Acara kemping seorang diri Lu Zhaoxi berakhir mengecewakan. Nasib nahasnya dimulai ketika ia berusaha menolong seekor anak kambing yang tersesat tak jauh dari lokasi tendanya. Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Lu Zhaoxi membawa anak kambing tersebut ke dalam mobilnya. Namun dalam perjalanan, mobilnya mengalami kecelakaan tunggal tertimpa longsoran tanah. Ia kemudian mencari pertolongan dengan masih membawa si anak kambing bersamanya. Ckck… sebegitu pedulinya sama anak kambing ya…


Di tengah perjalanan Lu Zhaoxi bertemu Ye Shilan, dokter anak yang sedang ditugaskan di klinik di desa Taoyuan. dr. Ye lagi nyari anak kambing yang hilang. Pas banget kan, anak kambingnya sedang digendong Lu Zhaoxi. Ye Shilan tanpa samlekum langsung menuduh Lu Zhaoxi sebagai pencuri kambing. Apes banget emang nasibnya Lu Zhaoxi, udahlah kemping di hari minggunya berantakan, mobilnya terjebak longsor, ditambah status barunya sebagai pencuri kambing—mantap. Mau ngelak gimana pun Ye Shilan tetap nggak percaya, wong bukti kejahatan ada di depan mata. Ye kaaan. Padahal Lu Zhaoxi sudah mengenalkan dirinya sebagai direktur baru rumah sakit Anxing, rumah sakit pusatnya klinik Taoyuan. Di mata Ye Shilan, Lu Zhaoxi adalah penipu dan pencuri HAHAHAHA. Mana besoknya lagi, ada nenek yang salah mengenali Lu Zhaoxi sebagai penjual obat ilegal.


Dan begitulah nasib Lu Zhaoxi selama terjebak di Taoyuan. Dia dipaksa bekerja oleh Ye Shilan supaya bisa menutupi biaya hidupnya selama berada di sana. Disuruh ngasuh kambing dan ayam HAHAHAHA.


Singkat cerita, jalan desa yang tertutup akibat longsor akhirnya berhasil dibuka. Tanpa pamitan ke Ye Shilan, Lu Zhaoxi akhirnya kembali ke habitatnya. Alias pulang ke kota. And guess what??  Dia beneran direktur baru rumah sakit Anxing dong PWAHAHAHAHA.


Seperti janjinya kepada Ye Shilan, Lu Zhaoxi menarik penugasan Ye Shilan agar kembali ke Anxing. Udah bisa nebak arah ceritanya bakal ke mana? Iyes, Ye Shilan akhirnya ketemu Lu Zhaoxi sebagai direktur baru. Dan dari sinilah cerita bertema komedi romantis ini dimulai.


***

Sekilas, kalo baca sinopsis cerita dan karakter tokoh utamanya, yang terbayang kemudian adalah drama ini akan mengisahkan tentang hubungan CEO tampan dan dokter cantik yang diawali dengan kesalahpahaman. Drama-drama Cina yang tokoh utama cowoknya digambarkan sebagai CEO—yang pernah aku nonton ya—sependek ingatan aku, rata-rata digambarkan red flag. Cool, galak, jaim-an, mendominasi dengan segala kuasanya. Domineering CEO. Trus ya tokoh utama ceweknya kebanyakan dijadiin objek cintanya sang boss. Awalnya, kupikir Hi Venus bakal kayak gini juga. Aku udah curiga duluan sama Lu Zhaoxi. Kejutannya adalah Lu Zhaoxi berhasil membuktikan sebaliknya! He wasn’t like that at all. Dia adalah peran bos pertama di Cdramaland yang out of the box, sangat sangat manusiawi, pokoknya doi bukan tipikal CEO yang biasa aku lihat di drama Cina. SOOOO FRESH AND FUN TO WATCH. I’m in love!


Jadi, bisa dibilang, aku underestimate di dua-tiga episode pertama Hi Venus. Memasuki episode 4, hatiku udah ga ketolong lagi, kena pelet gaya humorisnya Lu Zhaoxi. Kayaknya ga ada satu episode pun tanpa ngakak. Ada aja gitu yang bisa bikin kelepasan ngakak. Sampe mikir ajaib bener nih pa bos satu, bisa banget naikin mood orang yang nonton.


Nah, di review kali ini aku mau mencoba menuliskan alasan mengapa Hi Venus aku jadikan sebagai salah satu komedi romantis terbaik yang pernah aku tonton.

#1 Lu Zhaoxi


HAHAHAHA Lu Zhaoxi di urutan pertama alasan aku nonton dramanya. Kenapa coba? Seperti yang aku bilang sebelumnya, 3 episode pertama Hi Venus belum bisa meyakinkanku untuk lanjut, tapi begitu masuk menit-menit jelang ending episode 3 yang berlanjut ke episode 4—scene Ye Shilan bertemu Lu Zhaoxi setelah first encounter mereka di Taoyuan—lawak aslik! Ga nyangka akan selucu itu pembalasannya Lu Zhaoxi ke Ye Shilan HAHAHAHA. Ner bener pas bos kocak.


Lu Zhaoxi ga akan seperti yang aku bayangin. Dan kebukti bener. Bagus banget karakternya sebagai pa bos. Likeable, humoris, baik, sopan, profesional, nggak nge-bossy, down to earth, tau menempatkan diri, asik banget orangnya. Too good to be true but aku percaya ada kok orang yang karakternya macam Zhaoxi ini. Masih manusiawi sih menurutku, nggak yang dreamy gitu. Definisi cowok green flag yang kucari ehm. Maunya ya HAHAHAHA.


Lu Zhaoxi naikin standar karakter CEO di drama nih.

#2 Chemistry


CIAMIK!


Liang Jie dan Joseph Zeng udah pernah dipasangkan di drama kostum Time Flies and You Are Here—yang kebanyakan penonton mere-view jelek jalan cerita dramanya. Tapi chemistry nya Liang Jie dan Joseph bagus.


Bertemu kembali di Hi Venus dengan materi cerita yang bagus membuat chemistry dua orang ini meluap-luap. Natural dan sangat realistis. Lu Zhaoxi dan Ye Shilan melakukan hal-hal yang umum yang biasa dilakukan pasangan. Yang paling sering adalah makan bareng. Biasanya di drama tuh adegan makan bareng ya gitu-gitu aja, sekadar adegan numpang lewat. Di Hi Venus enggak gitu. Sambil makan mereka ngobrolin banyak hal. Bonding mereka kuat karena sering ngobrol sering sharing hal-hal yang perlu diketahui oleh masing-masing. Misalnya Ye Shilan dengan kehidupannya… Pasangan ini membuktikan bahwa komunikasi yang baik hanya akan bisa terjalin apabila ada dua orang yang sama-sama membuka diri untuk dibaca satu sama lain. Bersedia menerima perbedaan pasangan, dan berkompromi mengenali berbagai macam perbedaan di antara mereka. Dari sini ruang pemahaman dibangun.


Cowok nih harus belajar banyak sama Lu Zhaoxi. Termasuk belajar cara ngomong manis tapi jatuhnya ga ngegombal. Alus bener Lu Zhaoxi wkwk. Biasanya kalo nonton yang beginian seringnya cringe, ini enggak, malah senyam-senyum gila.


Pengen banget liat Liang Jie dan Joseph main bareng lagi.


#3 Perkembangan karakternya jalan!


Selain Lu Zhaoxi, aku juga dibikin jatuh akung sama Ye Shilan. Karakter utama wanita ini muncul dengan pembawaannya yang tidak membuat penonton respek di episode pilot. Namun seiring perkembangan cerita, aku sebagai penonton melihat alasan mengapa Lanlan bersikap demikian. Latar belakang kehidupannya di masa lalu mampu menjelaskan dengan logis mengapa karakternya tumbuh seperti itu; pesimis, berjarak, curigaan, sulit akrab dengan orang lain…


Ye Shilan ini yang paling bagus perkembangan karakternya. Judul lain drama ini kan Wo Ke Neng Yu Dao Le Jiu Xing atau I May Have Met a Savior, dengan kata lain pov utamanya adalah Ye Shilan. Di ending pun yang jadi closing statement-nya adalah Ye Shilan.


Beberapa kali Ye Shilan membuat mataku berkaca-kaca. Strong banget anaknya. Yang aku suka dari Ye Shilan, meskipun di awal dia annoying tapi dia terbuka menerima kritik, ga saklek atau sok yang gimana-gimana, sama seperti Lu Zhaoxi, cara berpikirnya Ye Shilan logis dan rasional. Aku bisa terkoneksi dengan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai aspek. Nemu karakter macam ini drama Cina yang mengusung genre komedi romantis sangatlah langka pemirsa, seenggaknya berdasarkan pengalamanku menonton selama ini ya…


#4 Second Couple-nya Seru!


Sebagai penikmat drama Cina sekian tahun ini yang sudah menonton lumayan banyak drama romantis, bisa diitung jari deh second couple yang bisa bikin aku betah nonton scene mereka. Drama Cina kan terkenal suka banyakin couple banyak-banyak yang seringnya merusak mood penonton wkwk.


Hi Venus menampilkan Jiajia dan Kevin Lin sebagai second couple-nya. Jiajia adalah penulis web novel yang bekerja di kafe, sedangkan Kevin adalah asistennya Lu Zhaoxi. Scene Kevin dan Jiajia lebih banyak diambil di kafe. Mereka nih suka ngobrol bahas cerita-ceritanya Jiajia yang udah dipublish. Dialog-dialognya diambil dari sudut pandang Jiajia sebagai penulis dan Kevin sebagai pembaca. Lumayan seru. Tergelitik sama beberapa kalimatnya Jiajia, aku sampe mikir Jiajia ini semacam ‘pesan’ pribadi yang ingin disampaikan Wang Xiong Cheng selaku penulis skenario Hi Venus. Paling suka waktu Jiajia bahasin orang-orang yang suka baca cerita romance. Ga bisa dipungkiri banyak orang yang masih memandang sebelah mata pembaca dan penulis cerita romance. Kayak yang… baca novel romantis? Haduh ngapain sih buang-buang waktu? Emang apa yang bisa didapatkan dari cerita-cerita romantis? Kehaluan yang menjadi-jadi?


HA. Siapa bilang novel atau film/drama romantis nggak ada manfaatnya buat pembaca? Jiajia bilang, dia awalnya menyukai cerita romantis gara-gara pernikahan orang tuanya yang gagal. Ia menemukan pelarian lewat cerita-cerita romantis yang ia baca. Jiajia percaya masih ada cinta yang indah di dunia ini. Dari sana ia terinspirasi untuk menulis ceritanya sendiri. Menemukan katarsis pada cerita-cerita romantis bukanlah dosa atau sesuatu yang memalukan. Kita sudah cukup dibuat babak belur oleh-oleh kenyataan yang hidup yang seringkali ngajakin bercandanya kebangetan. Bukan berarti sebagai penonton cerita romance kita jadi halu berlebihan. Ya nggak juga. Justru dari cerita romance aku menemukan banyak referensi tipe-tipe cowo mulai dari yang red flag sampe yang green flag. Tipe mana yang perlu dipaketin ke pluto tipe mana yang kira-kira bisa diajak ketemu emak-bapak HUAHAHAHAHA. Menonton cerita romance seenggaknya nggak terbukti bikin saya memuja romantisme secara berlebihan. Masih waras kok pemikirannya.


Aku menikmati scene-scenenya Kevin dan Jiajia, slow burn romance yang asik diikutin. Ga diburu-buruin, ga bikin cringe. Masuk akal. Pokoknya ngalir aja.

Kevin kalo sama Jiajia menggemaskan sekali. Aku ga pake jurus skip nonton adegan mereka.

#5 Bestie terbaik

Tampak belakang aja perfect ya, mon maap ga nemu fotonya Jiajia berduaan sama Lanlan

Ye Shilan beruntung banget punya temen yang keren kayak Jiajia. Dia jadi temen ngobrol dan temen sharing-nya Shilan. Jiajia selalu ngasih saran yang masuk akal untuk setiap masalahnya Shilan. Tokoh-tokoh di Hi Venus kebanyakan positif semua sih, ga ada yang sampe bikin esmosi jiwa. Jiajia adalah salah satu part terbaiknya hi Venus!


#6 Nggak Ada Plot Twist


Seringkali genre romantic comedy berubah haluan di tengah jalan menjadi genre melo-drama yang membuat bagian comedy-nya kehilangan makna. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama ada drama yang bisa konsisten membuat bahagia sampai akhir. Konsisten mempertahankan part komedinya dengan sangat baik. Tidak hadirnya konflik yang berat dan minus plot twist tidak lantas membuat aku sebagai penonton merasa bosan menonton. Reaksi orang beda-beda sih, ada juga kok yang ngerasa bosen nonton Hi Venus, tapi untuk referensi pribadi aku nggak pernah ngerasa bosen. Malah excited nungguin tiap episodenya.


Aku berani bilang karakter Lu Zhaoxi memegang peranan penting dalam urusan ini. Sisi humorisnya itu loh. Ga berlebihan, ga boring, bikin ngakak iya. Suka adaaaa aja kelakuannya yang bikin orang ga bisa ga ngakak. Heran kok ada makhluk se-menggemaskan ini.


Menurutku mendapuk Joseph Zeng/Zeng Shunxi sebagai pemeran Lu Zhaoxi adalah keputusan terkeren pihak produksi Hi Venus. Spektrum aktingnya gilak bagus banget. Ekspresi muka, gestur, intonasinya, semuanya baguuuus. Joseph berhasil menghidupkan karakter Lu Zhaoxi dengan sangat baik. Bisa fatal gagalnya kalo yang meranin Lu Zhaoxi ga se-apik Joseph aktingnya. Ga jamin deh aku bakal betah nonton.


Tanpa plot twist dan konflik yang nggak setajam silet tetap bisa bikin aku baperin Hi Venus, semua berkat Lu Zhaoxi dan chemistrynya dengan Ye Shilan—partner lawak kita.

#7 Value Cerita


Bisa nemu value berharga dari tontonan tuh menurutku kerena sih. Meskipun Hi Venus mengusung tema komedi romantis, namun apa yang ditampilkan drama ini melalui dialog-dialog antartokohnya sangatlah menginspirasi. Romance-nya tuh ada isinya. Lucunya juga nggak yang sekadar bikin haha-hihi gemes peluk guling (bagi jomblo), tapi juga ngasih insight. Moral ceritanya kuat.


Aku mulai dari karakter Ye Shilan ya…


Ayah Ye Shilan bun*h diri saat ia kecil. Ibunya lalu menikah kembali dan memiliki anak laki-laki dari pernikahannya ini. Ye Shilan sangat dengan ayahnya, ia menganggap ayahnya sebagai role model, pahlawan keluarga sebelum akhirnya ayahnya memilih mengakhiri hidupnya. Kehilangan besar sangat dirasakan Ye Shilan, dan ini turut mempengaruhi sudut pandangnya, bagaimana ia memandang dunia dan hal-hal yang datang kepadanya; pernikahan ibunya, pekerjaannya, interaksinya dengan orang lain. Impiannya tidak muluk-muluk, ia hanya ingin punya rumah sendiri yang ia beli dari tabungannya. Mengapa rumah? Karena Ye Shilan tidak pernah merasa memiliki rumah sejak ayahnya meninggal.


Ye Shilan menyimpan kekecewaan yang dalam terhadap keputusan ayahnya mengakhiri hid*p. Ia simpan kekecewaannya itu selama bertahun-tahun. Namun yang tidak disadari Ye Shilan adalah bahwa rasa cintanya terhadap ayahnya masih kuat mengakar di dalam hatinya. Aku pernah membaca katanya anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan cenderung mencari pasangan yang seperti ayahnya.


Begitu melihat karakter Lu Zhaoxi, semacam ada lampu neon yang menyala terang di kepalaku. Pinter banget ya penulis skenarionya membentuk Lu Zhaoxi. Ye Shilan akan dengan mudah tertarik.


Yang bikin surprise lagi, karakter Lu Zhaoxi digambarkan sebagai anak laki-laki yang dekat sekali dengan ibunya. Semua yang terjadi dengan dirinya diceritakan kepada ibunya, ga ada rahasia. Udah gitu ibunya baik banget pulak. Nggak ada itu emak-emak kaya tujuh turunan yang galak dan milah-milih jodoh untuk anaknya. Nggak ada di Hi Venus.


Melihat kehangatan di tengah-tengah keluarga Lu aku pun membatin pantesaaaaan Lu Zhaoxi potongannya anak soleh dan berbakti, sopan sama orang, wong lingkungan keluarganya postif banget. Terharu pas adegan Ye Shilan makan bersama Lu Zhaoxi dan ibu-bapaknya. Kehangatannya menyebar ke mana-mana. Suasana menyenangkannya hidup. Ibunya Zhaoxi keliatan lebih sayang sama Shilan ketimbang anak sendiri HAHAHAHAHA.


Impian Ye Shilan adalah memiliki rumah sendiri, tapi Tuhan memberinya lebih dari yang diinginkannya.


Lalu Lu Zhaoxi, nggak abis-abisnya aku baperin makhluk satu ini. Semua cowok fiksi yang masuk list kesayangan pada minggir semua. Lu Zhaoxi nomer satu! No debat. Beberapa kali Lu Zhaoxi mengejutkan aku dengan gestur dan ucapannya. Tiga yang paling kuingat adalah, pertama, waktu dia bilang ke Lanlan bahwa bukan dia yang menolong Lanlan, tapi Lanlan lah yang menolong dirinya sendiri. MAU NYARI DI MANA COWOK YANG TAU CARA MENGHARGAI CEWEK KAYAK LU ZHAOXI?? Xixi nggak pernah memperlakukan Lanlan sebagai objek cinta semata. Dia menghargai Lanlan sebagai manusia seutuhnya dengan seluruh nilai yang melekat padanya. Xixi nggak berusaha mengubah Lanlan, ia memberikan ruang kepada Lanlan untuk berproses. Selama itu Xixi selalu berusaha memastikan ia ada sebagai support system nya Lanlan di urutan terdepan. Xixi respek banget sama Lanlan.


Kedua, sewaktu mereka akhirnya resmi jadian, menurut ex-gf nya Xixi, Xixi tuh anaknya paling ga bisa low profile kalau udah sayang sama orang. Pengennya seisi dunia tau. Tapi karena Lanlan minta supaya hubungan mereka nggak di-publish, Xixi manut aja. Ngikutin kata Lanlan. Dan dia ngelakuin itu dengan sukarela, hepi-hepi aja.


Ketiga, ini sih yang paling… ugh. Nggak nyangka bakal dapet jawaban kayak gitu dari Zhaoxi. Pas Lanlan dapet telpon dari ibunya, Xixi denger kan trus langsung direbut tuh hp. Xixi cerewet banget. Minta dikirim inilah-itulah, ngajak ibunya Lanlan liburan, sampe Lanlan kaget. Soalnya ibunya Xixi belum tau kalau Xixi itu bosnya Lanlan. Taunya Xixi itu dokter, rekan kerjanya Lanlan. Pas Lanlan protes, takutnya nanti ibunya kecil hati begitu tau Xixi punya latar kehidupan yang berbeda jauh dengan anaknya. Zhaoxi-nya bilang kalo dia sengaja nyerocos, cerewetin minta ini-itu ke ibunya Lanlan agar calon mertuanya nggak ngerasa terbebani. Xixi kayak pengen ngasih jaminan gitu ke ibunya Lanlan. Statusnya sebagai anak orang kaya bukan masalah.


Mindset-nya Lu Zhaoxi nih yang bikin aku cinta banget sama karakternya. Kayaknya kalo temenan sama dia bawaannya bakal positif juga. Dia dibesarkan dengan baik oleh orang tuanya. Lu Zhaoxi jago masak juga. Dibekalin skill masak sama ibu-bapaknya. Bayangin, skill dasar sebagai manusia diajarin sama ortunya, padahal kalo mau apa-apa tinggal pake duit ya.


Sumpah ya, udah cape nonton tokoh utama cowo yang karakternya nggak banget. Sebelum ketemu Lu Zhaoxi, aku juga kenalan sama Lu Xun di Legally Romance—drama tahun 2022, Lu Xun nggak kalah bagus sih karakternya, lucu jugak.

#8 Ending


Ending-nya walaupun kurang memuaskan, tetapi bisa menutup drama ini dengan manis. Premisnya nggak meleset. Adegan lari pagi Ye Shilan dan Lu Zhaoxi di bagian akhir memiliki makna yang dalam. Awalnya Ye Shilan dulu yang di-shoot, beberapa detik kemudian Zhaoxi nyusul. Aku membaca adegan ini sebagai isyarat, Ye Shilan ‘lari’ (menjalani hidup) nya ga sendirian. Udah ada yang nemenin.


Closing statement-nya Ye Shilan juga bagus, inspiratif.

“My dad told me, if you hope others to pull you up, you have to reach out your hand first; if you hope others to save you, you have to save yourself first. I should thank myself for not giving up.”


Relate banget sama kalimatnya. Aku pernah berada di posisi ini, bertahun-tahun menuduh orang nggak ada yang bisa nolong aku, padahal aku nya sendiri yang memilih mengunci diri di kegelapan. Dan memang benar adanya, kita lah yang harus menolong diri kita pertama kali, dengan membiarkan orang lain menolong kita; jangan mengunci pintu terlalu lama.

“Life may not be satisfactory, but only by taking it seriously can there be hope.” –Ye Shilan

Kita nggak boleh berharap orang lain hadir dan mengubah hidup kita, keliru. Saya pikir di dunia ini tidak ada seorang pun yang mampu mengubah orang lain. Membawa pengaruh, mungkin lebih tepat. Sebab pada akhirnya keputusan mau berubah—mau membiarkan pengaruh tersebut mengubah kita atau tidak, sepenuhnya berada di tangan kita masing-masing.


Ye Shilan berubah bukan semata-mata karena Lu Zhaoxi, ia memilih mengambil kesempatan yang ditawarkan Lu Zhaoxi. Ia menyadari pada dirinya memang perlu ada yang diubah; ia yang pesimis. Perubahan-perubahan yang terjadi kemudian pun positif. Ye Shilan sebelum dan setelah bersama Lu Zhaoxi beda banget. Dia jadi banyak senyum, udah bisa berinteraksi dengan rekan kerjanya. Dan udah ga pesimis lagi. Bener ya, kalo ketemu orang yang tepat, kita bisa membawa keluar versi terbaik diri kita yang selama entah bersembunyi di mana.


Plislah, aku juga mau yang kayak Lu Zhaoxi. Orang yang pernah terbiasa dengan perasaan tidak aman dan tidak nyaman cocoknya emang yang kayak Lu Zhaoxi ehm.


HAHAHAHAHAHAHA. Sholawatin aja dulu. Namanya juga usaha ya kann.

Soal jodoh, ada kalimat bagus dari bapaknya Lu Zhaoxi, “It doesn’t matter which one takes the initiative. What matters is to be sure the other part is the right one.”

Yakin dulu bahwa dia orang yang tepat.

***


Hi Venus adalah drama bertema komedi romantis yang benar-benar menghidupkan temanya dengan baik. Drama yang ringan dengan dialog-dialog yang bagus, adegan putus di drama romantis lainnya malah bikin lucu di Hi Venus, beda sendiri emang. Kalo kamu butuh tontonan yang bikin hepi, nggak cringe, dengan chemistry lead nya yang menggemaskan bikin senyum-senyum sepanjang episode silakan dicoba Hi Venus. Kenalan sama Lu Zhaoxi dan siap-siap dibikin jatuh hati.

“Hope you who love life can also be this lucky!

Never fear the future.

Cherish every day of the present.

Fighting!

*

Oya, kalo ada yang ingin aku protes dari drama ini maka itu adalah… make up-nya Joseph yang ketebelaaaan, aku insekyur liatnya wkwk. Lipstick nya terlalu merah bbok. Lebih suka gaya Lu Zhaoxi yang santai, poninya diturunin, make upnya tipis. Hal lain, endingnyaaaa… aku ga puas. Pengen liat Lu Zhaoxi dan Ye Shilan nikah, Kevin dan Jiajia ketemu Zhaoxi dan Shilan. We want more!

P.s : Hi Venus adalah drama keempat Wang Xiong Cheng yang kutonton. Sebelumnya ada Find Yourself, Go Ahead, The Day of Becoming You (ini aku nontonnya barengan Hi Venus). Saat ini drama beliau yang lagi tayang ada Meet Yourself. Bagus juga.

P.s.s : Bebunyian yang menjadi backsound Hi Venus menambah semarak nuansa lawak drama ini, segala bunyi ayam lah apalah, ngakak!

P.s.s.s : Lu Zhaoxi ga perfect, dia ga bisa naik sepeda (aku bisaa), masih kurang cakap nge handle konflik yang turut ngelibatin Shilan—sampe bapaknya Zhaoxi kudu turun tangan. Tapi ga papa, Zhaoxi tetap juara di hatiku /PLAK/

Tabik,

Azz

Makasih loh Hi Venus, udah bikin aku hepi banget selama nonton!



Review Hi Venus

by on 1/08/2023 08:09:00 PM
Acara kemping seorang diri Lu Zhaoxi berakhir mengecewakan. Nasib nahasnya dimulai ketika ia berusaha menolong seekor anak kambing yang ters...

 


Iseng nyoba nonton dan berakhir jatuh suka di episode pertama. Kira-kira seperti inilah gambaran situasi yang saya alami ketika menonton Salon de Nabi. Drama yang ditayangkan melalui platform Prime Video ini berjumlah 16 episode, disutradarai Kim Da-ye dan Kim Bo-kyeong, sedangkan naskahnya ditulis writer-nya Age of Youth, Park Yeon-sun. Di jejeran cast-nya ada nama besar Choi Daniel, Kim Hyang Gi, dan Oh Yoon Ah.


Saya tidak menaruh ekspektasi pada Salon de Nabi. Saya bahkan nggak nyoba nyari synopsis atau spoiler dramanya. Namanya aja modal iseng dan kepo setelah bales-balesan twit dengan Nad. Twit paling atas yang dibahas dracin, eh nyambung ke Salon de Nabi wkwk. Saya nggak akan tau ada drama berjudul Salon de Nabi andai nggak disinggung Nad. Malah sempat saya sangka drama Thai atau China, soalnya saya ngerasa pernah baca sekilas ntah di temlen Twitter atau di IG. Samar-samar aja. Taunya drakor ㅋㅋㅋ


Dan ya, usai menamatkan 16 episodenya, saya tiba-tiba saja merasa sedih kenapa drama sebagus ini nggak banyak yang nge-hype? Apakah karena nggak ditayangin di stasiun tv berbuntut pada promosi yang minim, ataukah karena jejeran cast-nya yang… maaf—tanpa mengecilkan nama besar Choi Daniel dan Kim Hyang Gi—nggak menarik minat?

Mengapa Salon de Nabi bisa membuat saya jatuh suka dan sukses menamatkan 16 episodenya tanpa merasa boring di tengah jalan?

Ini drama slice of life yang nggak terkesan menggurui, katanya Nad. Saya setuju.

Drama tipe slice of life yang bagus menurut definisi sederhana saya adalah drama yang terus menerus mampu mengejutkan saya dengan materi ceritanya sejak episode perdana hingga episode terakhir—yang setibanya di penghujung menit terakhirnya, saya dibuat menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan penuh kelegaan dan rasa haru yang tidak putus-putus. Drama yang cerita dan pesan moralnya banyak kita temukan di sekitar kita.


Drama slice of life favorit saya dalah drama yang di setiap episodenya mengajak saya melihat hidup saya sendiri. Dari sekian drama Korea yang pernah saya nonton dan materi ceritanya mengusung slice of life, masing-masing memiliki cara berceritanya sendiri untuk menyentuh dan mempengaruhi hati penontonnya. Dan paling sering dan paling bisa bikin nangis kejer ya drama yang kayak gini. Yang nonton berasa punya temen cerita dan ngerasa nggak sendirian. Dua drama slice of life yang terakhir saya ikuti—My Liberation Notes dan Our Blues, sukses besar bikin mata bengkak. Bikin nangis PARAHHHHH. . Berasa jadi tokoh yang diceritain kisahnya di drama, ya nggak sih? Cerita fiksi yang nyata adanya. Dan menontonnya membuat kita semakin meluaskan perspektif terhadap banyak hal. .


Beberapa tahun belakangan ini, saya memang lebih mudah terhipnotis drama Korea yang mengangkat cerita yang relate ke kehidupan—saya menyebutnya sebagai salah satu jurus memulihkan hati memulihkan jiwa dari luka masa lalu. And it works, at keast for me. Drama-drama yang ngasih kita pelukan hangat yang selama ini kita rindukan. Kebanyakan nyampur sama bumbu romance sih, tapi nggak masalah, nggak ngerusak ruh slice of life-nya. Ini ngebantu banget buat healing. Jenis drama seperti ini memilih menyentuh potongan-potongan kehidupan yang kerap diabaikan, bagian-bagian dari proses hidup yang dianggap biasa, nggak berarti, dibiarkan lewat begitu aja, atau terlalu menyakitkan untuk sekadar diingat, hal-hal sederhana namun rupanya penuh nilai bila kita mau melihat atau membacanya dari sudut pandang berbeda dari yang selama ini kita gunakan. Visualisasi drama melalui tokoh-tokoh yang datang dari situasi yang berbeda dengan hidup kita nyatanya mampu menyuguhkan apa yang paling kita butuhkan sebagai manusia-manusia yang hatinya diberati trauma dan luka masa lalu. Bahwa kita tidak sendirian di dunia yang bising ini.


Saya dengan senang hati menambahkan Salon de Nabi ke dalam list drama slice of life favorit saya. Drama ini memilih gaya bercerita yang kocak namun menyentuh. Topic-topik yang dibahas nggak jauh dari hubungan manusia dengan dirinya, manusia dengan manusia lain, dan bagaimana interaksi-interaksi tersebut mempengaruhi tokoh-tokohnya. Dari drama ini saya kembali diingatkan bahwa untuk bisa mengenali diri sendiri, kita nggak mungkin menutup diri dari orang lain. Maksud saya, kehadiran orang lain dengan segala warna yang dibawanya akan membantu kita mengurai warna kita sendiri, yang sepanjang proses ini sangat berpeluang membuat kita jatuh bangun dan babak belur. Tidak ada proses healing yang tidak menyakitkan. Penting memberikan validasi pada perasaan kita sendiri, namun yang tidak kalah penting adalah kemampuan kita menentukan arah ke mana dan mau diapakan perasaan yang sudah divalidasi kehadirannya itu. Kita tidak mungkin memaksa hidup kita dinapasi luka-luka yang sudah membusuk, bukan? Harus ada cara untuk membebaskan diri. Cara untuk bernapas lega.

Sinopsis


Salon de Nabi mengisahkan rutinitas para peñata rambut dan pemagang serta interaksi mereka dengan pelanggan yang terjadi di sebuah salon rambut bernama 날아올라라 , kalo di subtitelnya ditulis Salon de Nabi. Salon Nabi. Tapi versi English-nya jadi Fly High, Butterfly.


Di episode 1 diceritakan kesulitan yang dihadapi Gi-ppeum dalam upayanya bersosialisasi dengan orang-orang di lingkungan kerjanya—tiga peñata rambut (Michel, Gwang-su, dan Jen), serta tiga orang lainnya yang merupakan pemagang seperti dirinya; Woo songsaeng, Moo-yeol, dan Soo-ri. Penampilan Gi-ppeum yang kikuk, pemalu dan bersuara rendah ketika berbicara ditambah poni memanjang yang menutupi matanya membuatnya terlihat aneh, menyeramkan dan antisosial di mata orang-orang. Banyak pengunjung salon yang merasa tak nyaman dan terganggu dengan kehadiran Gi-ppeum.


Saya pikir episode berikutnya hanya akan berputar pada masa transisi dan transformasi Gi-ppeum. Eh ternyata enggak. Bukan kayak gitu mau ceritanya. Ceritanya rame dan variatif. Setiap episodenya ngasih cerita yang berbeda tapi konflik per episodenya memiliki benang merah dengan proses perkembangan karakter 7 tokoh yang bekerja di Salon de Nabi. Menonton Salon de Nabi sungguh sebuah perjalanan yang menyenangkan bagi saya. SANGAT MENYENANGKAN. GA NYESEL NONTON, SERIUS.


Mengapa Salon de Nabi bisa membuat saya jatuh cinta? Saya punya beberapa alasan bagus, yang mungkin bisa jadi pertimbangan untuk kamu yang belum menonton dramanya.

Coba kita lihat satu-satu ya.

Materi Cerita


Saya tuh suka heboh sendiri kalo nonton satu drama trus nemu sesuatu yang menarik tentang dramanya, misalnya benang merah antara cerita drama dan judul yang dipilih, suka ngerasa speechless sendiri—lebay ya ㅋㅋㅋㅋ. Beneran takjub dan muji-muji writer-nya. Gak abis pikir, keren ya, kok bisa gitu nemu ide kayak gitu. Ide-ide fresh yang diramu apik. Alumni Age of Youth pasti masih inget dong dengan nama kosan Song Jiwon cs? Yes, Belle Epoque—nama yang diambil dari sebuah era yang mewakili kejayaan masyarakat Perancis jaman dulu yang pernah dicatat oleh sejarah dan filosofi Belle Epoque atau Golden Age inilah yang menjadi gambar besar perkembangan cerita Age Of Youth. Dan sekali lagi, Park Yeon-sun menggunakan pattern tersebut pada Salon de Nabi.


Awalnya saya nggak ngeh. Tapi setelah nonton 4 episode saya mulai mikir. Nabi… Butterfly… bagaimana cerita dibuka di episode perdana, progress cerita dan perkembangan karakter-karakter Salon de Nabi. Dan taraaaa! Semacam ada bohlam lampu menyala terang di atas kepala saya. Pas nyadar itu, saya cuma bisa tertawa sambil bergumam. Wah… cakep nih Park Yeon-sun jakkanim. KEREN. Bisa gitu kepikiran ngambil setting tempat salon rambut. Saya yang ga pernah masuk salon jadi tau banyak tentang salon rambut. Nggak ngasal. Ada etikanya juga.


Jadi tuh, tiap episode Salon de Nabi semacam punya porsi khusus untuk 7 orang yang bekerja di sana yang juntrungannya berkaitan dengan pengenalan sekaligus character development. Bagaimana keseharian mereka setelah lepas jam kerja, dan ini semua nggak bisa terlepas dari singgungan cerita pelanggan yang datang ke salon mereka. Formula storytelling yang unik, menarik, ga bikin bosen, asik banget banget. Konfliknya nggak monoton.

Humor Yang Receh Tapi Ga Boring


Coba bayangin, satu adegan serius banget, nuansanya gloomy banget, dark. Di detik yang ga terduga, bisa tiba-tiba membuatmu ketawa kenceng banget sampe keluar air mata (SAYAAAAAAAAA KORBANNYAAAA). Apakah saya yang selera humornya receh atau emang ini drama lucunya nggak nanggung. Parody rambut mangkuk PSJ di Itaewon Class diiringi ost-nya Gaho aja sanggup bikin saya kelepasan ngakak. Beberapa detik doang padahal. Bisa-bisanya gitu kepikiran….


Adegan lucu Salon de Nabi nggak maksa, natural di saat yang ga terduga. Sumpah, Choi Daniel nggak ada harga dirinya di sini, nggak ketolong. Wibawa ambrooool. Masih nggak bisa lupa adegan bunga mawar di episode 10. Bukan adegan yang dibuat untuk ngelawak tapi astagfirullah saya cape ngakak sampe takut sendiri. Kan nggak boleh ketawa berlebihan ya… .


Yang demen humor recehnya Wise Prison Life mungkin akan ngeklik juga dengan humornya Salon de Nabi, miriip. Saya acungin jempol untuk sutradara dan music directornya. Angle dan editing per scene plus bgm yang nyatu jadi perpaduan yang membuat hidup ceritanya. Music scoring-nya OKE. Mau lucu, sedih, haru, bikin kesal, pokoknya semua nuansanya dapetttt banget. Pas takarannya. Jauh dari lebaiii.

Setiap Orang adalah Tokoh Utama Dalam Kehidupannya Sendiri


Everyone has their own story.

Tidak ada tokoh utama yang menjadi satu-satunya pusat cerita di Salon de Nabi. Setiap dari mereka, terlepas seberapa banyak atau sedikit screentime kemunculan mereka, sedikit banyaknya bisa memberikan gambaran seperti apa kehidupan yang mereka jalani. Inilah yang membuat Salon de Nabi unik. Ia—drama ini bisa membuat berarti hidup tokoh-tokohnya dengan cara yang tak terduga. Siapa sangka si bapak pemilik usaha real estate yang setiap kedatangannya ke Nabi bikin Gwangsu-ssaem mules sampe ngetem lama di toilet gara-gara permintaan ubah model rambut si bapak suka aneh-aneh, ternyata memiliki heartbreaking story? Atau sebuah pesan singkat pengunjung Nabi yang ga sengaja dilihat Woo songsaengnim bisa bikin seisi salon gempar dan berakhir membuat mereka memeluk diri sendiri. .


Seberapa besar pengaruh kita terhadap kehidupan orang lain, atau sebaliknya, seberapa kuat pengaruh kehadiran orang lain dalam hidup kita? Apakah metamorfosa hidup kita sesungguhnya nggak bisa berjalan sempurna jika tanpa campur tangan atau pengaruh orang lain? Lalu sampai sejauh mana kita boleh saling mengurusi hidup orang lain?


Seperti apa sih definisi metamorfosa kehidupan yang sempurna itu? Saya percaya kita memiliki jawaban yang bervariasi soal ini.

Yang saya lihat di Salon de Nabi, kita ga akan bisa menghindari koneksi dengan orang lain, bahkan dengan orang yang tidak kita sukai sekalipun. Kita sedang, pernah atau akan menjadi apa, nggak bisa terlepas dari pengaruh orang lain. Diakui atau tidak, keputusan-keputusan hidup yang kita ambil, besar kecilnya dipengaruhi oleh eksistensi orang lain. Sebenarnya saya sudah lama mengamini ini, namun coba diingatkan kembali sama Salon de Nabi. Saya nggak nyadar tuh menggumam “eh iya ya…” atau “bener juga ya…” Gitu, selama nonton dramanya.


Karena kadang, kita menemukan cermin terbaik untuk melihat diri kita dari jarak paling dekat dengan melihat orang lain, dengan mata dan hati yang dibuka selebar-lebarnya. Hanya dengan membuka mata dan hati kita bisa melihat ke dalam cermin. Dari sana keputusan-keputusan yang berhubungan dengan eksistensi kita dibuat oleh kita sendiri, dan ya, tentu saja beserta seluruh konsekuensinya.

***

Penokohan di Salon de Nabi bagus sekali. Realistis, nggak perfect banyak flaws-nya. Nggak ada momen dramatis yang mengubah dalam sekejap tokoh-tokohnya. Perkembangan karakternya berjalan natural—yang kalo saya perhatiin sejak ep 1 hingga 15, perkembangan karakter tokoh-tokohnya seperti melihat metamorfosa kupu-kupu--step by step, melalui kontemplasi yang dalam, dengan  berinteraksi dengan orang lain, mereka secara naluriah melihat kembali ke dalam diri mereka, tentang apa yang perlu diubah atau tidak, tentang hal-hal yang bisa dikompromikan atau tidak. Di sana kita menemukan upaya-upaya mengenal diri sendiri, ada persahabatan, kasih sayang, ruang saling pengertian, pertentangan, kepedulian dan rupa-rupa perasaan yang dilahirkan hati—semuanya terjadi di sebuah salon rambut yang baru berdiri, Salon de Nabi.


Selama 9 bulan Salon de Nabi berdiri, banyak sekali kejadian yang terjadi, entah dengan para pelanggan atau para pekerja di salon Nabi, yang di penghujung hari, kita melihat perubahan yang terjadi pada diri mereka. Saya teringat salah satu filosofi kupu-kupu, “Kalau tidak ada yang berubah, maka tak ada perubahan.”


Terharu melihat bagaimana Park Yeon-sun memperlakukan tokoh-tokohnya bahkan ke supporting roles-nya juga—para pelanggan salon, karena ruh cerita Salon de Nabi terletak pada pelanggan ini, pada cerita-cerita kehidupan yang mereka bawa bersama problem rambutnya masing-masing. Nggak banyak drama yang bisa membuat penonton inget dengan tokoh-tokoh di luar para tokoh utama, kecuali karakter-karakter minor ini memiliki ciri khasnya. Nah, Salon de Nabi bisa.


“Mungkin masa lalu seperti benang kusut. Sekalipun tidak suka, kau tidak bisa memotongnya. Sekalipun ketidaksempurnaan tetap ada, kau hanya perlu terus merajut.Awalnya, kau hanya akan melihat ketidaksempurnaan. Tapi perlahan, itu akan menyatu dengan pola lainnya. Dan suatu hari, kau berharap itu menjadi sesuatu yang tidak terlihat, kecuali kau mencarinya.


Siapa sangka kita bisa menemukan filosofi kehidupan di salon rambut, pada para peñata rambut dan asistennya, pada rambut-rambut pelanggan….

“Sebenarnya kita semua terhubung, satu-satunya perbedaan adalah kau bisa melihat hubungannya atau tidak.”

Ada 7 tokoh yang mengisi Salon de Nabi, mereka yang bekerja di salon.

Oh Yoon Ah sebagai Michelle

Sajang-nim alias pemiliknya Salon de Nabi. Single Mom untuk dua anak perempuannya. Michelle dua kali mengalami kegagalan pernikahan. Karakter Michelle sebagai bu bos dan ibu tunggal membawa warna tersendiri untuk cerita Salon de Nabi. Apa yang dilakukan Michelle atau reaksinya terhadap hal-hal yang terjadi di rumah dan di salon tidak tampak sebagai sesuatu yang berlebihan. Terhadap anak-anaknya, ia bereaksi selayaknya seorang ibu dengan segala ketidaksempurnaan dan usahanya melakukan yang dirasanya paling baik untuk anak-anaknya.

Michelle adalah seorang chatter yang luwes, gesit tapi gampang panikan HAHAHA. Kalo udah liat Michelle ngobrol sama customer wadoh, jago banget. Dia bisa masuk ke segala topic walaupun suka dibikin waswas sama omongannya. Pernah kejadian, lagi semangat-semangatnya ngehosipin iparnya si customer en ndilalaah si mbak ipar ternyata ada salon itu juga. ㅋㅋㅋㅋ

Sebagai pemilik salon, Michelle baik banget. Pas awal ketemu di episode 1 bikin suujon, padahal aslinya mah baik. Baik banget.

Choi Daniel sebagai Gwang-soo

Si narsistik yang… menghadeh sekali kelakuannya. Jangan bayangin sosok Choi Daniel yang selama ini banyak meranin karakter kharismatik, di sini nggak ada itu kharismatik! Tiap dia muncul dengan segala keanehan, kehaluan dan kelakuan narsisnya, saya pengen teriak, “MAS, UDAH MAS. STOP. JANGAN MALU-MALUIN DIRI SENDIRI. SAYA YANG IKUTAN MALU, MAS! PLIS, SETOOOOOP!”

Gwang-soo adalah potret nyata dia yang berpikir bahwa dunia hanya berputar mengelilingi dirinya—pake POV narsistik. Puncak komedinya Gwang-soo ada di episode 10. Demi apa, ngakak banget. Saya ngakak sambil nangis. ENGAP. .

Namun meskipun jiwa narisistiknya kerap bikin perut saya mules, terselip bijaknya Gwang-soo. Ada momen-momen penting yang menunjukkan sisi manusiawinya Gwang-soo.

Sim Eun-woo sebagai Jen

Dijuluki si mata panda, karena kebiasaannya memakai riasan tebal pada matanya. Ada ceita menyesakkan di balik itu. Jen menampilkan diri sebagai sosok perempuan yang kuat, galak, ga suka basa-basi.

Menurut saya, terlepas dari trauma yang dibawanya, Jen sudah tiba pada titik bahwa ia menyayangi dirinya lebih dari kasih sayangnya pada orang lain. Dan selalu ada ruang kompromi untuk hal-hal disayanginya tanpa perlu kehilangan sebagian dirinya. I love the way she fights for her love.

Kim Hyang-gi sebagai Gi-ppeum

Saya udah ngasih gambaran karakter yang diperankan Kim Hyang-gi di pembuka tulisan ini. Si introvert parah. Tapi Gi-ppeum mau berubah. Seenggaknya dia tahu ada yang perlu diubah dari dirinya. Gi-ppeupm berubah bukan sekadar agar bisa diterima di lingkungan sosial. Dia berubah demi dirinya sendiri. Hingga akhir Gi-ppeum masih-lah Gi-ppeum yang introvert tetapi ia telah versi terbaik dirinya. Gi-ppeum versi upgrade sangat menggemaskan, lucu, dan manis. Dia udah berani menyuarakan isi pikirannya sendiri. Anaknya soft banget sih. Pantes aja ada mas-mas cakep yang sekalinya jatuh cinta nggak bisa lepas lagi dari Gi-ppeum. Ehm. HAHAHAHA.

Moon Tae-yoo sebagai Woo ssaem

Karyawan magang sama seperti Gi-ppeum. Si paling gede dan paling mengejutkan rahasianya di Salon de Nabi. No spoiler.

Kim Ga-hee sebagai Soo-ri

Karakter ini mewakili orang-orang yang sering jadi objek buli body shaming, penghakiman, atau bulan-bulanan orang-orang hanya karena fisiknya yang dipandang tidak biasa seperti orang kebanyakan.

Di episode 3 yang membahas tentang jiwa insecure, narrator-nya berkata, “Jika kau melihat ke cermin dengan tenang, itu memberitahumu banyak hal. Hal-hal yang pernah kaudengar. Kata-kata yang orang katakan di belakangmu. Kata-kata itu terbentuk di suatu tempat di telingaku, mataku, dan tubuhku satu per satu, lalu mereka kembali hidup melalui cermin. Jika kau berpikir  seperti itu, semua cermin di dunia ini seperti cermin yang dimantrai di Putri Salju, dan setiap individu seperti cermin yang bisa bicara.”

Mengatasi rasa tidak percaya diri adalah sesuatu yang tidak mudah. Itulah yang dihadapi Soo-ri. Naik-turun emosi Soo-ri di beberapa episode ada yang membuat tidak nyaman. Tapi itulah kenyataan yang terjadi di dunia nyata. Apa yang kita anggap biasa, boleh jadi merupakan sesuatu yang terasa berat bagi orang lain. Setiap orang memiliki insecurity nya masing-masing dan itu adalah area sensitive yang tidak bisa sembarangan kita masuki atau komentari seenak jidat.

Park Jung-woo sebagai Moo-yeol

Di-cap playboy karena keseringan ketangkep basah lagi ngobrol asyik sama customer. Si paling sering adu mulut sama Gi-ppeum wkwk. Apakah Moo-yeol beneran seorang playboy cap kampung? Nonton sendiri dramanya. Jangan lupa siapin hati, kalau-kalau tertawan pesona si soft boi Moo-yeol HAHAHAHA. He is a good boy. Seperti halnya tokoh lain, Moo-yeol menyimpan cerita masa lalu yang masih memberati kakinya.

Paling suka ada satu episode yang membahas 7 tokoh ini, dimulai ketika mereka lahir hingga perjumpaan mereka dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Koneksi. Saya masih orang yang percaya bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan di hidup kita, meskipun tampaknya seperti kebetulan. Semua yang terjadi, atau dengan siapa kita bertemu hari ini pasti memiliki maksud terhadap hidup kita, besar kecilnya pengaruh yang dibawanya. Kita hanya perlu mengubah sudut pandang. Cara kita memandang atau menanggapi sesuatu benar-benar bisa mempengaruhi tindakan kita selanjutnya.

“Kita adalah kita, dan orang lain adalah orang lain. Tapi mungkin keberadaan kita saja membuat kita berarti bagi satu sama lain. Mungkin kita membuktikan sesuatu hanya dengan tetap hidup. Mungkin keberadaan kita di sini ember seseorang kekuatan untuk terus maju.”

Porsi Romance-nya Bikin Senyam-Senyum


Di Asianwiki, poster yang dipasang adalah foto Kim Hyang-gi berdampingan dengan Choi Daniel. Sinopsisnya juga seolah-olah ingin mengisyaratkan bahwa Salon de Nabi adalah tentang dua orang ini, padahal bukan! Hubungan Gi-ppeum dan Gwang-su ssaem hanya sebatas rekan kerja.


Saya suka sekali part romantisnya Salon de Nabi. Di sini ada dua kapel. Satu kapel kiyowo, satunya agak serius. Saya paling suka yang kiyowo—Gi-ppeum dan Moo-yeol. Gemes banget. Awalnya kayak kucing dan tikus eh lama-lama jadi sayang. Nggak ada toxic-toxic nya. Chemistry Gi-ppeum dan Moo-yeol cuakepp. Aktingnya sama-sama oke, kayak masih kagetan Kim Hyang-gi udah gede wkwk (dalam artian positif), btw dia seumuran si adek bungsu. Enak banget aktingnya Hyang-gi. Detail ekspresi sayangnya ke Moo-yeol dapet, begitu juga sebaliknya Moo-yeol ke Gi-ppeum.


Saya paling suka bagian Gi-ppeum yang galau gara-gara foto Moo-yeol ama mantan ayang di IG temennya Moo-yeol. Saya semula menyangka Gi-ppeum hanya cemburu, ternyata ga hanya itu aja. Gi-ppeum mendadak insecure dengan hubungannya dengan Moo-yeol. Di foto tersebut, Moo-yeol terlihat bahagia. Gi-ppeum mikir, ia juga berpeluang berakhir seperti si mantan. Masuk akal. Saya sepemikiran dengan Gi-ppeum. Perasaan suka (cinta, sayang) bisa seumuran jagung usianya.


Orang pacaran buat apa sih? Menyeleksi pasangan hidup? Siapa yang bisa menjamin perasaan ke satu orang akan bertahan lama? Sampai kapan seleksi itu berlangsung? Apa patokannya kita sudah menemukan yang tepat? Apakah itu tidak sama dengan membuang-buang waktu? Boros perasaan. Ngebayanginnya aja udah bikin capek. Enggak tau kenapa ya, sama perasaan sendiri saya suka insecure. Kalo lagi suka sama orang, suka dikuliti sendiri perasaan sayang itu sampe saya akhirnya nggak yakin dengan rasa sayang itu HAHAHAHA.

Narator

Selain scene wawancara seperti yang dilakukan di Age of Youth, kehadiran narrator yang menjadi si tukang cerita di Salon de Nabi membuat proses storytelling-nya semakin menarik dan hidup. Mood-nya dapet banget. Pas sedih, pas lawak. Tiap episode kan beda tuh topiknya, kebulatan ceritanya sangat terbantu dengan suara ibu narrator. Berasa didongengin. Suaranya enak. Kocaknya lagi, naratornya nongol di ending episode ㅋㅋㅋ


Ending

Seumur-umur nonton drakor baru kali ini ada drama yang endingnya ditutup dengan episode random. Di preview-nya udah dibuat setegang mungkin, eh taunya penonton kena prank. Cape ngakak sama kelakuan penghuni Salon de Nabi. Pantes bisa akur, sefrekuensi sih wkwk.

“Itu bukan sesuatu yang istimewa, kan? Bahkan tujuh keajaiban dunia dan sepuluh kasus tidak terpecahkan mungkin tidak begitu istimewa setelah kau menyelidikinya. Orang-orang juga sama. Bahkan orang-orang yang tampak mustahil dimengerti sepertinya punya alasan untuk bersikap seperti itu. Apa ada orang aneh di sampingmu? Apa ada sesuatu yang tidak bisa kau pahami? Mungkin karena ada banyak halaman yang belum dibaca. Orang-orang di Nabi seperti ini Sembilan bulan lalu. Mereka saling menganggap orang lain adalah oranag asing yang aneh.


Dalem banget maksud kalimatnya. Masih banyak halaman yang belum dibaca. Jangan terlalu cepat menyimpulkan, entah itu berkaitan dengan karakter orang atau hal lain.

Meski isinya random, episode 16 menjadi episode penutup yang mengamini soal cerita tentang apa yang disampaikan Salon de Nabi kepada penontonnya. Kisah-kisah metamorfosa orang-orang di dalamnya. Hearwarming story! RECOMMENDED! Ketika tawa dan renung saling berkawan.

Filosofi Rambut dan Masa Lalu.

“Begitu rambutmu rusak, itu tidak akan pernah bisa kembali, seperti sebelumnya. Dalam hidup kita juga selalu ada jejak. Hidup mungkin kompisisi dari berbagai jejak yang kita alami. Keputusan yang kaubuat hari ini akan menjadi jejak besok. Jejak itu akan menumpuk dan menjadi sejarahmu. Beberapa jejak akan menjadi pola dan beberapa jejak akan tetap menjadi noda.

Sepertinya tidak ada obat ajaib untuk rambut atau hidupmu. Kau bisa memotong rambutmu, tapi kau tidak bisa memotong masa lalumu. Kau hanya bisa memastikan itu tidak terinfeksi dan hidup dengan bekas lukanya.

Kita hanya bisa percaya, meski tidak bisa menyembuhkannya, kita masih bisa merawatnya, sama seperti rambutmu.” –Salon de Nabi episode 9

Tabik,

Azz

Review Salon de Nabi

by on 10/11/2022 07:58:00 PM
  Iseng nyoba nonton dan berakhir jatuh suka di episode pertama. Kira-kira seperti inilah gambaran situasi yang saya alami ketika menonton S...