sebab-akibat perasaan yang berpusat pada diri Ung sendiri. Ada satu sih scene yang menunjukkan Ung tidak se-bodo amat sama hidup, sewaktu ia dan Yeon-su membahas masa depan, trus Yeon-su pamit ke kamar kecil lalu Ung merenung sejenak, mengambil alih laptop Yeon-su dan mulai mengetik cara dapetin pekerjaan atau duit melalui menggambar di kolom pencarian.

Dalam hal ini saya berada di pihak Yeon-su. Asal Yeon-su bahagia.



Putusnya hubungan Yeon-su dan Ung telah membawa banyak perubahan pada hidup mereka. Yang meninggalkan dan yang ditinggalkan sama-sama ga baik-baik aja. Ung misalnya, dia yang dulu menyukai menggambar sebatas hobi, awal putus, hobi menggambarnya menjadi penolongnya, semacam katarsis nggak sih jadinya?

Kalo Yeon-su... yang berubah dari Yeon-su... Yeon-su semakin keras pada dirinya. Sedih sekali. 

Ada beberapa pertanyaan yang saya tunggu jawabannya di part dua Our Beloved Summer. Antara lain, perkembangan karakter Ji-ung. Saya ingin melihat perkembangan karakter ini tidak hanya sekadar observer, saya penasaran dengan ucapan sunbae ke Ji-ung soal mengapa ia memilih Ji-ung sebagai orang yang bertanggung jawab mengasuh program dokumenter itu.

Lalu bagaimana progress hubungan Yeon-su dan Ung. Bukan soal mereka baikan atau enggak, saya ingin melihat bagaimana drama ini memanfaatkan peluang rujuk Yeon-su dan Ung untuk menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan dari utang masa lalu. Kalo baikan tapi tetap nggak ada perkembangan pada masalah utama ya gimana ya. Hehe.

Paruh kedua Our Beloved Summer menjadi momen penting apakah drama ini masih bisa mempertahankan konsistensi alur, konflik dan ceritanya seperti di paruh pertama yang sudah bagus sekali penceritaan dan perkembangan karakternya.

Soal happy ending atau enggak, saya hanya ingin Ung, Yeon-su dan Ji-ung bahagia dan persahabatan mereka semakin kuat. Saya ingin mereka lebih mengenal dan mencintai diri mereka sendiri Itu saja dulu.

Sebuah closure yang menyenangkan untuk 10 tahun mereka yang sudah tertinggal di belakang.



Tabik,

Azz


[Trivia] Our Beloved Summer

by on 12/31/2021 02:47:00 PM
  Paragraf seperti apakah yang cocok untuk membuka postingan ini? Ini bukan semacam first impressions, mengingat saat saya menulis entri bar...


Ga direncanain dari awal kalo mau ngikutin The Red Sleeve. Saya mutusin nonton setelah melihat reaksi orang-orang yang nonton episode pilotnya, pada bilang bagus. Hayuklah. Meskipun bukan fans genre sageuk, tapi kalo ketemu drama sageuk yang cocok pastilah dinonton. Nah The Red Sleeve ini baru nonton dua episode pilotnya aja udah bisa bikin saya jatuh suka. Ga ada alasan untuk saya ngelewatin drama yang mendapuk Lee Se Young dan Lee Junho 2PM ini sebagai lead female dan lead male-nya.

The Red Sleeve diangkat dari novel yang ditulis Kang Mi-kang, mengambil setting masa pemerintahan Raja Yeongjo, raja ke 21 Joseon, putera dari Raja Sejong dan Selir Choe Suk Bin (Dongyi, MBC 2010).



Kisah cinta Yisan (Raja Jeongjo) dan Deok-im yang diceritakan di TRS ini adalah kisah nyata yang memang benar-benar pernah terjadi. Tentu saja nggak plek ketimplek persis kejadian di drama. TRS nih semacam kisah nyata yang di-fiksi-kan. Sejarah mencatat Yisan dan Deok-im memang merupakan teman masa kecil yang kemudian saling jatuh cinta lalu setelah perjuangan panjang, Yisan dan Deok-im menikah. Nasib Deok-im tidak sepanjang Yisan. Tak lama setelah puteranya meninggal, Deok-im pun menyusul. Oya, Yisan dan Deok-im dikaruniai tiga anak dan nggak ada yang berumur panjang.

Setelah penayangan episode 9-10, disusul rilis preview episode 11, saya menjumpai sejumlah komentar berisi ketidakpuasaan terhadap plot cerita yang terlihat seperti tidak fokus pada kisah Deok-im dan Yisan. Interaksi Yisan dan Deok-im yang minim tampaknya mengusik penonton yang udah terlanjur baper berat wkwk. Yah, termasuk saya ini, baper terussss aja tiap Jum’at-Sabtu. Saya nggak baca novelnya, jadi saya nggak bisa komentar banyak soal puas-enggak puas dengan 10 episode TRS yang sudah ditayangkan tapi emang sih porsi perkembangan cerita Yisan-Deok-im lumayan dikit. Di Asianwiki sinopsis TRS nyeritain kisah cinta Deok Im-Yisan, tapi di TRS porsi politiknya kental sekali.

Saya baca hanya potongan-potongan kisah Yisan dan Deok-im yang dicatat sejarah. Bahwa Deok-im adalah satu-satunya selir yang dipilih sendiri oleh Yisan, bahwa sepeninggal Deok-im, Yisan mengalami patah hati terkelam dalam hidupnya… Ia meninggalkan sejumlah kata-kata pada nisan Deok-im. Kata-kata yang menyiratkan betapa besar kehilangan yang dirasakannya setelah Deok-im meninggal.


Kiisah cinta Yisan dan Deok-im begitu luar biasa dan dalaaammm.

Yang membuat saya ingin menangis (ya, saya akhirnya memang menangis) setiap kali Yisan dan Deok-im bertemu, melihat bagaimana sorot mata Yisan setiap kali menatap Deok-im, melihat betapa gigihnya ia mengejar Deok-im, dan Deok-im yang gigih pula menampik (Ia dua kali menolak lamaran Yisan)—melihat ini semua, saya seperti bisa melihat spirit kisah Yisan-Deok Im yang dicatat sejarah. Se-powerful itulah yang saya rasakan dari kisah Yisan-Deok Im di TRS ini. Saya nggak sadar berkali-kali membatin, “aih, pantas saja Yisan se-jatuh cinta itu pada Deok Im”, dan hanya dengan melihat interaksi mereka yang tidak banyak tapi membekas kuat itu, bayang-bayang patah hati berskala besar terpampang jelas di depan mata. Semakin besar kasih sayang yang ditunjukkan Yisan pada Deok-im, semakin kuat pula aroma patah hati yang (akan) datang dari jauh itu.



Bagi saya, TRS sejauh ini sudah berhasil menghidupkan nyawa kisah cinta Yisan dan Deok-im. Saya yakin banget ini tidak terlepas dari kekuatan acting dan chemistry Lee Junho dan Lee Se Young—siapa pun yang nge cast mereka dapat kiriman lope-lope yang banyak dari saya. Serius, keren banget! ASLI. Saya jatuh hati dengan dua orang ini. Ga ada satu pun episode yang gagal menampilkan detail acting mereka. Mungkin inilah yang namanya kena sirep akting aktor-aktor keren.

Dari Dongyi ke anaknya, Yeongjo, lalu cucunya, Pangeran Sado yang berakhir tragis, hingga ke cicitnya, Yisan, enggak ada yang mulus jalan hidupnya. Amis darah, pengkhianatan dan pemberontakan di mana-mana

Yisan yang dicatat sebagai salah satu raja yang memberikan sumbangsih yang besar terhadap perkembangan Joseon pada masa pemerintahannya juga nggak terlepas dari huru-hara. Kalo TRS ngikutin sejarah tar si Hong dan Ratu bakal nusuk Yisan dari belakang kan ya? Sisa 7 episode lagi apa bisa menampung kronologis yang padat itu?

Harusnya di sisa episode yang ada fokus cerita sudah masuk pada pengangkatan Yisan sebagai raja. Kalo sampe minggu depan Yisan belom naik tahta juga… curiga, dua episode terakhir, atau di episode terakhir kisah Yisan-Deok im bakal dipadetin. Au ah.

Yang jelas TRS udah bikin saya jatuh cinta. Pada kisah Deok-im, dan Yisan, pada acting, directing dan sinematografinya, pada gradasi warna, music, desain dan warna kostum—semuanya! Mata, telinga, dan hati dibikin puas sama kualitas drama ini. Jadwal bapernya tiap Jumat-Sabtu.

Semoga plot dan penyelesaian konflik TRS tetap memukau hingga akhir.

Oya, ada satu kesadaran baru yang saya rasakan saat menonton TRS, ternyata kisah sedih atau tragis yang memang sudah jelas-jelas nyata adanya pada satu drama/film atau pun buku, nyatanya akan tetap bisa membuat kita betah nonton bila pengemasannya bagus. Seperti TRS ini, udah tau bakal nyesek di akhir tapi tetep diikutin. Kenapa coba? Karena kisahnya indah! Drama MBC ini dikemas menggunakan tone yang indah, penonton semacam kena mantra, dan dengan berani dan percaya diri membuka tangan lebar-lebar sambil bilang, “SELAMAT DATANG KESEDIHAN. SINI AKU PELUK ERAT.”

Gitu.

Perkara bakal nangis-nangis jelek itu urusan belakangan.



Saya suka sekali liat Deok-im lari-larian, semangat dan bahagianya nyampe ke saya, tapi pas dia lari-larian kenceng banget sampe jatuh bangun di episode 9, saya kebagian sedih dan nangisnya. Berasa banget ketegangan, ketakutan, dan cemasnya Deok-im—Lee Se Young mo akting apa aja total banget. Ekspresi wajahnya itu loh...  

Happy ending The Red Sleeve nantinya (mungkin) bukan jenis happy ending yang kita harapkan.


Tabik,
Azz

P.s : Mbak Mel rekomendasiin drama Yisan, Wind of The Palace (MBC, 2007-2008), pengeeen banget nonton tapi liat total episodenya langsung ciut. Donlotnya di manaaaaa ini.