Showing posts with label J-Dorama. Show all posts
Showing posts with label J-Dorama. Show all posts

 


Ini bukan review.

Pada suatu kesempatan, Nagaura Momone (Kaya Kiyohara) mengejutkan keluarganya dengan melontarkan keinginannya keluar dari Kesennuma, kampung halaman di mana ia lahir dan tumbuh. Usianya baru delapan belas tahun. Gagal tes masuk universitas, ia pun masih diliputi kebingungan dengan arah hidup dan masa depannya. Mone memantapkan niatnya keluar dari Kesennuma. Semula Nagaura Koji (Seiyo Uchino)—ayahnya—mengira keputusan yang diambil Mone hanya bersifat sementara, yang muncul karena kegagalannya masuk universitas. Oleh kakeknya, Nagaura Tatsumi (Tatsuya Fuji) Mone dititipkan kepada seorang teman di Tome, Sayaka-san. Di sana ia bekerja sebagai forest guide.

Tak disangka keputusan Mone keluar dari Kasennuma, lalu bekerja di Tome akan membawanya menuju titik balik paling penting hidupnya. Pertemuannya dengan seorang  weather forecaster  terkenal dan dokter Suganami di Tome menjadi awal mula bagi Mone menata hidup dan hatinya, juga berdamai dengan hantu masa lalu yang selama ini selalu mengintai hidupnya.

Trauma.

Awalnya, seperti halnya Nagaura Koji, saya curiga Mone pindah ke Tome adalah upayanya untuk melarikan diri dari entah apa itu yang membuatnya tidak nyaman di Kesennuma. Mone yang menyukai music lebih dari siapa pun menolak memainkan kembali alat music favoritnya. Tak ada yang tahu apa sebabnya. Sepengamatan saya, sorot mata Mone selalu dipenuhi kesedihan, was-was, dan kebingungan yang takarannya berhasil membuat saya merasakan uneasy feeling setiap kali gadis ini muncul di layar. Mone, di saat yang sama juga memunculkan semacam keharusan bagi saya untuk mengenalnya lebih dekat. Saya ingin tahu apa yang membuat seorang gadis 18 tahun bisa merasakan kesedihan yang begitu dalam. Ada luka di matanya yang saya yakini sulit dijelaskan bahkan oleh Mone sendiri.

Saya mengalami banyak sekali badai (kesedihan dan haru) sepanjang menonton Okaeri Mone, asadora atau morning drama yang ditayang di NHK Jepang ini. Setidaknya saya bisa membagi tahapan perjalanan emosi yang dibawa karakter Nagaura Momone dalam Okaeri Mone.


Pertama, proses pencarian masa depan Mone selama di Tome. Mone selalu takjub dengan apa pun ditampakkan alam kepadanya. Sebagai anak pulau, tinggal di pegunungan yang dekat sekali dengan hutan dan pepohonan memberikan perspektif baru pada Mone tentang laut, langit, sungai, hutan dan pohon-pohon. Semua terkoneksi, utuh sebagai satu kesatuan.

“There are many things in this world, that are of use to others, even if you can’t see it.”

Begitulah alam bekerja tanpa pamrih dan tidak bising.

Di sini Okaeri Mone menyentuh hati saya pertama kali, langsung ke titik terdalam. Filosofi alam dan bagaimana pengetahuan ini turut pula membantu Mone menemukan jalan menuju harapannya menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain.

Kedua, Mone mulai belajar sebagai bagian dari persiapannya mendapatkan lisensi sebagai peramal cuaca, dibantu Suganami Kotaru, dokter muda yang nampaknya memiliki ketertarikan pada Mone (tanpa disadarinya).

Bagian yang menarik di sini (selain interaksi dengan pak dokter menggemaskan wkwk) adalah bagaimana proses Mone mendapatkan lisensi peramal cuacanya. Digambarkan tidak mudah, tidak dramatis, natural apa adanya, kerja kerasnya Mone diperlihatkan, jatuh bangunnya, sempat hilang percaya diri sampai akhirnya ia berhasil.

Dengan lisensinya sebagai peramal cuaca, Mone menuju Tokyo untuk bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ramalan cuaca. Perusahaan ini bekerja sama dengan stasiun tivi dan pihak-pihak lain yang membutuhkan prediksi cuaca sebagai bagian dari pertimbangan operasional seperti transportasi.

Ketiga, inilah yang paling banyak menguras emosi saya. Bagian ini juga yang membantu saya memahami mengapa asadora 120 episode ini diberi judul Okaeri Mone, Welcome Home, Mone. Saya pengen banget meluk Mone, meluk sambil nangis sambil ngasih tau dia kalo dia udah bekerja dengan sangat keras. Well done, Mone-chan. You have worked hard, oh my precious Mone-chan .

Ada tiga hal penting yang coba diingatkan Okaeri Mone kepada saya.

Pandangan saya terhadap pohon, sungai, laut dan langit tidak sama lagi seperti sebelum saya menonton Okaeri Mone. Oke, memang saya sudah memiliki ketertarikan yang dalam kepada alam yang mungkin banyak dipengaruhi jurusan yang saya ambil semasa kuliah, tapi apa yang coba disampaikan dorama ini semakin menambah volume kesantunan yang saya berikan kepada alam. Di hadapan alam, manusia bukanlah apa-apa.

Weather forecaster, peramal cuaca. Okaeri Mone membuka mata saya lebar-lebar terhadap profesi satu ini. Mulanya, perhatian saya tercurah pada drama Korea yang sedang tayang saat ini, drama tersebut mengangkat tema yang sama soal pekerjaan sebagai peramal cuaca. Cuap-cuap saya di Twitter disambut salah seorang teman yang merekomendasikan Okaeri Mone. Mumpung lagi kepo banget kan sama weather forecaster, saya pun gercep nonton setelah ngelarin Saiai.

Saya yang baru kenalan sama format asadora, 15 menit per episode, lumayan kaget wkwk. Jujur pas liat total episodenya—120 bookkk—sempet jiper duluan. Kuat ga ya donlotnya? ㅋㅋㅋ sebenernya bukan soal kuat enggaknya sih, tapi sabar apa ga HAHAHAHA. Abis waktu nonton suka mepet, kejepit sama kerjaan dan jadwal ngajar siang-malem (sok sibuk). Saya coba donlot 8 episode dulu. Kalo itungannya 15 menit per episode, berarti kalo 8 ep sama aja 120 menit, 2 episode untuk drama normal 60 episode. Saya pikir 2 episode udah bisalah ngasih saya alasan kenapa drama ini berhak dapet waktu saya. Apaan, 15 menit pertama udah berhasil bikin saya jatuh suka ㅋㅋㅋㅋ. Karakter Mone benar-benar berhasil menarik perhatian saya. .

Takjub banget sama cara kerja peramal cuaca. Selama ini kan soal ramalan cuaca cuman tau lewat akun BMKG Indonesia. Paling sering kalo ada warning gempa bumi atau bencana lain. Nah di Okaeri Mone nih ga fokus di bagian ngabarin doang. Tapi proses gimana cuaca itu diprediksi, lalu disampaikan kepada khalayak umum—di belakang layar stasiun televise dikasih liat kayak gimana. Ga ngasal ga sembarangan. Memprediksi cuaca adalah sesuatu yang sulit. Tiap menit bisa berubah. Jepang kan memang Negara yang rawan gempa dan bencana alam lain. Makanya ga heran kenapa soal ramal-meramal cuaca ini punya corner-nya sendiri di media. Ada waktu-waktu tertentu update-nya. Mon maap tanpa sadar saya ngebandingin sama negeri sendiri. Ga bermaksud mengecilkan otoritas yang berwenang soal ramalan cuaca, saya cuman mikir aja, dengan kondisi Indonesia yang rawan bencana harusnya penyampaian berita cuaca menjadi salah satu yang penting dan butuh perhatian. Wadah penyampaiannya harus bisa menyentuh masyarakat luas. Banyak orang-orang di pelosok ga pake media sosial. Saya inget, dulu tuh di TVRI ada segmen khusus untuk berita cuaca, kalo ga salah di Dunia Dalam Berita, iya ga sih? Sebelum bobok bocil liat ramalan cuaca dulu HAHAHAHA.

Mata saya kebuka nonton Okaeri Mone, sepenting itu ramalan cuaca untuk semua pihak. Effort-nya itu loh, luar biasa.


Mone dan keinginannya melakukan pekerjaan yang bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Sebelum memasuki paruh ketiga, saya kuat-kuat aja, berkali-kali mendengar Mone menuturkan keinginannya itu. Namun segalanya berubah setelah saya mengetahui apa yang menjadi latar belakang Mone begitu terobsesi mengerjakan apa yang bisa bermanfaat bagi orang lain. It breaks my heart.

Menjadi peramal cuaca, salah satu alasan Mone memilih pekerjaan ini ternyata berhubungan dengan bencana besar yang pernah menimpa Kesennuma 2011 tahun silam. Gempa bumi yang disusul tsunami. Saat itu terjadi, ia dan ayahnya sedang berada di Sendai. Ketidakhadirannya di tengah bencana itu rupanya meninggalkan trauma mendalam di hati gadis itu. Mone di awal episode yang ingin keluar Kesennuma bukanlah karena ia membenci kampung halamannya, tuntutan untuk melakukan sesuatu yang bisa menolong orang lain sesungguhnya adalah bentuk lain dari trauma yang tidak pernah lepas darinya. Dikejar rasa bersalah tidak pernah mudah bagi Mone. Relate sekali ini.

Fase trauma atas sesuatu yang terlalu besar untuk dijalani, yang menghadirkan rupa-rupa kehilangan ibarat hantu tanpa wujud, ada tapi tak terlihat, menurut saya Okaeri Mone mampu menjabarkan perasaan ini dengan takaran pas melalui tokoh-tokohnya yakni orang-orang yang tinggal di Kesennuma, yang selamat dari gempa dan tsunami 2011. Sudut pandang Mone sebagai pihak yang tidak berada di tempat dan Michan dan teman-teman Mone yang sedang berada di Kesennuma saat gempa dan tsunami menerjang tempat itu—masing-masing membawa beban traumanya sendiri. Warga Kesennuma banyak yang memilih meninggalkan kampung halaman, ada yang memilih tetap bertahan. Meski tahun-tahun yang panjang sudah lewat, cengkeraman kengerian itu masih memberati kaki-kaki mereka, mempengaruhi setiap keputusan dan pilihan hidup yang mereka ambil.

Kita nggak akan pernah benar-benar bisa memahami perasaan trauma orang-orang seperti Mone, Michan, warga Kesennuma secara keseluruhan. Melihat Mone, melihat Michan, melihat betapa besarnya efek trauma pasca tsunami, tak pelak membuat hati saya ngeri dan nyeri. Saya berusaha memanggil kembali kenangan—reaksi saya terhadap musibah-musibah yang dialami orang-orang di sekitar saya. Ucapan berupa kelegaan, simpati dan empati, bernada kesedihan, turut berduka-cita—jika tak diperlakukan hati-hati bisa berubah jadi tusukan pedang yang justru membuat orang-orang yang mengalami merasakan duka berkali-kali lipat. Mereka aja ga punya keberanian membuka diri kepada sesama survivor lain.... ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ


Saya nangis sewaktu Mone, Michan, Ryo, dan tiga teman lainnya saling terbuka mengenai musibah besar yang menimpa mereka. Mereka tidak leluasa membahas kejadian itu dengan orang lain. Bila orang baru yang mereka temui mengetahui mereka berasal dari Kesennuma, maka sorot mata kasihan itu tak bisa dihindari. Jadilah mereka dipaksa mengakali kesedihan itu dengan cara apa pun. Seolah-olah menjalani hidup senormal mungkin begitu sulit. Di saat yang sama mereka ingin bergerak maju, namun selalu ada saja hal-hal yang membuat mereka terlempar kembali ke masa-masa berat itu.

Puncak kesedihan saya, titik kulminasi emosi saya sebagai penonton Okaeri Mone, yang menyaksikan perjalanannya dari titik nol, adalah di episode 117, menit ke 10.28. Ketika Mone diliputi tsunami emosi usai mendapatkan kabar gembira dari Michan.

“I’m very happy right now. But tell me, is that because I feel saved now?”

Mone bertanya kepada Suganami, yang dijawab dokter itu dengan gelengan kepala.

Saya nangis kenceng banget di sini. Keinget perjalanannya Mone di episode 1 sampe episode itu. SUGANAMIIII KENAPA ANDA HANYA NEPUK-NEPUK BAHU MONEEEE KENAPAAAAAA!! /sepak guling/ Saya aja waktu liat adegan Mone di situ pengen banget meluk erat ikutan nangis bareng. ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ sumpah, emosi saya terakumulasi di adegan itu. Mone yang selalu merasa bertanggung jawab atas apa yang dialami adiknya, akhirnya bisa merasa lega. Utang masa lalunya berhasil ia lunasi. Rasa bersalah adalah momok menakutkan. Suganami ga meluk mungkin takut dikipas bapak-ibunya Mone yang ngeliat mereka di belakang wkwk.

Kayaknya Mone ga bakal bener-bener bisa ngerasain bahagia sebelum Michan bahagia duluan.

Mone Suganami

Kehadiran kisah Mone dan Suganami di Okaeri Mone ibarat oase di antara huru-hara yang menimpa karakter-karakter lain. Bener-bener penyelamat hati. Sewaktu Nanda ngasih tau hubungan Mone-Suganami ga seperti kebanyakan kapel di drama romantic, tapi ga setipis Daiki-Ryo di Saiai (drama yang baru saja saya tamatkan sebelum memulai Okaeri Mone), saya lantas sibuk menerka-nerka macam apakah hubungan yang dijalani Mone-Suganami?

Kapel LDR dengan chemistry luar biasa. Itulah Mone dan Suganami sensei. Minim skinship, miniiiiiiim banget, tapi powerful. Baru kali ini saya nemu model kapel kayak begini di drama. Adem, tapi bikin yang nonton ga adem. Maunya grasak-grusuk, teriak-teriak supaya dunia tau ada kapel yang level gemesnya ga bisa ditakar. Gimana ya, padahal cuma ngobrol doang, ga ngapa-ngapain, banyakan ngobrol lewat telpon. Kalo ketemu yang dibahas banyakan soal kerjaan..

Mone yang kalem ketemu Suganami yang juga kalem (kikuk-kikuk gemes tapi omongannya suka kelewatan  jujurnya), ya udah yang jadi korban penonton. Bisanya nge smashing bantal, tepok-tepok tembok kamar kek orang gila, ngikik sendiri, gigit-gigitin ujung bantal—ga jelas banget modelan penonton mace mini, IYEE ITU SAYA SI PENONTON RETJEH.

Semoga ini tepat, Mone beruntung memiliki Suganami sensei dalam hidupnya. Meski intensitas pertemuan mereka minim sekali tetapi porsi pengaruh Suganami sensei dalam kehidupan Mone besar sekali. Hampir semua keputusan besar yang diambil Mone tak terlepas dari masukan-masukan Suganami. Mone tuh kalo buntu, giliran abis ngobrol sama Suganami langsung tercerahkan walaupun kadang-kadang pa dokter kalo ngomong jujur banget, logis, no drama-drama club. Tapi Mone sendiri ngaku sih, tanpa itu—omongan-omongan jujur yang suka bikin sakit ati—dia ga bisa melakukan apa-apa.

“For me, I can’t be without him.”

Itu jawaban yang diberikan Mone kepada ayahnya saat ditanya tanggapannya soal lamaran Suganami sensei di hadapan kedua orang tuanya. Jelas ga mungkin bisa. Suganami yang menemani jatuh-bangunnya dia, yang nemenin dari nol. Sebagai orang luar di lingkarannya Mone, Suganami-lah yang paling paham Mone. 

“From time to time, Momone-san is very afraid of being separated from the people she cares about. But she seems to think it’s okay to be apart from me. From rather early on. | That’s why I think that someone like me might be the best person for her to live her life with.”

Saya butuh waktu cukup lama memikirkan maksud ucapan Suganami sensei kepada ibunya Mone ini. Apakah Mone tidak cukup sayang kepada Suganami hingga ia merasa tidak apa menjalani hubungan jarak jauh dengan Suganami bahkan setelah mereka menikah? Hingga kemudian saya tiba pada kesimpulan, dengan sejarah panjang trauma yang dialaminya, orang yang mendampingi Mone adalah dia yang bisa memberinya rasa aman, dan sejak awal Suganami-lah yang bisa melakukan itu untuknya. Dua orang yang saling memahami dalam sebuah hubungan kasih sayang, juntrungannya sudah jelas bukan?

Siapa sangka si dokter muda di awal episode yang memberinya jawaban cukup dingin atas pertanyaan randomnya, ternyata bakal menjadi pasangan hidupnya.

Okeh, memasuki bagian terakhir postingan ini, saya mau ngasih tepuk tangan paling meriah kepada Kaya Kiyohara!!! Gadis kelahiran 2002 ini memberikan penampilan terbaiknya sebagai Nagaura Momone. Aktingnya excellent! Detail ekspresinya juarak. Intonasi suaranya enak di kuping. Transisi emosi dari gadis 18 tahun ke perempuan dewasa berjalan dengan sangat baik. Didukung tim stylist yang kece, saya sebagai penonton dibuat terpukau dengan perubahan penampilan Mone. Tau ga sih, saya kan nggak ngintip usia Mone waktu nonton pertama kali. Nah kemunculannya di episode awal-awal bikin saya membatin ‘jiaaaahhh masih muda bangettt iniii’, kayak anak SMA kelas sepuluh masih unyu-unyu. Kayak ga kebentuk di benak saya bakal seperti apa di masa depan. Setelah Mone ke Tokyo, pelan-pelan penampilannya mulai berubah. Ga drastic, alus bener dan cocok. Ga maksa. Make up-nya juga bagus. SAYA TERPESOONAAAA.

Sama halnya dengan Suganami sensei. Penampilannya cocok sama profesinya wkwk mon maap no effense. Sering tuh saya nggak sadar ngomong sendiri, ‘Suganami sensei bawaannya kayak ngantuk mulu deh, pakaiannya juga gitu-gitu aja’ trus detik berikutnya saya inget kan doi dokter yah, kebagian jaga malam, belum lagi bolak-balik Tokyo-Tome, mana sempet berpenampilan modis? Waktu untuk ketemu Mone aja hampir nggak ada, boro-boro…. . 

Okaeri Mone nih ga cuman karakternya yang realistis tapi juga semua aspek dramanya. Mengingatkan saya kembali kepada pendapat saya di masa lalu, drama/film Jepang secara umum terasa dekat sekali dengan realitas, drama/film Jepang punya spot khusus di hati saya. Ada ciri khas pada elemennya yang hanya bisa saya temui di drama/film Jepang.

Gara-gara Okaeri Mone, saya jadi ngefans dengan aktingnya Kaya Kiyohara dan Sakaguchi Kentaro. Ini kali pertama saya nonton project mereka. Nanti mau coba nyari project mereka yang lain, siapa tau ada yang cocok sama selera dan mood nonton.

Okaeri Mone adalah dorama yang berhasil menyentuh titik sadar manusia, menceritakan relasi yang kuat alam dengan elemen-elemennya yang membuatnya terus bernapas, relasi antarmanusia, manusia dengan dirinya sendiri melalui tokoh-tokoh di dalamnya—Mone dengan orang-orang di sekelilingnya. Pada satu titik, drama ini akan membawa penontonnya merenungi banyak hal, soal hidup, soal alam. Mungkin juga soal hal-hal yang ingin kita lupakan namun tetap mengekori setiap pandangan mata kita.

Ucapan Okaeri, welcome home, rasa-rasanya tak hanya cukup disampaikan kepada Mone, namun juga kepada seluruh masyarakat yang terdampak gempa dan tsunami 2011 di Kesennuma.

Dan dari Okaeri Mone, kita pun kembali diingatkan bahwa menyembuhkan diri dari trauma adalah sebuah proses yang panjang dan tidak mudah. Ada orang-orang yang membutuhkan waktu seumur hidupnya.

Okaeri Mone, sebuah perjalanan panjang dan berliku yang ditempuh Mone untuk bisa memeluk hangat dirinya di masa lalu. You have worked  so hard, Mone-chan. ㅠ.ㅠ

Tabik,

Azz

P.s : Kesennuma di Prefektur Miyagi termasuk salah satu wilayah yang paling terdampak gelombang tsunami 2011 silam.  

[Review] Drama Jepang : Okaeri Mone

by on 3/11/2022 03:56:00 AM
  Ini bukan review. Pada suatu kesempatan, Nagaura Momone (Kaya Kiyohara) mengejutkan keluarganya dengan melontarkan keinginannya keluar ...

WARNING : POSTINGAN DI BAWAH INI SANGAT PANJANG LEBIH PANJANG DARI KENANGAN BERSAMA MANTAN DAN TIDAK MENJAMIN ADA FAEDAHNYA APA KAGAK

Tok! Tok! Tok! Assalamu’alaikum.
Haiiiiii~
It’s been a long time, right? Hehe. Mon maap baru nongol.
Saya datang dengan postingan baru dan ga ada kaitannya dengan drama Korea.

Its Dorama time!

Yep. Sebelum ngobrol panjang kali lebar kali tinggi tentang dramanya, saya mau cerita sedikit gimana awalnya saya bisa ‘nemu’ dan akhirnya kecantol parah sama dorama yang ditayangkan setiap Selasa jam 10 malam waktu Jepang di stasiun TBS (Tokyo Broadcasting System) ini.
Memasuki kuartal kedua 2020 ini banyak sekali drama Korea ongoing, saya ngikutin beberapa judul—Hospital Playlist, Hi Bye Mama salah dua di antaranya. Biasalah saya suka iseng gitu, karena ada jeda (drama yang saya ikutin ga tayang karena Corona outbreak), saya tergoda pengen nyoba An Incurable Case of Love. Sebenarnya, sebelum mutusin nonton, udah sering banget saya liat twit-twit tentang drama ini seliweran di temlen, tapi entah kenapa saya belum tergoda. Bener-bener enggak ada minat waktu itu. Nah, sekira dua pekan lalu, An Incurable Case of Love atau kita gunakan nama populernya—Koitsudu, sudah memasuki masa penayangan episode ke 8/10.
“Nyoba ah.” Saya membatin. Ga masang ekspektasi apa-apa. Semata-mata iseng. Ada sih sedikit rasa penasaran segimana bagusnya sih dramanya yang dinonton sama Nanda ini? Selera dramanya Nanda mirip-miriplah sama saya /ngaku-ngaku/. Nanda itu temen di twitter yang pertama kali saya liat cuitannya omongin drama ini. Ditambah lagi, dua pekan lalu di temlen kehebohan yang diakibatkan Koitsudu kian menjadi-jadi. Selain Nanda, Aya, Melia, Asha—pada nonton dramanya. Yaa jelas makin kepo-lah saya. Saya kan orangnya demen kepo gitu yah. Hu um.
DAN—
Dan yang terjadi kemudian adalah—saya menggila gara-gara drama Jepun ini!!! Tau nggak siiiih, Saya nonton sejak sore sampe tengah malem cuma dijeda makan dan mandi doang—kebetulan banget saya lagi dapet jatah bulanan. Keesokan harinya kepala saya dibajak Koitsudu, ini berlangsung hingga hari saya menulis draft postingan ini. Warbiyasah! Tepuk tangan dong!

Part yang (enggak) lucunya, saya tuh udah langsung ngerasa familiar dengan male lead-nya. Kayak pernah lihat dia sebelumnya, tapi saya kesulitan mengingat. Di mana... di mana... oh di mana ya.... capek memeras ingatan dan nggak ketemu juga, saya searching lah di gugel. Oh, namanya Takeru Satoh /sambil manggut-manggut/. Terus saya baca-baca proyek dia sebelum Koitsudu... HAHHH?! YA AMPOOOON RUROUNI KENSHIN! HIMURA KENSHIN! DEMI APAAAAH KOK BISA SIH SAYA LUPA?! Apakah saking enggak apdetnya saya dengan Jejepangan sampe saya ga inget dulu pernah dibuat terkagum-kagum dengan tokoh Kenshin di live action Samurai X? Kayaknya sih 2012 itu, saat saya nonton Rurouni Kenshin, saya nggak sampe nyari-nyari profil detailnya. Dulu pun nontonnya karena direkomendasiin sahabat saya yang demen Jejepangan. Jadi cuman mentok suka Kenshin-nya, ga diterusin lagi. Setelah searching profile-nya itu, saya justru baru tau kalo Kenshin punya dua film lagi. Mon dimaafkeun ke-kudet-an saya ini, wahai fans-fans Kenshin eh Takeru.

Saya ngaku, ketertarikan saya dengan J-entertainment emang sangat biasa bila dibandingkan dengan K-Ent. Saya malah lebih apdet kabar artis-artsi Korea ketimbang artis di negara sendiri. ㅋㅋㅋ. Dan lagi, saya nonton dorama atau film Jepang paling sering karena baca komentar orang trus penasaran secara ga sengaja. Kalo sahabat saya kesulitan mengingat wajah dan nama artis Korea, maka saya sebaliknya—sulit mengingat wajah dan nama artis Jepang, kecuali beberapa yang sudah saya nonton beberapa proyeknya seperti Shun Oguri, Yamapi, Aragaki Yui, Yamaken dll... BUT I DON’T REMEMBER SATO TAKERU? LIKE SERIOUSLY, AZZ? WHY??  /jedotin pala/
Jadi, begitulah kisah reuni saya dengan Satoh Takeru Si Mamas yang wajahnya bukan tipikal flower boy tapi tetep sanggup bikin hati yang nontonin aktingnya jumpalitan ga karuan. Oke. Udahan dulu bahas Mamas, nanti kita bikinin dia part sendiri, kita langsung aja cuap-cuapin Koitsudu, dorama bergenre komedi romantis yang sedang ngehits se-antero jagat per-dramaan ini.

Sinopsis
Mengisahkan tentang Nanase Sakura (Kamishiraishi Mone) yang terinspirasi menjadi seorang perawat setelah pertemuan tak sengajanya dengan Kairi Tendo (Satoh Takeru). Lima tahun setelah pertemuan tersebut, Sakura dan Tendo sensei dipertemukan kembali. Sakura diterima bekerja di rumah sakit tempat Tendo sensei bekerja. CIEEE.
Masalahnya, Tendo sensei yang ditemui Sakura di rumah sakit berbeda jauh karakternya dengan ditemuinya lima tahun silam.
Kairi Tendo, dokter berusia 31 tahun, si perfeksionis yang dijuluki ‘Devil’ oleh rekan-rekan kerjanya karena pembawaannya yang terkesan kejam, rada, ga suka basa-basi, didukung muka juteknya, udah pas banget emang. Devil. Nyebelin emang.
Sayang sekali, se-batu-nya seseorang, suatu saat pasti akan kena getah-nya juga. Es di kutub aja bisa mencair, apalagi hati, yekaaan? Entah apa hubungannya, Azz...
Yep. Kali ini Tendo sensei ketemu ‘lawan’ sebanding. Nanase Sakura terang-terangan ngaku suka dengan Tendo di pertemuan pertama mereka setelah lima tahun itu. Sakura jadi terkenal di rumah sakit Hiura karena kepribadiannya yang pantang menyerah dan penuh semangat, baik dalam mengejar cintanya Tendo sensei maupun dalam urusan pekerjaan. Sebab itulah ia dijuluki ‘Warrior’ oleh teman-temanya.
10 episode Koitsudu merangkum kisah perjuangan Sakura meraih mimpinya; dicintai Tendo sensei dan menjadi seorang suster profesional yang bisa diandalkan.
Dorama ini punya banyak sekali judul, sampe-sampe saya bingung mo pake hestek apa kalo mo ngestalking di tuiter dan insta. Judul pake bahasa Inggrisnya An Incurable Case of Love, Romaji-nya Koi wa Tsuzuku yo Dokomademo, trus ada lagi Love Lasts Forever. Fuyeng ga lo mau pilih yang mana wkwk. Eh, ada lagi. Koitsudu.
Koitsudu sendiri diangkat dari manga yang ditulis oleh Maki Enjoji dengan judul Koi Tsuzuku yo Dokomademo yang diterbitkan pertama kali di tahun 2016.

Cast

Satoh Takeru as Kairi Tendo
Santai aja natapnya Mas

Satu-satunya proyek Takeru yang pernah saya nonton hanya Rurouni Kenshin di tahun 2012. Jadi saya tidak memiliki referensi yang banyak soal aktingnya seperti apa. Setelah balapan nonton Koitsudu, saya ngedonlot ulang tiga film Kenshin hanya untuk mendapati kenyataan bahwa saya... semakin ngebet, pengen banget ngelamar jadi fans-nya Takeru. Keren banget siiiih doi. Sepanjang nonton aksinya Kenshin saya ‘wooah’ ‘woooaaahhh’ terus. Saking terpesonanya sama kelihaian Kenshin maenin katana, saya ulang-ulang scene berantemnya. Ga puas heboh sendiri, saya teleponin adek saya yang tinggalnya udah misah (penganten baru), saya ajakin dia ngeladenin histeria saya pada Takeru HAHAHAHA. Dia malah ngetawain saya gara-gara telat nge-hype Kenshin. “Ya ampun jeng, udah lama banget itu—“ gitu katanya. Ga papa telat daripada enggak sama sekali kan?  Karakter Kenshin dan Tendo sensei itu beda jauh banget. Makanya saya tuh bela-belain bolak-balik rerun Rurouni Kenshin dan Koitsudu dengan alasan simpel; pengen ngeliat detail aktingnya Takeru. Dasar si penyuka detail. Wkwk. Well, I admit that Takeru Satoh is verastile actor. Totalitasnya itu loh...

Aduh maap aduh kenapa jadi keterusan bahas si mamas yak. Fokus Azz... fokus... FOKUS.
HHHHH. /tarik napas pelaan... hembuskan/

Back to the topic. Kairi Tendo.
Tsundere. Jika saya menyebut satu kata itu, yang terlintas di benak pasti deretan ciri-ciri ini; kasar di luar tapi lembut di dalam, omongannya nyelekit, jutek—enggak banget pokoknya sama karakter ini kalo sampe ketemu di dunia nyata. Ih amit-amit. Alih-alih jatuh cintrong, yang ada malah sebel bin kesel, pengen paketin orangnya ke planetnya almarhum Thanos.
... tapi kalo tsundere-nya macam Tendo sensei, gimana? Tetep amit-amit?
Um oh—sebentar...
HAHAHAHA. Lemah kan looooo??  Iya kan?? Ngaku!

Bedanya Kairi Tendo dengan tsundere-tsundere yang pernah nongol di drama adalah sisi cute-nya yang ngegemesin ituuu. A cute tsundere? Yes he is! Si tsundere yang ternyata setelah jatuh cinta dengan seseorang bisa berubah jadi bucin juga. Bucin yang ngegemesin, yang bikin penonton perempuan cemburu berkubik-kubik pada Nanase Sakura. Duh, tsundere kesayangan sejuta umat.
Menurut saya nih pesonanya Tendo sensei terletak pada ke-konsistenan bagaimana karakter ini dituliskan, yang membuatnya tampak relatable, karakternya ga berlebihan, udah pas sesuai takaran. Sisi romantis dan tsunderenya seimbang. Tendo sensei orangnya realistis, dia bisa menjaga profesionalitas dalam bekerja, ga lebay dengan melankolia-nya, yang tahu banget gimana cara nunjukin rasa sayangnya ke orang yang disuka, well doi tetap irit ngomong sih, tetep ga bisa basa-basi. Tendo sensei ini perwujudan nyata dari sepotong kalimat  when actions speak loudly than words. Sifatnya ini justru yang bikin dia kompatibel banget dengan Nanase Sakura. Saya nih jadi mikir, Tendo sensei ini ga cocok dikasih puisi HAHAHAHA.

Dan pada seluruh yang membuat kita menyukai Kairi Tendo, tak lepas dari kualitas akting Takeru Satoh yang sangat sangat baik dalam memerankan karakter ini. Ia bahkan berhasil memberikan kekhasan tone suara untuk Kairi Tendo. Definisi sebuah totalitas, yang saya bilang  saya sampe bolak-balik rerun Kenshin dan Koitsudu salah satu alasannya itu—memastikan kuping saya masih berfungsi normal. Suara Kenshin smooth, sedangkan Tendo sensei rada berat gitu. Kalo Kenshin dan Kairi Tendo itu diperankan oleh orang yang sama. Keren banget sih Takeru Satoh.
Saya paling suka ekspresi wajahnya Tendo sensei ketika menyaksikan tingkah ajaibnya Sakura. Ekspresi kagetnya, senyum sembunyi-sembunyinya, tatapan penuh cintanya... aih. TENDO SENSEIIIII!
Kata favoritnya, BAKA!

Kamishiraishi Mone as Nanase Sakura
Awwww my girl...

Ini dorama pertama Kamishiraishi Mone yang saya tonton. First impression saya terhadap aktris yang juga penyanyi ini sangat bagus. Saya tipikal penonton yang agak sensitif terhadap detail, apakah itu ekspresi wajah, atau tone suara seorang aktor/aktris ketika memerankan satu karakter. Gampang banget ilang feeling dan ngelepas gitu aja drama yang saya nonton kalo akting si pemeran utamanya ga bagus. Penampilan Mone di Koitsudu bagus sekali, ia berhasil menghidupkan karakter Nanase Sakura. Saya enjoy banget, nikmatin tingkahnya Sakura yang lucu yang ngegemesin, ga cuma itu, determinasi melakukan apa-apa yang disukainya sangat menginspirasi.

Karakter Nanase Sakura digambarkan sebagai gadis periang, penuh semangat, memiliki determinasi yang kuat, polos, dan agak ceroboh. Tipe heroine yang sudah sering dimunculkan di drama, bukan? Karakternya biasa aja dong?  No. Bagi saya karakter Nanase Sakura tetaplah spesial. Perkembangan karakter Sakura yang membuatnya spesial. Di awal kemunculannya, saya sempat khawatir, agak skeptis kalau-kalau nantinya ia hanya akan menjadi satu karakter yang dipusatkan pada upayanya mengejar cinta si tokoh utama. Di episode satu, karakter ini dibuat babak belur gara-gara kecerobohannya sendiri. Memasuki episode dua dan seterusnya, mulai terlihat bahwa Nanase Sakura benar-benar satu karakter yang hidup dengan ups dan down-nya. Ia tidak semata-mata hadir sebagai heroine yang sekadar mendampingi di tokoh utama. Antara Tendo dan Sakura, saya tidak menemukan dua karakter ini superior antara satu dengan yang lain. Dua-duanya setara. Mustahil bagi saya jatuh hati hanya pada Tendo saja, Tendo dicintai karena ada Sakura di sisinya. Begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain, Nanase Sakura ditulis dengan konsisten, dan diperankan pula dengan kekonsistenan yang sama oleh Kamishiraishi Mone, seperti halnya Satoh Takeru terhadap Tendo Kairi.

Jika ada yang berpikir karakter Sakura itu annoying, itu karena kita memakai perspektif berbeda saat menonton drama ini.

Ada dua sifat Nanase Sakura yang bikin saya kagum. Pertama, kesabarannya mengobservasi pasien-pasien di bawah pengawasannya. Telaten banget. Ia punya buku khusus pasien-pasiennya, anaknya mau belajar. Enggak semua orang punya ini! Berkat observasi Sakura, penanganan pasien jadi lebih baik. Tendo sensei pernah memperingatkan supaya Sakura jangan terlalu jauh masuk dan terlibat dalam kehidupan pasiennya, Tendo bermaksud baik—ia tak ingin Sakura terbawa perasaan, yang pada akhirnya nanti justru akan melukai  dirinya sendiri. Ini dari sudut pandang Tendo sensei. Tapi jika kita melihat dari sudut pandang Sakura, saya rasa Sakura hanya ingin melakukan hal-hal yang ia mampu lakukan, sebesar-besarnya usaha. Sifat ini sudah melekat dan menjadi ciri khasnya. Terbukti kemudian dari obrolan Ayah Sakura dan Tendo sensei.
Kedua, Sakura menghargai hal-hal kecil yang terjadi padanya, ia bisa berbahagia dengan hal-hal sederhana. Cuman dikasih roti sama Tendo sensei aja bahagianya udah luar biasa. Sayang banget sama Sakura. Senyumnya bisa bikin kita yang liat ikutan hepi, she’s so precoius, I wanna protect her forever.  .

Kemampuan Kamishiraishi Mone memerankan Nanase Sakura yang telah berhasil membuat banyak penonton jatuh cinta, pada Mone, pada Sakura, bagi saya itu adalah kesuksesan yang besar.
Saya berharap semoga ke depan, gadis berusia 22 tahun ini tidak berhenti menantang diri dengan mencoba peran-peran yang variatif, tidak mengulang peran yang serupa dengan karakter Nanase Sakura. Saya nonton beberapa klip video Mone nyanyi live, dan saya pikir dia punya sisi sensitivitas yang oke banget jika menyoal penghayatan. Modal bagus itu.
Oya, saya baru tau loh kalo Mone itu voice actor yang mengisi suara Mitsuha dari Your Name. Parah banget ya saya ini, udahlah lupa Takeru yang meranin Kenshin... .
Selain Satoh Takeru dan Kamishiraishi Mone sebagai main leads, ada juga aktris lain seperti Ai Yoshikawa yang memerankan Yuika Sakai. Saya nonton filmnya Ai yang Rainbow Days. Trus ada Katsuya Maiguma sebagai Koichi Kisugi—tandemnya Tendo sensei.

P O V
Membuka POV ini, saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan sederhana.
Apa yang membuat Koitsudu bisa sepopuler ini? Tak hanya di negara asalnya, Jepang, dorama besutan sutradara Kenta Tanaka ini bahkan berhasil menembus fans global di seluruh dunia. Ini dibuktikan dengan trendingnya hestek Koitsudu (dalam huruf Jepang) pada jam penayangannya, berhasil memuncaki trending topik dunia bbok!
Jika dilihat dari genre dan tema cerita yang diangkat ga ada yang spesial. Cewek dengan karakter periang yang jatuh bangun mengejar cinta si tsundere. UDAH BIASA BANGET. Tema kayak gini tuh jatohnya kalo ga miss ya hit. Dan Koitsudu jadinya nge-hits banget!! Kenapa coba? Coba deh tanyain 10 orang yang ngikutin drama ini dari awal, apa yang membuat mereka betah nonton? Jawaban mereka pasti ini : chemistry dua tokoh utamanya yang badai banget! Yakin seyakin-yakinnya saya mah chemistry adalah koentji. Apakah hanya sebatas chemistry yang menjadi kekuatan dorama ini? Nope. Perkembangan karakter-nya juga bagus. Selain itu profesi dokter dan perawatnya tidak hanya hanya dijadikan part yang ala kadarnya saja, ada subjek-subjek berkaitan dua profesi, bagaimana mereka berinteraksi dengan pasien-pasien, penanganan-penanganan. Sesuatu yang biasa, lumrah, menjadi tidak biasa karena ia memiliki poin plus yang menjadikannya berbeda. Itulah Koitsudu. Kerja sama yang baik antara sutradara yang nge-direct, penulis skenario yang nulis naskahnya, lalu ada deretan aktor/aktris yang berhasil memvisualisasikan dengan baik apa maunya naskah—that’s the key of this dorama. Sudah jadi rahasia bersama di kalangan penonton Koitsudu, Takeru dan Mone melakukan banyak adlib—tambahan adegan yang tidak ada di naskah—wabil khusus si mamas Takeru, yang adlibs-nya itu justru semakin membuat dorama ini hidup. Kebayang ga sih kayak gimana jadinya Koitsudu kalo pak syut dan penulis skenario-nya ga suka di-intervensi? Andaikan mereka ga mau nerima saran-saran Takeru dan Mone? Kita ga akan ngeliat scene yang bikin kita ber-kya kyaaa ria sambil meluk atau mukul-mukul bantal (yang jomlo kesian). Pak Syut, penulis skenario, Takeru, Mone—mereka paham ini dorama apa, dan tau banget apa yang diinginkan penonton dari doramanya. Para supporting role ga boleh ketinggalan. Rekan-rekan kerja Sakura dan Tendo sensei yang suportif banget! Beruntung banget ya Sakura, kerja di lingkungan yang atmosfer-nya bagus.

Menurut pembaca manga-nya, Dorama Koitsudu ini melebihi ekspektasi mereka, ga dibikin bertele-tele, porsi orang ketiganya ga banyak, main focus nya tetap pada Sakura dan Tendo sensei. Kalo ada manga yang dibikin live action, kita tuh paling sering membaca komentar berisi komplain ketidakpuasan terhadap visualisasinya. Tapi selama ngikutin Koitsudu saya enggak pernah membaca komentar yang ngritik doramanya, muji-muji—iya. Good job dong writer-nya.
Storyline-nya ga belibet, ngikutinnya enak, progres hubungan Tendo sensei dan Sakura berjalan cepat tapi ga terkesan buru-buru. Pengen sih side story kapel Kisugi sensei dan Sakai dibanyakin hehe.
Koitsudu ini semacam punya pelet yang bikin penontonnya tergila-gila.

Chemistry
Tidak mudah membangun kemistri antara main leads di sebuah drama, kemistri yang bikin penonton tersihir, hingga melahirkan kehaluan yang ga terbendung dan terus hidup bahkan setelah dramanya berakhir. Syukurnya Satoh Takeru dan Kamishiraishi Mone bisa. Kemistri dua orang yang usianya terpaut 9 tahun ini luar biasa bagusnya, melewati ekspektasi orang-orang. Saya baca beberapa komentar orang, ada yang bilang ga akan kaget lagi kalo misalnya nanti di luar drama Takeru dan Mone pacaran beneran—saking bagusnya kemistri mereka. Aktingnya pake hati /terbatuq/ ㅋㅋㅋ.
Emang niat banget sih waktu  Takeru dan Mone bilang pengen ngelakuin semua scene yang perlu ada di dorama shouju. K*ss scene yang bejubel, backhug, hug—semuanya ADA, dan totalitasnya warbiasah! /dduh masih kebayang cara Tendo sensei meluk Sakura/ Yang jomlo dijamin ngenes meleleh liatnya HAHAHAHA. Pasti auto histeris—DI MANA JODOH SAYA TUHAAAANNN?! TOLONG PERTEMUKAN SECEPATNYA!! /padahal sebelum nonton Koitsudu enjoy banget ngabisin waktu seorang diri/ ㅋㅋㅋㅋ
Yah, se-badai itulah kemistri Takeru dan Mone. Keren banget yaa Mone bisa mengimbangi Takeru. Saya yakin, kesuksesan dua orang ini membangun kemistri tidak terlepas dari usaha keduanya membangun koneksi di belakang layar. Di depan dan di belakang layar kemistrinya sama-sama bagoooss. Jarang-jarang nih kita bisa liat behind the scene yang ga kalah UWU-nya dari dramanya, yekaaan? Jiwa-jiwa shipper yang haus konten pun terpuaskan dengan paripurna.

Quotes
Meskipun drama ini mengusung genre komedi romantis, yang tentu saja fokus ceritanya lebih banyak tertuju pada sisi romantisnya dan segala ke-uwu-annya, tetapi Koitsudu tidak lantas tampil kosong tanpa pesan. Ada beberapa potongan percakapan yang bagus banget.

I’m not dating you because I want you to take care of me.” –Kairi Tendo
Boleh ga minta satuuu aja cowok yang kayak Tendo sensei?
Sukak banget deh. Meleleh dengernya. Cewek itu, mau pacaran atau udah nikah, bukan jadi orang yang di-pingpong ke sana kemari, bukan jadi pembantu di rumah. Pekerjaan rumah, mestinya dikerjakan berdua, bukan membebankan pada satu orang saja. Saya melihat di sekitar saya masih banyak yang seperti ini. Sigh.

“Everyone is the same. We are lacking something, but we all do our best to keep going, while we look for people complement our shortcomings.” –Kairi Tendo
Pernah nggak sih, ngeliat orang yang di mata kita udah sukses dan kita tanpa sadar membatin, “hebat ya dia, udah punya segala-galanya. Hidupnya pasti enak”, dan mengasihani diri sendiri karena nggak bisa melakukan pencapaian seperti yang orang lain lakukan? Racun banget kan? Ucapannya Tendo sensei di atas cukup jelas untuk dipahami gimana kita seharusnya memandang diri sendiri dan orang lain. Bukan soal membandingkan apa yang kita punya atau yang tidak kita punyai dengan orang lain, tapi tentang bagaimana kita berusaha mengatasi apa-apa yang datang dalam hidup kita—masalah, kekurangan, sebut apa pun itu. Karena setiap orang memiliki kesulitan-kesulitannya sendiri. Karena setiap orang tidak akan pernah sanggup memeluk kesempurnaan, sesempurna apa pun dia dalam sudut pandang kita.  

“... as long as you are alive, everyone is destined to die. That’s why it’s not about giving up on life. It’s about accepting death.” –Doctor
JLEB banget sih ini. Gimana cara kita menerima kematian adalah bagaimana cara kita menjalani hidup hingga kematian itu datang kepada kita. Menjalani sebaik-baiknya hidup. Dan memercayai akan ada kehidupan lain setelah mati, akan mengantarkan kita pada pemikiran panjang soal hidup itu sendiri.

Favorite Scene
Ngomongin scene favorit, semua scene-nya Tendo sensei-Sakura adalah favorit saya. SEMUANYA TANPA TERKECUALI. Tapiiiii, kalau disuruh memilih beberapa saja di antaranya untuk ditulis di sini maka inilah pilihan saya...

WOI MAS BIASA AJA KALIII NATAPNYA, ITU TATAPAN APA KATANA? TAJEM BENER

Tendo sensei : ... make sure you’re ready. Because if you fail
Sakura : I can’t! Not with you...
Tendo sensei : Then quit being nurse right now.
(ep 3)
Scene di mana Tendo sensei memergoki Sakura yang sedang latihan ngambil darah, trus dia masuk ruangan dan nyuruh Sakura praktek langsung ke dia. Kenapa saya menganggao scene ini berkesan? Tau sendiri kan gimana juteknya Tendo sensei ke Sakura? Omongannya nyakitin hati, kejam, kalo aku yang jadi Sakura, udah kabur dari kapan tauk itu. Untung Sakura-nya setrong ya. Nah, bukan tanpa alasan Tendo sensei akhirnya ngambil satu langkah lebih dekat ke Sakura, dengan nantangin dia praktek langsung ke dia. Dia tau Sakura itu punya potensi bagus, cuman emang butuh dituntun aja. Dan karena dia masuk timnya Tendo yaa otomatis jadi tanggung jawabnya dong. Awalnya gitu. AWALNYA. ㅋㅋㅋ. Coba Tendo sensei ga ambil inisiatif maksa Sakura pake diancam suruh mundur jadi perawat kalo ga berani ngambil sampel darahnya, Sakura ga akan berani-berani juga. Ini nih yang bikin saya respek sama si tsundere berhati bunga, profesionalitasnya dipegang. Jadi dia suka marahin Sakura bukan karena benci sama Sakuranya tapi karena Sakura kerjanya ga becus, tapi emang kejam banget si pa dokter itu.
Tendo sensei nih, kalo kerja rekannya bagus dibilang bakal bagus, kalo enggak ya dapet omelan HAHAHAHA. Ga cuma Sakura. Tendo ga milih-milih mau kejam sama siapa. Sama kakaknya aja kayak kucing sama tikus gitu ㅋㅋㅋㅋ

CIE SENYUM... CIEEEEEEEEEEEEEEEEE

Sakura : I’ll make you smile again. I don’t care if it’s a wary smile, or a faint smile, or a high-pitched laughter. They are all good. As long as you are happy. I will be happy... happy... happy.
(ep 3)
LIAT DONG EKSPRESI TERHARUNYA TENDO SENSEIIII! Matanya tuh sampe berkaca-kaca. Abis itu dia senyum. SENYUM! KARENA SAKURA. Sakura menang. Di sini Tendo sensei udah mulai membuka hatinya untuk Sakura. You go girl!
Di ep 5, Sakura marah-marah ke Tendo sensei, nuduh dia ga profesional gara-gara ngeluarin Sakura begitu saja dari tim yang menangani pasien yang juga anaknya suster senior. Nah, setelah salah pahamnya dilurusin, Tendo sensei menghampiri Sakura yang tengah duduk di bangku taman rumah sakit, sambil bawain roti chocolate corone. Lucunya, Sakura ga ngeh kalo roti itu khusus diberikan kepada orang yang disayangi di hari kasih sayang. Ekspresinya Tendo sensei susah diterjemahin. Disangkanya rekasi Sakura bakal kayak gimana, heboh ala Sakura gitulah. Lah Sakuranya aja ga ngeh gitu roti itu spesial. Senangnya ya karena dikasih roti dan bisa makan berdua sama yayangnya HAHAHA.

(ep 8)
DA BEST!
Tendo sensei ngulurin tangannya kepada Sakura setelah mendengar cerita gadis itu tentang perjuangannya menjadi perawat, bagaimana ia menjadikan Tendo sensei sebagai motivasinya di saat-saat itu. Gestur simbolik dari Tendo sensei ini semacam pengen ngasih tau ke Sakura, Sakura ga perlu bekerja keras (sendirian) lagi untuk mengejar dia. Cintanya Sakura bukan sejenis bertepuk sebelah tangan. Giliran Tendo.
INI. Tendo ngulurin tangannya duluan. Melting. Tendo nih paling bisa emang bikin orang kena heart attack dengan gestur yang simpel tapi maknanya dalam. Ga omong banyak.

Udah kayak foto orang ke-gap pacaran sembunyi-sembunyi sama photographer yak

(ep 9)
Dalam perjalanan pulang sehabis minum-minum bersama ayahnya Sakura, Sakura protes, Tendo sensei ga pernah ngomong apa disukainya pada dirinya. Tendo sensei beralasan dia ga bisa ngomongin itu di depan orang banyak. Trus dengan antusiasnya Sakura minta Tendo bilang itu padanya saat itu juga mumpung cuman berdua aja. Eh, sama Tendo-nya, Sakura malah dikasih tatapan tajam wkwk. Ga jadi nuntut dia HAHAHA. Abis itu Sakura gosok-gosok tangan kaaan, ngeluh malamnya makin dingin, ini entah sengaja ngasih kode atau gimana, tapi reaksinya Tendo sensei di luar dugaan—diambilnya tangan Sakura lalu dimasukkan ke dalam saku jaketnya. OKE, PAK. ANDA MENANG. YA KALO KAYAK GINI MAH KATA-KATA CINTA NAN INDAH PUITIS LEWATTT, KALAH SAMA AKSI NYATA.

(ep 9)
Alasannya? Saya jatuh cinta sama suara merdunya Sakura di sini pas dia ngomong sambil nyanderin pipinya di punggung Tendo, “I won’t. I want to sleep here.”
AIH.
(ep 9)
Hurry up and wake up... this useless boulder.”
Tendo sensei setia sekali, 3 hari nungguin Sakura yang koma. Dan saat Sakura sadar, udah ga disimpen-simpen lagi itu perasaan, langsung ditumpahin semuanya, pake nangis! Kayaknya selama Sakura koma itu, Tendo nyesel dan kuatir dia ga akan punya kesempatan lagi bilang sayang ke Sakura. Terharu denger pengakuan cintanya Tendo ke Sakura. Akhirnya ya...
Tapi yang paling aku suka dari scene ini tuh yang bagian Sakura ngegodain Tendo sensei. Ga bisa jelasin kenapa aku suka ngulang-ngulang part ini. Kiyut, lucu, juga mengharukan.
Sakura : Sensei...
Tendo sensei : What is it?
Sakura : Will you say them whenever I want?
Tendo : Um.
Sakura : Please tell me more.
Tendo : There’s no more.
Sakura : ??
Tendo : I ran out of things to say. (Sambil netes gitu air matanya)
Sakura : (laugh cutely) Thats so mean!
Sakura : Sensei..
Tendo : What is it?
Sakura : I am hungry.
Tendo : Baka... (banjir euy nangisnya, sampe merah itu muka)

Sakura tau banget Tendo mengkhawatirkan dirinya. Makanya dia ngajakin Tendo becanda pake digodain gitu. INI KAPEL PALING BISA BIKIN KITA SE-GEMES INIII!! Kerasa banget sayangnya Tendo ke Sakura.... .
Scene ini punya nada yang sama dengan scene di episode 10 sewaktu Sakura dan Tendo kencan di taman bermain setelah Tendo sensei bikin deklarasi mau nikahin Sakura di depan bapak-ibunya. Sakura minta Tendo ngulang deklarasinya tapi ditolak Tendo. Pake nyuruh Sakura nyubit pipinya sendiri kalo ga percaya itu nyata. Dasar. Anaknya emang ga bisa disuruh-suruh romantis. Tapi sekalinya ngeluarin aksi, kapal oleng seketika. Banyak hati dibikin meleleh.
Episode 10 favorit semuanyaaaah! ㅋㅋㅋ, tapi aku akan pilih scene di bandara, saat Sakura menggunakan kata favoritnya Tendo, baka. Abis di k*ss Sakura, Tendo kayak mau nangis gitu, merhatiin ga sih? Mana meluknya erat banget. Wajar sih, sedih mau pisah setaun.

Cukup sekian scene favorit dari eikeh, masih banyak sih. Cuman kalo ngikutin kata hati nulis semuanya bisa ga kelar-kelar ini tulisan ㅋㅋㅋ

RATE
★★★★
4/5
Akting √
Storyline √
Chemistry √
OST √
Sependek ingatan saya, baru sekali ini saya ngulas drama bergenre romcom dan dikasih rate tinggi. Boleh jadi saya nggak obyektif di sini. Tapi, kalau kamu nyari drama ringan yang bikin hepi, ga pusing belibet, yang bisa kamu nikmati sambil meluk guling sambil senyum-senyum gemash sambil ngayal (bagi yang jomlo), dan tetap bisa menemukan nilai pada storyline-nya, saya rekomendasikan Koitsudu. Cobalah. Romcom ini mungkin bisa membantu kita memperbaiki mood yang sedang acakadut saat ini. Dunia sedang tidak aman. Orang-orang sedang berjuang.
Setelah menonton 10 episodenya, saya tidak hanya jatuh cinta pada karakter Kairi Tendo dan Nanase Sakura, tapi juga pada Satoh Takeru dan Kamishiraishi Mone di real life.

Bye-ing
Azz
#LowkeyShipper TakeMone



Stay safe, everyone.
Semoga wabah COVID19 ini lekas berakhir.

/mon maap jika ada salah kata/