![]() |
| credit pic : Pinterest |
Juli, 2015, lebaran Idul Fitri
sebelas tahun lalu, saya menulis tentang kesepian yang terasa familiar di kolom
blog pribadi milik saya. Di tahun itu saya sedang mengalami transisi di seluruh
aspek kehidupan, khususnya dari sisi mental. Semacam quarter-life crisis-nya
seorang perempuan 25 tahun.
Saya menulis begini :
“Lepas Magrib, saya duduk
sendirian di sini. Merenung entah apa. Tidak jelas. Memandangi semburat senja
yang memerah keemasan. Mata saya terasa panas. Sesuatu menyundul ulu hati saya,
memunculkan perasaan yang saya tidak tahu apa, namun jelas membikin saya
seperti orang yang ingin menangis berlama-lama. Ini sejenis kesepian yang
sering saya alami dulu. Lucunya, saya ternyata menikmatinya. Lagi-lagi, saya
tidak bisa mengidentifikasi apa yang membuat saya sedih.”
Saya sudah mengangkrabi
kesendirian sejak lama. Seperti candu.
Saya menyukainya. Tidak peduli betapa pun berat hari-hari yang saya
lalui, saya akan baik-baik saja setelah menghilang beberapa waktu. Tidak
melakukan interaksi dengan manusia lain. Hanya saya seorang diri dan
upaya-upaya saya me-restart emosi yang kacau. Sejak saya terbiasa menelan semua
rupa-rupa emosi yang memenuhi pikiran. Saya memilih ruang sendiri sebagai upaya
menyelamatkan sisa-sisa kewarasan
yang saya punya. Dengan sendirian, saya merasa aman. Saya selalu merasa
interaksi dengan manusia lain menyerap habis energy dan membuat saya kelelahan
setengah mati. Mungkin karena ada dua arus di dalam jiwa saya yang saling
bertubrukan. Saat bertemu orang-orang, saya memaksa diri agar bisa terkoneksi
dengan orang tersebut, di waktu yang sama, sisi hati saya yang lain berteriak frustasi, merasa itu salah.
Fase ini membuat saya mempertanyakan karakter saya sendiri. Apakah saya sedang berpura-pura menjadi
seseorang yang bukan saya? Saya berkali-kali menuduh diri saya senang
memakai topeng.
Orang-orang melihat dan
menilai saya sebagai seseorang yang sulit. Mereka hanya menilai yang tampak
saja, dan tidak apa-apa, sebab saya sudah terbiasa berjarak dengan siapa pun
itu.
![]() |
| Credit pic : Pinterest |
Sejak kecil saya terbiasa
(baca; terpaksa) belajar membaca
nuansa emosi orang-orang di sekitar saya, itu adalah cara yang saya gunakan untuk
survive di kehidupan yang tidak menyediakan ruang aman untuk seorang anak.
Hidup dalam mode survival mengajarkanmu
untuk selalu terjaga. Kamu berpikir
hanya kamu satu-satunya yang mampu menyelamatkan dirimu. Kehilangan dirimu
adalah kiamat bagimu. Itulah sebabnya kamu mati-matian
melindungi dirimu sendiri, dengan cara apa pun itu.
29
Ramadan 1447 H. 19 Maret 2026.
Beberapa hari jelang Idul
Fitri.
Jarak dari sebelas tahun silam
ke hari ini terbilang cukup jauh untuk bisa membuat saya bertumbuh dan mengenal
diri lebih dekat lebih lekat. Perempuan 26 tahun dari sebelas tahun lalu itu
tidak lagi menikmati kesepian yang dalam,
yang kerap membuatnya menangis tanpa tahu alasan jelas mengapa ia mendadak diiputi
kesedihan teramat sangat.
Alhamdulillah.
Hal baik dan buruk terjadi
silih berganti. Saya memilih untuk tidak
menyerah.
Bagaimanakah POV hidup dari
mata seorang perempuan di penghujung 30-an yang belum menikah ini?
Hidup
yang ditempuh adalah perjalanan menuju kesejatian diri, ditemani doa-doa
panjang. Dan akan kau temui Tuhan selalu membersamai langkah-langkahmu. Bahwa
akhirnya kamu menyadari kamu tidak pernah dibiarkan-Nya sendirian meski di
saat-saat kamu merasa paling sendiri dan paling sunyi; Ia ada.
Kamu
adalah perwujudan doa-doamu.
![]() |
| Credit pic : Pinterest |
Sebelumnya saya ingin membuat
sebuah pengakuan. Saya tidak pernah mengasihani diri saya karena belum menikah
meski sudah melewati usia 30-an. Usia
yang kata orang-orang sudah tua, sudah
terlalu terlambat untuk menikah, sudah turun
mesin—saya ingat betul ada yang pernah mengatakan ini kepada saya. Mungkin
karena menikah tidak pernah menjadi prioritas utama saya selama ini. Bukan
berarti saya tidak ingin menikah. Saya berdosa dong kalau bilang tidak mau
menikah. Tentu saja saya tidak menutup diri dari fase kehidupan itu. Saya
perempuan normal yang sesekali penasaran siapa jodohnya. Hanya saja, memang,
saya tidak pernah menjadikan konsep perempuan usia 30-an yang belum menikah
sebagai ladang galau yang membuat saya melupakan cara untuk bahagia yang
semestinya. Keinginan berulang yang paling rajin menjajah hati saya adalah; saya ingin hidup tenang. Saya ingin pulih.
Saya ingin mengenali dengan sebaik-baiknya, rupa-rupa emosi yang saya miliki.
Berdamai dengan diri sendiri adalah keinginan paling kuat yang sudah saya
tumbuhkan di usia belasan.
Tentang menikah, saya punya
cerita yang panjang sekali. Ini bukan soal apakah saya mau atau tidak menikah.
Ini tentang trauma panjang yang telah berkontribusi banyak membentuk siapa saya
saat ini.
Disclaimer : tulisan berikut tidak bermaksud menjatuhkan
atau membongkar aib. Ini adalah bagian dari refleksi hidup yang memberikan saya
pelajaran besar. Menikah bukan perkara remeh yang harus dikejar mati-matian
hanya karena saya sudah mencapai standar usia yang oleh kehidupan social sudah
dianggap sangat terlambat.
Ketika saya mengatakan bahwa
saya trauma dengan konsep pernikahan. Orang-orang yang mendengarnya kebanyakan
menanggapinya dengan dingin, mengatakan
saya terlalu berlebihan. Bahwa yang mengalami peristiwa-peristiwa menyakitkan
dalam kehidupan berkeluarga bukan hanya saya saja. Jadi, karena orang-orang
kebanyakan juga mengalaminya, maka itu bukanlah sesuatu yang besar. Tidak perlu
takut menikah. Tidak ada pernikahan yang tidak punya masalah. Padahal saya
tidak pernah mengatakan saya takut menikah karena takut dengan konflik yang
muncul dalam pernikahan itu—ketakutan saya mengakar pada pengalaman-pengalaman
traumatis sebagai anak yang tidak bisa saya tepis begitu saja sambil bilang “semua orang mengalaminya juga kok—“
Trauma saya dianggap angin lalu.
Sayang sekali saya ini keras
kepala. Saya bersikeras untuk tidak terburu-buru menikah meski hampir semua
teman saya yang seumuran sudah menikah dan memiliki keluarga kecil. Saya turut
berbahagia. Saya senang melihat orang-orang di sekitar saya berbahagia. Saya
tidak pernah menjadikan kebahagian orang lain sebagai standar bahagia yang juga
harus saya kejar dan wujudkan. Tidak. Saya bukan orang semacam itu.
Saya mengenali semua sinyal
yang diberikan tubuh saya. Saya sadar, ada sesuatu yang berjalan salah di dalam sana. Saya terlalu menyayangi diri
saya sehingga saya memilih untuk tidak mengabaikan suaranya. Selain Tuhan, dia-lah
yang menemani perjalanan jatuh bangun
saya sebagai manusia. Di saat saya ingin menyerah, suara di dalam kepala saya
meminta bertahan dengan cara apa saja. Saya tidak terbiasa melarikan kesedihan
dan kesakitan saya kepada orang lain, hanya kepada diri sendiri saja saya
membagi semuanya. Tidak peduli se-babak belur apa jiwa dan mental, saya harus
tetap hidup. Ada waktu-waktu saya kelelahan dan rasanya ingin menyerah. Tapi
tidak benar-benar saya lakukan. Betapa saya menyayangi diri saya sendiri. Semua
saya usahakan demi konsep hidup tenang yang saya impikan.
![]() |
| Credit Pic : Pinterest |
Nun di dalam jiwa saya, ada
ingatan-ingatan seorang anak perempuan kecil yang berusaha menangani
ketakutan-ketakutannya seorang diri.
![]() |
| Credit Pic : Pinterest |
Dari
waktu ke waktu, saat segalanya terasa sangat sulit bahkan untuk bernapas saja, saya
berharap ada seseorang yang mau memeluk saya—dia tidak perlu mengatakan
apa-apa.
Suatu ketika anak perempuan
kecil itu pernah bersembunyi di celah kecil yang memisahkan tembok kamar dan
meja di kamarnya. Ia berdiam di sana sambil menangis tanpa suara. Ditutupnya
mulutnya rapat-rapat. Suara-suara bentakan penuh kekerasan di luar kamarnya
membuatnya takut. Pernah juga, ia meringkuk ketakutan memeluk dirinya sendiri
karena mendengar bantingan barang-barang. Di lain waktu, segalanya berjalan
baik-baik saja seolah-olah kekerasan itu tidak pernah terjadi di rumah yang ia
tinggali. Yang sebenarnya ia alami, ia tidak pernah merasakan seperti apa itu
kehangatan bertumbuh di rumah. Ia tahu, api kecil sewaktu-waktu bisa memecah
tenang di rumahnya. Rasanya seperti berjalan di atas lapisan lantai es yang
tipis yang bisa pecah dan melukainya.
Itu hanya sebagian kecil
peristiwa yang hidup di kepalanya.
Ia tumbuh menjadi anak yang
terbiasa mengantisipasi kejadian-kejadian buruk yang mungkin saja tiba-tiba
pecah di rumahnya. Ia terlatih membaca emosi manusia lain di rumahnya. Pada
suara-suara, pada ekspresi wajah-wajah. Ia belajar menyusun tutorial bertahan
hidup sejak kanak-kanak. Ia belajar otodidak mengelola emosinya sejak dini. Ia
terbiasa tidak merasakan kasih sayang dari orang-orang yang seharusnya
memberikan itu. Ia belajar memaknai cinta kasih dengan cara yang keliru . Tak
ada yang bisa mengajarinya soal itu. Ia hanya
diajari bagaimana menjadi anak yang
penurut yang tidak sanggup mengenali
suaranya sendiri. Satu-satunya pelajaran penting yang dibawanya hingga
dewasa adalah bahwa ia hanya memiliki dirinya sendiri.
Yang tidak disadarinya, ada
dinding kasatmata yang diam-diam dibangun, memisahkannya dari dunia luar. Maka
saat ia tumbuh remaja dan dewasa, orang-orang mengenalnya sebagai orang yang
sulit, pemarah, sensitive, sulit dibaca.
Yang tidak orang-orang ketahui, ia hanya sedang berusaha keras agar tetap hidup
tanpa terluka. Sebelum dilukai, ia sebisanya menghindar lebih dahulu. Tak ada
relasi yang benar-benar mendalam dengan manusia lain. Relasi dengan siapa pun,
persahabatan atau percintaan, itu kerap membuatnya tidak aman dan nyaman.
Sendirian selalu menjadi satu-satunya pilihan. Itu bentuk pertahanan hidup yang
dibangun sejak kecil. Sampai ia bertemu seseorang yang mampu mengenalinya utuh
dengan seluruh puzzle-puzzle lukanya, ia pikir sebaiknya akan lebih baik bila
ia sendiri saja. Ia memiliki relasi yang kuat dan dalam dengan kesepian dan luka-luka.
Trauma dan luka-lukanya tidak
pernah sederhana, ini bukan upaya meromantiasi kesakitannya. Setidaknya, ia
tidak akan berlaku seperti orang lain. Menyepelekan rasa sakit yang dirasakan.
Ia pernah melakukannya, bertahun-tahun lamanya. Berpura-pura baik-baik saja. Ia akan baik-baik saja, sepanjang ia
menganggap demikian. Anak perempuan kecil itu berjanji tidak akan melukai
orang lain dengan luka dan traumanya. Ia tahu rasanya merasakan sakit yang
bukan bersumber dari dirinya. Maka ia berupaya untuk pulih terlebih dahulu.
![]() |
| Credit Pic : Pinterest |
Dan untuk pulih, itu sama saja
seperti membunuh separuh hatinya yang
lain. Sebab ia pernah dihidupi rupa-rupa
kesakitan dan kesedihan yang akhirnya membentuk perilakunya. Bagaimana ia
berlaku dan menjalani hidupnya, bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang di
luar dirinya.
Tsunami emosi yang datang
dalam proses untuk pulih itu membuat dunianya seperti jungkir balik.
Saya tidak bisa
lagi berpura-pura baik-baik saja seperti yang biasa saya lakukan.
Di tahun 2018, saya mulai
sering sakit-sakitan. Lalu di tahun 2019, saya mengalami serangan panik pertama
kali yang membuat saya sakit sebulan
lamanya. Mental yang kacau membuat fisik saya ikut-ikutan ambruk. Saya tidak
bisa melakukan apa-apa. Saya pikir saya akan mati waktu itu. Saya tetap
berusaha menjalani hari-hari semampunya, dengan sebaik-baiknya. Tak ada ngeh jika waktu itu saya mulai mengalami
guncangan emosi akibat terlalu lama memendam banyak hal. Saya tampak berfungsi selayaknya manusia
normal. Padahal waktu itu saya mengalami keadaan yang membuat saya kehilangan
kemampuan menangis—bahkan dalam keadaan sedih luar biasa pun saya tidak bisa
menangis. Hati saya seperti mati rasa. Datar.
Mengapa saya demikian terluka
bila ada yang menyederhanakan trauma yang saya rasakan terkait pernikahan?
Sebab, separuh hidup ini saya jalani untuk menyembuhkan luka batin yang saya
rasakan sebagai anak dari hubungan disfungsional orang tua saya di masa lalu.
Saya bukan tipikal manusia yang dengan mudah mematikan emosi. Terlalu perasa. Saya berusaha mengenal
dan memaknai setiap warna emosi yang saya rasakan. Jika dengan melakukan itu
orang-orang menganggap saya lebay, ya sudahlah. Toh, saya hidup bersama diri
saya bukan untuk mengikuti alur hidup orang lain.
Saya teringat tulisan di buku
The Book You Wish Your Parents had Read,
“No one is wrong
because their experience is different from what ours would be. Such differences
need to be respected rather than causing you to get into arguments as to who is
having the ‘right’ experience.”
Soal sudut pandang terhadap
berbagai hal, bukan perkara benar atau salah, sebab kita berangkat dari
pengalaman hidup yang berbeda dan perbedaan sudut pandang atas pengalaman
hidup, alih-alih membuat kita saling adu tentang siapa yang paling benar, seharusnya
justru mengajarkan kita agar saling menghargai.
Saya pikir itulah sikap yang
paling tepat. Pengalaman hidup bukanlah ajang adu mekanik siapa yang paling
menderita. Setiap kita, sudah ditentukan takaran beban masing-masing oleh
Tuhan. Bagaimana kita menangani hidup, tidak bisa ditentukan oleh pengalaman
hidup orang lain meskipun ada kesamaan pada peristiwa-peristiwa yang dialami.
Pengalaman hidup sebagai anak
mengajarkan saya, menikah bukan sesuatu yang bisa saya putuskan hanya karena
saya menyukai seseorang sedemikian rupa. Kehidupan pernikahan kedua orang tua
saya telah memberikan saya pengalaman yang sangat berharga.
Mengapa menikah tidak pernah
masuk ke dalam skala prioritas hidup saya? Saya pun sempat bertanya-tanya.
Bohong besar bila saya tidak pernah berpikir tentang kapan menikah ya? Sekali lagi, saya perempuan normal. Normal saja,
pas lagi capek dan butuh ngobrol saya tiba-tiba membayangkan kayaknya asik ya
kalau punya pasangan wkwk. Ada teman yang bisa diajak ngobrolin hal-hal yang
tidak bisa dibicarakan dengan orang lain. Tapi yang sebenarnya terjadi, tentang
jodoh, dua tahun terakhir saya belum pernah benar-benar berdoa kepada Tuhan.
Sekira dua tahun lalu, saya
pernah berpikir untuk menikah. Saya berdoa sungguh-sungguh. Saya mengira orang
yang saya temui saat itu adalah orang yang tepat dan nyatanya itu berakhir
dengan “he is my life biggest lesson. Dia
menjadi pelajaran hidup yang tidak ingin di-remedi” HAHAHAHAHA. Ya, demikian hidup yang penuh lika-liku ini. Ada saja
kejutannya.
Saya ingin bilang, tidak
apa-apa menjadi perempuan yang belum menikah di atas 30-an. Sungguh. Jika
seseorang berpikir dengan menikah ia akan bahagia, coba tanyakan dulu, apakah
ia sudah bahagia dengan seluruh yang ada pada dirinya? Kalau jawabannya belum,
bisa dipastikan menikah hanya akan melipatgandakan ketidakbahagiannya. Ia akan
menemukan kesakitan-kesakitan dalam bentuk lain. Kecuali ia bertemu seseorang
yang mau tumbuh bersama. Nah, apakah ia berani bertaruh di atas hidupnya
sendiri? Berpikir dengan menikah lantas kebahagiaan akan seketika tumbuh, itu
saja sudah salah. Pernikahan tidak akan bisa menggantikan ketidakberuntungan
yang kita alami saat masih sendiri.
Saya pernah berpikir saya
menikah karena saya ingin bahagia. Dulu. Pikiran itu lahir lagi-lagi karena
pengaruh sudut pandang saya terhadap kehidupan pernikahan orangtua saya. Saya
berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Pikiran itu kemudian mengantarkan saya pada
sebuah kesadaran yang utuh; saya tidak akan pernah benar-benar merasakan
bahagia bila saya belum juga mampu kembali
kepada diri saya. Saya mulai serius
membereskan diri, menghadapi trauma saya dengan berani, memeluk emosi-emosi
yang mengendap berkarat di sudut-sudut hati yang saya biarkan terbengkalai. Saya
tidak lagi memakai mantra saya baik-baik
saja, saya akan baik-baik saja setiap kali mental saya terguncang. Saya
beri validasi dan memilah-milah mana emosi yang baik dan buruk untuk proses pemulihan
batin saya.
Di titik ini, saya akhirnya
merasakan kehancuran mental yang luar
biasa. Di tahun 2020, saat covid melanda, saya meminta izin ke mama saya untuk
konsultasi ke psikolog. Online. Meskipun belum bisa sepenuhnya puas, saya cukup
terbantu. Di tahun-tahun yang datang, kondisi mental saya naik-turun. Adakalanya
meledak, adakalanya tenang. Beberapa kali saya terkena serangan panik
disebabkan pemicu yang bervariasi. Di saat saya berupaya pulih, di saat yang
sama pula saya dibuat babak belur yang sebenar-benarnya. Ketika saya keluar
dari zona aman tempat saya berlindung
selama ini. Zona aman itu ternyata hanya
memanipulasi saya. Kebiasaan saya menampung dan menyembunyikan gejolak emosi;
amarah, kesedihan, kecewa dan rupa-rupa emosi yang tolak kehadirannya, rupanya semakin memperburuk kondisi mental saya.
Tidak ada yang baik-baik saja. Tidak pernah ada. Saya hanya berpura-pura.
Karena saya tidak sanggup menghadapi seluruhnya sendirian. Saya tidak cukup berani, tidak cukup kuat.
Untuk pertama kalinya, saya belajar memeluk diri dengan
sungguh-sungguh, dengan seutuhnya. Bukan hanya
agar terlihat baik-baik saja. Saya ingin menghidupi
hidup dengan hal-hal baik, semata-mata karena saya menyayangi diri saya. Saya
ingin membebaskannya dari rasa sakit yang sudah dipendamnya sekian lama. Saya
ingin ia berhenti hidup di dalam mode
survival. Saya ingin diri saya merasakan bahagia yang kami usahakan berdua.
saya merumuskan kembali konsep
bahagia yang saya inginkan, dan itu saya jalani tanpa pasangan. Rasanya
baik-baik saya. Jika suatu saat saya akhirnya memutuskan menikah dengan
seseorang yang saya anggap tepat, itu bukan karena saya ingin bahagia saja,
tapi ada misi yang lebih besar yang ingin saya wujudkan, dan tentu itu bukan
hanya soal diri saya saja. Lagipula, agar terlihat utuh, kebahagiaan yang saya
rasakan tidak mesti harus digenapi dengan menikah. Daripada terburu-buru
menikah, saya focus memberikan diri saya tenang
yang utuh. Saya menjalani
hari-hari saya untuk mewujudkan itu. Sibuk menata mental, memperbaiki jiwa.
Jadi kepada mereka yang
bertanya kenapa saya belum juga menikah? Jawabannya bukan lagi karena saya
trauma atau tidak mau menikah. Tapi karena saya dan jodoh saya belum bertemu.
Itu saja.
Bagaimana hidup saya hari-hari
belakangan ini? Apakah saya masih kerap merasakan kesepian yang familiar?
Apakah saya masih sering tiba-tiba menangis tanpa alasan?
Alhamdulillah. Tidur saya
nyenyak. Saya sudah bisa menikmati rasanya tertawa tanpa merasa takut ada
hal-hal buruk yang akan terjadi kemudian. Saya tidak lagi merasa terancam bila
berinteraksi dengan orang lain. Hubungan dengan kedua orangtua mulai membaik.
Meski belum sepenuhnya pulih, saya sangat menikmati setiap hari yang saya
jalani. Saya belajar bagaimana membangun komunikasi dan relasi yang sehat. Saya
belajar membuat batasan-batasan dalam relasi tersebut. Saya bersedih dan berbahagia
secukupnya. Saya belajar meluaskan rasa syukur. Saya belajar melepaskan apa-apa
yang perlu saya lepaskan demi ketenangan hati. Ada saatnya saya berada pada
kondisi yang sulit secara mental, kendati demikian, saya tidak lagi menekan
perasaan saya seperti dulu, saya membiarkan emosi-emosi itu bernapas lega. Saya akui keberadaannya, sebab
hanya dengan begitu saya bisa menemukan cara dan jalan untuk menyelesaikannya dengan baik. Saya tidak
lagi berpura-pura baik-baik saja.
Saya menyadari, bahwasanya
pulih adalah perjalanan melelahkan yang akan saya tempuh sepanjang hidup saya.
Saya akan terus menerus mengalami proses tumbuh sebagai manusia dewasa. Tumbuh artinya akan selalu ada yang berubah
dari hidup saya. Tumbuh juga adalah tentang melepaskan. Oya, saya masih
menyukai kesendirian. Tapi bukan jenis kesendirian yang sarat dengan kesepian.
Ini jenis kesendirian yang membikin tenang dan aman.
Saya, perempuan single di penghujung 30-an yang sedang
belajar menikmati hidupnya. Sebagai perempuan yang tumbuh di lingkungan social yang
masih menganggap perempuan yang belum menikah di usia 30-an, saya sama sekali
tidak terganggu dengan itu. Perkara jodoh tidak terletak di tangan saya tapi
pada kuasa Tuhan. Alih-alih mengasihani diri, merasa tidak berarti karena dianggap tidak laku, saya lebih memilih memberdayakan
diri untuk hal-hal baik yang layak dan berhak saya terima.
Hidup saya terlalu berharga hanya untuk direndahkan oleh standar sosial yang kerap merendahkan dan melemahkan posisi perempuan yang merdeka atas hak-hak hidupnya. 💟
![]() |
| Credit pic : Pinterest |
Selamat berlebaran. Saya
berdoa kepada Allah agar kita senantiasa diberkahi dengan hal-hal baik, selalu dipertemukan
dengan orang-orang baik. Saya berdoa kepada Allah agar hati kita senantiasa diluaskan untuk menerima
hal-hal yang tidak sesuai keinginan.
Untuk terus bertumbuh dan
pulih. 🌳
Tabik,
Azz. 😍
Sehat-sehat dan bahagia ya.






