Showing posts with label Jinyoung. Show all posts
Showing posts with label Jinyoung. Show all posts
Majimaksarang.blogspot.co.id
*saya belum nonton episode 7-10*
Episode 3
Jika dua episode plot sebelumnya lebih memfokuskan kehidupan Ra On, bagaimana ia bertemu Lee Yeong hingga akhirnya menjadi seorang kasim, maka di episode 3 dan 4, fokus cerita mulai menyoroti kehidupan Lee Yeong. Bagaimana ia kehilangan ibunya—permaisuri, rasa tidak sukanya pada Raja—ayahnya sendiri yang selalu tampak rapuh dan kehilangan wibawa di depan para mentri khususnya Perdana Mentri Kim dan bagaimana Lee Yeong menjalani hidupnya sebagai Putera Mahkota yang senantiasa diintai musuh dari dalam istana.
Berikut best moment di episode 3, ini menurut saya loooh... bisa saja menurut kamu berbeda ^^
Selir Seok Hui akhirnya bertemu Raja Soonjo berkat kelihaian Kasim Ra On
Ini adalah langkah awal Ra On memasuki kehidupan Lee Yeong. Ketika melihat scene ini feeling saya segera saja muncul bahwa kelak di masa depan akan banyak sekali pengorbanan Ra On untuk kebaikan Lee Yeong.
Mau berapa kali pun saya menonton scene pertemuan Selir Seok Hui dan Raja Soonjo, saya tetap bisa menangis. Perfect. Latar belakang musiknya, ekspresi Selir Seok Hui dan Raja Soonjo lalu keberadaan Lee Yeong dan Ra On di seberang istana, spot on. Betapa besar jasa Ra On di sini. Karena keberanian dan kecerdasan gadis ini, tiga kesalah-pahaman segera terselesaikan. Tanpa disadarinya, ia telah menyambungkan kembali kasih sayang yang tulus seorang ayah kepada anaknya, membantu memulihkan rasa percaya seorang anak kepada ayahnya, dan karena Ra On pula, Selir Seok Hui akhirnya tahu, sejatinya Raja tidak pernah mengabaikannya. Tak secuil pun perasaan Raja berubah padanya.
Sebagai viewer, saya sepatutnya harus berterimakasih pada Ra On. Ia memberikan keberanian kepada saya agar memercayai, Raja Soonjo barangkali memang tidak se-heroik keinginan saya, tetapi ia—seperti monolog yang diucapkan Lee Yeong—tetaplah seorang ayah dan suami yang baik. Sejak kemunculan Raja Soonjo pertama kali, saya terlanjur men-cap sebagai pemimpin yang tidak bisa diandalkan meski saya tahu dengan sangat jelas, menjadi raja Joseon tak serta merta memberikan legitimasi sepenuhnya kepada Raja Soonjo untuk mengendalikan roda pemerintahannya. Bahkan dengan pemahaman seperti itu, saya tidak bisa menabah-nabahkan hati untuk menaruh respek pada ayah Lee Yeong ini. Jika kita berpikir menjadi penguasa berarti segalanya, saya rasa ada baiknya kita memikir ulang. Menjadi penguasa adalah posisi paling tidak aman dan paling sunyi di dunia pada masa itu—bahkan mungkin saja di masa modern saat ini, Yang pernah nonton Three Days pasti tahu maksud saya. Menjadi Raja, berarti mau tak mau rasa tidak aman menjulang setinggi langit. Harap-harap cemas kalau-kalau di saat lengah, seseorang akan muncul dan mencuri tahta melalui pemberontakan. Belum lagi keharusan untuk melindungi orang-orang yang dicintainya. Tidak ada yang tahu, orang terdekat bisa saja adalah orang yang paling berbahaya itu... 
Raja Soonjo menunjuk Putera Mhkota sebagai walinya
Beberapa menit menjelang ending episode 3 adalah detik-detik paling terbaik. Kita melihat rekonsiliasi serta kerja sama yang apik antara Raja Soonjo dan Putera Mahkota. Modal utamanya hanya satu, saling percaya. Hayati terharuuuuuuuu _
Puas banget ngeliat Perdana Mentri serta antek-anteknya tergagap kaget menyaksikan Lee Yeong tampil tak seperti harapan mereka. Ingin rasanya menabuh drum band di depan istana sambil nari hula-hula #yakalibisaAzz HAHAHAHA. Jreeeng bum jreeeng bum taaaaaaakkkkkkkkkk! Skor 1-0 untuk kemenangan Lee Yeong. Perdana Mentri Kim skakmat. #tumpengan
Lee Yeong-ida, nae ireum.
Jangan bohong, pasti sekali saja kalian pernah mencoba menerka atau membuat skenario sendiri bagaimana caranya supaya Ra On tahu jati diri Lee Yeong sebenarnya. Bisa saja melalui alur yang klise. Tak dinyana screen writer mengejutkan kita dengan caranya yang tak tertebak—setidaknya oleh saya. Bukan melalui scene epik, atau melalui momen dramatis. Proses Lee Yeong mengenalkan dirinya kepada Ra On sangat sederhana, yang membuatnya terasa bombastis dan memorable adalah bagaimana director mengemas scene tersebut. Sekali lagi pemilihan musik latar berhasil membangun mood viewers, diiringi gerakan lambat yang tidak terasa membosankan dan too much. Tidak ada kalimat berlebihan. Lee Yeong tampil selayaknya dia sebagai pangeran dan seluruh kharisma yang melekat di dirinya. Ekspresi kaget yang terlukis di wajah Ra On mengakhiri episode 3 dengan sempurna. Pakaian kebesaran Lee Yeong sebagai Putera Mahkota sudah cukup mewakili seluruh penjelasan Lee Yeong. Skor 1-0 untuk screen writer Moonlight Drawn by Clouds! Penonton dapet skor 0. Biar kata dapet 0 tapi penonton seneng gak terkira. Saya tidak sempat mikir atau mengkhawatirkan bakalan seperti apa reaksi Ra On di episode selanjutnya karena sibuk melakukan selebrasi. Tepuk tangan sendiri, heboh sendiri, senyum-senyum sendiri. Yang terngiang-ngiang adalah suara Lee Yeong yang penuh percaya diri.
Lee Yeong-ida, nae ireum...
Yeong-ah, nae ireumeun, Azz-imnida! Take me to your palace, juseyoooo~ng HAHAHAHAHA Azz sarap.
Episode 04
Apa antisipasi pertamamu menjelang episode 4 tayang? Pasti ngarep yang muncul di menit awal adalah lanjutan ending episode 3, ye kaaaaaaaaan? ㅋㅋㅋㅋ
Episode 4 dibuka dengan lanjutan pertemuan di balai istana. Demi restu dari Raja Qing, Lee Yeong menerima tantangan yang dilemparkan Perdana Mentri Kim dan antek-anteknya untuk menjamu utusan dari Qing.
Setelah pengakuan blak-blakan Lee Yeong, Ra On tidak punya pilihan lain. Andai ini bukan drama sageuk dan Lee Yeong bukan seorang yang memiliki kekuasaan setingkat raja, kita mungkin akan melihat Ra On marah-marah, ambekan atau eksyen yang paling dekat yang bisa saya bayangkan adalah gadis itu melakukan aksi diam pada Lee Yeong (baca; melarikan diri).
Nope. Ra On berada di istana, dan dia adalah seorang Kasim. No way out HAHAHA. Satu-satunya yang bisa ia lakukan cuma  satu, terima nasib. #PukpukBerjamaahRaOn
Sebelum masuk ke best moment episode 4, saya ingin terlebih dulu memuji Kim Byeong dan selera humornya yang garing tapi bisa bikin saya ketawa. Setelah Ra On mengetahui kalau Lee Yeong adalah Putera Mahkota, Ra On menemui Kim Byeong lalu curhat—teringat pula seluruh kekasaran yang ia lakukan pada Lee Yeong. Ra On membentur-benturkan kepalanya ke pilar/tiang dan tahukah apa komentar Kim Byeong?
“Hentikan. Pilarnya bisa rusak.”
Gak lucu kan? Emberrrrrrrrrr. Tapi saya ketawa looh. Ucapan pendek Kim Byeong mengingatkan  saya pada kakaknya sahabat saya. Saya sudah lupa siapa yang dia komentari, tapi apa yang dia ucapkan kurang lebih mirip dengan Kim Byeong.
“Jangan suka balapan. Kalau jatuh gimana? Kan kasian aspalnya...”
You get it? Jadi, sebenarnya yang tsundere bukan Lee Yeong, tapi Kim Byeong. Ia menunjukan perhatian dengan cara yang cool ㅋㅋㅋㅋ
Oke, momen paling tak terlupakan dari episode 4 yakni tarian solo yang dipertunjukan oleh Ra On di acara penyambutan utusan dari Qing. Bagaimana bisa sebuah tarian membuat hati saya sakit dengan merasakan sedih dalam waktu bersamaan? Saya nangis nonton scene ini .
Tarian solo Ra On mengandung unsur cerita mengenai pengharapan, pengorbanan, dan kerinduan mendalam terhadap seseorang. Apakah ini adalah semacam firasat akan seperti apa hubungan Ra On dan Lee Yeong di masa depan? Saya mencium aroma kesedihan yang kental. Lantas haruskah saya meyiapkan hati sedini mungkin untuk mengantisipasi ini? Tidak mengherankan bila Lee Yeong seketika teringat mendiang ibunya di detik pertama tarian Ra On dimulai. Ra On menarikan setiap gerakannya dengan penuh penghayatan.
Siapakah yang harus saya puji atas scene spektakuler ini? Director? Music Director? Koreografer? Park Bogum dan Kim Yoojung untuk mikro-ekpresi mereka? Jujur, Ra On menyelamatkan episode ini.
Lee Yeong semakin unggul selangkah lebih maju dari Perdana Mentri Kim di ending episode 4 setelah menjebak kakek Kim Yoon Sung secara halus di hadapan Raja dan utusan Qing. Dari sekian banyak orang di istana, Perdana Mentri Kim adalah orang paling berpengaruh kedua setelah Raja. Untuk menaklukan Perdana Menteri Kim, Lee Yeong menemukan cara jitu tanpa harus melewati aksi-aksi fisik yang melelahkan. Karena Lee Yeong jenius. Selama ini orang-orang sudah keliru menilainnya. Lucunya, Lee Yeong seperti manut-manut saja. Mengaminkan apa saja yang dipikirkan orang-orang tentangnya. Lee Yeong-nya enggak sombong. His action speaks loudly. It’s enough. ㅋㅋㅋㅋㅋ
Skor 2-0. Tambahan poin untuk Lee Yeong.
Episode 05
Jika disuruh memilih antara hubungan sebagai abdi dan sahabat, manakah yang akan dipilih?
Dengan cerdas dan penuh resiko, Yoon Sung memilih kedua-duanya. Baginya menjadi abdi dan sahabat tetaplah sama. Jika Pangeran melalui jalur yang salah, ia harus membawanya kembali ke jalan yang benar. Maka agar Pangeran bertindak benar layaknya pemimpin dan sahabat, Yoon Sung akan mendukung Lee Yeong seumur hidupnya.
Ah. Menonton scene ini kenapa lagi-lagi saya mengkhawatirkan Yoon Sung di episode-episode mendatang? Saya tak henti-hentinya memikirkan apa kiranya yang menyebabkan hubungan baik Yoon Sung dan Lee Yeong di masa lalu tidak berlanjut setelah mereka tumbuh remaja? Bisakah Yoon Sung memenuhi janjinya untuk tetap berada di sisi Lee Yeong seumur hidupnya? Sebagian besar hati saya yakin, Yoon Sung tidak akan mengkhianati janji yang sudah diucapkan didepan guru dan kedua sahabatnya. Saya ingin percaya itu .
Ra On yang sedang sakit memimpikan ibunya. Lee Yeong duduk di sisinya. Menungguinya. Sedih sekali. Aktingnya Kim Yoojung superb! Jjang-ida! .
Nae saram-imnida
Gak sah kali ya dramanya kalau gak ada scene narik tangan di mana si cewek berada di tengah antara 1st lead male dan 2nd lead male? Syukurlah line-nya Lee Yeong menjadikan scene ini spesial. Yoon Sung tak menyangka akan mendapatkan perlawanan seperti itu dari Lee Yeong.
Episode 06
Bentar, mau ngakak dulu. HAHAHAHA.
HAHAHAHA. Aduh. Gak bisa gak ngakak tiap keinget penjelasan tabib istana perihal sakitnya Lee Yeong. Menurut tabib, Lee Yeong menderita sakit yang dialami janda dan biarawati HAHAHAHA. Makin gokil saat si tabib menambahkan soal yin dan yang... mencintai orang yang tidak pantas... Kasim Jang yang cegukan... tabibnya ikutan kaget... demi menutupi kegugupannya, Lee Yeong menyuruh tabib itu pergi HAHAHAHA. Kasian Lee Yeong HAHAHAHA aduh ini gimana caranya sih supaya gak ngetawain orang yang jatuh cinta? HAHAHAHA lucu tauuuuuk. Bahagianya melihat Lee Yeong kebingungan mengatasi perasaannya sendirian. Cute.
Siapa yang menahan napas gugup ketika Lee Yeong datang menyelamatkan Ra On dari aksi bejat utusan dari Qing? Sayaaaaa! Beugh, saya berdoa Lee Yeong tidak kelepasan dan menebas habis si bapak-bapak gak tahu malu itu. Untunglah kontrol emosi Lee Yeong masih berfungsi.
Kau siapa sampai... Kenapa kau membuatku sangat marah? -Lee Yeong
Di waktu lain, giliran Yoon Sung bertindak menghukum Kasim Ma. Go Yoon Sung go! ㅋㅋㅋㅋ
ROMAAAAANTIIIIIIIIIISSSSSSSS ABISSSSSSS. COBA AJA YANG ADA DI POSISI RA ON ITU SAYAAAAA, BOGUM GAK AKAN PULANG KE KEDIAMANNYA DENGAN SELAMAT! HAHAHAHA. AAAARGGGHHH. Tatapannya Bogum eh Lee Yeong sadiiisss, full of love. Yang ditatap sedemikian rupa akan merasa tidak ada yang tidak baik-baik saja, sepanjang masih ada Lee Yeong, it’s ok. .
Scene ini! Heol! Daebak! Heol! Saya mewek gara-gara musiknya, gara-gara Ra On, gara-gara Lee Yeong .
Sly Lee Yeong kkkk. Kemunculannya bersama Kim Byeong tak terduga sebelumnya. Jika tanpa campur tangan dua sahabatnya—Kim Byeong dan Yoon Sung, Ra On tidak akan selamat. Benar, Lee Yeong cerdas dan jago mengatur strategi, tapi seringnya itu tidak cukup bila tanpa sokongan sektor lain. 
Lee Yeong tidak bisa melakukannya sendiri.

5 menit menuju ending episode 6 adalah moment  terbaik. Sinematografinya badaaiii. Beautiful scenery.
Ra On : Aku kira kau tidak bisa menahan amarahmu jika melihatku
Lee Yeong : Sekarang juga begitu. Melihatmu membuatku marah. Tapi bagaimana lagi, kalau tidak melihatmu, aku lebih marah sampai rasanya bisa gila.
... jadi tetaplah di sisiku.
Pemandangannya... speechless....
Em, kasian Kim Byeong ㅋㅋㅋㅋㅋ
Saya hampir lupa kalau kelima karakter utama Moonlight Drawn by Clouds dikisahkan masih berusia 18 tahun. Barulah ketika saya mencoba mengambil jarak dari drama yang sudah menayangkan 10 episode ini, saya bisa menangkap ciri khas anak muda pada diri mereka kecuali Ra On dan Kim Byeong.
Di usia segitu, masih rawan terjadinya pemberontakan sebagai dalih pencarian jati diri—walau memang benar demikian halnya.
Coba perhatikan apa yang dilakukan Lee Yeong terhadap ayahnya? Sebuah konfrontasi langsung. Lihatlah reaksi Kim Yoon Sung pada intimdasi halus kakeknya, Perdana Mentri Kim. Diam-nya bukan berarti selalu bermakna persetujuan. Dan Jo Ha Yeon, kata adek saya yang sudah menonton episode 7 dan 8 dengan tega memberikan spoiler kalau gadis itu menolak perjodohan yang diatur ayahnya.
Apakah kelima remaja Joseon ini akan membiarkan diri mereka menjadi pion orang-orang dewasa atau sebaliknya, mereka akan meretas jalan hidup berbeda seperti yang mereka kehendaki? Kita harus menunggu untuk melihat pertanyaan ini menemukan jawabannya. 
Menurut saya, salah satu yang menyebabkan drama Moonlight populer di berbagai tingkatan usia karena ceritanya yang dinamis. Menghibur. Juga menyentuh. Saya sepertinya harus mengingat kesimpulan ini di masa yang akan datang bahwasanya, tidak peduli seklise apa pun suatu cerita, namun bila dikemas dengan cara yang tidak biasa maka hasilnya pun akan berbeda.
Saya masih berharap karakter Kim Yoon Sung akan muncul mengejutkan saya dengan rahasia-nya. Semua karakter di drama ini menyimpan rahasia-nya masing-masing. Bagi saya, Kim Yoon Sung masih ambigu. Belum bisa saya baca hingga episode 6 ini.
Untuk karakter Ra On, semoga saja SW-nim tidak lupa kalau lebih dari siapa pun karakter Ra On adalah kunci cerita—bukan Lee Yeong. Saya tidak siap bila akhirnya ia hanya menjadi objek tarik ulur di antara Lee Yeong dan Kim Yoon Sung. Ra On sudah melakukan perannya dengan baik di episode-episode sebelum sadar telah jatuh cinta pada Lee Yeong. Yang membuat saya jatuh cinta pada Ra On adalah dia yang muncul di awal episode...
Btw, bukan salah Park Bogum karena karakter Lee Yeong jauh lebih bersinar dibandingkan  karakter lain. Ia hanya bertugas memerankan Lee Yeong se-perfect yang ia bisa lakukan. Terima saja bahwa Lee Yeong memang ditakdirkan untuk Park Bogum. Perlukah mendebat hal-hal yang tidak esensial? ☺

P.s : Di langit hanya boleh ada satu rembulan, tidak bisa dua ^^
Tabik,
= Azz =

Remember, that great love and great achievements involve great riskDalai Lama

*saya belum menonton episode 5-6*
Majimaksarang.blogspot.co.id
***
Saya berhasil menepati janji pada diri saya sendiri untuk menonton plot episode Moonlight Drawn by Clouds tanpa ekspektasi apa-apa. Tidak ada ketakutan dramanya akan gagal, atau sebaliknya, memperoleh rating bagus pada penayangan perdananya. perasaan saya datar saja. Bahkan ketika rating episode 1-4 satu-persatu keluar, saya masih kalem saja. Senang, ya. Namun tak lantas menjungkirbalikan hati saya ㅋㅋㅋㅋ
Berbanding terbalik dengan teman-teman lain. Lantas apakah saya sudah berubah menjadi antis-nya Park Bogum? Oh wait, jangan terburu-buru melemparkan telunjuk bernada menuduh ke arah saya. Saya tidak akan pernah bisa setega  itu pada Bogum. He’s too good to be hated.
.... tapi ada sebagian fans Park Bogum yang tanpa sengaja memengaruhi antusiasme saya terhadap Moonlight. Keinginan saya menonton dengan damai sedikit terusik. Saya jujur mengatakan ini, ketika menonton plot episode , saya tak henti-hentinya terbayang komentar-komentar dari beberapa fans Bogum yang akhirnya berimbas ke mood saya dan berlanjut selama penulisan sinopsis Moonlight episode 1 dan 2.
Sebelum membeberkan kesan pertama saya saat menonton 4 episode awal Moonlight, saya ingin sekali menulis ini. Mungkin masih ada yang ingat bagaimana konflik yang terurai panjang dan melelahkan gara-gara husband game Reply 1988. Walau kontennya berbeda tapi saya menemukan kemiripan dalam urusan drama K dan drama S—no mention—yang sedang ramai-ramainya menjadi topik bahasan ini. Saya tidak melihat adanya urgensi atau keharusan sebagai viewers untuk membandingkan bahkan menjelek-jelekkan, mana yang lebih bagus, mana yang lebih pantas mendapatkan rating tinggi antara drama S dan K. Pertanyaan paling sederhana, tak bisakah kita menikmati satu drama, membicarakan kesuksesan/kegagalannya tanpa membwa-bawa drama lain yang kebetulan jadwal slot airingnya bersamaan? Tapi pihak sebelah yang mancing duluan—ada yang melontarkan alasan seperti ini. Sebagai tanggapan, saya coba kasih analogi seperti ini : dua rumah—hijau dan biru bertetangga, di belakang rumah tersebut terdapat sungai yang masih terawat. Suatu hari pemilik rumah Hijau membuang sampahnya ke sungai tersebut. Terinspirasi hal itu, beberapa hari kemudian pemilik rumah Biru pun melakukan pekerjaan yang sama persis. Lama kelamaan sampah-sampah itu membentuk gundukan dan tercemarlah si sungai. Hujan besar datang, disusul banjir. Kalau sudah begitu, yang terjadi kemudian adalah saling tuduh. Rumah Hijau duluan, ah bukan, Rumah Biru. Begitu terus sampai kiamat datang. Tidak ada pihak yang mau berinisiatif introskpeksi diri.
Tidak bisakah penonton drama S dan penonton drama K menonton tanpa perlu saling sindir, saling menjatuhkan, saling mengutuk, saling mengejek—saya merindukan #TeamTaek yang kalem, yang meski akhirnya Taek-lah yang menjadi suami Deokseon, #TeamTaek tetap stay cool, tetap bisa menikmati kemenangan dengan wajah sumringah tanpa menyiramkan cuka ke luka hati tetangga.
Pasca insiden W vs UF, ada dua kesyukuran saya karena berani mengambil keputusan ini—menutup akun twitter lalu membuat akun baru. Meninggalkan sekian banyak teman yang sangat saya akrabi sebelumnya. Bukannya saya tidak sayang pada akun lama, tetapi meminggirkan diri dari unsur-unsur yang bisa memancing emosi jauh lebih baik ketimbang bertahan lalu pada akhirnya saya akan keseringan nyinyirin temen sendiri karena twit-twitnya berseberangan dengan saya. Mudah sekali mengajak orang saling menghargai namun, mengaplikasikannya ke diri sendiri tak pernah segampang buang kentut. Bagi saya tak ada yang lebih sulit daripada menaklukan gelombang amarah diri saya sendiri. Hal lainnya—saya berhasil membatasi interaksi saya di LINE. Kata almarhum kakek, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Saya mengamininya dengan patuh.
Saya nge-fans Bogum setelah menonton akting-nya sebagai Min di Hello Monster, saya cukup yakin saya akan selalu menjadi fans si dedek baik hati ini. Yang sulit saya jamin adalah bahwa suatu hari nanti saya sebagai fans-nya Bogum yang mungkin karena saking sayang dan loyal-nya ke Bogum menyebabkan orang lain melontarkan kalimat ini tanpa minat—
“Gak jadi ah, nge-fans sama Park Bogum. Saya sih gak ada masalah sama artisnya—wong akting dan personalitinya bagus. Tapi fans-nya itu loh. Nyeremin.”
Kasian Bogum-nya kalau sampai kejadian. Dia gak ngelakuin apa-apa tapi ikut terseret arus. Tak hanya sekali pikiran semacam ini menghampiri saya, spazzing mandiri tuh lebih terasa excited-nya ketimbang rame-rame, apalagi kalau kepopuleran artis yang di-spazzing sudah meroket menyentuh pelangi. .
Teringat ucapan paling kece dari Seungho—leader MBLAQ. 1st manner, 2nd manner, 3rd manner. 
Cobalah berbahagia tanpa menyeret atau menyoroti ketidakberuntungan orang lain, Azz....
***
Dan saya baru bisa benar-benar menikmati Moonlight di episode 3 dan 4 setelah sukses menghindari sekian macam bad influence. Usai menonton episode 4, saya akhirnya mengerti sepenuhnya kenapa rating drama ini terus naik setiap pekannya—episode 5 nyaris menembus 20%. Tak hanya karena Park Bogum semata, seluruh team Moonlight Drawn by Clouds turut berperan. Saya pernah mengungkapkan melalui postingan tentang Moonlight sebelumnya, satu-satunya yang menjadi kekhawatiran saya sebagai fans Bogum yakni bila duo Screen writer Moonlight tidak memanfaatkan kompisisi casting sebaik-baiknya dengan menulis script yang bagus—karena saya tidak akan ragu men-drop drama yang ceritanya meh tak peduli yang main aktor/aktris favorit saya. Mirisnya, ada orang-orang yang menuding saya menulis negative comment di postingan tersebut. Ini saya yang gagal membedakan mana yang namanya negative comment dan mana #lowexpectation atau gimana sih? Aduh Mak... Hayati gagal paham.
Andaikan saya mengikuti emosi ketika menulis sinopsis Moonlight episode 1 dan 2, barangkali postingan tersebut hanya akan diisi ‘HAHAHAHAHAHA’ dari awal hingga akhir. Kesan pertama Moonlight terasa memikat. It’s fun! Plot episodenya sukses memengaruhi saya untuk menonton episode selanjutnya. Serba balance. Perkenalan karakternya tidak dibebani basa-basi yang tidak perlu, plot yang rapi, storyline-nya jelas akan ke mana juntrungannya, pace yang tidak lambat atau monoton, dan paling penting bagi saya, episode 1 dan 2 sebagai pembuka kisah dengan cerdasnya telah menciptakan serangkaian pertanyaan-pertanyaan misterius super penting yang menyangkut karakter utama di drama ini. Tentang Hong Ra On dan mengapa ia sedari kecil telah dipaksa menjadi laki-laki, tentang Kim Yoon Sung dan hubungan pertemanan yang terkesan dingin dengan Crown Prince—Lee Yeong beserta pengawal pribadinya yang setia, Kim—Satgat—Byeong Yeon. Tentang cinta segi-banyak yang kemungkinan besar akan menghiasi Moonlight dan diselingi konflik internal kerajaan. Keklisea-an ceritanya tidak lantas menjadikan drama ini boring. Two thumbs up untuk duo screen writer-nya. Formula yang digunakan sejauh ini kece banget. Magic. Terimakasih telah mematahkan kekhawatiran saya.
Karakter-karakter utama di Moonlight diselubungi layer. Selagi kita berpikir mereka cukup transparan untuk dibaca, kenyataannya tidak segamblang itu. Bond yang dibangun di awal episode semakin kuat di setiap episodenya. Saya rasa ini termasuk poin penting untuk mem-betahkan viewers.
Kembali ke masa-masa promosi sebelum Moonlight, kembali ke pertanyaan remeh saya mengenai hubungan dance Boombastis-nya Park Bogum, kacamata item, dan era Joseon, kesimpulan akhir yang saya dapatkan kemudian setelah 4 episode bikin saya geleng-geleng kepala, tanpa sadar ketawa, untung gak sampe tepuk tangan tanpa sadar. WOW. Cara promosi yang menurut saya unik untuk genre teen drama Fusion-sageuk. Lupakan sejenak mengenai para pemeran utamanya yang masih muda-muda. Abaikan viewers yang tidak mempermasalahkan entah itu drama modern atau Sageuk hayuk ajah nonton karena yang main aktor/aktris favorit. Bayangkan bila tim promosi Moonlight mengeluarkan jurus promosi dengan cara dan aksen ala kerajaan yang berat, terkesan monoton dan sedikit sentuhan dark (baca; berdarah-darah), kira-kira remaja nge-pop—non fans main leads—pada tertarik nonton gak? Saya sih ragu ya...
Satu lagi yang saya sadari belakangan ini, sedari awal memulai promosi KBS dan tim produksi Moonlight sepenuhnya percaya diri dengan apa yang akan mereka sajikan kepada vieweres. Kenapa saya mengatakan demikian? Promosi besar-besaran yang mereka lakukan dengan menggunakan Park Bogum sebagai jaminan utama. Itu. Keyakinan besar tidak akan muncul begitu saja. Harus saya akui, KBS memperlakukan rising star ini dengan istimewa. Tidak masalah, toh Bogum memiliki kualitas di atas rata-rata untuk diperlakukan istimewa. Kabar gembiranya adalah viewers mencintai Bogum—termasuk saya. Semua sayang Bogum. My precious lil bro ㅠㅠ Umpan yang dilemparkan KBS disambut dengan hangat. Namun sekali lagi, terlepas dari ini semoga tidak ada yang keceplosan nyerocos sok jumawa seolah-olah Moonlight hanya tentang Park Bogum. Tolong jangan membuat Bogum tampak buruk di mata non-fans dan fans aktor/aktris lain.
Tak ada cacat pada divisi akting. Yang jahat, yang baik, yang lawak, yang numpang lewat, semuanya memerankan karakternya dengan pas, tidak timpang.
Saya ini tipe penonton yang sangat memerhatikan detail. BGM, sinematografi, akting, properti lah, segala macem diperhatiin. Emang deh, gak sia-sia saya saya percaya pada Director Kim yang juga pernah menyutradarai Discovery Of Love-nya Om Eric Mun. Angle pengambilan gambar dan pemandangannya cakeeeeep cin, perpaduan warna yang dipilih sangat colorful sehingga terkesan ramah, adem, dan aura teen-nya nempel banget. Beautiful. ㅜㅜ
Saya ingin menyinggung mengenai pemilihan bgm berupa efek bunyi-bunyian yang banyak muncul di episode 1-2 dan mulai berkurang di episode 3-4 seiring makin intense-nya jalan cerita Moonlight. Bagi saya itu sudah tepat, selain turut membantu menstimulasi sisi humor yang coba dilemparkan penulis di episode 1-2—dan bikin saya ngakak gak kira-kira—juga menegaskan bahwa ide memadukan humor dan sageuk tidak akan merusak esensi sageuk itu sendiri. Banyak yang mengira sageuk adalah tentang kehidupan kerajaan/istana beserta isu-isu yang melingkupinya (perebutan kekuasaan, peperangan, pertumpahan darah), yang sepanjang jalannya episode lebih banyak membuat kening penonton berkerut, dan wajah menjadi muram. Di Moonlight, saya dibikin mengharu biru. Dua episode awal, saya banyak tertawa lepas, lalu dua episode selanjutnya, beberapa scene tanpa sadar saya menangis. Tau-tau ngalir aja air matanya. Moonlight berhasil memainkan emosi saya ㅜㅜ
Memasuki episode 5, saya sangat yakin tensi cerita Moonlight akan semakin berkembang, kurvanya menanjak seiring masuknya Chae Soo Bin ke dalam lingkaran cerita. Saya berharap porsi ceritanya akan tetap seimbang, makin mengerucutnya konflik antara Lee Yeong dan Perdana Menteri Kim hingga masuknya perkembangan cinta segi-banyak di sekitar Hong Ra On tidak akan menghilangkan sisi humor drama ini. Sageuk bercita rasa remaja. Semoga Moonlight tetap menyenangkan hingga menit terakhir akhir penayangannya nanti. Seperti halnya Moon That Embrace The Sun yang begitu lekat diingatan para penonton.
Btw, bener gak sih jumlah episode Moonlight hanya 18 episode? Kalau iya, jago bener penulisnya bikin twist—ceritanya kan usia karakter-karakter utama di sini masih pada 18 tahun .
***
Sekarang saya mau ngomongin per karakternya. Bagaimana mereka ini muncul dan menginvasi hati saya dengan semena-mena HAHAHAHA.
Lee Yeong. Lee Yeong. Lee Yeong. Si Pangeran berhati hangat, cerdas, pintar menganalisa situasi, jago memasang taktik, tahu kapan harus diam tahu kapan harus bertindak, tahu kapan harus bikin ngakak—tapi sedikit pemarah kkkk. Saya belum sepenuhnya bisa bersimpati pada Lee Yeong di dua episode pertama, barulah ketika menonton episode 3-4, saya jatuh cinta dan dengan sukarela ikut bersedih bersamanya. Park Bogum did a great job to potraying Lee Yeong. Take a look into his eyes, you can feel his pain, his loneliness, his fears, everyting about him so raw that makes my heart happy and sad at the same time .
Hong Ra On/Hong Sam Nom. He’s too beautiful. Nope, it's 'she'. Kim Yoo Jung. Ya, saya tak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi dan memuji kecantikan Yoo Jung. Saya aja yang perempuan bisa se-terpana ini melihat kecantikan si adek... Saya menyukai Hong Ra On. Ia—dengan segala kehati-hatiannya bisa menjalin chemistry dengan siapa saja. Mengenai pink romance-nya dengan Lee Yeong, saya yakin bisa menikmatinya (saya tidak berniat men-ship Bogum-Yoo Jung sebagus apa pun chemistry mereka). 
It’s too early. Saya semakin pandai saja menahan diri dari yang namanya ship-ship an. Apa yang terjadi di drama tidak akan saya bawa ke real life aktor/aktris tersebut ㅋㅋㅋㅋ
Kim Yoon Sung. Ada sesuatu pada karakter ini yang kerap membuat saya merasa sedih jika melihat scene-nya. Saya belum tahu apa yang menyebabkan Lee Yeong membelakangi dan bersikap dingin pada Yoon Sung—pasti ada kaitannya dengan ramalan di episode 2—namun dilihat dari cara Yoon Sung bereaksi terhadap Lee Yeong, ia tetap menganggap Putera Mahkota sebagai temannya, jarak itu... yang memisahkannya dengan Lee Yeong, bukan ia yang menciptakan, melainkan Lee Yeong sendiri. Apakah Yoon Sung punya potensi menjadi jahat setelah kelak terlibat cinta segi-banyak? Sepertinya tidak, paling nggak itulah yang saya harapkan. Saya tak menangkap adanya ambisi berlebih pada diri Yoon Sung. Ia tak bisa berbuat banyak mengingat kakeknya adalah Perdana Menteri dan di sisi lain, ia (pernah) bersahabat dengan Putera Mahkota.
Dan bila Yoon Sung harus memilih, saya takut ia akan berakhir tragis. No, please... .
Oya, saya ingin screen writer menampilkan bagian lain dari Yoon Sung terkait deskripsi karakternya—melukis gisaeng belum cukup memenuhi keingintahuan saya apakah karakter Yoon Sung ini memang pantas diramalkan memiliki kualifikasi sebagai pewaris mahkota. Jangan menjadikannya hanya sekadar Guardian Angel untuk Hong Ra On. Untuk beberapa alasan karakter Kim Yoon Sung ini mengingatkan saya pada Jung Il Woo di Moon That Embrace The Sun.
—credit untuk perkembangan akting Jinyoung. Gomawo, Jinyoung-ah. This Nuna will support you. 파이팅! ^^
Kim Byeong Yeon. Cooooooooool! Chemistry-nya dengan Ra On dan Lee Yeong ㅋㅋㅋㅋㅋ apa cuman saya yang merasa Kwang Dong Yeon kelihatan lebih tua dari Bogum? HAHAHAHA, mian. Saya ingin tahu lebih banyak lagi tentang karakter ini di episode-episode mendatang. Seperti celetukannya Ra On—Byeong Yeon pasti punya rahasia juga.   
***
Saya mengambil keputusan untuk menghentikan penulisan sinopsis Moonlight, lagian kan sudah ada Mbak Dee Kutudrama yang membuat sinopsisnya. Mbak Dee lebih berpengalaman dan sangat terstruktur (rapi) dalam penulisannya. Bacanya juga lebih enak dan nyaman ketimbang hasil kerja Majimak Sarang—maaf, saya tidak bisa menuntaskan janji.
Tak seperti yang sudah-sudah, kendati saya menyukai Moonlight, saya belum berniat mengunjungi thread-nya di Soompi. Adakalanya menonton tanpa spoiler lebih menyenangkan.
Yeokshi! Choose to be a #TeamLowExpectation never get you hurt. I’m enjoying my long-story with Moonlight ㅋㅋㅋㅋㅋ
Azz

Be happy, you ^^