Sunday, November 23, 2014
Friday, November 21, 2014
[Review] Pinocchio Episode 4
| Pinocchio Episode 4 : Romeo and Juliet |
Wow!
Pinocchio jinja daebak poll! Alur episode 4 masih konsisten dan pastinya banyak
kejutan yang bikin saya takjub sendiri sambil bergumam, benar-benar drama yang
susah ditebak. Perkiraanku banyak yang meleset. Aku pikir penulis skenarionya
tidak akan secepat ini membongkar rahasia-rahasia yang menyangkut Dal Po.
Episode empat ini bikin aku ngakak-nangis-ngakak-nangis. Pinter banget
mengaduk-aduk perasaan penonton T________T
Berikut
review (tidak) singkat yang aku bikin usai menonton Pinocchio episode 4 :
Choi In Ha-Choi Dal Po
| Kalo aku yang ditatap begini sama Jong Suk, meleleh akuuuu |
Dal
Po adalah orang pertama yang menyadari bahwa ia menyukai In Ha. Sangat
menyukainya hingga rela mengorbankan banyak hal hanya agar In Ha nyaman dan
bahagia. Di episode tiga sebelumnya Dal Po mengajak In Ha mengejar mimpi
menjadi reporter. Padahal sebelumnya, Dal Po sangat membenci profesi karena
terkait erat dengan porak porandanya keluarganya. Tetapi demi membuktikan
kepada Sung Cha Ok, ibu In Ha, Dal Po mengesampingkan dendamnya. Menurut saya,
secara tidak sadar sebenarnya Dal Po sudah menuju jalan pembalasan dendamnya.
Menjalani profesi sebagai reporter itu sendiri akan membuatnya paling tidak
mendapat pencerahan bahwa sesungguhnya tidak semua reporter atau jurnalis
seperti Cha Ok. Masih ada yang tetap setia memegang teguh kode etik jurnalistik.
Dan melalui itu juga Dal Po bisa mematahkan arogansi Cha Ok yang berpikir
menjadi wartawan tidak melulu hanya soal menyampaikan kebenaran.
| Hobi nguping nih bapak satu... |
Tanpa
disadari oleh Dal Po dan In Ha, Dal Peng, ayah In Ha mendengar dan melihat
seluruh apa yang terjadi di atas atap gedung apartemen tersebut. Berdasarkan penglihatan
mata hatinya selaku ayah, ia bisa memastikan Dal Po memiliki perasaan yang
lebih dari seorang Paman terhadap In
Ha.
Tindakan Dal Peng yang mencoba mengingatkan Dal Po agar tidak
menindaklanjuti perasaannya itu menurut saya semata bukan karena dia tidak
menyukai Dal Po. Mungkin bagi Dal Peng, Dal Po memiliki banyak kelebihan dan
akan lebih baik ia menemukan seorang gadis yang setara dengannya. Dal Po
menyela terlebih dahulu sebelum Dal Peng menyelesaikan kalimatnya, Dal Po
menegaskan memang benar dia menyukai In Ha dan dia tidak tahu kapan pastinya ia
merasakan hal itu. Akan tetapi dia bisa menjamin ia tidak akan berani
mengatakan itu pada In Ha. Dengan kata lain, Dal Po memilih menjadi pengagum rahasia In Ha. Mencintai dengan
sepihak yang tentu saja akan sangat menyakitkan hati. Aigooo, uri Dal Pong-ah…
| Ganteeeeeng |
Dal
Po dan In Ha memutuskan mengikuti sebuah seleksi pemilihan reporter di kantor
berita YGN—saingan berat MSC—bersama dua karakter kita yang lain yaitu Yoo rae
(mantan sassaeng fans) dan Bum Jo (pria yang pernah berpura-pura menjadi ibu In
Ha). Tahap pertama mereka berempat dan beberapa kontestan lain lolos tetapi
tidak di tahap kedua.
| Dal Po yang marah... |
| In Ha yang kaget dan bingung melihat Dal Po tiba-tiba meledak... |
Tahap
kedua penyeleksian itu berlangsung dalam sebuah forum diskusi terbuka. Nahasnya,
tema berita yang menjadi bahan diskusi saat itu adalah peristiwa kebakaran yang
menyeret ayah Dal Po tiga belas tahun silam. Reaksi yang ditunjukkan Dal Po
sudah bisa ditebak. Kemarahan yang disimpannya bertahun-tahun menemukan
sumbunya untuk meledak. Ia mengagetkan peserta forum ketika mencoba mematahkan
asumsi In Ha yang secara halus berpendapat tidak ada yang perlu disalahkan atas
musibah itu termasuk tuduhan yang diarahkan pada ayah Dal Po. Dal Po dengan
sorot matanya yang memerah antara menahan kesedihan dan kemarahan kurang lebih
seolah mengatakan betapa naifnya In Ha berkata seperti itu. Tentu saja harus
ada pihak-pihak yang harus bertanggung jawab atas insiden itu yang
mengakibatkan sebuah keluarga hancur berantakan, tak lain maksud Dal Po adalah
media. In Ha luar biasa kaget, itu pertama kalinya dia melihat Dal Po
emosional. Karena Dal Po pula rahasianya sebagai pengidap syndrome Pinocchio
terbongkar. Ah, In Ha terluka. Ia sedih mengapa Dal Po tidak berada di pihaknya?
In Ha akhirnya menyadari ia menyukai Dal Po sebab itulah ia merasa sangat marah
dan kecewa hingga meninggalkan ruangan di mana forum diskusi itu berlangsung.
Salah satu moment romantis In Ha-Dal Po
| Dal Po sengaja menahan sinar matahari agar tidak mengganggu In Ha yang sedang belajar |
Seo Bum Jo (Kim Young Kwang)
| Lovable. Dia mangedipkan matanya ke arah In Ha. |
Pria
yang telah menyamar sebagai ibu In
Ha. Entah bagaimana ceritanya sampai In Ha menganggap nomor ponsel Bum Jo
adalah nomor ponsel ibunya. Pastinya ada kesalapahaman yang belum ditunjukkan
penulis skenarionya. Bum Jo ini tipe pria yang tidak ragu-ragu menunjukkan
perhatiannya—saingan berat Dal Po nih—Bum Jo juga melamar ke YGN semata-mata
hanya untuk dekat dengan In Ha. FYI, Bum Jo adalah chaebol kaya raya yang
sangat disayangi ibunya. Aku yang biasanya selalu kena syndrome jatuh cinta
pada second male nampaknya tidak akan
terjadi di drama ini. Karakter Dal Po sudah terlanjur menahanku LOL. Mian Young
Kwang, di Plus Nine Boys kamu bisa bikin aku jatuh cinta tapi tidak di sini
hahaha. Lanjut, di episode empat ini Bum Jo berkali-kali menunjukkan
perhatiannya pada In Ha yang tentu saja membuat Dal Po cemburu. Salah satu yang
menurutku lucu dan cute waktu Bum Jo mengedipkan mata ke arah In Ha yang berada
di dalam bus bersama Dal Po sementara Bum Jo sendiri menyetir mobil mewahnya
sambil mensejajari bus tersebut. Dal Po kesal lalu menyembunyikan In Ha di
belakang punggungnya hahahaha.
Pada
tahap seleksi pertama, Bum Jo menampakkan ketertarikannya pada In Ha. Dal Po
menyaksikan sendiri bagaimana cara Bum Jo menatap lembut ke In Ha, Bum Jo juga
membantu In Ha saat gadis itu kesulitan menjawab pertanyaan tim penilai.
Berlanjut ke tahap kedua, Bum Jo mengundurkan diri dari forum ketika In Ha
berlari keluar dari sana setelah Dal Po membongkar
rahasianya tanpa sengaja. Aku kok punya feeling, In Ha dan Bum Jo akan
menjadi rekan satu tim di MSC? Sedang Dal Po akan bersama Yoo Rae di YGN.
Oya,
Bum Jo menjadi satu-satunya orang yang menyaksikan wajah bingung In Ha saat
menyadari posisi hatinya untuk Dal Po bukan semata antara paman-kemenakan.
Anehnya, Bum Jo seperti tidak terpengaruh. Berbeda ketika dia melihat In Ha dan
Dal Po mojok sambil menunggu
pengumuman tahap pertama, Bum Jo keliatan cemburunya di situ.
| Scene yang bikin Bum Jo cemburu LOL |
Yoon Yoo Rae (Lee Yoo Bi)
| Former sasaeng fans |
Mantan
sassaeng fans yang sudah tobat dan ingin menjadi wartawan. Awalnya aku mengira
dia ini tipe second female yang rada licik tapi ternyata Yoo Rae lucu juga.
Karakter Yoo Rae belum banyak dieksplor sejauh ini. Aku penasaran bagaimana
jadinya seorang mantan sasssaeng fans menjadi wartawan. Pasti banyak lucunya
saat dia mengejar berita/narasumber. Aku juga tidak melihat bibit-bibit cinta
antara Yoo Rae-Dal Po. Mungkin belum.
Jae Myung-Dal Po
| Jae Myung ganteng juga kooook |
Aku
salut dengan penulis scenario Pinocchio yang selalu memasukan filosoi hidup ke
drama ini (di I Hear Your Voice juga begitu). Jika saja Dal Po tidak membantu
pria tua yang tanpa sengaja menabrakan gerobaknya ke mobil pick up Jae Myung
maka tidak akan pernah ada sesuatu yang akan menguhubungkan kedua kakak-beradik
ini. Kebaikan kecil yang dilakukan Dal Po paling tidak telah membuka satu pintu
yang mendekatkannya dengan Jae Myung. Mereka mengetahui nomor ponsel satu sama
lain. Hanya tinggal menunggu pertemuan keduanya.
Bahwa jangan menyepelekan
kebaikan-kebaikan kecil yang kita ingin/telah kita lakukan. Tindakan sekecil
apapun pasti akan menimbulkan akibat baik atau buruk entah untuk kita atau
orang lain. Hukum sebab-akibat. Bahwa manusia sebenarnya saling terhubung satu
sama lain di belahan bumi ini.
Heartbreaking
scene adalah ketika akhirnya terungkap ayah mereka yang selama ini diduga
melarikan diri usai insiden kebakaran itu, telah meninggal. Dalam rangka
perobohan sisa gedung yang terbakar itu, para pekerja menemukan kerangka ayah Jae
Myung dan Dal Po. Jae Myung berada tak jauh dari sana sangat terpukul
mengetahui hal itu. Satu asumsi telah menghancurkan keluarga mereka. Keterangan
dari seorang ppengidap Pinocchio yang dipercaya seluruh orang termasuk polisi/
wartawan. Padahal, bisa saja kepolisian melakukan penyisiran lokasi untuk
mencari mayat ayah dal Po dan Jae Myung dan mereka tidak akan mengalami
kepedihan luar biasa atas tuduhan palsu yang dialamatkan pada ayah mereka.
Pelajaran penting, kebenaran yang tidak disertai bukti kuat bisa mentah dan
tidak dipercaya dan betapa sebuah asumsi bisa menjadi kebenaran yang diamini
seluruh orang.
Aku
ikut menangis melihat Dal Po dan Jae Myung menangis hebat usai mengetahui kalau
ayah mereka telah tiada sejak tigabelas tahun silam. Lee Jong Suk benar-benar
sukses mencuri hatiku. Aku bukan fans Jong Suk, tapi aku menikmati drama-drama
dia kecuali Doctor Stranger. Pinocchio sepertinya akan menjadi salah satu drama
favoritku tahun 2014 ini.
Haraboji-Dal Po
| Before |
| After |
I
love you, Haraboji!
Aku
sudah tahu haraboji sudah sadar Dal Po bukanlah anaknya ketika haraboji
menemukan buktibukti yang dikumpulkan In Ha di perpustakaan. Kemudian di
episode empat ini aku akhirnya tahu mengapa haraboji masih berpura-pura tidak
tahu. Dia takut bila dia mengaku sudah menyadari kalau Dal Po itu bukan anaknya
maka Dal Peng akan mengusir Dal Po pergi. Awalnya haraboji mengambil Dal Po
sebagai anak karena kasihan namun semakin berjalannya waktu ia semakin
menyayangi Dal Po sebagai anaknya. Haraboji-lah yang menyeret Dal Po ke salon
untuk di-make over. Hasilnya Dal Po yang kampungan berubah jadi Lee Jong Suk
yang super duper tampaaaaaaaaaaan. Aiiiiih, Jong Suk-ah…. *blushing*
Aku
terharu sewaktu haraboji mengatakan Dal Po tidak perlu lagi melakukan sesuatu
di belakangnya. Dal Po jangan lagi menyembunyikan mengenai kepintarannya dll
dari haraboji. Kata Haraboji sudah saatnya Dal Po mengejar keinginannya
sendiri. Jong Suk menangis di pundak haraboji, dia berterimakasih haraboji
telah menerimanya. Aku kok curiga ya haraboji ingin menjdohkan In Ha dan Dal
Po? Setujuuuuuuuuu!!
Scene paling terlawak menurutku :
Ini.
Dal
Peng mengkhayalkan In Ha dan Dal Po hampir kissing, gak tahan menahan gemas Dal
Peng mengambil bantal dan melempakannya ke (bayangan) In Ha-Dal Po yang
malangnya justru mengenai haraboji di depan pintu. Pwahahahahaha aku ngakak.
Benar-benar ngakak. Bahkan aku masih tertawa setiap kali teringat scene ini.
#pukpuk Haraboji.
Pertanyaan-pertanyaan yang masih
menunggu jawaban :
Siapakah
Bum Jo sebenarnya? Bagaimana awal kesalahpahaman diantara dia dan In Ha?
Benarkah ibu Dal Po dan Jae Myung sudah meninggal? Apa yang menyebabkan
perceraian kedua orangtua In Ha? Hasil wawancara yang dilakukan Jae Myung
remaja dengan Sung Cha Ok belum diperlihatkan.
Preview
minggu depan sepertinya Yoo Rae dan Dal Po lolos sedangkan In Ha dan Bum Jo
tidak. In Ha sudah aware dengan perasaannya ke Dal Po.
Huft,
harus sabar menunggu Rabu depan \o/
Bonus additiobal casts yang suka bikin ketawa ngeliat tingkah dan interaksi mereka satu sama lain.
MSC ada ini
Di YGN ada duo ini :
Satu lagi, Lee Pal Mo (Dr. Guk di drama ER Couple) as PD Hwang Gyo Dong. Dia ini yang akan menjadi supervisor Dal Po dkk di YGN.
Quote
from Haraboji (Pinocchio Episode 4)
“What’s
even more difficult than putting someone else’s money into your pocket? Forcing
your own ideas into someone else’s head when they don’t believe in it. That’s
something not even the parent can do…”
[Review] Pinocchio Episode 3
Note
: Ini bukan synopsis full ya, hanya sekadar me-review episode 3 setelah
menonton. Drama ini bagus banget menurutku, saking semangatnya aku gatel pengen
nulis di blog hehe…
| Pinocchio Episode 3 : The Eye of The Queen |
Choi
Dal Po mendengar suara yang terasa sangat familiar memanggil-manggil namanya
agar segera bangun dan sarapan. Dia membuka matanya perlahan dan menyadari itu
suara siapa. Dal Po bergegas keluar kamar. Ia mendapati ayah dan ibunya di meja
makan. Dal Po kaget setengah mati.
Dia berulang kali bergumam kalau itu hanya
mimpi. Dia pasti sedang bermimpi. Jae Myung juga ada di sana, tetapi hanya
sebagian tubuhnya yang disorot. Wajahnya tidak.
Ayah dan ibunya heran melihat Dal Po bersikap seperti orang linglung.
Lalu Dal Po bergumam ini hanya mimpi, kan? Sebuah mimpi buruk. Ayahnya bertanya
mimpi buruk apa? Mimpi yang sangat buruk. Dal Po melanjutkan, bukankah ayahnya
menghilang dalam sebuah kebakaran gedung? Kakaknya mengabaikan dia dan ibunya.
Dan Ibu… Dal Po berkata penuh kesedihan sambil memandangi wajah ibunya yang
tengah tersenyum. Sedih pisan…
Ibunya
meyakinkan Dal Po kalau itu hanya mimpi tetapi tiba-tiba Dal Po melihat
kehadiran In Ha di sana. Jelas saja dia kaget. Kenapa In Ha di sana? Dal Po
kebingungan lagi. In Ha seharusnya tidak ada di sana. Jika In Ha ada di sana
berarti ini hanya mimpi.
Dal
Po setengah histeris, menunjuk In Ha seraya bertanya apakah Hyung-nya tahu
siapa dia? Tentu saja, dia kemenakan kita yang manis, jawab hyungnya. Dal Po
duduk, ia menenangkan dirinya dengan berkata ia hanya bermimpi. Ia bahkan tidak
ingin terbangun karena bahagia bertemu orang-orang yang disayanginya di dalam
mimpi. Mungkin ini pertama kali Dal Po mengalaminya setelah insiden kebakaran
itu menghancurkan keluarganya. Dal Po tak sengaja menyenyuh taplak meja. Ia
terhenyak, ia merasakan permukaan kasar kain taplak itu. Itu berarti dia tidak
sedang bermimpi! Daaaaan, ternyata memang benar itu Cuma mimpi. Dal Po bergumam
dalam tidurnya, kain taplak yang dielus-elusnya dalam mimpi tak lain adalah
ujung rok yang dipakai In Ha hahahaha. In Ha heran mimpi seperti apa yang
sedang dialami Dal Po. Ia menyuruh Dal Po bangun. Lucunya, Dal Po malah menarik
ujung rok In Ha dan menyentuhkannya di wajahnya.
Byuntaee!
In
Ha meninju pelipis Dal Po. Pwahahahaha…
Saat
itu, 4 Oktober 2013. Lompatan waktu yang cukup jauh. Dal Po, Haraboji, ayah In
Ha dan In Ha sudah pindah ke Seoul. Mereka tinggal bersama. Pagi di meja makan,
Dal Po mengompres pelipisnya yang kena bogem In Ha dengan telur masak. Terjadi
adu argument antara Dal Po dan In Ha lalu In Ha dan ayahnya. Haraboji
menghentikannya dengan sebuah hantaman sendok di jidat In Ha (dua kali untuk In
Ha ding) dan ayahnya. Rupanya ayah In Ha tidak setuju kalau In Ha melamar jadi
reporter. Lucu deh gaya bertengkarnya. Kan mereka marahan tuh, yang dijadikan
perantara ya Dal Po.
Di
bandara, Sung Cha Ok (ibunya In Ha) tiba dari luar negri dan dijemput dua orang
dari kantor. Pria yang satu adalah rekan satu timnya dulu dan satunya lagi
orang baru. Sebelum kedatangan Cha Ok, dua orang itu terlibat perbincangan yang
intinya kurang lebih mengenai penerimaan reporter baru di stasiun tivi mereka
dan salah satunya adalah puteri Cha Ok yang menderita syndrome Pinocchio.
Di
apartemen keluarga In Ha. Dal Po sedang memijit punggung haraboji. Haraboji
memperlihatkan sebuah foto kepada Dal Po. Dal Po bertanya apa itu. Haraboji
bilang ia mendengar kalau Dal Po baru saja putus dari Se Yeon bulan lalu. ROFL.
Jin Seo Yeon adalah lawan main Lee Jong Suk di Doctor Stranger.
| Mas-nya gak usah sok imut napaaah >< |
Sedangkan foto
yang yang ditunjukan haraboji adalah foto Kim Min Jung hahahaha. Dal Po menolak
saat haraboji memintanya bertemu gadis di foto itu. Dal Po mengaku sudah punya
pacar. Ayah In Ha yang sedang membaca Koran bergumam dengan nada bangga, kakaknya
punya beberapa skill (soal menggaet pacar). Haraboji bertanya gadis seperti apa
dia? Namanya Hye Sung, dia gadis yang pintar, baik dan bersuara indah. (Hye
Sung adalah karakter dari drama I hear Your Voice).
In
Ha bersiap untuk mengikuti wawancara penerimaan reporter di stasiun tv MSC,
tempat ibunya bekerja tentu tanpa sepengetahuan ayahnya. Bisa marah besar kalau
dia tahu. Dal Po menanyakan di stasiun tivi mana In Ha akan menjalani
interview? In Ha bertanya balik bila ia memberitahukan Dal Po apakah Dal Po
bersedia merahasiakan itu dari ayahnya? Dal Po langsung tahu di stasiun tivi
mana In Ha di-interview. Dal Po tidak bisa berbuat apa-apa karena In Ha sudah
mantap dengan keinginannya. Ia bertanya apakah ibunya tahu? In Ha sudah
mengirim pesan ke ibunya memberitahu kalau dia lolos tahap pre eliminasi.
Dal
Po dan In Ha mendorong beberapa mobil yang menghalangi mobil Dal Po. Sekarang
Dal Po berprofesi sebagai sopir taksi. Dal Po kembali menanyakan keyakinan In
Ha, dari mana In Ha yakin kalau nomor yang selama ini dianggapnya sebagai nomor
ponsel ibunya adalah benar-benar nomor ibunya? Jika itu benar-benar nomor
ibunya bukankah seharusnya ibu sering-sering menghubunginya? Awalnya In Ha
tidak menganggap serius, ia berdalih ibunya pasti sibuk. Tetapi nampaknya Dal
Po tidak berhenti sampai di situ. Sesibuk apakah ibu In Ha hingga tega
mengabaikan puterinya selama sepuluh tahun? Itu berarti dua hal, dia mengubah
nomornya atau dia sudah tidak peduli lagi pada In Ha. Kemarahan In Ha meledak.
Ia heran kenapa Dal Po bersikeras menjelek-jelekkan ibunya? Kata Dal Po,
semakin besar ekspektasi In Ha maka akan semakin besar pula kekecewaannya jika
itu tidak benar terjadi. In Ha bertanya pernahkah sekali Dal Po bertemu ibunya?
Ah ya, andai In Ha tahu Dal Po adalah orang yang dihancurkan hidupnya oleh
ambisi ibunya…
Pertengkaran
itu berakhir dengan kepergian In Ha. In Ha sangat memuja ibunya. Dia tidak akan
terpengaruh seberapapun gigihnya ayahnya dan Dal Po mencoba menjatuhkan ibunya
di matanya. Dia hanya percaya apa yang dilihatnya. Sama seperti delapan tahun
lalu saat Dal Po dituduh mencuri jawaban test. In Ha percaya Dal Po tidak
melakukannya dan memang terbukti Dal Po di posisi benar.
Dal
Po masuk ke taksinya. Terdengar suara perempuan operator taksi. Namanya Hye
Sung. Hahahaha itu suaranya Lee Bo Young (pemeran Hye Sung di I Hear Your
Voice).
Di apartemen, Ayah In Ha menemukan dompet di depan pintu. Dompet Dal
Po. Tak sengaja ia membuka dompet itu dan menemukan foto In Ha terselip.
Seketika kecurigaannya timbul. Rasa curiganya meningkat tatkala dilihatnya di
bawah parkiran Dal Po keluar dari taksi dan mencoba mengejar In Ha walau
akhirnya yang dilakukannya adalah menatap kepergian In Ha dengan tatapan yang
sulit diartikan.
In
Ha berdiri di Halte bus sambil menahan dingin. Sudah masuk musim akhir musim
gugur. Dal Po memarkirkan taksinya di samping In Ha. In Ha sok jual mahal. Setelah
Dal Po mengatakan ia tidak akan menyalakan argo-nya barulah In Ha mau masuk
itupun dengan ekspresi yang… yah agak ketus. Pura-pura LOL. Baru juga
bertengkar beberapa menit lalu udah baikan. Dal Po menceritakan kalau dia
semalam mendapatkan mimpi yang baik. Ia bertemu orang-orang yang dirindukannya.
In Ha membeli mimpi Dal Po senilai 5.000 won dan memberikan kancing bajunya
untuk In Ha.
How cute they are…
Di
stasiun tivi MSC, ada tiga orang sedang duduk berhadapan. Dr. Guk (aku belum
tahu siapa namanya di sini jadi aku panggil dia sementara Dr. Guk, perannya di
ER Couple), seorang lagi rekan Cha Ok yang menjemputnya di bandara dan satuya
lagi, molla-yo… Mereka menggosipkan Cha Ok. Sudah bukan rahasia lagi kalau Cha
Ok itu ambisius. Demi mendapat rating tinggi untuk beritanya dia melakukan
tindakan licik. Dua diantaranya adalah membeli sebuah sepatu dan berpura-pura
kalau sepatu itu adalah milik salah satu korban kecelakaan di jalan, dia
melaporkan dari TKP dengan wajah penuh kesedihan. Satu-nya lagi, Cha Ok
melaporkan kejadian banjir seolah-olah banjir itu sangat tinggi, padahal
kenyataanya Cuma selutut ajah. Cha Ok berlutut di dalam air itu. Ckckck….
Sepertinya
rekan Cha Ok ini getol mengkritisi Cha Ok di belakangnya namun di hadapannya
dia berpura-pura baik. Dr Guk mendekati rekan Cha Ok sambil melihat ke layar
laptop yang dipegang pria itu. Melakukan sesuatu untuk menaikan rangking
pencarian berita online? Sindirnya. Rekan Cha Ok beralasan apa yang
dilakukannya masih kecil dibandingkan apa yang telah dilakukan Cha Ok. Look, betapa hitamnya dunia pertelevisian itu. Penuh kebohongan.
In
Ha sedang berada di salon. Dia meminta agar didandani seperti reporter.
Bukankah reporter dan penyiar itu sama? Tanya karyawan salon. Tidak, itu
berbeda. Reporter itu lebih berkelas dan cerdas. Karyawan salon itu paham (atau
pura-pura paham)? Dia berlalu sambil member kode ke temannya agar mendandani In
Ha seperti penyiar. Saat itu sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Dari
ibunya. In Ha sangat bahagia bahkan ia sampai menangis. Diteleponnya Dal Po
hanya untuk mengabarkan itu.
Dal
Po mengomel sendiri di dalam taksi yang dikemudikannya. Seorang penumpang asing
terlihat ketakutan menyaksikan Dal Po berceloteh sendirian. Ia menyangka
jangan-jangan Dal Po orang aneh yang berbicara dengan GPS. Pria asing itu
ketakutan masih sambil menelpon temannya, dia benar-benar tidak waras. Pria yang berbicara dengan GPS. Ia meminta agar Dal Po menurunkannya
tapi Dal Po dengan tenang mengatakan dia bukan orang jahat. Hahahaha epik
banget. Ia menurunkan Pria itu di tempat yang ditujunya. Saat itu seorang pria
tua sedang berada dalam kesulitan. Gerobaknya menghantam sebuah mobil pick up
yang terparkir di pinggir jalan. Dal Po keluar mobil untuk menolongnya.
Dimintanya pria tua itu pergi, biarkan dia yang mengambil alih urusan itu.
Sepeninggal pria itu Dal Po memeriksa depan mobil pick up itu yang sedikit
penyok. Karena ia tidak bisa menunggu lama, disimpannya sebuah memo yang berisi
nomor ponsel serta permintaan maaf telah tak sengaja menabrak mabil itu.
Sebelum
masuk ke taksi-nya, ponsel Dal Po berbunyi. Dari ayah In Ha yang memberitahukan
dompet Dal Po ketinggalan. Dal Po curiga jangan-jangan ayah In ha melihat foto
In Ha. Saat yang bersamaan, pemilik mobil pick up yang ternyata adalah Jae
Myung, kakak Dal Po berada di depan mobilnya. Aaarrrgggh, mereka nggak jadi
ketemu deeh. Tapi Jae Myung mengantongi kertas memo dari Dal Po.
Ayah
In Ha mengamati dompet Dal Po. Ia teringat masa lalu, ketika In Ha dan Dal Po
pulang kehujanan. Tak sengaja Dal Peng (ayah In ha) menyaksikan rona lain di
wajah Dal Po saat menatap In Ha. Hati seorang ayah pasti tahu bila seorang pria
menaksir anak perempuannya. Di waktu lain, Dal Peng dan In Ha sedang terlibat
diskusi mengenai uang kuliah yang hanya cukup membiayai satu orang saja. In Ha
merasa Dal Po yang lebih berhak kuliah. Nilai test-nya lebih bagus disbanding
dirinya. Dal Po datang. Dia bilang tidak tertarik masuk kuliah. Dia akan masuk
wajib militer saja.
Kembali
ke masa sekarang, mengingat hal itu Dal Peng merasa Dal Po pasti menyukai In
Ha. Dal Po datang. Dal Peng menunjukkan apa yang ditemukannya di dompet Dal Po.
Dal Po berkata In Ha melupakan pas fotonya untuk resume—nya jadi Dal Po
menyimpannya untuknya. Dal Po berharap Dal Peng tidak berpikir macam-macam. Dal
Peng menyimpan foto itu. Akan jadi masalah kalau pacar Dal Po melihatnya di
dompet Dal Po. Dal Po mana punya pacaaaaaaar.
| Lee Yo Bi |
In
Ha mengikuti interview. Dia senang sekali bahkan hanya dengan mengetahui ibunya
adalah satu dari tim pewawancara. Sebelumnya, dia bertemu Lee Yo Bi (aku belum
tau nama dia siapa di sini). Keliatannya Lee Yo Bi akan menjadi lawan tangguh
untuk In Ha baik dalam hal pekerjaan maupun ehm, cinta xD. Sayang sekali,
kekhawatiran Dal Po terjadi.
Sung Cha Ok sama sekali tidak memperlihatkan sisi
keibuannya pada In Ha. Dengan kejam dia menjatuhkan In Ha karena syndrome Pinocchio
yang dimilikinya. In Ha tidak berhasil melewati test wawancara tersebut. Ia
gagal berbohong saat melaksanakan misi menelpon sebuah rumah makan. Sejujurnya,
bukan itu yang menyakiti In Ha. Tapi cara ibunya memperlakukannya sangat diluar
harapannya. Yang lebih menyakitkan setelah tets wawancara itu, In Ha sendiri
membuktikan bahwa ponsel yang selama ini dianggap sebagai ponsel milik ibunya
ternyata bukan, melainkan milik orang lain. Entah bagaimana jalan ceritanya
hingga bisa demikian. Saat terakhir ibunya hendak meninggalkan In ha di selasar
kantor berita itu, In Ha berbisik lirih betapa ia merindukan ibunya sepuluh
tahun terakhir ini. Dan tahukah bagaimana reaksi ibunya? Dingin sekali Cha Ok
menjawab, maaf tapi aku tidak punya waktu untuk merindukanmu. Kejam ga tuh?
Rupanya
pemilik no ponsel yang selama ini dianggap In Ha sebagai no ibunya dipegang
oleh Kim Young Kwang (ga tau siapa namanya di sini, males gugel juga lol).
| Kim Young Kwang |
Dia
terpekur nama membaca sms dari In Ha yang bernada kemarahan. Dia menelpon In Ha
tapi tidak sanggup berkata-kata saking merasa bersalahanya. In Ha mencecarnya
penuh marah. Betapa dia telah menunggu sepuluh tahun untuk sesuatu yang sangat
menyakitinya itu.
In
Ha melangkah keluar dari kantor berita MSC. Dal Po yang memarkirkan mobilnya di
seberang jalan melihat kelesuan yang tergambar di wajah In Ha. Ia ingin
menghampiri In Ha namun lalu lalang kendaraan menghalanginya beberapa waktu
sebelum lampu hijau menyala. Dal Po menelpon In Ha tetapi tidak diangkat. Dal
Po merasa ada yang salah apalagi melihat In Ha menangis hebat di bangku tak
jauh dari stasiun tivi MSC. In Ha dan Dal Po terlibat sms panjang. In Ha
berbohong. Ia bilang sedang bersama ibunya. Ibunya sangat merindukannya. Padahal
kan jelas-jelas Dal Po melihat In Ha di depan sana sedang menangis seperti anak
kecil. Dal Po bertanya apakah ia perlu menjemput In Ha? Tidak usah, kata In Ha.
Dia bisa pulang sendiri. Dal Po menurut. Setelah memacu mobilnya meninggalkan
In Ha, Dal Po merasa tidak tenang lalu memutuskan kembali ke kantor berita MSC
akan tetapi In Ha tidak adak di sana, gadis itu sudah pergi. Mnegejutkan, Dal
Po melihat Sung Cha Ok berdiri tak jauh dari pintu masuk gedung MSC. Ia
melambai ke arah mobil Dal Po. Kilasan masa lalu yang menampilkan Cha Ok
terlintas di ingatan Dal Po. Dal Po berusaha menekan perasaannya. Di dekatinya
Cha Ok.
Dalam
perjalanan. Dal Po mengamati Cha Ok. Ia berbasa-basi, menebak Cha Ok pasti dari
MSC. Dengan cuek Cha Ok mengi-yakan. Dal Po lalu bertanya apakah Cha Ok
mengenal In Ha? Bagaimana test wawancaranya? Apakah dia berhasil? Cha Ok
mengatakan In Ha tidak bisa melewatinya. Sarkastik, Dal Po menyindir Cha Ok
apakah karena In ha adalah puterinya? Kaget dong Cha Ok. Kenapa Dal Po bisa
mengetahuinya? Karena dia adalah paman In Ha. Cha Ok meminta agar Dal Po segera
menghentikan mobilnya.
Di
rumahnya, In Ha memasukan semua buku-bukunya ke dalam koper. Ia menyeret koper
itu gontai.
Cha
Ok dan Dal Po berdiri di pinggir jalan. Siapa Dal Po sebenarnya? Ia tahu benar
In Ha tidak memiliki paman. Dal Po mengakuinya, ia diangkat anak oleh kakek In
Ha. Dari sini diketahui mengapa In Ha tidak bisa lolos interview. Karena syndrome
Pinocchio-nya itu. Belum pernah ada satupun di Negara itu ada penderita syndrome
Pinocchio yang berprofesi sebagai jurnalis. Statistic berkata demikian. Perbincangan
alot itu terpotong. Kita akan mengetahui kelengkapannya di detik-detik terakhir
episode ini selesai.
Jae
Myung sedang minum-minum bersama temannya. Ia mengirim pesan untuk Dal Po,
mengatakan kalau Dal Po tidak perlu mengganti biaya kerusakan mobilnya karena
tidak terlalu parah. Temannya berkomentar Jae Myung seharusnya tidak merelakan
begitu saja. Tidak apa-apa kata Jae Myung. Duuuh, Jae Myung ini baik menurutku.
Kasian banget dia. Dal Po menerima pesan Jae Myung dengan perasaan lega.
Kembali ke rumah makan, perhatian Jae Myung teralihkan oleh pertengkaran tiga
pria. OMO, ketiga pria itu adalah orang yang telah menyebabkan ayah Jae Myung
dan Dal Po tertuduh. Bodohnya lagi tiga pria itu saling mengungkit
masalah-masalah tiga belas tahun lalu mengenai kebakaran itu. Pertengkaran itu
berakhir saat salah satu tangan pria itu menyentuh pemanggang daging yang
membara akibatnya tangannya melepuh, mereka bergegas pergi ke rumah sakit. Jae
Myung kaget menyimak pertengkaran itu. Ia bergegas mengejar namun ketiga pria
itu sudah menghilang bersama taksi.
Dal
Po tiba di rumah. Haraboji menanyakan kapan terakhir kali Dal Po berbicara dengan
In Ha? In Ha menghilang. Dia membawa semua buku-bukunya. Dal Po lalu berlari
keluar mencari In Ha. Dal Peng juga melakukan hal yang sama. Dal Po berlari
menyusuri jembatan dan melihat ada pesta kembang api. Lagi-lagi ia terkenang
ingatan detik-detik terakhir kebersamaannya dengan ibunya. Ingatan itu
terpotong atau lebih tepatnya Dal Po tidak ingin mengingat kejadian menyakitkan
itu. Jadi belum ketahuan apakah ibu Dal Po benar-benar sudah mati. Dan
bagaimana kejadiannya Dal Po bisa selamat dan ibunya entah.
Dal po berlari kembali ke gedung apartemen sambil meneriakan nama In Ha. Ada
sobekan-sobekan kertas berjatuhan dari atap gedung. Dal Po mengira In Ha akan
bunuh diri. Kalap Dal Po berlari menuju atap gedung. Benarkah In Ha hendak
bunuh diri? Nope. Gadis itu memasukan buku-bukunya ke dalam drum untuk dibakar.
Sayangnya, korek gas yang digunakannya padam. Maksud hati mau mengabil korek
gas itu eh malah separuh badan In Ha masuk ke dalam drum hahahaha koplak. Saat itulah
Dal Po menggedor pintu menuju atap yang dikunci In Ha. Dal Po benar-benar
menyangka In Ha akan bunuh diri LOL. In Ha tidak punya pilihan lain selain
membuka kunci pintu. Ia segera bersembunyi dibalik sebuah kain bekas baner.
Hahahaha, yang tadinya sedih malah jadi lucu. Dal Po hampir menangis
mencari-cari In ha di atas gedung itu. Dalam persembunyiannya, In Ha
bertanya-tanya kenapa Dal Po seperti itu? Dia mencemaskanmu, bodoh. Dal Po
melihat kaki In Ha menyembul.
Keluarlah,
aku melihat kakimu.
Hahahahaha…
In
Ha tidak mau. Dal Po menarik kain panjang yang menutupinya.
In
Ha berkata tidak bisakah Dal Po membiarkannya sendirian? Ia sedang sedih. Semua
kata-kata Dal Po mengenai ibunya benar adanya. Mereka terlibat cekcok (yang
kita tahu bersama pasti ujung-ujungnya baikan entar). Dal Po meminta agar In Ha
jangan membakar buku-bukunya karena ia membutuhkannya. In ha bingung. Untuk apa?
Apakah Dal Po akan menjualnya? Tidak. Dal Po membutuhkannya karena ia ingin
menjadi reporter seperti mimpi In Ha. Dal Po mengajak In Ha mengejar mimpi
menjadi reporter bersama-sama.
Ada
cuplikan sisa debat Sung Cha Ok dan Dal Po. Kesimpulannya, Dal Po akhirnya
memutuskan menjadi reporter karena ingin membuktikan pada Cha Ok bahwa orang
seperti In Ha bisa menjadi reporter. Cha Ok menyindir Dal Po yang mengguruinya
dan mengkritiknya padahal Dal Po sendiri tidak tahu reporter itu seperti apa.
Tidak ada serigala yang menggonggong pada harimau, kata Cha Ok sinis. Dal Po
lalu berkata, benar ia tidak tahu dan akan mencari tahu sendiri bagaimana
reporter itu. Dan pada saatnya nanti ia akan datang pada Cha Ok untuk
memberitahunya langsung seperti apa reporter itu. Itu seperti tantangan.
Satu
scene lainnya, Kim Young Kwang membaca riwayat sms-sms dari In Ha. Ia menemui
ibunya dan mengatakan kalau ia memutuskan akan menemui gadis Pinocchio itu. Kim
Young Kwang sepertinya orang yang sangat kaya dengan ibu yang ehm sedikit over
penyayang?
Episode
tiga bersambung.
Komentar :
Alur
drama ini berjalan sangat cepat. Padat, jelas, solid dan detail namun tetap
sukses menyimpan pertanyaan-pertanyaan. Aku tidak menyangka akan secepat ini
Jae Myung mengetahui latar penyebab insiden kebakaran itu. Apakah ibu Jae Myung
dan Dal Po benar-benar sudah meninggal? Lalu mengapa Dal Po bisa selamat dan
ibunya tidak? Sung Cha Ok tidak berhak disebut ibu. Aku tahu dia pasti punya alas
an mengapa ia begitu tega menelantarkan dan mengabaikan In Ha. Tetapi bagiku
dia sangat tidak bisa dipahami. Sebegitu besarkah ambisinya?
Dal
Po menyukai In Ha. Di sisi lain, ia harus menekan perasaannya itu karena In Ha
adalah puteri dari perempuan yang dibencinya setengah mati. Dua tokoh lainnya
sudah terlihat, walaupun porsinya masih sedikit, sudah bisa terlihat
bibit-bibit persaingan cinta dan pekerjaan. Sebenarnya masih banyak yang ingin
aku tulis tapi berhubung udah ngantuk yah segini aja.
