Showing posts with label Lee Joon. Show all posts
Showing posts with label Lee Joon. Show all posts

Episode 13


Yeon Hwa dan Joong Won makan bersama. Yeon Hwa makan lahap, sangat lahap malahan sampe Joong Won menegurnya agar makan pelan-pelan, apa kau sedang dikejar sesuatu? Kau bisa sakit perut, kata Joong Won khawatir Yeon Hwa keselek hihi. Lucunya Yeon Hwa tidak peduli dan malah meneguk habis kuah di mangkoknya hingga tetes terakhir! Eaalaaah, lapar ato rakus, mbak? XDD
Joong Won ingin mengatakan sesuatu pada Yeon Hwa.
“Ini akan menjadi kisah sedih bagimu.” Demikian kata Joong Won sembari memasang tampang respeknya.
“Apa itu?”
Joong Won belum menjawab.
“Jangan bercanda. Cepat katakan!” desak Yeon Hwa.
“Jangan terkejut dan dengarkan aku baik-baik.” Joong Won melipat tangan di dada. “Rey, kepala kuning yang kau suka, dia sudah mati.”
 “Benarkah? Bagaimana?” tanya Yeon Hwa.
“Lihatlah, sekarang. Sudah kuduga kau akan terkejut. Kau sudah tahu ada misi pertukarakan antara Baek San dan Jung Yoo Gun? Bukan cuma Rey tapi seluruh anggota IRIS  telah dibunuh oleh NSS selama misi. Rey dibawa setelah ia menerima beberapa luka tembak. Tapi aku yakin dia sudah mati.” Joong Won berkata dengan percaya dirinya.
Yeon Hwa teringat usahanya membunuh Rey saat di Jepang. Ia pikir saat itu ia sukses membunuhnya ternyata tidak. “Kupikir aku telah membunuhnya...” desis Yeon Hwa.
“Kau membunuhnya? Maksudmu?”
“Kau tahu mengapa aku melarikan diri dari Jepang? Aku ketahuan saat mencoba untuk membunuh Rey. Aku berhasil lolos dan melarikan diri.”
“Rey? Bajingan itu, apa dia ketahuan selingkuh darimu?” belalak Joong Won.
Yeon Hwa mendengus, “Seriuslah. Hubungan kami tak seperti itu. Aku hanya berpura-pura menyukainya jadi aku bisa memanfaatkannya.”
“Benarkah? Jadi, aku tak perlu memwarnai rambutku?” cetus Joong Won polos.
“Dengarkan aku sekarang. Aku ingin membunuhnya saat ia bersekutu dengan Korea Utara.”
“Jika kau sudah selesai, tambah satu mangkuk lagi.” Joong Won segera mengalihkan pembicaraan mendengar kalimat Yeon Hwa yang terdengar lebih mirip sebuah ancaman. Jadi kalo suatu saat Yeon Hwa menemukan bukti Joong Won bekerja sama dengan Korea Utara maka ia tidak akan segan-segan menjadi musuh bagi Joong Won.
*(Suer, aku ngakak pas adegan ini. Sempet lupa kalo Joong Won adalah villain yang kubenci di sini. Kalo Joong Won ketemu Yeon Hwa emang ada aja yang bikin ketawa. Joong Won tidak seperti seorang pria licik dan berbahaya).



Ji Yun dan Byung Jin mengamati monitor CCTV sebuah sudut jalan. ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Byung Jin menoleh pada Ji Yun, lokasi yang terekam CCTV tak jauh dari markas NSS. Baru saja mereka hendak keluar ruangan, Hae Young masuk menahan langkah mereka.


“Ini Kepala Bagian, Hwang Te Yoon yang akan bertanggung jawab atas Ruang Situasi mulai hari ini.”
“Rasanya menyenangkan bisa kembali.” Ugh, si ahjussi yang jadi ‘sekutu’ Direktur Kang rupanya.
Hae Young meminta Mi Jin untuk membersihkan meja Ketua Tim (Yoo Gun maksudnya). Mi Jin ingin menyela tapi Hae Young berkata Kepala Bagian Hwang akan menggunakannya mulai sekarang. Usai perkenalan itu, Byung Jin dan Ji Yun bergegas keluar tanpa mengatakan apa-apa.

Yoo Gun dibawa ke ruangannya Choi Min. Interogasi lagi?


“Kau memanggilku?” tanya Yoo Gun.
“Kau ingat semua hal yang kukatakan secara rahasia?” Choi Min balik bertanya.
“Ya.”
“Aku mempercayaimu. Tapi itu tak resmi dari NSS. Kau masih belum dibersihkan dari semua tuduhan. Temukan Baek San dan Yoo Joong Won. Aku ingin kau membantuku.”
“Maksudmu secara tidak resmi?”
“Sudah kubilang tadi. Aku tak bisa membantumu secara resmi. Putuskanlah.  Apakah kau masih ingin melanjutkan menjadi tahanan rumah. Jika tidak, kau bisa keluar dan membantuku menemukan Baek San dan Yoo Joong Won,” Choi Min menawarkan.
Yoo Gun tertawa, “Kau memberi pilihan yang tak bisa kupilih.
Choi Min menyerahkan sebuah kunci, “Ini loker di stasiun Sadang. Kau akan menemukan barang yang kau butuhkan di sana. Kau bisa menggunakan ponsel loker untuk berkomunikasi denganku. Ponsel itu sudah dienskripsi jadi tak bisa dilacak. Bergerak dalam bayangan lalu temukan Baek San dan Yoo Joong Won.”
Yoo Gun sepakat untuk menjadi agen tidak resmi bagi Choi Min. Kata lainnya, Choi Min akan membantu Yoo Gun diam-diam untuk menangkap Joong Won dan Baek San.

Di sebuah gedung belajar Bahasa Asing, seorang pria terlihat serius belajar bahasa inggris. Ini pria yang sama dengan pengantar/pelayan makanan di restoran langganan anggota NSS. Ia nampak kesulitan dengan pelajarannya. Dalam perjalanan kembali ke restoran, ia tak sengaja melihat Tae Hee di sebuah restoran. Tae Hee duduk sendirian. 


Ceritanya pelayan ini mau mendekat dan mengajak Tae Hee kenalan tapi tiba-tiba seorang pria bertopi muncul dan duduk di hadapan Tae Hee dan kagak jadi dah tuh pelayan tepe-tepe sama Tae Hee. Aduuuuh emang mendingan jangan deh kalau masih kepengen hidup. Jangan-jangan belum minta kenalan pisau kecil Tae Hee udah melayang aja nancep di leher. Pembunuh berdarah dingin ini XDD


Ia tiba di restoran tempatnya bekerja. Cerita ke rekannya hari ini ujiannya gagal lagi. Selalu ada soal yang ia tak tahu. Lalu rekannya itu bilang kalau pelayan itu mungkin tak tahu banyak itu sebabnya ia selalu gagal.
“Tidak benar. Aku biasa mendapat nilai bagus sampai SMA,” elaknya.
“Kau mau aku percaya itu?”
“Kenapa kau tak percaya padaku? Aku dulu murid yang baik. Aku dulu wakil kelas juga.”
Di tengah perdebatan tidak penting itu, Ji Yun dan Byung Jin tiba di sana. Mereka datang bukan untuk makan.


“Barangkali kau pernah melihat wanita ini?” tanya Byung Jin sembari memperlihatkan foto Tae Hee di hapenya pada pelayan itu.
“Ya. Aku tahu wanita ini. Aku baru saja melihatnya.”
“Dimana?”
“Di kafe seberang jalan. Mungkin sekitar 10 menit lalu?”
Byung Jin dan Ji Yun saling berpandangan. Mereka segera menuju kafe yang dikatakan pelayan itu setelah mengucapkan terimakasih.
Ji Yun dan Byung Jin tidak menemukan Tae Hee di kafe itu. Mereka berpisah untuk melakukan pencarian. Byung Jin melihat lewat kaca Tae Hee berjalan cepat melewati depan kafe, berarti Tae Hee baru saja meninggalkan tempat itu. Mereka segera mengejar jejak tae Hee. Tae Hee menyadari bahwa ia telah diikuti. Ia menelpon pria bertopi yang menemuinya di kafe. “Ada yang mengikutiku. Hentikan.”


Jarak pengejaran Byung Jin dan Ji Yun sudah sangat dekat tapi seorang pria bertopi muncul dan menendang dada dan menghantam wajah Byung Jin hingga ia terjengkang. Ji Yun menendang balik pria itu. Dua lawan satu. Tae Hee tersenyum sambil berjalan cepat meninggalkan ‘arena’. Paling nahas nih Byung Jin, beberapa kali kena pukulan. Byung Jin mengkode Ji Yun agar Ji Yun membereskan pria itu. Ji Yun mengangguk. Byung Jin kemudian melanjutkan pengejarannya. Yaaaah, Tae Hee keburu masuk ke sebuah toko baju olahraga. Byung Jin hanya melewati toko itu tanpa masuk, Tae Hee melihatnya dari dalam. Aiiiiih, coba Byung Jin masuk....


“Situasi kode F5! Minta bantuan di area JH730.” Byung Jin menelpon ke markas NSS.


Yoo Gun membuka loker yang dimaksud oleh Choi Min. Di dalamnya ada koper berisi uang, ponsel, pistol dan pelurunya.
Selepas dari sana, Yoo Gun kembali ke kamarnya. Ia duduk meringkuk di sisi ranjangnya. Ia mencoba menelpon ke rumah ibunya, tersambung. Ibunya yang mengangkat.


“Halo.”
Yoo Gun tidak menjawab. Ia berusaha menahan gejolak emosinya.
“Halo?” untuk kedua kali ibunya menyapa.
“Ini aku, Ibu...” Suara Yoo Gun serak menahan haru.
Ibunya menangis seketika. “Benarkah?”
“Aku sudah kembali.” Yoo Gun bicara sambil nangis sambil senyum.
“Aku tahu kau pasti kembali, Yoo Gun...”
Baek San mendengarkan, ia berdiri di samping ibu Yoo Gun.
“Ummm... Tapi kau tahu... Bu...  ada urusan mendesak yang harus kukerjakan. Setelah selesai aku akan menjengukmu.” Yoo Gun terbata-bata.
“Banyak yang ingin kuceritakan padamu juga. Cepatlah datang Yoo Gun-ah.”
“Ya....” ucap Yoo Gun pelan.
Sambungan telepon terputus. *(Nangis dulu aah. Kangen Ibu T_______T)
Baek San duduk di hadapan Soo Min (ibunya Yoo Gun).


“Yoo Gun akan datang. Dia pasti sudah dibebaskan,” kata Soo Min dengan mata basah oleh air mata. Baek San tidak mengatakan apa-apa. Ia meraih tangan Soo Min dan menggenggamnya. Ada kekhawatiran di matanya walaupun ia mencoba menutupinya dengan senyum.

Malam merambat cepat (udah kayak lagi nulis cerpen, mbak XD) Yoo Gun mengintip dua orang petugas yang mengawasinya siang-malam dari jendela kamarnya. Timing yang dinantikan Yoo Gun datang. Salah satu pria yang juga tinggal di apartemen itu menenteng dua kantung plastik sampahnya dan menuruni tangga, keluar apartemen. Yoo Gun mengikutinya di belakang. Saat itu bersamaan truk pengangkut sampah lewat di depan apartemennya, Yoo Gun bergerak cepat. Sangat cepat sodara-sodara sebangsa dan setanah air! *Lebaaaaaai*, Beneran cepet banget. Yoo Gun mengejar Truk dan melompat masuk ke dalamnya.


Ia menghantam leher pengemudinya, entah pingsan doang atau udah metong beneran tuh orang. Yoo Gun mengambil alih kemudinya. Done! Upaya melarikan diri sukses! *Tepuk tangan* *Tumpengan*

Lalu, kemanakah Yoo Gun pergi? Rumah Ui Sang Chul! Dengan mengendap-endap Yoo Gun mendekati pintu. *(Hadeeeh, belum tau aja Yoo Gun Kalo Om Ui Sang Chul udah kembali menghadap Tuhan Yang Maha Esa). Yoo Gun mendapatkan alamat Ui Sang Chul dari notes yang ditempelkan Soo Yeon di lemari kaca di kamar Yoo Gun. Pintu rumah Ui Sang Chul tidak dikunci. 


Trus Yoo Gun sempet-sempetnya bilang permisi gitu. Ealaaah, Baaaaaang! Mau bertamu atau apa sih? Hihi.
Yoo Gun masuk. Ia menemukan Ui Sang Chul sudah tewas tak bernyawa. Yoo Gun kan mantan agen tingkat yahud jadi dia tidak gegabah nyerobot masuk trus menghamburkan sidiki jari dimana-mana trus ujung-ujungnya ditangkap polisi karena dituduh membunuh (Ini sinetron di negeri kitaaaaaaaah LOL). Yoo Gun bahkan tidak menyentuh seinci pun tubuh Ui Sang Chul. Satu-satunya sidik jari Yoo Gun yah ada di pistol yang ditempelkan si pembunuh misterius. Yoo Gun meninggalkan rumah Ui Sang Chul tanpa membawa hasil apa-apa.

Baek San dan Soo Min berjalan bergandengan tangan di pekarangan.


“Seperti inilah impianku, hidup dengan menikmati dunia,” kata Baek San.
“Kau bisa melakukannya mulai sekarang,” timpal Soo Min.
Baek San berhenti melangkah. Ia menatap Soo Min, “Menurutmu begitu?”
Soo Min mengangguk dan tersenyum. Baek San merengkuh pundak Soo Min, mereka berjalan lagi.

Kembali ke rumah Ui Sang Chul. Seseorang tiba! Shi Hyuk. Omo! Ia menerima telepon dari Choi Min. “Katakan apa yang terjadi.”


“Ui Sang Chul sudah mati.”
“Apa?” Choi Min terlengak kaget.
“Kita butuh tim forensik.”
“Akan kukirim tim segera ke sana jadi jaga tetap TKP.”

Shi Hyuk mengerti. Daaan, pemirsah... usai menerima telepon Choi Min, Shi Hyuk mengantongi kembali ponselnya. Tatapannya itu loh... berubah dingin dan sadis T______T *Guling-guling*


Mobil yang ditumpangi Joong Won Cs berhenti di sebuah pengisian bahan bakar. Joong Won menerima telepon dari seseorang. Sebuah berita mengenai keberadaan Baek San nampaknya karena Joong Won menanyakan kenapa Baek San ada di sana (rumah ibunya Yoo Gun).
“Kau menemukan alamatnya? Kirimkan sekarang.” Joong Won sudah tahu keberadaan Baek San.
Yoo Gun dalam perjalanan. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa panik di wajahnya. Berkali-kali diteleponnya ibunya tapi tidak ada yang mengangkat. Kan Ibunya lagi nostalgia sama Baek San di luar rumah. Countdown, siapa yang lebih cepat tiba di rumah Ibu Yoo Gun, Yoo atau Joong Won? T_____T


Tae Hee bertanya apakah Joong Won yakin Baek San ada di sana, Joong Won yakin firasatnya mengatakan Baek San ada di sana.
Baek San dan Soo Min kembali ke rumah. Huft, Yoo Gun tiba duluan. Soo Min bertanya siapa yang datang. Yoo Gun berlari mendekat. Alangkah bahagianya Soo Min melihat kedatangan anaknya. Yoo Gun terkejut melihat Baek San ada di sana.


Soo Min menghambur memeluk Yoo Gun. “Syukurlah...”
Yoo Gun memeluk ibunya, air matanya menitik. “Ibu, maafkan aku...” Walaupun begitu ia masih menatap Baek San dengan galak dan penuh tanya.
Soo Min melepaskan pelukannya. “Ada seseorang yang ingin ibu perkenalkan.” Ia menarik tangan Yoo Gun ke hadapan Baek San.


“Sang Joon, kau ingat? Jika kita punya anak laki-laki kita akan menamainya ‘Gun’. Meskipun aku memberinya nama belakangku, aku tetap menepati janjiku padamu. Aku menggabungkan nama belakangmu ‘Yoo’ dan nama ‘Gun’.” Soo Min memanggil nama Yoo Gun. “Ini ayahmu. Yoo Sang Joon.”
Soo Min mendekatkan tangan Yoo Gun dan tangan Baek San. Sediiikiiit lagi dua tangan itu bersentuhan, Yoo Gun menarik tangannnya. Tangan Baek San yang sudah terulur, menggantung di udara... Waeyoooooo, Yoo Guuuuuuuun >_< Barangkali Yoo Gun merasa shock dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui. Baek San yang ia pikir telah membunuh ayahnya rupanya adalah ayahnya.

Joong Won Cs tiba. O_O



“Ayolah...” Soo Min membujuk Yoo Gun. Air mata Yoo Gun terus jatuh tanpa kata, tanpa suara. Yoo Gun melunak, kali ini Baek San yang berinisiatif memajukan tangannya hendak menggenggam tangan dua orang yang teramat sangat dicintainya. Ya Tuhan... Ini  salah satu scene emotional di drama ini. Tangan Baek San belum sepenuhnya menyentuh tangan Yoo Gun dan Ibunya saat kejadian super cepat itu terjadi.



Yoo Gun refleks menyadari ada seseorang di sisi kiri rumah, Yoo Gun menarik pistolnya. Yoo Gun salah pengertian, orang itu adalah pengawal Baek San yang menyadari kehadiran Joong Won. Tepat saat Yoo Gun memutar badan dan mengarahkan senjatanya ke arah pengawal Baek San, Joong Won menembak. Dan tepat mengenai dada Soo Min. Yoo Gun sempat melihat Joong Won. Baek San terus menerus memanggil nama  asli Soo Min (Ji Young). Yoo Gun menatap nanar ibunya di dalam rangkulan Baek San. Yoo Gun seolah lepas kendali. Ia memburu Joong Won dengan tembakan. Tembak menembak terjadi antara Joong Won-Tae Hee dan Yoo Gun-Pengawal Baek San. Melihat situasi yang kurang menguntungkan, Tae Hee menginstruksikan pada Joong Won mereka harus pergi dari tempat itu. Joong Won dan Tae Hee berhasil mencapai mobil dan melarikan diri. Sia-sia Yoo Gun mengejar. Ia melepaskan tembakan hingga pelurunya habis.

Yoo Gun melangkah gontai menemui ibunya yang sudah berlumuran darah di pangkuan Baek San. Napas ibunya kian melemah. Dengan kondisi Soo Min/Ji Young sudah sangat kritis. Ia mempersatukan tangan Baek San/Yoo Sang Joon dan tangan Yoo Gun.


“Yoo Gun-ah...”
Yoo Gun menangis. Baek San juga.
“Aku sangat merindukanmu... aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu lagi. ” Soo Min menujukkan kalimatnya untuk Baek San.
“Yoo Gun-ah... Mohon maafkan ayahmu, ini... harapan ibu.”
Usai berkata demikian, Soo Min menghembuskan napas terakhirnya. Tanganya terhempas. Lemas. Yoo Gun berteriak, ia menangis sangat hebat. Baek San merengkuh kepala Soo Min dan memeluknya disertai tangis tanpa suaranya. TT____________________________TT

What the... Yoo Joong Won abis ngebunuh orang, sukses melarikan diri. Joong Won marah-marah dalam mobil yang membawanya.


“Kita kehilangan Baek San.” Joong Won berulang kali memukul bagian mobil. “Jung Yoo Gun harusnya dipenjara sekarang. Bagaimana dia bisa di situ?”
“Tenanglah,” Tae Hee menyela. “Kita akan punya kesempatan lagi.”
“Hanya wanita tak bersalah yang tertembak.”
“Jangan terlalu dipikirkan.”
“Tetap saja, itu tak seharusnya terjadi. Aku juga punya ibu. Semoga dia tidak mati.”
“Apa menurutmu NSS akan membawa kembali Baek San?” tanya Tae Hee.
“Kita tak bisa memastikan. Aku tak percaya Baek San adalah ayah Jung Yoo Gun.” Tandas Joong Won.

Yoon Shi Hyuk menghadap Choi Min. Choi Min minta dijelaskan situasi di TKP.



“Sudah lebih dari 24 jam sejak Ui Sang Chul tewas.  Kami menggunakan senjata yang digunakan oleh tersangka. Termasuk senjata, tim forensik sedang mencari sidik jari di sudut lain rumah itu.”
“Baiklah, kita akan menunggu hasilnya dan aku harus mengirimu ke tempat lain segera. Bawa Tim Operasi B dan bawa kembali Baek San.”
“Kau tahu dimana dia?”
Choi Min membuka layar leptopnya dan menyerahkannya pada Shi Hyuk (Gadget-nya canggiiiih mameeeen, udah main cabut-cabut aja tu layar lepi). Shi Hyuk mengamati layar leptop yang menampilkan titik koordinat.
“Apa ini lokasi Baek San?”
“Ini lokasi pelacak. Sehari sebelum ia menghilang, Kepala Bagian Oh menanamkan pelacak pada Baek San. Kau akan tahu setelah kau melihatnya. Dia akan pergi dari tempat dia berada. Aku akan mengirim lokasinya. Pergi tangkap dia. Kau harus membawanya hidup-hidup.”
“Aku mengerti.”



Ini gak tau jalan ceritanya kenapa Baek San udah ada di dalam mobil. Mau kemanaaaa? Lah, trus pemakaman ibunya Yoo Gun? Baek San menangis.
“Anda mau ke mana sekarang?” tanya pengawalnya.
“Pergi kemana saja dulu.”
“Baik.”
Baek San mengingat kembali pertemuannya dengan Soo Min semasa muda, betapa romantisnya. Lalu pertemuan mereka setelah berpisah hampir tiga puluh tahun yang dipenuhi keharuan. Sesingkat itulah kebersamaan mereka. Baek San membuka kacamatanya. Ada sorot kemarahan di sana.


Sementara itu Shi Hyuk memulai mengikuti jejak Baek San melalui monitor yang diberikan Choi Min. Celem ajah liat mukanya Shi Hyuk. Pengen kugetok pake panci tetangga.



Baek San meminta pengawalnya meminggirkan mobil. Ada apa? Ia meminta pisau pada pengawalnya. Tebak apa yang dilakukan Baek San? Ia mengorek leher bagian belakangnya menggunakan pisau itu. Ya, pengaruh obat bius itu sudah habis makanya Baek San bisa merasakan ‘sesuatu’ itu. Ia menemukan alat pelacak itu. Baek San memasukannya dalam botol air mineral. Diletakannya botol itu di pinggir jalan kemudian menyuruh pengawalnya melanjutkan perjalanan.


Shi Hyuk heran kenapa sinyal merah di monitor menghilang. Ia menghentikan mobilnya. Mau dipencet gimana juga tuh leptop, Baek San-nya gak bakal ketahuan ada dimana. Shi Hyuk menelpon Choi Min.


“Kau sudah menangkapnya?” tanya Choi Min.
“Aku hampir menemukannya tapi... sinyalnya hilang.”
“Apa?”
Choi Min cetlessss lagi -________- *Puk-puk*


Bersambung Ke Part 2
Komentar :
....


Part 2


Yoo Gun bangkit dari duduknya. Soo Yeon tidak bisa menahan air matanya.
“Kau sudah kembali.”
Yoo Gun mengeluarkan deheman, tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Ia melihat cincin yang melekat di jari Soo Yeon. Cincin yang pernah diberikannya. Semakin ia tidak bisa menahan keharuan di hatinya.


“Terimakasih... sudah kembali...” ucap Soo Yeon terbata.
“Maafkan aku... hanya itu yang bisa kukatakan. Maafkan aku, Soo Yeon-ah...”
“Tidak apa-apa...” Soo Yeon tersenyum walau air matanya masih terus mengalir.


Pertemuan mereka penuh keharuan tapi dingin. Kenapa aku bilang seperti itu? Rasa bersalah yang sangat besar tertanam kuat di kepala Yoo Gun. Aku khawatir itu akan membuat hubungan mereka tidak manis lagi seperti saat Yoo Gun belum terluka dan diculik IRIS.


Choi Min mengamati monitor leptopnya. Ia memantau pergerakan Baek San. Masih ingat kan sebelum dilakukan pertukaran, Oh Hyun Kyu telah menyuntikan alat pelacak di bagian leher belakang Baek San.


“Aku sudah menyuntiknya dengan bius lokal jadi ia takkan merasa sakit selama beberapa hari. Selama itu, dimanapun dia berada kita dapat melacak lokasinya.” Oh Hyun Kyu menjelaskan.
“Bisakah kau merahasiakan ini untuk sementara?” pinta Choi Min.
Oh Hyun Kyu setuju tapi ia menanyakan apakah ada alasan mengapa mereka harus merahasiakan itu?
“Kau akan tahu nanti,” kata Choi Min.

Di ruangan TF-A Team, tim dispatch melakukan pelacakan keberadaan Baek San. Mereka sudah mengirimkan fotonya ke polisi. Profil Baek San juga akan masuk ke dalam daftar buronan hari itu. Mi Jin bilang mereka dengan mengakses sistem komunikasi polisi.

Yoo Gun merenung sendirian di ruang tahanannya. Mengingat pertemuan pertamanya dengan Baek San di saat pertukaran setelah berpisah setahun. Mengingat foto yang telah membuatnya salah pengertian hingga detik itu bahwa Baek San-lah yang membunuh Ayahnya. Mata Yoo Gun penuh dendam. Eaaalaaah. T_______T


Ada seseorang yang mencopy finger print Yoo Gun. Who? For What? *perasaan gak enak*

Choi Min masih terus melakukan pemantauan terhadap keberadaan Baek San saat Direktur Kang masuk. Choi Min hendak berdiri tapi Direktur Kang melarangnya.


“Aku akan segera pergi,” katanya. “Urusan Dalam Negeri telah mengirim surat panggilan. Kenapa kau menyelidiki urusanku dengan Lee Soo Jin sekarang?”
“Ini masalah yang harus kami bereskan sekarang.”
Direktur Kang menahan geram. “Kau pasti mencoba untuk menghindar dari tanggung jawab atas kehilangan Baek San dengan mengeluarkanku. Apa rencanamu setelah kau mengirimku ke Badan Intelijen Nasional?”
“Menurutku kau sudah keterlaluan.”
Direktur Kang mencopot ID cardnya dan melemparkan ke atas meja. “Terserah kau saja!” ucapnya berlalu.

Direktur Kang melewati koridor bersama seorang ahjussi, mungkin dia yang namanya Ketua Tim Hwang kali yah? Direktur Kang bermaksud mengambil alih Tim TF-A.



“Selama aku di Badan Intelijen Nasional, aku mau kau mengambil alih Ruang Situasi sebagai Kepala Bagian,” kata Direktur Kang.
“Apakah kau mau aku mengawasi Wakil Direktur Choi Min?”
“Untuk menangkap IRIS, Choi Min melakukan segala cara bahkan jika cara itu ilegal. Anggap kau melakukan hal ini demi negara dan awasi dia dengan seksama.”
“Tapi tetap saja...”
Direktur Kang menenangkan rekannya. “Aku akan segera kembali.”


Saat itu Hyun Woo datang menghadap. “Apa kau mencariku?”
“Bukankah kau dekat dengan Jung Yoo Gun?” tanya Direktur Kang.
Hyun Woo mengiyakan.
“Bagaimana sekarang? Kau percaya padanya sekarang?”
“Aku tak mengerti maksudmu.”
“Seperti yang kudengar, aku bertanya apakah kau masih mempercayai seseorang yang telah berperan sebagai bagian operasi IRIS selama setahun terakhir? Jung Yoo Gun akan segera dibebaskan.”
“Benarkah?” Ahjussi tanpa nama itu menyela.
“Pengampunan yang diminta Wakil Direktur  telah dikabulkan oleh Presiden. Untuk menangkap IRIS ia ingin memiliki akses khusus informasi Jung Yoo Gun untuk menangkap IRIS. Kau harus membentuk tim pengawasan untuk mengawasi Jung Yoo Gun,” kata Direktur Kang. Hyun Woo tentu saja kaget dengan itu. Direktur Kang melanjutkan, “Seseorang harus melakukannya. Menurutku kau orang yang tepat.”
Hyun Woo menolak melakukan itu. “Maaf. Aku ingin kau mencari orang lain untuk tugas  tersebut.”
“Apa katamu? Kau pikir di sini taman bermain anak atau bagaimana? Kita tak tahu apa yang sudah dilakukan Jung Yoo Gun selama dia menghilang. Atau apakah ia sudah dicuci otak dan kembali sebagai agen ganda. Terlebih lagi ia hampir membunuh Ji Soo Yeon.”
Mendengar nama Soo Yeon disebut, Hyun Woo berubah pikiran. Ia akan melakukannya. Tau aja Direktur Kang apa yang bisa membuat Hyun Woo mengubah keputusannya. Nama Ji Soo Yeon memang ampuh. Direktru Kang memuji Hyun Woo sudah mengambil keputusan yang tepat, ia menyuruh segera dibentuk tim dan laporkan padanya jika Hyun Woo menemukan sesuatu.

Choi Min memberitahu Soo Yeon bahwa Yoo Gun akan menerima pengampunan khusus dan segera dibebaskan. Tapi Yoo Gun akan dibebastugaskan dari NSS.


“Dia akan menjadi tahanan rumah untuk sementara. Dia juga tak boleh menghubungi orang luar. Aku memberimu akses khusus ke tempatnya jadi jaga dia dengan baik. Dia mungkin masih syok.”
“Ya, aku mengerti.” Soo Yeon menjawab.

Baek San menemukan rumah Jung Soo Min, ibunya Yoo Gun! Ia menahan haru sembari mengamati sekitar rumah itu. tiba-tiba lampu dinyalakan dalam rumah. Ibu Yoo Gun terbangun dan menyadari kalau ada orang di halaman rumahnya.


“Siapa itu? tanyanya sambil membuka pintu. Karena rada gelap, Ibu Yoo Gun mendekat demi memastikan penghlihatannya.
“Tidak mungkin... tidak mungkin kau...”


Baek San melangkah maju. “Maafkan aku...” Baek San menangis. “Aku datang sangat terlambat, kan?”
Keduanya saling bertangisan. T_____T


Joong Won dalam proses pemulangan ke negaranya. Ia dikawal petugas. Joong Won ditahan saat mau ke toilet.
“Kau akan mengikutiku ke toilet?”


Itu akal-akalannya Joong Won saja sebenarnya sebab setelah ia masuk ke dalam toilet bersama ajudannya, petugas NSS yang menunggunya di depan pintu masuk toilet menyadari ada yang tidak beres, Joong Won terlalu lama berada di dalam dan tidak keluar juga. Benar saja, Joong Won melarikan diri melalui atap. Sebuah mobil putih menjemput mereka di luar. Petugas NSS kehilangan jejaknya. Pfiuuuh.

Di ruangannya, Choi Min mencoba mengorek cerita dari Yoo Gun mengenai pergerakan IRIS.


“Ceritakan tentang Mr. Black.”
“Dia bertanggung jawab atas semua kegiatan di Asia Timur. Termasuk Rey, semua anggota IRIS akan mengikuti perintahnya. Selain kode nama ‘Black’ tak ada hal lain yang kuketahui,” jawab Yoo Gun.
“Apakah menurutmu Yoo Joong Won juga menerima perintahnya?”
“Aku memang yang membawa Kwon Young Choon dari lokasi perundingan, tapi tang menyerahkannya padaku itu Yoo Joong Won.”
Choi Min mengerutkan kening, “ Yoo Joong Won?”
“Kwon Young Choon dan Yoo Joong Won, adalah dalang pembunuhan seluruh pihak Korea Utara.”
“Tapi tetap saja kita tidak punya bukti.”
Yoo Gun menghela napas. “Yoo Joong Won dan IRIS punya rencana lain. Ketika aku ditahan di Jepang, Rey memberitahuku. Tujuan utama IRIS adalah melakukan teror nuklir di Seoul dan Pyongyang. Alasan mereka menginginkan Baek San adalah karena Baek San tahu lokasi 5 senjata nuklir itu. kau sudah tahu hal ini.”


Masih dalam pelariannya, Yoo Joong Won berkata mereka telah membuang banyak waktu. para oposisi dalam Republik telah mengambil tindakan. 


Di ruangan TF-A Team, tim dispatch bekerja sangat keras mencari keberadaan Yoo Joong Won walaupun hingga detik itu mereka tidak menemukan apa-apa. Hae Young memerintahkan agar arena pencarian diperluas menjadi radius 10 kilometer.
Choi Min datang menanyakan perkembangan pencarian mereka.


“Kami sudah memeriksa setiap CCTV hotel dalam radius 2 kilometer. Tapi kami belum menemukannya.” Hae Young selaku ketua Tim Dispatch yang menjawab.
Choi Min pusing pastinya. “Baek San dan kini Yoo Joong Won. Ini berbahaya.”
“Kudengar Ketua Tim sudah dibebaskan. Apakah dia akan bergabung kembali dengan TF-A Team?”
“Jung Yoo Gun bukan lagi agen NSS. Jangan sampai salah.”
Semua anggota TF-A Team yang berada di ruangan itu menunjukkan wajah sedih. Byung Jin menyerahkan sebuah print gambar tersangka yang mungkin memasuki server NSS kemarin. Byung Jin menemukan gambar saat orang itu (Tae Hee) memasuki dan keluar gedung.
“Kami sedang melacaknya sekarang.”
Choi Min menginginkan Byung Jin dan Ji Yun ke ruangannya saat itu juga. 


“Baek San, Yoo Joong Won dan sekarang wanita ini menjebol server kita. Begitu banyak hal terjadi sekaligus jadi kita perlu menyimpulkan semuanya.” Choi Min langsung ke intinya sesaat setelah mereka tiba di ruangannya. Baik Ji Yun maupun Byung Jin sama-sama mengangguk mengiyakan.
“Cari tahu tentang wanita ini.  Begitu kau mendapat petunjuk, aku akan mengirim tim untuk melakukan penangkapan.”
Tiba-tiba Choi Min menanyakan keberadaan Hyun Woo. Byung Jin ragu-ragu menjawab. Choi Min mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan darinya.

Jadi ada dimanakah uri Hyun Woo? Dia lagi nge-stalking ­Yoo Gun di apartemennya. Udah keliatan frustasi Hyun Woo gara-gara Yoo Gun tidak menunjukkan pergerakan apa-apa. Young Min bertanya apakah mereka harus melakukan itu?


“Ini tak seperti kita tak mengenalnya. Kita sudah menginvasi ruang pribadinya,” keluh Young Min.
“Aku juga tak suka melakukan ini. Tapi jika bukan kita, orang lain yang akan melakukannya,” kata Hyun Woo seraya mengusap wajahnya. Semrawut amat itu muka.


Saat itu Soo Yeon dan Yoo Gun tiba di apartemen Yoo Gun. Lagaknya Yoo Gun itu persis kayak orang yang baru pertama kali datang ke sana. Dia mengamati semuanya. Sesampainya di dalam apartemen, Soo Yeon mengingatkan status Yoo Gun saat ini adalah sebagai tahanan rumah jadi ketika ia keluar seorang agen akan mengawalnya untuk sementara waktu. Yoo Gun juga tidak boleh menggunakan ponsel.

“Jangan anggap ini sebagai tahanan rumah tapi cobalah untuk beristirahat,” kata Soo Yeon. karena di sana tidak ada makanan jadi Soo Yeon akan keluar membeli makanan.
Yoo Gun menyadari sesuatu, ia bergerak cepat ke kamarnya dan memutar balik lemari kaca (itu loh yang ada tempelan foto-fotonya Baek San dll di belakangnya). Mungkin Yoo Gun takut Soo Yeon melihatnya padahal kan memang Soo Yeon sudah tahu itu. Soo Yeon mendekati Yoo Gun.


“Selama aku tinggal di sini dan mengikuti informasi yang kau tinggalkan. Aku menemukan ternyata Ui Sang Chul masih hidup. Jadi aku menemui Ui Sang Chul. Aku menemukan kenyataan tentang Ayahmu dan Baek San.”
Yoo Gun menatap Soo Yeon (tatapannya itu loooh, bukan tatapan Yoo Gun seperti yang selama ini kita kenal kalau menatap Soo Yeon. Asing.)
“Aku banyak berpikir bagaimana caranya untuk memberitahumu. Tapi, menurutku akan lebih baik jika kau mendengarnya langsung dari Ui Sang Chul. Aku akan meminta ijin untuk keluar selama beberapa hari. Jadi, kita bisa pergi bersama.”
Yoo Gun mengangguk.
“Istirahatlah. Aku akan ke toko makanan sekarang...”

Kasihan Soo Yeon. Yoo Gun benar-benar berubaaaaaaah. Sebeeeel pengen ngejambak-jambak rambut Rey *eh* Sebelum pergi Soo Yeon meletakkan ponselnya di atas meja. Aku tahu ia sengaja melakukannya. Ada satu orang yang harus dihubungi Yoo Gun segera. Yoo Gun mengambil secarik kertas yang ditempel di lemari itu. Ia sepertinya terkejut membaca apa yang tertulis di situ tapi aku nggak tau apa bacaaanyaaaa >_<
Baek San dan Jung Soo Min menyusuri pinggir sungai berdua.


Baek San : Sudah musim semi.
Soo Min : Segera daerah ini akan dipenuhi dengan bunga liar.
Baek San : Ternyata kau masih suka bunga.
Soo Min : Setelah aku bertambah tua, aku semakin suka bunga. Apakah kau sudah menikah?
Baek San : Jika maksudmu tentang pernikahan palsu, ya aku sudah menikah. Kau tahu pekerjaanku.
Soo Min baru menyadari Baek San belum meninggalkan pekerjaanya sebagai agen. Lucu juga ngeliat pengawalnya Baek San masih setia menjaga Baek San dari jauh.


Yoo Gun mencoba menghubungi seseorang memakai ponsel Soo Yeon. Belum tersambung aja matanya udah basah gitu. Dia menelpon ke rumah ibunya tapi tidak ada yang mengangkat. Semua itu tidak lepas dari pengawasan Hyun Woo dan Young Min di dalam mobil boks. Young Min bertanya apakah mereka perlu melapor Yoo Gun menggunakan telepon Ketua Tim Ji. Tidak perlu. Biarkan saja. Itu kata Hyun Woo.

Yoo Gun menghampiri Soo Yeon yang sedang mengeluarkan belanjaannya. Soo Yeon menanyakan apakah Yoo Gun sudah menelpon ibunya? Tidak ada yang mengangkat, demikian jawaban Yoo Gun. Mungkin saja ibunya sedang pergi liburan, simpul Soo Yeon. Soo Yeon harus pergi, ia akan segera kembali dan mungkin pada saat itu ibunya sudah kembali dan bisa mengangkat telpon. Oh Tuhaaaaan, sumpah sediiiih liat Soo Yeon yang kayak diabaikan Yoo Gun. Sikap Yoo Gun ke dia tuh dingiiin bangeeeet masa. Gregetan pengen nonjok. Coba Soo Yeon dipeluk sekali doang kek ini nggak sama sekali. menatap mata Soo Yeon aja jaraaaaaaaang *Oups, keyboard lepiku nyaris jebool gegara menekannya dengan keras hahahahaha* Tuh, si Hyun Woo aja yang ngeliat itu dari layar monitor pengintai kesel kenapa Yoo Gun memperlakukan Soo Yeon begitu.


Yoo Gun menyadari seisi rumahnya sudah disadap. Ia merusak semua penyadap yang ada di sana. Young Min berseru kalau mereka sudah ketahuan. Hyun Woo bergegas keluar mobil boks.
Soo Yeon mengendarai mobilnya. Entah mau kemana. Sesaat ia mengingat ketika Yoo Gun meminta maaf padanya di ruang interogasi. Langkah Yoo Gun ditahan dua orang pengawas sewaktu hendak keluar dari pintu utama apartemen. Cuman dalam hitungan detik, dua pengawas itu dilumpuhkan Yoo Gun bertepatan dengan kedatangan Hyun Woo.


“Katakan Seo Hyun Woo, Siapa yang memerintahkan ini?”
“Aku tak bisa memberitahumu.”
Kemarahan Yoo Gun meledak, “Katakan!” teriaknya sambil mencengkeram leher kemeja Hyun Woo.
“Meskipun tak ada perintah, aku akan tetap melakukan hal yang sama. Kau yang menembak Soo Yeon. Kau bisa mempercayai orang seperti itu?”


“Hentikan Seo Hyun Woo!” Tetiba aja si Soo Yeon udah nyampe di sana. O.O “Apa yang kau bicarakan? Kau juga tahu bagaimana kondisinya saat itu terjadi.”
Hyun Woo tidak berbicara lagi tapi jelas di matanya ia marah sekaligus sedih melihat Soo Yeon keukeuh percaya sama Yoo Gun. *pukpuk mas Dujun eh Hyun Woo* Hyun Woo meninggalkan halaman Apartemen itu.

Malam merambat. Yoo Gun sendirian lagi. Detik-detik saat ia menembak Soo Yeon melintas. Ekspresi wajahnya mengerikan. Yoo Gun membalik meja dihadapannya. Kemarahan yang mengendap kah yang membuat Yoo Gun sering kehilangan kontrol emosinya? Atau karena peluru yang masih bersarang di kepalanya? Hiiiiy, serem -_________-


Hyun Woo main sepedaan lagi. Nggak ngerti scene ini mau becerita soal apah. Hyun Woo cuci muka, ngambil air di kulkas. Duduk minum sambil menampakan wajah cool. Piye to maksud e, Mas? Yasudah, nikmati saja.


Tae Hee membawa Yeon Hwa ke hadapan Joong Won.
“Dia sudah datang.”
Joong Won menoleh. “Kim Yeon Hwa! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau terlihat seperti itu?”
“Hanya itu yang bisa kau katakan pada seseorang yang hampir mati?”
“Apa? Aku sangat khawatir...”
“Sudahlah. Aku mau mandi dulu. Setelah itu kita harus bicara.” 


Daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan, ini scene paling paling paling paling dipertanyakan untuk apaaaa ditampilkan? Haaaaah? PD-nim! Apa maksudnya scene Yeon Hwa mandi? Mana adegannya cukup lama pulaaaak! Buat ngedongkrak rating? Nggak ngerti dah.


Abis mandi Yeon Hwa duduk berhadapan dengan Joong Won.
Yeon Hwa : kau harus menjawab dengan jujur setiap pertanyaanku.
Joong Won : Kau membuatku takut.
Yeon Hwa : Siapa kau?
Joong Won : Apa? Apa yang kau bicarakan?
Yeon Hwa : Apa kau orang bebas saat aku melihatmu di Kamboja atau apakah kau Wakil Kepala Rakyat Angakatan Darat Republik Rakyat? Jika bukan, apa kau pembunuh yang bersekutu dengan IRIS dan membunuh seluruh pihak perdamaian dari Korea Utara? Yang mana kau sebenarnya?
Joong Won : Hei, Kim Yeon Hwa. Tanyakan satu-satu. Kau pikir aku punya banyak mulut atau apa? Jika kau menyudutkanku seperti itu, aku sendiri bingung siapa diriku.
Yeon Hwa : Jangan mengganti topik pembicaraan. Jika kau berniat untuk kembali dan setia pada Republik...
Joong Won : Kau sudah salah paham. Hari ini, aku menerima operasi pembersihan dari Korut dan hampir dipaksa untuk kembali tapi aku hampir lolos. Kau seharusnya berpikir sebelum bicara!
Yeon Hwa : Apa maksudmu?
Joong Won : Jika kau tak percaya tanya pada park Choon Sung. Kau tak tahu tapi aku punya rencana. Sampai aku memiliki kekuatan untuk membalaskan dendam pada Korut, ada yang harus kulakukan di sini. Dan, aku tak ingin mengatakan ini tapi...  (Joong Won memasang raut sedihnya) ibuku telah dikirim ke kamp tambang batu-bara di Gyeonghueng karena aku. apakah kau senang menyalahkanku setelah aku melewati semua ini?
Yeon Hwa : Benarkah itu? Tapi kenapa kau baru menceritakannya sekarang?
Joong Won setengah membentak, “Aku baru melihatmu sekarang. Kapan aku bisa memberitahumu?”
Yeon Hwa seperti berpikir.
“Yeon Hwa, dengarkan aku sekarang. Sama seperti keinginanmu, tidak lebih dari keinginanmu, aku ingin balas dendam pada Korea Utara. Kau mengerti?
“Bagaimana? Kapan?”
“Kita hanya perlu menemukan Baek San. Maka ada cara membalas dendam. Jadi kau harus membantuku juga. Ibuku, ibuku dan saudaraku Seung Won. Kita balas dendam pada Korea Utara bersama.”
“Kau serius, kan? Jika tidak, aku akan...”
“Membunuhku, ya. Lihatlah mataku. Yeon Hwa, kau harus percaya padaku. Bisakah kau melakukannya?” Joong Won berkata dengan berapi-api.
Yeon Hwa tidak menjawab tapi kelihatannya ia masih ragu-ragu.

Ui Sang Chul minum-minum sendirian di rumahnya. Ia berkata dalam hati. “Maafkan aku Baek San... Tidak, Yoo Sang Joon.”

“Satu-satunya hal yang tersisa dari hidupku adalah alasan.” Ui Sang Chul menenggak habis birnya. Kyaaaaaaa, ada seseorang di hadapannya menodongkan senjata. Ui Sang Chul menyipitkan mata, “Aku tak ingin hidup seperti itu lagi.”


Dan dua kali tembakan membuatnya terkapar kehilangan nyawa. Omaayaaaa! Orang yang menembak Ui Sang Chul adalah orang yang sama yang telah mencuri finger print atau sidik jari Yoo Gun karena pria ini meninggalkan jejak sidik jari Yoo Gun di pistol yang ia pakai membunuh Ui Sang Chul! I know who is he... Aku tahu! Bahkan hanya dengan melihat bayangannya. *sobs*

Joong Won dan Park Choon Sung tiba di tempat persembunyian Kwon Young Choon.


“Aku senang melihatmu baik-baik saja,” Joong Won basa-basi. “Aku sudah mendengar tentangmu dari Park Tae Hee.
Kwon Young Choon membuka kacamatanya dan meletakkan koran yang sedang dibacanya. Ia bangkit dan menghampiri Joong won.
“Kau pasti sudah menerima surat panggilan tapi aku senang kau lolos. Jangan terlalu khawatir. Setelah rencana kita selesai, aku akan segera mengampunimu.”
“Ya. Aku mengerti.”
“Jangan takut.”
“Tak ada ruang untuk takut ketika itu berurusan demi kesejahteraan Republik.”
“Tentu saja. Begitulah semestinya.”
“Ada yang ingin kukatakan padamu,” cetus Joong Won. “Semua anggota IRIS telah dibunuh. Bahkan Rey telah ditangkap oleh NSS setelah terluka. Kita bahkan tidak tahu apakah ia masih hidup atau tidak.”
“Jadi?”
“Jadi... Mr. Black akan membentuk kelompok baru. Karena Park Tae Hee dan aku telah membentuk kelompok, bantu aku agar Mr. Black bekerja untuk kita.," tandas Joong Won